Anda di halaman 1dari 16

Model Manajemen Wakaf di Negara-negara Islam

Posted: Sat, 12 May 2012 09:28:37 PDT

Dalam catatan sejarah Islam, sudah dipraktikkan baik dalam bentuknya yang masih
tradisional/konvensional, dalam arti bentuk wakaf berupa benda-benda tidak bergerak
maupun wakaf produktif berupa wakaf uang atau wakaf tunai (cash waqh) bahkan,
wakaf tunai (cash waqh) ternyata sudah diperaktikan sejak awal abad kedua hijriyah. M
Syafii Antonio mengutip hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, menjelasakan
bahwa Imam az Zuhri (w. 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar
kodifikasi hadist (tadwnin- al hadist) mengeluarkan fatwa yang berisi anjuran melakukan
wakaf dinar dan dirham untuk membangun sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat
Islam. Adapun caranya adalah dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha
kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.66
Menurut Muhammad Abu Zahrah, dalam bukunya Muhadarat fi al-Waqf
(Pembahasan Mengenai Wakaf), wakaf telah banyak dipraktekkan pada zaman
pemerintahan kerajaan Bani Umaiyah yaitu di Mesir dan Syam dan daerah-daerah bagian
Islam yang telah dibuka dalam pemerintahan tersebut. Harta wakaf ketika itu terdiri dari
tanah, bangunan dan kebun-kebun. Bahkan pada zaman pemerintahan Hisyam ibn Abdul
Malik telah dikukuhkan jabatan khusus bagi pengurus harta wakaf.67
Muhammad Abu Zahrah juga menyebutkan bahwa pembangunan Masjid alHaram dan Masjid al-Aqsa adalah sebahagian daripada bukti sejarah di mana ibadah
wakaf memegang peranan penting dalam pembangunan kehidupan umat manusia.68
Di beberapa negara muslim saat ini pun aktivitas perwakafan tidak terbatas hanya
kepada tanah dan bangunan, tetapi telah dikembangkan kepada bentuk-bentuk lain yang
bersifat produktif.69 Ada beberapa Negara Islam yang memiliki manajemen wakaf
produktif, diantaranya:
1. Manajemen Wakaf di Mesir
Di Negara ini wakaf berkembang dengan menakjubkan karena memang dikelola
secara profesional. Meski begitu masih juga ada masalah yang muncul dalam
memenajnya, sehingga pemerintah Mesir terus melakukan pengkajian untuk
mengembangkan manajemen wakaf dengan tetap berlandaskan syariah.70
Pada masa Pemerintahan Muhammad Ali Pasya, perwakafan di Mesir tidak
terurus secara baik sehmgga tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan
ekonomi Mesir. Wakaf pada masa tersebut menjadi asset yang terlantar. Hal itu
disebabkan konsentrasi pemerintahan Muhammad Ali Pasya terfokus pada upaya
mewujudkan stabilitas politik internal dalam negeri dalam rangka menghadapi masuknya
pasukan barat ke Mesir. Kendatipun adanya usaha meningkatkan perekonomian Mesir,
namun wakaf tetap secara terabaikan. Dia berusaha mengembalikan tanah kepada petani
sebelumnya yang diambil oleh negara. Ironisnya, petani tetap saja berurusan dengan
negara.71
Keinginan kuat untuk mengelola wakaf secara baik baru muncul pada masa pasca
pemerintahan Muhammad Ali Pasya. Usaha pertama yang dilakukan oleh pemerintah
Mesir adalah menertibkan tanah wakaf melalui penjagaan dan pemeliharaan serta
diarahkan pada tujuan kemaslahatan umum sesuai dengan syarat-syarat yang telah
ditentukan. Selain itu, pemerintah juga memberikan perlindungan kepada para mustahiq.

Langkah selanjutnya yang dilakukan pemerintah adalah membentuk diwan al-waqf yang
menjadi cikal bakal departemen wakaf.72
Kendatipun pemerintah Mesir telah membentuk satu departemen untuk mengelola
wakaf secara serius, tetapi ternyata persoalan lainnya muncul seperti tidak adanya rasa
keadilan yang ditetapkan oleh para pewakaf (wakif), pengawasan dan pengelolan yang
kurang profesional. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya tidak jarang wakif dalam
berwakaf tidak memperlihatkan rasa keadilan dalam masyarakat. Karena pada saat itu
belum ada aturan yang mengatur bagaimana hak dan kewajiban wakif dan dengan pihak
yang lain, sehingga terkesan aturan tersebut ditentukan wakif sendiri, terutama yang
berkaitan dengan orang-orang yang berhak menerima harta wakaf tersebut. Kondisi
demikian memunculkan sikap malas dan menurunkan etos kerja sebahagian mustahiq.
Sebagian dari penerima wakaf hanya menggantungkan ekonominya dari wakaf itu saja,
sehingga mereka malas untuk bekerja dan menambah deretan pengangguran dalam
masyarakat karena di antara mereka tidak lagi punya etos kerja yang baik. Di samping
itu, terdapat pula para nazir yang menyalahgunakan wewenangnya untuk melakukan
praktek riba.
Melihat ketidakteraturan pegelolaan wakaf tersebut, beberapa kalangan
masyarakat yang memiliki perhatian pada persoalan wakaf mendesak pemerintah untuk
segera melakukan perubahan peraturan perundang-undangan wakaf. Pada tahun 1926
masyarakat mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada Dewan Perwakilan
Rakyat. Tetapi ide dan wacana yang dikembangkan itu justru mengundang polemik yang
panjang di kalangan masyarakat luas.73
Pemerintah akhirnya mensahkan undang-undang tersebut meskipun proses
menuju pengesahan itu membutuhkan waktu yang agak panjang. Pada tahun 1946
peraturan perundang-undangan tentang wakaf menjadi sebuah kenyataan dan menjadi
sebuah putusan politik dengan dikeluarkannya undang-undang No. 48 tahun 1946 yang
isinya mencakup terjadinya wakaf dan syarat-syaratnya.74
Pengesahan undang-undang tersebut menjadi harapan baru bagi umat Islam
Mesir untuk mengelola asset wakaf. Akan tetapi ternyata setelah undang-undang tersebut
disahkan, pcrsoalan muncul. Persoalan itu terlihat pada semakin tajamnya perbedaan
antara pemeritah dengan ulama, terutama yang berkaitan dengan terjadinya wakal.
Menurut undang-undang yang baru saja disahkan dijelaskan bahwa wakif boleh menarik
kembali harta yang telah diwakafkan ataupun mengubahnya, tetapi tidak diperbolehkan
untuk menarik wakaf untuk diri sendiri. Wakaf jenis inilah yang terbanyak beredar di
Mesir pada masa sebelumnya. Misalnya, wakaf yang diberikan untuk kepentingan publik
seperti masjid. Dalam hal ini wakif tidak dibolehkan menarik kembali dan tidak boleh
mengubahnya.75 Di samping itu undang-undang ini juga memuat tentang berakhimya
wakaf muaqqat (wakaf yang dibatasi waktunya). Menurut undang-undang ini wakaf
muaqqat hanya terbatas pada wakaf ahli, sedangkan wakaf khari tidak dibatasi waktunya.
Dalam undang-undang ini juga dicantumkan tentang pihak-pihak yang berhak atas harta
wakaf, nazir, kekuasaan nazir atas harta wakaf dan pengembangannya.76
Pada tahun 1952 pemerintah melakukan revisi terhadap undang-undang ini
dengan mengeluarkan Undang-Undang No. 180 tahun 1952 yang berisi tentang
penghapusan peraturan wakaf ahli dengan disertai peraturan pelaksanaannya.77 Namun,
di dalamnya tidak dibahas bagaimana mekanisme pengawasan dan siapa yang
bertanggung jawab serta bagaimana prosedur membelanjakannya. Inilah kelemahan

pertama yang terdapat dalam undang-undang baru ini. Dengan kata lain, undang-undang
ini ternyata juga belum dapat menjawab persoalan dan subtansi yang diinginkan oleh
masyarakat.
Menyadari hal yang demikian maka pada tahun yang sama pemerintah kembali
mengajukan rancangan undang-undang yang akhirnya disahkan menjadi sebuah produk
hukum No. 247 tentang pengawasan terhadap wakaf khairi dan penertiban belanja
pemeliharaan harta wakaf. Di samping berisi tentang bagaimana pengawasan, prosedur
pembelanjaan, dan pemeliharaan harta wakaf, undang-undang ini juga mengatur tentang
kebolehan wizarat al-auqaf dengan persetujuan Majelis Tinggi Wakaf, untuk menyalurkan
apakah seluruh atau pun sebagian saja dan harta wakaf jika wakif tidak menentukan
penerima wakaf.78
Pada tahun 1957 pemerintah mengajukan lagi rancangan undang-undang wakaf
yang baru yang akhirnya disahkan menjadi sebuah Undang-Undang No. 30 tahun 1957.
Melihat ketentuan hukum yang ada dalam undang-undang ini, pada dasamya tidaklah
banyak memuat hal-hal yang baru, kecuali sekedar menyempumakan dan meluruskan
undang-undang sebelumnya. Adapun yang terbaru dari undang-undang ini hanyalah
menyangkut tentang pendirian rumah sakit yang berada di kota Kairo, Kemudian pada
tahun yang sama disusul dengan undang-undang (qanun) No. 152 tahun 1957 yang
mengatur tentang penggantian tanah pertanian yang diwakafkan untuk tujuan kebaikan.
Berkaitan dengan pengaturan tentang penggantian tanah pertanian, pemerintah
mengeluarkan undang-undang tersendiri, yaitu undang undang No. 20 tahun 1957 yang
memuat tentang aturan lembaga perekonomian.79 Kemudian selanjutnya dilengkapi
dengan peraturan No. 51 tahun 1958, yang merupakan penyempurnaan dari undang
undang No. 152 tahun 1957. Dengan demikian sebagai negara yang mayoritas
penduduknya muslim secara terus menerus telah melakukan proses pematangan dan
penyempurnaan peraturan perundang-undangan wakaf dengan senantiasa merujuk kepada
syariat Islam. Salah satu hasil dari proses ini ialah pada tahun 1971 pemerintah berhasil
membentuk suatu badan yang khusus menangani persoalan wakaf dan pengembangannya
yang disesuaikan dengan Qanun No. 80 tahun 1971. Badan ini bertugas melakukan
kerjasama dalam pengawasan dan memeriksa tujuan undang-undang wakaf dan program
wizarat al-auqaf. Di samping itu, badan ini juga diberi wewenang untuk mengusut dan
melaksanakan semua pendistribusian wakaf serta semua kegiatan yang sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan.80
Dalam rangka memudahkan dalam pelaksanaan undang-undang ini, maka
pemerintah membentuk struktur kepengurusan wakaf yang terdiri dari ketua badan atau
lembaga dan direktur umum. Direktur umum dibantu oleh tiga direktur umum lainnya,
yang membidangi harta benda dari pengembangan, bidang teknik (pengukuran) dan
bidang pertanian. Di samping itu, kepengurusan ini juga dibantu oleh empat orang wakil
menteri, yaitu kementerian pertanian, kementerian kependudukan dan kementerian
ekonomi serta kementerian perwakafan. Kemudian terdapat juga penasehat dan majelis
pengadilan tinggi yang dipilih oleh majelis dari seorang ahli hukum Islam yang dipilih
oleh menteri perwakafan. Adapun harta benda yang dikelola oleh badan ini: pertama,
harta yang dikhususkan oleh pemerintah untuk anggaran umum, kedua, barang yang
menjadi jaminan hutang, ketiga, hibah, wasiat dan sedekah, keempat, dokumen, uang
atau harta yang harus dibelanjakan dan sesuatu yang sudah menjadi haknya untuk

dikelola sesuai dengan Undang-undang No. 70 tahun 1972. Kelima, hasil lain yang
berguna untuk menmgkatkan dan mengembangkan harta wakaf.81
Sebagai negara yang sudah cukup lama mengelola harta wakaf, Mesir telah
berhasil mengembangkan wakaf untuk pengembangan ekonomi umat. Di antara faktorfaktor yang menjadi pendukungnya adalah: Pertama, pihak pengelola wakaf menyimpan
hasil harta wakaf khair di bank sehingga dapat berkembang. Kedua, untuk pembangunan
ekonomi umat, pemerintah khususnya Departemen Perwakafan ikut berpartisipasi dalam
mendirikan Bank Syariah. Ketiga, Departemen Perwakafan melakukan kerjasama
dengan pihak lain sebagai penanam modal untuk pendirian pabrik, rumah sakit Islam,
pemeliharaan ternak, bank untuk perumahan dan bangunan dan lain-lain. Keempat,
Departemen Perwakafan mengelola tanah wakaf yang kosong untuk dikelola secara
produktif melalui pendirian lembaga lembaga perekonomian, bekerja sama dengan
perusahaan besi dan baja.82
Di samping itu, dalam rangka pengembangan wakaf departemen wakaf tidak
hanya menanamkan sahamnya dalam skala besar tetapi juga pada penanaman dalam skala
kecil. Misalnya, membantu permodalan usaha kecil dan menengah serta membantu
kaum dhuafa, menjaga dan memelihara kesehatan masyarakat melalui pendirian rumah
sakit dan penyediaan obat-obatan dan poliklinik, mendirikan tempat-tempat ibadah dan
lembaga pendidikan serta ikut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan.83
Dengan demikian terlihat jelas bahwa manajemen wakaf di Mesir dikelola secara
serius dan produktif oleh badan wakaf yang dibentuk oleh pemerintah dalam rangka
membantu kepentingan masyarakat baik di bidang sosial, agama, pendidikan, ekonomi
dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengelolaannya juga terdiri dari tenaga-tenaga
yang profesional dan sistem pengelolaannya juga didukung oleh peraturan perundangundangan yang memadai serta mudah untuk diterapkan.
2. Manajemen Wakaf di Arab Saudi
Negara padang pasir pusat turunya agama Islam adalah negara kerajaan yang
mewarisi ajaran Islam. Kerajaan Saudi Arabia berdasarkan syariat Islam dan
konstitusinya adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.
Pemerintah kerajaan Saudi Arabia membuat peraturan bagi majelis tinggi wakaf
dengan ketetapan No. 574 tanggal 16 Rajab 1386 sesuai dengan surat keputusan
kerajaan No. M/35, Tanggal 18 Rajab 1386. Majelis tinggi wakaf diketuai oleh Menteri
Haji dan wakaf, yakni menteri yang menguasai wakaf dan menguasai permasalahanpermasalahn perwakafan sebelum dibentuk majelis tinggi wakaf. Majelis tinggi wakaf
mempunyai wewenang untuk membelanjakan hasil pengembanganwakaf dan
menentukan langkah-langkah dalam mengembangkan wakaf bedasarkan syarat-syarat
yang ditentukan wakif dan menajemen wakaf.84
Disamping itu majelis tinggi wakaf juga mempunyai beberapa wewenang antara
lain85:
1)
Melakukan pendataan wakaf serta menentukan cara-cara pengelolahannya
2)
Menenentukan langkah-langkah umum untuk menanam modal,
pengembangan dan peningkatan harta wakaf
3)
Mengetahui kondisi wakaf yang ada.

4)
Membelanjakan harta wakaf untuk kebijakan menurut syarat-syarat yang
telah ditetapkan oleh wakif dan sesuai syariat islam
5)
Menetapkan anggaran tahunan demi kelangsungan wakaf dan
mendistribusikan hasil pengembangan harta wakaf tersebut menurut pertimbanganpertimbangan tertentu.
6)
Menggambarkan wakaf secara produktif dan mengumumkan hasil wakaf
yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah86.
3. Manajemen Wakaf di Yordania
Secara administratif, pelaksanaan manajemen wakaf dikerajaan Yordania
didasarkan pada Undang-Undang Wakaf Islam No. 25/ 1947.87 Dalam UU tersebut
bahwa yang termasuk dalam urusan kementrian wakaf dan kementerian agama Islam
adalah wakaf mesjid, madrasah lembaga-lembaga Islam, rumah-rumah yatim, tempat
pendidikan, lembaga-lembaga syariah, kuburan-kuburan Islam, Urusan-urusan haji dan
urusan fatwa. UU wakaf yang mengatur tentang peraturan UU wakaf No. 26/ 1966.
dalam pasal 3, secara rinci disebutkan bahwa tujuan kementrian wakaf dan urusan agama
Islam88 antara lain adalah sebagai berikut:
1) Memelihara masjid dan harta wakaf serta mengendalikan urusan-urusanya.
2) Mengembangkan masjid untuk menyampaikan risalah Nabi Muhamad SAW dengan
mewujudkan pendidikan Islam
3) Membakar semangat zihad dan menguatkan jiwa Islam serta meningkatkan kualitas
keimanan
4) Menumbuhkan akhlak Islam dan menguatkan dalam kehidupan kaum muslimin
5) Menguatkan semangat Islam dan menggalakan pendidikan agama dengan
mendirikan lembaga-lembaga dan sekolah untuk menghafal Al-Quran
6)
Menyosialisasikan budaya Islam, menjaga peninggalan Islam melahirkan
kebudayaan baru Islam dan menumbuhkan kesadaran beragama.89
4. Manajemen Wakaf Di Bangladesh
Disamping negara termiskin, Bangladesh juga merupakan negara terbelakang
dengan jumlah penduduk yang besar, yaitu sekitar 120 juta jiwa dengan luas daerah
55.000 mill persegi. Selain itu, kondisi alam seringkali kurang menguntungkan karena
negara ini termasuk sering tertimpah bencana banjir dengan angin topan. Peningkatan
populasi Bangladesh juga cukup padat, yaitu 717 orang per km persegi dan juga termasuk
salah satu dari negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat terbatas. Berbagai
dimensi kemiskinan ini antara lain tercermin dari penurunan pendapatan sektor pertanian,
ketidakmerataan distribusi pendapatan yang cenderung menguntungkan masyarakat
perkotaan, perbedaan gaji antara sektor formal dan informal, peningkatan dramatis dalam
biaya hidup, mencuatnya beberapa masalah penemuan kesehatan masyarakat,
pengangguran dan imigrasi internal.
Di Bangladesh wakaf telah dikelolah oleh Social Investement Ltd. (SIBL) Bank
ini telah mengembangkan pasar modal sosial (the voluntary capital market). Instrumeninstrumen keuangan Islam yang telah dikembangkan,antara lain: surat obligasi
pembangunan perangkat wakaf, sertifikat wakaf tunai, sertifikat wakaf keluarga, obligasi

pembangunan perangkat mesjid, saham komunitas mesjid, sertifikat pembayaran zakat,


sertifikat simpanan haji, dan lain-lain.92
66 Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44
67 Muhammad Abu Zahrah, Muhadarat fi al-Waqf, (Mesir: Dar al-Fikr al-'Arabiy, 1971), hlm.
5
68 Ibid, hlm 5
69 Uswatun Hasanah, Peranan Wakaf dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial (Studi Kasus
Pengelolaan Vakaf di Jakarta Selatan), Disertasi tidak diterbitkan, (IAIN Syarif Hidayatullah, 1997), hlm.
81
70 OpCit, Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44
71 Ahmad Syalabi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islamiy, (Mesir: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah,
1979), hlm. 357.
72 Uswatun Hasanah, op.cit.hlm 83-84
73 Pendapat yang berkembang pada saat itu terbagi kepada tiga kelompok. (1), kelompok yang
berpendapat bahwa tidak diperlukan lagi aturan yang mengatur tentang wakaf dan seyogyanya lembaga
wakaf dibubarkan, denagn alasan: a. banyaknya orang yang hidup bersenang-senang dengan tanah wakaf
yang jumlahnya mencapai 1/8 (seperdelapan) dari seluruh tanah pertanian di Mesir dan tidak dikelola
secara produktif. b. wakaf ahli menimbulkan pengangguran. c. sebagian nazir menyelewengkan harta
wakaf. d. pertentangan antara para nazir, kekacauan pelaksanaan wakaf, dan perbedaan pendapat di antara
para penegak hukum menyebabkan lemahnya lembaga wakaf. e. jumlah orangnya makin banyak
menyebabkan bagian yang diterima masing-masing generasi semakin kecil. f. harta wakaf tidak terpelihara
sebagaimana mestinya, baik mustahiq maupun nazir kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk
melestarikan harta wakaf tersebut. (2) kelompok yang mendukung rancangan undang undang tersebut
untuk segera disahkan. Namun terhadap wakaf ahli dan khairi mereka sepakat dengan kelompok pertama
bahwa jenis wakaf ini tidak lagi relevan dengan perkembangan masyarakat Mesir. (3) Kelompok yang
mendukung semua rancangan tersebut dan menentang pembubaran lembaga wakaf, dengan alasan bahwa
terjadinya kesemrawutan pengelolaan wakaf disebabkan oleh pengelolaan yang tidak profesional dan
belum adanya aturan yang mengatur sistem kerja pengelola dan wakif.
74 Jumhuriyyah Misr al-Arabiyah, Qawanin al-Waqf wa al-Hikr wa al-Qararat al-Tanfiziyah,
(Kairo: al-Haiah al-Ammah li Syuun al-Matabi al-amiriyah, 193), hlm. 1-4.
75 Jumhuriyyah Misr al-Arabiyah, Qawanin al-Waqf wa al-Hikr wa al-Qararat al-Tanfiziyah,
(Kairo: al-Haiah al-Ammah li Syuun al-Matabi al-amiriyah, 193), hlm. 1-4.
76 Ibid, hlm 1-4
77 Muhammad Abu Zahrah, op.cit., hlm. 88.
78 Muhammad Abu Zahrah, op.cit., hlm. 88.
79 Jumhuriyyah Misr al-Arabi, op.cit., h. 34-37
80 Muhammad Abdul Manan, Teori dan Praktek Perekonomian Islam, diterjemahkan oleh M.
Nastagin, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1993), hlm. 385.
81 Jumhur Misr al-Arabi, op.cit., h. 149.
82 Hasan Abdullah al-Amin (ed), Idarah wa Tassmir Mumtalakat al-Auqaf, (Jeddah: Mahad
al-Islamiy li al-Buhuts wa al-Tadrib al-Bank al-Islamiy, 1989). hlm. 344.
83 Hasan Abdullah al-Amin (ed), Idarah wa Tassmir Mumtalakat al-Auqaf, (Jeddah: Mahad
al-Islamiy li al-Buhuts wa al-Tadrib al-Bank al-Islamiy, 1989). hlm. 344.
84 Ahmad Djunaidi, Op.cit, hlm. 27-44
85 Uswatun Hasanah, Op.cit, hlm. 83-84
86 Ahmad Syalabi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islamiy, (Mesir: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah,
1979), hlm. 357

87 Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44
88 Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44
89 Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44
92 Ahmad Djunaidi, Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif (Jakarta: Mumtaz
Publishing, 2007), hlm. 27-44

Manajemen Wakaf Di Indonesia


Posted: Wed, 09 May 2012 06:45:48 PDT

Di Indonesia, kegiatan wakaf dikenal seiring dengan perkembangan dakwah Islam di


Nusantara. Di samping melakukan dakwah Islam, para ulama juga sekaligus
memperkenalkan ajaran wakaf. Hal ini terbukti dari banyaknya mesjid-masjid yang
bersejarah yang dibangun di atas tanah wakaf. Ajaran wakaf ini terus berkembang di
bumi Nusantara, baik pada masa dakwah pra kolonial, masa kolonial maupun pascakolonial (Indonesia merdeka).
Pada masa pemerintahan kolonial merupakan momentum kegiatan wakaf, karena pada
masa itu, perkembangan organisasi keagamaan, sekolah, madrasah, pondok pesantren,
mesjid yang semuanya merupakan swadaya dan berdiri di atas tanah wakaf, sehingga
perkembangan wakaf semakin marak. Namun perkembangan kegiatan wakaf tidak
mengalami perubahan yang berarti. Kegiatan wakaf dilakukan terbatas pada kegiatan
keagamaan, seperti pembangunan mesjid, musholla, langgar, madrasah, pekuburan
sehingga kegiatan wakaf di Indonesia kurang bermanfaat secara ekonomis bagi rakyat
banyak.
Walaupun beberapa aturan telah dibuat oleh pemerintah terkait dengan mekanisme ajaran
wakaf ini, seperti PP Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, akan tetapi
PP ini hanya mengatur wakaf pertanahan saja, mengikuti awal perkembangan wakaf
sebelumnya, yaitu wakaf selalu identik dengan tanah, dan tanah ini digunakan untuk
kegiatan sosial keagamaan, seperti mesjid, kuburan, madrasah dan lain-lain.
Dalam perjalanannya, Peraturan Pemerintah ini bertahan cukup lama dan tidak ada aturan
lain yang dibentuk hingga tahun 2004. Karena minimnya regulasi yang mengatur tentang
perwakafan, maka tidaklah heran jika perkembangan wakaf di Indonesia mengalami
stagnasi. Walaupun cukup banyak lembaga wakaf yang berdiri, akan tetapi hanya
sebagian kecil lembaga wakaf (nadzir) saja yang mampu mengelola harta benda wakaf
secara optimal. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkembangan wakaf di Indonesia
belum mampu memberikan konstribusi untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Stagnasi perkembangan manajemen wakaf di Indonesia mulai mengalami dinamisasi
ketika pada tahun 2001, beberapa praktisi ekonomi Islam mulai mengusung paradigma
baru ke tengah masyarakat mengenai konsep baru manajemen wakaf tunai untuk
meningkatkan kesejahteraan umat. Ternyata konsep tersebut menarik dan mampu
memberikan energi untuk menggerakkan kemandegan perkembangan wakaf. Kemudian
pada tahun 2002, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyambut konsep tersebut dengan

mengeluarkan fatwa yang membolehkan Wakaf Uang (Waqf al Nuqud).


Fatwa MUI tersebut kemudian diperkuat oleh hadirnya UU No.41/2004 tentang Wakaf
yang menyebutkan bahwa wakaf tidak hanya benda tidak bergerak, tetapi juga dapat
berupa benda bergerak dan uang. Selain itu diatur pula beberapa kebijakan perwakafan di
Indonesia, dari mulai pembentukan nazhir sampai dengan manajemen harta wakaf. Untuk
dapat menjalankan fungsinya, UU ini masih memerlukan perangkat lain yaitu Peraturan
Pemerintah dan Peraturan Menteri Agama Tentang Wakaf Uang (PMA Wakaf Uang)
yang akan menjadi juklak dalam implementasinya, serta adanya Badan Wakaf Indonesia
(BWI) yang akan berfungsi sebagai sentral nazhir wakaf. Dan setelah melalui proses
panjang, pada penghujung tahun 2006 terbitlah PP No.42/2006 tentang Pelaksanaan UU
Wakaf. Setelah itu, pada Juli 2007 keluar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor
75/M Tahun 2007 yang memutuskan mengangkat keanggotaan BWI periode 2007-2010.

Sejarah Wakaf dalam Pendidikan Islam


Posted: Wed, 09 May 2012 06:40:05 PDT

Di dalam sejarah pendidikan Islam klasik, antara pendidikan Islam dan wakaf
mempunyai hubungan erat. Lembaga wakaf menjadi sumber keuangan bagi kegiatan
pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam dapat berlangsung dengan baik dan lancar.
Adanya manajemen wakaf dalam Islam disebabkan oleh sistem ekonomi Islam, yang
menganggap bahwa ekonomi berhubungan erat dengan akidah dan syariat.
Negara adalah institusi pelaksana pendidikan yang paling penting. Negara adalah pihak
yang bertanggung jawab terhadap segala urusan rakyat, termasuk dalam pendidikan.
Sosok Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, Ibnu Taimiyah, Imam Syafii dan ratusan ilmuan lain
adalah contoh kecil produk sistem pendidikan Islam. Mereka sangat produktif dalam
karya-karya monumental. Satu contoh kecil perhatian pemerintahan Islam dalam
pendidikan adalah ketika Khalifah Harun al-Rasyid membuat keputusan: "Barangsiapa di
antara kalian yang secara rutin mengumandangkan azan di wilayah kalian, maka catatlah
pemberian (hadiah) sebesar 1000 dinar. Siapa pun yang menghafal al-Quran, tekun
menuntut ilmu, dan rajin meramaikan majelis-majelis ilmu dan tempat pendidikan adalah
berhak memperoleh 1000 dinar. Siapa saja yang menghafal al-Quran, meriwayatkan
hadis, dan mendalami ilmu syariat Islam adalah berhak atas pemberian 1000 dinar".
Selain subsidi dari pemerintah, sumber dana yang digunakan untuk pendidikan berasal
dari wakaf. Wakaf merupakan bagian dari ibadah dan hukum Islam yang berkaitan harta
benda. Sebagai sistem pendanaan pendidikan, wakaf menjadi semacam lembaga yang
terorganisasi dengan baik dan menjadi mode di masa Abbasiyah terutama masa keemasan
peradaban Islam. Khalifah Al-Makmun dianggap sebagai pemrakarsa berdirinya badanbadan wakaf untuk lembaga pendidikan, sehingga berbagai kegiatan keilmuan, termasuk
gaji para ulamanya dapat berlangsung terus dan kokoh.
Badan wakaf yang permanen dipandang sebagai suatu keharusan dalam mendirikan suatu
lembaga ilmiah. Selanjutnya wakaf-wakaf ini berkembang kegunaannya bagi orang-

orang atau kelompok-kelompok studi yang menyediakan dirinya untuk kesibukankesibukan ilmiah di berbagai masjid. Pemberi wakaf dapat menentukan kriteria syeikh
dan pengajar yang memenuhi syarat. Wakaf kebanyakan merupakan aset ekonomi yang
berjalan, seperti pertanian, rumah, toko, kebun, kantor dagang, pabrik, pasar dan lain
sebagainya. Dana yang dihasilkan akan bervariasi sesuai dengan kondisi ekonomi waktu
itu. Oleh karena itu tingkat kehidupan para siswa dan guru yang dibiayai oleh hasil wakaf
berubah-ubah dari waktu ke waktu. Dengan wakaf pendidikan menjadi lebih baik.
Mahmud Yunus memaparkan bahwa Dar al-Ilmi di Kairo yang didirikan oleh Al Hakim
bi Amrillah pada tahun 1004 M menghabiskan kira-kira 257 dinar setiap tahun dari kas
negara untuk beragam keperluan di luar gaji guru dan karyawan. Dana itu digunakan
untuk membeli tikar, kertas, gaji petugas perpustakaan, air, gaji pesuruh, keperluan para
pengajar, perbaikan kain, pintu, menjilid buku, membeli tikar bulu dan
permadani.Ahmad, raja Idzaj membagi hasil pajak negara menjadi tiga bagian, dimana
sepertiganya untuk membiayai pendidikan.
Wakaf yang menjadi salah satu sumber pembiayaan pendidikan dalam Islam dalam
pengelolaannya juga menerapkan sistem sentralistik. Dimana pemberi wakaf seringkali
menentukan pola pengelolaan harta wakafnya dan penggunaan yang jelas dari hasil
wakaf tersebut dalam dokumen wakaf, tanpa mempertimbangkan kemungkinankemungkinan kondisi dan kebutuhan lembaga pendidikan tersebut di kemudian hari. Di
samping itu pemberi wakaf juga sering menentukan dirinya sendiri atau ahli warisnya
sebagai penanggung jawab dalam mengelola harta wakaf tersebut. Kondisi pengelolaan
wakaf seperti ini bisa menyebabkan madrasah tersebut terlantar dan ditutup jika kurang
pengawasan dan bantuan wakaf secara kontinyu.

Sejarah Wakaf
Posted: Wed, 09 May 2012 06:36:08 PDT

Berikut ini uraian tentang sejarah wakaf dari masa Rasulullah saw hingga saat ini.
1. Pada Masa Rasulullah
Dalam sejarah Islam, Wakaf dikenal sejak masa Rasulullah SAW karena wakaf
disyariatkan setelah nabi SAW hijrah ke Madinah, pada tahun kedua Hijriyah. Ada dua
pendapat yang berkembang di kalangan ahli yurisprudensi Islam (fuqaha) tentang siapa
yang pertama kali melaksanakan syariat wakaf. Menurut sebagian pendapat ulama
mengatakan bahwa yang pertama kali melaksanakan wakaf adalah Rasulullah SAW ialah
wakaf tanah milik Nabi SAW untuk dibangun masjid.
Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari Amr bin
Saad bin Muad, ia berkata: Dan diriwayatkan dari Umar bin Syabah, dari Umar bin
Saad bin Muad berkata: Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang
Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Ansor mengatakan
adalah wakaf Rasulullah SAW. (Asy-Syaukani: 129).
Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah pernah mewakafkan ketujuh kebun kurma di
Madinah; diantaranya ialah kebun Araf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya.

Menurut pendapat sebagian ulama mengatakan bahwa yang pertama kali melaksanakan
syariat Wakaf adalah Umar bin Khatab. Pendapat ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan Ibnu Umar ra, ia berkata:
"Dari Ibnu Umar ra, berkata : Bahwa sahabat Umar ra, memperoleh sebidang tanah di
Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk,
Umar berkata : Hai Rasulullah SAW., saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya
belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?
Rasulullah SAW. bersabda: Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan
engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan. Ibnu
Umar berkata: Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-rang
fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, Ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang
bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik
(sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta
(HR.Muslim).
Kemudian syariat wakaf yang telah dilakukan oleh Umar bin Khatab dususul oleh Abu
Thalhah yang mewakafkan kebun kesayangannya, kebun Bairaha. Selanjutnya disusul
oleh sahabat Nabi SAW. lainnya, seperti Abu Bakar yang mewakafkan sebidang tanahnya
di Mekkah yang diperuntukkan kepada anak keturunannya yang datang ke Mekkah.
Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya
yang subur. Muads bin Jabal mewakafkan rumahnya, yang populer dengan sebutan Dar
Al-Anshar. Kemudian pelaksanaan wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin
Umar, Zubair bin Awwam dan Aisyah Istri Rasulullah SAW.
2. Pada Masa Dinasti-dinasti Islam
Praktek wakaf menjadi lebih luas pada masa Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah,
selua orang berduyun-duyun untuk melaksanakan wakaf, dan wakaf tidak hanya untuk
orang-orang fakir dan miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun
lembaga pendidikan, membangun perpustakaan dan membayar gaji para stafnya, gaji
para guru dan beasiswa untuk para siswa dan mahasiswa. Antusiasme masyarakat kepada
pelaksanaan wakaf telah menarik perhatian negara untuk mengatur pengelolaan wakaf
sebagai sektor untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.
Wakaf pada mulanya hanyalah keinginan seseorang yang ingin berbuat baik dengan
kekayaan yang dimilikinya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti.
Namun setelah masyarakat Islam merasakan betapa manfaatnya lembaga wakaf, maka
timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan dengan baik. Kemudian dibentuk
lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta
wakaf, baik secara umum seperti mesjid atau secara individu atau keluarga.
Pada masa Dinasti Umayyah yang menjadi hakim Mesir adalah Taubah bin Ghar AlHadhramiy pada masa khalifah Hisyam bin Abd. Malik, Ia sangat perhatian dan tertarik
dengan pengembangan wakaf sehingga terbentuk lembaga wakaf terrendiri sebagaimana
lembaga lainnya dibawah pengawasan hakim. Lembaga wakaf inilah yang pertama kali
dilakukan dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh negara Islam. Pada saat

itu juga, Hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak itulah pengelolaan
lembaga wakaf di bawah Departemen Kehakiman yang dikelola dengan baik dan
hasilnya disalurkan kepada yang berhak dan yang membutuhkan.
Pada masa Dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaf yang disebut dengan shadr alWuquuf yang mengurus administrasi dan memilih staf pengelola lembaga wakaf.
Demikian perkembangan wakaf pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang
manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga lembaga wakaf berkembang
searah dengan pengaturan administrasinya.
Pada masa Dinasti Ayyubiyah di Mesir perkembangan wakaf cukup menggembirakan,
dimana hampir semua tanah-tanah pertanian menjadi harta wakaf dan semua dikelola
oleh negara dan menjadi milik negara (baitul mal). Ketika Shalahuddin Al-Ayyuby
memerintah Mesir, maka ia bermaksud mewakafkan tanah-tanah milik negara diserahkan
kepada yayasan keagamaan dan yayasan sosial sebagaimana yang dilakukan oleh Dinasti
Fathimiyah sebelumnya, meskipun secara fiqh Islam hukum mewakafkan harta baitul mal
masih berbeda pendapat di antara para ulama.
Pertama kali orang yang mewakafkan tanah milik nagara (baitul mal) kepada yayasan dan
sosial adalah Raja Nuruddin Asy-Skyahid dengan ketegasan fatwa yang dekeluarkan oleh
seorang ulama pada masa itu ialah Ibnu Ishrun dan didukung oleh pada ulama lainnya
bahwa mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz), dengan argumentasi
(dalil) memelihara dan menjaga kekayaan negara. Sebab harta yang menjadi milik negara
pada dasarnya tidak boleh diwakafkan. Shalahuddin Al-Ayyubi banyak mewakafkan
lahan milik negara untuk kegiatan pendidikan, seperti mewakafkan beberapa desa
(qaryah) untuk pengembangan madrasah mazhab asy-Syafiiyah, madrasah al-Malikiyah
dan madrasah mazhab al-Hanafiyah dengan dana melalui model mewakafkan kebun dan
lahan pertanian, seperti pembangunan madrasah mazhab Syafiiy di samping kuburan
Imam Syafii dengan cara mewakafkan kebun pertanian dan pulau al-Fil.
Dalam rangka mensejahterakan ulama dan kepentingan misi mazhab Sunni Shalahuddin
al-Ayyuby menetapkan kebijakan (1178 M/572 H) bahwa bagi orang Kristen yang datang
dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan dan
diwakafkan kepada para ahli yurisprudensi (fuqahaa) dan para keturunannya. Wakaf
telah menjadi sarana bagi Dinasti al-Ayyubiyah untuk kepentingan politiknya dan misi
alirannya ialah mazhab Sunni dan mempertahankan kekuasaannya. Dimana harta milik
negara (baitul mal) menjadi modal untuk diwakafkan demi pengembangan mazhab Sunni
dan menggusus mazhab Syiah yang dibawa oleh dinasti sebelumnya, ialah Dinasti
Fathimiyah.
Perkembangan wakaf pada masa Dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam,
sehingga apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Akan tetapi paling
banyak yang diwakafkan pada masa itu adalah tanah pertanian dan bangunan, seperti
gedung perkantoran, penginapan dan tempat belajar. Pada masa Mamluk terdapat wakaf
hamba sahaya yang di wakafkan budak untuk memelihara mesjid dan madrasah. Hal ini
dilakukan pertama kali oleh pengusa Dinasti Ustmani ketika menaklukan Mesir,

Sulaiman Basya yang mewakafkan budaknya untuk merawat mesjid.


Manfaat wakaf pada masa Dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tujuan wakaf, seperti
wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial,
membangun tempat untuk memandikan mayat dan untuk membantu orang-orang fakir
dan miskin. Yang lebih membawa syiar Islam adalah wakaf untuk sarana Harmain, ialah
Mekkah dan Madinah, seperti kain kabah (kiswatul kabah). Sebagaimana yang
dilakukan oleh Raja Shaleh bin al-Nasir yang membeli desa Bisus lalu diwakafkan untuk
membiayai kiswah Kabah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi SAW dan
mimbarnya setiap lima tahun sekali.
Perkembangan berikutnya yang dirasa manfaat wakaf telah menjadi tulang punggung
dalam roda ekonomi pada masa dinasti Mamluk mendapat perhatian khusus pada masa
itu meski tidak diketahui secara pasti awal mula disahkannya undang-undang wakaf.
Namun menurut berita dan berkas yang terhimpun bahwa perundang-undangan wakaf
pada Dinasti Mamluk dimulai sejak Raja al-Dzahir Bibers al-Bandaq (1260-1277 M/658676) H) di mana dengan undang-undang tersebut Raja al-Dzahir memilih hakim dari
masing-masing empat mazhab Sunni.
Pada orde al-Dzahir Bibers perwakafan dapat dibagi menjadi tiga kategori: Pendapat
negara hasil wakaf yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap
berjasa, wakaf untuk membantu haramain (fasilitas Mekkah dan Madinah) dan
kepentingan masyarakat umum. Sejak abad lima belas, kerajaan Turki Utsmani dapat
memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga Turki dapat menguasai sebagian besar
wilayah negara Arab. Kekuasaan politik yang diraih oleh Dinasti Utsmani secara otomatis
mempermudah untuk merapkan Syariat Islam, diantaranya ialah peraturan tentang
perwakafan.
Di antara undang-undang yang dikeluarkan pada Dinasti Utsmani ialah peraturan tentang
pembukuan pelaksanaan wakaf, yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhir tahun
1280 Hijriyah. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi
wakaf, cara pengelolaan wakaf, upaya mencapai tujuan wakaf dan melembagakan wakaf
dalam upaya realisasi wakaf dari sisi administrasi dan perundang-udangan.
Pada tahun 1287 H dikeluarkan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan
tanah-tanah kekuasaan Turki Utsmani dan tanah-tanah produktif yang berstatus wakaf.
Dari implementasi undang-undang tersebut di negara-negara Arab masih banyak tanah
yang berstatus wakaf dan diperaktekkan sampai saat sekarang. Sejak masa Rasulullah,
masa kekhalifahan dan masa dinasti-dinasti Islam sampai sekarang wakaf masih
dilaksanakan dari waktu ke waktu di seluruh negeri muslim, termasuk di Indonesia.
Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa lembaga wakaf yang berasal dari agama Islam ini
telah diterima (diresepsi) menjadi hukum adat bangsa Indonesia sendiri. Disamping itu
suatu kenyataan pula bahwa di Indonesia terdapat banyak benda wakaf, baik wakaf benda
bergerak atau benda tak bergerak. Kalau kita perhatikan di negara-negara muslim lain,
wakaf mendapat perhatian yang cukup sehingga wakaf menjadi amal sosial yang mampu

memberikan manfaat kepada masyarakat banyak.


Dalam perjalanan sejarah wakaf terus berkembang dan akan selalu berkembang
bersamaan dengan laju perubahan zaman dengan berbagai inovasi-inovasi yang relevan,
seperti bentuk wakaf uang, wakaf Hak Kekayaan Intelektual (Haki), dan lain-lain. Di
Indonesia sendiri, saat ini wakaf kian mendapat perhatian yang cukup serius dengan
diterbitkannya Undang-undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan PP No. 42 tahun
2006 tentang pelaksanaannya.

Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Wakaf


Posted: Wed, 09 May 2012 06:27:41 PDT

Adapun prinsip prinsip dalam pengelolaan Wakaf adalah53:


1. Asas Keberlangsungan Manfaat
Praktek pelaksanaan wakaf yang dianjurkan oleh nabi yang telah dicontohkan oleh Umar
bin Khattab dan diikuti oleh beberapa sahabat nabi lainnya yang sangat menekankan
pentingnya menahan eksistensi benda wakaf, dan diperintahkan untuk menyedekahkan
hasil dari pengelolaan benda tersebut. Pemahaman yang paling mudah untuk dicerna dari
maksud nabi adalah bahwa substansi ajaran wakaf itu tidak semata-mata terletak pada
pemeliharaan bendanya (wakaf), tapi yang jauh lebih penting adalah nilai manfaat dari
benda tersebut untuk kepentingan kebijakan umum.
2. Asas Pertanggungjawaban
Bentuk dari pertanggung jawaban tersebut adalah pengelolaan secara sungguh-sungguh
dan semangat yang didasari oleh:
1) Tanggung jawab kepada Allah SWT yaitu atas perilaku perbuatannya, apakah sesuai
atau bertentangan dengan aturan-aturanNya.
2) Tanggung jawab Kelembagaan yaitu tanggung jawab kepada pihak yang memberikan
wewenang (lembaga yang lebih tinggi).
3) Tanggung jawab Hukum yaitu tanggung jawab yang dilakukan berdasarkan ketentuanketentuan hokum yang berlaku.
4) Tanggung jawab Sosial yaitu tanggung jawab yang terkait dengan moral masyarakat.
3. Asas Profesional Manajemen
Manajemen wakaf menempati pada posisi paling urgen dalam dunia perwakafan. Karena
yang paling menentuka benda wakaf itu lebih bermanfaat atau tidak tergantung pada pola
pengelolaan, bagus atau buruk. dalam asas profesional manajemen ini harus
memiliki/mengikuti sifat-sifat Nabi yaitu:
1) Amanah (dapat dipercaya)
2) Shiddiq (jujur)
3) Fathanah (cerdas/brilian)
4) Tabligh (menyampaikan informasi yang tepat dan benar)
4. Asas Keadilan Sosial
Penegakan keadilan sosial dalam islam merupakan kemurnian dan legalitas agama. Orang

yang menolak prinsip keadilan sosial ini dianggap sebagai pendusta agama (QS. 147/ AlMaun). Substansi yang terkandung dalam ajaran wakaf ini sangat tampak adanya
semangat menegakkan keadilan sosial melalui pendermaan harta untuk kebajikan umum.

Pengertian Wakaf
Posted: Wed, 09 May 2012 07:00:54 PDT

Pengertian wakaf secara terminologi menurut ahli fiqih menggunakan dua kata:
habas dan wakaf. Karena itu sering digunakan kata seperti habasa atau ahbasa atau
awqafa untuk menyatakan kata kerjanya. Sedang wakaf dan habas adalah kata benda dan
jamaknya adalah awqaf, ahbas, dan mahbus. Dalam kamus Al-Wasith dinyatakan bahwa
al-habsu artinya al-manu (mencegah atau melarang) dan al-imsak (menahan) seperti
dalam kalimat habsu as-syai (menahan sesuatu). Waqfuhu la yuba wa la yurats
(wakafnya tidak dijual dan tidak diwariskan). Dalam wakaf rumah dinyatakan: Habasa fi
sabilillah (mewakafkannya di jalan Allah SWT). Sedangkan menurut Ibnu Faris tentang
kata habas: al-habsu ma wuqifa, al-habsu artinya sesuatu yang diwakafkan, dan pada
kata wakaf, Sesungguhnya keduanya berasal dari satu makna yang menunjukkan
diamnya sesuatu.
Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisanul Arab mengatakan tentang kata habas yang
berarti amsakahu (menahannya). Ia menambahkan: al-hubus ma wuqifa (sesuatu yang
diwakafkan), seperti pada kalimat Habbasa al-faras fi sabilillah (ia mewakafkan kuda
dijalan Allah SWT) atau ahbasahu, dan jamaknya adalah habais. Kalimat ini berarti
bahwa kuda itu diwakafkan kepada tentara untuk ditungganginya ketika sedang
malakukan jihad.
Sedangkan menurut Al-Azhari, ia mengatakan bahwa al-hubus jamak dari alhabis, yang berarti setiap benda yang diwakafkan oleh pemiliknya sebagai wakaf, haram
hukumnya apabila dijual atau diwariskan, baik tanahnya, pepohonannya dan semua
peralatannya. Dalam hadist tentang zakat dinyatakan bahwa Khalid telah menjadikan
budak dan keturunan darinya sebagai hubus (wakaf) di jalan Allah SWT. Pemakaian
kalimat yeng benar untuk kata habas adalah seperti pada kalimat: habastu yang berarti
waqoftu (saya telah mewakafkan). Sedangkan kata tahabbasa sinonimnya adalah
tawaqqafa.
Ibnu Mandzur menambahkan tentang kata wakafa seperti pada kalimat: Wakafa
al-arha ala al-masakin (Dia mewakafkan tanah kepada orang-orang miskin). Sedangkan
dalam kamus Mukhtar As-Shahah: Li al-masakin waqfan yang berarti habasahu
(mewakafkannya untuk orang-orang miskin).[1]
Secara etimologi, wakaf berasal dari perkataan Arab waqf yang bererti alHabs. Ia merupakan kata yang berbentuk masdar (infinitive noun) yang pada dasarnya
berarti menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta
seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah
tertentu (Ibnu Manzhur: 9/359). Sebagai satu istilah dalam syariah Islam, wakaf diartikan
sebagai penahanan hak milik atas materi benda (al-ain) untuk tujuan menyedekahkan
manfaat atau faedahnya (al-manfaah) (al-Jurjani: 328). Sedangkan dalam buku-buku
fiqh, para ulama berbeda pendapat dalam memberi pengertian wakaf. Perbedaan tersebut
membawa akibat yang berbeda pada hukum yang ditimbulkan. Definisi wakaf menurut
ahli fiqh adalah sebagai berikut:

Pertama, Hanafiyah mengartikan wakaf sebagai menahan materi benda (al-ain)


milik Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang
diinginkan untuk tujuan kebajikan (Ibnu al-Humam: 6/203). Definisi wakaf tersebut
menjelaskan bahawa kedudukan harta wakaf masih tetap tertahan atau terhenti di tangan
Wakif itu sendiri. Dengan artian, Wakif masih menjadi pemilik harta yang
diwakafkannya, manakala perwakafan hanya terjadi ke atas manfaat harta tersebut, bukan
termasuk asset hartanya.
Kedua, Malikiyah berpendapat, wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta
yang dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang
yang berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan
keinginan Wakif (al-Dasuqi: 2/187). Definisi wakaf tersebut hanya menentukan
pemberian wakaf kepada orang atau tempat yang berhak saja.
Ketiga, Syafiiyah mengartikan wakaf dengan menahan harta yang bisa memberi
manfaat serta kekal materi bendanya (al-ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan
yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah
(al-Syarbini: 2/376). Golongan ini mensyaratkan harta yang diwakafkan harus harta yang
kekal materi bendanya (al-ain) dengan artian harta yang tidak mudah rusak atau musnah
serta dapat diambil manfaatnya secara berterusan (al-Syairazi: 1/575).
Keempat, Hanabilah mendefinisikan wakaf dengan bahasa yang sederhana, yaitu
menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan (Ibnu
Qudamah: 6/185). Itu menurut para ulama ahli fiqih. Bagaimana menurut undang-undang
di Indonesia?. Dalam Undang-undang Nomor 41 tahun 2004, wakaf diartikan dengan
perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda
miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan
kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.
Dari beberapa definisi wakaf tersebut, dapat disimpulkan bahwa wakaf bertujuan
untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak
dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf
yang disebutkan pasal 5 UU No. 41 tahun 2004 yang menyatakan wakaf berfungsi untuk
mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah
dan untuk memajukan kesejahteraan umum.
Dalil yang menjadi dasar di syariatkannya ajaran wakaf bersumber dari
pemahaman teks ayat Al-Quran dan juga As-Sunnah. Tidak ada dalam ayat Al-Quran
yang secara tegas menjelaskan tentang ajaran wakaf. Yang ada adalah pemahaman
konteks terhadap ayat al quran yang dikategorikan sebagai amal kebaikan.[2] Di
antaranya ada dalam Al Quran surat:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu,


sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan
(Q.S. Al-Hajj: 77).

Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna),


sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang
kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya (Q.S. Ali Imran: 92).

Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang


menafkahkan hartanya di jalan Allah[3] adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi
Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 261)
Kemudian dalam hadist Nabi yang menyinggung masalah sadaqoh jariyah yaitu:

:

)
(
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
"apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga
perkara, shadaqoh jariyah, ilmt yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan orang
tuanya". (HR. Muslim)

[1] Mundzir Qahaf, Manajemen Wakaf Produktif (Jakarta: Penerbit Khalifa, 2005), hlm 44-45
[2] Departemen Agama, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf,
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2004), hlm. 23-25
[3] Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan
perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.