Anda di halaman 1dari 26

NASKAH AKADEMIS

PENDIRIAN PERUSAHAAN DAERAH (PD)


BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)
SERUYAN MANDIRI

DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI DAN UMKM


KABUPATEN SERUYAN
TAHUN 2015
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|0

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Peranan usaha kecil di Indonesia memang diakui sangat penting dalam
perekonomian nasional,

terutama

dalam

aspek-aspek,

seperti

peningkatan

kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan


peningkatan ekspor non migas. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang
telah terbukti bisa bertahan melewati krisis ekonomi yang melanda dan tetap eksis
hingga sekarang dibanding dengan usaha besar yang banyak ditutup.
juga

UMKM

menjadi bentuk yang paling sering ditemui di dunia usaha Indonesia dan

jumlahnya

mencapai

99%.

Usaha mikro, kecil dan menengah sendiri pada

umumnya bergerak pada sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor perdagangan,


sektor perdagangan, sektor pertambangan, pengolahan, sektor jasa, dan lainnya..
Kontribusi UMKM pun saat ini semakin lama semakin besar. Mengenai hal
ini, Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) dalam program kerjanyapun (2010) menyatakan bahwa negara lain mulai melirik kembali keberadaan
UMKM di Indonesia, karena melihat dari potensi dan segmen market yang
cukup luas ada di negara ini dan Pemerintah dewasa ini cenderung untuk
meningkatkan dan menggalakkan sektor ekonomi rakyat atau UMKM untuk
memperkuat fondasi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagaimana yang tertuang dalam
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan cetak biru pengembangan BPR,
diharapkan ikut berperan serta dalam mendorong pembangunan sektor Usaha Mikro
Kecil dan Menengah dengan memberikan akses finansial kepada para pelaku
UMKM. Peran BPR juga semakin penting sejalan dengan program pemerintah
untuk mendukung dan mengembangkan UMKM sebagai salah satu tulang
punggung perekonomian. Mengingat mayoritas bentuk usaha yang ada di
wilayah Indonesia masih diwarnai dengan usaha kecil dan menengah maka
Bank Perkreditan

Rakyat (BPR)

perlu didirikan dengan fokus melayani dan

mengembangkan usaha kecil menengah dengan sasaran untuk peningkatan daya


saing usaha mikro, kecil dan menengah.

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|1

B.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada Latar Belakang maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut :
1.

Sejauh manakah tingkat kebutuhan Kabupaten Seruyan untuk membentuk


Perusahaan Daerah (PD) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ?

2.

Apakah PD BPR perlu dibentuk dengan Peraturan Daerah?

3.

Apakah yang menjadi dasar pertimbangan pembentukan Peraturan Daerah


tentang Pembentukan PD BPR ?

4.
C.

Apakah sasaran utama pembentukan PD BPR ?

Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik


Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di
atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik adalah sebagai berikut :
1.

Merumuskan tingkat kebutuhan Kabupaten Seruyan untuk membentuk PD

2.

BPR
Merumuskan dasar hukum pembentukan peraturan tentang Pembentukan PD

3.
4.

BPR di Kabupaten Seruyan.


Merumuskan sasaran utama pembentukan PD BPR.
Sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan

Rancangan

Peraturan Daerah Pembentukan PD BPR.


D.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik ini adalah
metode yuridis normatif dilakukan melalui studi pustaka yang menelaah data
sekunder, baik yang berupa perundang-undangan, hasil pengkajian dan referensi
lainnya.

BAB II

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|2

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

A.

KAJIAN TEORITIS
Landasan Hukum BPR adalah UU No.7/1992 tentang Perbankan sebagaimana
telah diubah dengan UU No.10/1998. Dalam UU tersebut secara tegas disebutkan
bahwa BPR sebagai satu jenis bank yang kegiatan usahanya terutama ditujukan untuk
melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan. Dalam pelaksanaan
kegiatan usahanya BPR dapat menjalankan usahanya secara konvensional atau
berdasarkan Prinsip Syariah.
Kegiatan usaha yang diperkenankan dilakukan oleh BPR sangat terbatas
dibandingkan dengan Bank Umum, yaitu hanya meliputi penghimpunan dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan dan/atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, memberikan kredit serta menempatkan
dana dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat
deposito dan/ atau tabungan pada bank lain. BPR tidak diperkenankan menerima
simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran serta melakukan
kegiatan usaha selain yang diperkenankan.
Selain itu, BPR tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha dalam valuta
asing kecuali sebagai pedagang valuta asing (dengan izin Bank Indonesia),
melakukan penyertaan modal, dan melakukan usaha perasuransian. Adapun wilayah
kantor operasionalnya dibatasi dalam 1 (satu) propinsi. Dalam rangka memperkuat
fundamental industri perbankan serta memberikan arah dan strategi perbankan ke
depan telah disusun Arsitektur Perbankan Indonesia (API). API merupakan suatu
kerangka dasar sistem perbankan di Indonesia yang bersifat menyeluruh dan
memberikan arah, bentuk, dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu
sampai sepuluh tahun berlandaskan visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat,
kuat, dan efisien, guna menciptakan kestabilan system keuangan dalam rangka
membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk mencapai visi tersebut, salah satu sasaran yang ingin dicapai yaitu
menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat dan mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat serta mendorong pembangunan ekonomi nasional yang
berkesinambungan. Melalui kebijakan tersebut diharapkan dapat tercapai struktur
perbankan yang terdiri dari empat strata bank yaitu :
1. Bank internasional yang memiliki kapasitas dan kemampuan beroperasi di

wilayah internasional serta memiliki modal diatas Rp 50 triliun;

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|3

2. Bank nasional yang memiliki cakupan usaha sangat luas dan beroperasi secara

nasional serta memiliki modal antara Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun;
3. Bank dengan fokus usaha tertentu yaitu bank yang kegiatan usahanya terfokus

pada segmen usaha tertentu sesuai dengan kapabilitas dan kompetensi masingmasing bank serta memiliki modal antara Rp100 miliar sampai dengan Rp10
triliun; serta
4. BPR dan bank dengan kegiatan usaha terbatas yang memiliki modal di bawah

Rp100 miliar.
Dalam rangka mencapai visi tersebut di atas, program-program API telah
memberikan perhatian pada perlunya penguatan permodalan, kelembagaan dan
manajemen BPR, serta penyempurnaan pengaturan dan pengawasan BPR. Disadari
bahwa selama ini sebagian besar pengusaha mikro dan kecil, serta masyarakat di
daerah pedesaan belum mendapatkan pelayanan jasa keuangan perbankan baik dari
aspek pembiayaan maupun penyimpanan dana. Adapun lembaga keuangan yang tepat
dan strategis untuk melayani kebutuhan masyarakat tersebut adalah BPR dengan
pertimbangan:

BPR merupakan lembaga intermediasi sesuai dengan UU Perbankan.


BPR merupakan lembaga keuangan yang diatur dan diawasi secara ketat oleh
Bank Indonesia.

Adanya penjaminan oleh LPS atas dana masyarakat yang disimpan di BPR.
BPR berlokasi di sekitar UMK dan masyarakat pedesaan, serta memfokuskan
pelayanannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut.

BPR memiliki karakteristik operasional yang spesifik yang memungkinkan


BPR dapat menjangkau dan melayani UMK dan masyarakat pedesaan.

Posisi BPR yang strategis tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar
keberadaan BPR memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan
mendorong perekonomian daerah.
B.

PRAKTEK EMPIRIS

1. Tujuan
Pembentukan PD BPR di Kabupaten Seruyan adalah :
1.

Diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasa pelayanan perbankan bagi

2.

masyarakat pedesaan
Menunjang pertumbuhan dan modernisasi ekonomi pedesaan sehingga
para petani, nelayan dan para pedagang kecil di desa dapat terhindar dari
lintah darat, pengijon dan pelepas uang

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|4

3.

Melayani kebutuhan modal dengan prosedur pemberian kredit

yang

mudah dan sesederhana mungkin sebab yang dilayani adalah orang-orang


4.

relatif rendah pendidikannya


Ikut serta memobilisasi modal untuk keperluan pembangunan dan turut
membantu rakyat dalam berhemat dan menabung dengan menyediakan
tempat yang dekat, aman, dan mudah untuk menyimpan uang bagi
penabung kecil

2. Karakter Perusahaan Daerah


PD BPR Seruyan Mandiri merupakan salah satu alat kelengkapan otonomi
daerah di bidang keuangan/perbankan dan menjalankan usahanya sebagai Bank
Perkreditan Rakyat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Bentuk Hukum BPR
Dengan pertimbangan tujuan dan karakter BPR tersebut diatas, maka bentuk
badan hukum dari BPR di Kabupaten Seruyan adalah Perusahaan Daerah yang
mengacu kepada UU No. 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah dan Peraturan
Bank Indonesia Nomor 8/26/PBI2006 tentang Bank Perkreditan Rakyat.

4. Bidang Usaha
Kegiatan usaha yang diperkenankan bagi PD BPR di Kabupaten Seruyan
secara umum adalah sebagai berikut :
1.

Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito

2.
3.
4.

berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu
Memberikan kredit
Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah
Menempatkan dananya dalam bentuk SBI, deposito berjangka, sertifikat
deposito, dan atau tabungan pada bentuk lain
Menurut Undang-Undang Perbankan No.7 tahun 1992 sebagaimana yang

telah direvisi terakhir kali menjadi Undang-Undang no 10 Tahun 1998, kegiatan


atau usaha yang dilarang bagi BPR adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran
Melakukan kegiatan usaha dalam bentuk valuta asing
Melakukan usaha perasuransian
Melakukan penyertaan modal
Melakukan usaha lain di luar kegiatan yang ditetapkan di atas.

5. MANAJEMEN PD BPR
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|5

Manajemen PD BPR di Kabupaten Seruyan akan terdiri dari dua yaitu :


1. Manajemen Umum
Diarahkan untuk melihat kualitas manajemen organisasi suatu bank yang
meliputi :
a. Strategi/sasaran
Kebijaksanaan umum yang tercermin dalam rencana kerja satu tahun
dan strategi pencapaiannya. Rencana tersebut
kondisi ekonomi suatu daerah dimana bank

harus mencerminkan
berlokasi, sasaran dan

strategi untuk merealisasikan kelancaran pelaksanaan tugas.


b. Struktur
Pembagian fungsi dan tugas yang mencerminkan seluruh kegiatan BPR.
Termasuk dalam unsur ini adalah batas tugas dan wewenang yang
menjamin kelancaran pelaksanaan tugas.
c. Sistem
Keseluruhan sistem operasional yang digunakan dalam pelaksanaan tugas
masing- masing satuan kerja operasional seperti sistem akuntansi, sistem
penghimpunan dan penanaman dana, serta sistem pengamanan terhadap
dokumen-dokumen penting maupun sistem pengawasan yang berkaitan.
d. Kepemimpinan
Gaya dan semangat kepemimpinan yang dominan dalam pengelolaan BPR.
Termasuk didalamnya adalah kemampuan manajerial direksi dalam
mengelola sumber daya (human, capital, technology) yang dimiliki oleh
BPR.
2. Manajemen Resiko
Diarahkan untuk meminimumkan resiko yang dihadapi oleh BPR dengan
memperhatikan prinsip kehati-hatian yang meliputi :
a. Resiko Likuiditas
Meliputi

penilaian

terhadap

kemampuan

manajemen

dalam

mengendalikan resiko yang dihadapi BPR dalam menyediakan alat-alat


likuid untuk dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya serta kemampuan
memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan.
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|6

b. Resiko Kredit
Meliputi

penilaian

terhadap

kemampuan

manajemen

dalam

mengendalikan resiko keuangan yang mungkin timbul karena debitur


cidera janji atau gagal memenuhi kewajibannya kepada BPR.
c. Resiko Operasional
Meliputi

penilaian

terhadap

kemampuan

manajemen

dalam

mengendalikan resiko yang timbul akibat BPR tidak konsisten mengikuti


aturan-aturan yang berlaku.
d. Resiko Hukum
Meliputi

penilaian

terhadap

kemampuan

manajemen

dalam

mengendalikan resiko yang timbul akibat BPR kurang memperhatikan


persyaratan-persyaratan hukum yang memadai dalam penyelenggaraan
kegiatan BPR.
e. Resiko Pemilik dan Pengurus
Meliput i

penilaian

terhadap

kemampuan

manajemen

dalam

mengendalikan resiko yang timbul bagi BPR karena sikap, karakter atau
pandangan pemilik pengurus yang selalu berupaya mencari peluang untuk
memanfaatkan BPR untuk kepentingan pribadi.
6. Pembiayaan
Sebagai awalnya pembiayaan PD BPR Kabupaten Seruyan akan bersumber
dari Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Kabupaten Seruyan dimana besarannya
sendiri diatur dalam berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor
20/POJK.03/2014 mulai 1 Januari 2015 mengenai penyertaan modal pada BPR,
sebagaimana berikut :
a.

Rp 14.000.000.000,00 (empat belas miliar rupiah) bagi BPR yang didirikan di


(Zona 1) wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta;

b.

Rp 8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah) bagi BPR yang didirikan di (Zona


2) ibukota provinsi di pulau Jawa dan Bali dan di wilayah Kabupaten atau Kota
Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi;

c.

Rp 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah) bagi BPR yang didirikan di (Zona 3)


ibukota provinsi di luar pulau Jawa dan Bali dan di wilayah pulau Jawa dan
Bali di luar wilayah sebagaimana disebut dalam huruf a dan huruf b;

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|7

d.

Rp 4.000.000.000,00 (Empat miliar rupiah) bagi BPR yang didirikan di (Zona


4) wilayah lain di luar wilayah sebagaimana disebut dalam huruf a, huruf b
dan huruf c.
Modal disetor bagi BPR yang berbentuk hukum Koperasi adalah simpanan
pokok, simpanan wajib, dan hibah sebagaimana diatur dalam Undang
Undang tentang Perkoperasian.
Paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari modal disetor BPR wajib
digunakan untuk modal kerja.

7. Sumber Daya Manusia


Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menghasilkan struktur
manajemen yang baik adalah melalui proses seleksi manajemen, terhadap pemilik
dan pengurus (direksi dan komisaris) pada semua bank yang dilakukan melalui Fit
and Proper Test. Hal tersebut dianggap perlu oleh berbagai pihak karena banyak
kalangan menilai bahwa kemampuan manusia menjadi faktor utama dalam
menjalankan prinsip kehati-hatian, yang pada akhirnya akan menentukan
keberhasilan suatu Bank.
Oleh karena itu, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang memiliki fungsi
pokok menjaga kestabilan moneter, keamanan sistem pembayaran nasional, dan
pengaturan serta pengawasan Bank merasa perlu untuk mengeluarkan peraturan
kebijakan tentang penilaian kemampuan dan kepatutan (Fit and Proper Test).
Dikeluarkannya peraturan kebijakan oleh Bank Indonesia mengenai Fit and Proper
Test ini juga didasarkan pada hasil pengamatan bahwa sebagian besar penutupan
bank yang terjadi pada masa krisis karena adanya kesalahan dalam pengelolaan,
baik yang bersifat kelemahan maupun penyimpangan biasa. Hal ini sebagai akibat
tidak diterapkannya suatu tata kelola perusahaan yang baik atau dengan istilah
"Good Corporate Governance", selanjutnya disebut GCG, yang mengakibatkan
banyak terjadi praktik-praktik menyimpang pada bank dalam menjalankan
usahanya karena tidak ditangani oleh pengelola yang mampu dan patut dalam
praktrek usaha.
Pihak-pihak yang wajib mengikuti Fit and Proper Test disebutkan dalam
Pasal 4 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/9/PBI/2012, yaitu:
a.

calon

PSP (Pemegang Saham Pengendali,

calon

anggota

Dewan

Komisaris, dan calon anggota Direksi;


b.

PSP, anggota

Dewan Komisaris, anggota

Direksi, dan

Pejabat

Eksekutif;

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|8

c.

Pihak-pihak yang sudah tidak menjadi atau sudah tidak menjabat sebagai
pihak sebagaimana dimaksud pada huruf

b, namun yang bersangkutan

diindikasikan terlibat atau bertanggung jawab terhadap perbuatan atau


tindakan yang sedang dalam proses uji kemampuan dan kepatutan pada BPR
Ruang lingkup dari Fit and Proper Test meliputi faktor integritas dan faktor
kompetensi seorang pemegang saham pengendali, pengurus, dan pejabat eksekutif.
Penilaian faktor integritas dilakukan untuk memastikan bahwa pemegang saham
pengendali, pengurus dan pejabat eksekutif tidak melakukan tindakan-tindakan
yang meliputi :
a. Rekayasa dan praktik-praktik yang menyimpang dari ketentuan perbankan.
b. Perbuatan yang dapat dikategorikan tidak memenuhi komitmen yang telah
disepakati dengan Bank Indonesia dan atau pemerintah.
c. Perbuatan yang dapat dikategorikan memberikan keuntungan kepada pribadi
pemilik, pengurus, pegawai, dan atau pihak lainnya yang dapat merugikan dan
atau mengurangi keuntungan Bank.
d. Perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap ketentuan
yang berkaitan dengan prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.
e. Perbuatan dari pengurus dan pejabat eksekutif yang dapat dikategorikan tidak
independen.
Penilaian faktor kompetensi dilakukan untuk memastikan bahwa pengurus
dan pejabat eksekutif memiliki :
a. Pengetahuan di bidang perbankan yang memadai;
b. Pengalaman kerja dan keahlian di bidang perbankan dan atau lembaga keuangan
seperti perusahaan asuransi, lembaga pembiayaan, modal ventura dan
perusahaan sekuritas;
c. Kemampuan untuk melakukan pengelolaan strategis seperti kemampuan untuk
menentukan dan melaksanakan misi, tujuan, sasaran dan strategi pengembangan
Bank yang sehat.
8. Action Plan/Rencana Tindak
Adapun tahap pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan secara garis besar
direncanakan sebagai berikut :
No
1

Kegiatan
Penyusunan Raperda

Konsultasi, Pengesahan
Raperda
Konsultasi Perizinan

Waktu
3 bln

Penyelenggara
Disperindagkop UMKM, Tim
Prolegda, DPRD
Disperindagkop UMKM, Tim

1 bulan

Prolegda, Kemendagri,
Kemenkumham

1 bulan

Disperindagkop UMKM, Ass 2,

Tempat
Kuala Pembuang

Palangka Raya,
Jakarta
Palangka Raya

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

|9

BI
4

Lelang Pekerjaan

2 bulan

Disperindagkop UMKM, LPSE.

Kuala Pembuang

Pembuatan Akta Perusahaan

1 bulan

Disperindagkop UMKM, Notaris

Kuala Pembuang

Pengesahan Akta
Perusahaan
Penganggaran Modal
Disetor dan Modal Usaha
Penyusunan Raperda
Penyertaan Modal

1 Minggu

1 tahun

1 bulan

Rekrut, Fit and Proper Test


9

Dewan Komisaris dan

4 bulan

Dewan Direksi
Penyusunan FS, Corporate
10

Plan, Persentasi dan

3 bulan

Pelaporan Hasil FS, CP


11

Pemberkasan Permohonan
Perizinan

3 Hari

Disperindagkop UMKM, Tim


Prolegda, Kemenkumham
DPKAD, Ass 2, Disperindagkop
UMKM
Disperindagkop UMKM, Tim
Prolegda, Ass 2, DPKAD, DPRD
Konsultan, Disperindagkop
UMKM, Ass 2

Jakarta

Kuala Pembuang

Kuala Pembuang

Kuala Pembuang

Konsultan, Disperindagkop

Kuala

UMKM, Ass 2

Pembuang,

Konsultan, Disperindagkop

Kuala

UMKM,

Pembuang,

Pemilik Modal (Bupati) Dewan


12

Penyetoran Modal Disetor

1 Minggu

Komisaris, Dewan Direksi,

Palangka Raya,

Konsultan, Disperindagkop

Jakarta

UMKM, BI.

13

Pengajuan Permohonan
Perizinan

Dewan Komisaris, Dewan


2 bulan

Direksi, Konsultan, Ass 2,


Disperindagkop UMKM, BI.
Dewan Komisaris, Dewan

14

Finalisasi Perizinan

1 Minggu

Direksi, Konsultan, Ass 2,


Disperindagkop UMKM, BI.

Peresmian dan Launching


14

Produc Perusda BPR


Seruyan Mandiri

Palangka Raya,
Jakarta

Palangka Raya,
Jakarta

Pemkab, FKPD, DPRD,


1 Minggu

Konsultan, Disperindagkop

Kuala Pembuang

UMKM, BI, Pelaku Usaha

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 10

BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Menurut Undang-Undang Perbankan No.14 tahun 1967, pengertian bank adalah


lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayaran dan peredaran uang. Selanjutnya berdasarkan penjelasan tentang UndangUndang Perbankan yang baru yaitu Undang-Undang Perbankan No.7 tahun 1992 maka
dilakukan langkah-langkah penyempurna antara perbankan di Indonesia diantaranya
adalah langkah-langkah penyederhanaan jenis bank menjadi bank umum dan bank
perkreditan rakyat (BPR) serta memperluas ruang lingkup dan batas kegiatan yang dapat
diselenggarakannya. Menurut Undang- Undang Perbankan No.7 tahun 1992, bank adalah
badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Sehubungan dengan penyederhanaan jenis bank yang terdapat di Indonesia sesuai
dengan Undang-Undang Perbankan No.7 tahun 1992 yang disempurnakan lagi menjadi
Undang-Undang Perbankan No.10 tahun 1998 maka jenis bank yang terdapat di Indonesia
adalah bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR).

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 11

Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan menyebutkan bahwa :


a)

Perbankan

adalah

segala

sesuatu

yang

menyangkut

tentang

bank,

mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan
kegiatan usahanya.
b)

BPR adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit
atau dalam bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak

yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan

prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
Adapun bentuk-bentuk hukum dari BPR adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan Daerah
b. Koperasi
c. Perseroan Terbatas
d. Bentuk Lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah
Selengkapnya Peraturan Perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan PD
BPR ini adalah sebagai berikut :
1.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan

2.

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790);


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3843) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang
Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999
tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 7,

3.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4357);


Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 118, Tambahan Lembaran

4.

Negara Republik Indonesia Nomor 3504);


Permendagri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat

5.
6.

Milik Pemerintah Daerah;


Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/22/PBI/2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat;
Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/23/PBI/2004 tentang Penilaian Kemampuan dan
Kepatutan (Fit And Proper Test) Bank Perkreditan Rakyat;
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 12

7.

Peraturan Bank Indonesai Nomor 8/18/PBI/2006 tentang Kewajiban Penyediaan

8.

Modal Minimum Bank Perkreditan Rakyat;


Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/20/PBI/2006 tentang Transparansi Kondisi

Keuangan Bank Perkreditan Rakyat;


9. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/26/PBI/2006 tentang Bank Perkreditan Rakyat
10. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 20/POJK.03/2014 tentang Bank Perkreditan
Rakyat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 351, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5629)

BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

A.

LANDASAN FILOSOFIS
Seperti dinyatakan di atas bentuk usaha UMKM mencapai

lebih dari

99,91% jumlah usaha di Indonesia dengan kontribusinya yang semakin membesar


dan UMKM inilah yang menjadi klien bagi BPR. Namun selama ini kontribusi BPR
pada pembangunan masih dianggap beberapa pihak kecil. Dari data BI diketahui
bahwa masih banyak UMKM yang belum tersentuh oleh BPR yaitu sekitar 60%
dari total 51,3 juta unit UMKM belum terhubung pada layanan perbankan. Porsi
kredit UMKM terhadap total kredit perbankan hanya sebesar 21,5% dan
penyebaran BPR pun masih belum merata.
Jumlah BPR yang dibuka pun perlu mendapatkan perhatian
pembangunan mampu

mencapai

pelosok

Indonesia.

jika ingin

Dari jumlah BPR

konvensional saja, saat ini terdapat 1665 BPR konvensional

dimana

10

provinsi yang paling banyak BPR-nya adalah: 331 BPR terdapat di Jawa Timur
(19,88%), 321 di Jawa Barat (19,28%), 263 di Jawa Tengah (15,80%), 137 di Bali
(8,23%), 99 di Sumatera Barat (5,95%), 70 BPR di Banten (4,20%), 54 di
Yogyakarta (3,24%), 53 di Sumatera Utara (3,18%), 39 di Kepulauan Riau
(2,34%), dan 31 di Riau (1,86%) serta sisanya 267 BPR tersebar di 23 provinsi
lainnya (16,04%).

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 13

Memang pembukaan BPR tentunya akan lebih disukai oleh pemodal jika
dilakukan di daerah yang memiliki prospek ekonomi yang lebih baik namun
perlu diperhatikan
terlayani

juga daerah-daerah yang masih terbatas dan kurang

oleh jasa perbankan mengingat tujuan dibukanya BPR adalah untuk

melayani kebutuhan masyarakat terutama masyarakat yang sulit ke Bank Umum.


Sampai saat ini memang terdapat peningkatan berkelanjutan dari kredit yang
diberikan

BPR. Data BI menunjukkan terjadi peningkatan jumah kredit yang

diberikan dari 16.948 Miliar Rupiah di tahun 2006 ke 41.100 Miliar Rupiah pada
Desember 2011. .
BI menyatakan

bahwa upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang

merata, salah satunya dilaksanakan melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil


dan Menengah (UMKM), yang pelaksanaannya mengacu pada ASEAN Policy
Blue

Print

for

SME

pengembangan UMKM

Development (APBSD)

tersebut

perlu

diperhatikan

2004-2014

dan dalam

perlunya akses UMKM

kepada informasi, pasar, pengembangan SDM, keuangan dan teknologi. Perlu


diingat bahwa di Indonesia, UMKM selain merupakan bentuk usaha mayoritas di
Indonesia (99,9%) juga menyerap tenaga kerja yang sangat besar (97,04%) serta
menghasilkan lebih dari separuh PDB Indonesia sehingga di sini peran BPR
sebagai lembaga

yang menyalurkan

kredit investasi dan modal kerja sangat

penting dalam menyokong kekuatan dari UMKM nasional yang adalah sebagai
kekuatan utama Indonesia. Selain itu penyaluran kredit kerja dan modal dapat
meningkatkan kapasitas produksi dan ekonomi dari UMKM bahkan berpengaruh
positif pada inflasi.

BPR

mengembangkan usahanya

juga

dapat

membantu

nasabah dalam

melalui edukasi kepada nasabah sehingga mampu

memanfaatkan setiap peluang yang datang. Oleh karena itu masalah besarnya
UMKM yang tidak terlayani oleh jasa perbankan merupakan masalah kritis yang
perlu diatasi dengan pengembangan BPR dalam menjangkau nasabah yang lebih
luas dengan tingkat kredit pinjaman yang terjangkau.

B.

LANDASAN SOSIOLOGIS
Kabupaten Seruyan merupakan salah satu dari 14 (empat belas)
Kabupaten/Kota yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, dimana
secara geografis posisinya terletak dibagian selatan Pulau Kalimantan. Secara
definitif Kabupaten Seruyan berdiri pada tahun 2002 sebagai bagian dari daerah
pemekaran Kotawaringin Timur. Meskipun usianya yang sangat muda, aktivitas
pemerintahan

dan

perekonomian

berkembang

dengan

pesat.

Dukungan

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 14

perekonomian tersebut ditopang oleh potensi Sumber Daya Alam sehingga mampu
mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kabupaten Seruyan. Kondisi perekonomian di
suatu daerah dapat dilihat dari capaian produk domestik regional bruto (PDRB).
Struktur perekonomian Kabupaten Seruyan didominasi oleh sektor pertanian yang
memberikan kontribusi sebanyak 50,20 persen.
Posisi keuangan daerah Kabupaten Seruyan khususnya Pendapatan Asli
Daerah (PAD) terus mengalami peningkatan, terbukti bahwa Pendapatan Daerah
pada tahun 2012 ke tahun 2013 meningkat sebesar 18 % yaitu dari 17,16 Milyar
menjadi 20,25 Milyar. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan daerah dalam
meningkatkan penerimaan dalam bentuk PAD

terbilang cukup baik, meskipun

besarannya masih sangat rendah. Hal itu merupakan suatu kewajaran bagi
pemerintahan yang baru mengalamai pemekaran, sehingga diperlukan inovasiinovasi untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonominya. Salah satu
langkah untuk menopang pertumbuhan ekonomi dengan membangun sarana dan
prasarana pendukung permodalan masyarakat, seperti Bank Perkreditan Rakyat
(BPR).
Hingga saat ini Kabupaten Seruyan belum memiliki BPR tersendiri, saat ini
baru hanya dalam bentuk pemilikan saham penyertaan pada Bank Kalteng. Salah
satu faktor pendukung bagi berkembangnya kegiatan ekonomi di suatu daerah
sangat tergantung pada keberadaan lembaga Keuangan Bank. Kabupaten Seruyan
saat ini baru beroperasi sebanyak 4 unit (empat) Bank umum
Di beberapa daerah yang telah memiliki BUMD, khususnya sektor
perbankan yang memadai telah mampu mendongkrak pendapatan daerah dan
pendapatan masyarakat ditambah lagi dari multiplier effect yang ditimbulkan dari
keberadaan lembaga keuangan tersebut. Saat ini di Kabupaten Seruyan masih
banyak terdapat daerah-daerah yang belum terjangkau oleh pelayanan Bank Umum
sehingga masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut sangat kesulitan
melakukan transaksi keuangan antar daerah atau mendapatkan pelayanan-pelayanan
keuangan lainnya dan akhirnya harus mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar
untuk biaya tranportasi ke daerah-daerah yang terdapat bank-bank umum hanya
sekedar untuk mendapatkan pelayanan dari bank.
Hal ini jugalah yang menyebabkan masyarakat di pedesaan masih sangat
enggan memanfaatkan berbagai pelayanan bank yang sebenarnya sangat mudah dan
menguntungkan sehingga seringkali memanfaatkan jasa para rentenir yang justru
merugikan. Dengan dibentuknya BPR di Kabupaten Seruyan nantinya akan sangat
membantu bagi masyarakat yang selama ini bertempat tinggal didaerah-daerah

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 15

pedesaan atau pedalaman untuk mendapat pelayanan bank yang pada akhirnya
menggerakkan perekonomian masyarakat pedesaan dan meningkatkan taraf hidup
masyarakat secara keseluruhan.
Dengan demikian, pendirian BPR di Kabupaten Seruyan memang sudah
seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Hal tersebut selaras dengan
amanah otonomi daerah yang dituangkan dalam UU No. 34 tahun 2004 dan UU No
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Daerah dan Pusat.

C.

LANDASAN YURIDIS
1.

Bentuk Dan Badan Hukum


Perusahaan Daerah dapat mendirikan bank yang berbentuk Bank Umum,

maupun yang berbentuk Bank Perkreditan Rakyat. Pada masa berlaku UU


Perbankan Tahun 1967, banyak bank milik Pemerintah Daerah (Pemda) hanya
didirikan dengan Peraturan Daerah atas kuasa Undang-Undang No. 13 Tahun 1962,
sebagai alat kelengkapan otonomi daerah, yaitu untuk mengembangkan
perekonomian daerah, sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dan sebagai
sumber kas Pemerintah Daerah. Setelah UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 berlaku
maka bentuk hukum Bank Perkreditan Rakyat tersebut harus menyesuaikan diri
dengan ketentuan bentuk hukum yang berlaku dalam UU Perbankan No. 10 Tahun
1998.
Masa transisi guna penyesuaian bentuk hukum seperti yang dikehendaki
oleh UU Perbankan No. 10 Tahun 1998, maka bentuk hukum yang sesuai dan tepat
bagi Bank Perkreditan rakyat, adalah menjadi perusahaan daerah. Sesuai dengan
tugas penyesuaian bentuk hukum tersebut maka dikeluarkan suatu landasan
hukumnya, yaitu Permendagri No. 22 Tahun 2006. Ketentuan Pasal 4 Permendagri
No. 22 Tahun 2006 menyebutkan bahwa pendirian Bank Perkreditan Rakyat harus
ditetapkan melalui peraturan daerah dengan mengacu kepada ketentuan UU No. 5
Th. 1962 tentang Perusahaan Daerah.

2.

Pengaturan PD BPR
Landasan Hukum BPR adalah UU No.7/1992 tentang Perbankan sebagai-

mana telah diubah dengan UU No.10/1998. Dalam UU tersebut secara tegas


disebutkan bahwa BPR sebagai satu jenis bank yang kegiatan usahanya terutama
ditujukan untuk melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan.

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 16

Dalam pelaksanaan kegiatan usahanya BPR dapat menjalankan usahanya secara


konvensional atau berdasarkan prinsip Syariah.
Kegiatan usaha yang diperkenankan dilakukan oleh BPR sangat terbatas
dibandingkan dengan Bank Umum, yaitu hanya meliputi penghimpunan dana dari
masya- rakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan dan/atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu, memberikan kredit serta
menempatkan dana dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito
berjangka, sertifikat deposito dan/ atau tabungan pada bank lain.
BPR tidak diperkenankan menerima simpanan berupa giro dan ikut serta
dalam lalu lintas pembayaran serta melakukan ke- giatan usaha selain yang
diperkenankan. Selain itu, BPR tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha
dalam valuta asing kecuali sebagai pedagang valuta asing (dengan izin Bank
Indonesia), melakukan penyertaan modal, dan melakukan usaha perasuransian.
Adapun wilayah kantor operasionalnya dibatasi dalam 1 (satu) propinsi.
3.

Kepemilikan PD BPR
Kepemilikan suatu usaha atau badan usaha dapat dilihat dari struktur modal

perusahan atau badan usaha itu sendiri, menurut ketentuan Pasal 7 Undang-undang
Nomor 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, modal Perusahaan Daerah terdiri
untuk seluruhnya atau untuk sebagian dari kekayaan daerah yang dipisahkan,
kemudian pada ayat (2) Undang-undang tersebut ditegaskan jika modal Perusahan
Daerah seluruhnya berasal dari kekayaan yang dipisahkan dari satu daerah maka
modal tidak perlu terdiri dari atas saham-saham, namun jika modal tersebut berasal
dari kekayaan lebih dari satu daerah maka modal Perusahaan Daerah harus terdiri
dari saham-saham. PD BPR ini nantinya hanya akan dimilki oleh pemerintah
daerah dalam hal ini Kabupaten Seruyan melalui penyertaan modal sehingga
seluruh saham dimiliki oleh akan daerah dan Bupati Seruyan berlaku sebagai
pemilik saham tunggal PD BPR.

4.

Peluang Pendirian BPR


Perkembangan industri BPR yang pesat selama ini menunjukkan bahwa

BPR merupakan salah satu pilar penting dalam sistem keuangan mikro di
Indonesia. Meskipun demikian, masih banyak UMK dan masyarakat pedesaan yang
belum dapat dilayani oleh BPR. Disadari bahwa selama ini sebagian besar
pengusaha mikro dan kecil, serta masyarakat di daerah pedesaan belum
mendapatkan pelayanan jasa keuangan perbankan baik dari aspek pembiayaan

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 17

maupun penyimpanan dana. Adapun lembaga keuangan yang tepat dan strategis
untuk melayani kebutuhan masyarakat tersebut adalah BPR dengan pertimbangan :

BPR merupakan lembaga intermediasi sesuai dengan UU Perbankan.

BPR merupakan lembaga keuangan yang diatur dan diawasi secara ketat
oleh Bank Indonesia.

Adanya penjaminan oleh LPS atas dana masyarakat yang disimpan di


BPR.

BPR berlokasi di sekitar UMKM dan masyarakat pedesaan, serta memfokuskan pelayanannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut.

BPR

memiliki

karakteristik

operasional yang spesifik yang

memungkinkan BPR dapat menjangkau dan melayani UMKM dan


masyarakat pedesaan.
Posisi BPR yang strategis tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan
agar keberadaan BPR memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat
dan mendorong perekonomian daerah. Sejalan dengan perkembangan ekonomi, hal
ini merpakan peluang yang dapat diman- faatkan guna meningkatkan peran BPR
dalam memberkan pelayanan kepada UMK dan masyarakat.

6.
Organ Perusahaan Daerah
Pengurus/Organ PD BPR di Kabupaten, terdiri dari :
a. Bupati selaku pemilik modal;
b. Dewan Komisaris;
c. Direksi.
Bupati dalam hal ini bertindak selaku RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) yang
berkedudukan sebagai pemilik saham tunggal PD BPR di Kabupaten Seruyan.

a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)


Sebagaimana perusahaan pada umunya, BPR yang berbentuk Perusahaan
Daerah juga memiliki organ Rapat Pemegang Saham, namun Undang-undang
Nomor 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah tidak memberikan rincian yang
jelas tentang peran dan fungsi organ tersebut. Organ ini memiliki wewenang yang
tidak dimiliki oleh organ lain yaitu Direksi dan Dewan Komisaris.
Pada sebuah PD BPR dimana Bupati Seruyan selaku Pemilik Saham
Tunggal, RUPS berkedudukan sebagai pengambil keputusan akhir dalam perjalanan
roda perusahaan, lain halnya apabila PD BPR dimiliki oleh beberapa pihak

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 18

sehingga segala keputusan akhir harus dicapai lewat permusyawaratan mufakat


diantara para pemegang saham. Manakala tidak tercapai permufakatan atas suatu
hal yang akan diputuskan maka Kepala Daerah memiliki kewenangan untuk
memutus masalah tersebut dengan tetap memperhatikan pendapat pendapat yang
berkembang dalam RUPS, hal mana diatur didalam Bab VI tentang Rapat
Pemegang Saham pada Pasal 18 Undang-undang Nomor 5 tahun 1962 tentang
Perusahaan Daerah yang menyatakan :
Pasal 18.
(1) Tata-tertib rapat pemegang saham/saham prioritet dan rapat umum pemegang
saham (prioritet dan biasa) diatur dalam peraturan pendirian Perusahaan
Daerah.
(2) Keputusan dalam rapat pemegang saham/saham prioriteit dan rapat umum
pemegang saham (prioritet dan biasa) diambil dengan kata mufakatan.
(3) Jika kata mufakat termaksud pada Ayat (2) tidak tercapai maka pendapatpendapat yang dikemukakan dalam musyawarah disampaikan kepada Kepala
Daerah dari Daerah yang mendirikan Perusahaan Daerah.
(4) Kepala Daerah termaksud pada Ayat (3) mengambil keputusan dengan
memperhatikan pendapat-pendapat termaksud.

b. Direksi
Pengurusan PD BPR dilakukan oleh suatu Direksi, jumlah anggota serta
susunan Direksi diatur didalam peraturan daerah yang merupakan peraturan
pendiriannya, pengangkatan anggota Direksi pada Perusahaan Daerah dilakukan
oleh Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah dari Daerah yang mendirikan Perusahaan Daerah dimana Direksi yang akan
diangkat harus memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan dan disetujui
oleh Bank Indonesia.
Dalam menjalankan perusahaan, Direksi menentukan kebijaksanaan dalam
memimpin perusahaan, dengan mengurus dan menguasai kekayaan perusahaan.
Untuk pengaturan dan tata tertib serta cara menjalankan pekerjaan tersebut, Direksi
secara otonom diberikan kewenangan untuk mengatur tata tertib dan cara
menjalankan perusahan dalam peraturan yang ditetapkan oleh Direksi sebagaiman
yang diatur didalam Pasal 15 Undang-undang No 5 tahun 1962 tentang Perusahaan
Daerah. Dalam pelaksanannya kewenangan yang dimiliki Direksi tersebut dapat
dibatasi didalam peraturan daerah tentang pendirian perusahaan milik daerah

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 19

tersebut, pembatasan ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan sifat dan corak
perusahaan Daerah masing-masing, maka sewajarnya batas kekuasaan tersebut di
atas ditetapkan dalam peraturan pendirian perusahaan yang bersangkutan.
Untuk menjalankan fungsi pengurusan Direksi bertanggung jawab kepada
Bupati melalui Dewan Komisaris, Peraturan Daerah tentang PD BPR mengatur
Direksi antara lain (sebagai contoh) :
1.

Direksi menjalankan pimpinan Perusahaan Daerah sehari-hari berdasarkan


kebijaksanaan yang digariskan oleh Bupati dan atau Dewan Pengawas (melalui
Corporate Plan) dengan mengikuti peraturan tata tertib serta tata kerja yang
sudah ditetapkan serta memperhatikan ketentuan yang sudah ditetapkan serta

2.

memperhatikan ketentuan peraturan perUndang-undangan yang berlaku.


Direksi mengangkat dan memberhentikan pimpinan unit, pegawai perusahaan

3.

berdasarkan ketentuan-ketentuan pokok perusahan


Direksi mewakili perusahan didalam maupun diluar pengadilan dan dapat
menyerahkan kekuasan mewakili tersebut kepada seorang anggota Direksi atau
kepada seseorang atau beberapa orang pegawai perusahaan yang khusus

4.

ditunjuk untuk itu ataupun kepada orang atau badan diluar perusahan tersebut.
Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku
berakhir, Direksi harus menyampaikan rencana anggaran perusahaan kepada
Direksi untuk disahkan, pengesahannya yang dilakukan oleh Bupati diambil
setelah mendengar pertimbangan Badan Pengawas atas usulan rencana
anggaran tersebut.

c. Dewan Komisaris
Sebagaimana lazim berlaku di dalam tiap-tiap PD BPR dimana tugas yang
dipercayakan kepada Direksi dalam mengurus dan menguasai perusahaan perlu
diadakan pengawasan (umum) apakah benar-benar sesuai dengan garis-garis
kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh para pemilik/pemegang saham.
Undang-undang Nomor 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah mengatur
tentang pengawasan Perusahaan Daerah, Pasal 19 menyatakan bahwa Direksi
dalam menjalankan pengurusannya terhadap perusahaan berada di bawah
pengawasan Kepala Daerah melalui Dewan Komisaris bagi perusahaan daerah yang
seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemda. Tugas pengawasan diserahkan Dewan
Komisaris merupakan yang sifatnya berupa pengawasan kedalam tanpa mengurangi
kewenangan pengawasan dari instansi pengawasan di luar PD BPR Seruyan
Mandiri seperti oleh Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan lain sebagainya.

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 20

Proses pengangkatan Dewan Komisaris, diatur didalam peraturan daerah


yang merupakan peraturan pendiriannya, pengangkatan anggota Dewan Komisaris
pada PD BPR dilakukan oleh Kepala Daerah setelah mendengar pertimbangan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari Daerah yang mendirikan Perusahaan
Daerah dimana anggota komisaris yang akan diangkat harus memenuhi segala
persyaratan yang telah ditentukan dan disetujui oleh Bank Indonesia.

BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP
MATERI PERATURAN DAERAH

Peraturan Daerah tentang Pembentukan PD BPR Seruyan Mandiri Kabupaten


Seruyan ditujukan untuk memberikan landasan terhadap pembentukan dan aspek-aspek
lain yang terkait dalam memenuhi kelengkapan perusahaan daerah ini nantinya. Adapun
biaya yang diakibatkan dari pembentukan PD BPR berasal Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Kabupaten Seruyan Tahun Anggaran 2015 dan seterusnya.
A. Rumusan akademik mengenai pengertian istilah, dan frasa :
1.
2.

Daerah adalah Kabupaten Seruyan;


Pemerintahan Daerah adalah Penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas Otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip

otonomi

seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara

Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang


Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3.

Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur


penyelenggara Pemerintahan Daerah;

4.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD, adalah


Lembaga

Perwakilan

Rakyat

Daerah

sebagai

unsur

penyelenggaraan

pemerintahan daerah;
5.

Peraturan Daerah selanjutnya disebut Perda adalah Peraturan Daerah

6.

Kabupaten Seruyan;
Daerah Otonom, selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 21

prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan


Republik Indonesia;
7.

Kepala Daerah adalah Bupati Seruyan;

8.
9.

Wakil Kepala Daerah adalah Wakil Bupati Seruyan;


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat

APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Seruyan.


10. Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Seruyan Mandiri yang selanjutnya
disingkat PD BPR Seruyan Mandiri adalah Bank Perkreditan Rakyat yang
seluruh modalnya dimiliki oleh Daerah melalui pernyertaan secara langsung
yang berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan.
11. Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disingkat RUPS adalah organ
BPR yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi dalam
batas yang ditentukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
12.
13.
14.
15.

dan/atau anggaran dasar.


Pengurus adalah Bupati, Direksi dan Dewan Komisaris.
Dewan Komisaris adalah Dewan Komisaris PD BPR Seruyan Mandiri.
Direksi adalah Direksi PD BPR Seruyan Mandiri.
Pejabat Eksekutif adalah pejabat yang bertanggung jawab langsung kepada
Direksi Bank atau Perusahaan atau mempunyai pengaruh terhadap kebijakan dan

operasional Bank atau Perusahaan.


16. Pegawai adalah pegawai PD BPR Seruyan Mandiri.
17. Satuan Pengawas Intern adalah Satuan Pengawas Intern PD BPR Seruyan
Mandiri.
18. Gaji Pokok adalah Gaji Pokok yang ditentukan dalam daftar skala gaji pegawai
PD BPR Seruyan Mandiri yang ditetapkan oleh Direksi.
B. Materi yang akan diatur dalam Peraturan daerah ini adalah penormaan tentang :
1. Bentuk Dan Badan Hukum
Sebagai salah satu bentuk badan usaha yang ada di wilayah hukum Republik
Indonesia, sudah tentu keberadaan PD BPR memiliki payung hukum atas
keberadaanya. Payung hukum ini menjadi penting mengingat karakteristik PD BPR
tersebut sangatlah berbeda dengan bentuk badan usaha lain terlebih-lebih dari
keikutsertaan Pemda sebagai salah satu pemegang saham.
2. Penyertaan Modal
Penyertaan modal yang dilakukan sampai dengan terpenuhinya modal dasar pada
PD BPR yang besar minumnyanya didasarkan pada Peraturan Otoritas Jasa
Kuangan (OJK) Nomor 20/POJK.03/2014 tentang Bank Perkreditan Rakyat.
3. Pengaturan PD BPR
Batas dan definisi PD BPR dapat dilihat sebagaimana yang tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, Undang-Undang
Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 22

Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Peraturan Bank Indonesia Nomor


8/26/PBI/2006 tentang Bank Perkreditan Rakyat, Peraturan Otoritas Jasa Kuangan
(OJK) Nomor 20/POJK.03/2014 tentang Bank Perkreditan Rakyat dan lain
sebagainya.
4. Tujuan PD BPR
BPR sebagai satu jenis bank yang kegiatan usahanya terutama ditujukan untuk
melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan. Selain itu
keberadaan BPR juga untuk mendorong pertumbuhan perekonomian daerah serta
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang belum terjangkau oleh bank
umum dalam rangka mewujudkan pemerataan pelayanan secara optimal dibidang
perbankan pada bidang jasa pelayanan, menghimpun dana maupun pelayanan kredit
sehingga dapat memberikan kesempatan berusaha dan peningkatan taraf hidup
masyarakat.
5. Tata Kelola PD BPR
Seperangkat aturan yang dijadikan manajemen perusahaan dalam mengelola PD
BPR secara baik, benar dan penuh integritas serta membina hubungan dengan para
stakeholders, guna mewujutkan visi, misi dan sasaran perusahaan yang telah
ditetapkan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang
6. Struktur Organisasi PD BPR.
Sebagaimana perusahaan pada umumnya, BPR yang berbentuk Perusahaan Daerah
juga memiliki struktur kepengurusan dimana susunan pengurusnya didasarkan pada
peraturan perundang-undangan terkait.

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 23

BAB VI
PENUTUP

A.

KESIMPULAN
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagaimana yang tertuang dalam
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan cetak biru pengembangan BPR,
diharapkan ikut berperan serta dalam mendorong pembangunan sektor Usaha Mikro
Kecil dan Menengah dengan memberikan akses finansial kepada para pelaku
UMKM. Peran BPR juga semakin penting sejalan dengan program pemerintah untuk
mendukung dan mengembangkan UMKM sebagai salah satu tulang punggung
perekonomian. Mengingat
Indonesia
Perkreditan

masih

mayoritas

diwarnai

dengan

Rakyat (BPR)

bentuk
usaha

usaha
kecil dan

yang

ada

di wilayah

menengah maka Bank

perlu didirikan dengan fokus melayani dan

mengembangkan usaha kecil menengah dengan sasaran untuk peningkatan daya


saing usaha mikro, kecil dan menengah.. Dengan demikian Pembentukan PD BPR di
Kabupaten Seruyan adalah bertujuan untuk :
1.
Diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasa pelayanan perbankan bagi
2.

masyarakat pedesaan.
Menunjang pertumbuhan dan modernisasi ekonomi pedesaan sehingga
para petani, nelayan dan para pedagang kecil di desa dapat terhindar dari lintah

3.

darat, pengijon dan pelepas uang.


Melayani kebutuhan modal dengan prosedur pemberian kredit

yang

mudah dan sesederhana mungkin sebab yang dilayani adalah orang-orang


4.

relatif rendah pendidikannya.


Ikut serta memobilisasi modal untuk keperluan pembangunan dan turut
membantu rakyat dalam berhemat dan menabung dengan menyediakan
tempat yang dekat, aman, dan mudah untuk menyimpan uang bagi penabung
kecil.

B.

SARAN
Bahwa berdasarkan uraian pada Naskah Akademik ini perlu disusun materi
penormaan yang lengkap terhadap pembentukan PD BPR agar tujuan untuk
menjadikan Peraturan Daerah ini sebagai landasan hukumya dapat tercapai. Bahwa
dengan disusunnya Naskah akademik ini, maka Rancangan Peraturan Daerah
Pembentukan PD BPR perlu menjadi prioritas penyusunan Rancangan Peraturan
Daerah dalam Program Legislasi Daerah Kabupaten Seruyan Tahun 2014.

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 24

LAMPIRAN

DRAFT RANCANGAN PERATURAN DAERAH (RAPERDA)


PENDIRIAN PERUSAHAAN DAERAH (PD)
BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)
SERUYAN MANDIRI

Naskah Akademis Pendirian PD BPR Kabupaten Seruyan

| 25