Anda di halaman 1dari 33

Orang Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

"Minangkabau" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Minangkabau (disambiguasi).

Minangkabau

Adityawarman Rohana Kudus Imam Bonjol

Sutan Syahrir

Abdul Muis

Rasuna Said

Mohammad Haji Agus Salim


Hatta

Tuanku Abdul Yusof bin Ishak

Tan Malaka

Chairil Anwar

Rahman

Hamka

Usmar Ismail

Harry Roesli

Rais Yatim

Fahmi Idris

Karni Ilyas

Irman Gusman

Sheikh
Muszaphar
Shukor

Total populasi
6.462.000 - 8.000.000 jiwa'
(Joshuaproject & Encyclopdia Britannica)[1]

Kawasan dengan populasi yang signifikan

6.462.713[2]

Indonesia (Sensus 2010)


Sumatera Barat

4.281.439

Riau

624.145

Sumatera Utara

345.403

DKI Jakarta

305.538

Jawa Barat

202.203

Jambi

168.947

Kepulauan Riau

156.770

Banten

86.217

Bengkulu

73.333

Sumatera Selatan

69.996

Lampung

69.884

Negeri Sembilan

548.000[butuh rujukan]
Bahasa

Bahasa Minang, Indonesia, Melayu


Agama
Islam
Kelompok etnis terkait
Melayu, Mandailing, Kerinci, Rejang, Mentawai

Minangkabau atau disingkat Minang merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai
dengan penggunaan bahasa,adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas
agama Islam. Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatera Barat, separuh
daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat
daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.[3] Dalam percakapan awam, orang Minang
seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatera

Barat Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan
sebutan urang awak, bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri.[4]
Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang
tumbuh dan besar karena sistem monarki[5] serta menganut sistem adat yang dicirikan dengan
sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal,[6]walaupun budayanya sangat
kuat diwarnai ajaran agama Islam. Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke
pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa
Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kelak penduduknya
tersebar luas di Kepulauan Timur.[7]
Masyarakat Minang bertahan sebagai penganut matrilineal terbesar di dunia. [8][9] Selain itu, etnis
ini telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan
adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau
tertuang dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan
hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam.[10]
Orang Minangkabau sangat menonjol di bidang perniagaan, sebagai profesional dan intelektual.
Mereka merupakan pewaris dari tradisi lama Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar
berdagang dan dinamis.[11] Lebih dari separuh jumlah keseluruhan anggota masyarakat ini
berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermukim di kota-kota besar,
sepertiJakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Surabaya. Di luar wilayah
Indonesia, etnis Minang terkonsentrasi di Kuala Lumpur, Seremban, Singapura, Jeddah, Sydney,
[12]

dan Melbourne.[13] Masyarakat Minang memiliki masakan khas yang populer dengan

sebutan masakan Padang yang sangat digemari di Indonesia bahkan sampai mancanegara.[14]
Daftar isi
[sembunyikan]

1Etimologi

2Asal usul

3Agama

4Adat dan budaya

o 4.1Matrilineal
o 4.2Bahasa
o 4.3Kesenian
o 4.4Olahraga
o 4.5Rumah adat
o 4.6Perkawinan
o 4.7Masakan khas

5Sosial kemasyarakatan

o 5.1Persukuan
o 5.2Nagari

o 5.3Penghulu
o 5.4Kerajaan

6Minangkabau perantauan

o 6.1Jumlah perantau
o 6.2Gelombang rantau
o 6.3Perantauan intelektual
o 6.4Sebab merantau
;

6.4.1Faktor budaya

6.4.2Faktor ekonomi

6.4.3Faktor perang

o 6.5Merantau dalam sastra

7Orang Minangkabau dan kiprahnya

8Lihat pula

9Referensi

10Bacaan lanjutan

11Pranala luar

Etimologi[sunting

| sunting sumber]

Peta yang menunjukan wilayah penganut kebudayaan Minangkabau di pulau Sumatera.

Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu
legenda yang dikenal di dalamtambo. Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu
kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan
penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu
kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan
agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam
pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya.

Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik
perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai
nama Minangkabau,[15] yang berasal dari ucapan "Manang kabau" (artinya menang kerbau).
Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa
kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman)
menggunakan nama tersebut.[16]Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan
untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di Kecamatan
Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama[17] bertanggal 1365, juga telah
menyebutkan nama Minangkabwasebagai salah satu dari negeri Melayu yang ditaklukannya.
Begitu juga dalam Tawarikh Ming tahun 1405, terdapat nama kerajaanMi-nang-ge-bu dari enam
kerajaan yang mengirimkan utusan menghadap kepada Kaisar Yongle di Nanjing.[18] Di sisi lain,
nama "Minang" (kerajaan Minanga) itu sendiri juga telah disebutkan dalam Prasasti Kedukan
Bukit tahun 682 dan berbahasa Sanskerta. Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri
kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang bertolak dari "Minnga" ....[19]Beberapa ahli
yang merujuk dari sumber prasasti itu menduga, kata baris ke-4 (...minnga) dan ke-5
(tmvan....) sebenarnya tergabung, sehingga menjadi minngatmvan dan diterjemahkan
dengan makna sungai kembar. Sungai kembar yang dimaksud diduga menunjuk kepada
pertemuan (temu) dua sumber aliran Sungai Kampar, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai
Kampar Kanan.[20] Namun pendapat ini dibantah oleh Casparis, yang membuktikan bahwa
"tmvan" tidak ada hubungannya dengan "temu", karena katatemu dan muara juga dijumpai
pada prasasti-prasasti peninggalan zaman Sriwijaya yang lainnya.[21] Oleh karena itu
kata Minanga berdiri sendiri dan identik dengan penyebutanMinang itu sendiri.

Bendera atau marawa yang digunakan suku-suku Minangkabau.

Asal usul[sunting

| sunting sumber]

Lihat pula: Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi


Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang
mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun
secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada
sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.[5] Namun kisah tambo ini
sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan
bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang

Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.
[22]

Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang
melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.5002.000 tahun
yang lalu. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatera,
menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi
kampung halaman orang Minangkabau.[23] Beberapa kawasan darek ini kemudian
membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya
disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak
Agam, dan Luhak Tanah Data.[6] Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda,
kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling,
dikepalai oleh seorang residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan
nama Tuan Luhak.[5]
Sementara seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, masyarakat
Minangkabau menyebar ke kawasan darek yang lain serta membentuk beberapa kawasan
tertentu menjadi kawasan rantau. Konsep rantau bagi masyarakat Minang merupakan suatu
kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau. Rantau juga berfungsi sebagai
tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal
dengan Rantau Nan Duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) danRantau di
Mudiak (kawasan pesisir barat).
Pada awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun
sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai dibedakan melihat
budayamatrilineal yang tetap bertahan berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat
Melayu umumnya.[24] Kemudian pengelompokan ini terus berlangsung demi
kepentingansensus penduduk maupun politik.

Sebuah masjid di kecamatanPangkalan Koto Baru, kabupaten Lima Puluh


Kota dengan arsitektur khas Minangkabau sekitar tahun 1900-an.

Agama[sunting

| sunting sumber]

Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, jika ada masyarakatnya
keluar dari agama Islam (murtad), secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar
dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut "dibuang sepanjang adat". Agama Islam

diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir
barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta
Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan
Minangkabau, dan Sungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan
pedalaman Minangkabau. Sebagaimana pepatah yang ada di masyarakat, Adat manurun,
Syarak mandaki (Adat diturunkan dari pedalaman ke pesisir, sementara agama (Islam)
datang dari pesisir ke pedalaman),[25] serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang
Siak merujuk kepada orang-orang yang ahli dan tekun dalam agama Islam, [26] masih tetap
digunakan di dataran tinggi Minangkabau.
Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat ini dari beberapa bukti arkeologis
menunjukan pernah memeluk agama Buddhaterutama pada masa
kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, sampai pada masa-masa
pemerintahan Adityawarman dan anaknyaAnanggawarman. Kemudian perubahan struktur
kerajaan dengan munculnya Kerajaan Pagaruyung yang telah mengadopsi Islam dalam
sistem pemerintahannya, walau sampai abad ke-16, Suma Oriental masih menyebutkan dari
tiga raja Minangkabau hanya satu yang telah memeluk Islam.
Kedatangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Mekkah sekitar tahun 1803,
[27]

memainkan peranan penting dalam penegakan hukum Islam di pedalaman Minangkabau.

Walau pada saat bersamaan muncul tantangan dari masyarakat setempat yang masih
terbiasa dalam tradisi adat, dan puncak dari konflik ini muncul Perang Padrisebelum
akhirnya muncul kesadaran bersama bahwa adat berasaskan Al-Qur'an.[28]

Randai, sebuah pertunjukan kesenian yang dimainkan secara berkelompok.

Adat dan budaya[sunting

| sunting sumber]

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Adat Minangkabau dan Budaya Minangkabau
Menurut tambo, sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang
bersaudara, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Datuk
Ketumanggungan mewariskan sistem adat Koto Piliang yang aristokratis, sedangkan Datuk
Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago yang egaliter. Dalam perjalanannya, dua
sistem adat yang dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk sistem
masyarakat Minangkabau.

Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan
budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang
dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan. Ketiganya saling melengkapi dan bahu
membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang
demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu
secara mufakat.[29]

Matrilineal[sunting | sunting sumber]

Pakaian perempuan Minang dalam pesta adat atau perkawinan.

Matrilineal merupakan salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat
Minang. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai
pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal
dengan Samande (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan
nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga.
Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki
dengan Bundo Kanduang, memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan
pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka
sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), dan penghulu (kepala suku).
Pengaruh yang besar tersebut menjadikan perempuan Minang disimbolkan
sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah).[30] Walau kekuasaan sangat
dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak
perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau memiliki legitimasi kekuasaan
pada komunitasnya.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Aksara yang pernah diduga sebagai aksara Minangkabau.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bahasa Minangkabau


Bahasa Minangkabau termasuk salah satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia.
Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau
dengan bahasa Melayu, ada yang menganggap bahasa yang dituturkan masyarakat ini
sebagai bagian dari dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk
tuturan di dalamnya, sementara yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa
mandiri yang berbeda dengan Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau
merupakan bahasa Proto-Melayu.[31][32] Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang
itu sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya
masing-masing.[33][34]
Pengaruh bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Minang umumnya
dari Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Kemudian kosakata Sanskerta dan Tamil yang
dijumpai pada beberapa prasasti di Minangkabau telah ditulis menggunakan bermacam
aksara di antaranya Dewanagari, Pallawa, danKawi. Menguatnya Islam yang diterima secara
luas juga mendorong masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisan sebelum
berganti dengan Alfabet Latin.
Meskipun memiliki bahasa sendiri, orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu dan
kemudian bahasa Indonesia secara meluas. Historiografi tradisional orang Minang, Tambo
Minangkabau, ditulis dalam bahasa Melayu dan merupakan bagian sastra
Melayu atau sastra Indonesia lama.[15]Suku Minangkabau menolak penggunaan bahasa
Minangkabau untuk keperluan pengajaran di sekolah-sekolah. [35] Bahasa Melayu yang
dipengaruhi baik secara tata bahasa maupun kosakata oleh bahasa Arab telah digunakan
untuk pengajaran agama Islam. Pidato di sekolah agama juga menggunakan bahasa
Melayu. Pada awal abad ke-20 sekolah Melayu yang didirikan pemerintah Hindia Belanda di
wilayah Minangkabau mengajarkan ragam bahasa Melayu Riau, yang dianggap sebagai
bahasa standar dan juga digunakan di wilayah Johor, Malaysia. Namun kenyataannya
bahasa yang digunakan oleh sekolah-sekolah Belanda ini adalah ragam yang terpengaruh
oleh bahasa Minangkabau.[35]

Guru-guru dan penulis Minangkabau berperan penting dalam pembinaan bahasa Melayu
Tinggi. Banyak guru-guru bahasa Melayu berasal dari Minangkabau, dan sekolah
diBukittinggi merupakan salah satu pusat pembentukan bahasa Melayu formal. [36] Dalam
masa diterimanya bahasa Melayu Balai Pustaka, orang-orang Minangkabau menjadi
percaya bahwa mereka adalah penjaga kemurnian bahasa yang kemudian menjadi bahasa
Indonesia itu.[35]

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Sebuah pertunjukan kesenian talempong, salah satu alat musik pukul tradisional Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-tarian
yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut
misalnya tari pasambahan merupakan tarian yang dimainkan bermaksud sebagai ucapan
selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja
sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para
penarinya sambil memegang piring pada telapak tangan masing-masing, yang diiringi
dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dansaluang.
Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang
sudah berkembang sejak lama. Dewasa ini Silek tidak hanya diajarkan di Minangkabau saja,
namun juga telah menyebar ke seluruh Kepulauan Melayu bahkan hingga ke Eropa dan
Amerika. Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut
dengan randai. Randai biasa diiringi dengan nyanyian atau disebut juga dengan sijobang,
[37]

dalam randai ini juga terdapat seni peran (acting) berdasarkan skenario.[38]

Selain itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Terdapat tiga genre seni
berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkatakata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan,
ibarat, alegori, metafora, dan aforisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk
mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.
[39]

Olahraga[sunting | sunting sumber]


Pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang telah lama ada di nagari-nagari Minang,
dan sampai saat ini masih diselenggarakan oleh masyarakatnya, serta menjadi perlombaan

tahunan yang dilaksanakan pada kawasan yang memiliki lapangan pacuan kuda. Beberapa
pertandingan tradisional lainnya yang masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi
masyarakat Minang antara lain lomba pacu jawi dan pacu itik. sipak rago,atau nama lainnya
sepak takraw adalah olah raga masyarakat tradisional minang yang dimainkan sedikitnya
lima atau empat orang, bolanya terbuat dari anyaman rotan, bola ditendang dari setinggi
pinggang sampai setinggi kepala oleh sekelompok orang yang berdiri melingkar, dalam
hikayat dan novel serta beberapa film seperti film sengsara membawa nikmat ada
menyinggung masalah olahraga sipak rago ini.

Rumah adat[sunting | sunting sumber]

Rumah Gadang dengan duaRangkiang di depannya.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rumah Gadang


Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas
sebidang tanah milik keluarga induk dalamsuku tersebut secara turun temurun.[40] Rumah
adat ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan
belakang.[41] Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah
panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa
disebut gonjong[42] dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan
atap seng. Di halaman depan Rumah Gadang, biasanya didirikan dua sampai enam
buah Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga yang
menghuni Rumah Gadang tersebut.
Hanya kaum perempuan bersama suaminya beserta anak-anak yang menjadi penghuni
Rumah Gadang, sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap di rumah
istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau. Suraubiasanya
dibangun tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut, selain berfungsi sebagai tempat
ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah.
Dalam budaya Minangkabau, tidak semua kawasan boleh didirikan Rumah Gadang. Hanya
pada kawasan yang telah berstatus nagari saja rumah adat ini boleh ditegakkan. Oleh
karenanya di beberapa daerah rantau Minangkabau seperti Riau, Jambi, Negeri Sembilan,
pesisir barat Sumatera Utara dan Aceh, tidak dijumpai rumah adat bergonjong.

Perkawinan[sunting | sunting sumber]

Pakaian adat yang dikenakan oleh pengantin Minangkabau.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pernikahan Minangkabau


Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting
dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam
membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang,
perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya.
Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota
di komunitas Rumah Gadang mereka.
Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa
tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik
marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan).
Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan),
maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid,
sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan. Pada nagari tertentu setelahijab kabul di
depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan
penganti nama kecilnya.[43]Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar
baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai
dari sutan, bagindo atau sidi (sayyidi) di kawasan pesisir pantai. Sementara itu di
kawasan Luhak Limopuluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.

Masakan khas[sunting | sunting sumber]

Rendang daging sapi yang tengah dihidangkan dengan ketupat.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masakan Padang


Masyarakat Minang juga dikenal akan aneka masakannya. Dengan citarasanya yang pedas,
membuat masakan ini populer di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga dapat ditemukan
di hampir seluruh Nusantara.[44] Di Malaysia dan Singapura, masakan ini juga sangat
digemari, begitu pula dengan negara-negara lainnya. Bahkan, seni memasak yang dimiliki

masyarakat Minang juga berkembang di kawasan-kawasan lain seperti Riau, Jambi,


dan Negeri Sembilan, Malaysia. Salah satu masakan tradisional Minang yang terkenal
adalahRendang, yang mendapat pengakuan dari seluruh dunia sebagai hidangan terlezat. [45]
[46]

Masakan lainnya yang khas antara lain Asam Pedas, Soto Padang, Sate Padang,

dan Dendeng Balado. Masakan ini umumnya dimakan langsung dengan tangan.
Masakan Minang mengandung bumbu rempah-rempah yang kaya,
seperti cabai, serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, dan bawang merah. Beberapa di
antaranya diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang kuat, sehingga tidak mengherankan
jika ada masakan Minang yang dapat bertahan lama.[47] Pada hari-hari tertentu, masakan
yang dihidangkan banyak yang berbahan utama daging, terutama daging sapi,
daging kambing, dan daging ayam.
Masakan ini lebih dikenal dengan sebutan Masakan Padang, begitu pula dengan restoran
atau rumah makan yang khusus menyajikannya disebut Restoran Padang. Padahal dalam
masyarakat Minang itu sendiri, memiliki karakteristik berbeda dalam pemilihan bahan dan
proses memasak, bergantung kepada daerahnya masing-masing.

Sosial kemasyarakatan[sunting

| sunting sumber]

Persukuan[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar suku Minangkabau
Suku dalam tatanan Masyarakat Minangkabau merupakan basis dari organisasi sosial,
sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Pengertian awal
kata sukudalam Bahasa Minang dapat bermaksud satu perempat, sehingga jika dikaitkan
dengan pendirian suatu nagari di Minangkabau, dapat dikatakan sempurna apabila telah
terdiri dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut. Selanjutnya, setiap
suku dalam tradisi Minang, diurut dari garis keturunan yang sama dari pihak ibu, dan diyakini
berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama. [6]
Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis dari unit-unit ekonomi. Kekayaan
ditentukan oleh kepemilikan tanah keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan lainnya
yang semuanya itu dikenal sebagai harta pusaka. Harta pusaka merupakan harta milik
bersama dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat diperjualbelikan dan
tidak dapat menjadi milik pribadi. Harta pusaka semacam dana jaminan bersama untuk
melindungi anggota kaum-keluarga dari kemiskinan. Jika ada anggota keluarga yang
mengalami kesulitan atau tertimpa musibah, maka harta pusaka dapat digadaikan.
Suku terbagi-bagi ke dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil atau
disebut payuang (payung). Adapun unit yang paling kecil
setelah sapayuang disebut saparuik. Sebuah paruik (perut) biasanya tinggal pada
sebuah Rumah Gadang secara bersama-sama.[3]

Nagari[sunting | sunting sumber]

Pakaian khas suku Minangkabau pada tahun 1900-an.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Nagari


Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom
dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik lainnya
yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin sekali
mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri
dari pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut
dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan
inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan.
Faktor utama yang menentukan dinamika masyarakat Minangkabau adalah terdapatnya
kompetisi yang konstan antar nagari, kaum-keluarga, dan individu untuk mendapatkan status
dan prestise.[48] Oleh karenanya setiap kepala kaum akan berlomba-lomba meningkatkan
prestise kaum-keluarganya dengan mencari kekayaan (berdagang) serta menyekolahkan
anggota kaum ke tingkat yang paling tinggi.
Dalam pembentukan suatu nagari sejak dahulunya telah dikenal dalam istilah pepatah yang
ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun
manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem administrasi
pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut dengan Taratak,
kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi Koto dan kemudian
berkembang menjadi Nagari. Biasanya setiap nagari yang dibentuk minimal telah terdiri dari
4 suku yang mendomisili kawasan tersebut.[6] Selanjutnya sebagai pusat administrasi nagari
tersebut dibangunlah sebuah Balai Adat sekaligus sebagai tempat pertemuan dalam
mengambil keputusan bersama para penghulu di nagari tersebut.

Penghulu[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penghulu dan Datuk di Minangkabau
Penghulu atau biasa yang digelari dengan datuak, merupakan kepala kaum keluarga yang
diangkat oleh anggota keluarga untuk mengatur semua permasalahan kaum. Penghulu
biasanya seorang laki-laki yang terpilih di antara anggota kaum laki-laki lainnya. Setiap
kaum-keluarga akan memilih seorang laki-laki yang pandai berbicara, bijaksana, dan
memahami adat, untuk menduduki posisi ini. Hal ini dikarenakan ia bertanggung jawab
mengurusi semua harta pusaka kaum, membimbing kemenakan, serta sebagai wakil kaum
dalam masyarakat nagari. Setiap penghulu berdiri sejajar dengan penghulu lainnya,

sehingga dalam rapat-rapat nagari semua suara penghulu yang mewakili setiap kaum
bernilai sama.
Seiring dengan bertambahnya anggota kaum, serta permasalahan dan konflik intern yang
timbul, maka kadang-kadang dalam sebuah keluarga posisi kepenghuluan ini dipecah
menjadi dua. Atau sebaliknya, anggota kaum yang semakin sedikit jumlahnya, cenderung
akan menggabungkan gelar kepenghuluannya kepada keluarga lainnya yang sesuku. [49] Hal
ini mengakibatkan berubah-ubahnya jumlah penghulu dalam suatu nagari.
Memiliki penghulu yang mewakili suara kaum dalam rapat nagari, merupakan suatu prestise
dan harga diri. Sehingga setiap kaum akan berusaha sekuatnya memiliki penghulu sendiri.
Kaum-keluarga yang gelar kepenghuluannya sudah lama terlipat, akan berusaha
membangkitkan kembali posisinya dengan mencari kekayaan untuk "membeli" gelar
penghulunya yang telah lama terbenam. Bertegak penghulu memakan biaya cukup besar,
sehingga tekanan untuk menegakkan penghulu selalu muncul dari keluarga kaya. [50]

Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Istana Pagaruyung sebuah legitimasi institusi kerajaan Minangkabau.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kerajaan Melayu, Dharmasraya, dan Kerajaan
Pagaruyung
Dalam laporan De Stuers[51] kepada pemerintah Hindia-Belanda, dinyatakan bahwa di
daerah pedalaman Minangkabau, tidak pernah ada suatu kekuasaan pemerintahan terpusat
di bawah seorang raja. Tetapi yang ada adalah nagari-nagari kecil yang mirip dengan
pemerintahan polis-polis pada masa Yunani kuno.[52] Namun dari beberapa prasasti yang
ditemukan pada kawasan pedalaman Minangkabau, serta dari tambo yang ada pada
masyarakat setempat, etnis Minangkabau pernah berada dalam suatu sistem kerajaan yang
kuat dengan daerah kekuasaan meliputi pulau Sumatera dan bahkan sampai Semenanjung
Malaya. Beberapa kerajaaan yang ada di wilayah Minangkabau antara lain Kerajaan
Dharmasraya, Kerajaan Pagaruyung, dan Kerajaan Inderapura.
Sistem kerajaan ini masih dijumpai di Negeri Sembilan, salah satu kawasan dengan
komunitas masyarakat Minang yang cukup signifikan. Pada awalnya masyarakat Minang di
negeri ini menjemput seorang putra Raja Alam Minangkabau untuk menjadi raja mereka,
sebagaimana tradisi masyarakat Minang sebelumnya, seperti yang diceritakan
dalam Sulalatus Salatin.

Minangkabau perantauan[sunting

| sunting sumber]

Seorang putri Minang meramaikan acara Grebeg Sudiro di Surakarta

Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minang yang hidup di luar kampung
halamannya.Bagi laki-laki Minang merantau erat kaitannya dengan pesan nenek moyang
karatau madang di hulu babuah babungo balun (anjuran merantau kepada laki-laki karena
di kampung belum berguna). Dalam kaitan ini harus dikembangkan dan dipahami, apa yang
terkandung dan dimaksud satinggi-tinggi tabangnyo bangau kembalinya ke kubangan juo.
Ungkapan ini ditujukan agar urang Minang agar akan selalu ingat pada ranah asalnya.
Merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia luar.
Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman dan geografis, dengan
meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang. Keluarga yang telah
lama memiliki tradisi merantau, biasanya mempunyai saudara di hampir semua kota utama
di Indonesia dan Malaysia. Keluarga yang paling kuat dalam mengembangkan tradisi
merantau biasanya datang dari keluarga pedagang-pengrajin dan penuntut ilmu agama. [53]
Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai
pedagang ataupun penuntut ilmu. Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau
merupakan sebuah cara yang ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan
merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat, namun juga
prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.
Dari pencarian yang diperoleh, para perantau biasanya mengirimkan sebagian hasilnya ke
kampung halaman untuk kemudian diinvestasikan dalam usaha keluarga, yakni dengan
memperluas kepemilikan sawah, memegang kendali pengolahan lahan, atau menjemput
sawah-sawah yang tergadai. Uang dari para perantau biasanya juga dipergunakan untuk
memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti mesjid, jalan, ataupun pematang sawah.

Jumlah perantau[sunting | sunting sumber]


Kota konsentrasi perantau Minang

Kota

Pekanbaru

Jumlah (2010)

343.121

[54]

Persentase1

37,96%

Jakarta

305.538

3,18%

Seremban

282.971

50,9%[55]

Medan

181.403

8,6%

Batam

169.887

14,93%

Palembang

103.025

7,1%

Bandung

101.729

4,25%

Bandar Lampung

74.071

8,4%

Tanjung Pinang

26.249

14,01%

Banda Aceh

13.606

7,8%

Singapura

2.073

0,04%

Persentase dari keseluruhan penduduk kota

[56][57]

Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di


Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mochtar Naim, pada tahun 1961
terdapat sekitar 32% orang Minang yang berdomisili di luar Sumatera Barat. Kemudian pada
tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44%.[57] Berdasarkan sensus tahun 2010, etnis
Minang yang tinggal di Sumatera Barat berjumlah 4,2 juta jiwa, dengan perkiraan hampir
separuh orang Minang berada di perantauan. Mobilitas migrasi orang Minangkabau dengan
proporsi besar terjadi dalam rentang antara tahun 1958 sampai tahun 1978, dimana lebih
80% perantau yang tinggal di kawasan rantau telah meninggalkan kampung halamannya
setelah masa kolonial Belanda.[58]
Namun tidak terdapat angka pasti mengenai jumlah orang Minang di perantauan. Angkaangka yang ditampilkan dalam perhitungan, biasanya hanya memasukkan para perantau
kelahiran Sumatera Barat. Namun belum mencakup keturunan-keturunan Minang yang telah
beberapa generasi menetap di perantauan.
Para perantau Minang, hampir keseluruhannya berada di kota-kota besar Indonesia dan
Malaysia. Di beberapa perkotaan, jumlah mereka cukup signifikan dan bahkan menjadi pihak
mayoritas. Di Pekanbaru, perantau Minang berjumlah 37,96% dari seluruh penduduk kota,

dan menjadi etnis terbesar di kota tersebut.[59] Jumlah ini telah mengalami penurunan jika
dibandingkan dengan tahun 1971 yang mencapai 65%. [60]

Gelombang rantau[sunting | sunting sumber]


Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah
mencatat migrasi pertama terjadi pada abad ke-7, di mana banyak pedagang-pedagang
emas yang berasal dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muaraJambi,
dan terlibat dalam pembentukan Kerajaan Malayu.[61] Migrasi besar-besaran terjadi pada
abad ke-14, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke pesisir timur Sumatera.
Mereka mendirikan koloni-koloni dagang di Batubara, Pelalawan, hingga melintasi selat
ke Penang dan Negeri Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan gelombang migrasi ke arah
timur, juga terjadi perpindahan masyarakat Minang ke pesisir barat Sumatera. Di sepanjang
pesisir ini perantau Minang banyak bermukim di Meulaboh, Acehtempat keturunan Minang
dikenal dengan sebutan Aneuk Jamee; Barus, Sibolga, Natal, Bengkulu, hingga Lampung.
[62]

Setelah Kesultanan Malaka jatuh ke tangan Portugispada tahun 1511, banyak keluarga

Minangkabau yang berpindah ke Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung kerajaan


Gowa, sebagai pedagang dan administratur kerajaan. Datuk Makotta bersama istrinya Tuan
Sitti, sebagai cikal bakal keluarga Minangkabau di Sulawesi.[63] Gelombang migrasi
berikutnya terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa
untuk mendiami kawasan Kerajaan Siak.
Pada masa penjajahan Hindia-Belanda, migrasi besar-besaran kembali terjadi pada tahun
1920, ketika perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatera Timur mulai dibuka. Pada
masa kemerdekaan, Minang perantauan banyak mendiami kota-kota besar di Jawa, pada
tahun 1961 jumlah perantau Minang terutama di kota Jakarta meningkat 18,7 kali
dibandingkan dengan tingkat pertambahan penduduk kota itu yang hanya 3,7 kali, [64] dan
pada tahun 1971 etnis ini diperkirakan telah berjumlah sekitar 10% dari jumlah penduduk
Jakarta waktu itu.[65] Kini Minang perantauan hampir tersebar di seluruh dunia.

Perantauan intelektual[sunting | sunting sumber]


Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Mekkah untuk mendalami
agama Islam, di antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah
air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran Islam
yang murni di seluruh Minangkabau dan Mandailing. Gelombang kedua perantauan ke Timur
Tengah terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir
Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke Eropa. Mereka
antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, danMohammad
Amir. Intelektual lain, Tan Malaka, hidup mengembara di delapan negara Eropa dan Asia,
membangun jaringan pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang tersebut, yang
merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pendiri
Republik Indonesia.[66]

Sebab merantau[sunting | sunting sumber]


Faktor budaya[sunting | sunting sumber]
Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem
kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum
perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil
baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya
diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak.
Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman
merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang
sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sedari kecil. Siapa pun yang
tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diperolok-olok oleh temantemannya.[67] Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Kini
wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi
juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme
dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan
luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau.
[68]

Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah

Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang
dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum
berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.

Salah satu motif tenun songketMinangkabau khas nagari Pandai Sikek.

Faktor ekonomi[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Saudagar Minangkabau
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya
sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber
utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam

yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi
kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Selain itu adalah
tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan.
Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu
nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para
perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk
semang. Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.
Selain itu, perekonomian masyarakat Minangkabau sejak dahulunya telah ditopang oleh
kemampuan berdagang, terutama untuk mendistribusikan hasil bumi mereka. Kawasan
pedalaman Minangkabau, secara geologis memiliki cadangan bahan baku
terutama emas,tembaga, timah, seng, merkuri, dan besi, semua bahan tersebut telah
mampu diolah oleh mereka.[69] Sehingga julukan suvarnadvipa (pulau emas) yang muncul
pada cerita legenda di India sebelum Masehi, kemungkinan dirujuk untuk pulau Sumatera
karena hal ini.[70]
Pedagang dari Arab pada abad ke-9, telah melaporkan bahwa masyarakat di pulau
Sumatera telah menggunakan sejumlah emas dalam perdagangannya. Kemudian
dilanjutkan pada abad ke-13 diketahui ada raja di Sumatera yang menggunakan mahkota
dari emas. Tom Pires sekitar abad ke-16 menyebutkan, bahwa emas yang
diperdagangangkan di Malaka, Panchur (Barus), Tico (Tiku) dan Priaman (Pariaman),
berasal dari kawasan pedalaman Minangkabau. Disebutkan juga kawasan Indragiri pada
sehiliran Batang Kuantan di pesisir timur Sumatera, merupakan pusat pelabuhan dari raja
Minangkabau.[71]
Dalam prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman disebut bahwa dia adalah penguasa
bumi emas. Hal inilah menjadi salah satu penyebab, mendorong Belanda membangun
pelabuhan di Padang[72] dan sampai pada abad ke-17 Belanda masih menyebut yang
menguasai emas kepada raja Pagaruyung.[73] Kemudian meminta Thomas Diaz untuk
menyelidiki hal tersebut, dari laporannya dia memasuki pedalaman Minangkabau dari pesisir
timur Sumatera dan dia berhasil menjumpai salah seorang raja Minangkabau waktu itu (Rajo
Buo), dan raja itu menyebutkan bahwa salah satu pekerjaan masyarakatnya adalah
pendulang emas.[74]
Sementara itu dari catatan para geologi Belanda, pada sehiliran Batanghari dijumpai 42
tempat bekas penambangan emas dengan kedalaman mencapai 60 m serta di Kerinciwaktu
itu, mereka masih menjumpai para pendulang emas.[75] Sampai abad ke-19, legenda akan
kandungan emas pedalaman Minangkabau, masih mendorong Raffles untuk
membuktikannya, sehingga dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang berhasil
mencapai Pagaruyung melalui pesisir barat Sumatera.[76]
Faktor perang[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Padri dan Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia

Tuanku Imam Bonjol, salah seorang pemimpinPerang Padri, yang diilustrasikan oleh de Stuers.

"Orang Minang merupakan masyarakat yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan
perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap
kekuatan luar, baik dari Jawa maupun Eropa".[77]
Pendapat dari Audrey R. Kahin.

Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat


Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah Perang Padri,[28] munculpemberontakan
di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti
Manggopoh dalam Perang Belasting menentang belasting dan pemberontakan komunis
tahun 19261927.[77] Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya
eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain.[65] Dari beberapa
perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak
menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun
jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman
(merantau). Orang Sakai berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan
bahwa mereka berasal dari Pagaruyung.[78] Orang Kubu menyebut bahwa orang dari
Pagaruyung adalah saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk
masyarakat Minang yang melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman
mereka karena tidak mau menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka. De
Stuers sebelumnya juga melaporkan bahwa masyarakatPadangsche Bovenlanden sangat
berbeda dengan masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat
begitu percaya diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk
lokal lalu lalang begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah
ada penduduk lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok
tersebut.[51]

Merantau dalam sastra[sunting | sunting sumber]


Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber
inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke
Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah
dengan perempuan Jawa. Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijckjuga
bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia

menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri.
Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Sitti Nurbaya dan Salah
Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel
tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat
budaya Barat. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang
yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya menjadi orang yang berhasil. Dalam bentuk
yang berbeda, lewat karyanya yang berjudul Kemarau, A.A Navis mengajak masyarakat
Minang untuk membangun kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.
Novel yang bercerita tentang perantau Minang tersebut, biasanya berisi kritik sosial dari
penulis kepada adat budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel,
kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris, Gareth
Evans.

Orang Minangkabau dan kiprahnya[sunting

| sunting sumber]

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar tokoh Minangkabau

Imam Bonjol, Mohammad Hatta,Sjahrir dan Fahmi Idris.

Orang Minang terkenal sebagai kelompok yang terpelajar, oleh sebab itu pula mereka
menyebar di seluruh Indonesia bahkan manca-negara dalam berbagai macam profesi dan
keahlian, antara lain sebagai politisi, penulis, ulama, pengajar, jurnalis, dan pedagang.
Berdasarkan jumlah populasi yang relatif kecil (2,7% dari penduduk Indonesia),
Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian. [58] Majalah
Tempo dalam edisi khusus tahun 2000 mencatat bahwa 6 dari 10 tokoh penting Indonesia
pada abad ke-20 merupakan orang Minang.[79] 3 dari 4 orang pendiri Republik Indonesia
adalah putra-putra Minangkabau.[80][81]
Keberhasilan dan kesuksesan orang Minang banyak diraih ketika berada di perantauan.
Sejak dulu mereka telah pergi merantau ke berbagai daerah
di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Philipina. Pada tahun
1390, Raja Bagindo mendirikan Kesultanan Sulu di Filipina selatan.[57] Pada abad ke-14
orang Minang melakukan migrasi ke Negeri Sembilan, Malaysia dan mengangkat raja untuk
negeri baru tersebut dari kalangan mereka. Di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17,
beberapa ulama Minangkabau seperti Tuan Tunggang Parangan, Dato ri Bandang, Dato ri
Patimang,Dato ri Tiro, dan Dato Karama, menyebarkan Islam di Kalimantan, Sulawesi,
dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Kedatangan reformis Muslim yang menuntut ilmu di Kairo dan Mekkah memengaruhi sistem
pendidikan di Minangkabau. Sekolah Islam modern Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri,

banyak melahirkan aktivis yang berperan dalam proses kemerdekaan, antara lain A.R Sutan
Mansur, Siradjuddin Abbas, dan Djamaluddin Tamin.
Pada periode 19201960, banyak politisi Indonesia berpengaruh lahir dari ranah
Minangkabau. Menjadi salah satu motor perjuangan kemerdekaan Asia, pada tahun
1923 Tan Malaka terpilih menjadi wakil Komunis Internasional untuk wilayah Asia Tenggara.
Politisi Minang lainnya Muhammad Yamin, menjadi pelopor Sumpah Pemuda yang
mempersatukan seluruh rakyat Hindia-Belanda. Di dalam Volksraad, politisi asal Minang-lah
yang paling vokal. Mereka antara lain Jahja Datoek Kajo, Agus Salim, dan Abdul Muis.
Tokoh Minang lainnya Mohammad Hatta, menjadi ko-proklamator kemerdekaan Indonesia.
Setelah kemerdekaan, empat orang Minangkabau duduk sebagai perdana menteri (Sutan
Syahrir, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir), seorang sebagai presiden
(Assaat), seorang sebagai wakil presiden (Mohammad Hatta), seorang menjadi pimpinan
parlemen (Chaerul Saleh), dan puluhan yang menjadi menteri, di antara yang cukup terkenal
ialah Azwar Anas, Fahmi Idris, Rizal Ramli dan Emil Salim. Emil bahkan menjadi orang
Indonesia terlama yang duduk di kementerian RI. Minangkabau, salah satu dari dua etnis
selain etnis Jawa, yang selalu memiliki wakil dalam setiap kabinet pemerintahan Indonesia.
Selain di pemerintahan, pada masa Demokrasi liberal parlemen Indonesia didominasi oleh
politisi Minang. Mereka tergabung kedalam aneka macam partai dan ideologi, islamis,
nasionalis, komunis, dan sosialis.
Selain menjabat gubernur provinsi Sumatera Tengah dan Sumatera Barat, orang
Minangkabau juga duduk sebagai gubernur provinsi lain di Indonesia. Mereka adalah Datuk
Djamin (Jawa Barat), Daan Jahja (Jakarta), Muhammad Djosan dan Muhammad Padang
(Maluku), Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuniang dan Moenafri (Sulawesi Tengah),Adenan
Kapau Gani, Mohammad Isa, dan Rosihan Arsyad (Sumatera Selatan), Eny Karim
(Sumatera Utara), serta Djamin Datuk Bagindo (Jambi).[82]
Beberapa partai politik Indonesia didirikan oleh politisi Minang. PARI dan Murba didirikan
oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Mohammad
Hatta, Masyumi oleh Mohammad Natsir, Perti oleh Sulaiman ar-Rasuli,
dan Permi oleh Rasuna Said. Selain mendirikan partai politik, politisi Minang juga banyak
menghasilkan buku-buku yang menjadi bacaan wajib para aktivis pergerakan.
Penulis Minang banyak memengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Mereka
mengembangkan bahasa melalui berbagai macam karya tulis dan keahlian. Marah
Rusli, Abdul Muis, Idrus, Hamka, dan A.A Navis berkarya melalui penulisan novel. Nur Sutan
Iskandar novelis Minang lainnya, tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling
produktif. Chairil Anwar dan Taufik Ismail berkarya lewat penulisan puisi. Serta Sutan Takdir
Alisjahbana dan Sutan Muhammad Zain, dua ahli tata bahasa yang melakukan modernisasi
bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bahasa persatuan nasional. Novel-novel karya
sastrawan Minang seperti Sitti Nurbaya, Salah Asuhan,Tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck, Layar Terkembang, dan Robohnya Surau Kami telah menjadi bahan bacaan wajib
bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.

Selain melalui karya sastra, pengembangan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh
jurnalis Minang. Mereka antara lain Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus.
Selain Abdul Rivai yang dijuluki sebagai Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang
menerbitakan Sunting Melayu, menjadi wartawan sekaligus pemilik koran wanita pertama di
Indonesia.
Di samping menjadi politisi dan penulis, kiprah Orang Minang juga cukup menonjol di bidang
intelektualisme.[83] Kebiasaan mereka yang suka berpikir dan menelaah, telah melahirkan
beberapa pakar di dunia kedokteran, humaniora, hukum, dan ekonomi, yang kesemuanya
memberikan sumbangan besar terhadap bangsa Indonesia. Di antara mereka yang cukup
dikenal adalah Ahmad Syafii Maarif, Hazairin, Syahrir, Taufik Abdullah, dan Azrul Azwar.

Tuanku Abdul Rahman, salah seorang tokoh Minang yang berpengaruh di kawasan rantau.

Di Indonesia dan Malaysia, selain orang Tionghoa, orang Minang juga terkenal sebagai
pengusaha ulung. Banyak pengusaha Minang sukses berbisnis di bidang perdagangan
tekstil, rumah makan, perhotelan, pendidikan, keuangan, dan kesehatan. Di antara figur
pengusaha sukses adalah,Abdul Latief (pemilik ALatief Corporation), Basrizal Koto (pemilik
peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara), Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil
pertama di Indonesia), dan Tunku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation Malaysia).
Banyak pula orang Minang yang sukses di dunia hiburan, baik sebagai sutradara, produser,
penyanyi, maupun artis. Sebagai sutradara dan produser ada Usmar Ismail, Asrul
Sani, Djamaludin Malik, dan Arizal. Arizal bahkan menjadi sutradara dan produser film yang
paling banyak menghasilkan karya. Sekurang-kurangnya 52 film dan 8 sinetron dalam 1.196
episode telah dihasilkannya. Pemeran dan penyanyi Minang yang terkenal beberapa di
antaranya adalah Afgan Syah Reza, Dorce Gamalama, Marshanda, Eva Arnaz, dan Nirina
Zubir. Pekerja seni lainnya, ratu kuisAni Sumadi, menjadi pelopor dunia perkuisan di
Indonesia. Selain mereka, Soekarno M. Noer beserta putranya Rano Karno, mungkin
menjadi pekerja hiburan paling sukses di Indonesia, baik sebagai aktor maupun sutradara
film. Pada tahun 1993, Karno's Film perusahaan film milik keluarga Soekarno, memproduksi

film seri dengan peringkat tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia, Si Doel Anak
Sekolahan.
Di Malaysia dan Singapura, kontribusi orang Minangkabau juga cukup besar. Pada tahun
1723, Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I, duduk sebagaisultan Johor sebelum akhirnya
mendirikan Kerajaan Siak di daratan Riau.[84] Di awal abad ke-18, Nakhoda Bayan, Nakhoda
Intan, dan Nakhoda Kecil meneruka Pulau Pinang.[85] Tahun 1773, Raja
Melewar diutus Pagaruyung untuk memimpin rantau Negeri Sembilan. Ia juga
menyebarkanAdat Perpatih dan Adat Tumenggung, yang sampai saat ini masih berlaku di
Semenanjung Malaya. Menjelang masa kemerdekaan beberapa politisi Minang mendirikan
partai politik. Di antaranya adalah Ahmad Boestamam yang mendirikan Parti Rakyat
Malaysia dan Rashid Maidin yang mengikrarkan Parti Komunis Malaya. Setelah
kemerdekaan Tuanku Abdul Rahman menjadi Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia,
sedangkanRais Yatim, Amirsham Abdul Aziz, dan Abdul Samad Idris, duduk di kursi kabinet.
Beberapa nama lainnya yang cukup berjasa adalah Sheikh Muszaphar Shukor (astronot
pertama Malaysia), Muhammad Saleh Al-Minangkabawi (kadi besar Kerajaan Perak), Tahir
Jalaluddin Al-Azhari (ulama terkemuka), Adnan bin Saidi (pejuang kemerdekaan Malaysia),
dan Abdul Rahim Kajai (perintis pers Malaysia). Di Singapura, Mohammad Eunos
Abdullah dan Abdul Rahim Ishak muncul sebagai politisi Singapura terkemuka, Yusof bin
Ishak menjadi presiden pertama Singapura, dan Zubir Said menciptakan lagu kebangsaan
Singapura Majulah Singapura.
Beberapa tokoh Minang juga memiliki reputasi internasional. Di antaranya, Roestam
Effendi yang mewakili Partai Komunis Belanda, dan menjadi orang Hindia pertama yang
duduk sebagai anggota parlemen Belanda.[86] Di Arab Saudi, Ahmad Khatib AlMinangkabawi, menjadi satu-satunya orang non-Arab yang pernah menjabat imam
besar Masjidil Haram, Mekkah. Mohammad Natsir, salah seorang tokoh Islam terkemuka,
pernah menduduki posisi presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress) dan
ketua Dewan Masjid se-Dunia. Sementara itu Azyumardi Azra, menjadi orang pertama di
luar warga negara Persemakmuran yang mendapat gelar Sir dari Kerajaan Inggris.[87]

Lihat pula[sunting

| sunting sumber]

Daftar tokoh Minangkabau

Suku Aneuk Jamee

Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan

Referensi[sunting

| sunting sumber]

Ciri Khas Adat Budaya Minangkabau


POSTED ON NOVEMBER 13, 2013 BY ADMIN

MASYARAKAT ABS-SBK DI SUMATERA BARAT memiliki ciri khas adat Minangkabau yaitu
Masyarakat Beradat dengan ABS-SBK dan Beradab yang Beragama Islam. ABS-SBK
menjadi konsep dasar Adat Nan Sabana Adat, diungkap dalam Bahasa yang direkam
dalam Kato Pusako itu memengaruhi sikap umum dan tata-cara pergaulan masyarakat
dalam tatanan dan tataran kekerabatan masyarakat menurut tatanan nilai dan norma
dasar sosial budaya membentuk Pandangan Dunia danPanduan Hidup (perspektif).

GAMBARAN BUDAYA MINANGKABAU BERDASARABS-SBK memengaruhi seluruh


aspek kehidupan masyarakat nagari dalam kabupaten (kota) di Sumatera
Barat,berupa Sikap Umum seperti, Nan Rancak / Elok, Tanah Ulayat, Harta milik
kaum,Hukum/Cupak, Tigo Tungku Sajarangan, Balai Adat, Surau/musajik, Taratak
danNagari yang memengaruhi perilaku serta Tata-cara
PergaulanMasyarakat seperti, Musyawarah/mupakaik, Adat istiadat, Sistimkekeluargaan, hubungan kekerabatan Matrilinial, peran dan posisi Pangulu,Mamak, Tungganai,
Pidato Adaik, Komunikasi informal dan juga Komunikasinon-verbal, menjadilandasan
pembentukan pranata sosial keorganisasian dan pendidikan yangmelahirkan berbagai
gerakan, permainan, produk budaya yang dikembangkan secaraformal ataupun
informal dan menjadi petunjuk perilaku bagi setiapdan masing-masing anggota
masyarakat di dalamkehidupan sendiri-sendiri, maupun bersama-sama..

Pemantapan agama dan adat syarakmangato adaik mamakaikan adalah Tatanan


Nilaidan NormaDasar Sosial Budaya dibentuk oleh Nilai-nilai
Islam sebagai pandangan hidup yang menjadilandasan dasar pengkaderan regenerasi di nagari di Minangkabau.

Tata nilai inidijaga melalui Sinerjitas dalam kawalan pelaksanaan oleh lembaga
tigo tungku sajarangan yang menata danmengawasi kebijakanumum yakni adat
nanteradatkan, adat istiadat, adat nan di adatkan.

SyarakMangato Adaik Mamakaikan ini memberi ruang bagi pengembangankreatif


potensinagari dan penduduknya di Sumatera Barat dalammenghasilkan buah karya
sosial budaya yang berdampak kepada peningkatan ekonomi anak nagari, serta karyakaryapemikiran intelektual serta keragaman tambo yang terlihat nyata
sebagai folklore yangtelah dan akan menjadi mesin pengembangan dan pertumbuhan
Sumatera Barat disegala bidang, yaitusaciok bak ayam sadancieng bak basi, barek
sapikue,ringan sa jinjieng atau Kaluak paku kacang balimbieng, sayak
timpuruanglenggang lenggangkan, ba sugi timbakau jao. Anak dipangku kamanakan
dibimbieng,urang kampuang di patenggangkan, barugi mangko ka balabo.

Semangat itu sesungguhnya mendorong kepada sikap gotong royong sebagai localgenius
masyarakat hukum adat Minangkabau itu.

Norma Dasar Sosial Budaya ini jadi aturan dalam kegiatan kehidupan anak
nagari di Minangkabau dalam menjaga tumbuhnya generasi pengganti yang
lebih sempurna, melalui beberapa langkah terpadu. Seperti ;

1; Mengupayakanberlangsung proses timbang terima kepemimpinan dalam satu


2;
3;

estafetta alamiah patah tumbuh hilang berganti


Teguhdan setia melakukan pembinaan retransformasi adat basandi syaraksyarakbasandi kitabullah yang sudah lama di miliki
Mampuberinteraksi dengan lingkungan secara aktif artinya ada kesiapan
melakukandan menerima perubahan dalam tindakan yang benar karena
sebuah premis syarakmengatakan bahwa segala tindakan dan perbuatan akan
selalu disaksikan olehAllah, Rasul dan semua orang beriman.

***

Nagaritumbuh dengan konsep tata ruang yang jelas. Ba-balerong (balaiadat) tempat musyawarah,
ba-surau (musajik) tempat beribadah. Ba-gelanggangtempat berkumpul. Ba-tapian tempat mandi. Bapandam pekuburan. Ba-sawahbapamatang, ba-ladang babintalak, ba-korong bakampung.

Konsep tata-ruang ini adalah salah satu asset sangat berharga.Idealisme nilai budaya di
Minangkabau. Nan lorong tanamitabu, Nan tunggang tanami bambu, Nangurun buek kaparak,
Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan
padang kubangankabau, Nan rawang ranangan itiak.
Nagari di Minangkabauadalah juga wilayah kesepakatan antar komponen masyarakat dalam
menjaga keseimbangan hidup rohani dan jasmani. Sikapini mendorong kegiatan di bidang ekonomi
dengan sikap tawakkal bekerja dan tidak boros.Sikap hidup tersebut telahlama berurat dalam jiwa
masyarakatnya.

Strategi Pengamalan Syarak Mangato AdaikMamakaikan

Strategi Pengamalan ABSSBK di Nagari adalah denganmenerapkan syarak mangato adaik


mamakaikan melalui upaya menggalipotensi dan asset nagari. Mengabaikannya pasti mendatangkan
kesengsaraan bagimasyarakat adat itu. Penerapannya dimulai dengan memanggil potensi
unsurmanusia yang ada di masyarakat nagari. Kesadaran akan adanya benih kekuatandalam diri
anggota masyarakat hukum adat untuk kemudian digali dan digerakkanmelalui penyertaan aktif
dalam proses pembangunan nagari.

Melalui kegiatanbermasyarakat itu pula observasinya dipertajam. Daya pikirnya ditingkatkan.Daya


geraknya didinamiskan. Daya ciptanya diperhalus. Daya kemauannya dibangkitkan untuk kembalikan
kepercayaan diri sendiri.Optimismebanagari mesti selalu dipelihara. Alahbakarih samporono,
Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandaibatenggang di nan rumik.

Pembentukan karakter atau watak berawal dari penguatan unsur unsurperasaan, hati (qalbin Salim)
yang menghiasi nurani manusia dengan nilai-nilailuhur yang tumbuh mekar dengan kesadaran
kearifan serta memperhalus kecerdasanemosional dan dipertajam oleh kemampuan periksa evaluasi
positif dan negatifyang dilindungi oleh kesadaran keyakinan (kecerdasan spiritual) yakni
hidayahIslam. Kelemahan mendasarkarenakurang teguh terhadap nilai-nilai luhuragama. Kelemahan
internal masyarakat adat akan menutup peluang berperan sertadalam kesejagatan karena pembiaran
tanpa kawalan.

Teramat pentingmempersiapkan generasi Sumatera Barat yang mempunyai bekal


mengenali budayadan adat-istiadat dengan berbudi bahasa yang baik. Nan kuriak kundi, nan sirah
sago, nanbaik budi nan indah baso. Atau dapat disebut sebagai karakterbuilding.

Indikator Keberhasilan Penerapan ABSSBK


Pranatasosial Masyarakat maju dan beragama diSumatera Barat yang didiami masyarakat adat
Minangkabau tampak dalam pengamalan Praktek Ibadah, Pola Pandang dan Karakter
Masyarakatnya,Sikap Umum dalam Ragam Hubungan Sosial penganutnya. Kekerabatan yang
erat menjadi benteng yang kuat dalammenghadapi berbagai tantangan. Strategimembangun
masyarakat adat akan berhasil manakala selalu kokoh denganprinsip, qanaah dan istiqamah.
Berkualitas, dengan iman dan hikmah. Berilmu danmatang dengan visi dan misi. Amar makruf
nahyun anil munkar dengan teguh danprofessional. Research-oriented dengan berteraskan
iman dan berilmu pengetahuan.

MengembalikanMinangkabau keakar Islam tidak boleh dibiar terlalai. Belajar kepada sejarah amatlah
perlu adanyagerak pembangunan yang terjalin dengan net-work (taawunik) yang rapi (binnidzam),untuk penyadaran kembali generasi di Minangkabau tentang peran syarak (SyariatIslam)
dalam membentuk tatanan hidup duniawiyah yang baik. Sebagaimana dipahami bahwa Adat
Minangkabau dinamis, menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso(akal, rasio, logika), hasil
nyata darialamtakambang jadi guru. Keyakinan Islam menekankan pentingnya sikapmalu (haya
raso pareso), dengan dasar iman kepada Allah, yakin kepadaakhirat, mengenali hidup akan
mati, beraqidah (tauhid).

Inilah yang menjadi Benteng kuat menjagaumat menjadi cerdas dengan nilai nilai luhur
(akhlaqulkarimah) ini akan melahirkan tindakan terpuji, yang tumbuh dengan motivasi(nawaitu) yang
bersih (ikhlas).

Tidak ada yang lebih indah daripada budidan basabasi. Yang dicari bukan emasdan bukan
pula pangkat, akan tetapi budi pekerti yang paling dihargai. Hutangemas dapat di bayar,
hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa,perhalus basa dan basi (budi pekerti yang
mulia). Jika ingin pandai rajinbelajar, jika ingin tinggi (mulia),naikkan budi pekerti.

Begitulah semestinya perananTungku Tigo Sajarangan yang amat strategis di


dalamlimbagoAdat Ninik Mamak, Alim ulama,Cerdik Pandai, Bundo Kanduang di dalam
mewujudkan TaliTigo Sapilin yang akan menjadi suluah bendang di alam Minangkabau yang
adatnyaberfilosofi ABSSBK dalam selingkar nagari-nagari yang ditata secara rapi dalammenapak alaf
baru. Insya Allah. v

ciri-ciri masyarakat minangkabau


By Vara 6 Komentar
Categories: Minangkabau, Pandangan hidup dan Patriarchaat
Tags: Bundo Kanduang, Matriarchat, Minangkabau, Niniak, Niniak Mamak

Masyarakat Minangkabau (Matriarchaat) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1;

Pembagian masyarakat dalam suku-suku (Inggris: clan) yang dirunut dari garis ibu
(matrilineal).Suku-suku yang ada dalam budaya Minangkabau misalnya Koto, Piliang,
Pisang, Panyalai, Tanjung, Melayu, Banuampu, Jambak, Chaniago, Pasubayang dan lain
sebagainya

2;

Keluarga adalah keluarga besar yang tinggal di Rumah Gadang (biasanya dalam bentuk
rumah

bagonjong)

dan

dikepalai

oleh

perempuan

atau

nenek

tertua

yang

disebut Niniak (nenek) yang mempunyai wewenang mengatur urusan keluarga/Rumah


Gadang.

3;

Saudara laki-laki dan perempuan dari Bunda yang melahirkan yang bertanggung jawab
untuk membantu niniak dalam mengurus seluruh anak-anak di rumah gadang (keluarga
besar)

disebut

kata Niniak

dengan Mamak).
Mamak adalah

Oleh

karen

kesatuan

itulah

pengertian

daripada

daripada

pengertian

kelompok
daripada

kata Niniak dan Mamak yang merupakan orang-orang yang bertanggung jawab untuk
seluruh keluarga dalam rumah gadang. Oleh orang-orang Minangkabau yang berusaha
menghilangkan peran Niniak, kata Niniak Mamak selalu ditekankan kepada pengertian

Mamak saja.Walupun kata bagian Niniak tetap dipakai. Pengertian Mamak kemudian
ditekankan hanya kepada pengetian saudara laki-laki Ibu saja. Kemudian pengertian
Mamak ini dipersempit lagi menjadi saudara laki-laki Bunda yang berfungsi sebagai
ayah.Ini merupakan salah satu bentuk daripada usaha penghancuran budaya Minangkabau
dari dalam, yaitu penterjemahan tata cara dan filsafat Minangkabau ke bentuk yang lebih
modern atau dengan kata lainnya ke bentuk patriarkal.

4;

Kata Ibu tidak hanya terbatas pada Ibu yang melahirkan kita saja, melainkan juga
saudara-saudara perempuan Ibu lainnya dari nenek yang sama. Saudara perempuan Ibu
yang tertua misalnya akan dipanggil dengan sebutan Mak Uwo (Ibu yang tertua), saudara
perempuan Ibu diantara yang tertua dan yang termuda akan dipanggil Mak Angah atau
Mak Tengah

5;

Seluruh anak-anak yang dilahirkan oleh saudara perempuan Ibu adalah juga adik dan
kakak. Tidak ada istilah sepupu. Seluruh saudara (Minangkabau: Dunsanak) perempuan
akan dipanggil Uni dan yang laki-laki uda atau ajo. Sedangkan saudara-saudara yang
lebih muda akan dipanggil hanya dengan sebutan adiak.

6;

Perkawinan biasanya dalam bentuk perkawinan berkunjung. Dimana pihak laki-laki


mendatangi pihak perempuan hanya pada malam hari sampai pagi menjelang. Sedangkan
sisa hari-hari seorang laki-laki akan dihabiskan di rumah Ibunya, di tempat kerja ataupun
untuk kegiatan lainnya. Pilihan lainnya adalah pihak laki-laki tinggal di rumah keluarga
istrinya. Perkawinan Minangkabau menganut dasar perkawinan eksogam berdasarkan
pengertian Barat. Artinya pihak laki-laki berasal daripada suku (klan) lainnya. Dalam
pengertian Minangkabau, hal ini tidak berarti eksogam melainkan perkawinan dengan
bukan keluarga, karena orang yang berasal dari suku (klan) yang sama adalah juga
keluarga, karena mempunyai Niniak atau Niniak dari Niniak yang sama dan seterusnya.
Aturan ini sudah banyak dilanggar oleh orang Minangkabau sendiri yang membenci budaya
Minangkabau, tentu saja dengan memakai dasar Islam, yaitu garis bapak (patrilineal).

7;

Anak yang dilahirkan digolongkan ke dalam suku Ibunya dan akan dinamakan berdasarkan
namasuku Ibunya. Banyak orang Minangkabau yang karena mengikuti trend atau
modernitas berusaha mengabaikan hal ini. Banyak perempuan mengikuti perempuanperempuan barat atau lainnya dan menempelkan nama akhir suami atau bapak di akhir
namanya,

dan

bukan

nama

suku

Bundanya.

Banyak

laki-laki

Minangkabau

yang

memberikan nama akhirnya kepada istri dan anaknya, walupun hal itu tidak mempunyai
makna apa-apa selain mengikuti trend barat dan modernitas. Nama suku Minangkabau
adalah pilar daripada ke-Minang-an dan tata cara kemasyarakatan Minangkabau. Hal inipun
diperangi tidak saja oleh orang Minangkabau sendiri, oleh budaya Arab, oleh negara
Indonesia dengan peraturan mengenai hanya nama bapak dan suami yang harus dan
boleh dicantumkan, maupun oleh orang-orang Indonesia lainnya yang kebarat-baratan.

8;

Budaya yang egaliter dan demokratis. Minangkabau dikenal masyarakat yang sangat
egaliter dan demokratis. Prof. Dr. Nurcholish Madjid bahkan mengusulkan model Demokrasi
Minangkabau untuk dijadikan sebagai model Demokrasi Indonesia. Keputusan mengenai
masalah-masalah dalam keluarga besar dan dalam masyarakat Minangkabau diambil
melalui Mupakaik (konsensus) setelah melalui perundingan panjang yang melibatkan

semua pihak (musyawaraih). Orang Minangkabau berbangga apabila sengketa bisa


diselesaikan lewat jalur perundingan yang egaliter dan demokratis ini dan bukannya
melalui pengadilan dengan pengacara-pengacaranya yang jelas berpihak kepada yang
beruang dan yang berkuasa. Contohnya tidak usah jauh-jauh, kasus pencurian besarbesaran oleh Suharto, yang melibatkan pengacara-pengacara mahal yang akhirnya
memenangkan Suharto.

9;

Pengambilan keputusan adalah demokratis dan melibatkan semua pihak, perempuan, lakilaki, tua dan muda. Semua dapat menyuarakan pendapatnya. Sejak zaman dulukala sampi
zaman Cyber,orang Minangkabau dapat menyalurkan pemikirannya yang menyangkut
masalah-masalah masyarakat Minangkabau, baik di ranah Bundo Kanduang maupun di
rantau, tanpa membeda-bedakan perempuan atau laki-laki, tua ataupun muda, miskin
ataupun kaya, dsb

10; Masyarakat

yang tidak mengenal tingkatan dan penggolong-golongan (hirarki) dan tidak

mempunyai klas penguasa. Dengan peribahasanya Duduk sama rendah, berdiri sama
tinggi masyarakat Minangkabau menyatakan bahwa seluruh manusia adalah berada pada
tingkat yang sama, tidak ada yang diperbudak atau yang memperbudak (lit. tidak ada yang
duduk lebih tinggi (penguasa, raja dll) dan kelompok yang bukan penguasa/raja yang
duduk lebih di bawah. Karena itulah budaya ngesotseperti yang dilakukan oleh abdi dalem
di keraton Yogyakarta terhadap Sultan Yogyakarta, sang pengusasa Kesultanan Yogyakarta,
atau budaya membungkuk-bungkukkan badan di hadapan penguasa lainnya seperti
Suharto, raja dan ratu di Eropa serta Paus di Vatican, tidak dikenal dan tidak disukai di
Minangkabau karena melambangkan ketertindasan, mental budak dan tingkatan yang lebih
rendah dan hina. Istilah lainnya adalah berpunggung lurus yang berarti seperti di atas,
yaitu tidak mau membungkuk-bungkuk di depan penguasa, karena setiap manusia adalah
setara. Contoh nyata adalah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia (ingat buku Naar de
Republjik Indonesia atau Menuju Republik Indonesia yang keluar pada tahun 1922, 23
tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia), yang menurut Muhamad Hatta,
berpunggung lurus di depan Stalin, sang penguasa komunis.

11; Masyarakat

yang tidak mengenal budaya kekerasan dan perang. Tidak mempunyai klas

tukang perang/ksatria dan tidak mengenal budaya pembentukan tentara/ksatria/tukang


perang. Walaupun pengaruh-pengaruh dari masyarakat patriarchaat, yang memiliki kasta
ksatria/tentara/tukang perang sangat besar, misalnya dari budaya Islam yang patriarchaat,
Jepang, Inggris, Belanda dan Jawa yang semuanya berbudaya patriarchaat yang pernah
mempengaruhi budaya Minangkabau. Masyarakat Minangkabau tidak memiliki kasta ksatria
sebagai bagian dari organisasi masyarakat Minangkabau itu sendiri, melainkan sebagai
pengaruh dari berbagai macam ragam budaya patriarchaat yang berusaha menghancurkan
budaya Minangkabau yang Matriarchaat. Pembentukan tukang perang pada zaman
penyerangan kelompok Padri yang diilhami oleh kelompok Islam radikal dari Aceh yang
dipengaruhi oleh kelompok Islam radikal di Aceh dan di Saudi Arabia, adalah salah satu
contoh peristiwa sementara yang dialami masyarakat Minangkabau dalam persentuhannya
dengan

budaya

patriarchaat

dunia

yang

bersifat

menghancurkan, apapun agama ataupun ideologinya.

memerangi,

merampok

dan

12; Memuja

seorang seorang Ibu Suci yang dipuja sebagai Ibu Asal dari masyarakat

Minangkabau yang dikenal sebagai Bundo Kanduang. Dengan masuknya berbagai


pengaruh budaya patriarchaat baik dengan jalan kekerasan seperti penyerangan Padri
(Arab/Islam), usaha penjajahan Belanda, Inggris, Jepang dan Amerika Serikat serta
pemaksaan budaya patriarchaat Jawa lewat diktator-diktator seperi Sukarno dan Suharto,
maupun dengan jalan damai seperti usaha misionaris dari kaum Kristen yg berlangsung
selama ini, pemujaan Bundo Kanduang mulai semakin hilang, walupun sebagian banyak
masyarakat Minangkabau masih memuja Bundo Kanduang. Mereka diperangi dan dimusuhi
oleh masyarakat Minangkabau sendiri -yang sudah menganggap Islam sebagai agama
mutlak mereka-, maupun oleh masyarakat Islam lainnya di Indonesia

13; Tidak

mengenal konsep kepemilikan pribadi, melainkan kepemilikan bersama dalam

keluarga. Karena itulah Harato Pusako (dan semestinya juga harato lainnya) seperti
tanah, sawah, dll merupakan milik keluarga dengan kepemilikan diturunkan dari pihak Ibu
kepada anak perempuannya ataupun pihak perempuan lainnya dalam keluarga besar. Akan
tetapi seluruh anggota keluarga mempunyai hak guna. Adapun hasil-hasil dari harta
pusaka tersebut akan diadministrasi oleh pihak perempuan dewasa atauNiniak (Indon.
nenek) untuk kepentingan seluruh anggota keluarga

14; Pihak laki-laki (dan juga perempuan) di dalam suku yang dipilih untuk mewakili suku dalam
kepentingan pembicaraan antar suku dan urusan-urusan ke luar suku lainnya dikenal
dengan namaPanghulu. Panghulu bukanlah kepala suku (Inggris: chief atau chieftain)
seperti biasa digembar-gemborkan oleh orang barat yang tidak terbiasa dengan tata cara
masyarakat

yang

tidak

mengenal

kepala-kepala

dan

tingkatan-tingkatan

dalam

masyarakat, melainkan adalah perwakilan daripada suku. Panghulu haruslah dapat


mewakili kepentingan suku dalam pembicaraan-pembicaraan antar masyarakat. Adapun
keputusannya

tetaplah

dicapai

melalui

perundingan

pnjang

yang

diakhiri

dengan

kesepakatan bersama. Posisi penghulu ini oleh banyak pihaksengaja dipersempit menjadi
hanya berlaku untuk laki-laki saja, walaupun dalam sejarahnya Minangkabau mengenal
penghulu-penghulu perempuan. Sama halnya dengan posisi penghulu yang semestinya
hanya

sebagai

perwakilan

dari

kaum,

dipaksakan

untuk

berubah

fungsi

menjadi

kepala/penguasa suku, seperti yang dilakukan oleh penjajah Belanda dulu, dan
penguasa-penguasa Islam (yang umumnya adalh laki-laki Minangkabau) jaman kini.

15; Tidak

mempunyai kelompok penguasa agama. Para Malin Kundang Minangkabau yang

mencoba menjadi penguasa agama di Minankabau sejak zamah syech-syech seperti Syech
Achmad Chatib, fundamentalis Wahabi seperti Imam Bonjol, dan HAMKA, menemui jalan
buntu. Untuk mengakomodasi kelompok Malin Kundang Islam ini, orang Minangkabau
membentuk kelompok baru yang disebut kelompok Alim-Ulama yang merupakan tiruan
daripada kelompok Cadiak-Pandai (cerdik-pandai), yang berarti kira-kira sama cuma
ditekankan ke pada kepandaian dan kecerdikan mengenai pengetahuan mengenai agama
Islam (Alim, Ulama, Ilmu adalah kata-kata yang berasal dari kata Arab yang berarti
tahu/pengetahuan). HAMKA yang berupaya merevolusi budaya matrilineal Minangkabau
tetap saja menemui jalan buntu. Dia dihargai di ranah Minang karena fungsinya sebagai
penulis puisi dan sastrawan.

Legenda asal usul kata Minangkabau


Ada legenda mengenai masyarakat suku bangsa Minangkabau di masa lalu yang berkaitan dengan
namanya saat ini. Pada zaman dahulu konon ada pasukan kerajaan asing yang datang ke Sumatera
untuk melakukan penaklukan. Oleh karena itu tetua adat dan tokoh masyarakat bermusyawarah
untuk mencegah pertempuran namun tidak harus takluk tanpa perlawanan. Maka datanglah ide untuk
diadakan pertandingan adu kerbau.
Tak diduga ternyata tentara kerajaan asing tersebut masuk dalam perangkap dan menyetujui
pertandingan tersebut. Mereka membawa kerbau besar yang galak untuk diadu. Sedangkan
masyarakat Minangkabau setempat membawa anak kerbau yang sengaja dibuat lapar dan tanduknya
diberi pisau. Ketika pertandingan dimulai, anak kerbau itu menyangka bahwa kerbau besar itu
sebagai induknya, sedangkan sang kerbau besar diam saja melihat anak kerbau. Si anak kerbau
lantas menyerbu kerbau besar hendak menyusu, namun justru menusuk kerbau besar itu dengan
pisau yang dipasang di tanduknya. Maka menanglah si anak kerbau dan masyarakat Minangkabau.
Syahdan, dari peristiwa itulah muncul nama Minangkabau. Kata ini berasal dari kata Minang yang
artinya menang dan Kabau yang artinya kerbau.