Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PENDEKATAN KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Konseling II
Oleh:
Aulia Rizka Noviyanti
1114500106
Semester 3 C
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL


2015

KATA PENGANTAR
Ucapan Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah yang Maha Esa,
atas ridho dan karuniaNyalah penulis dapat menyelesaikan tugas dan tanggung
jawab yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Teori Konseling II Ibu
Hastin Budisiwi, M.Pd. Karena sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah tuhan yang Maha Esa. Sholawat dan Salam juga penulis
penjatkan kepada junjungan besar nabi Muhammad SAW yang menjadikan zaman
sekarang terang-benderang penuh dengan ilmu ini, sehingga manjadikan adanya
hal-hal yang semacam ini observasi dan sebagainya.
Terimakasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing yaitu Ibu
Hastin Budisiwi, M.Pd sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat waktu.
Penulis berharap makalah ini dapat diterima. Serta semoga bermanfaat,
tidak hanya bagi penulis dan dosen terkait tetapi juga bagi pembaca sekalian.
Selanjutnya seperti kata pepatah Tak ada gading yang tak retak, sehingga
penulis minta maaf atas apa yang tidak sesuai dengan semestinya berkaitan
laporan ini. Kritik dan Saran selalu penulis tunggu demi kebaikan di masa yang
akan datang.
Tegal, 30 September 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C. Tujuan Pembuatan .................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Nama Pendekatan dan Tokoh .................................................................
B. Konsep Dasar .........................................................................................
C. Asumsi Perilaku Berrmasalah ................................................................
D. Tujuan Konseling....................................................................................
E. Peran Konselor........................................................................................
F. Deskripsi Proses Konseling.....................................................................
G. Teknik Konseling....................................................................................
H. Kelebihan dan Keterbatasan....................................................................
I. Contoh Penerapan...................................................................................

3
4
9
10
10
11
13
14
15

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konseling adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli
membuat interpretasi-interpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan
dengan pilihan, rencana, atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya.
Begitu banyaknya konselor di seluruh dunia menjadikan banyaknya
pendekatan-pendekatan dalam proses konseling. Setiap pendekatan memiliki
konsepnya sendiri-sendiri, bagaimana melakukan konseling, bagaimana
individu dianggap bermasalah dan sebagainya. Tentunya setiap pendekatan
tersebut memiliki kelebihan dan keterbatasan. Salah satu pendekatan yang
populer yaitu pendekatan konseling analisis transaksional.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pendekatan konseling Analisis Transaksional menurut para
tokoh.
2. Bagaimana proses konseling Analisis Transaksional.
3. Apa kelebihan dari pendekatan ini dibandingkan dengan Pendekatan
lain, dan juga keterbatasan yang dimiliki.
C. Tujuan Pembuatan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain:
1. Mengetahui tentang pendekatan Analisis Transaksional, yaitu seputar
tokoh yang menerapkan pendekatan ini, konsep, asumsi dasar, tujuan,
peran konselor, serta kelebihan dan keterbatasan pendekatan ini.
2. Mengetahui Proses dari konseling Analisis Transaksional.
3. Mengetahui kelebihan dari pendekatan konseling analisis transaksional
dibandingkandenganpendekatan lain, serta mengetahui keterbatasan
yang dimiliki.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Nama Pendekatan dan Tokoh


Akhmad Sugianto (2013), Analisis Transaksional (AT) adalah salah
satu

pendekatan

Psychotherapy

yang

menekankan

pada

hubungan

interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara


seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi
bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Transaksional,
berasal dari kata transaction, yaitu tingkah laku dilihat dari
segi pandang individu dalam interaksi dengan lingkungan
fisik dan sosialnya. Analisis transaksional menunjuk pada
hubungan antar manusia yang ditandai kegiatan saling
berbagi perhatian atau dukungan (strokes) diantara dua
pribadi.
Analisis transaksional adalah salah satu pendekatan
yang dikembangkan dan diperkenalkan pertama kali oleh
Erick Berne pada tahun 1950 dan diorientasikan. Berne
adalah seseorang ahli ilmu jiwa yang terkenal dari kelompok
humanisme. Teori analisis transaksional merupakan teori
terapi yang sangat populer dan digunakan dalam konsultasi
pada hampir di semua bidang ilmu-ilmu perilaku. Teori ini

merupakan salah satu teori yang telah menjadi teori antar


pribadi yang mendasar.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu
hubungan. Dalam komunikasi antar pribadi pun dikenal transaksi. Yang
dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis
transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses
transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang
dipertukarkan).

B. Konsep Dasar
Analisis transaksional merupakan teori dan praktek
konseling yang dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk
perpektif pendekatan kognitif, namun analisis transaksional
juga memperlihatkan dimensi perilaku. Dalam terapi ini
hubungan antara konselor dan konseli dipandang sebagai
suatu transaksi yaitu interaksi, tindakan yang diambil atau
tanya jawab. Yang menurut Berne adalah sebagai manifestasi
hubungan

sosial,

dimana

masing-masing

partisipan

berhubungan dengan yang satu dan yang lainnya sebagai


tujuan tertentu. Analisis transaksional dapat diterapkan untuk
konseling individual, namun lebih direkomendasikan untuk
digunakan setting kelompok. Dalam melakukan konseling AT,

dibuat

kontrak

yang

dirumuskan

pemimpin dan anggota kelompok.


Gladding (1995) dalam
mengemukakan

tiga

bentuk

dan
Edi

disepakati
Kurnanto

kelompok

dalam

oleh

(2013)
konseling

analisis transaksional, yaitu :


1. Kelompok redecision ( putusan ulang ) tiap anggota
mengalami kembali pengalaman hidup mereka yang tidak
tepat, sehingga

menekankan pada proses proses

intrapsikis anggota.
2. Kelompok classic ( klasik ) menekankan pada interaksi
saat sekarang.
3. Kelompok cathexis

kateksis)

menekankan

pada

pengasuhan ulang.
Pendekatan analisis transaksional memiliki asumsi dasar bahwa
perilaku komunikasi seseorang dipengaruhi oleh ego state yang dipilihnya,
setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai sebuah transaksi yang di
dalamnya turut melibatkan ego state serta sebagai hasil pengalaman dari masa
kecil, setiap orang cenderung memilih salah satu dari empat kemungkinan
posisi hidup. Menurut eric berne bahwa sumber-sumber tingkah
laku,

sikap

perasaan,

sebagaimana

individu

melihat

kenyataan, mengolah informasi dan melihat dunia diluar


dirinya disebut status ego (ego state).
Analisis transaksional sebagai suatu sistem terapi yang didasarkan
pada suatu teori kepribadian yang memusatkan perhatiannya pada tiga pola
perilaku yang berbeda sesuai status egonya :

1. Ego orang tua (parent) adalah bagian kepribadian yang


merupakan introjeksi dari orang tua atau subtitut orang
tua. Ego orang tua memiliki ego dualistik, diantaranya
merawat adalah untuk memperhatikan dan merawat serta
mengkritik atau mengendalikan adalah untuk menyimpan
dan menyalurkan aturan dan perlindungan kehidupan.
2. Ego dewasa (Adult) adalah pengolahan data dan informasi
yang

merupakan

mengetahui

apa

bagian
yang

dari

sedang

kepribadian
terjadi.

Ego

yang
dewasa

bertugas untuk membuat keputusan yang paling baik


untuk

memecahkan

masalah

tertentu,

karena

tidak

emosional dan menghakimi, melainkan bersikap tenang.


3. Ego anak (Child) adalah bagian kepribadian anak yang
dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu anak yang dapat
menyesuaikan diri dan anak alamiah. Ego anak yang
mampu menyesuaikan diri, mampu menyesuaikan diri
dengan keinginan ego orang tua didalam diri sendiri dan
orang lain, ia patuh dan mudah untuk menjalin hubungan.
Sedangkan ego alamiah adalah memperlihatkan reaksi
lebih spontan, periang, dan selalu ingin tahu serta
berusaha memenuhi kebutuhannya tanpa memperhatikan
orang lain.
Berdasarkan teori dasar status ego, maka Corey (dalam Edi,
2013) mengidentifikasi dan menggambarkan empat posisi utama dalam

interaksi individu dengan yang lainnya, menunjukkan sifat-sifat dan


karakteristik kepribadiannya.
Secara teoritik posisi itu dikonseptualisasikan sebagai berikut :
a. Im Ok youre Ok
Dalam posisi ini dua orang merasa seperti
pemenang dan bisa menjalin hubungan yang terbuka.
Individu yang memiliki posisi ini akan merasa aman dalam
keberadaannya sebagai manusia dan keberadaan orang lain
disekitarnya.
b. Im Ok youre not Ok
Posisi ini digunakan oleh orang orang yang
memproyeksi masalah masalahnya kepada orang
lain dan mempersalahkan orang lain. Individu yang
memiliki posisi ini, mereka adalah individu individu
yang selalu merasa benar dan orang lain salah.
c. Im not Ok youre Ok
Adalah posisi yang mengalami depresi, yang
merasa rendah diri dan cenderung menarik diri atau
lebih suka memenuhi keinginan orang lain ketimbang
keinginan sendiri.
d. Im not Ok youre not Ok
Dalam posisi ini adalah posisi orang orang
yang

putus

asa

dan

menyalahkan

diri

sendiri,

sehingga menyingkirkan semua harapan, kehilangan


minat hidup dan melihat hidup tanpa harapan. Contoh :
karena pengaruh orang tua yang yang mengetahui anaknya telah

cukup umur. Maka orang tua akan mulai menjauh diri dari anaknya
karena orang tua berfikir bahwa anaknya sudah cukup umur dan bisa
memelihara dirinya. Posisi ini yang dipilih oleh individu, maka
dalam kehidupannya individu tersebut akan hanya melewati hari-hari
dan kehidupannya tanpa arti. Dan akan berdampak pada tindakan
anak atau perilaku seperti bunuh diri atau pembunuhan.
Dalam pendekatan analisis transaksional terdapat juga tiga tipe
transaksi yang dilakukan individu dalam kelompok, yaitu:
1. Transaksi komplementer
Jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam
komunikasi

antarpribadi

karena

terjadi

kesamaan

makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan,


pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain
meskipun

dalam

jenis

sikap

ego

yang

berbeda.

Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang


sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap
yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu
adalah

sikap

orang

tua

dan

sikap

anak-anak.

Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala


terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di
antara mereka dapat memahami pesan yang sama
dalam suatu makna.
2. Transaksi silang

Terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator


tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan.
Akibat

dari

transaksi

komunikasi

silang

antarpribadi

memberikan

makna

menghendaki

jawaban

adalah

karena

pesan.

terputusnya

kesalahan

dalam

Komunikator

tidak

demikian,

terjadi

kesalah-

pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke


tema pembicaraan lain.
3. Transaksi tersembunyi
Jika

terjadi

campuran

beberapa

sikap

di

antara

komunikator dengan komunikan sehingga salah satu


sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap
tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan
respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentukbentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3
atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam
komunikasi

antarpribadi

namun

yang

diungkapkan

hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya tersembunyi.


C. Asumsi Perilaku Bermasalah
Menolak konsep adanya sakit mental pada setiap manusia. Perilaku
bermasalah hakekatnya terbentuk karena adanya rasa tidak bertanggung
jawab terhadap keputusannya.

Individu yang tidak sehat atau bermasalah ditunjukkan


pada tingkah lakunya dengan:
1. Konsep diri negatif
2. Hubungan dengan orang lain negatif
3. Posisi dasar hidupnya I am OK you are not OK, atau I am
not OK you are OK dan I am not OK you are not OK.
4. Kontaminasi atau eksklusi
Eklusi merupakan pengaruh yang kuat dari salah satu sikap
atau

lebih

terhadap

seseorang

sehingga

orang

itu

berkurang keseimbangannya.
Selain eklusi ada satu masalah fungsional yang sering
dialami

individu

yakni

kontaminasi

yaitu

dimana

bercampurnya status ego yang satu dengan yang lainnya


sehingga mengalami pencemaran.
Contohnya: Seorang yang tidak mampu menempatkan
posisisnya
Seperti

dalam

seorang

lingkungan

kakek

yang

masyarakat.
sudah

tua-tua

keladi, yang mempunyai hasrat seperti para


remaja, atau juga sering menggoda cewekcewek yang cantik. Tanpa menyadari usianya
yang sudah rentang tua, sedaangkan dirinya

10

mempunyai

tanggung

jawab

lain.

Yaitu

menafkahikeluarganya dsb. Dan dia cenderung


berperilaku selayaknya berkelakuan kenakalan
remaja.
D. Tujuan Konseling
Menurut Berne ( dalam Edi, 2013 ), bimbingan
konseling

kelompok

analisis

transaksional

bertujuan

membantu anggota kelompok memerangi masa lampau pada


saat sekarang dalam rangka menjamin masa depan yang
lebih baik.
Tujuan utama dari terapi analisis transaksional adalah :
1. Membantu klien untuk membuat keputusan-keputusan baru dalam
mengarahkan atau mengubah tingkah laku dalam kehidupannya.
2. Memberikan kepada klien suatu kesadaran serta kebebasan untuk
memilih

cara-cara

serta

keputusan-keputusan

mengenai

posisi

kehidupannya serta menghindarkan klien dari cara-cara yang bersifat


deterministic.
3. Memberikan bantuan kepada klien berupa kemungkinan-kemungkinan
yang dapat dipilih untuk memantapkan dan mematangkan status egonya.

E. Peran Konselor

11

Dikutip dalam Edi (2013), Harris (1967) memberikan gambaran


peran terapis, seperti seorang guru, pelatih atau nara sumber dengan
penekanan kuat pada keterlibatan. Sebagai guru, terapis menerangkan
konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional, analisis
skenario, dan analisis permainan. Selanjutnya menurut Corey (1988), peran
terapis yaitu membantu klien untuk membantu klien menemukan suasana
masa lampau yang merugikan dan menyebabkan klien membuat keputusankeputusan

awal

mengembangkan

tertentu,

mengindentifikasikan

strategi-strategi

yang

telah

rencana

hidup

digunakannya

dan
dalam

menghadapi orang lain yang sekarang mungkin akan dipertimbangkannya.


Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan
mencari alternatif-alternatif untu menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Terapis memerlukan hubungan yang setaraf dengan klien, menunjuk
kepada kontrak terapi, sebagai bukti bahwa terapis dan klien sebagai
pasangan dalam proses terapi. Tugas terapi adalah, menggunakan
pengetahuannya untuk mendukung klien dalam hubungannya dengan suatu
kontrak spesifik yang jelas diprakarsai oleh klien. Konselor memotivasi dan
mengajari klien agar lebih mempercayai ego Orang Dewasanya sendiri
ketimbang ego Orang Dewasa konselor dalam memeriksa keputusan
keputusan lamanya serta untuk membuat keputusan-keputusan baru.
F. Deskripsi Proses Konseling
1. Bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien,
baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak.
2. Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang egonya dengan cara
diskusi bersama Klien.

12

3.

Membuat kontrak yang dilakukan oleh klien sendiri, yang berisikan


tentang apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan
melangkah ke arah tujuan yang telah ditetapkan, dan klien tahu kapan
kontraknya akan habis. Kontrak berbentuk pernyataan klien konselor
untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk
saling bertanggung jawab. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi
dalam kontrak, yaitu :
a. Dalam kontrak, konselor dan klien harus melalui transa dewasadewasa, serta ada kesepakatan dalam menentukan tujuan-tujuan
b.

yang ingin dicapai.


Kontrak harus mempertimbangkan

beberapa

hal,

yaitu

pertimbangan pertama yaitu konselor memberikan layanan kepada


klien secara profesional (baik berupa kesempata maupun keahlian)
pertimbangan kedua yaitu, klien memberikan imbalan jas kepada
konselor, dan menandatangani serta melaksanakan isi kontrak
sesuai dengan waktu atau jadwal yang telah ditetapkan.
c. Kontrak memiliki pengertian sebagai suatu bentuk kompetensi
anatara dua pihak, yaitu, konselor yang harus memiliki kecakapan
untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya, dan klien

4.

harus cukup umur dan matang untuk memasuki suatu kontrak.


d. Tujuan dari kontrak haruslah sesuai dengan kode etik konseling.
Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian konselor bersama klien
menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya
tujuan konseling.

G. Teknik Konseling
Teknik konseling yang digunakan adalah:

13

1. Permission, memperbolehkan klien melakukan apa yang


tidak boleh dilakukan oleh orang tuanya
2. Protection, melindungi klien dari ketakutan karena klien
disuruh melanggar terhadap peraturan orang tuanya.
3. Potency, mendorong klien untuk menjauhkan diri klien dari
injuction yang diberikan orang tuanya.
4. Operation
a). Interrogation
Mengkonfrontasikan
terjadi

pada

diri

kesenjangan-kesenjangan
klien

sehingganya

yang

berkembang

respon adult dalam dirinya.


b). Specification
Mengkhususkan hal-hal yang dibicarakan sehingganya
klien paham tentang ego statenya.
c). Confrontation
Menunjukkan kesenjangan atau ketidak beresan pada
diri klien.
d). Explanation
Transaksi adult-adult yang terjadi antara konselor
dengan klien untuk menejlaskan mengapa hal ini
terjadi (konselor mengajar klien)
e). Illustration

14

Memberikan contoh pengajaran kepada klien agar ego


statenya digunakan secara tepat.
f). Confirmation
Mendorong klien untuk bekerja lebih keras lagi.
g). Interpretation
Membantu klien menyadari latar belakang dari tingkah
lakunya
h). Crystallization
Menjelaskan kepada klien bahwasanya klien sudah
boleh mengikuti games untuk mendapatkan stroke
yang diperlukannya.
H. Kelebihan Dan Keterbatasan
Beberapa

kelebihan

dari

pendekatan

konseling

Analisis

Transaksional antara lain:


1. Punya pandangan optimis dan realistis tentang manusia.
2. Mudah diobservasi.
3. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
4. Memberikan sumbangan pada konseling multikultural
karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan

15

permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga


dan larangan mementingkan diri sendiri.
Kemudian di bawah ini beberapa keterbatasan dari pendekatan
konseling Analisis Transaksional antara lain:
1. Kurang efisien terhadap kontrak treatment karena banyak klien yang
beranggapan jelek terhadap dirinya dan tidak realistis sehingga sulit
tercapai kontrak karena klien tidak dapat mengungkapkan tujuan apa
yang ia inginkan.
2. Subyektif dalam menafsirkan status ego.

3. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam


analisis transaksional cukup membingungkan.
I. Contoh Penerapan
1. Teknik-teknik

pendekatan

ini

bisa

diterapkan

pada

hubungan orang tua-anak, belajar dikelas, pada konseling


dan terapi individual serta kelompok dan pada konseling
perkawinan.
2. Dalam kegiatan kelompok orang- orang bisa dialami
dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang ditandai
keterlibatan dengan orang-orang lain. Interaksi dengan
kelompok lain memberikan mereka kesempatan yang

16

amat luas untuk mempraktekan tugas dan memenuhi


kontrak.
3. Memecahkan

suatu

permasalahan

melalui

kegiatan

kelompok akan membawa para anggota menghayati


suatu titik dimana mereka membuat keputusan lebih awal
yang beberapa diantaranya sudah tidak fungsional lagi
dan mereka akan membuat keputusan baru yang sesuai.
Sumbangan utamanya adalah perhatiaanya transaksitransaksi berkenaan dengan fungsi perwakilan-perwakilan
ego.

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran
dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi.
Yang dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal.
Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam
proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang
dipertukarkan).
Dalam terapi ini hubungan klien dengan konselor dipandang sebagai
suatu transaksional ( interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab ) dimana
masing-masing partisipan berhubungan satu dengan yang lainnya sebagai
fungsi tujuan tertentu. Setiap tindakan dengan orang lain merupakan proses
timbal-balik dan peraturan memulai, merespon, dan memberi umpan balik.
Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan
oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling
berinteraksi dan hubungan transaksional antara ketiga status ego itu dapat
mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumbersumber gangguan psikologis jika ketiga ego tersebut tidak dimanfaatkan
dengan baik karena hanya menerapkan satu jenis status ego saja ( SEA,SEO,
atau SED ).

DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2012. Ikhtisar Bimbingan & Konseling Di Sekolah. Bandung:
Yrama Widya.
Binham.
2012.

Pendekatan

Analisis

Transaksional.

(Online),

(https://binham.wordpress.com/2012/07/02/pendekatan-analisistransaksional/, diakses pada 3 Oktober 2015).


Himawan, Andis dkk. 2013. Konseling Analisis Transaksional. Tegal: Bimbingan
dan Konseling Universitas Pancasakti Tegal.
Hutagalung, Rizky Putri Asridha S. Psikologi Konseling. Jakarta: Universitas
Mercu Buana.
Kurnanto, M Edi. 2013. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Prasetyo, Bagus. 2015. Psikoterapi: Terapi Analisis Transaksional. (Online),
(http://bagoezzone.blogspot.co.id/2015/04/psikoterapi-terapi-analisis.html,
diakses pada 2 Oktober 2015)
Quinn,
Bee.
2012.

Analisis

Transaksional.

(Online),

(https://beequinn.wordpress.com/nursing/komunikasi-keperawatan/analisistransaksional/, diakses pada 2 Oktober 2015).


Yandri,
Henki.
2012.
Analisis

Transaksional.

(http://counselingcare.blogspot.co.id/2012/06/konseling-analisistransaksional.html, diakses pada 2 Oktober 2015).

(Online),