Anda di halaman 1dari 54

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar DHF


1. Definisi
Dengue Haemorragic Fever (DHF) merupakan penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang termasuk golongan arbovirus melalui
gigitan nyamuk aedes aegypty betina (Susilaningrum, 2013). Penderitanya
terutama adalah anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi sekarang banyak juga
orang dewasa terserang penyakit virus ini (Soedarto, 2009).
2. Etiologi
Menurut Ngastiyah (2005) :
a. Virus Dengue
Virus penyebab demam dengue adalah virus dengue genus
Flavirus yang termasuk golongan Arbovirus (Arthropod Borne Virus)
grup B. Virion virus dengue, yaitu virus dengan tipe 1, tipe 2, tipe 3,
dan tipe 4. Virus dapat berkembang biak pada berbagai macam kultur
jaringan, misalnya sel mamalia BHK (Baby Hamster Kidney Cell) dan
sel artropoda, misalnya Aedes albopictus cell.

b. Vektor
Sampai saat ini telah diketahui beberapa nyamuk sebagai vektor
dengue. Di Indonesia, walaupun vektor DHF belum diselidiki secara
luas, Ae. Aegypti diperkirakaran sebagai vektor terpenting di daerah
perkotaan, sedangkan Ae. Albopictus di daerah pedesaan. Faktor
penyulit pemusnahan vektor adalah bahwa telur telur Ae segypti dapat
bertahan dalam waktu yang lama terhadap desikasi (pengawetan dengan
pengeringan). Kadang selama lebih dari satu tahun.
c.

Host
Sumber

penularan

utama

adalah

manusia

dan

primata,

penderitanya terutama anak anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi


sekarang banyak juga orang dewasa yang terserang penyakit virus ini.
Penularan virus dengue dari manusia terinfeksi ke nyamuk penggigit
ditentukan oleh besarnya durasi viremia pada hospes manusia. Individu
dengan viremia tinggi memberikan dosis infeksius yang lebih tinggi ke
nyamuk

penggigit,

biasanya

menyebabkan

presentase

nyamuk

penggigit yang terinfeksi lebih besar, meskipun kadar virus sangat


rendah dalam darah mungkin infeksius bagi beberapa nyamuk vektor.
3. Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui pembuluh
darah (Viremia). Sehingga, tubuh membentuk antigen antibody yang
dapat meningkatkan premeabilitas dinding kapiler, mengakibatkan

terjadinya trombosit plasma ke ruang ekstraseluler. Hal pertama yang


terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh penderita adalah viremia
yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual,
nyeri, otot, pegal pegal seluruh tubuh ruam atau bintik bintik merah.
Hipertermi tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi, seperti
pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati dan pembesaran
limpa. Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan
berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi
dan hipoprotinemia serta efusi dan renjatan syok. Jika syok
hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoreksia jaringan
metabolik asidosis dan kematian apabila tidak di atasi dengan segera.
4. Klasifikasi
Pembagian derajat DHF menurut Padila (2013) :
Derajat I

:Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji


turniket positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi.

Derajat II

: Derajat I disertai perdarahn spontan di kulit dan perdarahan


lain.

Derajat III

: Kegalan sikulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi


menurun 20mmHg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi.

Derajat IV

: Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat di


ukur.

5. Gambaran Klinis
a.

Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2 7 hari
kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan
dengan berlangsung demam, gejala gejala klinik yang tidak spesifik
misalnya anoreksia. Nyeri punggung, nyeri tulang dan persediaan,
nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya (Ngastiyah, 2005).

b.

Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dan 3 dari demam dan
umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tuniquet yang positif
mudah terjadi perdarahn pada tempat fungsi vena, petekia dan
purpura. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran
cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. Perdarahan
gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat
(Ngastiyah, 2005).

c.

Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun
pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan
dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan
kemungkinan akan terjadi renjatan pada penderita (Ngastiyah, 2005).

d.

Renjatan (Syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya
penderita, dimulai dengan tanda tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit
lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis
disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya
menunjukkan prognosis yang buruk (Ngastiyah,2005).

6. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai :
1)

Ig.G dengue positif

2)

Trombositopeni (100.000/ml)

3)

Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis)

4)

Hemoglobin meningkat

5)

Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat lebih dari 20%)

6)

Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,


hiponatremia dan hipokalemia

Pada hari kedua dan ketiga terjadi lekopenia, netropenia, aneosinophilia,


peningkatan limposit, monosit dan basofil

1)

SGOT atau SGPT darah mungkin meningkat

2)

Ureum dan pH darah mungkin meningkat

3)

Waktu perdarahan memanjang

4)

Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis


metabolik : PCO2 < 35 40 mmHg, HCO3 rendah

b. Pemeriksaan Serologi
Pada pemerikaan ini di lakukan pengukuran literantibodi pasien dengan
cara haemaglutination nibitron test (HIT test) atau dengan uji
peningkatan komplemen pada pemeriksaan serologi di butuhkan dua
bahan pemeriksaan yaitu pada masa aku atau demam dan masa
penyembuhan (104 minggu setelah awal gejala penyakit) untuk
pemeriksaan serologi ini di ambil darah vena 2 5 ml
c. Pemeriksaan sianosis yang menunjang antara lain foto thorak mungkin di
jumpai

pleural

effusion,

pemeriksaan

USG

splenomegali
7. Penatalaksanaan
Menurut Padila (2013) :
a. DHF tanpa Renjatan :
1)

Beri minum banyak (11/2 2 Liter / hari )

hepatomegali

dan

2) Obat anti piretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan


kompres
3) Jika kejang maka dapat diberi luminal ( antionvulsan) untuk anak <
1 tahun dosis 50 mg lm dan untuk anak > 1 tahun 75 mg lm. Jika
15 menit kejang belum teratasi, beri lagi luminal dengan dosis 3mg
/ kb BB (anak< 1th dan pada anak > 1th diberikan 5mg/kg BB
4) Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
b. DHF dengan Renjatan
1)

Pasang infus RL 500cc/6jam/60kg

2) Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander (
20 -30 ml/ kg BB )
3) Transfusi jika Hb dan Ht turun
8. Komplikasi
a. Perdarahan luas
b. Shock atau renjatan
c. Efusi Pleura
d. Penurunan Kesadaran

B. Konsep Asuhan Keperawatan Teori.


1. Konsep Tumbuh Kembang
1. Pengertian
Pertumbuhan (growth) merupakan bertambahnya ukuran
fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena
adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga
disebabkan oleh bertambahnya besarnya sel. Perkembangan
(development) adalah bertambahnya kemampuan dan struktur atau
fungsi tubuh yang lebih lompleks dalam pola teratur, serta dapat
diperkirakan dan diramalkan sebagai hasil proses diferensiasi sel,
jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang terorganisasi
(Nursalam,

2013).

Perkembangan

adalah

bertambahnya

kemampuan (skill) dalam srtuktur dan fungsi tubuh yang lebih


kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses
pematangan. Menyangkut adanya proses diferensasi sel - sel tubuh,
jaringan tubuh, organ dan sistem organ yang berkembang
sedemikian rupa sehingga masing - masing dapat memenuhi
fungsinya. Termasuk perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah
laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (Ngastiyah, 2005).

2. Pola pertumbuhan fisik yang terarah


Terdapat tiga pertumbuhan fisik yang terarah (directional), yaitu :
1) Cephalocaudal merupakan pola pertumbuhan dari arah kepala
ke kaki (head to tail direction), ditandai dengan perkembangan
bagian kepala pertama kali, yang berukuran besar dan ssngat

kompleks, baru selanjutnya bagian bawah yang berukuran lebih


kecil dan sederhana. Tampak jelas pada masa pranatal dan
pascanatal, bayi mencapai kontrol motorik di kepala terlebih
dulu baru dilanjutkan ke bagian ekstrimitas bagian bawah
seperti tangan dan kaki, menahan punggung sebelum berdiri,
menggunakan mata lebih dulu sebelum tangan dan mampu
mengotrol tangan sebelum kaki (Hidayat, 2006).
2) Proksimodistal merupakan pola pertumbuhan dari arah yang
dekat ke arah yang jauh (near to far direction), dimulai dengan
menggerkkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat /
sumbu tengah, kemudian menggerakkan anggota gerak yang
lebih jauh atau ke arah bagian tepi, seperti menggerakkan bahu
dulu kemudian jari - jari (Hiadayat, 2006).
3) Diferensiasi merupakan pola pertumbuhan dari aktivitas dan
fungsi yang sederhana ke yang lebih kompleks. Seluruh area
perkembangan (fisik, mental, sosial, emosional) mengikuti pola
ini (Hidayat, 2006).
3. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola tumbuh kembang umum ke khusus (mass to specific) dimulai
dari sederhana hingga kompleks, seperti gerakan melambaikan
tangan dahulu kemudian baru memainkan jari atau menggerskkan
lengan atas, menggerakkan bawah telapak tangan sebelum
menggerakkan jari tangan, atau menggerakkan badan sebelum
menggunakan dua tungkai untuk menyangga, melangkah dan
berjalan (Hidayat, 2006).

10

4. Pola perkembangan sejalan dengan tahapan perkembangan


Pada pola ini, tahapan perkembangan dibagi menjadi beberapa
bagian yang memiliki prinsip atau ciri khusus sesuai tahapannya
yaitu :
1) Masa neonatus 0 - 28 hari terjadi proses penyesuaian dengan
kehidupan di luar rahim dan hampir sedikit perubahan pada
aspek pertumbuhan fisik.
2) Masa bayi 29 hari 1 tahun terjadi perkembangan sesuai
dengan

lingkungan

yang

mempengaruhi

dan

memiliki

kemampuan untuk melindungi dan menghindar dari hal yang


mengancam diri.
3) Masa anak 1 2 tahun terjadi perkembangan yang cepat dalam
aspek sifat, sikap, minat, dan cara penyesuaian dengan
lingkungan, dalam hal ini keluarga dan teman sebaya
4) Masa remaja, terjadi perubahan ke arah dewasa yaitu
kematangan pada tanda-tanda pubertas (hidayat, 2006).
5. Pola perkembangan sejalan dengan proses maturasi
Merupakan proses maturasi (kematangan) dari organ tubuh seperti
ketika alat gerak (kaki) pada bayi berfungsi untuk berjalan, maka
proses tumbuh kembang diawali dari duduk, merangkak, berdiri,
lalu berjalan sedikit dan akhirnya berjalan dengan beberapa
langkah (Hidayat, 2006).
6. Tahapan tumbuh kembang
1) Tahapan tumbuh kembang usia 0 - 2 tahun
a) Masa pranatal
(1) Fase embrio (mulai konsepsi - 8 minggu)
Dimulai pada minggu pertama ditandai dengan
pertumbuhan yang cepat dari ovum menjadi suatu
organisme sampai terbentuknya manusia.

11

(2) Fase fetus (9 minggu sampai lahir)


Terjadinya peningkatan fungsi organ,penambahan
ukuran

panjang

dan

berat

badan,

terutama

pertumbuhan serta penambahan jaringan subkutan dan


jaringan otot.
b) Masa pascanatal
Dibagi ke dalam beberapa fase berikut :
(1) Masa neonatus (0 - 28 hari)
Yaitu masa dimana terjadinya kehidupan yang baru
dalam ekstra uteri. Pada masa ini terjadi proses
adaptasi semua sistem organ tubuh, dimulai dari
aktivitas

pernafasan,

menjadi

lebih

besar,

perubahan
kemudian

ukuran

jantung

gerakan

bayi

meningkat untuk memenuhi kebutuhan gizi seperti


menangis, memutar - mutar kepala, menghisap
(rooting reflex), menelan dan di ikuti perubahan sistem
organ tubuh yang lain. Perkembangan motorik kasar
diawali dengan gerakan seimbang pada tubuh seperti
mengangkat

kepala,

perkembangan

bahasa

ditunjukkan dengan adanya kemampuan bersuara


(menangis) dan bereaksi terhadap suara atau bunyi,
perkembangan adaptasi sosial ditandai dengan adanya
tanda - tanda tersenyum dan mulai menatap muka
untuk mengenali seseorang.
(2) Masa bayi (29 hari - 1 tahun)

12

Pada masa bayi, tahap tumbuh kembang dapat


dikelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu :
(a) Usia 1 - 4 bulan
Tumbuh kembang tahap ini diawali dengan
perubahan berat badan. Bila gizi anak baik, maka
perkiraan berat badan akan mencapai 700 - 1.000
g/bulan. Pertumbuhan tinggi badan agak stabil,
tidak mengalami kecepatan dalam pertumbuhan
tinggi

badan.

Perkembangan

motorik

kasar

ditunjukkan dengan kemampuan mengangkat


kepala saat tengkurap mencoba duduk sebentar
dengan ditopang, perkembangan bahasa ditandai
adanya kemampuan bersuara dan tersenyum,
perkembangan adaptasi sosial ditandai dengan
kemampuan untuk mengamati tangan, tersenyum
spontan dan membalas bila diajak tersenyum.
(b) Usia 4 - 8 bulan
Pertumbuhan pada usia ini ditandai dengan
perubahan berat badan menjadi dua kali berat
badan pada waktu lahir. Rata - rata kenaikan berat
badan adalah 500 - 600 g/bulan, apabila
mendapatkan gizi yang baik. Pertumbuhan tinggi
badan tidak mengalami kecepatan dan stabil

13

berdasarkan pertambahan umur. Perkembangan


motorik kasar ditandai dengan perubahan aktivitas
seperti

mencoba

telungkup

pada

alas

dan

mengangkat kepala dengan melakukan gerakan


menekan kedua tangan. Perkembangan bahasa
ditandai dengan dapat menirukan bunyi atau kata kata, menoleh kearah suara atau sumber bunyi,
tertawa, menjerit, dan sumber suara yang lain.
Perkembangan adaptasi sosial ditandai adanya
perasaan takut, akan kehadiran orang asing, mulai
bermain mainan.
(c) Usia 8 - 12 bulan
Pada usia ini pertumbuhan berat badan dapat
mencapai tiga kali berat badan lahir, pertambahan
berat badan per bulan sekitar 350 - 450 gram pada
usia 7 - 9 bulan, 250 - 350 gram, pada usia 10 - 12
bulan,

bila

memperoleh

gizi

yang

baik.

Pertumbuhan tinggi badan sekitar 1,5 kali tinggi


badan pada saat lahir. Pada usia satu tahun,
pertumbuhan tinggi badan masih stabil dan
diperkirakan mencapai 75 cm. Perkembangan
motorik kasar ditandai dengan kemampuan untuk
duduk

tanpa

berpegangan,

berdiri

dengan

14

pegagan. Perkembangan bahasa ditandai dengan


kemampuan mengatakan "papa" atau "mama"
yang

belum

spesifik,

mengoceh

hingga

mengatakan dengan spesifik, dapat mengucapkan


1 - 2 kata. Sedangkan perkembangan adaptasi
sosial

dimulai

dengan

bertepuk

tangan,

menyatakan keinginan, minum dengan cangkir,


menirukan gerakan orang lain dan sebagainya
(Hidayat, 2006).
(d) Masa anak (1 - 2 tahun)
Pada

masa

ini

anak

mengalami

beberapa

perlambatan dalam pertumbuhan fisik. Pada tahun


kedua, anak hanya mengalami kenaikan berat
badan sekitar 1,5 - 2,5 kg dan penambahan tinggi
badan 6 - 10 cm. Perkembangan motorik kasar
ditandai dengan melangkah dan berjalan dengan
tegak. Perkembangan bahasa ditandai dengan
lebih

banyaknya

dimiliki

oleh

mengenal,

perbendaharaan
anak,

dan

kata

kemampuan

merespon

orang

yang

meniru,
lain.

Perkembangan adaptasi sosial ditandai dengan


kemampuan

anak

untuk

menyuapi

boneka,

15

menggosok gigi, dan mencoba memakai baju


(Hidayat, 2006).
7. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh
terhadap tumbuh kembang anak, yaitu faktor genetik dan
linkungan (Ngastiyah, 2005).

a) Faktor genetik

Yang termasuk faktor genetik adalah berbagai faktor bawaan


yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa
(Ngastiyah, 2005). Faktor tersebut dapat ditentukan dengan
adanya intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur,
tingkat sensivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas,
dan berhentinya pertumbuhan tulang (Hidayat, 2006).
b) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi :
(a) Lingkungan pranatal Lingkungan ini dimulai dari masa
konsepsi hingga lahir, meliputi faktor gizi ketika ibu sedang
hamil, lingkungan mekanis seperti posisi janin dalam
uterus, zat kimia atau toksin, seperti penggunaan obat,
alkohol atau kebiasaan merokok sang ibu ketika hamil.
Faktor hormonal seperti somatotropin, plasenta, tiroid,
insulin juga berpengaruh pada pertumbuhan janin. Faktor

16

lingkungan yang lain adalah radiasi, infeksi, rendahnya


imunitas,stress dan kekurangan oksigen pada janin juga
menyebabkan

gangguan

dalam

plasenta

yang

mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah


(Ngastiyah, 2005).

(b) Lingkungan pascanatal


a) Lingkungan biologis
Ras / suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi, perawatan
kesehatan, kepekaan tehadap penyakit, penyakit kronis,
fungsi metabolisme dan hormon.
b) Faktor fisik
Cuaca, musim dan keadaan geografis suatu daerah,
sanitasi, keadaan rumah dan radiasi.
c) Faktor psikososial
Stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman,
kelompok sebaya, stress, sekolah, cinta dan kasih,
kualitas interaksi anak dan orang tua.
d) Faktor keluarga
Pekerjaan / pendapatan keluarga, pendidikan ayah / ibu,
jumlah saudara, jenis kelamin, stabilitas rumah tangga,
kepribadian ayah / ibu, ada istiadat dan norma - norma,

17

agama dan lainnya termasuk kehidupan politik dalam


masyarakat (Ngastiyah, 2005).

8. Kebutuhan dasar anak


Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang secara umum digolongkan
menjadi tiga kebutuhan dasar, yaitu :
a) Kebutuhan fisik biomedis (Asuh)
Kebutuhan fisik biomedis (asuh) meliputi pangan / gizi merupakan
kebutuhan terpenting, perawatan kesehatan dasar, antara lain
imunisasi, pemberian ASI, pembinaan bayi / anak secara teratur,
pengobatan jika sakit, papan / pemukiman yang layak, higiene
perorangan, sanitasi lingkungan yang baik, sandang, kesegaran
b)

jasmani, rekreasi dan lain - lain.


Kebutuhan sosial / kasih sayang (Asih) Pada tahun prtama kehidupan,
hubungan yang erat dan mesra antara ibu dan merupakan syarat mutlak
untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental,
maupun psikososial. Jika kurang kasih sayang pada tahun pertama
kehidupan anak, akan berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak
baik fisik, mental maupun sosial emosi yang disebut "sindrom
deprivasi mama". Kasih sayang dari orang tua (ayah/ibu) akan

18

menciptakan ikatan yang erat (Bounding) dan kepercayaan dasar


(basic trust).
c) Kebutuhan stimulasi mental (Asah)
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar pada
anak. Stimulasi mental (asah) ini mengembangkan perkembangan
mental psikososial, kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas,
agama, kepribadian, moral-etika dan produktivitas (Ngastiyah, 2005)
d) Perkembangan kognitif
Tahap sensiromotor (0 - 2 tahun) pada tahap ini, anak mulai mampu
mengasimilasi dan engakomodasi informasi dengan cara melihat,
mendengar, dan menyentuh. Sebagian besar gerakan pada masa ini
diarahkan pada mulut. Gerakan fisik menunjukkan sifat egosentris
anak, anak mulai menyadari naluri sebab dan akibat dan memecahkan
masalah secara coba - coba (trial and error) (Hidayat, 2006).
e) Perkembangan psikoseksual
Perkembangan psikoseksual anak pertama kali dikemukakan oleh
Sigmund Freud, psikoseksual merupakan proses perkembangan anak
dengan pertambahan kematangan fungsi struktur dan kejiwaan yang
dapat menimbulkan dorongan untuk mencari rangsangan dan
kesenangan untuk menjadi dewasa. Perkembangan psikoseksual
melalui tahapan berikut :
a) Tahap oral (0 - 1 tahun)
Kenikmatan didapat dengan cara menghisap, mengunyah atau
bersuara. Masalah yang terjadi padda tahap ini adalah masalah
menyapih dan makan.
b) Tahap anal (1 - 3 tahun)
Kepuasan didapat melalui pengeluaran feses, anak menunjukkan
keakuannya, bersikap narsistik (cinta terhadap dirinya sendiri) dan

19

sangat egoistik. Masalah yang dapat muncul pada tahap ini adalah
obsesif atau gangguan pikiran, pandangan sempit, sifat introver
(tertutup)

dan

ekstrover

(terbuka

tetapi

kurang

mampu

mengendalikan diri).
f) Perkembangan psikososial
Teori perkembangan psikososial dikemukakan oleh Erikson yang
mengatakan

bahwa

anak

dalam

perkembangannya

selalu

dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Pendapatan rentang kehidupan


yang digunakan oleh Erikson ini meliputi delapan tahap, namun
hanya lima tahap pertama yang terkait dengan masa kanak - kanak,
yaitu :
a) Tahap percaya versus tidak percaya (0 -1 tahun)
Atribut paling penting bagi perkembangan kepribadian yang
sehat adalah kepercayaan (trust). Pada tahap ini bayi sudah
membangun rasa percaya kepada seseorang, baik orang tua
maupun orang yang mengasuhnya. Kesalahan dalam mengasuh
pada tahap ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya.
b) Tahap kemandirian versus rasa malu dan ragu (1 - 3 tahun)
Anak sudah mulai mencoba mandiri dalam tugas tumbuh
kembang. Misalnya dalam hal motorik dan bahasa, anak sudah
mulai latihan jalan sendiri dan berbicara. Perasaan negatif
seperti ragu dan malu muncul ketika membuat pilihan yang
salah, dipermalukan oleh orang lain, ketika orang tua terlalu
melindungi dan tidak memberikan kemandirian dan sebagainya
(Hidayat, 2006).
g) Perkembangan psikomoral

20

Perkembangan psikomoral dikemukakan oleh Kohlberg yang


mengatakan bahwa yang tumbuh kembang anak dapat ditinjau dari
segi moralitas yang terdiri atas tiga tingkat utama dan masing
-masing dengan dua tahap,yaitu :
a) Tingkat prakonvensional
Pada tingkat ini moralitas berasal dari luar karena anak
mematuhi aturan - aturan yang dibuat oleh orang yang
berwenang. Tingkat ini dibagi ke dalam dua tahap :
(a) Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment and
obedience orientation). Pada tahap ini anak menghindari
hukuman dan mematuhi orang yang dianggapnya
mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan hukuman
tersebut. Anak belum mengenal konsep moral yang
mendasari konsekuensi tersebut.
(b) Tahap orientasi relativitas instrumental (instrumental
relativist orentiation). Perilaku yang benar adalah
memuaskan kebutuhan anak itu sendiri (kadang - kadang
juga kebutuhan orang lain). Anak sudah mulai menyadari
aspek timbal balik dn berbagi dengan orang lain, namun
hal tersebut belum disertai elemen kesetiaan, penghargaan
atau keadilan.
(c) Tingkat konvensional
Anak mulai peduli dengan nilai kepatuhan dan kesetiaan,
serta berusaha memenuhi aturan sosial maupun harapan
orang - orang yang penting bagi dirinya. Yaitu :
(a) Orientasi
keselarasan
dengan
orang

lain

(interpersonal concordance) atau menjadi anak yang

21

baik. Pada tahap ini anak berupaya menyelaraskan


diri

dengan

lingkungan

serta

membantu

dan

menyenangkan orang lain.


(b) Orientasi hukum dan ketertiban (law and ordrer).
Perilaku yang dianggap benar adalah mematuhi
aturan,

menghormati

orang

lain

dan

menjaga

ketertiban sosial. Aturan dan wewenang dapat bersifat


sosial atau keagamaan, tergantung pada hal yang
dianggap lebih penting.
(d) Tingkat pascakonvensional, otonom atau prinsipil. Anak
mulai ingin tahu tentang nilai - nilai dan prinsip - prinsip
moral yang mendasari aturan, yaitu :
(a) Orientasi kontrak sosial. Anak

sudah

mulai

menggunakan prinsip moral untuk mematuhi atau


melanggar aturan, adanaya kesadaran yang jelas
bahwa nilai dan pandangan pribadi merupakan
sesuatu yang relatif.
(b) Orientasi asas etika universal. Keputusan yang
diambil didasarkan pada suara hati, prinsip dan etika
yang dipilih sendiri serta berpedoman kepada aturan aturan yang umum di masyarakat (Hidayat, 2006).
9. Imunisasi pada anak
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekbalan pada bayi dan anak
dengan memasukan vkasin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti
untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Dalam pemberian imunisasi

22

pada anak dapat dilakukakan dengan beberapa imunisasi yang dianjurkan


diantaranya :
a) Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) Imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya TBC, waktu pemberian Imunisasi BCG
pada umur 0-11 bulan, akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi
umur 2 atau 3 bulan.
b) Imunisai DPT ( Diphteri, Pertusis dan Tetanus) Imunisasi yang
digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri. Pemberian
imunisasi DPT adalah 3 kali, waktu pemberian imunisasi DPT antara
umur 2-11 bulan dengan interval 4 minggu.
c) Imunisasi polio Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada
anak. Pemberian imunisasi polio adalah emapat kali.
d) Imunisasi Campak, Imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit campak.
e) Imunisasi Hepatitis B, imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam
bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis tiga kali. Waktu
pemberian imunisasi hepatitis B pada umur 0-11 bulan. Cara
pemberian imunisasi hepatitis ini adalah intra muskular (Hidayat,
2009)
2. Konsep Dasar Volume Cairan
a. Kebutuahan Cairan Tubuh Bagi Manusia
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia
secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh,
hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sementara itu, sisanya
merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori

23

persentase cairan tubuh berdasarkan umur adalah: bayi baru lahir 75%
dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita
dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari total berat
badan. Persentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada faktor usia,
lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin. Jika lemak tubuh sedikit, maka
ciran tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan
tubuh lebih sedikit dibanding pria karena pada wanita dewasa jumlah
lemak dalam tubuh lebih banyak dibanding pada pria (Hidayat, 2006).
Tabel 2.4. Kebutuhan Air Berdasarkan Umur dan Berat Badan
Umur

Kebutuhan Air
Jumlah air per 24 jam ml/kg berat badan

3 hari
1 tahun
2 tahun
4 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
Dewasa
b.

250-300
1150-1300
1350-1500
1600-1800
2000-2500
2200-2700
2200-2700
2400-2600

80-100
120-135
115-135
115-125
100-110
70-85
50-60
20-30

Pengaturan Volume Cairan Tubuh


Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan
antara jumlah cairan yang masuk dan jumlah cairan yang

keluar.
c. Asupan cairan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang
dewasa adalah 2500 cc per hari. Asupan cairan dapat
langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain.
Pengaturan

mekanisme

keseimbangan

cairan

ini

menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus

24

dalam

rangka

mengatur

keseimbangan

cairan

adalah

hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan volume


cairan tubuh di mana asupan cairan kurang atau adanya
perdarahan, maka curah jantung menurun, menyebabkan
terjadinya penurunan tekanan darah.
d. Pengeluaran Cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai

bagian

dalam

mengimbangi asupan cairan pada orang dewasa, dalam kondisi


normal adalah 2300 cc. Jumlah air banyak keluar berasal dari
ekskresi ginjal (berupa urine), sebanyak 1500 cc per hari pada
orang dewasa. Hal ini juga dihubungkan dengan banyaknya
asupan air melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan
pengeluaran air melalui ginjal mudah diukur, dan sering
dilakukan dalam praktik klinis. Pengeluaran cairan dapat pula
dilakukan melalui kulit (berupa keringat) dan saluran
pencernaan (berupa feses). Pengeluaran cairan dapat pula
dikategorikan sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat
diukur karena, khususnya pada pasien luka bakar atau luka
besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui penguapan)
meningkat sehingga sulit untuk diukur. Pada kasus seperti ini,
bila volume urine yang dikeluarkan kurang dari 500 cc per hari,
diperlukan adanya perhatian khusus.
Pasien dengan ketidakadekuatan

pengeluaran

cairan

memerlukan pengawasan asupan dan pengeluaran cairan secara


khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan,

25

demam, keringat, dan diare dapat menyebabkan kehilangan


cairan secara berlebihan. Kondisi lain yang dapat menyebabkan
kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara
terus-menerus. Hasil-hasil dari pengeluaran cairan adalah urine,
keringat dan feses (Hidayat, 2006).
e. Jenis Cairan
1) Cairan Nutrien
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan sebanyak
450 kalori setiap harinya. Cairan nutrien (zat gizi) melalui
intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk
karbohidrat, nitrogen, dan vitamin yang penting untuk
metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien
dapat berkisar antara 200-1500 kalori per liter. Cairan
nutrien terdiri atas:
(a) Karbohidrat dan air, contoh: dextrose (glukosa),
levulose (fruktosa), invert sugar (1/2 dexstrose dan
levulose).
(b) Asam amino,

contoh:

amigen,

aminosol,

dan

travamin.
(c) Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.
2) Blood Volume Expanders
Blood volume expanders merupakan bagian dari jenis
cairan yang berfungsi meningkatkan volume pembuluh
darah setelah kehilangan darah atau plasma. Apabila
keadaan darah sudah tidak sesuai, misalnya pasien dalam
kondisi perdarahan berat, maka pemberian plasma akan

26

mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien dengan


luka bakar berat, sejumlah besar cairan hilang dari
pembuluh darah di daerah luka. Plasma sangat perlu
diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood
volume expanders antara lain: human serum albumin dan
dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini
mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung
f.

dapat meningkatkan jumlah volume darah (Hidayat, 2006).


Masalah Kebutuhan Cairan
Menurut Hidayat, (2006) masalah kebutuhan cairan adalah
sebagai berikut.
1) Hipovolume atau Dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal terjadi karena penurunan
asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh
akan

merespons

kekurangan

cairan

tubuh

dengan

mengosongkan cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat


penurunan cairan interstisial, tubuh akan mengalirkan
cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada
pasien diare dan muntah. Ada tiga macam kekurangan
volume cairan eksternal, yaitu:
(a) Dehidrasi isotonik, terjadi jika tubuh kehilangan
sejumlah cairan dan elektrolit secara seimbang.
(b) Dehidrasi hipertonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih
banyak air daripada elektrolit.
(c) Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh kehilangan lebih
banyak elektrolit daripada air.

27

Kehilangan

cairan

ekstrasel

secara

berlebihan

menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume)


dan perubahan hematokrit. Pada keadaan dini, tidak terjadi
perpindahan cairan daerah intrasel ke permukaan, sebab
osmolalitasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan
ekstrasel dalam waktu yang lama, kadar urea, nitrogen, dan
kreatinin meningkat dan menyebabkan perpindahan cairan
intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam
tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu
cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein
dan klorida/ natrium akan menyebabkan ekskresi atau
pengeluaran urine secara berlebihan serta berkeringat dalam
waktu lama dan terus menerus. Hal ini dapat terjadi pada
pasien yang mengalami gangguan hipotalamus, kelenjar
gondok, ginjal, diare, muntah secara terus-menerus,
pemasangan drainase, dan lain-lain.
g. Macam dehidrasi berdasarkan derajatnya:
1. Dehidrasi berat, dengan ciri-ciri:
pengeluaran/kehilangan cairan sebanyak 4-6 lt, serum
natrium mencapai 159-166 mEq/lt, hipotensi, turgor kulit
buruk,
2)

oliguria,

nadi

dan

pernapasan

meningkat,

kehilangan cairan mencapai > 10% BB.


Dehidrasi sedang, dengan ciri-ciri: kehilangan cairan 2-4
lt atau antara 5-10% BB, serum natrium mencapai 152158 mEq/lt, mata cekung.

28

3)

Dehidrasi ringan, dengan ciri-ciri kehilangan cairan

mencapai 5% BB atau 1,5-2 lt.


3. Konsep Nutrisi
a. Definisi Nutrisi
Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan
oleh tubuh yang bertujuan menghasilkan energi dan digunakan dalam
aktivitas tubuh (Hidayat, 2006).
b. Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah
sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ
asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usus halus
bagian distal, sedangkan organ asesoris terdiri atas hati, kantong
empedu, dan pancreas. Ketiga organ ini membantu terlaksananya
sistem pencernaan makanan secara kimiawi (Hidayat, 2006).
c. Macam-Macam Nutrisi
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan zat gizi yang terdapat dalam makanan,
pada umumnya dalam bentuk amilum. Pembentukan amilum
terjadi dalam mulut melalui enzim ptyalin yang ada dalam air
ludah. Amilum diubah menjadi maltosa, kemudian diteruskan ke
dalam lambung. Dari lambung hidrat arang dikirim terus ke usus
dua belas jari. Getah pankreas yang dialirkan ke usus dua belas jari
mengandung amilase. Dengan demikian, sisa amilum yang belum
diubah menjadi maltosa oleh amilase pankreas diubah seluruhnya
menjadi maltosa. Maltosa ini kemudian diteruskan ke dalam usus
halus. Usus halus mengeluarkan getah pankreas hidrat arang, yaitu
maltosa yang bertugas mengubah maltosa menjadi dua molekul

29

glukosa dan galaktosa. Setelah berada dalam usus halus,


seluruhnya diubah menjadi monosakarida oleh enzim-enzim tadi
(Hidayat, 2006).
Penyerapan karbohidrat yang dikonsumsi/dimakan masih dapat
ditemukan dalam tiga bentuk, yaitu polisakarida, disakarida, dan
monosakarida. Disakarida dan monosakarida mempunyai sifat
mudah larut dalam air sehingga dapat diserap melewati dinding
usus/ mukosa usus mengikuti hukum difusi osmose dan tidak
memerlukan tenaga serta langsung memasuki pembuluh darah.
Proses penyerapan yang tidak memerlukan tenaga dan mengikuti
hukum difusi osmose dikenal sebagai penyerapan pasif (Hidayat,
2006).
2. Lemak
Pencernaan lemak dimulai dalam lambung (walaupun hanya
sedikit), karena dalam mulut tidak ada enzim pemecah lemak.
Lambung mengeluarkan enzim lipase untuk mengubah sebagian
kecil lemak menjadi asam lemak dan gliserin, kemudian diangkut
melalui getah bening dan selanjutnya masuk ke dalam peredaran
darah untuk kemudian tiba di hati. Sintesis kembali terjadi dalam
saluran getah bening, mengubah lemak gliserin menjadi lemak
seperti aslinya (Hidayat, 2006).
Penyerapan lemak dilakukan secara pasif setelah lemak diubah
menjadi gliserol asam lemak. Asam lemak mempunyai sifat
empedu, asam lemak yang teremulsi ini mampu diserah melewati
dinding usus halus. Penyerapan membutuhkan tenaga, lagi pula

30

tidak semua lemak dapat diserap, maka penyerapan lemak


dikatakan dengan cara aktif selektif (Hidayat, 2006).
3. Protein
Kelenjar ludah dalam mulut tidak membuat enzim protease. Enzim
protease baru terdapat dalam lambung, yaitu pepsin, yang
mengubah protein menjadi albuminosa dan peptone (Hidayat,
2006). Kemudian, trispsin dalam usus dua belas jari yang berasal
dari pankreas mengubah sisa protein yang belum sempurna
menjadi albuminosa dan pepton. Dalam usus halus, albuminosa
dan peptone seluruhnya diubah oleh enzim pepsin menjadi asamasam amino yang siap untuk diserap (Hidayat, 2006).
Protein yang telah diubah ke dalam bentuk asam amino
mempunyai sifat larut dalam air. Seperti halnya hidrat arang, asam
amino yang mudah larut dalam air ini juga dapat diserap secara
pasif dan langsung memasuki pembuluh darah (Hidayat, 2006).
Tabel 2.5 Kebutuhan Protein per Hari
Berat Badan

Tinggi Badan

Umur
0-6 bulan
7-12 bulan
1-3 tahun
4-6 tahun
7-9 tahun

Protein (gr)
(kg)
5,5
8,5
12
18
23,5

(cm)
60
71
89
108
120

12
15
23
32
36

Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip


dari Solihin Pudjiadi, 2011.
4. Mineral

31

Mineral tidak membutuhkan pencernaan. Mineral hadir dalam


bentuk tertentu sehingga tubuh mudah untuk memprosesnya.
Umumnya, mineral diserap dengan mudah melalui dinding usus
halus secara difusi pasif maupun transportasi aktif (Hidayat, 2006).
Mekanisme transportasi aktif penting jika kebutuhan tubuh
meningkat atau adanya diet rendah kadar mineral. Hormon adalah
zat yang memegang peranan penting dalam mengatur mekanisme
aktif ini. Penyerapan dapat lebih jauh dipengaruhi oleh isi sistem
pencernaan (Hidayat, 2006).
Beberapa senyawa organik tertentu, seperti asam oxalit, akan
menghambat penyerapan kalsium. Mineral dipakai dalam berbagai
hal. Beberapa dari mineral adalah komponen esensial dari jaringan
tubuh, sedang yang lainnya esensial pada proses kimia tertentu
(Hidayat, 2006).
Tabel 2.6 Jenis Mineral, Sumber dan Fungsi
Jenis
Mineral
Kalsium

Sumber
Susu

Fungsi
Pembentukan gigi dan tulang,
aktivitas neuromuskular, dan

Fosfor

Telur, daging,

koagulasi (penggumpalan) darah


Penyangga pembentukan gusi

Yodium

dan susu
Garam

dan tulang
Pengaturan metabolisme tubuh

beryodium

dan memperlancar pertumbuhan

dan makanan
laut

32

Besi

Hati, telur,

Komponen hemoglobin dan

Magnesium

dan daging
Biji-bijian,

membantu oksidasi dalam sel


Pengaktifan enzim, pembentukan

susu, dan

gigi dan tulang, dan membantu

daging
Makanan laut

kegiatan neuromuskular.
Bahan pembentuk enzim dan

dan hati

insulin

Zinc

5. Vitamin
Pencernaan vitamin melibatkan penguraiannya menjadi
molekul-molekul yang lebih kecil sehingga dapat diserap
dengan efektif. Beberapa penyerapan vitamin dilakukan dengan
difusi sederhana, tetapi sistem transportasi aktif sangat penting
untuk memastikan pemasukan yang cukup (Hidayat, 2006).
Vitamin yang larut dalam lemak diserap oleh sistem
transportasi aktif yang juga membawa lemak ke seluruh tubuh,
sedang vitamin yang larut dalam air mempunyai beberapa
variasi mekanisme transportasi aktif. Sebagai contoh, faktor
dasar yang dihasilkan oleh lambung memudahkan penyerapan
vitamin B12. Tanpa faktor tersebut, tubuh tidak mampu
menyerap dengan cukup, sehingga menyebabkan terjadinya
defisiensi vitamin tersebut (Hidayat, 2006).
Tabel 2.7 Jenis Vitamin, Sumber dan Fungsi
Jenis Vitamin
Vitamin A

Sumber
Lemak hewani,

Fungsi
Membantu

mentega, keju,

pertumbuhan sel tubuh

kuning telur, susu

dan penglihatan,

33

lengkap, minyak

menyehatkan rambut

ikan, sayuran hijau,

dan kulit, integritas

buah yang kuning,

membran epitel, dan

dan sayuran

mencegah

Vitamin B1

Ikan, daging ayam

xerophtalmia
Metabolisme

(thiamin) larut

tanpa lemak,

karbohidrat,

dalam air

kacang-kacangan,

membantu kelancaran

dan susu

sistem persarafan, dan


mencegah beri-beri
atau penyakit yang

Vitamin B2

Telur, sayuran hijau,

ditandai neuritis
Membantu

(riboflavin) larut

daging tanpa lemak,

pembentukan enzim,

dalam air

susu, dan biji-bijian

pertumbuhan, dan
membantu adaptasi

Vitamin B3

Daging tanpa

cahaya dalam mata.


Metabolisme

(niacin)

lemak, hati, ikan,

karbohidrat, lemak,

kacang-kacangan,

protein, dan komponen

biji-bijian, telur dan

enzim serta mencegah

hati

menurunnya nafsu

Vitamin B6

Biji-bijian, sayuran,

makan.
Membantu kesehatan

(pyridoksin)

daging, pisang

gusi dan gigi,


pembentukan sel darah
merah, serta
metabolisme
karbohidrat, lemak dan

Vitamin B12

Hati, susu, daging

protein.
Metabolisme protein,

(cyanocobalamin)

tanpa lemak, ikan

membantu

34

dan kerang laut

pembentukan sel darah


merah, kesehatan
jaringan, dan

Vitamin C

Jeruk, tomat, kubis,

mencegah anemia
Menjaga kesehatan

(ascorbut acid)

sayuran hijau, dan

tulang, gigi, dan gusi,

kentang

membantu
pembentukan dinding
pembuluh darah dan
pembuluh kapiler,
kesembuhan jaringan
dan tulang, serta
memudahkan
penyerapan zat besi
dan asam folat.

Vitamin D

Minyak ikan, susu,

Membantu penyerapan

kuning telur,

kalsium dan fosfor

mentega, hati,

serta mencegah

kerang, atau

rakhitis

terbentuk dikulit
akibat pemasangan
sinar matahari

35

Berat

Tinggi

Vit.

Badan

Badan

0-6

(kg)
5,5

(cm)
60

(RE)
350

bulan
7-12

8,5

71

bulan
1-3

12,0

tahun
4-6
tahun
7-9

Umur

Tiamin Riboflavin Niasin

B12

Vit. C

(mg)

(mg)

(mg)

(mg)

(mg)

0,3

0,3

2,5

0,1

25

350

0,4

0,4

3,8

0,1

25

89

350

0,5

0,6

5,4

0,5

25

18,0

108

360

0,7

0,9

7,5

0,7

25

23,5

120

407

0,7

0,9

8,1

0,9

25

tahun

Tabel 2.8 Kebutuhan Vitamin Per Hari

6. Air
Air merupakan zat makanan paling mendasar yang dibutuhkan
oleh tubuh manusia. Tubuh manusia terdiri atas 50%-70% air.
Asupan air secara teratur sangat penting bagi makhluk hidup
untuk bertahan hidup dibandingkan dengan pemasukan nutrisi
lain (Hidayat, 2006).
Bayi memiliki proporsi air yang lebih besar dibandingkan
orang dewasa. Semakin tua umur seseorang, maka proporsi air
di dalam tubuhnya akan semakin berkurang. Pada orang
dewasa, asupan air berkisar antara 1200-1500 cc per hari,
namun dianjurkan sebanyak 1900 cc sebagai batas optimum.
Selain itu, air yang masuk ke tubuh melalui makanan lain
berkisar antara 500-900 cc per hari. Air juga dapat diperoleh
melalui hasil akhir proses oksidasi. Kebutuhan asupan air akan
semakin meningkat jika terjadi peningkatan pengeluaran air,
misalnya melalui keringat, muntah, diare, atau adanya gejalagejala dihidrasi (Hidayat, 2006).
1. Konsep Hospitalisasi Pada Anak
Menurut supartini (2004) dampak hospitalisasi pada anak dan orang tua
meliputi :
a. Pengertian
Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang
berencana darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit,
menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke
rumah. Berbagai perasaan yang sering muncul pada anak, yaitu cemas,
marah, sedih, takut, dan rasa bersalah. (Supartini, 2004).

10

b. Reaksi Anak, Orang Tua Dan Saudara Kandung Terhadap Hospitalisasi


Anak
1) Reaksi anak terhadap hospitalisasi
(a) Masa bayi (0 sampai 1 tahun)
Masalah yang utama terjadi adalah karena dampak dari
perpisahan

dengan

orang tua

sehingga

ada

gangguan

pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Pada anak usia


lebih dari 6 bulan terjai stranger anxiety atau cemas apabila
berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya dan cemas
karena perpisahan. Reaksi yang sering muncul pada anak
adalah menangis, marah, dan banyak melakukan gerakan
sebagai sikap stranger anxiety.
(b) Masa todler (2 sampai 3 tahun)
Anak bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumber
stresnya. Sumber stres yang utama adalah cemas akibat
perpisahan. Responnya yaitu tahap protes, putus asa, dan
pengingkaran (denial). Pada tahap protes perilaku yang
ditunjukkan adalah menangis kuat, menjerit memanggil orang
tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain. Pada
tahap putus asa perilaku yang ditunjukkan adalah menangis
berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat untuk
bermain dan makan, sdih dan apatis. Pada tahap pengingkaran
perilaku yang ditunjukkan adalah secara samar mulai
menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal, dan
anak mulai terlihat menyukai lingkungannya.
(c) Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak

11

Perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menimbulkan


masalah bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Berbagai
macam peasaan muncul pada orang tua, yaitu takut, rasa
bersalah, stres, frustasi, sedih dan cemas.
(d) Reaksi saudara kandung terhadap perawatan anak di rumah
sakit

Reaksi yang sering muncul pada saudara kandung

(sibling) terhadap kondisi ini adalah marah, cemburu, benci,


dan rasa bersalah
(e) Intervensi

keperawatan

dalam

mengatasi

dampak

hospitalisasi
Intervensi yang penting dilakukan pada prinsipnya untuk
meminimalkan stresor, mencegah perasaan kehilangan,
meminimalkan rasa takut terhadap perlakuan dan nyeri, serta
memaksimalkan manfaat perawatan di rumah sakit. Hal harus
diingat adalah behwa bermain merupakan salah satu cara
efektif dalam mengatasi dampak hospitalisasi tersebut.
5. Konsep Pengetahuan Orang Tua
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,
hidung, telinga, dan ebagainya). Dengan sendirinya pada waktu
pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat
dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek

12

(Notoatmodjo, 2010 : 27). Dalam hal ini pengetahuan orang tua (ibu)
tentang penatalaksanaan diare yang diperoleh melalui penginderaan
terhadap objek tertentu.
2. Tingkatan Pengetahuan
Taksonomi Bloom setelah dilakukan revisi oleh Aderson dan
Kratwohl (2001), terdapat perbedaan yang tidak banyak pada dimensi
Kognitif. Anderson (dalam Widodo, 2006: 140) menguraikan dimensi
proses kognitif pada taksonomi Bloom Revisi yang mencakup:
a. Mengingat (Remembering) Dapat mengingat kembali pengetahuan
yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Misalnya seorang
ibu dapat mengingat kembali pengetahuannya tentang bagaimana
perawatan diare pada balita.
b. Memahami (Understanding) Membangun makna dari pesan-pesan
instruksional,

termasuk

komunikasi,termasuk

lisan,

didalamnya:

tulisan,
meringkas,

dan

grafik

menyimpulkan

mengklasifikasi, membandingkan, menjelaskan, mencontohkan.


Misalnya seorang ibu yang mempunyai balita diare dapat
menyimpulkan dan menjelaskan tentang apa dan bagaimana
sebaiknya tindakan yang tepat untuk dilakukan pada anak yang
diare
c. Menerapkan (Apply) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan atau mengaplikasikan materi yang dipelajari pada
situasi dan kondisi yang sebenarnya. Misalnya seorang ibu yang

13

telah paham tentang tata laksana diare pada balita maka dia dapat
mengaplikasikannya pada saat anaknya mengalami diare.
d.

Menganalisis (Analysze) Kemampuan seseorang untuk merinci


atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian
yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagianbagian yang satu dengan yang lainnya. Contoh : seorang ibu dapat
membedakan antara diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi
ringan/sedang, diare dehidrasi berat, dan sebagainya.

e. Mengevaluasi

Evaluating)

Kemampuan

seseorang

untuk

membuat pertimbangan terhadap situasi, nilai atau ide atau mampu


melakukan penilaian berdasarkan kriteria dan standar. Misalnya :
seorang ibu dapat menilai seorang anak menderita diare atau tidak,
dan sebagainya.
f. Menciptakan (Creating) Kemampuan menyusun unsur-unsur untuk
membentuk

suatu

keseluruhan

koheren

atau

fungsional,

mereorganisasi unsur ke dalam pola atau struktur baru, termasuk


didalamnya

hipotesa

(Generating), perencanaan

(Planning),

penghasil (Producing).
3. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu :
a) Pengalaman

14

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain.


Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan
seseorang. Pengalaman ibu sebelumnya dalam merawat anaknya yang
diare

dapat

memperluas

pengetahuannya

tentang

bagaimana

penatalaksanaan diare pada anak yang benar dan tepat.


b) Umur
Makin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalnya
bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses
perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan
tahun. Selain itu, daya ingat seseorang dipengaruhi oleh umur. Dari
uraian ini maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur
seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang
diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu mengingat atau
menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu
pengetahuan akan berkurang. Seorang ibu yang berumur 40 tahun
pengetahuannya akan berbeda dengan saat dia sudah berumur 60
tahun.
c) Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat memperluas wawasan atau pengetahuan seseorang.
Secara umum seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan
mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan
seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Seorang ibu yang
berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang

15

penatalaksanaan diare pada balita dibandingkan dengan ibu yang


tingkat pendidikannya lebih rendah.
d) Sumber Informasi
Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia
mendapatkan informasi yang baik maka pengetahuan seseorang akan
meningkat. Sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang misalnya radio, televise, majalah, koran dan buku. Walaupun
seorang ibu berpendidikan rendah tetapi jika dia memperoleh
informasi tentang penatalaksanaan diare pada balita secara benar dan
tepat maka itu akan menambah pengetahuannya.
e) Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan
seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia
akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas
sumber informasi. Ibu yang keluarganya berpenghasilan rendah akan
sulit

mendapatkan

fasilitas

sumber

informasi.

Tetapi

apabila

berpenghasilan cukup maka dia mampu menyediakan fasilitas sumber


informasi sehingga pengetahuannya akan bertambah.
f) Sosial Budaya
Kebudayaan

setempat

dan

kebiasaan

dalam

keluarga

dapat

mempengaruhi pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap


sesuatu. Misalnya di daerah lain seorang ibu mempunyai persepsi lain

16

tentang cara merawat balita diare maka hal itu akan mempengaruhi
pengetahuannya tentang perawatan diare pada balita.

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF
hendaknya

dilakukan secara komprehensif dengan melakukan proses

keperawatan meliputi :
a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap
pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu (Nursalam, 2008).
Pengkajian mempunyai kegiatan pokok yaitu :
1) Anamnesis
a)

Anamnesis pada DHF meliputi identitas klien, keluhan utama,


riwayat penyait sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, riwayat kesehatan lingkungan.

b) Identitas pasien

17

Identitas mencakup nama, umur, jenis kelamin, status, anak ke


berapa, DHF sering terjadi pada usia dibawah 15 tahun (Soedarto,
2009).
c) Keluhan Utama
Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk
datang ke rumah sakit adalah panas tinggi
d) Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai
menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis.Turunnya
panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah.
Kadang kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan,
mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri
otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata
terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi
(grade III, IV), melena atau hematemesis.
e) Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah di derita dahulu
dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi jika dulu
pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang dengan strain
yang berbeda.
f)

Riwayar penyakit keluarga

18

Penyakit ini tidak ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah
atau ibu. Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang
lain (yang tinggal di dalam satu rumah atau beda rumah dengan
jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena penyakit
ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
g) Riwayat imunisasi
Apabila

anak

memepunyai

kekebalan

yang

baik,

maka

kemunginan akan timbulnya komplikasi dapat di hindarkan


(Nursalam 2005).

Tabel 2.9 Jadwal Pemberian Imunisasi pada Anak

Vaksin

BCG

Pemberian
Imunisasi
1 kali

Selang
Waktu
Pemberian
4 minggu

Umur
Pemberian
0-11 bulan

Keterangan

Untuk bayi
yang

DPT

3 kali

4 minggu

2-11 bulan

Polio

4 kali

4 minggu

0-11 bulan

Campak

1 kali

4 minggu

9-11 bulan

Hepatitis

3 kali

4 minggu

0-11 bulan

di

lahir
rumah

sakitatau
puskesmas
hepatitis B,
BCG

dan

Polio dapat

19

di

berikan

segera
(Supartini, 2004)
h) Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
1) Pertumbuhan ( usia 8 bulan )
Panjang Badan
: 50 75 cm
Lingkar Kepala
: 44 47 cm
Lingkar Lengan Atas
: 11 16 cm
Lingkar Dada
: 43 47 cm
2) Perkembangan ( usia 8 bulan )
a) Motorik Kasar : bayi duduk tanpa ditopang, Bayi duduk
mirng atau condong ke depan.
b) Motorik Halus : bayi dapat menarik tali untuk meraih
objek, bayi menggenggam dengan jempol dan jari-jarinya.
c) Bahasa : bayi dapat menirukan bunyi atau kata-kata,
menoleh kearah suara atau sumber bunyi, tertawa, menjerit,
dan sumber suara lainya.
d) Sosial : bayi dapat meraskan perasaan takut akan kehadiran
orang asing, mulai bermain-main ( Hidayat, 2006)
3) Tahap Perkembangan
a) Psikososial : pada tahap usia 8 bulan bayi sudah
membangun rasa percaya kepada seseorang, baik orang tua
maupun orang yang mengasuhnya
b) Psikoseksual : pada tahap ini bayi suka mengeksplorasi jari
ke dalam mulutnya.

i) Spiritual

20

Anak : usia bayi 0-1 tahun dalam spiritual mengikuti keputusan


kedua orang tua.
Orang tua : Orang tua mempunyai kewajiban menambahkan
spiritualitas sedini mungkin
j) Pengetahuan keluarga
Kaji tentang pengetahuan keluarga menyangkut penyakit yang
di derita pasien saat ini, apakah keluarga mengetahui tentang
penyakit tersebut atau tidak.
k) Pola Kebiasaan Fungsional
a. Pola Istirahat Tidur
Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami
sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas
tidur maupun istirahatnya kurang (Nursalam, 2005).
b. Pola Aktivitas.
Akan terganggu kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri
otot dan persendian (Nursalam, 2005).
c. Pola Nutrisi
Pada anak dengan DHF nafu makan menurun (Nursalam,
2005).
d. Pola Eliminasi urine.
Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria. (nursalam, 2005).
e. Pola Eliminasi alvi Kadang-kadang anak mengalami
diare/konstipasi. Sementara DHF pada grade III-IV bisa terjadi
melena. (nursalam, 2005).
f. Pola kebersihan
Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang
nyamuk aedes aegypti

21

b. Pemeriksaan Fisik (Head toe toe)


Menurut Nursalam (2005 : 164) pemeriksaan fisik pada pasien
DHF, meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung
rambut sampai ujung kaki.
1) Pemeriksaan kepala muka
Inspeksi

: Perhatikan warna penderita DHF terkadang tampak


kemerahan karena demam, kelebatan dan distribusi
pertumbuhan rambut dan kepala, kesimetrisan wajah.

Palpasi

: Terdapat lesi atau benjolan disekitar kepala

2) Pemeriksaan mata
Inspeksi

: Ketajaman penglihatan perlu dinilai, perhatikan simetri


Palpebra bila mata dibuka, sklera berwarna putih, pupil
normal harus berbentuk bulat simetris, refleks cahaya
diperiksa dengan menggunakan lampu kecil normal
akan tampak pupil yang disinari mengecil, lensa normal
adalah jernih, pada penderita DHF mata tampak

22

anemis, jika mengalami dehidrasi mata tampak


cowong.
Palpasi

: Perlu diperiksakan apakah terdapat tanda tanda


pembengkakakan dan nyeri pada mata.

3) Pemeriksaan hidung
Inspeksi

: Perhatikan bentuk hidung normal harus simetris, pada


saat inspirasi dan ekspirasi jika tidak terdapat penyakit
yang berhubungan dengan pernafasan berarti tidak ada
pernafasan cuping hidung. Hidung kadang mengalami
perdarahan (epitaksis) pada grade II, III, IV.

Palpasi

: Epistaksis kemungkinan dapat terjadi pada DHF.

4) Pemeriksaan mulut
Inspeksi

: Perhatikan kesimetrisan bibir, halitosis (bau mulut yang


tidak sedap), perhatikan warna gusi, pada mulut
didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi
perdarahan gusi, sementara tenggorokan mengalami
hypertamia pharing.

Palpasi

: terdapatnya edema dan tanda tanda radang gusi.

5) Pemeriksaan paru paru

23

Inspeksi

: Bentuk dada bentuk simetris dan kadang kadang


terasa sesak, pada poto thorax terdapat adanya cairan
yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura).

Palpasi

: Pada palpasi di kaji tentang keistimewaan


vocalfremitus, adanya nyeri tekan saat bernafas atau
tidak.

Perkusi

: Didapatkan suara sonor.

Auskultasi : Didapatkan rales, ronchi yang biasanya terdapat pada


grade III dan IV.
6) Pemeriksaan abdomen
Palpasi

: Adakah ketegangan dinding perut, dan nyeri tekan,


palpasi organ intraabdominal untuk menentukan
besarnya hati, limpa, ginjal, dan keadaaan kandung
kencing.

Perkusi

: Dilakukan untuk mendeteksi adanya asites, pekak hati.

Auskultasi

: Dalam keadaan normal, peristaltik terdengar sebagai


suara yang intensitasnya rendah dan terdengar tiap 10
30 detik.

7) Pemeriksaan integrumen

24

Inspeksi

: Pigmentasi kulit normal disebabkan oleh melani kulit.,


pucat seringkali disebabkan pada pasien anemia dan
pasien

syok

tampak

pucat

meskipun

kadar

hemoglobinnya normal dan lebih bisa dilihat pada


bayi baru lahir dibandingkan anak besar, pupura
adalah nama yang umum untuk perdarahan kulit dan
selaput lendir, purpura yang kecil seperti bekas gigitan
nyamuk, disebut peteki, bercak perdarahan kulit yang
lebih besar disebut ekimosis, pada pemeriksaan
kelembaban

kulit keringat yang berlebihan terjadi

pada demam.
Palpasi

: Turgor kulit diperiksa dengan mencubit kulit ringan


dan membiarkannya kembali, turgor kulit yang buruk
membuat bekas cubitan lama kembali hal ini terjadi
pada dehidrasi berat dan malnutrisi, edema terjadi
akibat cairan ekstaselular abnormal.

8) Pemeriksaan ekstremitas
Inspeksi

: Kaji kekuatan otot kanan dan kiri pada anak, perhatikan


pergerakan ekstremitas. Tonus ekstremitas juga perlu
diperhatikan

Palpasi

: Pada penderita DHF terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

25

9) Pemerikaan Laboraturium
Pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai :
a) HB dan PCV meningkat (>20%).
(1) Normal HB anak- anak: 11-13 gr/dl.
(2) Nilai normal PCV anak-anak: 33-38%
b) Trombositopenia(<100.000/ml).
Nilai normal trombosit: 150.000- 450.000 sel/mm3
c) Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis).
d) Ig D dengue positif.
e) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan: hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
f) Urium dan PH darah mungkin meningkat.
g) Asidossis metabolik pCO2<35-40 mmhg da HCO3 rendah.
h) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
(1) Nilai normal SGOT: 3-45 u/L.
(2) Nilai normal SGPT: 0-35u/L.

26

(Handayani, 2012)

c. Diagnosa Keperawatan
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler akibat peningkata permeabilitas
kapiler
2) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus.
3) Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor faktor
pembekuan darah (trombositopeni).
d. Perencanaan keperawatan
1. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
cairan yang berlebihan dari traktus gastrointestinal melalui feses atau
emesis.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dalam
waktu 1 x 24 jam kekurangan volume cairan akan teratasi.
Kriteria hasil :
1) Tanda-tanda vital dalam batas normal
2) Tanda-tanda dehidrasi (-), turgor kulit elastis, membran mukosa
lembab, mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak cekung.
3) Konsistensi BAB lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari
4) Input dan output seimbang
Intervensi

27

a. Beri larutan rehidrasi oral (LRO) untuk rehidrasi dan


penggantian kehilangan cairan melalui feses.
Rassional: karena larutan rehidrasi oral berfungsi sebagai
pengganti cairan dalam feses.
b. Berikan dan pantau pemberian cairan infus sesuai program
Rasional : untuk mengatasi dehidrasi dan vomitus yang berat
c. Beri agens antimikroba sesuai ketentuan.
Rasional: antimikroba berfungsi untuk mengobati patogen
khusus yang menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan.
d. Ganti cairan larutan rehidrasi oral dengan rendah natrium seperti
air, ASI, atau susu formula bebas laktosa, atau susu formula yang
mengandung setengah laktosa
Rasional : untuk mempertahankan terapi cairan
e. Pertahankan pencatatan yang ketat terhadap asupan dan haluaran
(urine, feses, dan emesis).
Rasional: untuk mengevaluasi penting dari intervensi hidrasi dan
mencegah terjadinya hidrasi.
f. Kaji tanda-tanda vital, turgor kulit, membran mukosa, dan status
mental setiap 4 jam atau sesuai indikasi.
Rasional: sebagai data untuk melakukan intervensi selaanjutnya