Anda di halaman 1dari 27

ANESTESI PADA TIROIDEKTOMI

Anya Dewi Nastiti


M. Iqbal Tawakal
Siti Khoerum Milla
KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TRISAKTI
JAKARTA NOVEMBER 2015

Pendahuluan
Salah satu organ yang termasuk ke dalam sistem

endokrin adalah kelenjar tiroid


Kelenjar tiroid dapat mengalami gangguan fungsi
(tirotoksikosis) atau perubahan susunan kelenjar dan
morfologinya (penyakit tiroid noduler)
Salah satu penanganan pada kasus hipertiroid adalah
dengan tiroidektomi
Tindakan tiroidektomi memerlukan perhatian khusus
dalam bidang anestesi penilaian jalan napas menjadi
hal utama yang harus dinilai dengan cermat
Perlu diperhatikan dengan seksama mengingat
komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi setelah
tindakan operasi

Laporan Kasus
IDENTITAS
No RM : 01342906
Nama : Ny. HH
Tanggal Lahir
: 16/06/1956
Usia : 59 tahun
Agama : Islam
Alamat : Gg. Masjid Cisalak Depok no.15
Sukmajaya
Pendidikan terakhir : Tamat SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status perkawinan
: Kawin
I.

II. ANAMNESIS

Keluhan utama:
Pasien datang dengan diagnosis hipertiroidisme pro
operasi tiroidektomi bilateral/total
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien merasakan terdapat benjolan di leher sejak 2
tahun yang lalu. Awalnya benjolan hanya sebesar
telur ayam dan tidak mengganggu pasien. Namun,
semakin lama benjolan semakin membesar dan
sekarang sebesar kepalan tangan orang dewasa. Nyeri
tidak dirasakan oleh pasien. Keringat berlebih dan sering
berdebar disangkal oleh pasien. Terkadang, pasien
mengalami sesak napas.
1 tahun yang lalu, pasien berobat ke puskesmas karena
kedua kelopak matanya tampak kemerahan dan dirujuk
ke RS Pasar Rebo. Di RS tersebut, pasien di diagnosis
mengalami hipertiroid dan dirujuk ke RS Fatmawati.

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis (GCS = 15)
Berat Badan
: 50 kg
Tinggi Badan
: 156 cm
Tekanan Darah
: 125/70 mmHg
Suhu
: 36oC
Nadi
: 120 x/menit
RR
: 26 x/menit

Status general:
Mata, hidung, gigi&mulut, tenggorokan dan telinga
dalam batas normal
Leher normal, tidak terdapat pembesaran KGB, gerakan
leher maksimal
Thorax normal, simetris saat statis dan dinamis
Jantung normal, tidak ditemukan adanya murmur atau
gallop
Paru normal, suara napas vesikuler +/+, tidak terdapat
ronki atau wheezing
Abdomen supel, bising usus normal, tidak terdapat nyeri
Ekstremitas akral hangat, CRT < 2 detik

Status lokalis:
Tampak benjolan ukuran 10 cm x 5 cm x 5
cm.
Konsistensi kenyal, batas tidak tegas, mobile,
tidak nyeri tekan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal 02/03/2015
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Nilai rujukan

Hemoglobin

12.9

g/dL

11.7 15.5

Hematokrit

37

33 45

Leukosit

6.6

ribu/ul

5.0 10.0

Trombosit

281

ribu/ul

150 440

Eritrosit

4.24

juta/ul

3.80 5.20

VER

87.1

80.0 100.0

HER

30.5

pg

26.0 34.0

KHER

35.1

g/dL

32.0 36.0

RDW

14.0

11.5 14.5

Basofil
Eosinofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
Luc
Masa
perdarahan

0
1
62
32
4
2
1.5

%
%
%
%
%
%
menit

01
13
50 70
20 40
28
< 4.5
1.0 3.0

Masa
pembekuan

5.0

menit

2.0 6.0

SGOT

17

U/l

0 34

SGPT

19

U/l

0 40

Ureum darah

21

mg/dL

20 40

Kreatinin darah

0.6

mg/dL

0.6 1.5

Gula darah
puasa
Gula darah
2jam PP
Natrium
(darah)
Kalium (darah)

83

mg/dL

80 100

132

mg/dL

80 145

144

mmol/l

135 147

3.73

mmol/l

3.10 5.10

Klorida (darah)

110

mmol/l

95 - 108

Pemeriksaan INVITRO
Tanggal 02/03/2015
Jenis

Hasil

Nilai rujukan

Total T3

2,08 nmol/l

1,0 3,3 nmol/l

Total T4

4,27 13.2 g/dl

0,03 IU/ml

0,27 3,75 IU/ml

0,83 ng/dl

0,78 1,75 ng/dl

TSH ultra sensitif


Free T4

Pemeriksaan USG:
Tanggal 07/01/2015
Kesan: Struma nodosa berdegenerasi kistik
bilateral.
Pemeriksaan FNAB:
Tanggal 13/1/2015
Kesan: Adenomatous Goiter tipe cystic
dengan sel atipik

Catatan Anestesi
Pasien dengan diagnosis Hipertiroidisme pada tanggal
10/11/2015 dilakukan operasi subtotal/total
tiroidektomi bilateral pukul 09.00 oleh dr. Arief,
SpB(K)Onk.
Hasil operasi:
Pasien dilakukan pembiusan pada pukul 08.45 dengan
teknik GA oleh dr. Badar,SpAn dengan obat-obatan:
Premedikasi Intravena : Dormicum 4 mg & Fentanyl
150 mcg
Induksi Intravena : Propofol 200 mg & Esmeron 30
mg
Inhalasi : Isofouren

Menggunakan ETT Non kinking no.7 cuff

(+)
Obat-obatan / Infus yang diberikan selama
dan sesudah operasi ialah :
Fentanyl 25 mg pukul 09.45 dan diberikan
lagi sebanyak 25 mg pada pukul 10.45
Sulfas Atropin:Prostigmin 0,5 mg:1 mg
Ondancentron 4 mg
Tramadol 4 mg
Cefixime 2 gr diberikan pada pukul 08.50

Hasil monitoring selama operasi:

Pembiusan selesai pada pukul 11.30 dan


pasien di bawa ke ruang pemulihan dengan
hasil pengawasan:
Tekanan darah : 166/86 mmHg
HR : 104x/menit
Sp02 : 100%
Jalan nafas tidak ada masalah
Pernafasan spontan dan adekuat bersuara
Pasien belum sadar betul

Penilaian score ALDRETTE

Masuk

Aktivita

Sirkulas

Pernafa

Kesadara

Warna

Tot

san

kulit

al

10

RR
Keluar
RR

Analisis Kasus
Dari hasil pemeriksaan pro operatif seperti

anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang (laboratorium, USG
dan FNAB) didapatkan pasien menderita
struma nodusa berdegenerasi kistik
bilateral dan direncanakan dilakukan
subtotal/ total tiroidektomi bilateral.
Pada pasien yang akan dilakukan
tiroidektomi diharuskan memiliki hasil klinis
dan nilai fungsi T3 dan TSH yang normal
(Eutiroid).

Pada pasien ini, secara klinis tidak

didapatkan tanda-tanda klinis hipertiroid .


Pada pemeriksaan penunjang, didapatkan
hasil laboratorium T3 senilai 2,08 nmol/l
dan TSH senilai 0,03 IU/ml. Ini
menunjukan bahwa hasil tersebut termasuk
eutiroid.

Pada

pasien dengan hipertiroid akan


didapatkan peningkatan heart rate karena
hormon tiroid meregulasi reseptor
adrenergik dan Na+/K+ ATPase, dengan
adanya peningkatan stimulasi adrenergik
akibat peningkatan second messanger,
cAMP yang akan meningkatkan heart rate

Pemberian
premedikasi
dengan
Dormicum dan Fentanyl akan memberikan
efek pada kardiovaskuler yaitu bradikardi
dan hipotensi.

Pada pasien ini dipilih Propofol sebagai obat

induksi dibanding Ketamin dan Thiopental


karena Propofol merupakan obat anestesia
intravena yang bekerja cepat dengan
karakter recovery anestesia yang cepat
tanpa rasa pusing dan mual muntah. Serta
efek pada kardiovaskuler menyebabkan
penurunan resistensi vaskular sistemik dan
juga menurunkan tekanan darah.

Pada pasien tidak didapatkan hambatan

pada saat ekstensi kepala, termasuk ke


dalam katergori I Mallampati, tidak
didapatkan obstruksi dan tidak ada
hambatan pada gerakan leher pasien.
Tetapi pada saat akan dilakukan intubasi,
tiroid sedikit menekan trakea sehingga
lubang trakea tidak begitu luas terlihat.
Sehingga dilakukan teknik Sellick untuk
mempermudah tindakan intubasi.

Fentanyl dapat diberikan intra operatif

apabila nilai tekanan darah meningkat


secara tiba-tiba yang salah satunya
disebabkan oleh rasa nyeri akibat dari
tindakan operasi. Selain itu, Ondancentron
juga diberikan sebanyak 4 mg untuk
mengurangi rasa mual dan muntah pasca
operasi. Tramadol 4 mg juga diberikan
untuk mengurangi rasa sakit pasca operasi.

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien

pasca pembedahan tiroidektomi salah


satunya ialah terputusnya nervus reccurent
laryngeal, yang akan berakibat pada suara
serak (jika unilateral) atau afoni dan stridor
(bilateral) perlu diperhatikan pada saat
akan dilakukannya ekstubasi pasca
pembedahan dengan menggunakan leak
test

Salah satu ancaman dari pasien hipertiroid

pasca tiroidektomi adalah terjadinya


thyroid storm perlu diawasi dalam 624jam pasca pembedahan

Kesimpulan
Anestesi pada tindakan tiroidektomi harus

diperhatikan secara teliti.


Pentingnya anamnesis dan pemeriksaan
fisik secara teliti untuk mengetahui apakah
terdapat faktor penyulit pada pasien.
Pemeriksaan penunjang juga perlu
dilakukan untuk mengetahui nilai dari
hormon tiroid karena fungsi tiroid dalam
kondisi yang tidak normal dapat
mengancam jiwa akibat dari gangguan
pada sistem kardiovaskuler.

Kesimpulan
Pada kunjungan pra anestesi, penilaian

jalan nafas menjadi hal utama yang harus


dinilai dengan cermat.
Tentukan apakah terdapat kesulitan jika
dilakukan intubasi.
Manajemen post operatif juga perlu
diperhatikan dengan seksama mengingat
komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi
setelah pembedahan kelenjar tiroid.

TERIMA KASIH