Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

TERAPI RASIONAL EMOTIF


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Model-Model Konseling I
Dosen pengampu: Pramana Adi Wiguna M.Pd
Oleh:

Nama : Fathatul Fikriyah


NPM : 1114500015
Semester 4 / C
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di
Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi
Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini
dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis
ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang
klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization).Oleh
karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau
Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar
pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber,
Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk
eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai
Psikologi Humanistik.

B. Rumusan Masalah

1. Tokoh atau pendiri teori Rasional Emotif ?


2. Konsep dasar teori Rasional Emotif ?
3. Hakekat Manusia ?
4. Hakekat konseling ?
5. Tujuan konseling ?
6. Karakteristik ?
7. Peran dan Fungsi konselor ?
8. Hubungan Konselor dan konseli ?
9. Tahap-tahap konseling ?
10. Teknik-teknik konseling ?
11. Kelebihan dan Kekurangan?
12. Asumsi tingkah laku bermasalah ?
13. Contoh kasus pendekatan Rasional Emotif ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tokoh atau pendiri teori Rasional Emotif .
2. Untuk mengetahui konsep dasar teori Rasional Emotif
3. Untuk mengetahui hakekat Manusia
4. Untuk mengetahui hakekat konseling
5. Untuk mengetahui tujuan konseling
6. Untuk mengetahui karakteristik
7. Untuk mengetahui peran dan Fungsi konselor
8. Untuk mengetahui hubungan Konselor dan konseli
9. Untuk mengetahui tahap-tahap konseling
11. Untuk mengetahui teknik-teknik konseling
12. Untuk mengetahui Kelebihan dan Kekurangan
13. Untuk mengetahui Asumsi tingkah laku bermasalah
14. Untuk mengetahui Contoh kasus pendekatan Rasional Emotif

BAB II
PEMBAHASAN

A.Tokoh Rasional Emotif


Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah Albert Ellis,
menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling rasional emotif terapi berasal dari aliran
pendekatan kognitif behavioristik. Menurut Ellis (dalam Latipun, 2001 : 92) berpandangan
bahwa RET merupakan terapi yang sangat komprehensif, yang menangani masalahmasalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1930 di Pittsburk dan kemudian menetap di New
York sejak umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah sembilan kali dimasukkan
ke hospital karena nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal glycosuria pada umur
19 tahun dan kencing manis pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliau menikmati
kehidupan yang aktif karena beliau berfikiran positif terhadap masalah kesehatannya dan
senantiasa menjaganya.Menyadari beliau boleh mengkonseling orang dengan baik dan
gembira melakukannya, beliau mengambil keputusan untuk menjadi ahli psikologi. Selepas
delapan tahun tamat pengajian kolej, beliau memasuki program psikologi klinikal di
Maktab Perguruan Columbia. Beliau mulai menjalankan konseling perkawinan, konseling
keluarga dan terapi seks.Ellis percaya psikoanalisis adalah membentuk psikoterapi yang
mendalam.Beliau telah dilatih dalam psikoterapi di Sekolah Karen Horney.Dari tahun 1947
hingga 1953 beliau memperaktikan analisis klasik dan psikoterapi berorientasikan analisis.
Selepas membuat kesimpulan bahan psikoanalisis adalah bentuk rawatan yang tidak
saintifik dan superficikal, beliau coba mengkaji beberapa sistem yang lain. Pada awal 1955
beliau mengabungkan terapi humanistik, falsafah dan tingkah laku untuk membentuk terapi
rasional-emotif (yang sekarang dikenal sebagai terapi rasional emotif tingkahlaku).Ellis
dikenal sebagai bapak teori RET. Ellis telah membina teori berasaskan kepada kognitif tapi
selepas itu beliau telah meluaskan asas teorinya yang memasukkan konsep tingkah laku dan
emosi. Teori ini adalah satu usaha yang konsisten untuk memperkenalkan pendekatan
pemikiran logika dan proses kognitif di dalam konseling. Ellis percaya bahwa manusia

mempunyai pemikiran dan kepercayaan yang tidak rasional perkara ini lah yang selalu
menyebabkan gangguan emosi.
Rasional emotive adalah teori yang berusaha memahami manusia sebagaimana
adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang
dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu
dalam satu kesatuan yang berarti manusia bebas berpikir, bernafas, dan berkehendak.
B.

Konsep Dasar
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki

kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku
irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar
disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.
Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang
tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh
dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya
diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan
tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara
berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.
Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang
rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara
verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu,
yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini
yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar
individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap
orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi
calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap
suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief
atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan
yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan
yang tidak rasional merupakan keyakinan atau system berpikir seseorang yang
salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau
reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam
hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan
akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam
bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini.Seorang terapis
harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa
menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang
rasional.
Sebagai contoh, orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir
bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir. Padahal, penampilan orang depresi
sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis
bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan
menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.

Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama
keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut
adalah hasil pengondisian filosofis, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara
otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon
setelah mendengarnya berdering.
C. Hakekat Manusia
Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapi (REBT) memandang manusia
sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan
dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh
fikiran, perasaan dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek
mempengaruhi aspek lainnya.
Secara khusus, pendekatan ini berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Individu memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irrasional.
2. Pikiran irasional berasal dari proses belajar, yang irasional didapat dari orangtua dan
budayanya.
3. Manusia adalah makhluk verbal dan berfikir melalui simbol dan bahasa. Dengan
demikian, gangguan emosional yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide
dan pemikiran irrasional
4. Gangguan(self verbalising) yang terus menerus emosional yang disebabkan oleh
verbalisasi dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan,
bukan karena kejadian itu sendiri.
5. Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
6. Pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri dapat diserang dengan
mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan
rasional.
Secara dialektik, REBT berasumsi bahwa berfikir logis itu tudak mudah, kebanyakan
individu cenderung ahli dalam berfikir tidak logis. Contoh berfikir tidak logis biasanya

banyak menguasai individu adalah:


Saya harus sempurna

Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!


Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.
Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit yang biasanya dipegang oleh individu
namun tidak sering diverbalkan, yaitu (1) nilai untuk bertahan hidup (survival) dan (2)
nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat
hidup lebih panjang, menetralisir stress emosional dan tingkah laku yang merusak diri,
serta mengaktualisasikan diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh bahagia.
Meskipun teori ini tidak membahas tahap perkembangan individu, pendapat REBT
bahwa anak-anak paling gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara
berfikir yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya,mausia itu naif,
mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan orang mempunyai
kemampuan dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran, perasaan dan tindakan,
tetapi pertama-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri
(bicara pada diri sendiri) untuk mendapatkan atas kehidupannya.
Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irrasional individu yang dapat mengakibatkan
masalah, yaitu:

1. Saya yakin harus dicintai atau disetujui oleh hampir setipa orang dimana saya menjalin
kontak.
2. Saya yakin mestinya harus benar-benar kompeten, adekuat dan mencapai satu tingkat
penghargaan yang diakui seutuhnya.
3. Beberapa orang berwatak buruk, jahat dan kejam, karena itu mereka layak disalahkan
dan dihukum.
4. Menjadi sebuah bencana besar ketika suatu hal terjadi seperti yang tidak pernah saya
inginkan.
5. Ketidakbahagiaan disebabkan oleh situasi tertentu yang berada diluar kemampuan saya
mengendalikannya.
6. Hal-hal yang berbahaya atau menakutkan adalah sumber terbesar kekhawatiran, dan
saya harus mewaspadai potensi destruktifnya.
7. Lebih mudah menghindari kesulitan dan tanggung jawab tertentu ketimbang
menghadapinya.
8. Saya meatinya bergantung pada beberapa hal dan orang lain, dan mestinya memiliki
orang-orang yang sungguh bisa diandalkan untuk memperhatikan saya.

9. Pengalaman dan kejadian masa lalu menentukan perilaku saya saat ini; pengaruh masa
lalu tidak pernah bisa dihapus.
10. Saya mestinya cukup kesal terhadap problem dan gangguan yang ditimbulkan orang
lain.
11. Selalu terdapat solusi benar atau sempurna untuk setiap problem, dan itu mestinya bisa
ditemukan, atau problemnya tidak akan pernah selesai hingga tuntas.

D. Hakikat Konseling

Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi


dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Karakteristik
Proses Konseling Rasional-Emotif :
1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu
mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek
kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga
memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan
emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
gangguan tersebut.
4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya
menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

E. Tujuan Konseling
Tujuan dari terapi ini adalah agar setiap individu bisabmendapatkan cara yang lebih
efektif untuk memenuhi kebutuhan menjadi bagian dari suatu kelompok, kekuasaan,

kebebasan, dan kesenangan. tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk
mencapai otonomi. Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi
kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal.
Kemampuan ini menyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab atas siapa
mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-rencana yang
bertanggung jawab dan realistis guna mencapai tujuan-tujuan mereka.
Tujuan lain dari terapi ini adalah menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri,
supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. Mendorong
konseling agar berani bertanggung jawab serta memikul segala risiko yang ada, sesuai
dengan kemampuan dan keingnannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya
mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistic dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan .
Tujuan dari Konseling RET ini antara lain:
1. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang
rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan selactualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang
positif.
2. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti
rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
F. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :
1. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif
membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada
aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.

3. Emotif-ekspreriensial, artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga


memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber
gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang
mendasari gangguan tersebut.
4. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya
menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.
G. Peran dan Fungsi konselor dalam Rational Emotive Therapy (RET)
1. Peran konselor dalam proses konseling rasional emotif akan tampak jelas dengan
langkah-langkah konseling sebagai berikut:
a)
Langkah pertama
Dalam langkah ini konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa masalah
yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional.Disini klien
harus belajar untuk memisahkan keyakinan rasional dari yang tidak rasional.Pada
tahap ini peranan konselor adalah sebagai propagandis yang berusaha mendorong,
membujuk, meyakinkan, bahkan sampai kepada mengendalikan klien untuk
menerima gagasan yang logis dan rasional. Jadi, pada langkah ini peran konseling
ialah menyadarkan klien bahwa gangguan atau masalah yang dihadapinya
disebabkan oleh cara berfikirnya yang tidak logis.
b)
Langkah kedua
Peranan konselor adalah meyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang
dihadapinya merupakan tanggung jawab sendiri. Maka dari itu dalam konseling
rasional emotif ini konselor berperan untuk menunjukkkan dan menyadakan klien,
bahwa

gangguan

emosional

yang

selama

ini

dirasakannya

akan

terus

menghantuinya apabila dirinya akan tetap berfikir secara tidak logis. Oleh
karenanya klienlah yang harus memikul tanggung jawab secara keseluruhan
terhadap masalahnya sendiri.
c)
Langkah ketiga
Pada langkah ketiga ini konselor berperan mengajak klien untuk menghilangkan
cara berfikir dan gagasan yang tidak rasional. Konselor tidaklah cukup
menunjukkan klien bagaimana proses ketidaklogisan berfikir ini, tetapi lebih jauh

dari itu konselor harus berusaha mengajak klien mengubah cara berfikirnya dengan
cara menghilangkan gagasan-gagasan yang tidak rasional.
d) Langkah keempat
Peranan konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang realistis dan
menghindarkan diri dari keyakinan yang tidak rasional. Konselor berperan untuk
menyerang inti cara berfikir yang tidak rasional dari klien dan mengajarkan
bagaimana caranya mengganti cara berfikir yang tidak rasional dengan rasional.
2. Fungsi konselor dalam Rational Emotive Therapy ini adalah mengajak dan
membuka ketidaklogisan pola berfikir klien dan membantu klien mengubah
pikirannya yang irasional dengan mendiskusikannya secara terbuka dan terus
terang.

H. Hubungan Konselor Dan Konseli


Isu hubungan pribadi antara terapis dan konseli dalam TRE memiliki makna yang
berbeda dengan yang ada dalam sebagian besar bentuk terapi yang lain. Kesesuaian dengan
konsep terpusat pada pribadi dari pandangan positif tanpa syarat merupakan konsep TRE
pada penerimaan sepenuhnya atau toleransi. Ide dasar di sini adalah menolong konseli
dalam hal menghindari sifat mengutuk diri sendiri. Meskipun konseli mungkin
mengevaluasi perilaku mereka sasarannya adalah agar mereka menolak untuk menilai diri
mereka sebagai pribadi, betapa pun tidak efektifnya beberapa dari perilakunya. Terapis
menunjukkan sikap penerimaan mereka secara penuh dengan jalan menolak untuk
mengevaluasi konselinya sebagai pribadi sementara pada saat yang bersamaan
menunjukkan kesediaannya untuk tiada hentinya berkonfrontasi dengan pemikiran
konselinya yang tidak masuk akal serta perilaku yang bersifat merusak diri sendiri. Tidak
seperti terapis yang berorientasi pada hubungan, TRE tidak memberikan arti utama pada

kehangatan hubungan pribadi dan pengertian empatik, dengan asumsi bahwa hubungan
yang terlalu hangat dan pengertian yang terlalu empatik bisa menjadi kontra produktif
karena bisa memupuk rasa ketergantungan akan persetujuan dari pihak terapis. Sebenarnya,
terapis TRE bisa menerima konselinya sebagai orang yang tidak sempurna tanpa harus
menunjukkan kehangatan hubungan antar pribadi, melainkan berbagai teknik non personal
bisa digunakan, seperti mengajar,biblioterapi, serta modifikasi perilaku (Ellis dalam Gerald
Corey, 1995) tetapi selalu memberi contoh serta juga mengajarkan penerimaan secara
penuh tanpa syarat.Meskipun demikian, beberapa praktisi TRE memberikan penekanan
pada pentingnya membangun hubungan saling mengerti dan hubungan kerjasama yang
kadarnya lebih kuat daripada yang diberikan Ellis. Weslerdan Wesler dalam Geral Corey
(1995:475) sepakat bahwa kondisi terapeutik Rogers (pertimbangan positif tanpa syarat,
empati, dan keaslianterapis) memang bisa menjadi fasilitator pada perubahan, namun
mereka menambahkan: Kita juga percaya bahwa kondisi untuk bisa berubah ini adalah
penting, tetapi kesemuanya itu dapat dilakukan dalam situasi yang direktif maupun tidak
direktif. Namun, kalau semuanya itu tidak dilakukan, teknik apapun yang ada di dunia
nampaknya tidak akan mampu menghasilkan sesuatu. Berkembangnya hubungan saling
mengerti yang baik antara konseli dan konselor dipandang Walen, DiGiuseppe, dan Wessler
dalam Geral Corey(1995:475-476) sebagai ramuan kunci dalam hal memaksimalkan
keuntungan terapeutik. Seperti halnya Wesler dan Wesler, mereka menekankan bahwa
menjadi aktif dan direktif bukanlah tidak sesuai dengan pengembangan hubungan
profesional berdasarkan kompetensi,kredibilitas, saling menghormati, dan komitmen untuk
menolong konseli agar bisa berubah.Terapis rasional emotif seringkali terbuka dan
langsung dalam mengungkapkan keyakinan dan nilai mereka sendiri. Ada beberapa orang
yang sedia untuk berbagi ketidak sempurnaan dirinya dengan konseli sebagai cara untuk
mempertanyakan pendapat konseli yang tidak realistik, yaitu bahwa terapis adalah manusia
yang pribadinya utuh. Dalam hal ini,transferensi tidaklah dianjurkan, dan kalaupun itu
sampai terjadi maka terapis mungkin akan menyerangnya. Terapis ingin menunjukkan
bahwa hubungan transferensi itu didasarkan pada keyakinan yang irasional, yaitu bahwa
konsseli haruslah disenangi dan dicintai oleh terapis (atau sosok orangtua) (Ellis dalam
Gerald Corey, 1995).

I.Tahap-Tahap Konseling
TAHAP I
Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan
irrasional. Proses ini memnbantu klien memahami bagaimana dan mengapa dapat terjadi
irrasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk
mengubah hal tersebut.
TAHAP II
Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif
tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk
menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran irasional konseli
dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain dan
lingkungan sekitar. Pada tahap ini konselor menggunakan teknik-teknik konseling REBT
untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional.
TAHAP III
Tahap akhir, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran
rsional serta mengembangkan fillosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak
pada masalah yang disebabkan oleh pemikirian irasional.
Tahap-tahap ini merupakanproses natural dan berkelanjutan. tahap ini menggambarkan
keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor dan konseli.

J.Teknik- Teknik Konseling


Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat
kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)

1) Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan konseli untuk secara
terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.Latihan-latihan
yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri konseli.
2) Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan
negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga konseli dapat
secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
3) Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan
maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong konseli ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan
jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Teknik ini
dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada konseli
dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun
punishment, maka konseli akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan
kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada konseli. Teknik ini
dilakukan agar konseli dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara
imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan

norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh
konselor.
2. Teknik-teknik Kognitif
1. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan
diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang
diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, konseli diharapkan dapat mengurangi
atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis,
mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek
kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang
diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh konseli dalam
suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan
mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta
kemampuan

untuk

pengarahan

diri,

pengelolaan

diri

konseli

dan

mengurangi

ketergantungannya kepada konselor.


2. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian konseli dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku
tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah :
(a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan
emosinya;
(b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa
menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;
(c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan

(d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok
untuk diri sendiri.
K. Kelebihan Dan Kekurangan
Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis mempunyai
Kelebihan sebagai berikut :
1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti
rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut.
2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang di dapat
oleh klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku baru mereka.
3. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yang komprehensif dan eklektik.
4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukanterapi sendiri tanpa
intervensi langsung dari terapis.
Kekurangan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut :
1. Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses terapeutik
ada hal-hal yang tidak diperhatikan.
2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis
sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat terapis.
3.Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenang terapis dengan
menerima pandangan terapis tanpa benar-benar menantangnya atau menginternalisasi ideide baru.
4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.

L. Asumsi Tingkah laku Bermasalah


Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah,
didalamnya merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional.
Adapun ciri-ciri berpikir irasional adalah :
1. Tidak dapat dibuktikan
2. Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang
sebenarnya tidak perlu
3. Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif.

Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional disebabkan oleh:


1. Individu tidak berpikir jelas tentang saat ini dan yang akan datang, antara kenyatan
dan imajinasi.
2. Individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.
3. Orang tua atau masyarakat memiliki kecenderungan berpikir irasional yang
diajarkan kepada individu melalui berbagai media.
Indikator sebab keyakinan irasional adalah:
1. Manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain
dari segala sesuatu yang dikerjakan.
2. Banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jahat, dan
kejam sehingga mereka patut dicurigai, disalahkan, dan dihukum.

3. Kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka, bencana


yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh
manusia dalam hidupnya.
4. Lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha
untuk menghadapi dan menanganinya.
5. Penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa
individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan
penderitaan emosional tersebut.
6. Pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan
individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang.
7. Untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu
yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural.
8. Nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari
kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap
individu.
Menurut Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang
diprogram

untuk

selalu

menanggapi

pengondisian-pengondisian

semacam

ini.Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut.


Ada beberapa jenis pikiran-pikiran yang keliru yang biasanya diterapkan orang, di
antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.

Secara ringkas, Ellis mengatakan bahwa ada tiga keyakinan irasional:


3. Saya harus punya kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak
berguna:
4. Orang lain harus memahami dan mempertimbangkan saya, atau mereka akan
menderita.
5. Kenyataan harus memberi kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa

M. Contoh kasus Pendekatan Rasional Emorif


Penerapan teori konseling Rasional-emotif ini sangat ideal apabila diterapkan
disekolah, terutama oleh:Guru,Konselor atau pemimbing yang berwibawa. Contoh
penerapan di gunakan pada kasus , berpikir mengenai hal-hal yang tidak rasional.
Guru/konselor yang berwibawa akan mampu untuk membantu siswa yang
mengalami gangguan mental atau gangguan emosional untuk mengarahkan secara langsung
pada para siswa yang memiliki pola berfikir yang tidak rasional, serta mempengaruhi cara
berfikir mereka yang tidak rasional untuk meninggalkan anggapan atau pandangan yang
keliru itu menjadi rasional dan logis.
Guru melalui bidang studi yang diajarkan kepada siswanya secara langsung bisa
mengaitkan pola bimbingan yang terpadu untuk mempengaruhinya, untuk secara
meninggalkan tindakan pikiran dan perasaan yang tidak rasional.
Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari
gangguan-gangguan pribadi.Sumbangan utamanya adalah penekananya pada keharusan
praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku masalah.
Contoh kasusnya :

Ada siswa mau ujian . Ia takut,cemas akan ujian nya nanti,ia takut tidak
lulus.Padahal ujian masih 4 bulan lagi. Siswa tersebut berpikir irasional. Konselor
membantu klien agar klien sadar dan bisa berpikir rasional karena jika klien tetap berpikir
irasional itu akan membuat klien tidak siap menghadapi ujian dan bisa berakibat pada
konsentrasi saat mengerjakan soal ujian dan bisa berakibat buruk. Konselor membantu
klien mengubah pikiran irasional menjadi rasional sehingga klien menyadari akan
pikirannya itu,klien bisa berpikir rasional dengan belajar selama 4 bulan itu dan menjadi
siap menghadapi ujianf

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan

Pengertian Rational Emotive Therapy (RET), yakni corak konseling yang menekankan
kebersamaan

dan

interaksi

antara

berpikir

dan

akal

sehat(rational

thinking),

berperasaan(emoting), dan berperilaku(acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu


perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti
dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam
alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan
memanfaatkan akal sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Hartono dan Soedarmadja boy . (2012). Psikologi Konseling . Jakarta : RENCANA


PRENADA MEDIA GROUP
Kurnonanto edi . (2013) . KOnseling kelompok . Bandung : Alfabreta CV
Corey, Teori dan praktek konseling dan psikoterapi , Bandung : PT Refika Aditama, 2010
Mappire AT, Andi. Pengantar konseling dan psikoterapi , jakarta : PT. Raja Grafindo
persada, 2010