Anda di halaman 1dari 10

Ketatnya Sistem

Pengendalian
Oleh:
Eva Tuti Susari
Wanda Purnama Sari

Manfaat dari setiap sistem pengendalian manajemen


(SPM) berasal dari peningkatan kemungkinan bahwa
tujuan organisasi akan dicapai sehubungan dengan apa
yang dapat diharapkan jika SPM tidak berada pada
tempatnya. Manfaat ini dapat dijelaskan terkait ketatnya
(atau longgarnya) SPM.
Secara konseptual, dalam implementasi yang efektif
pada pengendalian ketat manajemen diperlukan
pemahaman yang baik bagaimana satu atau lebih objek
pengendalianhasil, tindakan, dan personel/kultural
berhubungan dan memberikan kontribusi pada seluruh
tujuan organisasi.

Ketatnya sistem Pengendalian

Ketatnya Pengendalian Hasil


Keberhasilan pengendalian hasil yang ketat tergantung pada
karakteristik definisi dari area hasil yang diinginkan, pengukuran
kinerja, dan penguatan atau insentif yang diberikan.
1. Definisi Hasil Yang Diinginkan
Agar pengendalian manajemen dikatakan ketat dalam suatu
sistem pengendalian hasil, dimensi hasil harus sesuai dengan
tujuan organisasi yang sebenarnya ; target kinerja harus lebih
spesifik; hasil yang diinginkan harus secara efektif
dikomunikasikan dan diinternalisasi oleh karyawan yang sikapnya
sedang dikendalikan; dan apabila pengendalian hasil digunakan
secara eksklusif pada bagian kinerja yang ada, pengukurannya
pasti lengkap.

Ketatnya sistem Pengendalian

Kesesuaian
Sistem pengendalian hasil, mungkin mengalami permasalahan
kesesuaian karena manajer tidak memahami dengan baik
tujuan organisasi yang sesungguhnya atau karena dimensi
kinerja yang dipilih oleh manajer untuk mengukur hasil tidak
merefleksikan tujuan yang sesungguhnya dengan baik.
Spesifikasi
Tingkat ketatnya pengendalian hasil juga tergantung pada adanya
prospek kinerja yang dijelaskan dengan istilah spesifik.
Spesifikasi kinerja yang diharapkan atau target membutuhkan
pemilahan dan penghitungan seperti 15% ROA per tahun,
keluhan konsumen kurang 1%, atau biaya tenaga kerja $2,29
per unit produksi. Organisasi biasanya dapat atau telah
menetapkan target yang spesifik dan dapat dihitung dalam
istilah-istilah keuangan.

Ketatnya sistem Pengendalian

Komunikasi dan Internalisasi


Agar pengendalian hasil menjadi ketat, target kinerja juga harus
dikomunikasikan secara efektif dan di internalisasi oleh mereka yang
diberi tanggung jawab berdasarkan prestasinya. Kemudian barulah
pengendalian hasil dapat mempengaruhi kinerja. Batasan
pemahaman dan internalisasi dalam tujuan dipengaruhi oleh banyak
faktor, termasuk kualifikasi karyawan yang terlibat, tingkat
terkontrolnya area hasil pengukuran yang diketahui, tujuan yang
beralasan, dan besarnya partisipasi yang diperbolehkan dalam
proses penentuan tujuan.
Kelengkapan
Kelengkapan berarti bahwa area hasil yang didefinisikan dalam SPM
termasuk semua bagian yang diharapkan memiliki kinerja yang
bagus dan ketika karyawan yang terlibat dapat berpengaruh. Apa
yang tidak terukur menjadi kurang terlihat, atau mungkin tidak
terlihat. Oleh karena itu, ketika area hasil yang ditetapkan tidak
lengkap, karyawan sering kali membiarkan kinerja di area yang tidak
diukur terlewat.

Ketatnya sistem Pengendalian

2. Pengukuran Kinerja
Pengendalian hasil yang ketat juga tergantung pada kecukupan
pengukuran kinerja yang digunakan. Pengendalian hasil tergantung
pada pengukuran yang teliti, objektif, tepat waktu, dan dapat dipahami.
Sistem pengendalian hasil yang digunakan untuk menerapkan
pengendalian yang ketat memerlukan semua kualitas pengukuran yang
tinggi. Jika pengukuran gagal pada bagian manapun, sistem
pengendalian tidak dapat digolongkan sebagai pengendalian yang ketat
karena adanya permasalahan perilaku yang diinginkan.
3. Insentif
Pengendalian hasil mungkin menjadi lebih ketat jika imbalan
dihubungkan secara langsung dan pasti dengan pencapaian hasil yang
diinginkan. Hubungan langsung berarti bahawa pencapaian hasil
diterjemahkan secara eksplisit dan jelas menjadi imbalan. Hubungan
pasti antara hasil dan imbalan berarti bahwa tidak ada alasan untuk
ditoleransi.

Ketatnya sistem Pengendalian

Ketatnya Pengendalian Tindakan


Secara keseluruhan, sistem pengendalian tindakan harus dianggap ketat hanya jika
besar kemungkinan bagi karyawan untuk terus-menerus terlibat dalam semua
tindakan yang penting untuk keberhasilan operasi dan tidak akan terlibat dengan
tindakan yang merugikan.
1. Pembatas Perilaku
Pembatas perilaku, baik fisik ataupun administrasi, dapat menciptakan pengendalian
yang ketat dalam beberapa bidang pada suatu organisasi.
2. Kajian Pratindakan
Kajian pratindakan dapat membuat ketat SPM jika kajiannya sering, detail, dan
dilakukan oleh pengkaji yang rajin dan berpengetahuan luas. Kajian pratindakan
selalu ketat pada bagian yang melibatkan alokasi sumber daya yang besar karena
banyak investasi yang lebih mudah dibatalkan dan dapat mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi.

Ketatnya sistem Pengendalian

3. Akuntabilitas tindakan
Pengendalian akuntabilitas tindakan menciptakan pengendalian ketat seperti
halnya pengendalian hasil yang ketat. Jumlah pengendalian yang ditimbulkan
dari pengendalian akuntabilitas tindakan tergantung pada karakteristik definisi
tindakan yang diinginkan (tidak diinginkan), efektivitas sistem pelacakan
tindakan, dan penguatan (imbalan dan hukuman) yang diberikan.
Definisi Tindakan
Untuk mencapai pengendalian akuntabilitas tindakan yang ketat, definisi
tindakan harus sesuai, spesifik, dikomunikasikan dengan baik, dan lengkap.
Pelacakan Tindakan
Karyawan yang yakin bahwa tindakan mereka akan diperhatikan, dan
diperhatikan secara tepat waktu, akan lebih kuat dipengaruhi oleh sistem
pengendalian akuntabilitas tindakan daripada karyawan yang merasa bahwa
kemungkinannya tertangkap kecil.
Penguatan Tindakan
Akhirnya, pengendalian dapat dibuat lebih ketat dengan membuat imbalan atau
hukuman menjadi lebih signifikan terhadap karyawan yang terlibat.

Ketatnya sistem Pengendalian

Ketatnya Pengendalian Personel/Kultural


Pada beberapa situasi, SPM yang didominasi oleh pengendalian
personel/kultural dapat juga dianggap ketat. Dalam organisasi sosial
dan volunter, pengendalian personel biasanya menunjukkan jumlah
pengendalian yang signifikan, sebagaimana kebanyakan volunter
sangat puas hanya dengan melakukan kebaikan, sehingga termotivasi
untuk melakukannya dengan baik. Pengendalian personel/kultural
yang ketat juga ada pada bisnis yang berorientasi laba. Keberadaan
pada perusahaan keluarga yang kecil merupakan hal yang umum
ketika pengendalian personel/kultural mungkin menjadi efektif karena
adanya rasa saling melengkapi atau kesesuaian antara keinginan
organisasi dan keinginan individu yang ingin mereka capai.

Ketatnya sistem Pengendalian

SEKIAN
&
TERIMA KASIH