Anda di halaman 1dari 85

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) merupakan masa yang dimulai saat wanita
selesai melewati persalinan di tandai dengan pengeluaran plasenta dan berakhir
saat semua alat reproduksi kembali seperti saat sebelum hamil, berlangsung
selama 6-8 minggu. Dalam masa nifas ini juga dapat terjadi komplikasi berupa
perdarahan dan infeksi yang salah satu penyebabnya adalah dari luka perineum
baik karena episiotomy atau yang terjadi secara spontan. Komplikasi yang terjadi
pada masa nifas membutuhkan penanganan segera untuk menekan Angka
Kematian Ibu (AKI) karena hal ini mempunyai pengaruh besar terhadap
keberhasilan pembangunan kesehatan. (Marni, 2012)
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2009 terjadi 2,7 juta kasus ruptur
perineum pada ibu bersalin di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan mencapai
6,3 juta pada tahun 2050, seiring dengan semakin tingginya bidan yang tidak
mengetahui asuhan kebidanan dengan baik. (Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu Vol.
06 No. 01 Januari 2015). Menurut Eghdampor tahun 2013 angka kejadian
robekan jalan lahir yang disebabkan karena episiotomy pada primipara atau
wanita yang baru pertama melahirkan di Belanda sebanyak 8 %, Inggris 20%,
Argentina 28 %, Australia 40,6 %, USA 50 %, Amerika Utara 54% dan Iran
dilaporkan sebesar 97,3%.

Di Asia rupture perineum juga merupakan masalah yang cukup banyak


dalam masyarakat, 50 % dari kejadian ruptur perineum di dunia terjadi .
Sedangkan di Indonesia pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24 % sedang
pada ibu bersalin usia 32-39 tahun sebesar 62 %. Asia (Jurnal Kesehatan
Samodra Ilmu Vol. 06 No. 01 Januari 2015 ).
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
menunjukkan AKI melonjak naik yaitu dari 228 per 100.000 kelahiran hidup
pada tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Tiga penyebab utama
angka kematian ibu di Indonesia dalam bidang obstetric adalah perdarahan post
partum (45%), infeksi (15%), dan pre-eklamsia (13%).
Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), AKI menunjukkan
penurunan yang cukup baik. Angka terakhir yang dikeluarkan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) adalah tahun 2011 jumlah kasus kematian ibu yang dilaporkan
mencapai 56 kasus , menurun menjadi 40 kasus pada tahun 2012 sesuai dengan
pelaporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sehingga apabila dihitung
menjadi angka kematian ibu dilaporkan sebesar 87,3 per 100.000 kelahiran
hidup. Penyebab kematian ibu di DIY adalah perdarahan post partum 29%,
disusul oleh pre-eklamsi 26% dan infeksi 14% (Dinkes Provinsi DIY, 2013).
Masalah masalah lain yang sering terjadi pada saat persalinan yaitu perdarahan
postpartum . Penyebab perdarahan utama adalah atonia uteri sedangkan ruptur
perineum merupakan penyebab kedua yang hampir terjadi pada setiap persalinan

pervaginam. Lapisan mukosa dan kulit perineum pada seorang ibu primipara
mudah terjadi rupture sehingga bisa menimbulkan perdarahan. Sedangkan
Infeksi umumnya disebabkan karena perawatan luka perineum yang kurang baik.
(Wiknjosastro, 2009)
Penyebab infeksi diantaranya adalah bakteri eksogen (kuman dari luar),
autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh), endogen (dari jalan lahir
sendiri). Penyebab terbanyak dan lebih dari 50% adalah strepcoccus anaerob
yang berada pada luka perineum. Secara umum frekuensi infeksi puerperalis
menyebabkan 15% dari seluruh kematian ibu yang terjadi dinegara berkembang
termasuk Indonesia, sehingga perlu dilakukan perawatan dengan baik untuk
mencegah terjadinya infeksi luka perineum (Nugroho, 2014).
Salah satu penyebab infeksi luka perineum adalah kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan diri terutama vulva hygiene
atau perawatan perineum. Kepedulian ibu terhadap perawatan luka perineum ini
sering dihubungkan dengan mitos yang dipercayai sebagai suatu kebenaran
karena pengalaman orang lain. Misalnya, ibu nifas membutuhkan makanan yang
mengandung protein seperti ikan, telur, daging sebagai zat pembangun yang
membentuk jaringan otot tubuh dan mempercepat proses penyembuhan luka,
namun dimasyarakat masih menganggap sebagai suatu mitos (Tari, 2013).
Pandangan islam mengenai kebersihan tercantum dalam Al-Quran surah
Al-Baqarah : 222 yaitu :

Artinya :Dan mereka yang menanyakan kepadamu (Muhammad)


tentang haid. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor.Karena itu jauhilah
istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci,
campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah
kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang
yang menyucikan diri (Al-Baqarah : 222)
Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah
SAW. :Sesungguhnya Allah SWT. itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia
Maha bersih yang menyukai kebersihan, Dia maha mulia yang menyukai
kemuliaan, Dia maha indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah
tempat-tempatmu (HR. Tirmidzi).
Terkait dengan Q.S Al-Baqarah ayat 222 dan hadist diatas kebersihan diri
sangatlah penting, karena Allah juga mencintai orang-orang yang bersih.Ibu yang
sedang mengalami masa nifas hendaknya tetap menjaga kebersihan diri
khususnya pada daerah kewanitaan yang sangat rentan terkena infeksi dan
tempat perkembangbiakan kuman dan bakteri karena ibu nifas sedang mengalami
pengeluaran darah seperti saat haid.
Berdasarkan Peraturan Menteri

Kesehatan

(Permenkes)

nomor

1464/Menkes/Per/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan Praktik Bidan, bidan


mempunyai kewenangan meliputi pelayanan ibu. Kewenangan yang di miliki
bidan salah satunya adalah penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II dan
melakukan pelayanan yang komprehensif untuk ibu nifas. Dalam Standar

Pelayanan Kebidanan (SPK), asuhan pada ibu nifas ada dalam standar ke 15
yaitu pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas. Asuhan pada masa nifas
sangat diperlukan karena merupakan masa kritis bagi ibu dan bayinya. Asuhan
yang diberikan bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya tanda bahaya pada
ibu dan bayi yang membutuhkan penanganan segera (Prawirohardjo, 2010).
Pemerintah membuat program kebijakan nasional masa nifas yang
merupakan peran bidan yakni paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan nifas
yaitu, 6-8 jam postpartum, 6 hari postpartum, 2 minggu postpartum dan 6
minggu postpartum (Depkes RI, 2010). Kewenangan bidan untuk perawatan luka
perineum terdapat pada kunjungan ke 2 yakni 6 hari post partum bidan
melakukan penilaian tanda-tanda infeksi dan menilai penyembuhan luka yang
dalam keadaan normal sudah sembuh pada 6-7 hari dan memastikan ibu
mengonsumsi makanan yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Pada
kunjungan ke 4 bidan memastikan pulihnya alat reproduksi seperti sebelum
hamil.
Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di BPS Istri Utami
pada bulan Januari-Mei 2016 diperoleh data ibu nifas dengan luka perineum
derajat I sebanyak 2 orang , derajat II sebanyak 28 orang dan derajat III 4 orang .
Salah satu asuhan kebidanan yang diberikan di BPS Istri Utami yaitu memberi
KIE ibu nifas untuk vulva hygiene atau perawatan perineumnya dengan teknik
aseptik membersihkan daerah genital menggunakan air bersih dan dikeringkan
dengan tissue atau handuk bersih. Perawatan luka telah diajarkan pada ibu
namun, kurangnya kesadaran ibu nifas dalam merawat luka menyebabkan
beberapa ibu mengalami infeksi pada luka perineum. Berdasarkan data diatas
kasus ibu nifas dengan luka perineum masih banyak, maka peneliti memutuskan

untuk melakukan penelitian dengan judul asuhan kebidanan pada ibu nifas
dengan luka perineum di BPS Istri Utami
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka rumusan
masalahnya adalah Bagaimana Asuhan kebidanan ibu nifas dengan perawatan
luka perineum di BPS Istri Utami secara komprehensif.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memberi asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan perawatan
luka perineum secara holistik di BPS Istri Utami.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melaksanakan pengumpulan data subjektif pada
pasien dengan luka perineum
b. Mahasiswa mampu melaksanakan pengumpulan data objektif pada
pasien dengan luka perineum
c. Mahasiswa mampu melaksanakan interpretasi data dari hasil
pengkajian data subjektif dan objektif pasien dengan luka perineum
d. Mahasiswa mampu melaksanakan diagnosa potensial dan antisipasi
yang harus dilakukan oleh bidan pada pasien dengan luka perineum
e. Mahasiswa mampu melaksanakan rencana asuhan kebidanan pada
pada pasien dengan luka perineum
f. Mahasiswa mampu melaksanakan pelaksanaan asuhan pada pasien
dengan luka perineum
g. Mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi dari asuhan yang
diberikan pada pasien dengan luka perineum.
h. Mahasiswa mampu melaksanakan menganalisa kesenjangan antara
teori dan kasus nyata di lapangan pada ibu nifas dengan luka
perineum.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
a. Bagi Institusi

Case Study Research ini diharapkan mahasiswa dapat memahami


terutama dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan
perawatan luka perineum
b. Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, bagi penerapan ilmu yang
diterima selama masa kuliah dan peneliti memperoleh pengalaman secara
langsung dalam menghadapi kasus ibu masa nifas dengan perawatan luka
perineum.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini juga diharapkan bisa memberikan masukan pada
pembaca dan sebagai referensi untuk peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Responden
Agar pasien masa nifas lebih siap dalam menerima perubahan tubuh pada
masa nifas.

b. Bagi BPS Istri Utami


Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi dan referensi untuk
bidan meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan
luka perineum .
c. Bagi Pasien Ibu Nifas
Hasil studi kasus ini dapat menambah pengetahuan dan mengubah
perilaku pada ibu nifas dengan luka perineum tentang perawatan luka
yang baik dan benar.
d. Bagi Profesi Bidan
Case Study Research ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata
tentang upaya pembinaan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan
perawatan luka perineum, sehingga dapat meningkatkan kualitas
pelayanan di BPS Istri Utami
e. Bagi Masyarakat

Agar masyarakat lebih memperhatikan pada kesehatan perempuan


khususnya ibu nifas dengan luka perawatan luka perineum
E. Ruang Lingkup
1. Ruang Lingkup Materi
Materi yang akan diteliti dalam proposal ini adalah asuhan kebidanan ibu
nifas dengan luka perineum.
2. Ruang Lingkup Responden
Responden pada studi kasus ini adalah ibu nifas dengan luka perineum yang
mendapat pertolongan persalinan serta penjahitan dan perawatan luka
perineum di BPS Istri Utami.
3. Ruang Lingkup waktu
Penelitian ini dilakukan dari study pendahuluan sampai laporan hasil
pembahasan pada bulan Mei 2016
4. Ruang Lingkup Tempat
Penelitian ini dilakukan di BPS Istri Utami karena pada bulan Januari - Mei
2016 diperoleh data ibu nifas sebanyak 37 orang dan yang mengalami luka
perineum derajat I 5,4 %, derajat II 75,7 % dan derajat III 10,8 % .
F. Keaslian Penelitian
1. Megawati Y (2013) dengan judul Asuhan Kebidanan Ibu Nifas pada Ny. T
dengan Perawatan Luka Perineum Post Episiotomy di BPM Puji Setiani
Tegal Mulyo Mojosongo Surakarta Tahun 2013 diperoleh jumlah ibu nifas
19 orang dengan robekan perineum karena tindakan episiotomy. Pada karya
tulis ilmiah ini menggunakan metode observasional deskriptif. Teknik
pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan
dokumentasi. Hasil dari pemberian asuhan kebidanan adalah keadaan umum
ibu baik, tidak terjadi perdarahan, kontraksi uterus keras, luka episiotomy
kering, sembuh selama 7 hari dan tidak nyeri, tidak terjadi infeksi, ibu bisa
melewati masa nifas dengan baik.
Perbedaan studi kasus penulis dengan keaslian penelitian adalah 2 responden
yang digunakan penulis adalah ibu nifas dengan luka perineum

baik

disebabkan karena tindakan episiotomy atau luka perineum secara spontan


yang mendapat pertolongan persalinan dan dirawat di BPS Istri Utami
2. Yuliana R (2013) dengan judul Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang
Perawatan Luka Perineum Di Rumah Sakit Bersalin Fitri Candra Wonogiri.
Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan
adalah ibu nifas hari ke 0-3 sebanyak 30 responden menggunakan teknik total
sampling. Instrumen penelitian adalah koesioner tertutup tentang perawatan
luka perineum. Pengumpulan data diperoleh dari data primer dan data
sekunder. Variable yang diteliti adalah variable tunggal yaitu ibu nifas dengan
luka perineum. Hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu nifas tentang
perawatan luka perineum di RSB Fitri Candra Wonogiri adalah cukup (73,4
%).
Perbedaan studi kasus penulis dengan keaslian penelitian adalah pada desain
penelitian yang menggunakan observasional deskriptif, jumlah responden
penulis menggunakan 2 responden yaitu ibu nifas dengan luka perineum
yang mendapat pertolongan persalinan dan perawatan luka di BPS Istri
Utami.
3. Sarwinanti, dkk (2007) dengan judul Perbedaan Lamanya Luka Jahitan
Perineum Antara Pemberian Kompres Kassa Betadine Dan Pemberian
Betadin Oles Pada Ibu Post Partum Di Ruang Sakinah RSU PKU
muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif
experimental dengan rancangan one group pretest and post test designdan
menggunakan lembar observasi REEDA scale. Pengujian hipotesis
menggunakan independent sample t-Test (P<0,001). Hasil penelitian di
dapatkan hasil penyembuhan luka dengan kompres betadine adalah 7 hari

10

sedangkan dengan betadine oles 6 hari, secara klinis tidak terdapat perbedaan
yang signifikan.
Perbedaan karya tulis ilmiah penulis adalah pada desain penelitian penulis
menggunakan observasional deskriptif, responden yang penulis gunakan
adalah 2 ibu nifas yang dirawat dan mendapat pertolongan persalinan di BPS
Istri Utami dengan luka perineum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Masa Nifas


1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa ketika plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil
yang berlangsung kira-kira 6 minggu (Marmi, 2012).

11

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari


persalinan selesai, sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil.
Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Wulandari dan Handayani, 2011).
Jadi penulis menyimpulkan bahwa masa nifas ini merupakan masa
yang dimulai saat wanita selesai melewati persalinan di tandai dengan
pengeluaran plasenta dan berakhir saat semua alat reproduksi kembali seperti
saat sebelum hamil, berlangsung selama 6-8 minggu.
2. Tahapan Masa Nifas
Menurut Marmi (2012), masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan,
yaitu :
a. Puerperium dini : suatu masa pemulihan dimana ibu diperbolehkan untuk
berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial : suatu masa pemulihan menyeluruh dari organorgan reproduksi selama kurang lebih enam sampai delapan minggu.
c. Remote puerperium : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
kembali dalam keadaan sempurna terutama ibu yang selama bersalin atau
persalinan mengalami komplikasi.
3. Asuhan Masa Nifas
a. Kunjungan I (6-8 jam setelah persalinan)
Tujuan bidan melakukan kunjungan ini adalah :
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena antonia uteri
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan; rujuk jika
perdarahan berlanjut
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
4)
5)
6)
7)

bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri


Pemberian ASI awal
Melakukan hubungan antara ibu dengan bayi baru lahir
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
Petugas kesehatan yang menolong persalinan, harus memantau
keadaan ibu dan bayi baru lahir selama 2 jam pertama setelah

kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.


b. Kunjungan II (6 hari setelah persalinan)
Tujuan bidan melakukan kunjungan ini adalah :

12

1) Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi


dengan baik, tinggi fundus uteri berada dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak berbau
2) Menilai tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal
3) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan
tanda-tanda penyulit
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi berupa
perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, mengajarkan ibu cara
memandikan bayi.
c. Kunjungan III (2 minggu setelah persalinan)
Tujuan dari kunjungan ke III sama seperti kunjungan ke II (6 hari)
akan tetapi asuhan yang dilakukan bidan di tambah dengan konseling
Keluarga Berencana.
d. Kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan)
Tujuan bidan melakukan kunjungan ini adalah :
1) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami ibu dan
bayi .
2) Memantapkan untuk menjadi akseptor KB yang terpilih
4. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Dalam semua kegiatan memiliki tujuan agar kegiatan tersebut terarah
dan diadakan evaluasi dan penilaian. Menurut Bahiyatun (2009), tujuan dari
perawatan nifas adalah :
a. Memulihkan kesehatan umum penderita,
1) Menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan.
2) Mengatasi anemia.
3) Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan
sterilisasi.
4) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk
memperlancar peredaran darah.
b. Mempertahankan kesehatan psikologi.
c. Mencegah infeksi dan komplikasi.
d. Memperlancar pembentukan Air Susu Ibu (ASI).

13

e. Mengajarkan ibu untuk melakukan perawatan mandiri sampai masa


nifas selesai dan merawat bayi dengan baik.
5. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Nifas
a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Involusio Uteri
Involusio uteri merupakan suatu proses kembalinya uterus
pada kondisi sebelum hamil. Perubahan ini dapat diketahui dengan
melakukan pemeriksaan palpasi untuk meraba dimana tinggi fundus
uteri.
Tabel 2.1 Perubahan Uterus Masa Nifas
Tinggi
Berat
Diameter
Involusi Uteri
Fundus
Uterus
Uterus
Uteri
Plasenta lahir
Setinggi
1000
12,5 cm
pusat
gram
7 hari (1 minggu)
Pertengahan 500 gram
7,5 cm
pusat dan
simphisis
14 hari (2 minggu)
Tidak teraba 350 gram
5 cm
6 minggu
Normal
60 gram
2,5 cm
Sumber : Marmi, 2012

2) Involusio Tempat Plasenta


Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan
permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan.
Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke dua hanya
sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. regenerasi endometrium

14

terjadi

di

tempat

implantasi

plasenta

sekitar

minggu

(Sujiyatini,2010).
3) Rasa Nyeri
Rasa nyeri atau mules (after pain) disebabkan karna adanya
kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan.
Perasaan mules ini lebih terasa bila sedang menyusui. Perasaan sakit
timbul jika masih terdapat sisa-sisa selaput ketuban, sisa-sisa
plasenta, atau gumpalan darah di dalam kavum uteri(Sujiyatini,2010).
4) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa atau alkalis yang dapat membuat organisme
berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina
normal.
Menurut Marmi (2012) pengeluaran lochea dapat dibagi
berdasarkan waktu dan warna, diantaranya :

a) Lochea Rubra atau Merah (kruetan)


Lochea ini muncul pada hari ke-1 sampai hari ke-3 masa
postpartum dan warna merah karena mengandung darah segar dari
robekan atau jaringan sisa plasenta.
b) Lochea Sanguinolenta
Cairan yang berwarna merah kecoklatan, yang terdiri dari
darah dan lendir.Berlangsung hari ke-4 sampai hari ke-7
postpartum.

15

c) Lochea Serosa
Lochea ini berwarna kekuningan atau kecoklatan yang
terdiri

dari

lebih

sedikit

darah

dan

lebih

banyak

serum.Berlangsung hari ke-7 sampai hari ke-14.


d) Lochea Alba
Lochea ini berwarna lebih pucat, putih kekuningan dan
lebih banyak mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati.Berlangsung selama 2-6 minggu
postpartum.
5) Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahanperubahan yang terdapat pada serviks adalah bentuk serviks yang
akan menganga seperti corong. Warna serviks sendiri merah kehitamhitaman karena penuh pembuluh darah (Marmi,2012).
Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu
persalinan akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi
lahir, tangan dapat masuk ke rongga Rahim. Setelah 2 jam, hanya
dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke-6 postpartum, serviks sudah
menutup kembali (Sulistiawati A ,2010).
6) Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan
yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Setelah 3 minggu
vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae
dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali
sementara labia menjadi lebih menonjol (Marmi,2012).
7) Perineum

16

Segera setelah melahirkan perineum menjadi kendur karena


sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju.Pada
postpartum hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali
tonusnya, meskipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum
hamil.
b. Perubahan Sistem Pencernaan
Setelah persalinan ibu akan mengalami konstipasi, hal ini
disebabkan pada waktu persalinan alat pencernaan mengalami tekanan
yang menyebabkan kolon menjadi kosong. Sistem gastrointestinal selama
kehamilan dipengaruhi oleh tingginya kadar progesteron yang dapat
mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah,
dan melambatkn kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar
progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus
memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal (Marmi, 2012).
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, ibu akan sulit untuk
buang air kecil dalam 24 jam pertama. Urine dalam jumlah besar akan
dihasilkan dalam 12-36 jam post partum.
d. Perubahan Tanda Vital
1) Suhu Badan
Dalam 1-2 hari (24 jam) suhu badan akan sedikit naik
(37,5C-38C) sebagai akibat kerja keras selama melahirkan,
kehilangan cairan.
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80 kali per
menit. Denyut nadi setelah melahirkan biasanya akan lebih cepat.
Denyut nadi yang melebihi 100 kali permenit adalah tanda abnormal
dan hal itu menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.

17

3) Tekanan Darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Tekanan darah akan
lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ibu nifas mengalami
perdarahan dalam batas normal. Tekanan darah tinggi pada saat post
partum dapat menandakan adanya pre- eklamsi post partum.
4) Pernapasan
Keadaan pernapaan selalu berhubungan dengan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu naik dan nadi tidak normal maka pernapasan
juga akan mengikuti, kecuali bila ada gangguan khusus (Marmi,
2012).
6. Adaptasi Psikologis Masa Nifas
Menurut Mufdilah (2012) adaptasi psikologis oleh Rubin dibagi dalam
3 fase/periode yaitu :
a. Periode Taking In (1-2 hari setelah melahirkan)
1) Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain
2) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran pada perubahan bentuk
tubuhnya
3) Ibu mungkin akan bercerita tentang pengalamannya bersalin
berulang-ulang
4) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk memulihkan keadaan
tubuh pada kondisi awal
5) Nafsu makan ibu bertambah sehingga membutuhkan peningkatan
nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian
kondisi tubuh tidak berlangsung normal.
b. Periode Taking Hold (2-4 hari setelah melahirkan)
1) Ibu menjadi khawatir akan kemampuannya merawat bayi dan
meningkatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu
2) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh,
BAK,BAB dan daya tahan tubuh
3) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti
menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok
4) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan.

18

c. Periode Letting Go
1) Terjadi setelah ibu pulang kerumah dan dipengaruhi oleh dukungan
serta perhatian keluarga
2) Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi dan
memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam
kebebasan dan hubungan social.
7. Komplikasi Masa Nifas
Komplikasi masa nifas biasanya jarang ditemukan selama pasien
mendapatkan asuhan berkualitas, mulai masa kehamilan sampai dengan
persalinan. Menurut Sulistyawati Ari (2009), komplikasi masa nifas adalah :
a. Perdarahan Per Vagina
Perdarahan per vagina sering diartikan sebagai keadaan
kehilangan darah lebih dari 500 mL selama 24 jam pertama sesudsh
kelahiran bayi.
Jenis perdarahan yaitu :
1) Perdarahan post partum primer
Perdarahan post partum primer adalah mencakup semua
kejadian perdarahan dalam 24 jam setelah melahirkan.
a) Penyebab
(1) Antonia uteri, yang dapat terjadi karena plasenta atau
selaput ketuban tertahan.
(2) Trauma genetalia, yang meliputi penyebab spontan dan
trauma akibat penatalaksanaan atau gangguan, misalnya
kelahiran yang menggunakan peralatan termasuk section
caesaria dan episiotomy.
(3) Inversi uterus.
b) Penanganan
(1) Masase fundus uteri agar uterus berkontraksi dan bekuan
darah dapat keluar
(2) Kaji kondisi pasien
(3) Berikan oksitosin 10 IU intravena dan ergometrin 0,5 IV
(4) Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong
(5) Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik.
2) Perdarahan post partum sekunder

19

Perdarahan post partum sekunder adalah mencakup semua


kejadian PPH (Post Partum Hemoragia) yang terjadi antara 24 jam
setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum.
a) Penyebab
(1) Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan.
(2) Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet.
(3) Terbukanya luka pada uterus
b) Penanganan
(1) Percepat kontraksi dengan cara melakukan masase uterus,
jika uterus masih teraba.
(2) Berikan oksitosin 10 IU IV dan ergometrin 0,5 IV.

b. Infeksi Masa Nifas


Tanda-tanda infeksi masa nifas menurut manuaba (2009) adalah
sebagai berikut :
1) Infeksi lokal
Terjadi pembengkakan pada luka, terbentuk pus, perubahan warna
lokal, pengeluaran lochea bercampur nanah dan berbau, mobilisasi
terbatas karena rasa nyeri, serta temperature badan dapat meningkat.
2) Infeksi umum
Pasien dengan infeksi lokal akan tampak sakit dan lemah,
temperatur meningkat hingga > 39C, tekanan darah menurun, nadi
meningkat, pernafasan meningkat dan terasa sesak, terjadi gangguan
involusi uteri, lochea berbau dan keluar nanah.
Adapum jenis-jenis Infeksi menurut Rukiyah (2010) yakni :
1) Vulvitis
Pada luka infeksi bekas sayatan episiotomy atau luka
perineum, jaringan sekitar membengkak, tepi luka menjadi merah dan
bengkak, jahitan mudah lepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan
mengeluarkan pus.
2) Vaginitis

20

Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka


perineum.Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi
ulkus.
3) Servisitis
Infeksi serviks sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak
menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam, luas dan
langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang
menjalar ke parametrium.
4) Endometritis
Jenis infeksi ini biasanya sering terjadi.Kuman-kuman yang
memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas implantasi
plasenta dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh
endometrium.
5) Septicemia
Pada infeksi ini, kuman-kuman dari uterus langsung masuk ke
dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum.
6) Pyemia
Pada pyemia, terdapat thrombophlebitis dahulu pada vena-vena
di uterus dan sinus-sinus pada bekas implantasi plasenta.
7) Peritonitis
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe dalam
uterus,langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis
atau melalui jaringan di antara kedua lembar ligamentum latum yang
3)
4)
5)
6)

menyebabkan perimetritis.
Sakit kepala, nyeri epigastric, penglihatan kabur
Pembengkakan di wajah atau ekstremitas
Demam, muntah rasa sakit waktu berkemih
Kehilangan nafsu makan untuk jangka waktu yang lama. Biasanya
disebabkan adanya kelelahan yang amat berat, nafsu makan pun akan

21

terganggu, sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan yang ibu
rasakan hilang.
7) Thrombophlebitis
Selama masa nifas, dapat terbentuk thrombus sementara pada
vena-vena maupun di pelvis yang mengalami dilatasi.
8) Merasa sedih atau tidak dapat mengasuh sendiri bayinya dan dirinya
sendiri.
c. Masalah Menyusui
1) Puting susu lecet
Menurut Marmi (2012) puting susu lecet dapat disebabkan
trauma pada puting susu saat menyusui, selain itu dapat pula terjadi
retak dan pembentukan celah-celah . retakan pada puting susu dapat
sembuh sendiri dalam waktu 48 jam. Hal ini dapat disebabkan karena
tehnik menyusui yang tidak benar dan tehnik menghentikan menyusu
kurang tepat.
Penatalaksanaan pada puting susu lecet adalah Menganjurkan
pada ibu untuk bisa terus memberikan ASI pada puting yang tidak
lecet terlebih dulu, kemudian mengolesi puting dengan ASI di awal
dan akhir menyusui. Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan
untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam , dan akan sembuh
sendiri dalam waktu 2x24 jam.Selama puting susu diistirahatkan, ibu
dianjurkan untuk tetap memerah ASI dengan tangan dan tidak
dianjurkan dengan alat pompa karena akan menambah nyeri,
bubuhkan minyak kelapa dan bersihkan payudara dengan air hangat,
dan tidak dianjurkan dengan menggunakan sabun, untuk sementara
berhenti menyusu pada payudara yang sakit, ASI dikeluarkan dengan
tangan dan diberikan dengan sendok pada bayi, setelah membaik

22

mulai meyusui kembali dengan waktu yang lebih singkat, bila lecet
tidak sembuh dalam 1 minggu ibudianjurkan untuk memeriksakan
diri ke petugas kesehatan.
Berdasarkan jurnal dari Apriyani (2014) menerangkan bahwa ada
hubungan antara pengetahuan ibu nifas tentang tehnik menyusui
dengan kejadian puting susu lecet. Adapun posisi dan tehnik
menyusui yang benar adalah :
a. Jika duduk, ibu bersandar pada punggung kursi, kaki tidak boleh
menggantung.
b. Kepala bayi berada pada siku bagian dalam sejajar dengan
bokong bayi. Perut bayi menempel pada perut ibu. Tempelkan
dagu bayi pada payudara ibu. Jauhkan hidung bayi dari payudara
ibu dengan cara menekan pantat bayi dengan lengan ibu bagian
dalam.
c. Keluarkan ASI sedikit oleskan pada puting susu dan areola.
d. Pegang payudara dengan pegangan seperti membentuk huruf C
yaitu payudara dipegang dengan ibu jari dibagian atas dan jari
yang lain menopang kebawah.
e. Sentuh pipi atau bibir bayi untuk meransang rooting refleks.
Tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar dan lidah menjulur
kebawah. Dengan cepat dekatkan bayi ke payudara ibu dengan
menekan bahu belakang bayi bukan belakang kepala, arahkan
puting susu keatas menyusuri langit-langit mulut bayi.
f. Ketika bayi menyusu puting dan areola berada diantara rahang
atas dan bawah. Mulut bayi terbuka lebar mencakup sebanyak
mungkin areola tidak hanya puting saja sehingga sebagian besar
areola tidak tampak. Bayi menyusu minimal 8 kali sehari atau

23

setiap 2 jam, selama 10-15 menit. Apabila 2-3 jam bayi tidur
belum bangun, maka ibu tidak perlu takut untuk membangunkan
bayi untuk diberi ASI.
g. Cara melepaskan puting susu ibu yaitu dengan menekan dagu
bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara
mulut bayi dan payudara ibu.
h. Setelah menyusui bayi disendawakan dengan cara bayi
digendong di pundak dengan wajah menghadap kebelakang .lalu
pegang bagian pantatnyadengan satu tangan, sedangkan tangan
yang

satunya

memegang

leher

dan

menepuk-nepuk

punggungnya. Lakukan hal tersebut sampai bayi mengeluarkan


suara khas sendawa.

8. Mobilisasi Pada Masa Nifas


Mobilisasi dini adalah kebijakan secepat mungkin bidan membmbing
ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk
berjalan (Saleha, 2009).
a. Dapat melancarkan pengeluaran lokhea
b. Mengurangi infeksi post partum yang timbul karena adanya involusi
uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan
menyebabkan infeksi.
c. Mempercepat involusi alat kandungan.
d. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
e. Meningkatkan kelancaran peredaran darah.
f. Mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
g. Ibu merasa lebih baik dan lebih kuat.
h. Menurunkan banyak frekuensi emboli paru pada post partum.
9. Kebersihan Pada Masa Nifas

24

Menurut Marmi (2012), kebersihan vagina selama masa nifas harus


dilakukan karena beberapa alasan, seperti :
a. Banyak darah dan kotoran yang keluar dari vagina
b. Vagina merupakan daerah yang dekat dengan tempat BAK dan BAB
yang setiap hari kita lakukan
c. Adanya luka di daerah perineum yang bila terkena kotoran dapat
terinfeksi
d. Vagina merupakan organ terbuka sehingga memudahkan kuman yang ada
di daerah tersebut masuk hingga Rahim
Menurut Marmi (2012), kebersihan yang kurang terjaga di masa nifas
bukan hanya dapat menyebabkan infeksi pada vagina tetapi juga rahim.
Adapaun cara yang tepat dalam membersihkan vagina adalah sebagai berikut:
a. Bersihkan vagina dengan air bersih setiap kali selesai BAB dan BAK.
Basuh dari arah depan ke belakang hingga tidak ada sisa-sisa kotoran
yang menempel disekitar vagina.
b. Vagina dapat dicuci menggunakan sabun maupun cairan antiseptic karena
dapat berfungsi sebagai penghilang kuman.
c. Bila ibu takut untuk menyentuh luka perineum, upaya menjaga
kebersihan vagina dapat dilakukan dengan cara duduk berendam dalam
cairan antiseptic selama 10 menit setelah BAB atau BAK.
d. Setelah dibasuh, keringkan luka perineum menggunakan tissue atau
handuk bersih, lalu kenakan pembalut baru. Pembalut harus diganti seusai
BAB dan BAK atau minimal 4 jam sekali.
B. Luka Perineum
1. Pengertian Luka Perineum
Luka perineum adalah robekan jaringan antara pembukaan vagina dan
rektum. Luka jahitan perineum bisa disebabkan oleh rusaknya jaringan secara
alamiah pada saat proses persalinan maupun akibat tindakan episiotomy
(Rukiyah, 2010).

25

Luka/ robekan perineum adalah robeknya jaringan secara paksa yang


terletak antara vulva dan anus atau karena episiotomy pada saat melahirkan
janin (Prawirohardjo, 2010).
Jadi penulis menyimpulkan bahwa luka perineum adalah perlukaan
yang terjadi pada saat persalinan pada otot perineum hingga mencapai
rektum yang dapat terjadi karena episiotomy atau robekan spontan.
2. Etiologi Luka Perineum
Faktor penyebab luka jahitan perineum pada ibu nifas antara lain
partus presipitatus, kesalahan dalam mengejan, dorongan pada fundus yang
berlebih, edema atau kerapuhan pada perineum, arkus pubis sempit dengan
pintu bawah panggul yang sempit sehingga menekan kepala bayi kearah
posterior, dan pelebaran jalan lahir dengan tindakan episiotomi (Oxorn,
2010). Faktor penyebab luka perineum dari janin berupa bayi besar, posisi
kepala yang abnormal, persentasi bokong, vacum ekstraksi dan distosia bahu.
3. Prognosis Luka Perineum
Diagnosis potensial pada ibu nifas dengan luka jahitan perineum
adalah potensial terjadi infeksi luka perineum.Untuk mengantisipasi
terjadinya diagnosa potensial tersebut, bidan perlu mengobservasi keadaan
fisik pada genetalia dan perineum serta pemberian obat antibiotic (Anggraini,
2010).
Hasil atau evaluasi pada ibu nifas dengan luka perineum yang tidak
mengalami infeksi atau komplikasi lain adalah luka perineum tidak nyeri,
tidak terjadi odema, tidak ada tanda pus pada luka, luka sembuh dan kering.
Hal ini menandakan ibu dapat melewati masa nifas dengan baik (Ambarwati,
2010).
4. Derajat Luka Perineum
Derajat luka perineum menurut Saifuddin (2010) dibagi menjadi
empat yakni :

26

a. Derajat I robekan terjadi pada mukosa vagina dengan atau tanpa


mengenai kulit perineum.
b. Derajat II robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai mukosa
vagina sampai otot perineum.
c. Derajat III robekan yang terjadi mengenai seluruh otot perineum sampai
otot sfingter ani.
d. Derajat IV robekan mengenai otot sfingter ani yang meluas hingga
mukosa rektum.
5. Tahapan Penyembuhan Luka Perineum
Luka dapat sembuh melalui prose utama (primary intention) yang
terjadi ketika tepi luka disatukan (approximated) dengan menjahitnya. Jika
luka dijahit, terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan tidak ada ruang
yang kosong.Oleh karena itu, dibutuhkan jaringan granulasi yang minimal
ada

kontraksi

sehingga

dapat

membantu

mengurangi

perdarahan.

Penyembuhan yang kedua yaitu melalui proses sekunder (secondary


intention) terdapat defisit jaringan yang membutuhkan waktu yang lebih lama
(Boyle,2008).
Penyembuhan luka perineum dapat terjadi perprimam (tertunda) atau
persecundam (lambat) yaitu bila luka-luka pada jalan lahirtidak disertai
dengan infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari. Penyembuhan luka lambat yaitu
jika luka pada jalan lahir sembuh dalam waktu lebih dari 6-7 hari (Rejeki S,
2010).
Tahapan penyembuhan luka perineum menurut Boyle (2008) adalah
sebagai berikut :
a. Fase Inflamasi (berlangsung selama 1 sampai 4 hari)
Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong atau
mengalami

cidera.Vasokontriksi

fibrinoplateler

terbentuk

pembuluh

dalam

upaya

terjadi
untuk

dan

bekuan

mengontrol

27

perdarahan.Reaksi ini berlangsung dari 5 sampai 10 menit dan diikuti


oleh vasodilatasi venula.Mikrosirkulasi kehilangan vasokontriksinya
karena neuropinefrin dirusak oleh enzim intraseluler.Sehingga histamine
dilepaskan yang dapat meningkatakan permiabilitas kapiler.
Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti
antibody, plasma protein elektrolit, komplemen, dan air menembus
spasium vaskuler selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba
hangat, kemerahan dan nyeri. Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami
mitosis dan menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi.Dengan aktivitas
ini, enzim proteolitik disekresikan dan menghancurkan bagian dasar
bekuan darah.Celah antara kedua sisi luka secara progresif terisi, dan
sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24 sampai 48 jam.
Pengobatan yang paling sering untuk nyeri perineum adalah analgesia
oral
b. Fase Proliferatif (berlangsung 5 sampai 20 hari)
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaringan-jaringan
untuk sel-sel yang bermigrasi.Sel-sel epitel membentuk kuncup pada
pinggiran luka, kuncup ini berkembang menjadi kapiler yang merupakan
sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.Fibroblast melakukan
sintesis kolagen dan mukopolisakarida. Banyak vitamin, terutama vitamin
C

sangat

membantu

proses

metabolisme

yang

terlibat

dalam

penyembuhan luka.
Berdasarkan jurnal dari Auxilia, dkk (2011) menerangkan bahwa
ibu postpartum yang diberikan promosi kesehatan tentang perawatan
perineum mengalami percepatan penyembuhan luka jahitan disebabkan
karena adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku untuk

28

merawat perineumnya sesuai dengan petunjuk yang diberikan melalui


leaflet. Penyembuhan luka jahit secara normal akan terjadi pada hari
kelima hingga hari ketujuh ditandai dengan luka kering, tidak adanya
kemerahan, pembengkakan, jaringan menyatu, dan tidak nyeri untuk
duduk dan berjalan.
c. Fase Maturasi
Fase ini berlangsung selama 21 hari sampai sebulan atau bahkan
tahunan.Setelah

tiga

minggu

setelah

cedera,

fibroblast

mulai

meninggalkan luka.Jaringan parut tampak lebih besar, sampai fibrin


kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat.Hal ini sejalan
dengan dehidrasi yang mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan
kekuatannya. Maturase jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai
kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah
mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.
6. Perawatan Luka Perineum
a. Tujuan perawatan perineum
Tujuan perawatan perineum adalah mencegah terjadinya infeksi
sehubungan dengan penyembuhan jaringan serta memberi rasa nyaman
pada pasien (Rukiyah, 2010).
b. Lingkup perawatan
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi
organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme
melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri
pada peralatan penampung lochea atau pembalut (Rukiyah, 2010).
c. Waktu perawatan
1) Perawatan yang dilakukan bidan
Perawatan yang dilakukan bidan disuatu pelayanan kesehatan
antara lain luka perineum dibersihkan dengan air hangat atau air

29

bersih dan kasa steril. Kolaborasi dengan dokter special obstetric dan
ginekologi dengan diberikan obat antibiotik, analgenik, uterotonika,
dan vitamin A. Menganjurkan pada ibu untuk menjaga perineumnya
selalu bersih dan kering, hindari obat-obatan tradisional pada
perineum, melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dan
memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 hari untuk
memeriksakan keadaan luka perineum ibu (Ambarwati, 2010).
2) Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut,
setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri
pada cairan yang tertampung pada pembalut.Berdasarkan hal tersebut
ibu perlu untuk mengganti pembalut untuk tetap menjaga kebersihan
luka perineum.
3) Setelah Buang Air Besar (BAB)
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa
kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi
bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka
diperlukan kebersihan anus dan perineum secara keseluruhan
(Rukiyah, 2010).
4) Setelah Buang Air Kecil (BAK)
Pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi
kontaminasi air seni pada rektum akibatnya dapat memicu
pertumbuhan bakteri

pada perineum. Berdasarkan hal ini maka

sangat dianjurkan untuk pembersihan perineum.


d. Penatalaksanaan perawatan luka perineum
1) Ibu post partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi
dengan posisi ibu jongkok atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
2) Alat dan bahan

30

Menurut Refni (2010), persiapan yang diperlukan antara lain:


a) Air hangat
b) Sabun
c) Waslap
d) Handuk kering dan bersih
e) Pembalut ganti
f) Celana dalam yang bersih
3) Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan adalah sebagai berikut :
a) Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang
b) Waslap dibasahi dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan
waslap yang sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi
luka jahitan. Sampaikan pada pasien untuk tidak takut pada rasa
nyeri, bila tidak dibersihkan dengan benar maka darah kotor
akan menempel pada luka jahit dan menjadi tempat kuman
berkembangbiak.
c) Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin
bahwa luka benar-benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin
bersih.
d) Setelah luka bersih boleh berendam dengan air hangat
menggunakan tempat rendam khusus. Atau bila tidak bisa
melakukan perendaman dengan air hangat cukup disiram dengan
air hangat.
e) Kenakan pembalut baru yang bersih dan nyaman, celana dalam
yang bersih dari bahan katun. Jangan mengenakan celana dalam
yang bisa menimbulkan reaksi alergi.
f) Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh maksimal 4
jam sekali. Semakin bersih luka jahitan maka semakin cepat luka
untuk sembuh dan kering. Lakukan perawatan yang benar setiap
kali ibu buang air kecil atau saat mandi dan bila mengganti
pembalut,

31

g) Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka


jahitan cepat sembuh.
h) Luka tidak perlu dikompres obat antiseptik cair tanpa seijin
dokter atau bidan,
i) Lakukan senam nifas,
melahirkan,boleh

yaitu

mengangkat

senam
kaki

untuk
saat

ibu

setelah

tiduran

secara

bergantian. Kaki diangkat satu persatu secara bergantian mulai


setinggi 45 sampai 90. Perbanyak latihan jalan dengan posisi
badan lurus jangan membungkuk. Boleh jongkok pelan-pelan.
Sampaikan bahwa jangan khawatir jahitan akan lepas karena
jahitan sangat kuat. Jahitan dapat lepas apabila ibu tidak rajin
membersihkan luka jahitan sehingga terjadi infeksi atau pada
beberapa kasus yang sangat jarang ibu alergi benang jahitan
tersebut. Luka jahitan luka rata-rata akan kering dan baik dalam
waktu kurang dari saru minggu.
4) Evaluasi
Menurut Marmi (2012), Parameter yang digunakan dalam
evaluasi hasil perawatan adalah :
a) Perineum tidak lembab dan tidak ada tanda-tanda infeksi pada
luka
b) Posisi pembalut tepat
c) Ibu merasa nyaman
e. Standar Operasional Prosedur (SOP) perawatan luka perineum di BPS
Sumarni
1) Alat dan bahan
a) Set steril (kassa steril dan kom kecil)
b) Korentang
c) Kapas DTT
d) Perlak dan pengalas
e) Bengkok
f) Handscoon steril
g) Bethadine

32

2) Persiapan lingkungan
Menjaga privasi klien dan ciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman
3) Langkah Kerja
a) Mencuci tangan 6 langkah
b) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada klien
c) Menganjurkan klien untuk melepaskan pakaian dalam serta
pembalutnya
d) Mempersilahkan klien untuk berbaring di tempat tidur dan
memposisikan klien dorsal recumbent
e) Gunakan handscoon steril
f) Gunakan tangan kiri untuk membuka labia dan tangan kanan
mengambil kapas DTT
g) Bersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri, labia mayora kanan,
labia minora kiri, labia minora kanan, vestibulum hingga anus
h) Keringkan dengan kassa steril
i) Amati tanda-tanda infeksi seperti terdapat pus, pembengkakan
pada luka, lochea bercampur nanah dan bau. Jika terdapat tanda
infeksi maka luka perineum dikompres bethadine.
j) Memberitahu ibu bahwa pemeriksaan sudah selesai dan
menganjurkan ibu untuk menggunakan pakaian kembali
k) Merapikan alat dan melepas handscoon
l) Cuci tangan
m) Memberikan konseling cara perawatan luka perineum yakni
setelah BAB dan BAK dibersihkan dengan air bersih dan sabun
setelah itu dibilas dan dikeringkan dengan handuk yang lembut
dan bersih.
n) Dokumentasi tindakan yang dilakukan.
7. Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Menurut Sujiyatini dkk (2010) faktor yang mempengaruhi kesembuhan
luka yaitu :
a. Faktor-faktor Eksternal
1) Pengetahuan

33

Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat


menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan
ibu kurang, terlebih masalah kebersihan maka penyembuhan luka pun
akan berlangsung lama.
2) Sarana Prasarana
Kemampuan ibu dalam menyiapkan sarana dan prasarana
dalam perawatan perineum sangat mempengaruhi penyembuhan
perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan alat dan
bahan untuk perawatan luka perineum.
3) Penanganan Petugas
Pada saat persalinan, kebersihan luka perineum harus selalu
diperhatikan oleh tenaga kesehatan, hal ini merupakan salah satu
penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum.
Peningkatan pengetahuan ibu melalui konseling cara perawatan luka
perineum yang benar juga sangat menentukan penyembuhan luka.
4) Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi
terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena pergantian
jaringan sangat membutuhkan protein. Berdasarkan sumbernya
protein dapat dibagi menjadi dua yaitu protein nabati (kedelai,
kacang-kacangan, tahu dan tempe) dan protein hewani (ikan, telur,
daging sapi, daging ayam, dan susu).
5) Obat
Obat antibiotik spektrum luas

atau spesifik efektif bila

diberikan segera sebelum pembedahan untuk kontaminasi bakteri.


Bila diberikan setelah luka ditutup,tidak efektif karena koagulasi
intrasvaskuler. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat
tubuh seseorangrentan terhadap infeksi luka. Dengan demikian

34

pengobatan luka akan berjalan lambat dan membutuhkan waktu yang


lebih lama (Rukiyah, 2010).
6) Budaya dan Keyakinan
Misalnya kebiasaan makan telur, ikan dan daging ayam, akan
mempengaruhi

asupan

penyembuhan luka.
7) Keturunan
Sifat genetik

gizi

ibu

yang

sangat

mempengaruhi

seseorang

akan

sangat

mempengaruhi

kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat


genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin
dapat

dihambat,

sehingga

menyebabkan

glukosa

darah

meningkat.Dapat terjadi penipisan protein-kalori.


b. Faktor-faktor Internal
1) Usia
Penyembuhan luka terjadi lebih cepat pada usia muda daripada
orang tua. Orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerir
stress seperti trauma jaringan atau infeksi.
2) Cara Perawatan
Perawatan yang tidak benar menimbulkan infeksi dan
meemperlambat penyembuhan.Karna perawatan yang kasar dan salah
dapat menyebabkan kapiler darah baru rusak dan mengalami
perdarahan.Kemungkinan terjadinya infeksi karena perawatan yang
tidak benar dapat meningkat dengan adanya benda mati dan benda
asing. Jika luka dirawat dengan baik maka kesembuhannya akan lebih
cepat.
3) Personal Hygiene
Kebersihan diri dapat menghambat penyembuhan, hal ini
dapat menyebabkan benda asing seperti debu dan kuman. Adanya
benda asing akan memperlambat penyembuhan dan kekuatan

35

regangan luka menjadi rendah. Luka yang kotor harus dicuci


bersih.Bila luka kotor, maka penyembuhan sulit terjadi.
4) Aktifitas Berat dan Berlebihan
Dengan adanya aktivitas yang berat dan berlebih pada ibu nifas
dengan luka perineum dapat menghambat perapatan tepi luka,
mengganggu penyembuhan yang diinginkan.
5) Infeksi
Infeksi menyebabkan peningkatan inflamasi dan nekrosis yang
menghambat penyembuhan luka.
C. Standar Pelayanan Kebidanan Pada Ibu Nifas
Dalam standar pelayanan kebidanan, asuhan kebidanan pada ibu nifas
ada pada standar ke-15 yaitu Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Dalam Masa Nifas.
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit
atau melalui kunjungan keruamah pada hari ke-tiga, minggu ke-dua dan minggu
ke-enam setelah persalinan. Untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi
melalui penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini, penatalaksanaan
atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan,
makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.
Dalam standar kompetensi bidan, yaitu kompetensi ke-5 : bidan
memberikan asuhan kepada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan
tanggap terhadap budaya setempat. Keterampilan dasar dari kompetensi tersebut
yaitu :
1. Pengkajian involusi uteri serta penyembuhan perlukaan.
2. Mengidentifikasi perlukaan pada ibu, mengobati sesuai kewenangan atau
merujuk untuk tindakan yang sesuai.
3. Penatalaksanaan ibu post partum abnormal : sisa plasenta, renjatan dan
infeksi ringan.
4. Melakukan kolaborasi atau rujukan pada komplikasi tertentu.
5. Memberikan antibiotik yang sesuai (Yanti, 2010)

36

D. Teori Manajemen Kebidanan


1. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berpikir logis
sistematis. Oleh karena itu manajement kebidanan merupakan alur fikir
seorang bidan dan memberikan arahan/kerangka dalam menangani kasus
yang menjadi tanggung jawabnya. Pengertian manajemen menurut beberapa
sumber :
a. Menurut Depkes RI (2005)
Manajeman kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan
masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan bidan dalam memberi
asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
b. Menurut Helen Varney (2007)
Manajeman kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan,keterampilan, dalam
rangkaian atau tahapan yang logis dalam pengambilan keputusan
berfokus pada klien. Menurut Hellen Varney, ia mengembangkan proses
manajeman kebidanan ini dari 5 langkah menjadi 7 langkah yaitu mulai
dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi. Bidan mempunyai fungsi
yang sangat penting dalam asuhan yang mandiri, kolaborasi dan
melakukan rujukan yang tepat.Secara definitive, asuhan kebidanan dapat
diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh bidan karena individu ibu
dan anak.
Asuhan kebidanan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka
tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Untuk melaksanakan
asuhan kebidanan diguanakan metode dan pendekatan yang digunakan

37

untuk mendalami permasalahan yang dihadapi oleh klien, dan kemudian


merumuskan permasalahan tersebut dan akhirnya mengambil langkah
pemecahannya. Manajemen kebidanan membantu proses berpikir bidan
didalam melaksanakan asuhan dan pelayanan kebidanan.

2. Prinsip Manajemen Kebidanan


Varney (2007) menjelaskan bahwa prinsip manajeman adalah
pemecahan masalah. Proses manajeman kebidanan sesuai dengan standar
yang dikeluarkan oleh American College of Nurse Midwife (ACNM) terdiri
dari :
a. Secara sistematis mengumpulkan data dan mempengaruhi data yang
lengkap

dan

komprehensif

relevan
terhadap

dengan

melakukan

kesehatan

setiap

pengkajian
klien,

yang

termasuk

mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.


b. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnose berdasarkan
interpretasi data dasar.
c. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam
menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan
bersama klien.
d. Memberi informasi dan support sehingga klien dapat membuat
keputusan dan bertanggung jawab terhadap kesehatannya.
e. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
f. Secara pribadi bertanggung jawab terhadap implementasi rencana
individual.

38

g. Melakukan konsultasi, perencanaan dan pelaksanaan manajeman


dengan berkolaborasi dan merujuk klien untuk mendapatkan asuhan
klien selanjutnya.
h. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam
situasi darurat dan bila ada penyimpangan dari keadaan normal.
i. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan
kesehatan dan merevisi rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.
3. Proses Manajemen Kebidanan
Menurut Varney (2007) penerapan manajeman kebidanan dalam
bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang
disebut langkah-langkah atau proses manajeman kebidanan. Langkahlangkah manajemen kebidanan adalah :
Langkah I : Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang
akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Perolehan data didapatkan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai
dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus
dan pemeriksaan penunjang.
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan
langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang
dihadapi yang akan menentukan proses interpretasi yang yang benar atau
tidak dalam pendekatan ini harus komprehensif meliputi data subyektif,
objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat mengembangkan kondisi
pasien yang sebenarnya dan valid.
Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini, melakukan identifikasi diagnosis atau masalah
berdasarkan interpretasi yang akurat terdapat data-data yang telah

39

dikumpulkan.Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga


dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik.
a. Diagnosis Kebidanan
Merupakan diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup
praktek kebidanan. Dasar diagnosis tersebut adalah data subyektif berupa
pertanyaan pasien tentang jumlah persalinan, jumlah kehamilan, umur
pasien, HPHT, dan pengeluaran pervaginam serta dari hasil data obyektif
meliputi pemeriksaan umum, fisik, dan gynekologi serta pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis kebidanan berupa asuhan kebidanan pada ibu nifas
dengan luka perineum derajat II ditulis dengan lengkap berdasarkan
anamnesa, pemeriksaan fisik dan data penunjang lainnya : umur, gravida,
para, abortus, jumlah anak hidup, dan diagnose medis.
b. Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien
yang

ditemukan

dari

hasil

pengkajian

atau

yang

menyertai

diagnosis.Masalah dapat muncul tapi dapat pula tidak.Hal ini muncul


berdasarkan sudut pandang klinik dan dengan keadaan yang alami apakah
menimbulkan masalah pada klien atau tidak. Masalah yang dapat terjadi
pada ibu nifas dengan luka perineum derajat II adalah kurangnya
kesadaran ibu akan pentingnya merawat luka perineum hal ini dapat
terjadi karena ibu merasa takut untuk membersihkan luka perineum.
c. Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum
teridentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan
melakukan analisis data.Kebutuhan yang muncul setelah dilakukan
pengkajian.Dibutuhkan hal-hal yang membutuhkan asuhan, dalam hal ini

40

klien tidak menyadari.

Kebutuhan yang diperlukan pada ibu nifas

dengan luka perineum derajat II adalah KIE tentang cara perawatan luka
perineum yang benar disertakan penjelasan tentang manfaat perawatan
luka perineum dan masalah yang dapat dialami ibu jika luka perineum
tidak dirawat dengan baik.
Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial dan
Mengantisipasi Penanganannya
Pada langkah ini, mengidentifikasi masalah potensial atau diagnose
potensial berdasarkan diagnose atau masalah yang sudah di identifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila dilakukan kemungkinan
pencegahan.Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang
aman.Diagnosa potensial yang dapat terjadi pada ibu nifas dengan luka
perineum derajat II adalah infeksi pada luka perineum.
Langkah IV : Menetapkan Kebutuhan Segera Untuk Melakukan
Konsultasi, Kolaborasi Dengan Tenaga Kesehatan Lain Berdasarkan
Kondisi Klien
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter
dan dimengerti untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota
tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Pada penjelasan diatas
menunjukkan bahwa dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan
prioritas masalah atau kebutuhan yang dihadapi kliennya.Kebutuhan segera
pada ibu nifas dengan luka perineum derajat II apabila mengalami infeksi
adalah bidan dapat melakukan kolaborasi dengan dokter.
Langkah V : Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh
Pada langka ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajeman terhadap masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau

41

diantisipasi, rangka ini adalah tugas dimana merumuskan rencana asuhan


sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian
membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya. Semua keputusan
yang dikembangkan dalam asuhan yang menyeluruh ini harus rasional dan
benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta
sesuai dengan asumsi tentang yang akan dilakukan oleh klien.
Rencana asuhan yang akan diberikan pada ibu nifas dengan luka
perineum derajat II dapat berupa KIE perawatan luka perineum, menjaga
personal hygiene, memotivasi ibu untuk mengonsumsi bahan makanan yang
dapat mempercepat penyembuhan luka, dan menghindari penggunaan obatobat tradisional pada luka perineum
Langkah VI : Pelaksanaan Langsung Asuhan Dengan Efisien Dan Aman
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan
ini dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien atau
anggota tim kesehatan yang lainnya. Walaupun bidan tidak boleh
melakukannya sendiri, bidan tetap memikul tanggung jawab untuk
mengarahkan pelaksanaanya, missal melaksanakan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana. Manajemen asuhan yang efisien akan menyangkut
waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien. Pelaksanaan
asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan luka perineum derajat II telah
dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
Langkah VII : Mengevaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang
sudah diberikan meliputi pemenuhan akan bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah teridentifikasi dalam

42

diagnosis dan masalah. Langkah-langkah proses manajemen umumnya


merupakan

pengkajian

yang

memperjelas

proses

pemikiran

yang

mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, kerena proses


manajemen tersebut berlangsung dalam situasi klinik dan dua langkah
terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses
manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja. Evaluasi pada ibu nifas dengan
luka perineum derajat II yaitu ibu telah melakukan perawatan luka perineum
dengan benar, ibu telah menjaga personal hygienedan telah mengonsumsi
makanan yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka, serta telah
menghindari penggunaan obat-obatan terlarang. Hasil yang didapatkan
adalah luka perineum tidak nyeri, tidak bengkak, sembuh dan kering, serta
tidak ada tanda-tanda infeksi.
4. Metode Pendokumentasian
Teori manajeman kebidanan lain yang dapat menjadikan bahan
penguatan studi kasus adalah follow-up data perkembangan kondisi klien.
Dalam pendokumentasian data perkembangan kondisi klien pada ibu nifas
dengan perawatan luka jahitan perineum, penulis menggunakan metode
pendokumentasiian yang disebut SOAP.
SOAP didasarkan dari pemikiran penatalaksanaan kebidanan yang
dipakai dalam rekam medik pasien sebagai catatatn kemajuna atau
perkembangan.
a. S (Subyektif)
Menggambarkaan pendokumentasian hasil pengumpulan data
klien melalui anamnesa sebagai langkah I varney meliputi :
1) Data Identitas
Data identitas mencakup :
a) Nama, ditanyakan untuk membedakan dengan klien yang lain.

43

b) Umur, dalam kurun reproduksi sehat dikenal usia aman untuk


kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal
pada wanita hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun
ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang
terhjadi pada usian 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat
kembali setelah usia 30-35 tahun (Prawirohardjo ,2010)
c) Agama, ditanyakan untuk mengetahui agama klien akan mudah
dalam mengatasi masalah kesehatan klien.
d) Pendidikan, ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektual
klien.
e) Pekerjaan, ditanyakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
pekerjaan dengan permasalahan kesehatan pasien dan juga
pembiayaan klien.
f) Alamat, untuk mengetahui lingkungan serta tempat tinggal klien.
g) Kebangsaan, ditanyakan untuk mengadakan statistic tentang
kelahiran.
2) Keluhan utama
Ibu mengatakan nyeri pada luka jahitan perineum dan ibu
masih takut untuk BAK.
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Dikaji untuk mengetahui keluhan yang klien alami saat ini,
yang berhubungan dengan kesehatannya.
b) Riwayat kesehatan yang lalu
Dikaji untuk mengetahui apakah klien pernah menderita
suatu penyakit kronis, menular maupun penyakit infeksi, apakah
pasien pernag menjalani operasi. Jika pernah, operasi apa yang
dialami dan kapan operasi tersebut berlangsung.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Merupakan data mengenai latar belakang kesehatan
keluarga yang meliputi anggoata keluarga yang mempunyai

44

penyakit tertentu terutama penyakit yang menular, penyakit yang


dapat diturunkan, penyakit kronis, dan penyakit menahun,
seperti : diabetes mellitus, jantung, hipertensi, ginjal, asma, TBC,
gonorohea, AIDS, dankelainan pembekuan darah.
4) Riwayat kontrasepsi
Dikaji untuk mengetahui alat kontrasepsi yang pernah
digunakan, lama pemakaian,dan komplikasi yag dialami. Bagi pasien
akseptor

KB

IUD

post-plasenta

disarankan

untuk

kembali

memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan AKDR


untuk dilakukan pemotongan benang IUD(Affandi, 2012).
5) Riwayat kebidanan
a) Riwayat kehamilan
Pada TM I, sering ditemukan emesis ringan, sering BAK.
Pada TM II, ibu sering mengeluh sulit tidur, pegal didaerah
panggul, rasa tegang sewaktu-waktu diperut, odema kaki yang
menghilang di pagi hari. Serta pada TM III, mengeluh nyeri
pinggang, sering BAK, obstipasi,odema tungkai dan kram kaki.
ANC ditempat pelayanan kesehatan minimal 4 kali
(Depkes RI,2009) atau bisa juga 1 kali sebulan sampai bulan
keenam. Dua kali sebulan dari bulan keenam sampai bulan
kesembilan.Satu kali seminggu pada bulan terakhir.
Mulai pergerakan janin usia 20 minggu. TT diberikan 2
kali dengan interval minimal 4 minggu.Nasehat yang diberikan
meliputi gizi ibu hamil, personal hygiene, aktivitas, perawatan
payudara, tanda kehamilan resiko tinggi, pentingnya ANC dan
imunisasi (Prawirohardjo, 2010).

45

Ibu mendapat terapi Fe 90 tablet, B6 30 tablet, B12 30


tablet dan iodium 1 bulan (Depkes RI, 2009).
b) Riwayat persalinan
Kala I : untuk primi 11 jam, multi 7 jam. His pembukaan serviks
sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm mulai kuat,
teratur dan sakit.
Kala II : untuk primi 2 jam, multi 1 jam, persalinan spontan dan
BBL sehat dan normal.
Kala III :plasenta lahir spontan lengkap, primi 30 menit, multi 15
menit.
Kala IV : 2 jam postpartum perdarahan tidak boleh lebih dari 500
cc.
c) Riwayat Nifas
Masa nifas yang lalu tidak ada penyakit seperti perdarahan
post partum dan infeksi nifas. Maka diharapkan nifa saat ii juga
tanpa penyakit. Ibu menyusui sampai anak usia 2 tahun. Terdapat
pengeluaran lochea rubra sampai lochea serosa.
6) Pola kebiasaan sehari-hari
a) Nutrisi
Ibu menyusui harus :
(1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
(2) Makanan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein,
mineral dan vitamin yang cukup
(3) Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk
minum setiap kali menyusui)
(4) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi
setidaknya selama 40 hari pasca persalinan.
(5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan
vitamin A kepada bayinya melalui ASi nya (Saifuddin, 2010).
b) Personal hygiene

46

Ibu mengatakan masih merasakan nyeri pada luka jahitan


perineum dan ibu belum berani untuk BAK, ibu belum berani
menyentuh

luka

jahitan

perineum

sehingga

ibu

belum

membersihkan luka jahitan perineum.


Perawatan payudara untuk menjaganya tetap kering,
menggunakan BH yang menyokong payudara, apabila putting
susu lecet, oleskan ASI pada sekitar putting setiap selesai
menyusui, jika lecet berat istrahatkan 24 jam. Asi dikeluarkan dan
diminumkan dengan sendok, untuk menghilangkan nyeri ibu
dapat minum parasetamol 1 tablet tiap 4-6 jam.
c) Istrahat
(1) Anjurkan untuk ibu istrahat yang cukup untuk mencegah
kelelahanyang berlebihan.
(2) Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara
perlahan, serta untuk tidur siang dan beristirahat.
(3) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal
seperti

mengurangi

jumlah

ASI

yang

diproduksi,

memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak


perdarahan,dan menyebabkan depresi dan ketidakmampuan
untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Saifuddin, 2010).
d) Eliminasi
Ibu mengatakan masih takut untuk BAK karena luka
jahitannya masih terasa nyeri.
e) Seksual

47

Secara fisik aman untuk melakukan hubungan suami istri


begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau
dua jarinya kedalam vagina tanpa nyeri (Saifuddin, 2010).
f) Aktifitas
Delapan jam post partum ibu harus tidur terlentang untuk
mencegah terjadinya perdarahan post partum. Setelah 8 jam boleh
miring ke kiri ke kanan untuk mencegah trombosit lalu duduk,
berjalan dan latihan-latihan senam (Prawirohardjo, 2010).
Senam nifas bertujuan untuk memulihkan kekendoran otot
sesudah kehamilan dan persalinan, memperkuat otot-otot yang
mengendor waktu kehamilan, mempercepat pengeluaran lochea
dan mempercepat involusi.
7) Riwayat ketergantungan
Jamu untuk memperlancar peredaran darah juga untuk laktasi
dan menguatkan badan.
Kebiasaaan merokok, minuman beralkohol dan kecanduan
narkotika secara langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bayi (Manuaba, 2009).
Merokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah
didalam tuhuh, termasuk pembuluh-pembuluh darah dalam uterus
sehingga menghambat proses involusi , sedangkan alcohol dan
narkotika mempegaruhi kandungan ASI yang mempengaruhi
langsung perkembangan psikologi bayi dan mengganggu proses
bonding antara ibu dan bayi.
8) Sosial budaya
Kebiasaan yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan :

48

a) Menghindari makanan yang berprotein.


b) Penggunaan bebet perut segera pada masa nifas (2-4 jam pertama)
c) Memisahkan ibu dengan bayi untuk masa yang lama 1 jam
pertama setelah kelahiran karena masa transisi adalah masa kritis
untuk ikatan batin ibu dan bayi untuk memulai menyusui
(Saifuddin, 2010).
9) Keadaan psikososial
Bonding terjadi saat ibu dan ayah menerima dan mengenali
bayinya, senyum, memeluk, meneliti dan memberi tanda pasif pada
bayinya.Reaksi negative seperti sedikit menggendong bayi, menjadi
apatis dan memberi tanda tidak baik bagi bayinya.Bila orang tua
merasakan positif tentang bayinya seperti mereka lebih banyak
mendapat

keterampilan

kemungkinan

untuk

dalam

perawatan

memperlakukan

anak

anak

dan

dengansalah

sedikit
atau

melalaikan bayinya disaat mendatang.


Pada kasus nifas dengan perawatan luka jahitan perineum
didapatkan hasil wawancara langsung dari pasien.
b. O (Obyektif)
Menggambarkan

pendokumentasian

dan

catatan

medik

pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik yang


dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung analisa sebagai langkah
1 varney meliputi :
1) Pemeriksaan umum
Kesadaran penderita dan keluhan yang terjadi setelah
melahirkan (Manuaba,2009).
2) Tanda-tanda vital
a) Tekanan darah : tekanan darah biasanya tidak berubah.

49

b) Nadi : nadi berkisar umumnya antara 60-80 kali per menit. Segera
setelah partus dapat terjadi brakhdikardi. Bila terjadi takhikardi
sedangkan badan tidak panas, mungkin ada perdarahan berlebihan
atau ada vikum kadis pada penderita. Pada masa nifas umumnya
denyut nadi lebih labil dibandingkan suhu badan (Wiknjosastro,
2009).
c) Suhu : suhu badan wanita inpartu tidak lebih dari 37,2C. sesudah
partus dapat naik 0,5C dari keadaan normal tetapi tidak melebihi
38C, sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan
akan kembali normal. Bila suhu badan lebih dari 38C
kemungkinan terjadi infeksi (Prawirohardjo, 2010).
d) Pernafasan : keadaan pernafasan akan selalu berhubungan dengan
keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal,
pernafasan juga akan mengikuti.
3) Pemeriksaan fisik
a) Mata : observasi terutama konjungtiva apakah pucat (Depkes RI,
2009)
b) Muka : setelah melahirkan, warna muka ibu akan kelihatan pucat
disebabkan karna adanya perdarahan.
c) Mulut : observasi bibir dan rongga mulut. Apakah bibir kering
atau pucat. Warna rongga mulut, sariawan atau bau mulut.
Observasi lidah untuk mengetahui bentuk dan warnanya (Depkes
RI, 2009)
d) Gigi : observasi gigi dan gusi. Apakah ada caries, gigi palsu, gigi
yang hilang, infeksi gusi dan sariawan (Depkes RI, 2009)
e) Dada : pernafasan normal, irama teratur, tidak ada wheezing yang
merupakan asma, bunyi jantung normal.

50

f) Payudara : keadaan payudara pada 2 hari pertama nifas sama


dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini payudara belum
mengandung susu, melainkan kolostrum yang dapat dikeluarkan
dengan memijat areola mamae.
g) Abdomen : setelah plasenta lahir TFU 2 jari di bawah pusat.
Kontraksi uterus baik artinya uterus menjadi keras, atau kontraksi
lembek , uterus terasa lemah.
Kandung kemih : dinding kandung kemih memperlihatkan odema
atau hiperanemia, kurang sensitive dan kapasitasnya bertambah.
Dalam waktu 6 jam harus bisa kencing, apabila sampai 8 jam
belum kencingmelebihi 100 cc, maka dilakukan kateter, kandung
kencing diusahakan harus tetap kosong.
h) Genetalia : pada luka perineum derajat 2 bila tidak ada infeksi
akan sembuh dalam 6-7 hari. Lochea rubra (cruenta) berisi darah
segar sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik caseosa,
lanugo dan meconium.
Perineum ada luka perineum harus bersih, tidak ada pengeluaran
lochea bercampur nanah,tidak odema dan jahitan harus tertaut
dengan baik.
i) Ekstremitas : normal, tidak terdapat flagmesia alba dolens yang
merupakan salah satu bentuk infeksi puerperalis yang mengenai
pembuluh darah vena femoralis yang terdapat infeksi dan disertai
pembentukan trombosit. Dapat menimbulkan gejala klinik :
bengkak pada tungkai, berwarna putih terasa sangat nyeri, tampak
bendungan

pembuluh

(Manuaba,2009).
4) Pemeriksaan penunjang

darah,

suhu

tubuh

meningkat

51

c. A (Analisa)
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi
data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi masalah kebidanan
serta kebutuhan pasien ibu nifas dengan luka perineum derajat II.
d. P (Penatalaksanaan)
Penatalaksanaan adalah kegiatan mencatat seluruh perencanaan
dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipasi,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif, penyuluhan, dukungan,
kolaborasi, evaluasi / follow updari rujukan sebagai langkah 3,4,5,6, dan
7 varney meliputi :
1) Mengidentifikasi

diagnose

potensial

dan

mengantisipasi

penanganannya.
2) Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melakukan
konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan
kondisi klien.
3) Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh meliputi :
a) Melakukan penjahitan luka perineum.
b) Perawatan pasca tindakan
c) Melakukan konseling terkait kebersihan daerah vulva dan
perineum.
4) Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisiensi dan aman
5) Mengevaluasi
Dalam evaluasi akan dilakukan follow up sampai luka perineum
sembuh seperti tidak nyeri pada luka, tidak bengkak, luka kering dan
tidak berbau serta tidak terdapat pus. Adapun follow upakan
dilakukan pada 6-8 jam post partum, 2 hari postpartum, 4 hari post
partum, 6 hari post partum, dan 7 sampai 14 hari post partum. Apabila
dalam waktu 14 hari luka perineum belum sembuh dan terjadi infeksi
maka akan dilakukan kolaborasi dengan dokter.

52

5. Landasan Hukum
Peraturan

kementrian

kesehatan

Indonesia

nomor

1464/Menkes/per/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan,


bidan mempunyai kewenangan meliputi pelayanan ibu. Kewenangan yang
dimiliki bidan yakni :
a. Episiotomi
b. Penjahitan luka jalan lahir
Bidan memiliki kewenangan untuk menjahit luka jalan lahir derajat I dan
II yang mengenai otot perineum.
c. Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
d. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
e. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
Ibu nifas harus diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi untuk
meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI selama 60 hari, kesehatan
ibu cepat pulih setelah melahirkan dan mencegah infeksi pada ibu nifas.
Kapsul vitamin A (200.000 SI) diberikan pada masa nifas sebanyak 2 kali
yaitu 1 kapsul diminum segera setelah lahir dan 1 kapsul kedua diminum
24 jam sesudah pemberian kapsul pertama.
f. Fasilitas/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu
eksklusif
g. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum
h. Penyuluhan dan konseling
Bidan memberikan KIE tentang cara perawatan luka perineum agar
terhindar dari infeksi.
i. Bimbingan pada kelompok ibu hamil
j. Pemberian surat keterangan kematian, dan
k. Pemberian surat keterangan cuti bersalin.

53

E. Kerangka Alur Pikir

Asuhan Masa Nifas


Tahapan masa nifas

Perawatan Masa Nifas

1. Puerperium dini
2. Puerperium
intermedial
3. Remote
puerperium

Robekan Perineum
Perawatan Luka
Perineum

54

Derajat 1

Derajat 2
Kewenangan
Bidan

1. Melakukan penjahitan
luka robekan perineum
2. Perawatan pasca
tindakan
3. Memberikan konseling
terkait kebersihan area
vulva
Proses Penyembuhan luka
Luka Kering/ Sembuh

Tingkat/Derajat Robekan
Derajat 4
Derajat 3
Kolaborasi/Rujuk

Fase inflamasi

Fase Proliferasi

Faktor
penyembuhan
luka :
1. Eksternal
2. Internal

Fase Maturasi

Evaluasi kunjungan :
1. 6-8 jam post partum
2. 6 hari post partum
3. 2 minggu post partum
4. 6 minggu post partum
Gambar 2.1.Kerangka Alur Pikir.Sumber: Boyle, 2008; Sujiyatini dkk, 2010

Penjelasan kerangka alur pikir :


Asuhan masa nifas terdiri dari perawatan payudara dan perawatan luka jahitan
perineum. Tingkat/derajat luka robekan perineum :
1. Tingkat 1, robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa
mengenai kulit perineum sedikit.
2. Tingkat 2, robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selama mengenai selaput lender
vagina juga mengenai mulkulus perinei transversali, tapi tidak mengenai sfingter
ani.

55

3. Tingkat 3, robekan yang terjadi seluruh perineum sampai mengenai otot- otot
sfingter ani.
4. Tingkat 4, robekan hingga epithel anus.
Kewenagan bidan dalam melakukan penjahitan luka robekan perineumhanya
derajat 1 dan derajat 2, kemudian kewenangan bidan setelah melakukan perawatan
pasca penjahitan luka dan konseling tentang kebersihan sekitar daerah vulva, kemudian
melakukan evaluasi sampai luka jahitan perineum kering dan sembuh.
Menurut Boyle (2008), tahapan penyembuhan luka terdiri dari fase inflamasi,
fase proliferasi, dan fase maturase. Sedangkan menurut Sujiyatini dkk (2010) faktorfaktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah dari faktor eksternal
(pengetahuan, sarana prasarana, penanganan petugas, gizi, budaya dan keyakinan,
keturunan) dan faktor internal (usia, cara perawatan, personal hygiene, aktifitas berat,
infeksi)
.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional deskriptif
dengan pendekatan studi kasus untuk mempelajari tentang asuhan kebidanan
pada ibu nifas dengan luka perineum . Observasional adalah kasus yang
dilakukan dengan cara pengamatan/observasi. Deskriptif adalah suatu metode
yang digunakan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif
tentang suatu keadaan secara obyektif (Arikunto, 2010).

56

Observasional

deskriptif

adalah

suatu

metode

yang

hanya

menggambarkan suatu kedaan yang ditemukan seperti faktor resiko, efek


maupun hasil.Pada penelitian observasional tidak digunakan hipotesis, sementara
pendekatan studi kasus merupakan suatu dokumentasi berharga dari sebuah
fenomena yang bersifat tunggal.Dalam studi kasus ini tidak ada pembanding
sehingga tidak ditemukan adanya sebab-akibat. Meskipun demikian studi kasus
menjadi landasan dasar dari penelitian lanjutan dalam menemukan fenomena
baru (Notoadmodjo, 2012)..
Pada studi kasus ini peneliti berusaha menggambarkan tentang suatu
keadaan ibu nifas dengan luka perineum dan akan dilakukan proses pemantauan
minimal tiga kali follow up untuk menilai proses penyembuhan luka dan tidak
terjadi infeksi.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Pengambilan lokasi studi kasus ini dilakukan di BPS Istri Utami .
Penelitian ini dilakukan dari study pendahuluan sampai ujian hasil yaitu dari
bulan Mei 2016
C. Subyek Penelitian
Subjek dalam studi kasus ini adalah pasien ibu nifas dengan luka
perineum akibat robekan perineum baik karena episiotomy atau robekan spontan.
Ibu nifas ini adalah pasien paska melahirkan di BPS Istri Utami dan mendapat
perawatan luka perineum.
D. Instrumen Studi Kasus
Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh penulis dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,
lebih cepat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto,
2010). Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengambilan data antara lain :

57

Alat dan bahan untuk pengambilan data :


a Format Asuhan Kebidanan Masa Nifas
b Panduan wawancara
c Format askeb SOAP
d Format data perkembangan
e Alat tulis
2 Alat dan bahan untuk melakukan pemeriksaan fisik dan observasi :
a Spigmomanometer
b Alat pengukur berat badan
c Stetoskop
d Termometer
e Jam tangan
f Handscoon
g Pengukur tinggi badan
h Pita LILA
i Kapas DTT
j Bengkok
k Handscoon
l Kassa steril
m Bethadine
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan
wawancara langsung. Pengambilan data secara observasi aktif
yaitu peneliti ikut terlibat pada penanganan kasus pasien yang
digunakan sebagai sumber data. Dengan penelitian secara
observasi aktif ini peneliti akan mendapatkan pengalaman
secara

langsung,

sehingga

memungkinkan

peneliti

menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh


konsep atau pandangan sebelumnya (Sugiyono, 2009).
Pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi yaitu
pemeriksaan antorpometri, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan
fisik. Selain itu juga pengumpulan dilakukan dengan wawancara

58

langsung

mengenai

ketidaknyamanan

klien

mengenai

perawatan luka perineum

F. Uji Keabsahan Data


Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastiaan bahwa yang
berukur merupakan variabel yang ingin di ukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai
dengan proses pengumpulan data yang tepat. Salah satu caranya adalah dengan
proses triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan
sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data itu. Menurut Patton (dalam Sulistiany, 2006) ada 4
macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan, yaitu:
1

Triangulasi Data
Menggunakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil
wawancara, hasil observasi atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu
subjek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda.

Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan
data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing studi kasus bertindak sebagai
pengamat (expert judgement) yang memberikan masukan terhadap hasil
pengumpulan data.

Triangulasi Teori
Penggunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data
yang dikumpulkan sudah memasuki syarat. Pada penelitian ini, berbagai

59

teori telah dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji


terkumpulnya data tersebut.

Triangulasi Metode
Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode
wawancara dan metode observasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan
metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi pada saat
wawancara dilakukan.

G. Langkah-langkah Penelitian
1 Tahap Persiapan
a Studi pendahuluan yang dilakukan dengan berkonsultasi dengan
pembimbing dari BPS Istri Utami yaitu Ibu Istri Utami S.iT,.M.Keb
sebagai pembimbing lahan selama melakukan studi pendahuluan pada
b
2

bulan Mei 2016


Ijin study pendahuluan pada BPS Istri Utami terkait kasus perawatan luka

perineum pada ibu nifas.


Tahap pelaksanaan
Sebelum penulis menemui partisipan, penulis terlebih dahulu mengurus ijin
pengambilan kasus di BPS Istri Utami. Setelah mendapatkan ijin
pengambilan kasus, penulis melaksanakan studi kasus dan bertemu langsung
dengan partisipan. Waktu studi kasus yaitu 3 kali kunjungan ke sarana
kesehehatan dsan kunjungan rumah responden yang dilakasanakan pada
bulan Mei 2016. Dalam hal ini akhir dari proses studi kasus dalam jangka
waktu 3 kali kunjungan partisipan bisa dinyatakan sembuh, masih dalam
perawatan atau meninggal. Melakukan asuhan kebidanan sesuai dengan

60

kasus dan mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan dengan metode


SOAP.
Proses pelaksanaan studi kasus yaitu dengan memberikan Informed Concern
terlebih dahulu kepada pasien dan menjelaskan maksud dan tujuan. Memulai
dengan pengkajian data yaitu dengan wawancara yang mendalam (indepth
interview), dan melakukan pemeriksaan. Data yang didapatkan untuk
menunjang akhir dalam pembuatan kesimpulan.
3

Tahap akhir
a Penulisan laporan analisis data dilakukan pada bulan Mei 2016
b Konsultasi dengan pembimbing dilakukan pada bulan Mei 2016
H. Analisis Data
Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tahapantahapan yang perlu dilakukan (Soegiono, 2009) diantaranya adalah :
1. Reduksi data
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,
menggolongkan,

mengarahkan,

membuang

yang

tidak

perlu,

dan

mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulankesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Reduksidata lebih menitik
beratkan pada poin-poin yang akan peneliti teliti. Reduksi data bertujuan
untuk memberikan gambaran secara terperinci mengenai data yang
dikumpulkan.Dalam tahap reduksi data peneliti mulai mengumpulkan data
yang berkaitan dengan ibu nifas dengan luka perineum . Data tersebut berupa
materi asuhan yang diberikan, meliputi pengertian, penyebab, perubahan
fisiologi dan psikologi, tanda bahaya, komplikasi dan evaluasi yang diberikan
kepada ibu dengan luka perineum. Mereduksi data dapat berupa

61

pengumpulan data primer dan sekunder yang didapatkan oelh penulis dari
pasien, keluarga dan bidan yang melakukan perawatan pada ibu nifas.
2. Display (Penyajian Data)
Setelah reduksi data, langkah selanjutnya adalah menyajikan data.
Data disajikan dalam bentuk tabel dan uraian penjelasan yang bersifat
deskriptif. Data dapat disajikan dengan metode SOAP berdasarkan pada pola
pikir varney.
3. Verifikasi (Kesimpulan)
Verifikasi adalah suatu tahap akhir dalam proses penyusunan sebuah
makna dari data yang telah diperoleh. Data awal yang diperoleh (data
mentah) diolah sehingga menjadi kategori data.Setelah semua data
terkategorikan maka data dianalisis dan akhirnya ditarik sebuah kesimpulan.
Dalam tahap kesimpulan peneliti mengambil kesimpulan secara seutuhnya
yang dihasilkan dari crossing check data yang terkumpul dari situasi dan
kondisi yang ada dilapangan. Dimana dalam tahapan ini garis besar
permasalahan akan terlihat dan langsung diberikan solusinya, berdasarkan
tahapan-tahapan tersebut peneliti mendapatkan sebuah data secara lengkap
mengenai ibu nifas dengan luka perineum.

I. Etika Studi Kasus

62

Dalam proses penelitian, peneliti wajib menerapkan etika dalam penelitian


antara lain:
1. Informed Consent
Sebelum melakukan penelitian, maka pasien diberikan Informed
consent atau lembar persetujuan untuk menjadi responden agar subyek
mengerti maksud dan tujuan penelitian.
2. Anonimity
Anominity menjelaskan bentuk penulisan dengan tidak mencantumkan
nama pada lembar pengumpulan data sehingga responden dirahasiakan untuk
menghormati responden.
3. Confidentaly
Studi kasus ini menjamin kerahasiaan masalah yang ada dan harus
dirahasiakan dalam penelitian.Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, Kejadian yang hanya berkaitan
mengenai kejadian penyakit dan kelompok data yang harus dilaporkan dalam
penelitian.
4. Patient Safety (Keamanan pasien)
Patient safety ini meliputi keamanan terhindar dari infeksi pada luka
perineum.Hal ini meliputi kesterilan alat dan petugas yang melakukan
perawatan pada luka perineum .

5. Interprofesi Kewenangan Bidan


Dalam kompetensi tersebut mencakup pengetahuan, keterampilan dasar
dan keterampilan tambahan yang harus dimiliki oleh bidan, khususnya
penanganan ibu nifas dengan luka perineum.

63

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di BPS Istri Utami pada bulan Mei 2016. BPS ini
terletak di Jalan Damai No 19 Mudal, Ngaglik, Sleman. BPS ini berdiri sejak tahun
2005 dan melayani pertolongan persalinan 24 jam, pelayanan KB, Imunisasi,
Kesehatan reproduksi seperti Inspeksi Visual Asetat (IVA) , pemeriksaan balita
sakit, pijat bayi, pemeriksaan laboratorium, periksa dokter umum, konsultasi KIA ,
USG, periksa kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu dan anak di BPS ini berupa
imunisasi yang diagendakan 2 kali tiap bulannya pada minggu ke-2 dan minggu ke4
Jumlah tenaga kesehatan di BPS Istri Utami ada 4 orang meliputi pengelola
BPS Istri Utami, 5 bidan pelaksana. Tenaga kesehatan lain yang berada di BPS ini
adalah dokter obstetri yang bekerjasama dengan BPS Istri Utami untuk
pemeriksaan USG yang telah dijadwalkan satu kali setiap minggunya yaitu setiap
hari Senin pukul 16.30 s/d selesai.
B. Gambaran Subyek Penelitian
Pelayanan persalinan di BPS ini dilakukan sampai pelayanan masa nifas
hari pertama. Pasien dipulangkan jika dalam 24 jam pertama memiliki kondisi yang

64

baik. Kunjungan ulang untuk ibu nifas di BPS ini dilakukan pada hari ke 7
postpartum .Peneliti melakukan kunjungan ulang pada 2 responden yaitu :
a. Ny. I alamat jl. Wonokerto Sariharjo , Nangglik, Sleman (kos-kosan milik
Ny.U)
b. Ny. S alamat Sumberan Rt / Rw 02/21 , Sariharjo, Nangglik, Sleman
Sebelum peneliti melakukan kunjungan rumah peneliti meminta izin
terlebih dahulu kepada responden dengan menghubungi no telepon yang dimiliki
responden.
Subyek dalam penelitian ini atau responden pertama adalah seorang
pasien yang melahirkan di BPS Istri Utami . Subjek penelitian bernama Ny.I
berusia 19 tahun. Beragama islam bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ny. I
beralamat di alamat jl. Wonokerto Sariharjo , Nangglik, Sleman (kos-kosan milik
Ny.U). Pasien memilih BPS Istri Utami sebagai tempat persalinan karena lokasinya
berdekatan dengan tempat tinggal dan biaya persalinan tidak terlalu mahal. Pasien
ini merupakan pasien umum .
Pada riwayat persalinan Ny.I ini merupakan persalinan yang pertama,
pasien datang diantar oleh suami pada tanggal 3 Mei 2016 pukul 18.00 WIB
dengan pembukaan jalan lahir 9 cm. Pembukaan lengkap pukul 20.00. Lama kala
satu adalah 8 jam, kala dua persalinan pervaginam ditolong bidan lamanya 30
menit, kala tiga 5 menit dengan plasenta lahir spontan kesan lengkap, kemudian
pada jalan lahir terdapat laserasi perineum derajat II dan dilakukan penjahitan
dengan anastesi, jahitan dengan jelujur terkunci, jahitan luar satu-satu atau
perawatan luka perineum
Riwayat bayi baru lahir pada Ny I yaitu bayi baru lahir, cukup bulan sesuai
masa kehamilan dan berat badan lahir normal 2850 gram, panjang badan 49 cm.
Lahir tanggal 10 Mei 2016 pukul 21.15 WIB, saat lahir bayi menangis spontan,

65

tonus otot kuat, usaha nafas baik dan jenis kelamin perempuan. Beberapa saat
setelah lahir dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama 1 jam.
C. Hasil Penelitian
Pada penelitian

ini

pengumpulan

data

dilakukan

menggunakan

pendokumentasian SOAP dan pola pikir Varney yaitu pengkajian data subjektif,
data objektif, analisis dan kemudian penatalaksanaan sesuai dengan permasalahan
yang dikeluhkan Ny.H yaitu ibu nifas dengan luka perineum derajat II. Setelah itu
dilakukan evaluasi untuk menganalisis respon pasien terhadap intervensi yang
sudah diberikan.
1. Kunjungan I (nifas 9 jam) tanggal 10 mei 2016 jam 06.30 WIB
a. Subjektif
Dari hasil pengumpulan data subjektif Ny. S mengeluh merasa nyeri
diluka bekas jahitan dan perut terasa mules.
b. Objektif
Dari hasil pengumpulan data objektif pada kunjungan pertama didapat
hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis. Tekanan
darah 110/90 mmHg, nadi 84x/menit, respirasi 21x/menit, suhu 36,7C.
Kemudian melakukan pemeriksaan fisik, data fokus yang ditemukan yaitu :
muka tidak pucat dan tidak odema. Mata konjungtiva merah muda, sklera
putih, tidak strabismus, penglihatan baik. Payudara simetris, tidak teraba
benjolan atau massa, puting susu menonjol, terdapat hiperpigmentasi areola,
terdapat pengeluaran kolostrum pada payudara kanan dan kiri. Abdomen
tidak ada luka bekas operasi, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus
teraba keras. Genetalia luar, pengeluaran lochea rubra, terdapat jahitan luka
perineum, tidak ada kemerahan, tidak ada odema, tidak memar, tidak
terdapat cairan nanah yang keluar dari luka jahit, luka masih basah, luka
jahit bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi. Pada anus ada hemoroid.

66

c. Analisa
Dari hasil pengkajian data subjektif dan objektif, maka analisa dari
kasus ini adalah Ny. S umur 35 tahun P2A1Ah2 nifas 9 jam dengan luka
jahitan perineum derajat II.
d. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Ny.S umur 35 tahun P2A1Ah2 nifas 9 jam
dengan luka jahitan perineum derajat II adalah KIE ibu dan keluarga cara
memantau kontraksi rahim, perubahan fisiologis pada ibu nifas, ,pola nutrisi
ibu nifas, perawatan luka perineum, perawatan payudara, asi ekslusif,
perawatan bayi, tanda bahaya pada ibu nifas, pemberian terapi amoxicillin
500 mg 3x1, paracetamol 500 mg 3x1, hemafort tablet Fe 250 mg 1x1,
vitamin A 200.000 unit 1x setelah ibu melahirkan dan 1x setelah 24 jam
pemberian pertama.
2. Kunjungan II (nifas hari ke 3) tanggal 13 Mei 2016 jam 09.00 WIB
a. Subjektif
Dari hasil pengumpulan data subjektif Ny.S mengatakan perutnya
masih terasa mules, luka jahitannya masih terasa nyeri jika dipakai untuk
duduk dan saat ibu akan berdiri. Ibu juga mengatakan selalu membersihkan
luka jahitan dengan dengan air bersih dan sabun serta mengeringkan luka
dengan tissue setelah BAB atau BAK. Ibu juga mengatakan mengkonsumsi
makanan bergizi. Setelah melahirkan baru BAB 1 kali dan ibu mengatakan
ASI sudah lancar keluar .
b. Objektif
Dari hasil pengumpulan data objektif pada kunjungan kedua didapat
hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TD
120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, Suhu 36,5C, Respirasi 20x/menit.
Kemudian melakukan pemeriksaan payudara simetris, tidak ada benjolan,
ASI sudah keluar pada payudara kanan dan kiri, puting susu menonjol,

67

bersih, terdapat luka lecet pada puting kanan, terdapat hiperpigmentasi pada
aerola. Abdomen tidak ada luka bekas operasi, TFU 3 jari dibawah pusat,
kontraksi uterus teraba keras, kandung kemih tidak teraba. Genetalia luar
pengeluaran lochea rubra, tidak ada kemerahan, tidak odema, tidak memar,
tidak terdapat cairan nanah keluar dari jahitan, masih basah, tidak ada
tanda-tanda infeksi.
c. Analisa
Dari hasil pengkajian data subjektif dan objektif, maka analisa dari
kasus ini adalah Ny. I umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ke 5 dengan luka
jahitan perineum derajat II.
d. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Ny.S umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ketiga
dengan luka jahitan perineum derajat II adalah KIE perawatan luka jahitan,
tehnik dan posisi menyusui , menjaga personal hygiene baik ibu dan bayi,
gizi seimbang, tanda bahaya pada bayi dan mengenai imunisasi pada bayi.
3. Kunjungan III (nifas hari ke 7) tanggal 17 Mei 2016 pukul 16.00 WIB
a. Subjektif
Dari hasil pengumpulan data subjektif Ny. S mengatakan rasa mules
yang ibu rasakan kini telah berkurang, nyeri akibat luka jahitannya juga
sudah mulai berkurang dan telah menjaga kebersihan luka jahitan, puting
susu ibu sudah membaik dan tidak nyeri lagi, ibu tmengonsumsi makanan
bergizi sesuai yang telah dianjurkan, BAB ibu sudah lancar, ibu mengeluh
kurang istirahat karena mengurusi bayinya dan ibu sudah dapat
membersihkan tali pusat bayi.
b. Objektif
Dari hasil pengumpulan data objektif pada kunjungan ketiga didapat
hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, TD
110/80 mmHg, Nadi 83x/menit, Suhu 36,6C, Respirasi 25x/menit.

68

Kemudian melakukan pemeriksaan payudara simetris, tidak teraba benjolan,


terdapat pengeluaran ASI pada payudara kanan dan kiri, puting susu
menonjol, luka lecet pada puting kanan sudah mengering, sembuh, tidak
nyeri, tidak terdapat bendungan ASI. Abdomen tikad ada bekas luka
operasi, TFU pertengahan pusat dan simphisis, kontraksi uterus teraba
keras, kandung kemih tidak teraba. Genetalia pengeluaran lochea
sanguilenta berwarna merah kecoklatan, keadaan luka tidak ada kemerahan,
tidak odema, tidak memar, tidak terdapat cairan nanah yang keluar dari luka
jjahitan, jahitan sudah rapat, sudah mulai kering, luka jahitan bersih, tidak
ada tanda-tanda infeksi.
c. Analisa
Dari hasil pengkajian data subjektif dan objektif, maka analisa dari
kasus ini adalah ny.S umur 35 tahun P2A1Ah2 nifas hari ke 7 dengan luka
jahitan perineum derajat II.
d. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Ny.S umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ke 47
dengan luka jahitan perineum derajat II adalah KIE menjaga personal
hygiene, melakukan perawatan luka jahitan perineum, gizi seimbang,
tentang istirahat pada ibu nifas dan peran suami dalam membantu ibu dalam
mengurusi bayinya.
4. Kunjungan IV (nifas hari ke 14) tanggal 24 Mei 2016 jam 11.00 WIB
a. Subjektif
Dari hasil pengumpulan data subjektif Ny. I mengatakan tidak merasa
nyeri pada luka jahitnya, tidak merasa mules pada perut, selalu melakukan
perawatan luka jahitan dan ibu mengatakan tali pusat bayi telah puput .
b. Objektif
Dari hasil pengumpulan data objektif pada kunjungan keempat
didapat hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis,

69

TD 120/80 mmHg, Nadi 84x/menit, Suhu 36,5C, Respirasi 26x/menit.


Kemudian melakukan pemeriksaan payudara simetris, tidak teraba benjolan,
terdapat pengeluaran ASI pada payudara kanan dan kiri, puting susu
menonjol, bersih, tidak terdapat bendungan ASI, puting tidak lecet.
Abdomen tidak ada luka bekas operasi, TFU tidak teraba, kandung kemih
kosong. Genetalia luar pengeluaran lochea serosa berwarna kecoklatan tidak
berbau, luka jahitan bersih, kering, tidak ada tanda-tanda infeksi.
c. Analisa
Dari hasil pengkajian data subjektif dan objektif, maka analisa dari
kasus ini adalah Ny.S umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ke 14 dengan luka
jahitan perineum derajat II.
d. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Ny.S umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ke 14
dengan luka jahitan perineum derajat II adalah menjaga personal hygiene
ibu dan bayi, KIE perawatan bayi sehari-hari dan menganjurkan pada ibu
untuk tetap menjaga kebersihan daerah genital.
D. Pembahasan
1. Kunjungan I (nifas 9 jam) tanggal 10 Mei 2016 jam 06.30 WIB
Pengkajian data subjektif pada Ny. S pada kunjungan I dilakukan di ruang
nifas BPS Istri Utami. Ibu mengeluh merasa nyeri diluka bekas jahitan dan
perut terasa mules. Keluhan nyeri pada luka jahitan ini sesuai dengan teori
Boyle (2008) bahwa ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan elemen darah
seperti antibody, plasma protein elektrolit, komplemen dan air menembus
spasium vaskuler selama 2-3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat,
kemerahan dan nyeri. Dalam tahap ini penyembuhan luka berada pada fase
inflamasi yang dapat berlangsung selama 1 sampai 4 hari. Keluhan perut ibu
yang terasa mules sesuai dengan teori Sujiati (2010) yakni rasa mules

70

disebabkan karena adanya kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca
persalinan. Keluhan yang dirasakan Ny. S adalah hal yang normal terjadi pada
ibu pasca melahirkan dengan luka jahitan perineum derajat II.
Pengkajian data Objektif pada Ny. S menunjukkan keadaan umum baik,
kesadaran composmentis, tanda vital dalam batas normal. Keadaan payudara
terdapat pengeluaran kolostrum, hal ini sesuai dengan teori Depkes RI (2009)
yakni keadaan payudara pada 2 hari pertama nifas belum mengandung susu,
melainkan kolostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mamae.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil TFU 2 jari dibawah pusat
dengan kontraksi keras, hal ini sesuai dengan teori Depkes RI tahun 2009 yang
mengatakan bahwa setelah plasenta lahir TFU 2 jari dibawah pusat.
Genitalia luar pengeluaran lochea rubra berwarna merah, hal ini sesuai
dengan teori Marmi (2012) lochea ini muncul pada hari ke-1 sampai hari ke-3
masa postpartum dan berwarna merah karena mengandung darah segar dari
robekan atau jaringan sisa plasenta.
Terdapat luka jahitan perineum, tidak ada kemerahan, tidak ada odema,
tidak memar, tidak terdapat cairan nanah yang keluar dari dari luka jahit, luka
masih basah, luka jahitan bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi. Berdasarkan
pengkajian data subjektif dan objektif maka dapat ditarik analisis Ny. S umur
35 tahun P2A0Ah2 nifas 9 jam dengan luka jahitan perineum derajat II.
Kemudian Ny. S diberikan asuhan kebidanan meliputi mengajari ibu dan
keluarga tentang cara memantau kontraksi rahim dan cara masase rahim sesuai
dengan tujuan kunjungan I pada ibu nifas yakni memberikan konseling pada
ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
Memberikan KIE pada ibu mengenai pola gizi seimbang ibu dianjurkan
mengonsumsi tempe, tahu, telur, daging dan minum air putih minimal 12

71

gelas/hari, hal ini sesui dengan teori dari Sujiyatini dkk (2010)sumber protein
nabati (kedelai, tempe dan tahu) dan hewani (ikan, telur dan daging) dapat
mempengaruhi proses penyembuhan luka perineum karena pergantin jaringan
sangat membutuhkan protein, selain itu ibu nifas dianjurkan minum air putih
minimal 12 gelas/hari sesuai dengan teori Saifuddin (2010) yakni ibu nifas
dianjurkan untuk minum setiap kali menyusui sedikitnya 3 liter setiap hari.
Memberikan KIE ibu untuk perawatan luka jahitan yaitu setelah
BAB/BAK, saat mandi, luka dibersihkan menggunakan air bersih dan sabun
setelah itu luka dapat dikeringkan dengan tissue atau handuk bersih serta
menganjurkan ibu untuk lebih sering mengganti pembalut maksimal 4 jam
sekali,sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Ambarwati (2010)
perawatan luka perineum dapat dibersihkan dengan air bersih dan kassa steril.
Peneliti menemukan adanya kesenjangan antara teori dengan SOP
mengenai perawatan luka jahitan perineum. Berdasarkan SOP di BPS Istri
Utami, luka perineum dibersihkan dengan sabun dan air mengalir kemudian
dikeringkan dengan handuk yang lembut dan bersih. Sedangkan menurut Refni
(2010) cara merawat luka jahitan perineum adalah dengan menggunakan
waslap dibasahi dan diberi sabun setelah itu bersihkan seluruh lokasi jahitan
dan dibilas dengan air hangat. Mengeringkan luka jahitan setelah itu kenakan
pembalut baru dan segera ganti pembalut maksimal 4 jam dan untuk
mengeringkan luka menurut Ambarwati (2010) dengan menggunakan kassa
steril sedangkan di BPS Istri Utami pasien dianjurkan untuk mengeringkan
menggunakan handuk bersih.
Perawatan perineum bagi ibu nifas bertujuan untuk pencegahan terjadinya
infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan serta memberi rasa nyaman

72

pada pasien. Walaupun prosedur perawatan luka perineum bervariasi, prinsip


dasarnya bersifat universal yaitu pencegahan infeksi organ-organ reproduksi
yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme melalui vulva yang terbuka
atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung lochea
atau pembalut (Rukiyah, 2010)
Menjaga kebersihan diri terutama pada daerah kemaluan pada saat haid
atau nifas juga dijelaskan dalam surat Al-baqarah ayat 222 :

Artinya :Dan mereka yang menanyakan kepadamu (Muhammad)


tentang haid. Katakanlah, itu adalah sesuatu yang kotor.Karena itu
jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka
sebelum mereka suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan)
yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang
yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri (Al-Baqarah :
222)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa wanita ketika haid termasuk
didalamnya adalah nifas harus memperhatikan kebersihan dirinya terutama
pada daerah luka perineum di kemaluan karena darah nifas yang keluar lewat
kemaluan adalah darah kotor yang dapat menimbulkan infeki jika tidak bisa

73

menjaga kebersihannya. Selain itu Allah juga menyukai orang-orang yang


menjaga kebersihan dirinya.
Memberi KIE menjaga kebersihan payudara, memotivasi untuk ASI
ekslusif selama 6 bulan, KIE menjaga kehangatan bayi, memberi KIE tanda
bahaya pada ibu nifas dan menganjurkan ibu untuk segera ke tenaga kesehatan
bila merasakan tanda bahaya. Konseling yang diberikan telah sesuai dengan
yang telah dikemukakan oleh Bahiyatun (2009) beberapa tujuan dari perawatan
nifas adalah mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan
mencegah komplikasi, memperlancar pembentukan ASI dan mengajarkan ibu
untuk melakukan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan merawat
bayi dengan baik.
Ny. H juga diberi obat analgesik yaitu paracetamol 500 mg diminum
3x1 untuk mengurangi rasa nyeri, amoxicillin 500 mg diminum 3x1sebagai
antibiotic , untuk mencegah anemia pasca persalinan ibu nifas diberi hemafort
tablet Fe 250 mg diminum 1x1, sedangkan Vitamin A 200.000 unit 1x setelah
melahirkan dan 1x setelah 24 jam pemberian pertama. Vitamin A diberikan
untuk meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI, mempercepat pemulihan
kesehatan ibu nifas dan mencegah infeksi pada ibu nifas, sesuai yang tertera
dalam

Permenkes

nomor

1464/Menkes/per/X/2010

tentang

izin

dan

penyelenggaraan praktik bidan.


Pemberian obat analgesik pada ibu nifas bertujuan untuk mengurangi
rasa nyeri. Hal ini sesuai dengan teori Boyle (2008) bahwa perawatan yang
paling sering untuk nyeri perineum adalah analgesia oral.
Pada pemberian obat jenis antibiotik peneliti menemukan teori menurut
Rukiyah (2010) antibiotik efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan
untuk kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif

74

karena koagulasi intravaskular. Sedangkan di BPS Sumarni antibiotik diberikan


setelah luka ditutup atau dijahit. Sehingga terdapat kesenjangan antara teori dan
praktik.
2. Kunjungan II (nifas 3 hari) tanggal 13 Mei 2016 jam 09.00 WIB
Peneliti melakukan kunjungan rumah pada kunjungan II dengan hasil data
subjektif pada Ny. S ibu mengatakan selalu membersihkan luka jahitan dan
mengganti pembalut 4-5 x/hari, ASI ibu sudah lancar dan sudah meminum obat
secara teratur.Ibu juga mengatakan mengonsumsi makanan bergizi 3x/hari
seperti telur, tempe, tahu dan sayuran hijau serta minum air putih 10
gelas/hari. Ibu membersihkan tali pusat bayi dengan sabun saat mandi.
Selain itu Ny. S masih mengeluh merasa nyeri pada luka jahitan jika
dipakai untuk duduk dan berdiri dan perut masih terasa mules. Keluhan nyeri
pada luka jahitan ini merupakan hal yang normal sesuai dengan yang telah
dikemukakan oleh Boyle (2008) dalam tahap penyembuhan luka masih
termasuk fase inflamasi yang berlangsung selama 1 sampai 4 hari. Sedangkan
keluhan ibu yang masih merasa mules adalah hal yang fisiologis terjadi pada
ibu nifas seperti teori yang telah disampaikan oleh Sujiyatini (2010) yakni rasa
mules pada ibu nifas biasanya berlangsung selama 2-4 hari.
Disamping itu ibu mengeluh merasa nyeri pada puting susu sebelah
kanan, setelah dilakukan observasi tehnik dan posisi menyusui masih ada
kesalahan seperti perlekatan yang kurang tepat dan cara menghentikan
menyusui yang masih salah. Untuk penyebab keluhan ibu mengenai
permasalahan dalam menyusui sesuai dengan teori dari Marmi (2010) yakni

75

puting susu lecet dapat disebabkan karena tehnik menyusui yang tidak benar
dan tehnik menghentikan menyusu kurang tepat.
Keluhan ibu lainnya seperti setelah melahirkan ibu baru BAB 1 kali
merupakan keadaan yang normal sesuai yang telah dikemukakan oleh Marmi
(2012) Setelah persalinan ibu akan mengalami konstipasi, hal ini disebabkan
pada waktu persalinan alat pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan
kolon menjadi kosong dan faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali
normal.
Pengkajian data objektif pada Ny. H menunjukkan keadaan umum baik,
kesadaran composmentis, tanda vital dalam batas normal. Keadaan payudara
terdapat luka lecet pada puting kanan karena kesalahan tehnik dan posisi
menyusui. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil TFU 3 jari dibawah
pusat dan kontraksi uterus keras, hal ini menunjukkan involusi uteri berjalan
dengan baik. Pada genetalia luar didapatkan hasil pengeluaran lochea rubra
berwarna merah, sesuai dengan pendapat Marmi (2012) lochea hari 1-3 adalah
lochea rubra.
Terdapat luka jahitan perineum tampak bersih, tidak ada kemerahan, tidak
odema, tidak memar, tidak terdapat cairan nanah keluar dari luka jahitan, luka
masih basah, tidak ada tanda-tanda infeksi. Berdasarkan pengkajian data
subjektif dan objektif maka dapat ditarik analisis Ny. S umur 35
P2A0Ah2 nifas hari ke 3 dengan luka jahitan perineum derajat II.

tahun

76

Kemudian Ny. S diberikan asuhan kebidanan meliputi tetap mengingatkan


Ny. S untuk perawatan luka jahitan dengan menjaga luka tetap bersih dan
kering agar tidak terjadi infeksi serta, lebih sering mengganti pembalut. Seperti
yang telah dikemukakan olehRefni ( 2010) yakni luka perineum harus dalam
keadaan bersih dan kering serta segera mengganti pembalut jika terasa darah
penuh maksimal 4 jam sekali.
Setelah itu mengajari ibu tehnik dan posisi menyusuiyang benar terutama
perlekatan seperti sebelum menyusui ASI dioleskan pada puting dan areola
payudara ibu, ketika bayi menyusu puting dan areola berada diantara rahang
atas dan bawah. Saat melepaskan puting susu, ibu menekan dagu bayi kearah
bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.
Untuk perawatan puting susu ibu yang lecet ibu dianjurkan untuk
mengistirahatkan puting susu yang lecet selama kurang lebih 1x24 jam dengan
tetap memerah ASI dan diberikan pada bayi menggunakan sendok.
Penatalaksanaan pada ibu dengan puting susu lecet sudah sesuai dengan
teori Marmi (2012)

yakni pada puting susu yang lecet dianjurkan untuk

diistirahatkan 1x24 jam dan akan sembuh sendiri dalam waktu 48 jam. Saat
puting susu ibu yang lecet diistirahatkan ASI tetap diperah dan diberikan pada
bayi menggunakan sendok. Sehingga peneliti tidak menemukan adanya
kesenjangan antara teori dan praktek.Penatalaksanaan untuk tehnik dan posisi
menyusui tidak ada kesenjangan dengan teori yang disampaikan oleh Apriyani
(2014) melalui jurnal hubungan antara pengetahuan ibu nifas tentang tehnik
menyusui dengan kejadian puting susu lecet. .

77

Selain itu tetap menganjurkan ibu mengonsumsi makanan yang tinggi


protein serta tidak ada pantangan makanan pada ibu nifas, sesuai dengan
Firman Allah dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 114 menyebutkan :

Artinya : maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah
diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu
hanya menyembah kepadanya.
Ayat Al-Quran tersebut meyakinkan bahwa dalam masa nifas tidak ada
makanan yang dilarang atau menjadi pantangan seperti telur, ikan dan makanan
tinggi protein lainnya. Selain nutrisi, yang tidak kalah penting untuk ibu nifas
adalah cairan (air minum) minimal 12 gelas/hari.
Memberi KIE pada ibu untuk perawatan bayi seperti perawatan tali pusat
menggunakan air DTT dan menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih.
Perawatan tali pusat di BPS Istri Utami menggunakan kapas DTT dan tidak
dikeringkan menggunakan kassa steril, sedangkan panduan Asuhan Persalinan
Normal (APN) tahun 2010 perawatan tali pusat menggunakan air DTT dan
sabun kemudian saat mengeringkan tali pusat menggunakan kassa steril.
Sehingga peneliti menemukan adanya kesenjangan antara praktik dan teori.
Perawatan bayi selanjutnya yakni dengan menjemur bayi. KIE yang
diberikan pada ibu adalah menjemur bayi membelakangi matahari minimal 30
menit antara pukul 07.00-08.00. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan

78

oleh Puspitosari ratih dewi, dkk (2006), tentang pengaruh paparan sinar
matahari pagi terhadap penurunan tanda ikterus neonatorum fisiologis,
menerangkan bahwa paparan sinar matahari pagi berpengaruh terhadap
penurunan tanda ikterus pada ikterus neonaturum fisiologis dan waktu
penjemuran yang efektif adalah selama 30 menit dari pukul 06.00-07.00 karena
radiasi pada waktu tersebut hampir tidak ada sama sekali atau nol persen.
Sehingga peneliti menemukan adanya kesenjangan antara teori dan praktik
mengenai waktu untuk menjemur bayi.
3. Kunjungan III (nifas 7 hari) tanggal 17 Mei 2016 jam 16.00 WIB
Pengkajianpada kunjungan III dilakukan di Rumah Ny S, didapatkan hasil
data subjektif pada Ny. H pada mengatakan puting susu ibu sudah membaik dan
tidak nyeri lagi serta posisi dan tehnik menyusui sudah benar. Ny. H juga
mengatakan BAB sudah lancar, obat ibu sudah habis, ibu tetap mengonsumsi
makanan bergizi dan minum yang cukup minimal 12 gelas/hari, dan ibu
mengatakan sudah dapat melakukan perawatan tali pusat.
Selain itu ibu mengatakan nyeri akibat luka perineum dan rasa mules
telah berkurang. Keluhan nyeri luka jahitan yang berkurang sesuai dengan teori
Boyle (2008) dimana pada tahap ini terjadi fase proliferasi yang dapat
berlangsung selama 5 sampai 20 hari. Kemudian Ny. S mengatakan kurang
istirahat karena mengurusi bayinya.
Pengkajian data objektif pada Ny. S menunjukkan keadaan umum baik,
kesadaran composmentis dan tanda vital dalam batas normal. Keadaan payudara
puting susu sebelah kanan sudah mengering dan sembuh sesuai dengan teori
Marmi (2012) bahwa puting susu akan sembuh dalam 2x24 jam dengan
mengistirahatkan selama 1x24 jam dengan ASI dikeluarkan dengan cara
diperah.

79

Pada pemeriksaan Abdomen didapat hasil TFU berada dipertengahan


pusat dan simphisis. Dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan perbedaan
dengan Marmi (2012) yang menyatakan bahwa involusi uterus pada hari
ketujuh TFU berada di pertengahan pusat dan simphisis, sedangkan pada Ny. S
pada kunjungan nifas hari ke 4 involusi uterus sudah berada di pertengahan
pusat dan simphisis. Sehingga didapatka kesenjangan antara teori dan praktik.
Hal ini menandakan bahwa kontraksi berjalan dengan lancar dan tidak
ditemukan kondisi patologi yaitu subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan
oleh infeksi dan tertinggalnya sisa plasenta atau perdarahan lanjut (post partum
haemorrhage), (Anggraini, 2010).
Pada pemeriksaan genetalia luar didapatkan hasil lochea sanguinolenta
berwarna merah kecoklatan, hal ini sesuai dengan teori Marmi (2012) lochea
sanguinolenta dapat berlangsung dari hari keempat sampai hari ketujuh.
Terdapat luka jahitan perineum tidak ada kemerahan, tidak odema, tidak
memar, tidak terdapat cairan nanah yang keluar dari luka jahitan, luka sudah
rapat, mulai mengering, luka jahit bersih, dan tidak ada tanda infeksi.
Berdasarkan pengkajian data subjektif dan objektif maka dapat ditarik analisa
Ny. S umur 35 tahun P2A0Ah2 nifas hari ke 7 dengan luka jahitan perineum
derajat II.
Kemudian Ny. S diberikan asuhan kebidanan meliputi menganjurkan ibu
terus menjaga kebersihan luka jahitan agar tidak terjadi infeksi, memberikan
KIE untuk tetap mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan tetap
memperhatikan kecukupan cairan. Menganjurkan untuk ibu istirahat yang
cukup, dalam mengurus bayi, ibu dapat tidur saat bayi tidur. Mengurangi
aktivitas yang berat dan dapat bergantian bersama suami untuk merawat bayi

80

atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga . Kurang istirahat akan


mempengaruhi ibu dalam beberapa hal seperti mengurangi jumlah ASI yang
diproduksi, memperlambat proses involusi uterus, menyebabkan depresi dan
ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Saifuddin, 2010).
4. Kunjungan IV (nifas 14 hari) tanggal 24 Mei 2016 jam 11.00 WIB
Pengkajian pada kunjungan IV dilakukan di BPS Sumarni dengan hasil
data subjektif pada Ny. S mengatakan telah cukup istirahat dan membagi tugas
dengan suami dalam mengurus bayi dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dukungan dari keluarga sangat baik untuk mencegah ibu dari kelelahan. Seperti
yang telah dikemukakan oleh Saifuddin (2010) istirahat yang cukup untuk ibu
nifas dapat mencegah kelelahan yang berlebihan serta depresi dan
ketidakmampuan ibu untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Selain ituibu mengatakan tidak merasa nyeri pada luka jahitan dan tidak
merasa mules pada perut ibu. Rasa nyeri yang tidak lagi dirasakan oleh Ny. H
dapat disebabkan kerena tahap penyembuhan luka telah berada pada fase
proliferasi, kepatuhan Ny. H mengonsumsi obat analgesik, konsumsi makanan
yang tinggi protein dan rutin melakukan perawatan luka perineum serta
menjaga kebersihan luka.
Berdasarkan jurnal dari Auxilia, dkk (2011) menerangkan bahwa ibu
postpartum yang diberikan promosi kesehatan tentang perawatan perineum
mengalami percepatan penyembuhan luka jahitan disebabkan karena adanya
peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku untuk merawat perineumnya
sesuai dengan petunjuk yang diberikan melalui leaflet. Penyembuhan luka jahit
secara normal akan terjadi pada hari kelima hingga hari ketujuh ditandai
dengan luka kering, tidak adanya kemerahan, pembengkakan, jaringan
menyatu, dan tidak nyeri untuk duduk dan berjalan.

81

Pengkajian data objektif menunjukkan keadaan Ny. S menunjukkan


keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tanda vital dalam batas normal.
Keadaan payudara ibu dalam keadaan normal, bersih, puting susu ibu tidak
lecet dan tidak terdapat bendungan ASI.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil TFU tidak teraba yang
menunjukkan involusi uteri yang berjalan dengan baik. Pemeriksaan genetalia
luar pengeluaran lochea serosa berwarna kecoklatan sesuai dengan teori Marmi
(2012) lochea serosa berwarna kecoklatan yang berlangsung hari ketujuh
sampai hari keempat belas. Keadaan luka jahitan bersih, luka kering dan tidak
ada tanda infeksi.
Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka jahitan pada Ny. S
diantaranya adalah faktor eksternal yaitu pengetahuan, sarana dan prasarana,
gizi dan penanganan petugas serta usia dan personal hygiene.
Pendidikan terakhir Ny. S adalah SMU, menurut Sujiyatini, dkk (2010)
pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat menentukan lama
penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan ibu kurang, terlebih
masalah kebersihan maka penyembuhan luka pun akan berlangsung lama.
Dalam kasus ini peran bidan dalam memberikan konseling mengenai perawatan
luka perineum menambah pengetahuan ibu .
Sarana dan prasarana yang disediakan oleh Ny. S dalam melakukan
perawatan luka perineum seperti air bersih, sabun dan pembalut yang selalu
diganti untuk menjaga luka tetap kering. Kemampuan ibu dalam menyiapkan
sarana dan prasarana ini sangat mempengaruhi penyembuhan luka perineum.
Penanganan petugas pada saat persalinan, pencegahan infeksi merupakan
beberapa faktor yang dapat menentukan lama penyembuhan luka jahitan
perineum. Penatalaksanaan persalinan di BPS Istri Utami sudah sesuai dengan

82

pedoman Asuhan Persalinan Normal sehingga dapat mengurangi resiko


terjadinya infeksi postpartum.
Asupan nutrisi pada masa nifas

akan sangat berpengaruh terhadap

kesehatan ibu, pemulihan tenaga, produksi ASI dan penyembuhan luka


perineum. Ny. S mengatakan mengkonsumsi sayur, telur, tahu, tempe dan
daging yang mengandung protein tinggi. Faktor gizi terutama protein akan
sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum
karena pergantian jaringan sangat membutuhkan protein. Berdasarkan
sumbernya protein dapat dibagi menjadi dua yaitu protein nabati (kedelai,
kacang-kacangan, tahu dan tempe) dan protein hewani (ikan, telur, daging sapi,
daging ayam, dan susu), (Sujiyatini dkk, 2010).
Faktor internal yang mempengaruhi proses penyembuhan luka adalah
usia. Subjek pada penelitian ini adalah Ny. S berusia 35 tahun yang belum
tergolong tua. Menurut Sujiyatini, dkk (2010) penyembuhan luka terjadi lebih
cepat pada usia muda daripada orang tua. Orang yang sudah lanjut usia tidak
dapat mentolerir stress seperti trauma jaringan atau infeksi.
Personal hygiene juga mempengaruhi proses penyembuhan luka.
Personal hygiene yang buruk dapat menghambat penyembuhan luka karena
adanya benda asing seperti debu dan kuman. Bila luka kotor maka
penyembuhan sulit terjadi. Ny. S sangat memperhatikan nasihat yang diberikan
oleh petugas kesehatan dan mempraktekkannya dirumah. Ny. S melakukan
perawatan luka perineum yang sudah diajarkan dengan benar dan selalu
menjaga kebersihan daerah tersebut dengan sering mengganti pembalut.
E. Keterbatasan Penelitian

83

Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ny. S umur 35 tahun P2A0Ah2


dengan luka perineum derajat II di BPS Istri Utami, peneliti menemukan beberapa
hambatan di antaranya :
1. Tidak terkajinya fase penyembuhan luka maturasi pada luka perineum ny. S
dikarenakan keterbatasan waktu.
2. Tidak terkajinya riwayat pola eliminasi Ny. S seperti konsistensi BAB ibu
yang setelah melahirkan baru BAB 1 kali di hari ke 2 postpartum.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka simpulan yang diperoleh
adalah sebagai berikut :
1. Subyek dari penelitian ini adalah ny. S umur 35 tahun P2A0Ah2 seorang ibu
nifas dengan luka perineum derajat II.
2. Penyebab luka perineum yaitu kesalahan ibu dalam mengejan, saat mengejan
bokong ibu diangkat.

84

3. Pada hari ketujuh postpartum, luka perineum ibu sembuh.


4. Penatalaksanaan yang diberikan yaitu KIE perawatan luka perineum dan
personal hygiene, pola nutrisi, pola aktivitas dan istirahat, tanda bahaya masa
nifas dan bayi, perawatan bayi sehari-hari, Asi ekslusif dan KB. Evaluasi dari
penatalaksanaan yaitu, Ny. H menjalankan perawatan luka perineum secara
maksimal, tidak menganut berpantangan makanan tertentu, ibu mengerti
tentang kebutuhan istirahat dan mempraktikkan, mengerti tentang tanda bahaya
ibu nifas dan bayi, akan berusaha melaksanakan ASI ekslusif dan dilanjutkan
sampai 2 tahun, mengerti tentang perawatn bayi sehari-hari dan mengerti
tentang ketidaknyamanan yang dirasakan saat menggunakan KB dan akan
segera kontol ke bidan saat masa nifas telah selesai.

B. Saran
1. Bagi bidan di BPS Istri Utami
Disarankan bagi bidan di BPS Istri Utami dapat mempertahankan kualitas
pelayanan dan asuhan kebidanan yang dilakukan secara komprehensif sesuai
dengan standar operasional prosedur.
2. Bagi ibu nifas
Ibu nifas diharapkan dapat lebih percaya diri terhadap kemampuannya
dalam melakukan perawatan luka perineum dan personal hygiene sehingga luka
perineum dapat sembuh dengan cepat dan tidak terjadi infeksi.

85