Anda di halaman 1dari 6

Rangkuman Pertemuan 5

Teori Akuntansi Keuangan


Chapter 6 Godfrey: Accounting Measurement System

Kelompok 2
Christy Vania Rosabel1306378741
Raudah Iftitah Mulikh

1306379233

I Gede Anjas Putra Astina

1306379271

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Indonesia
Depok
2016

LO 4 Financial Capital vs Physical Capital


Dalam market value acccounting systems, penghitungan profit bergantung kepada
pengukuran capital. Karena profit didefinisikan sebagai perubahan capital dalam periode
pelaporan, bukanlah sebagai alokasi harga perolehan yang ditentukan melalui konvensi akuntansi
yang melibatkan banyak orang. Dalam current cost accounting, terdapat dua pandangan yang
mendasar dan bersaing mengenai apa yang merupakan beginning dan ending capital, baik konsep
keuangan maupun fisiknya. Tidak terdapat perdebatan mengenai konsep valuation, karena
keduanya memiliki pandangan yang sama, yaitu menggunakan current market buying prices
(current costs), melainkan perdebatan terjadi mengenai definisi capital, dan bagaimana profit
diukur berdasarkan definisi tersebut.
Berdasarkan pandangan practical, perbedaan utama antara konsep fiinancial capital dan
physical capital terletak pada apakah holding gains/losses termasuk kedalam profit atau tidak.
Dalam quantitative terms, perbedaan antara kedua pandangan adalah holding gains/losses
termasuk kedalam profit menurut financial capital, sedangkan menurut physical capital
dikecualikan.
In support of physical capital
Pendukungnya mengatakan bahwa capital adalah physical units yang menunjukkan
kemampuan beroperasi perusahaan. Kesimpulan bahwa holding gains sebagai profit
didasarkan pada dua argumen, yaitu cost savings dan menggambarkan cash flow di masa
depan dari aset yang dipertanyakan. Secara konseptual, profit terkait dengan net cash flows,
baik yang diharapkan maupun yg terealisasi. Sedangkan, Samuelson berpendapat bahwa cost
savings seharusnya tidak termasuk profit, karena merupakan forgone cash flows, bukan
realised maupun expected cash flows. Penting untuk melihat korelasi antara current cost dari
aset dan present value dari perusahaan, karena cash flows dari aset non-current digambarkan
oleh realised cash flows dari penjualan output perusahaan.
Major features of the physical capacity system
Capital maintenance
Sistem current cost didasarkan pada entity concept dalam me-maintain secara utuh
kemampuan perusahaan untuk dapat terus menghasilkan jumlah barang dan jasa yang sama,
atau kemampuan beroperasinya (operating capability).
Valuation principles
Non-monetary items

Karena adanya inflasi, non-monetary items (land, building), harus di-adjust dengan pasar
dalam nominal dollar terms (di-restate) agar tergambar dalam neraca sesuai current cost-nya
pada tanggal neraca. Penurunan nilai secara permanen maka akan menurunkan operating
capability perusahaan juga, sehingga harus melakukan debit adjustment terhadap income
statement perusahaan.
Monetary items and loan capital
Monetary items dapat dibagi kedalam dua komponen. Komponen pertama didasarkan
pada entity concept dan meliputi seluruh monetary items yang bukan loan capital.
Gains/lossess dapat dilihat dari index of change barang dan jasa yang tepat, seperti
construction cost index bagi building company, dan general price index bagi financing entity,
atau jika penggunaan index yang spesifik tidak praktis dan cost effective. Sedangkan,
gains/losses untuk loan capital dihitung dengan menilai sejauh mana shareholders
memperoleh benefit dari penggunaan long-term loan capital dalam mendanai operasi
perusahaan, menggunakan general price index.
Non-monetary assets bought and sold on the same market
Saham dan marketable commodities (emas, perak, aset yang di-hold untuk spekulasi atau
sebagai aset keuangan), yang dimiliki dengan tujuan untuk perolehan profit atau dijual agar
memperoleh capital gain, mempengaruhi operating capability perusahaanapakah akan
meningkatkan atau menurunkan--sesuai dengan reinvestment ability dari aset-aset tersebut.
Arguments for and against current cost
Recognition principle
Pandangan financial capital mengakui adanya unrealised holding gains, sedangkan
menurut pandangan historical cost dan physical capital, holding gains seharusnya tidak
diakui.
Objectivity of current cost
Pendukung konsep historical cost berpendapat bahwa current cost accounting tidak
objektif karena tidak berdasarkan transaksi sebenarnya dimana perusahaan ikut ambil bagian.
Untuk aset yang market price-nya cukup mudah untuk didapat, objektivitasnya dapat
diterima. Sedangkan untuk aset non-current, biasanya lebih kompleks karena tidak
tersedianya informasi mengenai market price-nya, maka digunakan bantuan appraisals,
penghitungan reproduction costs, dan beragam index, yang dimana itu semua didasarkan
pada subjective judgment.
Technological change

Current cost accounting dinilai tidak memperhitungkan kemajuan teknologi, yang dapat
terjadi pada proses produksi saat ini, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi profit dan
operating capability perusahaan.
More specific criticisms
Advocates of historical cost
Pendukung konsep historical cost menolak current cost accounting, karena dinilai
menyalahi

prinsip

realisasi

tradisional,

seperti

subjektivitas

dalam

menilai

kenaikan/penurunan cost jika tidak terdapat pasar yang dapat dilakukan perbandingan
terhadapnya.
Comparison of the results with historical cost
Dalam laporan yang dibuat FASB, disoroti bahwa perbedaan profit yang terjadi antara
dengan menggunakan konsep historical cost dan current cost disebabkan oleh unrealised
holding gains.
Advocates of exit price
Menurut pendukung konsep exit price, istilah cost berarti opportunity cost atau sacrifice
atas alternatif terbaik selanjutnya, seharusnya alokasi didasarkan pada historical cost bukan
current cost, current cost accounting bermasalah karena adanya additivity, dan informasi
berdasarkan current cost irelevan dalam membuat investment decision.
LO 5 Exit Price Accounting
Income and capital
Exit price accounting menggunakan market selling prices untuk mengukur kinerja dan
posisi keungan perusahaan. Terdapat dua hal yang didasarkan pada historical cost accounting
konvensional, yaitu nilai dari non-monetary assets di-adjust untuk mengukur perubahan
market selling prices aset terkait dan dimasukkan dalam income sebagai unrealised gains,
serta dalam mengukur financial capital dan hasil operasi memperhitungkan perubahan pada
purchasing power terhadap uang secara umum.
Aset dalam neraca di-restate pada exit values-nya (selling prices) sehingga
menggambarkan fair market value dari perusahaan ketika likuidasi, bukan ketika dalam
situasi fire-sale. Income statement menggambarkan profit/losses dari operasi dan juga
inflation-adjusted gains atas holding assets. Dapat dibedakan antara past (historical costs),
future (valuation), dan present measurement (exit prices).
Objective of accounting
Adaptive decision making

Menurut Chambers, perusahaan adalah adaptive entity terkait dalam hal membeli dan
menjual barang dan jasa, dimana sikap adaptive yang dilakukan menunjukkan usaha untuk
menyesuaikan diri terhadap lingkungan bisnis yang kompetitif agar dapat bertahan. Dunia
bisnis dinamis (tidak statis), dan bisnis harus beradaptasi agar dapat bertahan. Sikap adaptive
berkaitan juga dengan pengetahuan mengenai cash dan current cash equivalents atas net
assets perusahaan.
Arguments for exit price accounting
Providing useful information
MacNeal mengklasifikasikan sejarah mengenai akuntansi kedalam tiga zaman. Solusi
yang ideal adalah agar akuntan dapat melaporkan seluruh profits, losses, dan values yang
ditentukan dalam competitive markets. MacNeal menganjurkan, maka harus menilai
marketable assets pada market price-nya (exit price), non-marketable reproducible assets
pada replacement costs-nya, dan non-marketable non-reproducible assets pada historical
costs-nya.
Relevant and reliable information
Menurut Sterling, dalam menentukan profit, maka harus menggunakan metode yang
memberikan informasi lebih dan superior dari lainnya yang memberikan informasi lebih
sedikit. Informasi dikatakan relevan jika berguna dalam pembuatan keputusan oleh pengguna
laporan keuangan.
Additivity
Neraca dan income statement merupakan produk utama dari sistem akuntansi, sehingga
valuation atas seluruh elemen dalam neraca dan income statement pada money equivalentsnya (exit price), memeberikan satu aturan yang dapat digunakan secara konsisten terhadap
perusahaan manapun. Sistem ini fokus terhadap mengukur financial capacity dari bisnis pada
akhir periode akuntansi.
Allocation
Thomas meratapi fakta bahwa historical dan current accounting system bertumpu pada
cost allocation dalam menilai aset dan menentukan profit, sedangkan dengan adanya exit
price accounting, laporan keuangan bebas dari alokasi apapun.
Reality
Exit price accounting mengikutsertakan referensi terhadap contoh nyata, karena setiap
gambaran mengacu kepada market price saat ini dan yang sebenarnya.
Objectivity
Sering terjadi argumen bahwa current market prices tidak objektif, tetapi di sisi lain,
berdasarkan riset, current market prices sebenarnya lebih objektif dari yang orang pikirkan

selama ini. McKeown menyimpulkan berdasarkan analisanya bahwa metode yang digunakan
untuk menentukan exit prices lebih objektif dan verifiable dibandingkan metode yang
diusung GAAP.
A measure of risk
Exit prices dan perubahan pada exit prices juga merupakan indikasi atas financial risk
ketika membeli aset.
Arguments against exit price accounting
Profit concept
Konsep profit dalam pengukuran exit price memiliki pengertian untuk selalu
memaksimalkan cash equivalents atas net assets dalam periode jangka pendek. Menurut
Weston, exit price accounting relevan jika perusahaan berencana melikuidasi aset-asetnya.
Membuat laporan keuangan berdasarkan exit price sebagaimana data yang dipublikasi dinilai
tidak realistis. Penggunaan exit price accounting tidak memberikan profit yang meaningful,
karena penekanannya adalah pada perubahan harganya, bukan pada transaksi penjualan yang
sebenarnya.
Additivity
Menurut pendukung exit price, agar dapat dikatakan objektif, pengukuran hanya dapat
didasarkan pada past dan future events saja, sehingga, konsep ini tidak mengakui
kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dalam hal terjadinya kombinasi aset.
The valuation of liabilities
Menurut Chambers, bonds payable merupakan suatu bentuk capital dan seharusnya
dinyatakan pada face value, bukan market value. Dalam banyak kasus, biasanya contractual
amount sama dengan face value. Definisi Chambers menyiratkan bahwa perusahaan dapat
membeli bonds yang di-issue-nya di pasar, pada market price.
Current cost or exit price
Hal yang menjadi pertanyaan dalam penggunaan current cost atau exit price, adalah pada
siklus operasi kapan exit price akan mendominasi dalam melakukan penilaian aset.
Pendukung konsep current cost berkata bahwa entry price merupakan metode yang normal
dalam melakukan penilaian.