Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

STROKE/CVA
DEPARTEMEN EMERGENSI
Disusun untuk memenuhi tugas clinical study 2 di RST dr.Soepraoen Malang

Oleh :
Nadhira Wahyu Lestari
115070205111003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. Definisi
Stroke disebabkan oleh gangguan suplai darah ke bagian otak yaitu ketika
pembuluh darah yang membawa oksigen dan nutrisi menuju otak menjadi
terhambat karena berbagai sumbatan atau pembuluh darah tersebut pecah
sehingga sel otak akan mengalami kerusakan bahkan kematian (American Stroke

Association, 2012).
Stroke adalah gangguang fungsional otak sebagian atau menyeluruh yang timbul
secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam dengan tanda dan
gejala yang sesuai dengan otak yang terkena, dan dapat sembuh sempurna,

sembuh dengan cacat atau kematian.


Cedera vaskuler serebral (CVS) atau yang sering disebut dengan stroke
merupakan serangan berat yang mendadak (Kamus Saku Kedokteran Dorland,
2011). Istilah stroke mengacu pada setiap gangguan neurologik mendadak yang
terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri
otak (Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, 2005).

2. Klasifikasi
Berdasarkan kelainan patologis yang terjadi diklasifikasikan menjadi 2, yaitu stroke
iskemik dan stroke hemoragik (Wahjoepramono, 2005)
a. Stroke Iskemik
Disebabkan adanya kejadian yang menyebabkan aliran darah menjadi menurun
atau bahkan terhenti sama sekali pada area tertentu di otak, misalnya karena terjadi
emboli atau trombosis.
Trombosis merupakan proses pembukan darah pada jaringan. Jika trombosis
terjadi di dalam pembuluh darah menuju otak, maka bekuan darah tadi dapat
menyumbat aliran darah yang akan mensuplai otak sehingga terjadi stroke

iskemik.
Emboli adalah segala benda asing yang terlepas dan mengikuti aliran darah.
Emboli dapat berupa trombus atau bekuan darah yang terlepas, udara, dan
lainnya. Emboli yang masuk ke dalam pembuluh darah dan ikut aliran darah
dapat berhenti di suatu tempat sempit yang tidak bisa ia lewati (Junaidi, 2004).

Berdasarkan perjalanan klinisnya, stroke iskemik dikelompokkan menjadi 4, yaitu


(Junaidi, 2004) :

Transient Ischemic Attack (TIA)


Serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam
Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
Gejala neurologis yang akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21
hari
Progressing stroke atau Stroke in evaluation

Kelainan atau defisit neurologis yang berlangsung secara bertahap dari yang
ringan ampai yang berat.

Completed Stroke
Kelainan neurologis yang sudah menetap dan tidak berkembang lagi.
b. Stroke Hemoragik
Stroke yang disebabkan perdarahan intrakranial non traumatik. Perdarahan yang
sering terjadi adalah perdarahan intraserebral (PIS) dan perdarahan subarakhnoid
(PSA).
Perdarahan Intraserebral (PIS)
Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah intraserebral sehingga darah keluar
dari pembuluh darah dan kemudian masuk ke dalam jaringan otak (Iskandar, 2004).
Pada kondisi ini akan terjadi peningkatan tekanan intrakranial atau intraserebral,
sehingga terjadi penekanan pada struktur otak atau pembuluh darah otak secara
menyeluruh yang mengakibatkan penurunan aliran darah otak dan berujung pada
kematian saraf sehingga timbul gejala klinis defisit neurologis. PIS biasanya terjadi
karena hipertensi yang berlangsung lama, sehingga terjadi kerusakan dinding
pembuluh darah. Faktor pencetus lain adalah stres fisik, emosi, peningkatan
tekanan darah mendadak yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.
Perdarahan Subarakhnoid (PSA)
Adalah masuknya darah ke ruang subarakhnoid baik di tempat lain (subarakhnoid
sekunder) maupun dari ruang subarakhnoid sendiri (subarakhnoid primer) (Junaidi,
2004). Umumnya PSA timbul spontan, 10% disebabkan karena tekanan darah yang
naik dan biasanya terjadi saat sedang melakukan aktivitas. Gejala PSA adalah
sebagai berikut :
Serangan mendadak dengan nyeri kepala hebat didahului suatu perasaan
ringan atau ada sesuatu yang meletus di dalam kepala
Kaku kuduk merupakan gejala spesifik yang timbul beberapa saat kemudian
Kesadaran dan fungsi motorik jarang terganggu
Cairan serebrospinal (CSS) berwarna merah yang menunjukkan perdarahan
dengan jumlah eritrosit lebih dari 1000/mm3
3. Etiologi
Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat
kejadian yaitu:
Trombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher.
Terbentuknya trombosis biasanya di percabangan arteri dan umumnya pada
permukaan antara arteri karetis internal dan arteri vertebra atau antara arteri

vertebra dan arteri basiler


Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak
dari bagian tubuh yang lain.

Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak.


Iskemia terjadi karena thrombus atau ploqi arteresklerosis yang terlepas sehingga
mengganggu aliran darah atau menyumbat.
Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan

ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.


a Perdarahan epidural
b Perdarahan subdural (antara durameter dan arachnoid)
c Perdarahan intraserebral
4. Faktor Risiko
Non modifiable risk factors :
a. Usia. Semakin meningkatnya umur seseorang, maka risiko untuk terkena stroke
juga semakin meningkat.
b. Jenis kelamin
Kejadian stroke lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita.
c. Riwayat penyakit keluarga
Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor genetik, pengaruh budaya,
dan gaya hidup dalam keluarga,interaksi antara genetik dan pengaruh lingkungan
(Wahjoepramono, 2005).
d. Ras
Modifiable risk factors
a. Well-documented and modifiable risk factors
Hipertensi.
Hipertensi mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah
otak. Pecahnya pembuluh darah otak menimbulkan perdarahan otak, dan
apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak terganggu

mengakibatkan sel-sel otak mengalami kematian.


Diabetes, menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah otak yang
berukuran besar dan akhirnya mengganggu kelancaran aliran darah otak dan

menimbulkan infark otak.


Kadar kolesterol darah. Kadar kolesterol LDL yang tinggi dalam darah dapat
menyebabkan pengendapan kolesterol dalam arteri yang nantinya dapat
menyumbat pembuluh darah (aterosklerosis) sehingga supali darah ke otak

berkurang.
Atrial fibrilasi dan beberapa kondisi jantung tertentu
Beberapa penyakit jantung berpotensi menyebabkan stroke dikemudian hari
antara lain: penyakit jantung rematik, penyakit jantung koroner, dan gangguan
irama jantung. Faktor resiko ini umumnya menimbulkan sumbatan/hambatan
darah ke otak karena jantung melepas gumpalan darah atau sel-sel/jaringan
yang mati ke dalam aliran darah. Denyut jantung yang tidak teratur dapat
menurunkan total curah jantung yang menyebabkan aliran darah di otak

berkurang (iskemis).
Obesitas

Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol

sehingga dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah


Merokok
Merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen, peningkatan ini akan
mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan
viskositas darah sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis. Selain itu
rokok juga mengurangi jumlah oksigen yang terbawa oleh darah, sehingga
menyebabkan ketidakseimbangan antara oksigen yang dibutuhkan dan yang

dibawa oleh darah.


Aktivitas fisik
Aktivitas fisik dapat membuat lumen pembuluh darah menjadi lebar. Oleh karena
itu, darah dapat melalui pembuluh darah dengan lebih lancar tanpa jantung

harus memompa darah lebih kuat.


Stres
Stress dapat memproduksi hormon kortisol dan adrenalin yang berkontribusi
pada proses aterosklerosis dan meningkatkan jumlah trombosit dan produksi
kolesterol. Kortisol dan adrenalin juga merusak sel yang melapisi arteri,

sehingga lebih mudah bagi jaringan lemak tertimbun di dalam arteri.


b. Less well-documented dan modifiable risk factors
Sindroma metabolic
Penyalahgunaan narkoba
Penggunaan kontrasepsi oral
Sleep disordered-breathing
Nyeri kepala migren
Hiperhomosisteinemia
Peningkatan lipoprotein
Peningkatan lipoprotein-associated phospholipase
Hypercoagulability
Inflamasi
Infeksi
5. Patofisiologi (terlampir)
6. Manifestasi Klinis
Adanya serangan defisit neurologis fokal, berupa kelemahan atau kelumpuhan
lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah
satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah badan, terasa kesemutan, terasa
seperti terkena cabai, rasa terbakar
Mulut, lidah mencong bila diluruskan
Gangguan menelan : sulit menelan, minum suka keselek
Bicara tidak jelas (rero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai
keinginan atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata-katanya
tidak dapat dimengerti atau tidak dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya
sepatah-sepatah kata yang terucap

Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat


Tidak memahami pembicaraan orang lain
Tidak mampu membaca dan menulis, dan tidak memahami tulisan
Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
Hilangnya kendalian terhadap kandung kemih, kencing yang tidak disadari
Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil
Menjadi pelupa ( dimensia)
Vertigo ( pusing, puyeng ), atau perasaan berputar yang menetap saat tidak

beraktifitas
Awal terjadinya penyakit (onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi pada saat
beristirahat atau bangun tidur
Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan
tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda
sesaat
Kelopak mata sulit dibuka atau dalam keadaan terjatuh
Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga atau
pendengaran berkurang
Menjadi lebih sensitif: menjadi mudah menangis atau tertawa
Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik,
sempoyongan, atau terjatuh
Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri
Jika dilihat bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa:
Stroke hemisfer kanan
a. Hemiparese sebelah kiri tubuh.
b. Penilaian buruk
c. Mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan terjatuh
ke sisi yang berlawanan tersebut.
Stroke yang hemifer kiri
a Mengalami hemiparese kanan
b Perilaku lambat dan sangat hati-hati
c Kelainan bidang pandang sebelah kanan.
d Disfagia global
e Afasia
f Mudah frustasi
7. Pemeriksaan Diagnostik
Angiografi serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik
seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
CT-scan : memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.
Fungsi lumbal : menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan
iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah
menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar

protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses
inflamasi.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) : menunjukkan daerah yang mengalami infark,
hemoragik, dan malformasi arteriovena.
Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasi penyakit arteriovena.
EEG (Electroencephalography) : mengidentifikasi penyakit didasarkan pada
gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
Sinar X : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada
thrombosis serebral.
8. Penatalaksanaan Medis (PERDOSSI, 2007)
STADIUM HIPERAKUT
Tindakan pada stadium ini dilakukan di IGD dan merupakan tindakan resusitasi
serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan otak tidak meluas.
Pada stadium ini, pasien diberi oksigen 2 L/menit dan cairan kritaloid/koloid.
Hindari pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam H2O.
Dilakukan pemeriksaan CT scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer
lengkap dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT, glukosa darah, kimia
darah (termasuk elektrolit), jika hipoksia, dilakukan analisis gas darah.
STADIUM AKUT
Pada stadium ini dilakukan penanganan faktor-faktor etiologi maupun penyulit. Juga
dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi, wicara dan psikologis serta telaah sosial untuk
membantu pemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada keluarga menyangkut
dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta tata cara perawatan pasien yang
dapat dilakukan keluarga.
Stroke Iskemik

Terapi Umum
- Letakkan kepala pasien pada posisi 30, kepala dan dada pada satu bidang
- Ubah posisi tidur setiap 2 jam
- Mobilisasi dimulai bertahap bila hemodinamika sudah stabil
- Bebaskan jalan nafas, beri oksigen 1-2 L/menit sampai didapatkan hasil
-

analisa gas darah. Jika perlu, dilakukan intubasi


Demam diatasi dengan kompres dan antiriretik,

penyebabnya
Jika kandung kemih penuh, kosongkan (sebaiknya dengan kateter intermiten)
Pemberian nutrisi dengan cairan isotonik, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL

kemudian

dicari

dan elektrolit sesuai kebutuhan, hindari cairan mengandung glukosa atau


salin isotonik.

Pemberian nutrisi per oral hnaya jika fungsi menelannya baik. Jika
didapatkan gangguan menelan atau kesadaran menurun, dianjurkan melalui

slang NGT
Kadar gula darah > 150 mg% harus dikoreksi sampai batas gula darah
sewaktu 150 mg% dengan insulin drip intravena kontinu selama 2-3 hari
pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau <80mg% dengan
gejala) diatasi segera dengan dekstrose 40% IV ampai kembali normal dan

harus cari penyebabnya.


Nyeri kepala atau mual dan muntah diatasi dengan pemberian obat-obatan

sesuai gejala.
TD tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik 220 mmHg,
diastolik 120 mmHg, Mean arterial Blood Pressure (MAP) 130 mmHg
(pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 30 menit), atau didapatkan
infark miokard akut, gagal jantung kongestif dan gagal ginjal. Penurunan TD
maksimal 20% dan obat yang direkomendasikan : natrium nitroprusid,

penyekat reseptor alfa-beta, penyekat ACE, atau antagonis kalsium.


Jika terjadi hipotensi, yaitu tekanan sistolik 90 mm Hg, diastolik 70 mmHg,
diberi NaCl 0,9% 250 mL selama 1 jam, dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan
500 mL selama 8 jam atau sampai hipotensi dapat diatasi. Jika belum
terkoreksi, yaitu tekanan darah sistolik masih < 90 mmHg, dapat diberi

dopamin 2-20 g/kg/menit sampai tekanan darah sistolik 110 mmHg.


Jika kejang, diberi diazepam 5-20 mg iv pelanpelan selama 3 menit,
maksimal 100 mg per hari; dilanjutkan pemberian antikonvulsan per oral
(fenitoin, karbamazepin). Jika kejang muncul setelah 2 minggu, diberikan

antikonvulsan peroral jangka panjang.


Jika didapatkan tekanan intrakranial meningkat, diberi manitol bolus intravena
0,25 sampai 1 g/kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomena rebound
atau keadaan umum memburuk, dilanjutkan 0,25g/kgBB per 30 menit setiap
6 jam selama 3-5 hari. Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320
mmol). Sebagai alternatif dapat diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%) atau

furosemid.
Terapi Khusus
Ditujukan untuk reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti aspirin dan anti
koagulan, atau yang dianjurkan dengan trombolitik rt-PA (recombinant tissue
Plasminogen Activator). Dapat juga diberi agen neuroproteksi, yaitu sitikolin atau
pirasetam (jika didapatkan afasia).

Stroke Hemoragik

Terapi Umum

Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30
mL, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaan klinis

cenderung memburuk.
Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 1520% bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130

mmHg, dan volume hematoma bertambah.


Bila terdapat gagal jantung, tekanan darah harus segera diturunkan dengan
labetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian
dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapril iv 0,625-1.25 mg per 6 jam;

kaptopril 3 kali 6,25-25 mg per oral.


Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala dinaikkan
30, posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian manitol (lihat

penanganan stroke iskemik), dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg).


Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik, tukak lambung
diatasi dengan antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitor pompa

proton;
Komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan

antibiotik spektrum luas.


Terapi Khusus
- Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator.
- Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada

pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum


berdiameter >3 cm3, hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau
serebelum, dilakukan VP-shunting, dan perdarahan lobar >60 mL dengan
-

tanda peningkatan tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi.


Pada perdarahan subaraknoid, dapat digunakan antagonis

kalsium

(nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun


gamma knife) jika penyebabnya adalah aneurisma atau malformasi arterivena (arteriovenous malformation, AVM).
STADIUM SUBAKUT
Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif, tingkah laku, menelan, terapi wicara, dan
bladder training (termasuk terapi fisik). Mengingat perjalanan penyakit yang panjang,
dibutuhkan penatalaksanaan khusus intensif pasca stroke di rumah sakit dengan
tujuan kemandirian pasien, mengerti, memahami dan melaksanakan program preventif
primer dan sekunder.
Terapi fase subakut :

Melanjutkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya,


Penatalaksanaan komplikasi,

Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien), yaitu fisioterapi, terapi wicara,

terapi kognitif, dan terapi okupasi,


Prevensi sekunder
Edukasi keluarga dan Discharge Planning

9. Tahapan stroke
Fase atau tahapan proses sejak stroke akut sampai fase ke kehidupan sehari-hari
adalah sebagai berikut (Junaidi, 2004) :
a. Fase akut berlangsung antara 4-7 hari. Tujuan fase ini adalah pasien selamat dari
serangan stroke.
b. Fase stabilisasi, berlangsung antara 2-4 minggu. Tujuan fase ini adalah pasien
belajar lagi ketrampilan motorik yang terganggu dan belajar penyesuaian baru untuk
mengimbangi keterbatasan yang ada.
c. Rehabilitasi, yang bertujuan untuk melanjutkan proses pemulihan untuk mencapai
perbaikan kemampuan fisik, mental, sosial, kemampuan bicara, dan ekonomi.
d. Fase ke kehidupan sehari-hari, dimana pasien harus menghindari terulangnya
stroke akut, biasanya dianjurkan untuk :
- Melakukan kontrol tensi secara rutin
- Kendalikan kadar gula darah
- Berhenti merokok
- Diet rendah lemak
- Menghindari risiko terjadinya stres
- Terapi terkait faktor risiko lainnya dan penyempurnaan pemulihan kesehatan
serta ,encegah terulangnya serangan stroke.

ASUHAN KEPERAWATAN
A IDENTITAS KLIEN
Nama
: Tn. Parno No. RM
Usia
: 65 tahun Tgl masuk
Jenis kelamin
: Laki-laki
Tgl pengkajian
Alamat
: ....................
Sumber informasi
No. Telepon
: ....................
Keluarga
dihubungi : ...........
Status pernikahan
: Cerai
Agama
: ....................

Status
Alamat

: ...........
Suku

: ....................

No. Telepon

: ...........
Pendidikan

: ....................

Pendidikan

: ...........
Pekerjaan
Lama bekerja

: Pekerja
Pekerjaan
bangunan
: ....................

:
:
:
:

...........
...........
...........
Klien
yang
bisa
: ...........

: ...........

B STATUS KESEHATAN SAAT INI


Keluhan utama
: Tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki

sebelah kanan
Lama keluhan

: ............................................................................
Kualitas keluhan

: ............................................................................
Faktor pencetus
: Suka merokok, minum kopi
Faktor pemberat
: Jarang makan siang, makan malam

sangat banyak sebagian besar daging dan karbohidrat


Upaya
yang
telah

: ............................................................................
Keluhan saat pengkajian
: Tidak bisa menggerakkan tangan dan

dilakukan

kaki sebelah kanan


C RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI
Mbah Parno tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya sebelah
kanan
Diagnosa medis :

1.

...........................................

Tanggal .........................
2.

...........................................

Tanggal .........................
3.

...........................................

Tanggal .........................
D RIWAYAT KESEHATAN TERDAHULU
Penyakit yang pernah dialami :
Kecelakaan
(jenis

&

waktu)

: ...............................................................
Operasi
(jenis
&

: ...............................................................
Penyakit ;
Kronis

: ...............................................................
Akut
: ...............................................................
Terakhir masuk RS

waktu)

: ...............................................................
Alergi (obat, makanan, plester, dll ) :
Tipe
Reaksi
Tindakan
........................................
...................................
..........................
.............
........................................

...................................

.............
Imunisasi :
( ) BCG
( ) Hepatitis
( ) Polio
( ) Campak

..........................

( ) DPT
Kebiasaan :
Tipe
Merokok ......................

.......
Kopi

.......
Alkohol

......................
......................

( ) ..................
Reaksi
Tindakan
......................
...............
......................

...............

......................

...............

.......
Obat-obatan yang digunakan
Jenis
Lamanya
...........................
...........................
...........................
...........................
E

Dosis
..........................
..........................

RIWAYAT KELUARGA
..................................................................................................................
...........
..................................................................................................................
...........
..................................................................................................................
...........

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: Pasien tidak dapat menggerakkan tangan dan

kaki sebelah kanan


Kesadaran
: Komposmentis
Tanda-tanda vital
: Tekanan darah

: .......... mmHg

Suhu: .......0C

Nadi
: .......... x/menit
Pemeriksaan head to toe :
Kepala
Mata
Hidung
Mulut dan tenggorokan
Telinga
Thorak dan dada
Paru
Payudara dan ketiak
Punggung dan tulang belakang
Abdomen
Genetalia dan anus
Ekstremitas
Sistem neurologi
Kulit dan kuku

RR: .......x/menit

G HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium, USG, Rontgen, MRI)

..................................................................................................................
...........
..................................................................................................................
...........
H KESIMPULAN
Pasien mengalami stroke
I

ANALISIS DATA
DATA

ETIOLOGI

DS :
DO :

Stroke

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas

Defisit neurologis
Kemampuan batuk
menurun, kurang mobilitas
fisik, dan produksi sekret
Ketidakefektifan bersihan
jalan napas
Stroke

DS :
DO :

Ketidakefektifan
perfusi

Defisit neurologis

jaringan

serebral

Infark serebral
Ketidakefektifan perfusi
DS

Tangan

jaringan serebral
Stroke

dan kaki kanan


tidak
digerakkan
DO : -

bisa

Gangguan
fisik

Defisit neurologis
Kehilangan kontrol volunter
Hemiplegia dan hemiparesis
Gangguan mobilitas fisik

mobilitas

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

DIAGNOSIS

TUJUAN + KRITERIA

INTERVENSI

HASIL
Ketidakefektif
an

NOC :

bersihan

jalan napas

Kaji dan

Status respirasi :

dokumentasikan

ventilasi
Status respirasi :

frekuensi,

kepatenan jalan

upaya pernapasan
Kaji dan

napas
Pengendalian

kedalaman, dan

dokumentasikan

aspirasi

faktor yang

Setelah dilakukan

berhubungan

tindakan keperawatan

seperti nyeri, batuk

selama ... x 24 jam

tifak efektif, mukus

pasien menunjukkan

kental, dan

pembersihan jalan

keletihan
Auskultasi bagian

napas yang efektif

dengan kriteria hasil :

dada anterior dan

Batuk efektif
Mengeluarkan

posterior untuk

sekret secara efektif


Suara napas jernih
Irama dan frekuensi

penurunan atau

mengetahui
ketiadaan ventilasi
dan adanya suara

pernapasan dalam

rentang normal
Fungsi paru dalam

napas tambahan
Instruksikan kepada
pasien tentang

batas normal

batuk dan teknik


napas dalam untuk
memudahkan

pengeluaran sekret
Konsultasikan
dengan dokter
tentang kebutuhan
kebutuhan untuk
perkusi atau
peralatan
pendukung

Ketidakefektif

NOC :

perfusi

jaringan

serebral
an

Status sirkulasi
Status neurologi
Perfusi jaringan :

bentuk,
kesimetrisan, dan

serebral

Setelah dilakukan

Pantau TTV pasien


Pantau ukuran,

reaktivitas pupil
Pantau adanya

tindakan keperawatan

diplopia, nistagmus,

selama ... x 24 jam

penglihatan kabur,

ketidakefektifan perfusi

ketajaman

jaringan serebral

penglihatan, dan

teratasi dengan kriteria

sakit kepala
Pantau tingkat

hasil :

kesadaran dan

Tekanan sistol dan


diastol dalam

rentang normal
Tidak ada ortostatik

hipertensi
Mempunyai pupil
yang sama besar

respon neurologis
pasien terhadap

aktivitas perawatan
Perhatikan
perubahan pasien

dan reaktif
Terbebas dari kejang
Tidak mengalami
sakit kepala

orientasi
Pantau TIK dan

sebagai respon

terhadap stimulus
Berikan obat-obatan
untuk
meningkatkan
volume
intravaskuler sesuai

program
Kaji kebutuhan

Gangguan

NOC :

mobilitas fisik

Pergerakan

bantuan pelayanan
kesehatan di rumah

terkoordinasi
Mobilitas
Performa berpindah

dan kebutuhan
terhadap peralatan

Setelah dilakukan

pengbatan yang

tindakan keperawatan
selama ... x 24 jam

tahan lama
Ajarkan pasien

gangguan mobilitas

tentang

fisik teratasi dengan

penggunaan alat

krteria hasil :

bantu mobilitas dan

pantau

Mengalami
peningkatan dalam
melakukan aktifitas

mobilitas
Memperlihatkan

penggunaannya
Ajarkan teknik
ambulsai dan

fisik
Mengerti tujuan dari
peningkatan

berpindah yang

aman
Instruksikanpasien
untuk

penggunaan alat

memperhatikan

bantu secara benar

kesejajaran tubuh

dengan pengawasan

yang benar
Tentukan tingkat
motivasi pasien
untuk
mempertahankan
atau
mengembalikan
mobilitas sendi dan

otot
Gunakan ahli terapi
fisik dan okupasi
sebagai sumber
dalam perencanaan
aktifitas perawatan

pasien
Beri analgesik
sebelum memulai
latihan bila
diperlukan

PATOFISIOLOGI

FAKTOR-FAKTOR RISIKO STROKE

Arterosklerosis,
hiperkoagulas, artesis

Katup jantung
rusak,miokard

Trombosis serebral

Aneurisma,malformasi,
arteriovenous

Penyumbatan pembuluh
darah otak oleh bekuan
darah,lemak,dan udara

Pembuluh darah oklusi

Emboli

Iskemik jaringan otak

STROKE

Edema dan kongesti


jaringan sekitar

Perdarahan
Perembesan darah
ke dalam parenkim
otak
Penekanan jaringan
otak
Infark

Defisit neurologis

Infark
serebral

Ketidak
efektifa
n
perfusi
jaringan
serebral

Intake
P
nutrisi
Ketidakseim
tidak
bangan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
Penuruna
n tingkat
kesadara
n
Resik
o
ceder

Kehilangan
kontrol
Hemiplegia
dan
hemiparesis
Gangguan
mobilitas
fisik
KOMA

Kelemahan
fisik umum
Ketidakmamp
uan
Perawatan
Diri (ADL)

Penekan
an
jaringan
setempat
Risiko
tinggi
kerusakan
integritas

Risiko
peningkatan TIK
Herniasi falks
serebri dan ke
foramen magnum

Kompresi batang
otak
Depresi saraf
kardiovaskular
dan pernafasan

Disfungsi
bahasa dan
komunikasi

Disartria,
afasia,apra
ksia
Kerusakan
komunikas
i verbal

Kegagalan
kardiovaskular dan
KEMATIAN
pernafasan

Gangguan
psikologis

Kemampuan
batuk
menurun,kuran
g mobilitas
fisik,dan

Disfungsi
kandung
kemih dan
saluran
pencernaan

Ketidakefekti
fan bersihan
jalan napas

Gangguan
eliminasi
urinarius

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda juall,2000. Buku saku diagnose keperawatan. Edisi 8,EGC.Jakarta

Doenges, M.E, Moorhouse M.F, Geissler A.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3,
EGC. Jakarta
Marilynn E, Doengoes,2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC,2000.
PERDOSSI. Pedoman penatalaksanaan stroke. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia (PERDOSSI), 2007
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & suddarth, Buku ajar keperawatan medical bedah, Jakarta.
EGC, 2002.
Wilson, Lorraine M., Sylvia A. Price. 2005. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta
: EGC