Anda di halaman 1dari 40

REFRESHING

Hidronefrosis dan Hidroureter

REFRESHING Hidronefrosis dan Hidroureter Disusun oleh : Rani Meiliana Susanti 2012730148 Pembimbing : dr. Hj. Suginem

Disusun oleh :

Rani Meiliana Susanti

2012730148

Pembimbing :

dr. Hj. Suginem Mudjiantoro Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK STASE RADIOLOGI

RUMAH SAKIT ISLAM PONDOK KOPI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-

Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan REFRESHING yang berjudul “Hidronefrosis

dan Hidroureter”.

Refreshing ini disusun dalam rangka meningkatkan pengetahuan sekaligus memenuhi

tugas kepaniteraan klinik ilmu Radiologi di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi. Pada

kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  • 1. dr. Suginem M, Sp.RAD (K) selaku konsulen Radiologi di RS. Islam Pondok Kopi

  • 2. dr. Reni Luhur, Sp. RAD selaku konsulen Radiologi di RS. Islam Pondok Kopi

  • 3. Orang tua yang selalu mendoakan keberhasilan penulis

  • 4. Teman-teman sekelompok atas dukungan dan kerjasamanya Semoga dengan adanya Refreshing ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan

dan berguna bagi penulis maupun teman sejawat lainnya. Penulis menyadari bahwa

Refreshing ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat membutuhkan

saran dan kritik untuk pembuatan Refreshing yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Jakarta, Mei 2016

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Ginjal adalah organ vital yang mempunyai peran penting dalam mempertahankan

kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh,

elektrolit, dan asam-asam dengan cara filtrasi darah, reabsorbsi selektif air, elektrolit,

dan non elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai urin. Obstruksi dapat

menyebabkan dilatasi pelvis renalis maupun kaliksyang dikenal sebagai hidronefrosis. Batu

dapat menyebabkan kerusakan atau gangguan fungsi ginjal karena menyumbat aliran

urine. Jikap enyumbatan ini berlangsung lama, urin akan mengalir balik kesaluran didalam

ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis)

dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal (Depkes, 2007). Pada umumnya

obstruksi saluran kemih sebelah bawah yang berkepanjangan akan menyebabkan obstruksi

sebelah atas. Jika tidak diterapi dengan tepat, obstruksi ini dapat menyebabkan kegagalan

fungsi dan kerusakan struktur ginjal yang permanen, seperti nefropati obstruktif, dan jika

mengalami infeksi saluran kemih dapat menimbulkan urosepsis(Purnomo, 2011).

Proses ini umumnya berlangsung lama sekali. Tapi juga bias mendadak

(akut) bila sumbatan secara total. Kasus hidronefrosis semakin sering didapati. Di Amerika

Serikat, insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada pria. Penyebabnya

dapat bermacam – macam dimana obstruksi merupakan penyebab yang tersering (Rahmani,

2010).Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot

ritmis yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa lalu

akan menggantikan kedudukan jaringan otot yang normal di dinding ureter sehingga terjadi

kerusakan yang menetap. Hidronefrosis banyak terjadi selama kehamilan karena pembesaran

rahim menekan ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk keadaan ini karena

mengurangi kontraksi ureter yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih.

Hidronefrosis akan berakhir bila kehamilan berakhir.

Oleh sebab itu untuk mengatasi dan untuk mencegah komplikasi yang ditimbulkan

dari hidronefrosis pelu dilakukan penatalaksanaan yang spesifik, yaitu untuk mengidentifikasi

dan memperbaiki penyebab obstruksi, untuk menangani infeksi, dan untuk mempertahankan

serta melindungi fungsi renal.

BAB II PEMBAHASAN

  • 1. ANATOMI TRAKTUS UROGENITAL A. Pelvis Tulang-tulang yang membentuk panggul adalah :

1.

Os coxae, yang membentuk dinding anterior dan lateral panggul serta terdiri dari

tiga tulang, yaitu: os ilium, os ischium, dan os pubis.

  • 2. Os sacrum dan ossa coccyges yang membentuk dinding dorsal panggul.

BAB II PEMBAHASAN 1. ANATOMI TRAKTUS UROGENITAL A. Pelvis Tulang-tulang yang membentuk panggul adalah : 1.

Dipisahkan oleh linea terminalis menjadi pelvis mayor dan pelvis minor.

Diaphragma pelvis dibentuk oleh:

  • 1. Pars muscularis, terdiri dari:

    • a. M. Levator ani , berfungsi untuk :

      • - Menahan dan memfiksasi alat-alat rongga panggul pada tempatnya.

      • - Menahan tekanan intra abdomen yang mendadak meninggi.

      • - Bekerja sebagai sphincter, terutama pada wanita sebagai sphincter vagina.

M.levator ani dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:

-

M.pubococcygeus

Terletak di belakang vesica urinaria dan berfungsi mengontrol proses miksi.

Pada laki-laki disebut juga m. Levator prostata, sedangkan pada wanita disebut

m. Pubovaginae.

-

M.puborectalis

Terletak dorsal terhadap m.pubococcygeus dan berfungsi membantu proses

-

defekasi. M.iliococcygeus Merupakan otot paling caudal dari m.pubococcygeus dan pada umumnya

sudah menjadi apneurosis.

  • b. M.coccygeus Terletak dorsal terhadap m.levator ani dan diselubungi fascia diaphragmatica pelvis superior dan fascia diaphragmatica pelvis inferior.

  • 2. Pars membranacea Disebut juga diaphragma pelvis atau diaphragma urogenitale, yang terdiri dari 2 lembar fascia :

    • a. Fascia diaphragmatica urogenitale superior

    • b. Fascia diaphragmatica urogenitale inferior

  • B. Sistem Urinaria Alat-alat saluran kemih (tractus urinarius) terdiri atas, a) ren; b) ureter; c) vesica urinaria; dan d) urethra.

a.

Ren

Makroskopis

Ren

atau ginjal merupakan organ ekskresi utama. Ren terletak

retroperitoneal, yaitu diantara peritoneum parietale dan fascia transversa

abdominis, pada sebelah kanan dan kiri columna vertebralis. Ren sinistra

terletak setinggi costa XI atau vertebra lumbal 2-3, sedangkan ren dextra

terletak setinggi costa XII atau vertebra lumbal 3-4. Jarak antara extremitas

superior ren dextra dan sinistra adalah 7cm, sedangkan jarak extremitas inferior

ren dextra dan sinistra adalah 11cm. Sedangkan jarak extremitas inferior ke

crista iliaca adalah 3-5cm

.

. Ren berbentuk seperti kacang dan memiliki: 1. Dua ekstremitas, yaitu ekstremitas superior dan inferior. 2.

Ren berbentuk seperti kacang dan memiliki:

  • 1. Dua ekstremitas, yaitu ekstremitas superior dan inferior.

  • 2. Dua margo, yaitu margo medialis yang berbentuk konkaf dan margo lateralis yang berbentuk konveks. Pada margo medialis inilah terdapat suatu pintu yang disebut hilus renalis yang merupakan tempat masuknya pembuluh-pembuluh darah, limfe, saraf, dan ureter.

  • 3. Dua facies, yaitu facies anterior yang berbentuk cembung dan facies posterior yang agak datar.

Ginjal dibungkus oleh :

  • 1. Capsula fibrosa Capsula fibrosa melekat pada ren dan mudah dikupas. Capsula fibrosa hanya menyelubungi ginjal dan tidak membungkus gl. supra renalis.

  • 2. Capsula Adiposa Capsula adiposa banyak lemak dan membungkus ginjal dan glandula suprarenalis. Capsula adiposa di bagian depan relatif tipis dibandingkan di bagian belakang. Capsula

adiposa

berfungsi

untuk

mempertahankan

posisi ginjal. Pada

keadaan tertentu, capsula adiposa sangat tipis sehingga jaringan ikat yang

membungkus capsula fibrosa dan capsula renalis kendor sehingga ginjal

menjadi turun, yang disebut nephroptosis. Nephroptosis ini sering terjadi

pada ibu yang sering melahirkan.

  • 3. Fascia renalis Fascia renalis terletak di luar capsula fibrosa dan terdiri dari 2 lembar yaitu fascia prerenalis di bagian depan ginjal dan fascia retrorenalis di bagian belakang ginjal. Kedua lembar fascia renalis ke caudal tetap terpisah, ke cranial bersatu, sehingga kantong ginjal terbuka ke bawah, oleh karena itu sering terjadi ascending infection.

Bagian-bagian ginjal :

  • 1. Cortex renalis Cortex renalis terdiri dari glomerulus, tubulus kontortur proksimal, tubulus kontortus distal dan pembuluh darah. Di dalam glomerulus, darah disaring dan disalurkan ke dalam medulla. Pada medulla, saluran-saluran tersebut akan bermuara pada papilla renalis sehingga tampak garis-garis pada medulla yang disebut processus medullaris (Ferreini). Korteks renalis membagi medulla menjadi piramida renalis, struktur ini disebut kolumna renalis (columna renalis Bertini)

  • 2. Medulla renalis Pada medulla renalis dapat dijumpai :

  • a. renalis

Papilla

yang

berbentuk

segitiga sehingga disebut pyramid

renalis.

  • b. Saluran-saluran yang menembus papilla disebut ductulli papillares.

  • c. Papilla renalis menonjol ke dalam calix minor.

  • d. Di antara pyramis-pyramis terdapat columna renalis.

  • e. Beberapa calyx minor (2-4) membentuk calyx major.

  • f. Beberapa calyx major bergabung menjadi pyelum atau pelvis renalis, kemudia menjadi ureter.

  • g. Ruangan tempat calyx disebut sinus renalis.

Pendarahan ginjal

Ginjal diperdarahi oleh A.renalis. Perjalanan vaskularisasi ginjal dapat

diuraikan sebagai berikut:

  • 1. Arteri renalis Arteri renalis dipercabangkan dari aorta abdominalis setinggi vertebra lumbal 1-2. Arteri renalis kanan lebih panjang dari arteri renalis kiri karena harus menyilang vena cava inferior di belakangnya. A.renalis masuk ke dalam ginjal melalui hillus renalis dan bercabang menjadi 2 cabang besar. Cabang yang pertama berjalan ke depan bagian depan ginjal dan mendarahi ginjal bagian depan. Sedangkan cabang yang kedua berjalan ke arah belakang ginjal dan memperdarahi ginjal bagian belakang. Cabang yang menuju bagian depan ginjal lebih panjang dibandingkan cabang yang menuju ke belakang ginjal. Kedua cabang ini akan bertemu di lateral pada garis tengah ginjal atau disebut dengan garis broedel. Pembedahan ginjal dilakukan pada garis broedel karena pendarahannya minimal. Arteri renalis berjalan diantara lobus ginjal dan bercabang lagi menjadi a.interlobaris.

  • 2. Arteri interlobaris Arteri interlobaris pada perbatasan cortex dan medula akan bercabang menjadi arteri arcuata yang akan mengelilingi cortex dan medulla.

  • 3. Arteri arcuata Arteri arcuata mempercabangkan A.interlobularis dan berjalan sampai tepi ginjal (cortex).

Pembuluh balik pada ren mengikuti nadinya mulai permukaan ginjal sebagai

kapiler dan kemudian berkumpul ke dalam v.interlobaris. Dari v.interlobularis

akan ke v.arcuata, v.interlobaris, v.renalis, dan kemudian akan ke v.cava inferior.

Mikroskopis

Ginjal tersusun atas nefron. Nefron merupakan unit fungsional ginjal, yang terdiri atas: 1. Korpus renalis (glomerulus,

Ginjal tersusun atas

nefron. Nefron merupakan unit fungsional ginjal, yang terdiri atas:

  • 1. Korpus renalis (glomerulus, sinus capsula bowman, dan capsula bowman)

  • 2. Tubulus konkortus proksimal

  • 3. Ansa henle:

    • a. Segmen tebal desenden (tubulus rektus proksimal)

    • b. Segmen tipis ansa henle

    • c. Segmen tebal asenden (tubulus rektus distal)

  • 4. Tubulus kontortus distalis, yang nantinya akan berlanjut ke duktus

  •  

    koligens

    Glomerulus

    Bentuknya khas bundar dengan warna yang lebih gelap dari

    sekitarnya karena susunan selnya yang padat. Paling luar diliputi

    epitel selapis gepeng dan disebut kapsula bowman lapis parietal.

    Kadang ditemukan kapsula bowman lapis parietal yang

    bersambung dengan kontortus proksimal membentuk kutub urinari.

    Di bawah kapsula bowman lapis parietal terdapat ruangan kosong

    yang dalam keadaan hidup terisi cairan ultrafiltrat.

    Pada arah yang berlawanan dari kutub urinari terdapat kutub

    vaskular, tempat masuk dan keluarnya arteriol pada glomerulus.

    Arteriol yang masuk disebut vasa aferen yang kemudian bercabang-

    cabang menjadi kapiler yang bergelung-gelung di dalam

    glomerulus. Kapiler ini sebenarnya diliputi oleh podosit yang

    membentuk kapsula bowman lapis viseral.kapiler kemudian

    bergabung menjadi satu lagi membentuk arteriol keluar dari

    glomerulus dan disebut vasa eferen.

    Tubulus kontortus proksimal

    Tubulus kontortus proksimal diliputi oleh epitel kuboid rendah

    dan berinti bulat. Lumen tubulus kontortus proksimal tidak terlihat

    jelas karena terdapat brush border. Fungsi dari tubulus ini adalah

    absorbsi makromolekul dari filtrat glomerulus.

    Ansa Henle

    Ansa henle terletak di berkas medula dan di medula ginjal. Pada

    tubulus rektus proksimal, penampakannya menyerupai tubulus

    kontortus proksimal. Pada segmen tipis ansa henle, penampakannya

    mirip kapiler namun tetap tidak terdapat darah di dalam lumennya.

    Sedangkan tubulus rektus distal, penampakannya serupa dengan

    tubulus kontortus distal.

    Tubulus kontortus distal

    Tubulus ini diliputi oleh epitel selapis kuboid rendah. Jarak antar

    inti selnya berdekatan. Berbeda dengan tubulus kontortus

    proksimal, pada tubulus kontortus distalis lumennya terlihat jelas

    karena tidak terdapat brush border. Ukuran lumennya pun lebih

    lebar daripada tubulus kontortus proksimal.

    b.

    Ureter

    Makroskopis

    b. Ureter Makroskopis Ureter merupakan lanjutan pelvis renalis, panjangnya 25-30cm berjalan ke arah distal untuk bermuara

    Ureter merupakan lanjutan pelvis renalis, panjangnya 25-30cm

    berjalan ke arah distal untuk bermuara di vesica urinaria. Menurut

    letaknya, ureter dibedakan menjadi :

    • 1. Pars abdominalis ureteris Perjalanan ureter dalam cavum abdomen (pars abdominalis ureteris) pada laki-laki dan wanita tidak berbeda.

    • 2. Pars pelvina ureteris Perjalanan ureter dalam cavum pelvis (pars pelvina uterus) pada wanita berbeda dengan laki-laki karena perbedaan alat-alat panggul wanita dan laki-laki.

    Sepanjang

    perjalanannya,

    ureter mengalami penyempitan di

    beberapa tempat, yaitu pada:

    • a. Uteropelvic junction

    • b. Saat ureter menyilang vassa iliaca communis (flexura marginalis)

    • c. Saat ureter masuk ke dalam vesica urinaria

    Mikroskopis

    Lapisan mukosa ureter diselubungi oleh epitel transisional dengan lamina propia di bawahnya. Lapisan ototnya terdiri atas

    Lapisan mukosa ureter diselubungi oleh epitel transisional dengan

    lamina propia di bawahnya. Lapisan ototnya terdiri atas tiga lapisan

    yaitu:

    • 1. Lapisan otot memanjang

    • 2. Lapisan otot melingkar

    • 3. Lapisan otot memanjang

    • 4. Lapisan adventisia merupakan jaringan ikat panjang

    • c. Vesica urinaria Makroskopis

    Vesica urinaria disebut juga bladder atau kandung kemih dan berfungsi sebagai resevoir urine dengan kapasitas 200-400cc.

    Vesica urinaria disebut juga bladder atau kandung kemih dan

    berfungsi sebagai resevoir urine dengan kapasitas 200-400cc. Pada anak-anak, vesica urinaria terletak di atas apertura pelvis

    superior. Setelah dewasa, rongga panggul akan membesar dan vesica

    urinaria turun ke dalam rongga panggul. Bila terisi, bagian atas vesica

    urinaria akan terletak di daerah hypogastricus dan berbentuk ovoid atau

    menyerupai telur. Sedangkan vesica urinaria yang kosong, seluruhnya

    terletak di belakang symphisis ossis pubis dalam rongga panggul dan

    berbentuk seperti limas, sehingga dapat dibedakan menjadi :

    • 1. Apex vesica urinaria Apex atau puncak vesica urinaria terletak tepat di tepi belakang tepi atas symphisis ossis pubis. Semasa janin, apex dihubungkan ke umbilicalis oleh urachus (sisa kantong allantois). Setelah lahir, urachus menutup dan berubah menjadi lig. Umbilicalis medialis. Apex ditutupi oleh peritoneum dan berbatasan langsung dengan ileum dan colon sigmoideum.

    • 2. Dasar vesica urinaria Dasar vesica urinaria dibentuk oleh permukaan dorsal dan berbentuk segitiga. Pada sudut laterosuperior dextra dan sinistra

    dapat dijumpai muara ureter,sedangkan pada sudut inferior dapat

    dijumpai orificium urethrae internum.

    • 3. Dinding vesica urinaria Dinding vesica urinaria terdiri dari satu dinding superior dan dua dinding lateroinferior. Dinding lateroinferior berhubungan dengan m.obturator internus di sebelah cranial dan m.levator ani di sebelah distal. Pertemuan kedua dinding lateroinferior di sebelah cauda disebut dengan cervix vesicae.

    • 4. Collum vesica urinaria Callum vesica urinaria pada laki-laki berbatasan dengan permukaan atas gl. prostata. Collum vesica urinaria difiksasi oleh lig. Puboprostatica pada laki-laki atau lig. Pubovesicale pada wanita.

    Namun secara anatomis, vesica urinaria dapat dibedakan menjadi

    Apex, fundus, dan corpus. Fundus berbentuk segitiga dan menghadap

    ke cauda dorsal dan berhadapan dengan rectum. Pada laki-laki, dinding

    posterior vesica urinaria dilekati oleh vesicula seminalis dan ampulla

    ductus deferens, sedangkan di antara vesica urinaria dan rectum dapat

    dijumpai lekukan peritoneum yang disebut excavatio recto vesicalis.

    Pada wanita, fundus vesica urinaria dipisahkan dari rectum oleh fornix

    posterior dan portio vaginalis cervicis uteri.

    Vesica urinaria diperdarahi oleh :

    • 1. Arteriae vesicales superior Merupakan cabang dari a.umbilicalis bagian proximal. Aa.vesicales superior mendarahi bagian fundus vesica urinaria dan akhirnya beranastomosis dengan a.epigastrica inferior.

    • 2. Arteriae vesicales inferior Memperdarahi bagian caudal dan lateral permukaan depan vesica urinaria, serta glandula prostata.

    3.

    Arteri vesiculodeferentialis

    Merupakan

    cabang

    dari

    a.

    iliaca interna dan mendarahi 1/3

    permukaan posterior vesica urinaria, glandula vesiculosa, dan

    ductus deferentialis. Pada wanita, a. vesiculodeferentialis disebut a.

    uterina dan mendarahi ovarium dan vagina.

    Mikroskopis

    Lapisan mukosa dari vesica urinaria dilapisi epitel transisional dengan

    lamina propia dibawahnya. Lapisan muskular terdiri atas berkas-berkas

    serat otot polos yang tersusun berlapis-lapis secara tidak beraturan.

    Lapisan adventisianya terdiri atas jaringan ikat fibroelastis.

    d.

    Urethra Urethra pada laki-laki (masculina) berbeda dengan wanita (femina).

    Urethra masculina merupakan pipa fibromusculair dengan panjang 18-

    22cm dan mempunyai fungsi menyalurkan urine sampai ke dunia luar

    dan tempat melewatnya semen/sperma.

    3. Arteri vesiculodeferentialis Merupakan cabang dari a. iliaca interna dan mendarahi 1/3 permukaan posterior vesica urinaria,

    Urethra masculina terdiri dari 4 bagian, yaitu:

    • 1. Urethra pars preprostatica Panjang bagian ini adalah 0,5-1,5cm.

    • 2. Urethra pars prostatica Panjangnya sekitar 3cm, membentang dari collum vesica urinaria sampai sedikit ventral apex gl.prostata. Urethra pars prostatica merupakan pertemuan saluran urine dan reproduksi.

    • 3. Urethra pars membranacea Merupakan bagian paling pendek, sepanjang 1-2cm, dan bagian paling sempit karena dikelilingi oleh m.sphincter urethrae. Selain pendek dan sempit, urethra bagian ini susah diregangkan dan sangat tipis di bagian distalnya sehingga mudah robek pada keteterisasi.

    • 4. Urethra pars spongiosa Merupakan bagian terpanjang yaitu sekitar 15 cm dan membentang dari bulbus penis sampai ujung glans penis. Seluruh bagian ini dikelilingi corpus spongiosum maupun corpus cavernosum.

    • 2. FISIOLOGI SISTEM URINARIUS

    Dalam proses pembuatan urin terdapat tiga proses utama yaitu filtrasi,

    reabsorbsi dan sekresi dari ginjal. Jumlah urin yang terbentuk dari ketiga proses

    tersebut berjumlah sekitar 1500ml perhari. Jumlah urin ini ditentukan dengan

    jumlah ketiga proses tersebut dimana jumlah urin sama dengan jumlah filtrasi

    dikurangi dengan jumlah reabsorbsi dan ditambahkan dengan jumlah sekresi dari

    ginjal. Oleh karena ketiga kegiatan yang dilakukan ginjal diatas dapat

    disimpulkan bahwa pengaturan yang dilakukan oleh ginjal dapat dilakukan

    dalam proses sekresi, filtrasi maupun pada proses reabsorbsi dari ginjal

    tersebut. 4,5

    • a. Filtrasi Ginjal

    Proses filtrasi dari ginjal dilakukan pada daerah korpuskel ginjal yang

    dimana banyak terdapat pembuluh darah pada daerah tersebut. Kapiler darah

    yang berupa kapiler fenestra yang tertutupi oleh kaki – kaki pedikel pososit

    ini berfungsi seperti saringan yang dapat melewatkan benda berukuran

    dibawah 8 nano meter. Ukuran yang kecil ini tidak memungkinkan bagi

    protein, enzim dan zat yang besar untuk melewatinya. Selain daripada itu,

    sawar ini juga memiliki muatan negatif, sehingga zat-zat yang memiliki

    muatan negatif akan sangat sulit untuk melewati sawar ini. Hal ini terbukti

    pada protein albumin yang memiliki ukuran lebih kecil dari 8 nanometer dan

    bermuatan negatif. Albumin ini tidak dapat melewati sawar ginjal dengan

    alasan bahwa molekul tersebut merupakan suatu molekul negatif yang saling

    tolak-menolak dengan sawar dari ginjal tesebut. Oleh karena itu dapat

    disimpukkan bahwa kemampuan filtrasi zat terlarut berbanding terbealik

    dengan ukurannya tetapi tidak berlaku pada molekul yang bermuatan. Dengan

    pembahasan yang telah dilakukan diatas dapat juga ditarik kesimpulan bahwa

    dalam filtrat tidak diketemukan protein dan lemak, karena lemak biasanya

    berikatan dengan protein yang terdapat dalam plasma.

    GFR atau laju aliran tubulus merupakan banyaknya plasma yang

    melewati membran tubulus dalam satu menit. Pada orang dewasa normal,

    jumlahnya sekitar 125mL/menit. Laju filtrasi gromelurus ini ditentukan

    dengan kesimbangan osmotik dan onkotik antara plasma dengan di kapsula

    bowman dan juga faktor filtrasi dari zat tersebut. Hal yang mempengaruhi

    kecepatan berikutnya adalah tekanan hidrostatik dari kapiler dan gromelurus.

    Dimana peningkatan tekanan hidrostatik dari kapiler akan meningkatkan GFR

    sedangkan peningkatan tekanan hidrostatik dari glomerulus akan menurunkan

    GFR. Hal berikutnya yang berpengaruh adalah konsentrasi protein plasma

    yang bersifat higroskopis atau menarik air yang disebut sebagai tekanan

    onkotik. Karena dalam glomerulus tidak terdapat protein yang berarti maka

    tekanan onkotik glomerulus pada orang normal dianggap sama dengan nol.

    Sedangkan tekanan onkotik pada kapiler awal dibandingkan dengan kapiler

    akhir akan terus menigkat karena banyak air yang sudah keluar dan hal inilah

    yang menyebabkan tidak semua plasma dapat keluar dari kapiler ke dalam

    glomerulus. Hal ini dapat diartikan bahwa kontriksi dari arteriol aferen akan

    menurunkan GFR, sedangkan kontriksi dari arteriol eferen memiliki 2 sifat

    yaitu menurunkan dan menaikan GFR. Pada kontriksi arteriol eferen awal

    akan meningkatkan GFR, sedangkan pada kontriksi arteriol akhir akan

    menurunkan GFR itu sendiri. 5

    Kontrol umpan balik yang berfungsi untuk mengatur kerja dari filtrasi

    ginjal adalah renin dan angiotensin. Prosesnya adalah sebagai berikut, apabila

    tekanan arteri menurun maka akan menyebabkan tekanan hidrostatik

    glomerulus ikut turun dan akan serta merta menurunkan GFR. Penurunan zat

    yang difiltrasi akan juga menurunkan jumlah nacl yang terdeteksi oleh

    makula densa. Apabila hal ini terjadi maka akan menurunkan tahanan dari

    arterol aferen, selain daripada itu, penurunan ini juga akan menyebabkan

    peningkatan renin yang akan menghasilkan suatu hormon angiotensin II.

    Hormon ini dan penurunan tahanan dari arteriol aferen akan menjadi suatu

    umpan balik yang akan menaikkan tekanan hidrostatik dari glomerulus.

    Peningkatan ini juga akan meningkatkan reabsorbsi nacl dan akan kembali ke

    keadaan homeostatis

    • b. Reabsorbsi Ginjal

    Pembentukan urin yang berikutnya akan melalui proses reabsorbsi dan

    sekresi di sepanjang berbagai bagian dari nefron. Setiap bagian dari nefron

    mulai dari tubulus kontortus proksimal, ansa henle, tubulus kontortus distal,

    dan tubulus koligents mempunyai sifat dan cara kerja reabsorbsi dan sekresi

    urin yang berbeda. Proses transpor dari berbagai zat tersebut dapat dilakukan

    dengan transpor aktif primer, transpor aktif sekunder maupun dengan transpor

    pasif. Transpor aktif primer berarti transpor tersebut melalui membran tubulus

    ke dalam sel dengan langsung menggunakan ATP, misalnya natrium-kalium

    ATPase, hidrogen ATPase, hidogen –kalium ATPase, dan kalsium ATPase.

    Sedangkan pada transpor aktif sekunder, dua atau lebih zat berinteraksi

    dengan suatu protein membran spesifik dan ditranspor bersama melewati

    membran, contoh yang paling umum adalah transpor dari glukosa. Untuk

    transpor aktif sendiri selalu memiliki batas kecepatan yang disebut sebagai

    transpor maksimum. Keterbatasan ini disebabkan oleh kejenuhan dari sistem

    transpor spesifik yang dilibatkan apabla jumlah zat terlarut yang dikirim ke

    tubulus melebihi kapasitas protein pengangkut dan enzim-enzim spesifik yang

    terlibat dalam proses transport. Pada transport pasif yang paling banyak

    terjadi adalah pada reabsorbsi air yang melalui osmosis terutama menyertai

    reabsorpsi natrium. Selain dari pada air reabsorbsi dari klorida, ureum dan

    zat-zat terlarut lainnya melalui difusi pasif.

    Bagian pertama dalam proses reabsorbsi dan sekresi adalah tubulus

    proksimal. Secara normal, sekitar 65 persen dari muatan natrium dan air yang

    difiltrasi dan nilai presenntase yang sedikit lebih renadah dari klorida akan

    direabsorbsi oleh tubulus proskimal sebelum filtrat mencapai ansa Henle

    peresentase ini dapat menigkat atau menurun dalam berbagai kondisi

    fisiologis. Pada tubulus proskimal zat zat yang terutama direabsorbsi adalah

    natrium, clorida, air, glukosa, asam amino dan ion bikarbonat. Dan zat yang

    terutama disekresi adalah ion hidrogen, asam organik, dan beberapa jenis

    basa. Pada pertengahan pertama dari tubulus proksimal transpor natrium

    sebagaian besar diikuti oleh transport dari glukosa ataupun asam amino,

    sedangkan untuk paruh berikutnya karena konsentrasi dari clorida lebih tinggi

    lagi, maka transport dari natrium akan lebih bersamaan dengan ion clorida.

    Transport imbangan dari natrium adalah dengan hidrogen yang pada tubulus

    ginnjal berreaksi dengan ion bikarbonat dan akan menjadi carbondioksida dan

    air. Dan hal yang juga penting adalah pada tubulus prosimal terdapat proses

    sekresi dari asam dan basa organik yang berfungsi untuk mengeluarkan obat-

    obatan atau toksin yang potensial berbahaya melalui sel-sel tubulus ke dalam

    tubulus dan dapat dengan cepat dibersihkan dari darah.

    Ansa henle terdiri dari tiga segmen fungsional yang berbeda yaitu

    segmen tipis desenden, segmen tipis asenden dan segmen tebal asenden ansa

    henle. Bagian tebal dari segmen tipis ansa henle sangat permeable terhadap

    air dan cukup permeabl terhadap sebgaian besar zat terlarut tetapi hanya

    memiliki beberapa mitokondria dan terjadi reabsorbsi aktif yang sedikit atau

    bahkan tidak terjadi reabsorbsi aktif. Segmen tebal asenden ansa henle

    mereansornsi sekitar 25% natrium, klorida dan kalium yang terfiltrasi serta

    sejumlah besar kalsium, bikarbinat dan magnesium. Segmen ini juga

    menyekresikan ion hidrogen ke dalam lumen tubulus. Dan disini dapat

    dijelaskan bahwa pada bagian segmen tipis desendens dari ansa henle sangat

    permeable terhadap air, sendangkan pada bagian acendensnya tidak lagi

    permeable terhadap air tertapi banyak terdapat transport aktif keluar untuk

    natrium. Keadaan ini yang menyebabkan tetap tingginya osmilaritas cairan

    intersitial yang terdapat pada medula ginjal.

    Bagian awal tubulus distal banyak memiliki kesamaan dengan

    karakteristik dengan segmen tebal asenden ansa Henle dan mereabsorbsi

    natrium, klorida, dan magnesium tapi sebnenarnya tidak permeable terhadap

    air dan ureum. Bagian akhir dari tubulus distal dan tubulus kologentes

    kortikalis terdiri dari dua jenis sel yang berbeda yaitu sel prinsipalis dan sel

    interkalatus. Sel prinsipalis mereabsorbsi natrium dari lumen dan

    menyekresikan ion kalium ke dalam lumen. Sel interkalatus mereabsorbsi ion

    kalium dan bikarbonat dari lumen dan menyekresikan ion hidrogen ke dalam

    lumen. Rabsorbsi air dari segmen tubulus ini diatur oleh konsentrasi hormon

    antidiuretik.

    Ciri khas dari duktus koligentes bagian medula dalah dalam reabsorbsi

    air sangat dipengaruhi oleh hormon ADH. Peningkatan hormon ini akan

    menyebabkan banyak dari air yang akan direabsorbsi ke dalam darah, begitu

    juga sebaliknya. Ciri berikutnya yaitu duktus koligentes bagian medula

    bersifat permeabel terhadap ureum.

    Oleh karena itu beberapa ureum tubulus direabsorbsi ke dalam

    interstisium medula, membantu meningkatkan osmolalitas daerah ginal ini

    dan turut berperan pada seluruh kemampuan ginjal untuk membentuk urin

    yang pekant. Dan yang terakhir adalah duktus koligentes bagian medula

    mampu menyekresikan ion hidrogen melawan gradien konsentrasi yang besar,

    seperti yang juga terjadi dalam tubulus koligentes kortikalis. Jadi, duktus

    koligentes bagian medula juga memainkan peranan kunci dalam mengatur

    keseimbangan asam basa.

    • c. Sekresi Ginjal

    Sekresi tubulus, mengacu pada perpindahan selektif zat-zat dari darah

    kapiler peritubulus ke dalam lumen tubulus, merupakan rute kedua bagi zat

    dari darah untuk masuk kedalam tubulus ginjal. Proses sekresi terpenting

    adalah sekresi H+, K+, dan ion-ion organik. Sekresi tubulus dapat dipandang

    sebagai mekanisme tambahan yang meningkatkan eliminasi zat-zat tersebut

    dari tubuh. Semua zat yang masuk ke cairan tubulus, baik melalui fitrasi

    glomerulus maupun sekresi tubulus dan tidak direabsorpsi akan dieliminasi

    dalam urin.

    Sekresi tubulus melibatkan transportasi transepitel seperti yang dilakukan

    reabsorpsi tubulus, tetapi langkah-langkahnya berlawanan arah. Seperti

    reabsorpsi, sekresi tubulus dapat aktif atau pasif. Bahan yang paling penting

    yang disekresikan oleh tubulus adalah ion hidrogen (H+), ionkalium (K+),

    serta anion dan kation organik, yang banyak diantaranya adalah senyawa

    senyawa yang asing bagi tubuh.

    • 3. HIDRONEFROSIS DAN HIDROURETER

    a. Pengertian

    Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua

    ginjal akibat adanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin

    mengalir balik sehingga tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di

    uretra atau kandung kemih tekanan balik akan mempengaruhi kedua

    ginjal, tetapi kalau obtruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya

    batu atau kekakuan, maka hanya satu ginjal saja yang rusak. Hidronefrosis

    adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat

    mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan

    ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal.

    Hidronefrosis mengacu pada pada pelebaran pelvis dan kaliks ginjal, disertai

    atrofi parenkim, akibat obstruksi aliran keluar urin. Obstruksi dapat terjadi

    mendadak atau perlahan, dan dapat terletak di semua tingkat saluran kemih, dari

    uretra sampai pelvis ginjal. Obstruksi dapat berupa batu.

    b. Etiologi

    3. HIDRONEFROSIS DAN HIDROURETER a. Pengertian Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau

    Hidronefrosis disebabkan oleh Penyakit retroperitoneum

     

    o

    Tumor retroperitoneal : limfoma , sarkoma retroperitoneal , tumor sel

     

    germinal retroperitoneal .

     

    o

    Kelenjar getah bening atau jauh metastasis : kanker prostat , kanker

     

    leher rahim , kanker usus , kanker kandung kemih

     

    o

    fibrosis retroperitoneal

    Hidronefrosis akibat Penyakit Vaskular

     

    o

    aorta

    o

    Aneurisma arteri ginjal

    o

    Aneurisma pembuluh iliac

    o

    ureter Retrocaval atau ureter retroiliac

    o

    Nifas ovarium vena tromboflebitis : 1/3000 kehamilan . Hidronefrosis

     

    yang paling umum di sisi kanan , penyembuhan spontan adalah

    umum.

     

    o

    Setelah bedah vaskuler : hidronefrosis dipicu oleh fibrosis periureteral

     

    atau cedera intraoperatif

    penyakit ureter menyebabkan hidronefrosis ( penyebab intrinsik )

     

    o

    Batu ureter

    o

    Gumpalan karena hematuria

    o

    penyakit bawaan : ureteropelvic - junction obstruksi , vesicoureteral

    refluks , megaureter , ureterocele .

    o

    Striktur ureter jinak : setelah terapi batu ureter, infeksi ( TBC ,

    schistosomiasis ) , idiopatik . kanker ureter.

    MACAM-MACAM JENIS BATU YANG BISA MENYUMBAT

    TRAKTUS URINARIUS :

    Berdasarkan Komposisi Batu

    Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat

    atau kalsium fosfat (75%), asam urat (8%), magnesium-amonium-fosfat

    (MAP) (15%), xanthyn, dan sistin, silikat dan senyawa lain (1%). (Emedicine.

    2011)

    1.

    Batu Kalsium

    Banyak dijumpai pada laki-laki. Batu jenis ini dijumpai lebih dari

    80% batu saluran kemih, baik yang berikatan dengan oksalat maupun

    fosfat.

    Etiologi : 1. Hiperkalsiuri , yaitu kadar kalsium dalam urin lebih besar dari 250-300 mg/24 jam.
    Etiologi : 1. Hiperkalsiuri , yaitu kadar kalsium dalam urin lebih besar dari 250-300 mg/24 jam.

    Etiologi :

    • 1. Hiperkalsiuri, yaitu kadar kalsium dalam urin lebih besar dari 250-300 mg/24 jam. Menurut Pak (1976) terdapat 3 macam penyebab terjadinya hiperkalsiuri, antara lain :

      • a. Hiperkalsiuri absorptif, terjadi karena peningkatan absorpsi kalsium

    melalui usus.

    • b. renal,

    Hiperkalsiuri

    terjadi

    karena

    adanya

    gangguan

    kemampuan

    reabsorpsi kalsium melalui tubulus ginjal.

    • c. Hiperkalsiuri resorptif, terjadi karena adanya peningkatan resorpsi kalsium tulang, yang banyak terjadi pada hiperparatiroidisme primer

    2.

    atau pada tumor paratiroid. Hiperoksaluri, adalah ekskresi oksalat urin melebihi 45 gram per hari.

    Keadaan ini banyak dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan

    usus pasca operatif usus dan pasien yang banyak mengkonsumsi

    makanan yang kaya akan oksalat, seperti : teh, kopi instan, minuman soft

    drink, arbei, jeruk sitrun, dan sayuran hijau terutama bayam.

    3.

    Hiperorikosuria, yaitu kadar asam urat dalam urin melebihi 850 mg/24

    jam.

    • 4. Hipositraturia. Di dalam urin, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat yang bersifat lebih mudah larut, sehingga menghalangi kalsium berikatan dengan oksalat atau fosfat. Hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubulus ginjal, sindrom malabsorpsi, atau pemakaian diuretik golongan thiazid dalam waktu lama.

    • 5. Hipomagnesuria. Sama seperi sitrat, magnesium bertindak sebagai inhibitor timbulnya batu kalsium, karena di dalam urin magnesium bereaksi dengan oksalat membentuk magnesium oksalat, sehingga mencegah ikatan kalsium oksalat. (Emedicine. 2011).

    • 2. Batu Struvit

    Dijumpai sekitar 10-15%. Batu ini disebut juga batu infeksi karena

    pembentukannya disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Sering

    pada wanita akibat ISK oleh bakteri yang menghasilkan urease. Kuman

    penyebab adalah kuman golongan pemecah urea atau urea splitter yang

    dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah pH urin menjadi basa

    melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. (Emedicine. 2011)

    Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium, amonium,

    fosfat dan karbonat untuk membentuk batu magnesium amonium fosfat

    (MAP).

    3. Hiperorikosuria , yaitu kadar asam urat dalam urin melebihi 850 mg/24 jam. 4. Hipositraturia. Di

    Bersifat radioopak. Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea

    diantaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,

    Pseudomonas , Yersinea, Haemophilus dan Stafilokokus. E.coli bukan

    termasuk pemecah urea.

    • 3. Batu asam urat

    Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih.

    Di antara 75-80% batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya

    merupakan campuran kalsium oksalat.

    Bersifat radioopak . Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea diantaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,

    Penyakit ini banyak diderita oleh pasien dengan penyakit gout,

    penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi antikanker,

    dan yang banyak menggunakan obat urikosurik, seperti sulfinpirazone,

    thiazide, dan salisilat. Obesitas, peminum alkohol, dan diet tinggi protein

    mempunyai peluang besar untuk mendapatkan penyakit ini.

    (Bahdarsyam . 2003) Asam urat relatif tidak larut dalam urin, sehingga pada keadaan

    tertentu mudah sekali membentuk kristal asam urat, dan selanjutnya

    membentuk batu asam urat. Faktor yang menyebabkan terbentuknya batu

    asam urat adalah :

    1. urin yang terlalu asam (pH urin < 6),

    2. volume urin yang jumlahnya sedikit (< 2 liter/hari) atau dehidrasi,

    3. hiperurikosuri atau kadar asam urat yang tinggi (biasanya 25%

    pada penderita gout).

    Batu asam urat bentuknya halus dan bulat, sehingga seringkali keluar

    spontan. Bersifat radiolusen, sehingga pada pemeriksaan PIV tampak

    sebagai bayangan filling defect pada saluran kemih sehingga harus

    dibedakan dengan bekuan darah.

    • c. Patofisiologi

    Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik,

    sehingga tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau

    kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika

    obstruksi terjadi di salah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka

    hanya satu ginjal saja yang rusak.

    Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal

    yang terbentuk di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya.

    Obstruksi dapat diakibatkan oleh tumor yang menekan ureter atau berkas

    jaringan parut akibat abses atau inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran

    tersebut. Gangguan dapat sebagai akibat dari bentuk abnormal di pangkal

    ureter atau posisi ginjal yang salah, yang menyebabkan ureter berpilin atau

    kaku. Pada pria lansia , penyebab tersering adalah obstruksi uretra pada pintu

    kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis juga dapat terjadi

    pada kehamilan akibat pembesaran uterus.

    Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan

    menyebabkan distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal

    terjadi. Ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap, maka

    ginjal yang lain akan membesar secara bertahap (hipertropi kompensatori),

    akhirnya fungsi renal terganggu.

    • d. Manifestasi Klinis

    Pasien mungkin asimtomatik jika awitan terjadi secara bertahap.

    Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika

    terjadi infeksi maka disuria, menggigil, demam dan nyeri tekan serta piuria

    akan terjadi. Hematuri dan piuria mungkin juga ada.

     

    Jika kedua

    ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan

    muncul, seperti:

    Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium). Gagal jantung kongestif.

    Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).

    Pruritis (gatal kulit).

    Butiran uremik (kristal urea pada kulit).

    Anoreksia, mual, muntah, cegukan.

    Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang.

    Amenore, atrofi testikuler.

    Gejala-gejala yang ada tergantung dari penyebab, lokasi, serta lama

    sumbatan Jika sumbatan terjadi dengan cepat, bisa timbul nyeri hebat didaerah

    pinggang pada sisi ginjal yang terkena bisa ditemukannya hematuri

    Jika sumbatan terjadi secara perlahan mungkin tidak ditemukan adanya

    gejala atau hanya berupa nyeri tumpul didaerah pinggang Sering ditemukan infeksi saluran kemih, demam dan rasa nyeri didaerah

    kandung kemih atau ginjal.

    e.

    Diagnosis

    Diagnosa Penyakit Hidronefrosis

    bisa

    merasakan adanya massa di

    daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul, terutama jika ginjal sangat

    membesar. Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya kadar urea

    yang tinggi karena ginjal tidak mampu membuang limbah

    metabolik ini.

    Beberapa

    prosedur

    digunakan

    utnuk

    mendiagnosis hidronefrosis:

    Pemeriksaan

    USG

    sebagai

    tes

    skrining

    pilihan

    untuk

    diagnosis

    hidronefrosis

    Pemeriksaan Pyelography Intravena (IVP) untuk mengidentifikasi

    keberadaan dan penyebab hidronefrosis dan hidroureter. Pemeriksaan CT Scan memiliki peran penting dalam evaluasi

    hidronefrosis dan hidroureter.

    • f. Gambaran Radiologi

     Pemeriksaan Pyelography Intravena (IVP) untuk mengidentifikasi  keberadaan dan penyebab hidronefrosis dan hidroureter. Pemeriksaan CT

    Hidronefrosis derajat 1. Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks.

    Kaliks berbentuk blunting, alias tumpul. Hidronefrosis derajat 2. Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor. Kaliks

    berbentuk flattening, alias mendatar. Hidronefrosis derajat 3. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks

    minor. Tanpa adanya penipisan korteks. Kaliks berbentuk clubbing,

    alias menonjol. Hidronefrosis derajat 4. Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks

    minor. Serta adanya penipisan korteks Calices berbentuk ballooning

    alias menggembung.

    BNO-IVP

    Persiapan

    Sehari sebelum pemeriksaan, pasien harus makan makanan yang lunak

    (bubur, biscuit, roti, papaya).

    Makan terakhir jam 7.00 (malam/pagi).

    Pukul 9.00 (malam/pagi) minum obat pencuci perut (garam inggris 30

    gram atau castro oil 30 cc) dan segelas air hangat.

    Boleh minum sedikit sampai jam 10.00 (malam/pagi).

    Harus puasa sampai dilakukannya pemeriksaan roentgen, bicara

    seperlunya (agar perut kosong tidak terisi banyak udara).

    Lakukan

    pemeriksaan laboratorium IV pyelography (ureum dan

    kreatinin)

    BNO :

    BNO :

     

    Preperitoneal fat line

     

    Psoas line dan renal out line

    Distribusi udara usus, distensi usus

    Bayangan

    opasitas

    :

    batu,

    massa

    intra abdomen

     

    Sistema

    tulang

    :

    fraktur,

    spondilosis, metastase

     

    IVP

    Menit ke-5

    Renal out line :

    bayangan ginjal, posisi, letak

    Penilaian Sistem Pyelocalices (SPC)

    IVP Menit ke-15-30 ◦ Penilaian kaliber, batu ureter : ◦ Vesica urinaria : bentuk, dinding, batu/massa
    IVP Menit ke-15-30 ◦ Penilaian kaliber, batu ureter : ◦ Vesica urinaria : bentuk, dinding, batu/massa

    IVP

    Menit ke-15-30

    Penilaian kaliber, batu

    ureter

    :

    Vesica urinaria : bentuk, dinding, batu/massa

    Post Miksi :

     Hidronefrosis Grade III dengan hidroureter

    Hidronefrosis Grade III dengan hidroureter

     Hidronefrosis dengan hidroureter g. Penatalaksanaan Tujuannya adalah untuk mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi,

    Hidronefrosis dengan hidroureter

    g.

    Penatalaksanaan

    Tujuannya

    adalah

    untuk

    mengaktivasi dan memperbaiki penyebab dari

    hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan untuk mempertahankan dan melindungi

    fungsi ginjal. Untuk mengurangi obstruksi urin akan dialihkan melalui tindakan

    nefrostomi atau tipe disertasi lainnya. Infeksi ditangani dengan agen anti mikrobial

    karena sisa urin dalam kaliks akan menyebabkan infeksi dan pielonefritis.

    Pasien disiapkan untuk pembedahan mengangkat lesi obstrukstif (batu, tumor,

    obstruksi ureter).

    Jika

    salah

    satu

    fungsi

    ginjal

    rusak

    parah

    dan

    hancur

    makanefrektomi

    (pengangkatan ginjal) dapat dilakukan.

    • - Pada hidronefrosis akut:

    Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeriyang

    hebat,

    maka air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan

    (biasanya melalui sebuah jarum yang dimasukkan melalui kulit).

    Jika terjadi penyumbatan

    total,

    infeksi

    yang

    serius atau terdapat

    batu, maka bisa dipasang kateter pada pelvis renalis untuk sementara waktu.

    • - Pada Hidronefrosis kronis : Diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangipenyumbatan air

    kemih. Ureter yang menyempit atau abnormal bisa diangkat melalui

    pembedahan dan ujung-ujungnya disambungkan kembali. Kadang perlu

    dilakukan pembedahan untuk membebaskan ureter dari jaringan fibrosa.

    Jika sambungan ureter dan kandung kemih tersumbat, maka dilakukan

    pembedahan untuk melepaskan ureter dan menyambungkannya kembali di

    sisi

    kandung

    kemih

    yang berbeda.

     

    Jika

    uretra

    tersumbat,

    maka

    pengobatannya

    meliputi:

    terapi hormonal untuk kanker prostat :

    Pembedahan melebarkan uretra dengan dilator.

    BAB III KESIMPULAN Hidronefrosis adalah bendungan dalam ginjal yang di sebabkanoleh obstruksi yang terdapat pada ureter

    BAB III KESIMPULAN

    Hidronefrosis adalah bendungan dalam ginjal yang di sebabkanoleh obstruksi

    yang terdapat pada ureter yang di sebabkan karena adanyabatu ureter, sehingga

    terjadi tekanan balik ke ginjal.Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala

    ginjal akanmenyebabkan distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi

    ginjalterjadi. Ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap,maka

    ginjal

    yang lain akan membesar secara bertahap (hipertropikompensatori),

    akhirnya fungsi renal terganggu.

    Tujuan

    penatalaksanaan

    hidronefrosis

    untuk

    mengaktivasi

    danmemperbaiki penyebab dari hidronefrosis (obstruksi, infeksi) dan

    untukmempertahankan dan melindungi fungsi ginjal.

    DAFTAR PUSTAKA

    1.

    Parno. Mengenal Infeksi Ginjal. Juni 2010. Diunduh dari :

     

    2.

    Alantas, Husein. dkk. Buku Ajar Nefrologi Anak. Edisi 2. Balai Penerbit FK UI. 2002.

    Jakarta. Halaman 142-161.

     

    3.

    Anatomi

    dan

    Fisiologi

    Ginjal.

    Diunduh

    dari:

    4.

    Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Volume 3. Editor, Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Editor edisi bahasa Indonesia A, Samik Wahab. Edisi 15. EGC, 2000. Jakarta. Halaman 1863-1868.

    • 5. Price, Slvia A. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6. EGC. 2005. Jakarta. Halaman 921-924

    • 6. Alrecht, H. Tiselius, G., Hans, Andre, J. 2002. Urinary Stone Diagnosis, Treatment and Prevention of Recurrence : 2nd edition

    • 7. Tanagho EA, McAninch JW. 2004. Smith’s General Urology. Edisi ke-16. New York : Lange Medical Book.

    • 8. Staf Pengajar Sub-Bagian Radio Diagnostik. 2000. Bagian Radiologi, FKUI. Radiologi Diagnostik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

    • 9. Sjamsuhidrajat R, 1 W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit Buku

    Kedokteran – EGC. 2004. 756-763. 10. Hydronephrosis and Hydroureter. http://www.emedicine.com/med/topic1055.htm . Diakses

    tanggal 3 April 2013.