Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH MODEL MODEL KONSELING 1 EKSISTENSIAL

HUMANISTIK
DISUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA KULIAH

MODEL MODEL KONSELING 1


Dosen Pembimbing: Pramana Adi Wiguna, M.Pd

DISUSUN OLEH :
1. Andi Aprilla
2. Nugroho Yulian Parandika
3. Devi Novianti

(1114500067)
(1114500053)
(1114500039)

PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Usaha yang di lakukan manusia dalam membantu masalah manusia tidak mungkin
tanpa mengenal dengan baik tentang manusia itu sendiri.Unik dan rumitnya perilahal manusia
sebagai makhluk individu, telah melahirkan bermacam-macam konsep dan pandangan. Toeri
humanistik di kembangkan oleh Maslow tahun 1908-1970 di Amerika serkat.
Dasar falsafahnya Phenomenology yang menganggap bahwa manusia pada dasarnya
baik dan layak di hormati dan mereka akan bergerak ke arah realisasi potensi-potensi mereka,
manakala kondisi lingkungannya memberikan kemungkinan. Psikoterapai Humanistik
membicarakan kepribadian manusia di tinjau dari segi self dasi akunya.Konnsep utama yang
anut adalah usaha untuk mengerti manusia sebagai mana adanya, mengetahui mereka dari
realitasnya, melihat dunia sebagai mana mereka melihatnya, memahami mereka bergerak dan
mempunyai keberadaan yang unik, kongkrit dan berbeda dari teori yang abstrak.Teori
humanistik di katakan demikian, karena menekankan kemampuan-kemampuan yang khas
manusiawi.Manusia mempunyai kemampuan untuk refleksi diri, kemampuan aktualisasi
potensi-potensi kreatif dan juga ke khususan manusia, yaitu menentukan bagi dirinya sendiri
secara aktif.
B. Rumusan masalah
1. Konsep dasar / landasan historis
2. Hakekata manusia
3. Hakekat konseling
4. Tujuan konseling
5. Karakteristik konseling
6. Peran dan fungsi konselor
7. Hubungan konselor dengan klien
8. Tahap konseling
9. Teknik konseling
10. Kelebihan dan keterbatasan
11. Asumsi Perilaku bermasalah dalam konseling eksistensial Humanistik
12. Contoh Kasus penerapan Eksistensial Humanistik

BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep Dasar
2

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada
tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada
abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow,
Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya
mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri),
aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Abraham Maslow Yang terkenal dengan teori aktualisasi diri di lahirkan di New York
pada tahun 1908. Ia meninggal di Calivornia pada tahun1907. Maslow seorang anak yang
pandai mejalani hubungan yang baik dengan ibunya yang otoriter yang sering kali melakukan
tindakan aneh. Ia menggambarkan dirinya pada masa kecil sebagai seorang yang pemalu,kutu
buku dan neurotic. Tetapi ,maslow tidak selamanya menjadi neurotic dan benci pada dirinya
sendiri. Ia sepenuhnya menyadari potensinya ,dan menjadi psikilog humanisme terkenal yang
mengispirasi banyak perubahan masyarakat kearah yang positif.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan
tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi
dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan
menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan
pemaknaan.
Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan
psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah
membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan
salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang terpenting dalam
melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi
perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada ketidaknormalan atau sakit.
Pendekatan ini melihat kejadian bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan
hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia
dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada
pembangunan kemampuan positif ini.
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini
terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih alih
suatu system teknik teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi
eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang
mencakup terapi terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep konsep dan
asumsi asumsi tentang manusia.
3

Teori dan Pendekatan Konseling Eksistensial-humanistik berfokus pada diri


manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman
atas manusia. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari
kebebasan

dan

bahwa

Eksisteneial-Humanistik

kebebasan

dan

dalam konseling

tanggung
menggunakan

jawab berkaitan. Pendekatan


sistem

tehnik-tehnik

yang

bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan


merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi
yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi
tentang manusia.
Pendekatan ini Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan
untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan
tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam
dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain
keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri. Pendekatan ini
memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikologi, yakni tentang penekanannya
terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain dalam proses teurapeutik.
Terapi eksistensial-humanistik menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan
menekankan

kesadaran

diri

sebelum

bertindak.Kesadaran

diri

berkembang

sejak

bayi.Perkembangan kepribadian yang normal berlandaskan keunikan masing-masing


individu. Berfokus pada saat sekarang dan akan menjadi apa seseorang itu, yang berarti
memiliki orientasi ke masa depan. Maka dari itu, akan lebih meningkatkan kebebasan
konseling dalam mengambil keputusan serta bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang
di ambilnya.
Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan
eksistensial yaitu :
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan
yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan
yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative alternatif yakni
memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial
pada manusia.
2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan

Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang
menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh
kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.
Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab
kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang
terbatas untuk mengaktualkan potensi potensinya.
3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup
dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya
manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang
bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan
yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian. Manusia juga
berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi potensi manusiawinya
sampai taraf tertentu.
Konsep dasar menurut Akhmad Sudrajat adalah :
1) Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan
yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang
bertanggung jawab atas segala tindakannya.
2) Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia
mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri.
3) Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan
fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
Menurut Akhmad Sudrajat individu yang salah suai tidak dapat mengembangkan
potensinya. Dengan kata lain, pengalamannya tertekan.

2. Hakekat Manusia
Gerakan eksistensial berarti rasa hormat pada seseorang, menggali aspek baru dari
perilaku manusia dan metode memahami manusia yang beraneka ragam. Falsafah eksistensial
memberikan landasan bagi pendekatan terapeutik yang memfokuskan pada individu-individu
yang terpecah serta bersikap asing antara satu dengan yang lain yang tidak melihat adanya
makna dalam lingkungan keluarga serta system sosial yang ada pada waktu itu. Falsafah itu
5

timbul dari keinginan untuk menolong orang dalam mengarahkan perhatian pada tema dalam
hidup. Yang diperhatikan adalah orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hal
mendapatkan makna dari tujuan hidup dan dalam hal mempertahankan identitas dirinya
(Holt, 1986).
Fokus yang sekarang menjadi arah pendekatan eksistensial adalah rasa kesendirian di
dunia dan usaha menghadapi kecemasan akan isolasi ini. Daripada berusaha untuk
mengembangkan aturan-aturan bagi terapi, maka sebagai gantinya para praktisi eksistensial
berusaha keras untuk memahami pengalaman manusia yang dalam ini. (May & Yalom, 1989).
Pandangan eksistensial akan sifat manusia ini sebagian dikontrol oleh pendapat bahwa
signifikansi dari keberadaan kita ini tak pernah tetap, melainkan kita secara terus menerus
mengubah diri sendiri melalui proyek-proyek kita. Manusia adalah makhluk yang selalu
dalam keadaan transisi, berkembang, membentuk diri dan menjadi sesuatu. Menjadi
seseorang berarti pula bahwa kita menemukan sesuatu dan menjadikan keberadaan kita
sebagai sesuatu yang wajar.
Pandangan manusia menurut teori Humanistik:
1. Filsafat Eksistensialis memandang manusia sebagai indvidu dan merupakan problema yang
unik dari existensi kemanusiaan. Manusia merupakan seorang yang ada, yang sadar dan
waspada akan keberadaanya sendiri. Setiap orang menciptakan tujuannya sendiri dengan
segala kreatifitasnya, menyempurnakan esensidan fakta existensinya.
2. Bahwa manusia sebagai makhluk hidup, menentukan apa yang ia kerjakan dan yang tidak ia
kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Jadi yang pokok adalah apakah
seorang berkeinginan atau tidak sebab filsafat eksistensialis percaya bahwa setiap orang
bertanggung jawab atas segala tindakannya. Dengan kata lain setiap individu merupakan
penentu utama akan tingkah laku dan pengalamannya.
3. Teori humanistik mendsar pendapat bahwa manusia tidak pernah statis , ia selalu menjadi
sesuatu yang berbeda . untuk menjadi sesuatu ini maka manusia harus berani menghancurkan
pola pola lama, berdiri pada kaki sendiri dan mencari jalan, kearah manusia yang baru dan
lebih besar menuju aktualisasi diri.
4. Menekankan pada kesadaran manusia, pengalaman personal yang berhubungan dengan
eksistensi dalam dunia orang lain.
3. Hakekat Konseling
Hakikat konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa
artinya menjadi manusia. Eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas
dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Yang
paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan
6

klien.Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan
stimulus terjadinya perubahan yang positif.
1. Pendekatan ini berasal dari motivasi dalam diri yang rumit dan dinamis. Inilah yang
membedakan teori ini dengan teori yang mencari struktur dalam diri individu atau struktur
reinforcement dari lingkungan. Namun teori eksitensial dan humanistic menyetujui adanya
kehendak bebas dan juga kreativitas nyata, dan pemenuhan diri.
2. Pendekatan eksitensial tidak selalu merupakan pendekatan idiografis; mereka menganggap
pengalaman setiap orang unik. Filsuf beraliran eksitensial menyatakan bahwa individu secara
lansung bertanggung jawab atas kepribadian. Bagaimana saya menghadapi cinta , etika,
kecemasan , kebebasan, dan kematian . apakah saya akan membiarkan aliensi menggelamkan
saya dalam kesengaraan mendalam , atau akankah saya memakai kehendak bebas untuk
melawannya dan mencapai aktualisasi diri, ciri mendasar dari dilemma eksitensial adalah
adanya kemungkinan tercapainya kemenangan jiwa manusia.
3. Pendekatan humanistik , yang didasarkan pada eksitensialisme tetapi menolak pesimisme,
adalah pendekatan yang paling optimis terhadap kepribadian yang memandang manusia dan
permasalahan spiritual secara positif. Orientasi humanistic maslow , yang mempelajari
individu yang sudah sepenuhnya dewasa dan utuh , membuat psikologi kepribadian
memberikan atensi pada aspek positif dan spiritual teersebut. Tetapi, inkonsistensi dan
ambiguitas dalaam teori Maslow membuat kontribusinya lebih seperti pandangan yang
memberikan pengaruh besar , alih-alih sebuah teori yang solid.
4. Pendekatan humanistik terhadap kepribadian bermanfaat bagi penelitian lintas budaya dan
penelitian tentang kelompok etnik, suatu kebutuhan yang ditekankan dalam buku ini. Banyak
psikolog eksitensial- humanistic terkejut secara pribadi dan secara intelektual- oleh aliran
fasisme pada tahun 1930-1940.
5. Pendekatan

humanistik

terhadap

kepribadian

memiliki

dampak

praktis

dan

berkesenambungan pada masyarakat umum dalam hal persaingan diri. Saat ini ,tidaklah aneh
apabila seorang pekerja ( atau bahkan sekelompok rekan kerja) pada suatu waktu ingin
mengasingkan diri. Peristirahatan ini berbeda dengan liburan atau tamasya. Selama
mengasingkan diri kita mungkin menenangkan diri dilokasi yang indah, berusaha mengenali
perasaan kita , memperbaruhi cinta kita untuk pasangan , menciptakan music atau melakukan
hal kreatif lainnya, berlatih, mungkin juga bermeditasi atau berdoa. aktivitas tersebut berasal
dari asumsi humanistic bahwa setiap individu memiliki otensi diri unik yang akan muncul
apabila dikembangkan dengan baik.

6. Psikologi kepribadian humanistik tidak hanya berbeda dengan pendekatan lain dalam pokok
permasalan dan filsafatnya, tetapi juga dalam ideologinya. Psikolog humanistik mencoba
untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka
cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka
berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam
mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam
pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta
mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
7. Terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada
klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan,
keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas
dirinya.
8. Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial
humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual
kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.
9. Sedangkan menurut W.S Winkel, Terapi Eksistensial Humanistik adalah Konseling yang
menekankan implikasi implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan
manusia di bumi ini. Konseling Eksistensial Humanistik berfokus pada situasi kehidupan
manusia di alam semesta, yang mencakup tanggungjawab pribadi, kecemasan sebagai unsur
dasar dalam kehidupan batin. Usaha untuk menemukan makna diri kehidupan manusia,
keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian serta kecenderungan untuk
mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.

4. Tujuan Konseling
Menurut Gerald Corey, (1988:56) ada beberapa tujuan terapeutik yaitu :
a. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan
dan potensi potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan
kemampuannya. Keotentikan sebagai urusan utama psikoterapi dan nilai eksistensial
pokok. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :
1)

Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang,

2)

Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan

3)

Memikul tanggung jawab untuk memilih.


8

b. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni
menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
c. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih
diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban kekuatan kekuatan
deterministic di luar dirinya.
Tujuan Konseling menurut Akhmad Sudrajat yaitu :
1. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut
apa adanya. Saya adalah saya.
2. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandanganpandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu
dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.
3. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses
aktualisasi dirinya.
4. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau
menurut kondisi dirinya.
5. Karakteristik Konseling
Adapun karakteristik dari terapi eksistensial humanistik adalah sebagai berikut:
1. Eksistensialisme bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan
penyelidikannya manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia (tanda
sambung menunjukkan ketakterpisahan antara manusia dan dunia).
2. Adanya dalil-dalil yang melandasi yaitu:
a. Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia,
dan dalam bereaksi terhadap dunia.
b. Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti ddalam kerangka fungsi-fungsi atau unsurunsur yang membentuknya.
c. Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan perhatian pada
fungsi-fungsi seperti penginderaan, persepsi, belajar, dorongan-dorongan, kebiasaankebiasaan, dan tingkah laku emosional tidak akan mampu memberikan sumbangan yang
berarti kepada pemahaman manusia
3. Berusaha melengkapi, bukan menyingkirkan dan menggantikan orientasi-orientasi yang ada
dalam psikologi
4. Sasaran eksistensial adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang manusia
dan memahami manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya, misalnya pada
kesadaran, perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan pengalaman-pengalaman
9

pribadi individual yang berkaitan dengan keberadaan individualnya dalam dunia dan diantara
sesamanya.
5. Tujuan utamanya adalah menemukan kekuatan dasar, tema, atau tendensi dari kehidupan
manusia, yangdapat dijadikan kunci kearah memahami manusia.
6. Tema-temanya adalah hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab, skala nilainilai individual, makna hidup, penderitaan, keputusasaan, kecemasan dan kematian.
6. Peran dan Fungsi Konselor
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang
mencakup hal-hal berikut :
1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
4. Berorientasi pada pertumbuhan
5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
6. Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
7. Memandang

terapis

sebagai

model,

dalam

arti

bahwa

terapis

dengan

gaya

Hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia secara implisit menunjukkan kepada
klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
8. Mengakui

kebebasan

klien

untuk

mengungkapkan

pandangan

dan

untuk

mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.


9. Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien
Peran dan Fungsi konselor sebagai berikut :
1. Memahami dunia klien dan membantu klien untuk berfikir dan mengambil keputusan atas
pilihannya yang sesuai dengan keadaan sekarang.
2. Mengembangkan kesadaran, keinsafan tentang keberadaannya sekarang agar klien
memahami dirinya bahwa manusia memiliki keputusan diri sendiri.
3. Konselor sebagai fasilitator memberi dorongan dan motivasi agar klien mampu memahami
dirinya dan bertanggung jawab menghadapi reality.
4. Membentuk kesempatan seluas luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir pilihannya
terletak ditangan klien.
Dalam buku Gerald Corey, May ( 1961 ) memandanga tugas terapis diantaranya adalah
membantu klien agar menyadari keberadaanya dalam dunia : Ini adalah saat ketika pasien
10

melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan
sebagai subyek yang memiliki dunia.
7. Hubungan Konselor dengan Klien
Dalam membicarakan masalah hubngan pertologan dari teori Humanistik ini,
dikemukakan ciri - ciri hubungan konselor dan konseli sebagai berikut:
1. Adanya hubungan psikologis yang akrab antara konselor dan klien.
2. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problemnya dan apa
yang diinginkan.
3. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu
dengan tanpa memberikan sanggahan.
4. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu merupakan kunci atau dasar yang
paling menentukan dalam hubungan yang diadakan.
5. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya juga keadaan lingkungannya sangat
diperlukan oleh konselor.
Yang paling diutamakan oleh konselor eksistensial adalah hubunganya dengan klien.
Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi terapeutik merupakan stimulus
terjadinya perubahan yang positif. Konselor percaya bahwa sikap dasar mereka terhadap
klien, karakteristik pribadi tentang kejujuran, integritas dan keberanian merupakan hal-hal
yang harus ditawarkan. Konseling merupakan perjalanan yang ditempuh konselor dan klien,
suatu perjalanan pencarian menyelidiki kedalam dunia seperti yang dilihat dan dirasakan
klien.
Konselor berbagi reaksi dengan kliennya disertai kepedulian dan empati yang tidak
dibuat-buat sebagai satu cara untuk memantapkan hubungan terapeutik. May dan Yalom
(1989) menekankan peranan krusial yang dimainkan oleh kapasitas konselor untuk disana
demi klien selama jam terapi yang mencakup hadir secara penuh dan terlibat secara intens
dengan kliennya. Sebelum konselor membimbing klien untuk berhubugan dengan orang lain,
maka pertama-tama harus secara akrab berhubungan dengan si klien itu (Yalom, 1980).
Inti dari hubungan terapeutik adalah rasa saling menghormati, yang mencakup
kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik menangani kesulitan mereka dan akan
kemampuan mereka menemukan jalan alternatif akan keberadaan mereka. Sidney Jourad
(1971) mendesak konselor untuk mengajak klien mereka benar-benar menunjukkan
keotentikan dirinya melalui perilaku yang otentik dan pengungkapan diri. Oleh karena itu
konselor mengajak klien untuk tumbuh dengan mencontoh perilaku otentik. Mereka bisa

11

menjadi transparan apabila dianggap cocok untuk diterapkan dalam hubungan itu, dan sifat
kemanusiaannya bisa menjadi stimulus untuk diambil potensi riilnya oleh klien.
Hubungan terapeutik sangat penting bagi terapis eksistensial. Penekanan diletakkan
pada pertemuan antar manusia dan perjalanan bersama alih alih pada teknik-teknik yang
mempengaruhi klien. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang, bukan
masalah klien. Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan
kepada di sini dan sekarang. Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya
berhubungan langsung (Gerald Corey.1988:61).
Pola hubungan :
1.

Hubungan klien adalah hubungan kemanusiaan. Konselor berstatus sebagai partner klien,
setara dengan klien sehingga hubungannnya berada dalam situasi bebas tanpa tekanan.

2. Klien sebagai subjek bukan obyek yang dianalisis dan didiagnosis.


3. Konselor harus terbuka baik kepribadiannya dan tidak pura pura.
8. Tahap Konseling
1. Tahap Awal
Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensial-humanistik. Selama tahap
pendahuluan, konselor membantu klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikassi
asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang
cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Mereka meneliti
nilai mereka, keyakinan, serta asumsi untuk menentukan kesahihannya. Bagi banyak klien hal
ini bukan pekerjaan yang mudah oleh karena mereka mungkin pada awalnya memaparkan
problema mereka sebagai hamper seluruhnya sebagai akibat dari penyebab eksternal. Mereka
mungkin berfokus pada apa yang orang lain jadikan mereka merasakan sesuatu atau betapa
orang lain bertanggung jawab sepenuhnya akan apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan.
Konselor mengajar mereka bagaimana caranya untuk becermin pada eksistensi mereka
sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
2. Tahap Pertengahan
Pada tahap tengah dari konseling eksistensial, klien didorong semangatnya untuk
lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka. Proses eksplorasi diri
ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari nilai dan
sikap mereka. Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa
yang mereka anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan yang jelas tentang proses
pemberian nilai internal mereka.
12

3. Tahap Akhir
Tahap terakhir dari konseling eksistensial berfokus pada menolong klien untuk bisa
melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi
adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan
internalisasi dengan jalan yang kongkrit. Biasanya klien menemukan kekuatan mereka dan
menemukan jalan untuk menggunakan kekuatan itu demi menjalani eksistensi kehidupannya
yang memiliki tujuan.
Adapun beberapa tahap lain yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi
eksistensial antara lain :
1) Terapis menunjukkan kepada klien untuk meningkatkan kesadaran diri atas alternatifalternatif, motivasi-motivasi, dan tujuan-tujuan pribadi. Serta menunjukkan bahwa harus ada
pengorbanan untuk mewujudkan hal itu.
2) Terapis membantu klien dalam menemukan cara-cara klien menghindari penerimaan
kebebasannya, dan mendorong klien belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap
akibat penggunaan kebebasannya.
3) Terapis membantu klien untuk membangkitkan keberaniannya mengakui ketakutannya,
mengungkapkan ketakutannya, dan kemudian mengajak klien untuk tidak bergantung dengan
orang lain secara neurotik.
4) Terapis membantu klien dalam menciptakan suatu sistem berlandaskan cara hidup yang
konsisten.
5) Terapis membantu klien untuk menemukan makna hidupnya
6) Terapis membantu klien untuk mentoleransi segala bentuk ketakutan dan kecemasan sebagai
bentuk pembelajaran yang penting dalam hidup
7) Terapis mendorong atau memotivasi kliennya untuk mewujudkan aktualisasi dirinya

9. Teknik Konseling
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara
ketat.Prosedur-prosedur konseling bisa diambil dari beberapa teori konseling lainnya. Tugas
konselor disini adalah menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya
dapat bermakna apabila ia memaknainya. Serta membantu individu menyadari diri
sesungguhnya dapat memecahkan masalah mereka dengan intervensi ahli terapi yang
minimal.

13

Teknik yang digunakan mendahului pemahaman. Karena menekankan pada


pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam
menggunakan metode metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi
tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase
terapi yang dijalani oleh klien yang sama Meskipun terapi eksistensial bukan merupakan
metode tunggal, di kalangan terapis eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut
tugas tugas dan tanggung jawab terapis. Psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap
hubungan manusia alih alih system teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki
orientasi bersama yang mencakup hal hal berikut (Gerald Corey.1988:58) :
1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4. Berorientasi pada pertumbuhan.
5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
6. Mengakui bahwa putusan putusan dan pilihan pilihan akhir terletak di tangan klien.
7.

Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan
pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implicit menunjukkan kepada klien
potensi bagi tindakan kreatif dan positif.

8.

Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan


tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.

9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.


Dalam konseling humanistik terdapat teknik-teknik konseling , yang mana sebelum
mengetahui teknik-teknik konseling tersebut terdapat beberapa prinsip kerja teknik
humanistik antara lain :
1) Membina hubungan baik (good rapport)
2) Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya
3) Merangsang kepekaan emosi klien
4) Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.
5) Mengembangkan potensi dan emosi positif klien
6) Membuat klien menjadi adequate
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1. Penerimaan
2. Rasa hormat
14

3. Memahami
4. Menentramkan
5. Memberi dorongan
6. Pertanyaan terbatas
7. Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8. Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
Menurut Akhmad Sudrajat teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam
pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl
R. Rogers. meliputi:
(1) acceptance (penerimaan)
(2) respect (rasa hormat)
(3) understanding (pemahaman)
(4) reassurance (menentramkan hati)
(5) encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas)
(6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan)
(7) memberi dorongan
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat memahami dan
menerima diri dan lingkungannya dengan baik, mengambil keputusan yang tepat,
mengarahkan diri mewujudkan dirinya.
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif
si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru.
Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar
bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial
menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari
klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses
terapeutik.
Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan
atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi
kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain.
Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer,
1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka
lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.

15

Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal
menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan
memahami klien.
10. Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan Eksistensial Humanistik
1) Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan
dan kepercayaan diri.
2) Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
3) Memanusiakan manusia.
4) Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena
5)

sosial.
Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti
masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa
transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan
konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan
client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan
diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling
menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah
kehidupannya.
Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang
dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.
Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang
penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien. Selain
memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga
memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan
pendidikan

humanistik

(humanistic

education).

Pendidikan

humanistik

berusaha

mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan


aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam
model pendidikan humanist.
Kelemahan Eksistensial Humanistik
1) Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2) Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
3) Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan
oleh klien sendiri)
16

4)

Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan ketakpastian kapan berakhir, berapa

jam dan berapa kali pertemuan


5) Memiliki keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang rendah

( klien

yang ekstrem yang membutuhkan penangan secara langsung)


11. Asumsi perilaku bermasalah Konseling Humanistik
Pribadi yang bermasalah menurut pandangan eksistensial-Humanistik yaitu tidak
mampu memfungsikan dimensi-dimensi dasar yang dimiliki manusia, sehingga kesadaran
tidak berfungsi secara penuh. Diantaranya ; inkongruen, negatif, tidak dapat dipercaya, tidak
dapat memahami diri sendiri, bermusuhan dan kurang produktif.
Adapun Asumsi perilaku bermasalah Konseling Humanistik dipengaruhi oleh tidak
terpenuhinya aspek-aspek sebagai berikut:
Kesadaran Diri
Berhubungan dengan kemampuan manusia untuk menyadari diri dan menjadikan
dirinya mampu melampaui situasi sekarang dan membentuk aktivitas-aktivitas berpikir.
Dengan demikian, meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang
untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Tidak jarang manusia yang tidak
memiliki kesadaran akan dirinya akan mengalami masalah-masalah dalam kehidupannya.
Kebebasan dan tanggung jawab
Manusia adalah makhluk yang menentukan diri dn memiliki kebebasan untuk
memilih diantara alternatif-alternatif. Masalah akan timbul jika manusia tidak bisa mengatur
kebebasannya dan mengarahkan hidupnya.
Keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain
Meliputi masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan dari luar dirinya sendiri,
yaitu untuk berhubungan dengan orang lain dan alam. Kegagalan dalam berhubungan dengan
orang lain dan dengan alam menyebabkan manusia kesepian, mengalami aliensi,
keterasingan, dan depersonalisasi.
Pencarian makna Hidup
Kecemasan sebagai syarat hidup
Kesadaran atas kematian dan Non-ada
12. Contoh Kasus penerapan Eksistensial Humanistik

17

Siska mahasiswa semester akhir pada universitas ternama di Semarang. Saat ini dia
sedang merasakan kekhawatiran karena dia akan dilamar oleh pemuda idaman orang tuanya.
Mereka sudah pernah bertemu pada acara keluarga, menurutnya pemuda itu mempunyai
akhlak yang baik dan sudah bekerja sebagai dosen di perguruan tinggi swasta. Siska menjadi
ragu untuk menghadapi lamaran itu karena selama ini dia tidak pernah memiliki teman pria
yang special atau bisa disebut pacar. Karena teman laki-laki Siska dulu saat masih SMA
sudah meninggal karena kecelakaan saat mereka berdua berboncengan motor dari pulang
sekolah. Sejak informasi bahwa ada pemuda yang akan melamarnya, perasaannya menjadi
asing, dia ingin memberikan kepercayaan namun sangat sulit baginya. Siska selalu terbayang
bahwa dia bisa saja kehilangan lagi orang yang dia kasihi, namun disisi lain Siska merasakan
kesepian dan membutuhkan seorang teman yang bisa memahaminya. Ketidakkonsistenan dan
pertentangan ini membuat siska menjadi bingung. Hingga akhirnya memutuskan untuk
menemui konselor.
Proses Konseling :
Konselor

memahami

klien

untuk

menyadari

keberadaannya

dalam

dunia.

Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya secara


bebas. maka konselor selanjutnya memberikan reaksi-reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa
yang diungkapkan oleh klien. Konselor terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi relevan
dan pantas tentang pengalaman klien, dimana pada klien merasakan kesepian dan
kekhawatiran kehilangan kembali orang yang dicintainya.
Konselor meminta kepada klien untuk mengungkapkan ketakutannya terhadap
keharusan memilih dalam dunia yang pasti. Ketakutan klien dalam mengahadapi realitas
bahwa ada pemuda yang akan melamarnya dan hubungannya dengan kehilangan orang yang
pernah dikasihinya. Konselor menantang klien untuk melihat seluruh cara dia menghindari
pembuatan keputusan dengan berasumsi akan kehilangan orang yang dikasihinya lagi jika
membuka hati nya untuk pemuda yang akan melamarnya dan konselor memberikan penilaian
terhadap penghindaran yang dilakukan klien.
Konselor mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak
memulai proses konseling. Selanjutnya konselor memberitahukan kepada klien bahwa ia
sedang mempelajari bahwa apa yang dialaminya adalah suatu sifat yang khas sebagai
manusia bahwa dia pada akhirnya sendiri, bahwa dia akan mengalami kecemasan atas
ketidakpastian keputusan yang dibuatnya, dank lien akan berjuang untuk menetapkan makan
kehidupannya di dunia yang sering tampak tak bermakna.

18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan
bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Yang paling
diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien.
Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus
terjadinya perubahan yang positif. Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensialhumanistik. Dan tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam konseling eksistensialhumanistik.
Kecocokannya untuk diterapkan di Indonesia terletak pada pendapat kalangan
eksistensial tentang kebebasan dan control dapat bermanfaat untuk menolong klien
menangani nilai-nilai budaya mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung

19

jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk
mengubah sikap dan perilaku mereka.
B. Saran
Memiliki kemampuan dalam konseling humanistik merupakan hal yang penting,dapat
mengarahkan hidup kita ke masa depan yang lebih baik. Untuk itu kita harus mengasah
kemampuan (kreatifitas) kita secara baik berdasarkan pengalaman pengalaman pribadi kita
di lingkungan.Kita dapat memahami dan mengetahui hal-hal atau masalah klien kita
nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Gerald, Corey. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT
ERESCO
Feist, Jess & Gregory J Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Mahasiswa BK. 2009. Model-Model Konseling. UMK
Online(http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-

eksistensial/06511676)
Online(http://syarifah-mimien.blogspot.com/2005/03/terapi-eksistensial-

humanistik.htm)
Online(http://akhmadsudrajat.woordpress.com)

Misiak, henryk.2005.psikologi fenomenologi, eksistensial dan humanistic. Bandung:


PT rafika aditama
Rahmasari,Diana.,2012. Peran Filsafat Eksistensialisme terhadap Terapi EksistensialHumanistik untuk Mengatasi Frustasi Eksistensial Volume 2 Nomor 2
Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah
Malang

20

Rosjidan. 1988. Pengantar teori-teori konsleing. Jakarta: Direktorat Pendidikan


Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sukardi, D.K. 1985. Pengantar teori konseling: suatu uraian ringkas, Jakarta Timur:
Ghalia Indonesia

21