Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

SARANA BERFIKIR ILMIAH DALAM


FILSAFAT
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Ilmu

Oleh:

Aulia Rizka Noviyanti


1114500106
Semester 3 C
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL


2015

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Filsafat Ilmu yang berjudul Sarana Berfikir Ilmiah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Junjungan kita
Rasulullah SAW yang mana telah membawa kita semua dari zaman jahiliyah
menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.
Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam makalah
ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kepada para pembaca kami
mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah yang kami buat
selanjutnya. Semoga makalah ini benar-benar bermanfaat bagi para pembaca dan
khususnya kami.
Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
yang membacanya dan dapat sedikit mewujudkan pengetahuan didalam lembaran
ini

Tegal, 19 Desember 2015

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI 2.................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang Masalah..................................................... 1

II. Rumusan Masalah............................................................................ 2


BAB II PEMBAHASAN
I.

Hakikat Berfikir Ilmiah........................................................ 3

II. Struktur Pengetahuan Ilmiah............................................................ 5


III. Sarana Berfikir Ilmiah...................................................................... 7
1

Bahasa....................................................................................... 8

Matematika................................................................................ 9

Statistika.................................................................................... 10

Logika....................................................................................... 11

BAB III PENUTUP


I.

Kesimpulan........................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah


Dalam kesseharian dan melakukan kegiatan ilmiah kita tidak terlepas
dari kegiatan berfikir. Setiap manusia dianugrahkan akal dan sebuah masalah
agar manusia mampu berfikir dan berupaya dalam memecahkan masalahnya.
Melalui berfikir manusia bisa mengembangkan berbagai cara untuk
mengubah keadaan agar permasalahan yang dihadapinya bisa dilalui.
Berfikir ilmiah merupakan berfikir dengan langkah-langkah metode ilmiah
seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi
hipotesis, dan kemudian menarik kesimpulan dari masalah yang diangkat
dalam penulisan ilmiah tersebut. Setiap langkah-langkah berfikir dengan
metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga
diharapkan hasil dari berfikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil
yang baik. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan penelaahan ilmiah
secara lebih cermat dan teratur. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini
merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi siapa saja yang sedang
melakukan kegiatan ilmiah. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat
membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh.
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita
melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari
ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan
untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari. Jika ditinjau dari pola
berfikirnya, ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan
berfikir induktif, deduksi merupakan cara berpikir yang di dalamnya
kesimpulan bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat
umum, sedangkan induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan

yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang


bersifat khusus. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada
proses logika deduktif dan logika induktif. Penalaran ilmiah mengharuskan
kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan
pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan
sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah penguasaan
itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir
tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat melakukan
kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa,
logika, matematika dan statistik.
II. Rumusan Masalah
1. Bagiamana seseorang dikatakan berpikir ilmiah ?
2. Bagaimana Struktur Pengetahuan Ilmiah?
3. Apa yang dimaksud dengan sarana berpikir ilmiah ?
4. Sarana apa saja yang mendukung seseorang untuk berpikir ilmiah ?

BAB II
PEMBAHASAN

I. Hakikat Berfikir Ilmiah


Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga
sebagai aktifitas akal dengan setiap perkembangan ide maupun konsep pada
diri manusia. Sedangkan ilmiah adalah sesuatu hal/penyataan yang bersifat
keilmuan yang sesuai dengan hukum-hukum ilmu pengetahuan, atau sesuatu
yang dapat dipertanggung jawabkan, dengan menggunakan metode Ilmiah
(Prosedur atau langkah-langkah sistematis yang perlu diambil guna
memperoleh pengetahuan yang didasarkan atas uji coba hipotesis serta teori
secara terkendali). Sebagai tindak lanjut dari penggunaan metode ilmiah,
maka langkah-langkah yang ditempuh dalam rangka berfikir ilmiah, adalah:
1) Perumusan masalah, rumusan tersebut dirumuskan dalam bentuk
kalimat pertanyaan tentang obyek empiris yang memiliki
lingkup/batas permasalahan yang jelas.
2) Penyusunan kerangka berfikir sebagai

argumentasi

untuk

menjelaskan hubungan teoritis antara faktor-faktor tersebut dengan


mempergunakan pengetahuan ilmiah agar rumusan hipotesis yang
berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap pernyataan yang
diajukan.
3) Pengajuan rumusan hipotesis sebagai simpulan yang ditarik dari
kerangka berfikir yang disusun.
4) Pengujian hipotesis, setelah mengumpulkan data yang relevan
untuk menilai kesesuaian (koherensi) antara materi pernyataan
yang terkandung dalam hipotesis dengan kenyataan empiris yang
ada.
5) Penarikan simpulan untuk menilai, apakah kenyataan empiris
sesuai atau tidak dengan hipotesis yang diajukan. Jika ternyata
mendukung hipotesis, maka hipotesis dianggap benar. Sebaliknya

jika tidak mendukung, maka hipotesis tersebut ditolak karena


dianggap tidak benar.
6) Hipotesis yang diterima secara sahih (falid) kemudian diterima
sebagai pengetahuan ilmiah dikarenakan telah dianggap memenuhi
persyaratan dalam siklus proses kegiatan ilmiah.
Dengan demikian ilmu pengetahuan sebagai hasil fikir manusia akan
terus bertambah tanpa mengenal batas akhir. Permasalahan Berfikir
Ilmiah sudah tentu tidak terlepas dari kajian filsafat ilmu, karena ia
merupakan bagian dari pengetahuan ilmiah. berfikir ilmiah adalah berfikir
yang logis dan empiris. Logis adalah masuk akal, dan empiris adalah dibahas
secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan,
selain itu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan,
dan mengembangkan (Hillway, 1956). Dari uraian diatas, maka dapat diambil
kesimpulan berpikir ilmiah merupakan kegiatan akal yang menggabungkan
ide maupun konsep bersifat keilmuan dan dapat dipertanggung jawabkan.
Berfikir secara ilmiah adalah upaya untuk menemukan kenyataan dan
ide yang belum diketahui sebelumnya Adapun ilmu merupakan proses
kegiatan mencari pengetahuan melalui pengamatan berdasarkan teori dan atau
generalisasi. Sedangkan pengetahuan adalah keseluruhan hal yang diketahui,
yang membentuk persepsi tentang kebenaran atau fakta. Ilmu adalah bagian
dari pengetahuan, sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk itu
terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science), dengan pengetahuan
(knowledge), antara lain :
1. Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum
1982. Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya,
filosofinya dan teorinya yang khas.
2. Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial
1985. Ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti
bersifat universal.
Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan
berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan

kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Dan berfikir ilmiah


adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta
menggunakan akalnya semaksimal mungkin.
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan
menjalani sebuah kehidupan

yang penuh kepalsuan dan kesesatan.

Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti


keberadaan dirinya di dunia.
Fungsi berfikir ilmiah yaitu, sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan
dalam kaitan kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir
ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan
materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Uraian mengenai hakikat berfikir ilmiah atau kegiatan penalaran
memperlihatkan bahwa pada dasarnya, kegiatan berfikir adalah proses dasar
dari pengetahuan manusia. Kita membedakan antara pengetahuan yang ilmiah
dan pengetahuan non-ilmiah. Hanya saja, pemahaman kita tentang berfikir
ilmiah belum dapat disebut benar. Perbedaan berfikir ilmiah dari berfikir nonilmiah memiliki perbedaan dalam dua faktor mendasar yaitu:
1. Sumber pengetahuan
Berfikir ilmiah menyandarkan sumber pengetahuan pada rasio
dan pengalaman manusia, sedangkan berfikir non-ilmiah (intuisi dan
wahyu) mendasarkan sumber pengetahuan pada perasaan manusia.
2. Ukuran kebenaran
Berfikir ilmiah mendasarkan ukuran kebenarannya pada logis
dan analitisnya suatu pengetahuan, sedangkan berfikir non-ilmiah
(intuisi dan wahyu) mendasarkan kebenaran suatu pengetahuan pada
keyakinan semata.
II. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diproses dengan metode
ilmiah dan memenuhi syarat-syarat keilmuan (Jujun, 2005). Sedangkan

menurut Piaget, pengetahuan ilmiah sebagai hasil penyesuaian terhadap


kenyataan, yang menggambarkan latar belakang hayati maupun kejiwaan dari
ilmu (Peursen, 2003). Peursen juga mengidentifikasikan bahwa pengetahuan
ilmiah ialah pengetahuan yang terorganisasi dengan sistem dan metode
berusaha

mencari

hubungan-hubungan

tetap

diantara

gejala-gejala

(Bakker,1990). Dari beberapa defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa


pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan hasil penyesuaian terhadap
kenyataan yang diperoleh dengan metode ilmiah dan memenuhi syarat-syarat
keilmuan. Oleh karena itu, pengetahuan ilmiah sering diistilahkan dengan
ilmu.
Dalam kaitannya dengan pengetahuan dan metode ilmiah, Ginzburg
menyatakan bahwa ilmu adalah suatu sistem pengetahuan sebagai dasar
teoritis untuk tindakan praktis. Nagel juga berpendapat bahwa ilmu adalah
suatu sistem penjelasan mengenai saling hubungan diantara peristiwaperistiwa yang terjadi. Dengan demikian, ilmu sebagai sekumpulan
pengetahuan sistematik terdiri dari komponen-komponen yang saling
berkaitan atau dikoordinasikan agar dapat menjadi dasar teoritis atau memberi
penjelasan yang termaksud. Saling keterkaitan diantara segenap komponen itu
merupakan struktur dari pengetahuan ilmiah (Gie, 1997).
Struktur pengetahuan ilmiah mencakup lima kelompok unsur berikut:
1. Objek sebenarnya sebenarnya:
a. Objek material: Ide abstrak, Benda fisik, Jasad hidup, Gejala rohani,
Peristiwa sosial, Proses tanda
b. Objek formal: Pusat perhatian dalam penelaahan ilmuwan terhadap
fenomena itu
2. Bentuk pernyataan
a. Deskripsi: Bersifat deskriptif dengan memberikan pemerian mengenai
bentuk, susunan dll
b. Preskripsi: Memberikan petunjuk atau ketentuan apa yang sebaiknya
berlangsung
c. Eksposisi Pola: Merangkum pernyataanpernyataan yang memaparkan
pola-pola

d. Rekonstruksi historis: Menceritakan dengan penjelasan atau alasan


yang diperlukan dalam pertumbuhan sesuatu pada masa lampau
3. Ragam proposisi: Bentuk pernyataan yang lain, terutama ditemukan pada
cabang ilmu yang lebih dewasa
4. Ciri pokok: Ilmu sama, tidak tergantung siapa yang menemukan/
mengungkapkan; Ilmu bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi
kaidah-kaidah logika; Ilmu dapat diuji kebenarannya; Kebenarannya tidak
bersifat individual; Ilmu dapat digunakan oleh semua orang.
5. Pembagian sistematis: Sejarah dan Filsafat Ilmu, ilmu Fisis, ilmu bumi,
ilmu

biologis,

ilmu

kedokteran

dan

disiplin-disiplin

yang

tergabung, Ilmu-ilmu sosial dan psikologi, ilmu teknologis


III.

Sarana Berfikir Ilmiah


Sarana berfikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana
berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah
yang baik. Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah
dalam mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah
adalah membantu proses metode ilmiah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
1. Sarana berfikir ilmiah bukanlah ilmu melainkan kumpulan
pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmu.
2. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan
kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah,
matematika, statistika dan logika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah.
Matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga
mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Statistika
mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsepkonsep yang berlaku umum. Sedangka logika memberikan peran sebagai pola
berfikir tertentu atau penalaran dan bersifat analitik.

Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan


ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan
kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa
bahasa, logika, matematika, statistika.
A. Bahasa
Bahasa mempunyai peranan penting dan suatu hal yang lazim
dalam hidup dan kehidupan manusia. Bahasa sebagai alat komunikasi
verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa
merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan
pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika
induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir imiah ini
sangat berkaitan erat dengan bahasa. Bahasa mengalami perkembangan
oleh karena disebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga
berkembang. Kemampuan berbahasa yang baik dan benar menjadi salah
satu syarat mutlak untuk melaksanakan kegiatan ilmiah, karena bahasa
merupakan sarana komunikasi yang pokok, namun menggunakan bahasa
yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang
benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar. Premis yang salah
akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Semua itu tidak terlepas
dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berpikir. Dengan bahasa
manusia dapat berpikir secara teratur serta dapat mengkomunikasikan apa
yang sedang ia pikirkan kepada orang lain. Tanpa bahasa maka mustahil
bisa berpikir secara teratur dan dengan bahasa kita bisa melanjutkan nilainilai kepada generasi berikutnya. Berbahasa dengan jelas adalah makna
yang terkandung dalam kata-kata harus diungkapkan secara tersurat untuk
mencegah pemberian makna yang lain. Manusia tanpa bahasa tidak akan
dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti dilakukan dalam kegiatan
ilmiah. Selain itu juga tidak dapat mengomunikasikan kepada pihak lain
tentang apa yang dipahaminya.
Bahasa memungkinkan

manusia

berfikir

secara

abstrak,

menyangkut obyek-obyek yang faktual di transformasikan menjadi

simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan demikian manusia


dapat memikirkan mengenai obyek yang secara faktual tidak berada
didekatnya atau abstrak dan memikirkan sesuatu secara teratur dan
sistematis.
B. Matematika
Untuk melakuakan kegiatan ilmiah secara lebih baik diperlukan
sarana berfikir salah satunya adalah Matematika. Sarana tersebut
memungkinkan dilakukannya penelahaan ilmiah secara teratur dan cermat.
Matematika sebagai bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari
pernyataan yang ingin kita sampaikan, dalam penalarannya harus mampu
diekspresikan ke dalam bahasa verbal, dan demikian pula argumen verbal
harus mampu diekspresikan dalam lambang-lambang matematika.
Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai
arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa hal tersebut
matematika hanya kumpulan rumus-rumus yang mati. Kelebihan
matematika memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara
kuantitatif

karena

matematika

mengembangkan

bahasa

numerik,

sedangkan dengan bahasa verbal hanya bisa mengemukakan peryataan


yang bersifat kualitatif. Sifat kuantitatif dari matematika meningkatkan
daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih
bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat
dan cermat.
Matematika berfungsi sebagai alat berpikir. Analisis matematika
pada prinsipnya merupakan proses penalaran yang bersifat deduktif, yakni
proses penarikan simpulan

dari beberapa pernyataan dasar menjadi

pernyataan baru secara konsisten. Matematika merupakan alat yang dapat


memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui
abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun
pemecahan masalah. Pentingnya matematika tidak lepas dari perannya
dalam segala jenis dimensi kehidupan. Mengkomunikasikan gagasan
dengan bahasa matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efisien.
Begitu pentingnya matematika sehingga bahasa matematika merupakan

bagian dari bahasa yang digunakan dalam masyarakat. Hal tersebut


menunjukkan pentingnya peran dan fungsi matematika, terutama sebagai
sarana untuk memecahkan masalah baik pada matematika maupun dalam
bidang. Berikut beberapa aliran dalam Filsafat Matematika antara lain:
Aliran Logistik (Immanuel Kant) Aliran Intusionis (Jan Brouwer) dan
Aliran Formalis (David Hilbert).
C. Statistika
Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif,
yakni merupakan proses penarikan kesimpulan yang bersifat umum dari
kasus-kasus yang bersifat individual. Statistika didasarkan pada teori
peluang, akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui
apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atua lebih bersifat
kebetulan atau benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat
empiris. Konsep statistika juga sering dikaitkan dengan distribusi variabel
yang ditelaah dalam suatu populasi. Statistika mampu memberikan secara
kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Yang pada
pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni semakin besar
contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan
tersebut.
Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika
membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan
karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan secara kebetulan.
Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh
pengetahuan untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil
suatu kesimpulan kegiatan ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu
keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan data-data, metode penelitian
serta penganalisaan harus akurat. Statistika diterapkan secara luas dan
hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen. Peranan
statiska diterapkan dalam penelitian pasar, produksi, kebijaksanaan
penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan
industri, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan resiko dalam pemberian
kredit dan lain sebagainya.
Peranan Statistika dalam tahap-tahap metode keilmuan:

1. Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang akan


diambil dari populas.
2. Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.
3. Teknik untuk menyajikan data-data, sehingga data

lebih

komunikatif.
4. Alat untuk analisis data seperti menguji hipotesis penelitian yang
diajukan.
D. Logika
Logika merupakan ciri pokok dalam penalaran. Manusia dapat
mengembangkan pengetahuan disebabkan oleh dua hal yang utama, yaitu:
1. Manusia
memiliki
bahasa
yang
dipergunakan
untuk
mengkomunikasikan

informasi

dan

jalan

pikiran

yang

melatarbelakangi informasi tersebut


2. Manusia dapat mengembangkan pengetahuan karena memiliki
kemampuan berfikir menurut suatu alur tertent, yang kita kenal
dengan istilah penalaran.
Penalaran atau reasoning adalah suatu proses melalui mana
manusia manusia berdasarkan suatu pengetahuan sampai kepada
pengetahuan baru lebih lanjut atau evolusi pengetahuan. Penalaran
merupakan proses berfikir yang membuahkan pengetahuan. Sebagai suatu
kegiatan berfikir, penalaran mempunyai dua ciri, yaitu:
1. Adanya suatu pola berfikir tertentu yang disebut logika, sehingga
setiap bentuk penalaran memiliki logikanya sendiri.
2. Adanya sifat analitik, artinya menyadarkan diri kepada suatu
analisis yang disebut dengan istilah logika ilmiah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berfikir

ilmiah

adalah

berfikir

yang

menggunakan

dasar

perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir, pengajuan rumusan


hipotesis,pengujian hipotesis, penarikan simpulan untuk menilai, dan
hipotesis.
Sarana-sarananya

merupakan

sarana

bahasa

sebagai

alat

komunikasi menyampaikan jalan pikira, sarana matematika sebagai


penelahaan ilmiah secara teratur dan cermat, ssarana statistika yang
digunakan dalam penarikan kesimpulan serta yang terakhir adalah sarana
logika atau penalaran sehingga berfikir membuahkan pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA
Liang Gie, The., 2004, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty Yogyakarta.
Maufur, 2014, Filsafat Ilmu, CV. Bintang WarliArtika, Bandung.
Mudyahardjo, Redjo., 2001, Filsafat Ilmu Pendidikan, PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Ardiyansyah, Ebhy., http://ebhyardiansyah.blogspot.co.id/2013/05/materikerangka-berfikir-ilmiah.html.
Burhanuddin, Farid.,
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/sarana-berfikir-ilmiah-dalamfilsafat/.
Muhammad Yusuf, La Ode.,
http://jamedisc.blogspot.co.id/2015/02/makalah-filsafat-sarana-berfikir-.
Yanti, Syafieh., http://syafieh.blogspot.co.id/2014/05/sarana-ilmiahbahasa-matematika-logika.html.