Anda di halaman 1dari 40

DAFTAR ISI

BAB I
Konsep Pemberian Obat
BAB II
Konsep Cairan dan Elektrolit
BAB III
Konsep Pemberian Nutrisi
BAB IV
Konsep Eliminasi Urine
Daftar Pustaka

Kegiatan Belajar

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA II

PENDAHULUAN
Tenaga perawat yang berkualitas dihasilkan oleh institusi keperawatan yang dikelola
dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan regulasi.
Pendidikan perawat di Indonesia saat ini mayoritas di jenjang pendidikan S1 keperawatan
dan Ners dengan kualifikasi perawat pelaksana yang memiliki kompetensi untuk
melaksanakan praktiknya baik di institusi pelayanan.
Untuk mencapai ketrampilan tersebut, maka pada semester III, mata kuliah KDM II
sebagai salah satu mata kuliah untuk mendasari kemampuan perawat dalam memahami
konsep pemberian obat, cairan dan elektrolit, nutrisi dan eliminasi urine

TINJAUAN MATA KULIAH

A. Desripsi Singkat Mata Kuliah


Mata kuliah ini memberi kesempatan mahasiswa untuk memahami pemenuhan kebutuhan dasar
manusia.
B. Kegunaan / Manfaat Mata Kuliah

Dengan adanya mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa menjadi lebih kompeten dalam
pemenuhan kebutuhan dasar manusia, memahami konsep pemberian obat, cairan dan
elektrolit, nutrisi dan eliminasi urine
C. Standart Kompetensi Mata Kuliah
Standart kompetensi mata kuliah kebutuhan dasar manusia II ini adalah mahasiswa mampu
memahami konsep dasar manusia sesuai dengan perkembangan teori dan iptek.
D. Susunan Urutan Bahan Ajar

1)
2)
3)
4)

Konsep pemberian obat


Konsep cairan dan elektrolit
Konsep Nutrisi
Konsep Eliminasi urine

E. Petunjuk Bagi Mahasiswa

Mahasiswa dapat mempelajari bahan ajar (modul) ini dan membaca referensi yang
direkomendasikan sebagai buku acuan.

BAB I

PEMBERIAN OBAT
A. Kompetensi Dasar dan Indikator

No.
1.

Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep
pemberian obat

1.
2.
3.
4.

Indikator
Mahasiswa mampu menjelaskan
definisi pemberian obat oral
Mahasiswa mampu menjelaskan
persiapan pemberian obat
Mahasiswa mampu menjelaskan
cara pemberian obat
Mahasiswa mampu menjelaskan
pemberian obat melalui IV, IM,

SC, IC
B. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk mampu


menjelaskan dasar pemenuhan pemberian obat serta hasil evidence based dengan
pokok bahasan konsep kebutuhan dasar manusia.
U R A I A N M ATE R I

Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang
sebagai perawatan atau pengobatan, bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang
terjadi di dalam tubuhnya. Seorang perawat yang akan bekerja secara langsung dalam
pemenuhan asuhan keperawatan sangat membutuhkan keterampilan dalam tindakan medis
berupa pengobatan.
Sebaiknya obat yang akan digunakan memenuhi berbagai standar persyaratan obat, di
antaranya: kemurnian, yaitu bahwa obat mengandung unsur keaslian, tidak ada
percampuran; standar potensi yang baik; memiliki bioavailability, yaitu keseimbangan obat;
adanya keamanan; dan efektivitas. Kelima standar tersebut harus dimiliki agar menghasilkan
efek yang baik terhadap kepatenan obat sendiri.
MasalahDalamPemberianObatDanIntervensiKeperawatan
1. Menolak pemberian obat
Jika pasien menolak pemberian obat, intervensi keperawatan pertama
yang dapat dilakukan adalah dengan menanyakan alasan pasien
melakukan hal tersebut. Kemudian, jelaskan kembali kepada pasien
alasan pemberian obat. Jika pasien terus menolak sebaiknya tunda
pengobatan, laporkan ke dokter dan catat dalam pelaporan.
2. Integritas kulit terganggu
Untuk mengatasi masalah gangguan integritas kulit, lakukan penundaan
dalam pengobatan, kemudian laporkan ke dokter dan catat ke dalam
laporan.
3. Disorientasi dan bingung
Masalah disorientasi dan bingung dapat diatasi oleh perawat dengan cara
melakukan penundaan pengobatan. Jika pasien ragu, laporkan ke dokter
dan catat ke dalam pelaporan.

4. Menelan obat bukal atau sublingual


Sebagai perawat yang memiliki peran dependen, jika pasien menelan
obat bukal atau sublingual, maka sebaiknya laporkan kejadian tersebut
kepada

dokter,

untuk

selanjutnya

dokter

yang

akan

melakukan

intervensi.
5. Alergi kulit
Apabila terjadi alergi kulit atas pemberian obat kepada pasien, keluarkan
sebanyak mungkin pengobatan yang telah diberikan, beritahu dokter,
dan catat dalam pelaporan.
Perhitungan Obat
Perawat dapat menggunakan rumus sederhana dalam banyak tipe kalkulasi dosis. Dosis yang
diprogramkan adalah jumlah obat murni yang diresepkan dokter untuk seorang klien. Dosis
yang tersedia adalah berat atau volume obat yang tersedia dalam satuan yang di suplay oleh
farmasi. Jumlah yang tersedia adalah satuan dasar atau jumlah obat yang mengandung dosis
yang tersedia. Jumlah yang akan diberikan selalu ditulis dalam satuan yang sama dengan
satuan jumlah yang tersedia,
Contoh : dokter mengintruksikan kilen diberi versed 2,5 mg IM, berari dosis yang di
programkan adalah 2,5 mg. Obat tersedia dalam ampul yang mengandung 5 mg / 1 ml,
berarti dosis yang tersedia adalah 5 mg dalam sediaan 1 ml.
Obat cair sering kali tersedia dalam volume lebih dari 1 ml. Pada situasi ini, rumus tetap
dapat digunakan. Contoh, instruksi obat adalah suspensi eritromisin 250 mg PO. Farmasi
memberikan botol berukuran 100 ml dan pada label tertera, 5 ml mengandung 125 mg
eritromisin. Pecahan 250/125 setara dengan 2. Dengan demikian : 2 x 5 ml = 10 ml untuk
diberikan.
Berdasarkan kalkulasi ini klien akan menerima dosis 20x lebih besar dari yang diinginkan.
Perawat harus selalu memeriksa kembali kalkulasi tersebut atau mengeceknya bersama
profesional lain, jika jawaban tampak tidak masuk akal
Definisi pemberian obat per oral
Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling banyak dipakai karena ini
merupakan cara yang paling mudah, murah, aman, dan nyaman bagi pasien. Berbagai bentuk

obat dapat di berikan secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau puyer. Untuk
membantu absorbsi , maka pemberian obat per oral dapat di sertai dengan pemberian setengah
gelas air atau cairan yang lain.
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan iritasi lambung dan menyebabkan muntah
(mislanya garam besi dan Salisilat). Untuk mencegah hal ini, obat di persiapkan dalam bentuk
kapsul yang diharapkan tetap utuh dalam suasana asam di lambung, tetapi menjadi hancur pada
suasana netral atau basa di usus. Dalam memberikan obat jenis ini, bungkus kapsul tidak boleh di
buka, obat tidak boleh dikunyah dan pasien di beritahu untuk tidak minum antasaid atau susu
sekurang-kurangnya satu jam setelah minum obat.
Pemberian Obat Melalui Sublingul
Pemberian obat melalui sublingual merupakan rute pemberian obat yang absorpsinya baik
melalui jaringan, kapiler di bawah lidah. Obat-obat ini mudah diberikan sendiri. Karena tidak
melalui lambung, sifat kelabilan dalam asam dan permeabilitas usus tidak perlu dipikirkan.
Pemberian Obat Melalui Bukal
Pemberian obat secara bukal adalah memberika obat dengan cara meletakkan obat diantara gusi
dengan membran mukosa diantara pipi. Tujuannya yaitu mencegah efek lokal dan sistemik,
untuk memperoleh aksi kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara ora, dan untuk
menghindari kerusakan obat oleh hepar.

Definisi Pemberian obat Intra Vena


Injeksi Intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat kedalam pembuluh
darah vena dengan menggunakan spuit.
Pemberian Obat Melalui Jaringan Intrakutan (IC)
Memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit dilakukan sebagai tes reaksi alergi
terhadap jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini
dilakukan di bawah dermis atau epidermis. Secara umum, dilakukan pada daerah lengan, tangan
bagian ventral.

Pemberian Obat Melalui Jaringan Subcutan (SC)


Pemberian obat melalui suntikan di bawah kulit dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah
luar atau 1/3 bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar umbilikus
(abdomen). Umumnya, pemberian obat melalui jaringan subkutan ini dilakukan dalam program
pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Terdapat dua tipe larutan
insulin yang diberikan, yaitu jernih dimaksudkan sebagai insulin tipe reaksi cepat (insulin
reguler). Larutan yang keruh termasuk tipe lambat karena adanya penambahan protein sehingga
memperlambat absorpsi obat.
Pemberian Obat Melalui intramuscular (IM)
Memberikan obat melalui intramaskular merupakan pemberian obat dengan memasukannya
kedalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat dilakukan di dorsogluteal (posisi tengkurak),
ventrogluteal (posisi berbaring), vastus lateralis (daerah paha), atau deltoid (lengan atas).
Tujuannya agar absorsi obat dapat lebih cepat.
Pemberian Obat Pada Kulit
Memberikan obat pada kulit merupakan pemberian obat dengan mengoleskannya dikulit yang
bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit atau
mengatasi infeksi. Jenis obat kulit yang diberikan dapat bermacam-macam seperti krim, losion,
aerosol dan spray.
Pemberian Obat Pada Mata
Pemberian obat pada mata dengan obat tetes mata atau saleb mata digunakan untuk persiapan
pemeriksaan struktur internal mata dengan mendilatasi pupil, pengukuran refraksi lensa dengan
melemahkan otot lensa, serta penghilangan iritasi mata.

Pemberian Obat pada Telinga

Memberikan obat pada telinga dilakukan dengan obat tetes telinga atau salep. Pada umumnya,
obat tetes telinga dapat berupa obat antibiotic diberikan pada gangguan infeksi telinga,
khususnya otitis media pada telinga tengah.
Pemberian Obat Pada Hidung
Memberikan obat tetes pada hidung dapat dilakukan pada hidung seseorang dengan keradangan
hidung (rhinitis) atau nasofaring.
Pemberian Obat Melalui Rectum
Memberikan obat melalui rectum merupakan pemberian obat dengan memasukan obat melalui
anus dan kemudian raktum, dengan tujuan memberikan efek local dan sistemik. Tindakan
pengobatan ini disebut pemberian obat Supositotia yang bertujuan untuk mendapatkan efek
terapi obat, menjadikan lunak pada daerah fases, dan merangsang buang air besar.
Pemberian obat yang memiliki efek lokal, seperti Dulcolac Supositoria, berfungsi untuk
meningkatkan defekasi secara lokal. Pemberian obat dengan efek sistemik, seperti obat
Aminofilin Supositoria, berfungsi mendilatasi Bronkhus. Pemberian obat Supositoria ini
diberikan tepat pada dinding Rektal yang melewati sphincter ani interna. Konta indikasi pada
pasien yang mengalami pembedahan rectal.
Pemberian Obat Melalui Vagina
Pemberian obat melalui vagina merupakan tindakan memasukkan obat melalui vagina, yang
bertujuan untun mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat
ini tersedia dalam bentuk krim dan supositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.

BAB II

CAIRAN DAN ELEKTROLIT


A. Kompetensi Dasar dan Indikator

No.
1.

Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep
cairan dan elektrolit

1.
2.

3.
4.

5.
6.
7.

8.
9.
10.
11.

Indikator
Mahasiswa mampu menjelaskan
definisi cairan dan elektrolit
Mahasiswa mampu menjelaskan
sistem tubuh yang berperan pada
kebutuhan cairan dan elektrolit
Mahasiswa mampu menjelaskan
cara perpindahan cairan tubuh
Mahasiswa mampu menjelaskan
kebutuhan cairan bagi tubuh
manusia
Mahasiswa mampu menjelaskan
pengaturan volume cairan tubuh
Mahasiswa mampu menjelaskan
jenis cairan
Mahasiswa mampu menjelaskan
kebutuhan dan pengaturan
elektrolit
Mahasiswa mampu menjelaskan
jenis cairan elektrolit
Mahasiswa mampu menjelaskan
keseimbangan asam dan basa
Mahasiswa mampu menjelaskan
jenis asam dan basa
Mahasiswa mampu menjelaskan
faktor yang mempengaruhi
kebutuhan cairan dan elektrolit

B. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk mampu


menjelaskan dasar cairan dan elektrolit serta hasil evidence based dengan pokok
bahasan konsep kebutuhan dasar manusia.

U R A I A N M ATE R I

A. Definisi Cairan Dan Elektrolit


Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh
membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan
lingkungan. Cairan dan elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri
jarang trjadi dalam bentuk berlebihan atau kekurangan. Cairan dan elektrolit sangat diperlukan
dalam rangka menjaga kondisi tubuhtetap sehat.
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang
memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh.
Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, katagori
persentase cairan tubuh berdasarkan umur adsalah; bayi baru lahir 75% dari total berat badan,
pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa
tua 45% dari total berat badan. Persentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada faktor usia,
lemak dalam tubuh, dan jenis kelamin.
Sedangkan elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, dan
sisa metabolisme, seperti karbondioksida, yang semuanya disebut dengan ion. Beberapa jenis
garam dalam air akan dipecah menjadi ion Na+ dan Cl+. Pecahan elektrolit tersebut merupakan
ion yang dapat menghantarkan arus listrik. Ion yang bermuatan negatif disebut anion sedangkan
ion yang bermuatan positif disebut kation.
Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari
fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan
berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu
(zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui
makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan
elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung
satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
B. Sistem Tubuh Yang Berperan Pada Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit
1. Ginjal

Merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam mengatur kebutuhan cairan dan
elektrolit. Terlihat pada fungsi ginjal, yaitu sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam
dalam darah, pengatur keseimbangan asam-basa darah dan ekskresi bahan buangan atau
kelebihan garam.
Proses pengaturan kebutuhan keseimbangan air ini diawali oleh kemampuan bagian ginjal,
seperti glomerulus dalam menyaring cairan. Rata-rata setiap satu liter darah mengandung 500 cc
plasma yang mengalir melalui glomerulus, 10% nya disaring keluar. Cairan yang tersaring
(filtrate glomerulus), kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selnya menyerap semua
bahan yang dibutuhkan. Jumlah urine yang diproduksi ginjal dapat dipengaruhi oleh ADH dan
aldosteron dengan rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.
2. Kulit
Merupakan bagian penting pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas.
Proses ini diatur oleh pusat pengatur panas yang disarafi oleh vasomotorik dengan kemampuan
mengendalikan arteriol kutan dengan cara vasodilatasi dan vasokontriksi. Proses pelepasan panas
dapat dilakukan dengan cara penguapan. Jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung
banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit. Proses pelepasan panas
lainnya dapat dilakukan melalui cara pemancaran panas ke udara sekitar, konduksi (pengalihan
panas ke benda yang disentuh), dan konveksi (pengaliran udara panas ke permukaan yang lebih
dingin).
Keringat merupakan sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian saraf simpatis.
Melalui kelenjar keringat suhu dapat diturunkan dengan jumlah air yang dapat dilepaskan,
kurang lebih setengah liter sehari. Perangsangan kelenjar keringat yang dihasilkan dapat
diperoleh melalui aktivitas otot, suhu lingkungan dan kondisi suhu tubuh yang panas.
3. Paru
Organ paru berperan mengeluarkan cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang
lebih 400 ml/hari. Proses pengeluaran cairan terkait dengan respons akibat perubahan upaya
kemampuan bernapas.
4. Gastrointestinal
Merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses
penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan hilang dalam system ini sekitar

100-200 ml/hari. Pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui system endokrin, seperti:
system hormonal contohnya:
5. ADH
Memiliki peran meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat mengendalikan keseimbangan air
dalam tubuh. Hormone ini dibentuk oleh hipotalamus di hipofisis posterior, yang mensekresi
ADH dengan meningkatkan osmolaritas dan menurunkan cairan ekstrasel.
6. Aldosteron
Berfungsi sebagai absorpsi natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal di tubulus ginjal. Proses
pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium dan system
angiotensin rennin.
7. Prostaglandin
Merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan yang berfunsi merespons radang,
mengendalikan tekanan darah dan konsentrasi uterus, serta mengatur pergerakan gastrointestul.
Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal.
8. Glukokortikoid
Berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabkan volume darah
meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
9. Mekanisme rasa haus
Diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan cara merangsang pelepasan rennin
yang dapat menimbulkan produksi angiostensin II sehingga merangsang hipotalamus untuk rasa
haus.

C. Cara Perpindahan Cairan Tubuh


1. Difusi
Merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau zat padat secara bebas dan
acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam sel membrane. Dalam tubuh,
proses difusi air, elektrolit dan zat-zat lain terjadi melalui membrane kapiler yang
permeable.kecepatan proses difusi bervariasi, bergantung pada factor ukuran molekul,
konsentrasi cairan dan temperature cairan. Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat
dibanding molekul kecil. Molekul kecil akan lebih mudah berpindah dari larutan dengan

konsentrasi tinggi ke larutan dengan konsentrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi
akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
2. Osmosis
Proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membrane semipermeabel biasanya terjadi dari
larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi lebih pekat. Solute
adalah zat pelarut, sedang solven adalah larutannya. Air merupakan solven, sedang garam adalah
solute. Proses osmosis penting dalam mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intra.
Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan menggunakan satuan nol.
Natrium dalam NaCl berperan penting mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila
terdapat tiga jenis larutan garam dengan kepekatan berbeda dan didalamnya dimasukkan sel
darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan yang sama akan seimbang dan berdifusi.
Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonic karena larutan NaCl mempunyai kepekatan
yang sama dengan larutan dalam system vascular. Larutan isotonic merupakan larutan yang
mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang dicampur. Larutan hipotonik mempunyai
kepekatan lebih rendah dibanding larutan intrasel. Pada proses osmosis dapat terjadi perpindahan
dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang kepekatannya lebih tinggi melalui
membrane semipermeabel, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah volumenya akan
berkurang, sedang larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya.
3. Transport aktif
Merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini terutama penting untuk
mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel. Proses pengaturan cairan dapat
dipengaruhi oleh dua factor, yaitu:
4. Tekanan cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotic juga menggunakan
tekanan osmotic, yang merupakan kemampuan pastikel pelarut untuk menarik larutan melalui
membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai konsentrasi lebih
pekat molekulnya tidak dapat bergabung (larutan disebut koloid). Sedangkan larutan yang
mempunyai kepekatan sama dan dapat bergabung (disebut kristaloid). Contoh larutan kristaloid
adalah larutan garam, tetapi dapat menjadi koloid apabila protein bercampur dengan plasma.
Secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeable tidak terjadi. Prinsip

tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya, larutan
yang sering digunakan dalam pemberian infuse intravena bersifat isotonic karena mempunyai
konsentrasi sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan
elektrolit ke dalam intrasel. Larutan intravena bersifat hipotonik, yaitu larutan yang
konsentrasinya kurang pekat dibanding konsentrasi plasma darah. Tekanan osmotic plasma akan
lebih besar dibanding tekanan tekanan osmotic cairan interstisial karena konsentrasi protein
dalam plasma dan molekul protein lebih besar dibanding cairan interstisial, sehingga membentuk
larutan koloid dan sulit menembud membrane semipermeabel. Tekanan hidrostatik adalah
kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting guna
mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
5. Membran semipermeable
Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran
semipermeable terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat di seluruh tubuh
sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

D. Kebutuhan Cairan Tubuh Bagi Manusia


Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang
memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sisanya
merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori persentase cairan tubuh
berdasarkan umur adalah: bayi baru lahir 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total
berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan dan dewasa tua 45% dari total berat
badan. Persentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada factor usia, lemak dalam tubuh dan
jenis kelamin. Wanita dewasa mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibanding pria
karena pada wanita dewasa jumlah lemak dalam tubuh lebih banyak dibanding pada pria.
Kebutuhan air berdasarkan umur dan berat badan:
No. Umur / BB (Kg) Kebutuhan cairan (mL/24 jam)
1 3 hari/ 3 kg
2 1 tahun/ 9,5 kg
3 2 tahun/ 11,8 kg
4 6 tahun/ 20 kg
5 10 tahun/ 28,7 kg

250-300
1150-1300
1350-1500
1800-2000
2000-2500

6 14 tahun/ 45 kg

2200-2700

7 18 tahun/ 54 kg

2200-2700

E. Pengaturan Volume Cairan Tubuh


Keseimbangan cairan dalam tubuh dihitung dari keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk
dan jumlah cairan yang keluar.
1. Asupan cairan
Asupan (intake) cairan untuk kondisi normal pada orang dewasa adalah 2500 cc/hari. Asupan
cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain. Pengaturan mekanisme
keseimbangan cairan ini menggunakan mekanisme haus. Pusat pengaturan rasa haus dalam
rangka mengatur keseimbangan cairan adalah hipotalamus. Apabila terjadi ketidakseimbangan
volume cairan tubuh dimana asupan cairan kurang atau adanya pendarahan, maka curah jantung
menurun, menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah.
2. Pengeluaran cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi asupan cairan pada orang
dewasa, dalam kondisi normal adalah 2300 cc. jumlah air yang paling banyak keluar dari
eksresi ginjal (berupa urine), sebanyak 1500 cc/hari pada orang dewasa. Hali ini dihubungkan
dengan banyaknya asupan melalui mulut. Asupan air melalui mulut dan pengeluaran air melalui
ginjal mudah diukur dan sering dilakukan dalam praktis klinis. Pengeluaran cairan dapat pula
dilakukan melalui kulit (berupa keringat) dan saluran pencernaan (berupa feses). Pengeluaran
cairan dapat pula dikategorikan sebagai pengeluaran cairan yang tidak dapat diukur karena,
khususnya pada pasien luka bakar atau luka besar lainnya, jumlah pengeluaran cairan (melalui
penguapan) meningkat sehigga sulit untuk diukur. Pada kasus ini, bila volume urine yang
dikeluarkan kurang dari 500 cc/hari, diperlukan adanya perhatian khusus.
Pasien dengan ketidakadekuatan pengeluaran cairan memerlukan pengawasan asupan dan
pengeluaran cairan secara khusus. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan, demam,
keringat dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan. Kondisi lain yang
dapat menyebabkan kehilangan cairan secara berlebihan adalah muntah secara terus menerus.
Hasil-hasil pengeluaran cairan:
a. Urine

Pembentukan urine terjadi di ginjal dan dikeluarkan melalui vesika urinaria (kandung kemih).
Proses ini merupakan proses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Cairan dalam ginjal disaring
pada glomerulus dan dalam tubulus ginjal untuk kemudoan diserap kembali ke dalam aliran
darah. Hasil ekresi berupa urine. Jika terjadi penurunan volume dalam sirkulasi darah, receptor
atrium jantung kiri dan kanan akan mengirimkan impuls ke otak, kemudian otak akan
mengirimkan kembali ke ginjal dan memproduksi ADH sehingga mempengaruhi pengeluaran
urine.
b. Keringat
Terbentuk bila tubuh menjadi panas akibat pengaruh suhu yang panas. Keringat banyak
mengandung garam, urea, asam laktat dan ion kalium. Banyaknya jumlah keringat yang keluar
akan mempengaruhi kadar natrium dalam plasma.
c. Feses
Feses yang keluar mengandung air dan sisanya berbentuk padat. Pengeluaran air melalui feses
merupakan pengeluaran cairan yang paling sedikit jumlahnya. Jika cairan yang keluar melalui
feses jumlahnya berlebihan, maka dapat mengakibatkan tubuh menjadi lemas. Jumlah rata-rata
pengeluaran cairan melalui feses adalah 100 ml/hari.
F. Jenis Cairan
1. Cairan nutrient
Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan sebanyak 450 kalori setiap harinya. Cairan
nutrien (zat gizi) melalui intravena dapat memenuhi kalori ini dalam bentuk karbohidrat,
nitrogen dan vitamin yang penting untuk metabolisme. Kalori dalam cairan nutrient dapat
berkidar antara 200-1500/liter. Cairan nutrient terdiri atas:
Karbohidrat dan air, contoh: dextrose (glukosa), levulose (fruktosa), invert sugar

( dextrose

dan levulose).
Asam amino, contoh: amigen, aminosol dan travamin.
Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.
2. Blood Volume Expanders
Merupakan bagian dari jenis cairan yang berfungsi menigkatkan volume pembuluh darah setelah
kehilangan darah atau plasma. Apabila keadaan darah sudah tidak sesuai, misalnya pasien dalam
kondisi pendarahan berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah.

Pada pasien dengan luka bakar berat, sejumlah besar cairan hilang dari pembuluh darah di daerah
luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood volume
expanders antara lain: human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda.
Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotic, sehingga secara langsung dapat meningkatkan
jumlah volume darah.
G. Kebutuhan Dan Pengaturan Elektrolit
1. Kebutuhan elektrolit
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrient dan
sisa metabolism, seperti karbondioksida yang semuanya disebut dengan ion. Beberapa jenis
garam dalam air akan dipecah dalam bentuk ion elektrolit. Contohnya, NaCl akan dipecah
menjadi ion Na+ dan Cl-. Pacahan elektrolit tersebut merupakan ion yang dapat menghantarkan
arus listrik. Ion yang bermuatan negative disebut anion dan ion bermuatan positif disebut kation.
Contoh kation ayitu natrium, kalium, kalsium dan magnesium. Sedangkan anion contohnya
klorida, bikarbonat dan fosfat. Komposisi elektrolit dalam plasma adalah:
Natrium: 135-145 mEq/lt, Kalium: 3,5-5,3 mEq/lt, Kalsium: 4-5 mEq/lt, Magnesium: 1,5-2,5
mEq/lt, Klorida: 100-106 mEq/lt, Bikarbonat: 22-26 mEq/ltd an Fosfat: 2,5-4,5 mEq/lt.
Pengukuran elektrolit dalam satuan miliequivalen per liter cairan tubuh atau milligram per 100
ml (mg/100 ml). Equivalen tersebut merupakan kombinasi kekuatan zat kimia atau kation dan
anion dalam molekul.
2. Pengaturan Elektrolit
Pengaturan Keseimbangan Natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi mengatur osmolaritas dan volume cairan
tubuh. Natrium paling banyak terdapat pada cairan ekstrasel. Pengaturan konsentrasi cairan
ekstrasel diatur oleh ADH dan aldosteron. Aldosteron dihasilkan oleh korteks suprarenal dan
berfungsi mempertahankan keseimbangankonsentrasi natrium dalam plasma dan prosesnya
dibantu oleh ADH. ADH mengatur sejumlah air yang diserap kembali ke dalam ginjal dari
tubulus renalis. Aldosteron juga mengatur keseimbangan jumlah natrium yang diserap kembali
oleh darah. Natrium tidak hanya bergerak ke dalam atau ke luar tubuh, tetapi juga mengatur
keeseimbangan cairan tubuh. Eksresi dari natrium dapat dilakukan melalui ginjal atau sebagian
kecil melalui feses, keringat dan air mata.

Pengaturan Keseimbangan Kalium


Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur
keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan mekanisme perubahan
ion natrium dalam tubulsu ginjal dan sekresi aldosteron. Aldosteron juga berfungsi mengatur
keseimbangan kadar kalium dalam plasma (cairan ekstrasel).
System pengaturan keseimbangan kalium melalui 3 langkah yaitu: Peningkatan konsentrasi
kalium dalam cairan ekstrasel yang menyebabkan peningkatan produksi aldosteron, peningkatan
jumlah aldosteron akan mempengaruhi jumlah kalium yang dikeluarkan melalui ginjal dan
peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel menurun.
Pengaturan Keseimbangan Kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi membentuk tulang, menghantarkan impuls kontraksi otot,
koagulasi (pembekuan) darah dan membantu beberapa enzim pancreas. Kalsium diekskresi
melalui urine dan keringat. Konsentrasi kalsium dalam tubuh diatur oleh hormone paratiroid
dalam reabsorpsi tulang. Jika kadar kalsium darah menurun, kelenjar paratiroid akan merangsang
pembentukan hormone paratiroid yang langsung meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.
Pengaturan Keseimbangan Klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi tidak dapat ditemukan pada cairan
ekstrasel dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium, yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan osmotic dalam darah. Hipokloremia merupakan siatu keadaan kekurangan
kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloremia merupakan kelebihan klor dalam darah.
Normalnya, kadar klorida dalam darah pada orang dewasa adalah 95-108 mEq/lt.
Pengaturan Keseimbangan Magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh, merupakan yang terpenting kedua dalam cairan
intrasel. Keseimbangannya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari saluran
pencernaan. Magnesium dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi kalsium. Hipmagnesium
terjadi bila konsentrasi serum turun menjadi < 1,5 mEq/ltd dan hipermagnesium terjadi bila
kadar magnesium serta seum meningkat menjadi > 2,5 mEq/lt.
Pengaturan Keseimbangan Bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
Pengaturan Keseimbangan Fosfat

Fosfat (PO4) bersama-sama dengan kalsium berfungsi membentuk gigi dan tulang. Posfat
diserap dari saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.
H. Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap dengan
bermacam-macam elektrolit. Cairan saline terdiri atas cairan isotonic, hipotonik dan hipertonik.
Konsentrasi isotonic disebut juga normal saline yang banyak dipergunakan. Contoh cairan
elektrolit:
Cairan Ringers, terdiri atas: Na+, K+, Cl, Ca2+
Cairan Ringers Laktat, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+, Cl, Ca2+, HCO3
Cairan Buffers, terdiri atas: Na+, K+, Mg2+, Cl, HCO3
I. Keseimbangan Asam Dan Basa
Dalam aktivitasnya, sel tubuh memerlukan keseimbangan asam-basa. Keseimbang-an asam-basa
dapat diukur dengan pH (derajat keasaman). Dalam keadaan normal, pH cairan tubuh adalah
7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa dapat dipertahankan melalui proses metabolism dengan
system buffer pada seluruh cairan tubuh dan oleh pernapasan dengan system regulasi
(pengaturan di ginjal). 3 macam system larutan buffer cairan tubuh adalah larutan bikarbonat,
fosfat dan protein. System buffer itu sendiri terdiri atas natrium bikarbonat (NaHCO3), kalium
bikarbonat (KHCO3) dan asam karbonat (H2CO3). Pengaturan keseimbangan asam-basa
dilakukan oleh paru melalui pengangkutan kelebihan CO2 dan H2CO2 dari darah yang dapat
meningkatkan pH hingga kondisi standar (normal). Ventilasi dianggap memadai apabila suplai
O2 seimbang dengan kebutuhan O2. Pembuangan melalui paru harus simbang dengan
pembentukan CO2 agar ventilasi memadai. Ventilasi yang memadai dapat mempertahankan
kadar pCO2 sebesar 40 mmHg.
Jika pembentukan CO2 metabolik meningkat, konsentrasinya dalam cairan ekstrasel juga
meningkat. Sebaliknya, penurunan metabolism memperkecil konsentrasi CO2. Jika kecepatan
ventilasi paru meningkat, kecepatan pengeluaran CO2 juga meningkat dan hal ini menurunkan
jumlah CO2 yang berkumpul dalam cairan ekstrasel. Peningkatan dan penurunan ventilasi
alveolus efeknya akan mempengaruhi pH cairan ekstrasel. Peningkatan pCO2 menurunkan pH,
sebaliknya pCO2 meningkatkan pH darah. Perubahan ventilasi alveolus juga akan mengubah

konsentrasi ion H+. sebaliknya konsentrasi ion H+ dapat mempengaruhi kecepatan ventilasi
alveolus (umpan balik). Kadar pH yang rendah dan konsentrasi ion H+ yang itnggi disebut
asidosis, sebaliknya pH yang tinggi dan konsentrasi ion H+ yang rendah disebut alkalosis.
Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam
cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35.Jika pH
darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama
diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan
ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
Pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat
Katabolisme zat organic
Disosiasi asam organic pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolism lemak
terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H.
J. Jenis Asam Dan Basa
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat disebabkan
oleh henti jantung dan koma diabetika. Contoh cairan alkali adalah natrium (sodium) laktat dan
natrium bikarbonat. Laktat merupakan agram dari asam lemah yang dapat mengambil ion H+
dari cairan, sehingga mengurangi keasaman (asidosis). ion H+ diperoleh dari asam karbonat
(H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3- (bikarbonat) dan H+. Selain system pernapasan,
ginjal juga berperan untuk mempertahankan asam-basa yang sangat kompleks. Ginjal
mengeluarkan ion hydrogen dan membentuk ion bikarbonat dengan pH darah normal. Jika pH
plasma turun dan menjadi lebih asam, ion hydrogen dikeluarkan dan bikarbonat dibentuk
kembali.
K. Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit.
1. Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas
permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan di karenakan gangguan fungsi ginjal ataw jantung.
2. Iklim

Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah
memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan
seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L
per hari.
3. Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak
adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan
cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses
keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
4. Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot.
Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat
meningkatkan volume darah.
5. Kondisi sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit misalnya:
Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan
dan elektrolit tubuh.
Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami ganguan pemenuhan intake cairan
karena kehilangan kemapuan untuk memenuhinya secara mandiri.
6. Tindakan medis
Banyak tindakan medis akan berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti:
suction, NGT dan lain-lain.
7. Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian dueretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan
elektrolit tubuh.
8. Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggimengalami gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh karena kehilangan darah selama pembedahan.

BAB III

KEBUTUHAN NUTRISI
A. Kompetensi Dasar dan Indikator

No.
1.

Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep
kebutuhan nutrisi

Indikator
Mahasiswa mampu menjelaskan
definisi nutrisi
2. Mahasiswa mampu menjelaskan
anatomi dan fisiologi pencernaan
3. Mahasiswa mampu menjelaskan
faktor yang mempengaruhi
pemenuhan nutrisi
4. Mahasiswa mampu menjelaskan
masalah terkait pemenuhan
kebutuhan nutrisi

1.

B. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk mampu


menjelaskan dasar kebutuhan nutrisi serta hasil evidence based dengan pokok
bahasan konsep kebutuhan dasar manusia.
U R A I A N M ATE R I

A. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


1. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus,
usus besar, rectum dan anus.
a. Mulut
Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan pada awal proses pencernaan. Mengunyah
dengan baik dapat mencegah terjadinya luka parut pada permukaan saluran pencernaan. Setelah
dikunyah lidah mendorong gumpalan makanan ke dalam faring, dimana makanan bergerak ke
esophagus bagian atas dan kemudian ke bawah ke dalam lambung.

b. Esofagus

Esofagus adalah sebuah tube yang panjang. Sepertiga bagian atas adalah terdiri dari otot yang
bertulang dan sisanya adalah otot yang licin. Permukaannya diliputi selaput mukosa yang
mengeluarkan secret mukoid yang berguna untuk perlindungan.
c. Lambung
Gumpalan makanan memasuki lambung, dengan bagian porsi terbesar dari saluran
pencernaan. Pergerakan makanan melalui lambung dan usus dimungkinkan dengan adanya
peristaltic, yaitu gerakan konstraksi dan relaksasi secara bergantian dari otot yang mendorong
substansi makanan dalam gerakan menyerupai gelombang. Pada saat makanan bergerak ke arah
spingter pylorus pada ujung distal lambung, gelombang peristaltik meningkat. Kini gumpalan
lembek makanan telah menjadi substansi yang disebut chyme. Chyme ini dipompa melalui
spingter pylorus kedalam duodenum. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk mengosongkan
kembali lambung setelah makan adalah 2sampai 6 jam.
d. Usus halus
Usus halus yang terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum yang panjangnya kira-kira 6 meter
dengan diameter 2,5 cm. Usus besar terdiri dari rectum, colon dan rectum yang kemudian
bermuara pada anus. Panjang usus besar sekitar 1,5 meter dengan diameter kira-kira 6 cm. Usus
menerima makanan yang sudah berbentuk chime (setengah padat) dari lambung untuk
mengabsorbsi air, nutrient, potassium, bikarbonat dan enzim.
Chyme bergerak karena adanya peristaltik usus dan akan berkumpul menjadi feses di usus
besar. Dari makan sampai mencapai rectum normalnya diperlukan waktu 12 jam. Gerakan colon
dibagi menjadi 3 bagian yaitu, pertama houstral shuffing adalah gerakan mencampur chyme
untuk membantu mengabsorbsi air, kedua kontraksi haustrl yaitu gerakan untuk mendorong
materi air dan semi padat sepanjang colon, ketiga gerakan peristaltic yaitu gerakan maju ke anus
yang berupa gelombang. Makanan yang sudah melewati usus halus : Chyme, akan tiba di rectum
4 hari setelah ditelan, jumlah chime yang direabsorbsi kurang lebih 350 ml.
e. Usus besar (kolon)
Kolon orang dewasa, panjangnya kurang lebih 125-150 cm atau 50-60 inch, terdiri dari
:Sekum, yang berhubungan langsung dengan usus halus. Kolon terdiri dari kolon asenden,
transversum, desenden dan sigmoid. Rektum, 10-15 cm/ 4-6 inch.
Fungsi utama usus besar (kolon) adalah :
1. Absorbsi air dan nutrient
2. Proteksi/ perlindungan dengan mensekresikan mucus yang akan melindungi dinding usus trauma
oleh feses dan aktivitas bakteri.
3. Menghantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan cara berkontraksi.
4. Anus/ anal/ orifisium eksternal

Panjangnya kurang lebih 2,5-5 cm atau 1-2 inch, mempunyai 2 spingter yaitu internal
(involunter) dan eksternal (volunter). Panjang rectum bervariasi, sesuai dengan usia :
Bayi
: 2,5-3,8 cm
Toddler
: 4 cm
Pra sekolah : 7,6 cm
Sekolah
: 10 cm
Dewasa
: 10-15 cm
2. Pengertian
Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit,
termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan
dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam
tubuhnya serta mengeluarkan zat sisa.
Nutrisi berfungsi untuk membentuk dan memelihara jaringan tubuh, mengatur prosesproses dalam tubuh, sebagai sumber tenaga, serta untuk melindungi tubuh dari serangan
penyakit. Dengan demikian, fungsi utama nutrisi (suitor & hunter, 1980) adalah untuk
memberikan energy bagi aktivitas tubuh, membentuk struktur kerangkadan jaringan tubuh, serta
mengatur berbagai proses kimia dalam tubuh.
Masalah nutrisi erat kaitannya dengan intake makanan dan metabolisme tubuh serta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Secara umum faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi
adalah faktor fisiologis untuk kebutuhan metabolisme basal, faktor patofisiologi seperti adanya
enyakit tertentu yang mengganggu pencernaan atau meningkatkan kebutuhan nutrisi, faktor
sosio-ekonomi seperti adanya kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi.
Nutrien adalah suatu unsur yang dibutuhkan untuk proses dan fungsi tubuh.
Gizi adalah substansi organic dan non organic yang ditemukan dalam makanan dan
dibutuhkan oleh tubuh agar dapat berfungsi dengan baik (kozier,2004)
3. Komponen-Komponen Nutrient
1. Air
Air meliputi 60%-70% berat badan individu dewasa dan 80% berat badan bayi (potter &
perry, 1992). Individu dewasa dapat kehilangan cairan kurang lebih 2-3 liter per hari melalui
keringat, urin, dan pernapasan.
Air memiliki peranan yang besar bagi tubuh. Selain sebagai komponen penyusun sel yang
utama, air juga berperan dalam menyalurkan zat-zat makanan menuju sel. Fungsi air bagi tubuh

sendiri adalah untuk membantu proses/ reaksi kimia dalam tubuh serta berperan dalam
mengontrol temperatur tubuh. Tidak ada satupun organ tubuh yang mampu berfungsi tanpa air.
2. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energy utama. Setiap 1g karbohidrat menghasilkan 4 kkal.
Karbohidrat yang disimpan dalam hati dan otot berbentuk glikogen dengan jumlah yang sangat
sedikit. Glikogen adalah sintesis dari glukosa, pecahan energi selama masa istirahat atau puasa.
Kelebihan energi karbohidrat berbentuk asam lemak. Metabolisme karbohidrat mengandung 3
proses, yaitu :
a. Katabolisme glikogen menjadi glukosa, karbon dioksida dan air disebut glikogenolisis.
b. Anabolisme glukosa terbentuk glikogen disebut glikogenesis.
c. Perubahan dari asam amino dan gliserol menjadi glukosa disebut glukoneogenesis.
3. Protein
Protein berfungsi untuk pertumbuhan, mempertahankan dan mengganti jaringan tubuh.
Setiap 1g protein menghasilkan 4 kkal. Bentuk sederhana dari protein adalah asam amino. Asam
amino disimpan dalam jaringan berbentuk hormone dan enzim. Asam amino esensial tidak dapat
disintesis dalam tubuh, tetapi harus didapat dari makanan.
4. Lemak
Lemak merupakan sumber energi paling besar. 1g lemak akan menghasilkan 9 kkal. Lipid
adalah lemak yang dapat membeku pada suhu ruangan tertentu, dimana lipid tersebut terdiri atas
trigliserida dan asam lemak. Proses terbentuknya asam lemak disebut lipogenesis. Kegiatan yang
membutuhkan energi, antara lain :
a. Pernapasan, sirkulasi darah, suhu tubuh, dll.
b. Kegiatan mekanik oleh otot.
c. Aktivitas otak dan saraf.
d. Energi kimia untuk membangun jaringan, enzim, dan hormon.
e. Sekresi cairan pencernaan.
f. Absorbsi zat-zat gizi disaluran pencernaan.
h.Pengeluaran hasil metabolisme.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan energi :
a. Basal Metabolisme meningkat
b. Aktivitas tubuh
c. Faktor usia
d. Suhu lingkungan
e. Penyakit
5. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organic yang tidak dapat dibuat oleh tubuh dan diperlukan dalam
jumlah besar sebagai katalisator dalam proses metabolisme.
Vitamin secara umum diklasifikasikan ke dalam :
a. Vitamin yang dapat larut dalam lemak, yaitu : vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K.
b. Vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin B dan vitamin C.

6. Mineral
Mineral dikategorikan menjadi 2 :
a. Macromineral, yaitu : seseorang memerlukan setiap harinya sejumlah lebih dari 100 mg.
Contohnya : kalsium, phosphor, sodium, potasium, magnesium, klorida, dan sulfur.
b. Micromineral, yaitu : seseorang memerlukan setiap harinyasejumlah kurang lebih 100 mg.
Contohnya : besi, seng, mangan, iodium, selinium, cobalt, kromium, tembaga, dan klorida.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
a. Keseimbangan Metabolisme dan energi tubuh
1. Metablisme berarti perubahan yang menyangkut segala transportasi kimiawi serta energi yang
terjadi dalam tubuh.
2. Jumlah energi yang dibebaskan oleh katabolisme zat makanan dalam tubuh sama dengan energi
yang dibebaskan bila zat makanan dibakar di luar tubuh.
3. Energi output = kerja luar + Simpanan energi + Panas
Faktor yang mempengaruhi laju metabolisme adalah :
1. Kerja otot
2. Konsumsi Oksigen
3. Pemberian makanan
4. Lingkungan
b. Dampak gangguan pemasukan nutrisi
Dampak gangguan pemasukan nutrisi tergantung pada macam dan tipe nutrisi yang meliputi
lamanya pemasukan yang inadekuat atau konsumsi yang berlebihan dan juga umur seseorang.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola diet :
1) Kebudayaan
2) Agama
3) Kesukaan seseorang terhadap makanan
4) Sikap dan emosi
5) Letak geografi
6) Faktor ekonomi
5. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
1. Protein Calorie Malnutrition (PCM/PEM)
Suatu kondisi status nutrisi buruk akibat kurangnya kualitas dan kuantitas konsumsi nutrisi,
dengan kategori sebagai berikut :
a. PCM/ PEM ringan : BB < 80 % BB Normal sesuai umur.
b. PCM/ PEM sedang : BB 60 % BB Normal sesuai umur s/d 80 % BB Normal.
c. PCM/ PEM berat : BB < 60 % BB Normal sesuai umur.
2. Kwashiorkor
Malnutrisi yang terjadi akibat diet protein yang tidak adekuat pada bayi ketika sudah tidak
mendapatkan asi. Defisiensi dapat berakibat :

retardasi mental, kemunduran pertumbuhan, apatis, edema, otot-otot tidak tumbuh, depigmentasi
kulit, dermatitis.

3. Marasmus
Sindrom akibat defisiensi kalori dan protein. Defisiensi kalori berkibat : kelaparan, hilangnya
jaringan-jaringn tubuh, BB kurang dari normal, diare. PCM juga dapat terjadi akibat kurang
baiknya penanganan klien selama menjalani proses perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
PCM yang terjadi di lingkungan fasilitas kesehatan :
a. Status defisiensi Protein
Keadaan defisiensi protein dapat terjadi dalam jangka pendek pada klien yang mengalami stres
berat akibat berbagai gangguan tubuh (pembedahan penyakit akut, dll)
Tanda klinis : lelah, apatis, edema, kadar protein menurun, penurunan berat badan, kemunduran
otot, wajah tampak tua.
b. Cachexia
Dapat terjadi secara gradual akibat kurangnya intake nutrisi yang adekuat dalam jangka panjang.
Gejala klinis (menyerupai marasmus) : lapar, berat badan menurun drastis, kemunduran otot,
diare.
c. Mixed stated
Kondisi ini dapat terjadi pada pasien yang mengalami cachexia dan stres yang akut. Efek dari
mixed state dapat berakibat buruk akibat hilangnya nutrisi-nutrisi vital, vitamin, dan zat besi.
Tanda klinis : defisit neurologis, gangguan kulit, gangguan penglihatan.
d. Obesitas
Status obesitas dapat ditegakkan apabila berat badan lebih dari normal (20%-30% > Normal)
e. Overweight
Suatu keadaan BB 10 % melebihi berat badan ideal.
6. Kebutuhan Nutrisi Sesuai Tingkat Perkembangan Usia
a. Bayi
Pada bayi pencernaan dan absorbsi masih sederhana sampai umur 6 bulan. Kalori yang
dibutuhkan sekitar 110-120 kal/kg/hari. Kebutuhan cairan sekitar 140-160-ml/kg/hari. Bayi
sebelum usia 6 bulan pemberian nutrisi yang cocok adalah ASI.
b. Anak Todler dan Pra Sekolah
Kebiasaan yang perlu diajarkan pada usia ini antara lain:
1)
Penyediaan makanan dalam berbagai variasi
2)
Membatasi makanan manis

3)
Konsumsi diet yang seimbang.
4)
Penyajian waktu makanan yang teratur.
Kebutuhan kalori pada masing-masingusia:
1)
1 tahun = 100 kkal/hari
2)
3 tahun = 300-500 kkal/hari
c. Anak Sekolah (6-12 tahun)
Usia

kalori protein Calcium

Fe

Vit.A

Vit.B1 Vit.C

10-12

1900

60

0,75

2500

0,7

25

07-09

1600

50

0,75

2500

0,6

25

05-06

1400

40

0,50

2500

0,6

25

Tahun

kal

gram

Gram

Mg

U.I

Mg

Mg

d. Remaja (13-21 tahun)


Kebutuhan kalori, protein, mineral dan vitamin sangat tinggi berkaitan dengan berlanjutnya
proses pertumbuhan. Lemak tubuh meningkat akan mengakibatkan obesitas sehingga akan
menimbulkan stress terhadap body image.
e. Dewasa Muda (23-30 tahun)
Kebutuhan nutrisi pada masa dewasa muda, selain untuk proses pemeliharaan dan perbaikan
tubuh dari pada pertumbuhan. Kebutuhan nutrisi pada umumnya lebih diutamakan pada tipe dan
kualitas daripada kuantitas.
f. Dewasa (31-45 tahun)
Masa dewasa merupakan masa produktif khususnya terkait dengan aktivitas fisik.
Kebutuhan nutrisi pada masa ini perlu mendapatkan perhatian besar dan harus di bedakan antara
tingkatan pekerjaan.

BAB III

KEBUTUHAN NUTRISI
C. Kompetensi Dasar dan Indikator

No.
1.

Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep
eliminasi urine

Indikator
1. Mahasiswa mampu menjelaskan
anatomi sistem urinaria
2. Mahasiswa mampu menjelaskan

3.
4.
5.

6.

mekanisme pembentukan urine


Mahasiswa mampu menjelaskan
tahap-tahap pembentukan urine
Mahasiswa mampu menjelaskan
ciri-ciri urine normal
Mahasiswa mampu menjelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi
eliminasi urine
Mahasiswa mampu menjelaskan
masalah-masalah dalam eliminasi
urine

D. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk mampu


menjelaskan dasar kebutuhan eliminasi urine serta hasil evidence based dengan
pokok bahasan konsep kebutuhan dasar manusia.
U R A I A N M ATE R I

Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria)


A. Pengertian Sistem Urinaria
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

B. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :


1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang
peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding
abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan
kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.

Pada orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki laki lebih
panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap tiap nefron
terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh
pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam
komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus tubulus, yaitu tubulus kontortus
proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat
pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral
(langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran
mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur
sehingga celah celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar
dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang
berbelok belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian
menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam
berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus
distal.
a. Bagian Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga
bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal
(pelvis renalis).
1. Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang
disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler kapiler
darah yang tersusun bergumpal gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi
oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut
badan malphigi
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai
bownman. Zat zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari

sini maka zat zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai
bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
2. Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal.
Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis,
mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut
lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris garis karena terdiri atas
berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan
korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh
halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini
terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah
mengalami berbagai proses.
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar.
Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut
kaliks mayor, yang masing masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang
langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus
kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter,
hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).

b. Fungsi Ginjal:
1. Mengekskresikan zat zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogennitrogen,
misalnya amonia.
2. Mengekskresikan zat zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan
berbahaya (misalnya obat obatan, bakteri dan zat warna).
3. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
4. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.

c. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :


1. Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor masuk ke dalam
urine.
2. Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal
(20 40) mg%.
3. Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat
jenisnya naik.
d. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria
interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal
bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan
dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan
pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena
renalis masuk ke vena kava inferior.
Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk
mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan
pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas
ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon
yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.
2. URETER
Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih
(vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian
terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos

c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa


Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang
akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan
disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung
kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh
pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter
meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai
saraf sensorik.
3. VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang
simfisis pubis di dalam ronga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan
ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah
dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika
seminalis dan prostate.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika
umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah
luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada
dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih
(proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada

saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan
akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus
dihantarkan melalui serabut serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara
volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya
dapat terjadi bila saraf saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan
otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin
(kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari
sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan
kontraksi spinter interna.
Peritonium melapis kandung kemih sampai kira kira perbatasan ureter masuk kandung
kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung
kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis
bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan
menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
4. URETRA
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi
menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok kelok melalui tengah tengah prostat kemudian
menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya 20 cm.
Uretra pada laki laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan
submukosa. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit
kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika

muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena, dan
lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas
vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
C. Urine (Air Kemih)
1. Sifat sifat air kemih
- Jumlah eksresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta
faktor lainnya.
- Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
-Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat obatan dan sebagainya.
- Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.
- Baerat jenis 1.015 1.020.
-Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur
menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
2. Komposisi air kemih
- Air kemih terdiri dari kira kira 95 % air
- Zat zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin
- Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat
- Pigmen (bilirubin, urobilin)
- Toksin
- Hormon

3. Mekanisme Pembentukan Urine


Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 125ml
filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 180L
filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih,
dan sebagian diserap kembali.
4. Tahap tahap Pembentukan Urine
a. Proses filtrasi

Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari
permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring
adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai
bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke
seluruh ginjal.
b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan
beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator
reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi
kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali
kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan
reabsorpsi

fakultatif

dan

sisanya

dialirkan

pada

pupila

renalis.

c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada
tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah
urine sesungguhnya.
Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari
ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat
penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari
tubuh melalui uretra.
4. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melui ureter ke dalam kandung kemih.,
keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih
dimana saebelumnmya telah ada 170 23 ml urine.
Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat
pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal
yang

menekan

5. Ciri ciri Urine Normal

kandung

kemih

membantu

mengosongkannya.

Rata rata dalam satu hari 1 2 liter, tapi berbeda beda sesuai dengan jumlah cairan yang
masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam
terhadap lakmus dengan pH rata rata 6.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eliminasi Urine
1. Diet dan Asupan (intake)
Jumlah dan tipe makanan merupakan faiKtcw utama yang memengaruhi output urine
(jumlah urine). Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, juga dapat
meningkatkan pembentukan urine.
2. Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak
tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.
3. Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya
terhadap tersedianva fasilitas toilet.
4. Stres Psikologis
Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Hal
ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang
diproduksi.
5. Tingkat Aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter.
Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih
menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.
6. Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. I-Ial
tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk
mengontrol buang air kecil. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang
airkecil
7. Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit
8. Sosiokultural

dapat

memengaruhi

produksi urine,

seperti diabetes

melitus.

Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur
pada masyarakat tertentu yang meaarang untuk buang air kecil di tempat tertentu
9. Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih
dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.
10. Tonus Otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otioti
kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi
pengontirolan pengeluaran urine.
11. Pembedahan
Efek pembedahan dapat menye;babkan penurunan pemberian obat anestesi menurunkan
filtrasi

glomerulus

yang

dapat

jumlah

produksi

urine

karena

dampak

dari

12. Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau
penurunan proses perkemihan. Misalnya pemberian diure;tik dapat meningkatkan jumlah
urine, se;dangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan
retensi urine.
13. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya
prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti
IVY (intra uenus pyelogram), yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi
produksi urine. Selain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra
yang dapat mengganggu pengeluaran urine.Kelainan- kelainan pada sistem perkemihan

Masalah-masalah dalam Eliminasi


Masalah-masalahnya adalah : retensi, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola urine
(frekuensi,

keinginan

(urgensi),

Penyebab umum masalah ini adalah :


-

Obstruksi

poliurine

dan

urine

suppression).

Pertumbuhan jaringan abnormal

Batu

Infeksi

Masalah-masalah lain.

1.

Retensi

a)

Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung

kemih untuk mengosongkan diri.


b)

Menyebabkan distensi kandung kemih

c)

Normal urine berada di kandung kemih 250 450 ml

d)

Urine ini merangsang refleks untuk berkemih.

e)

Dalam keadaan distensi, kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000

4000 ml urine
Tanda-tanda klinis retensi
a)

Ketidaknyamanan daerah pubis.

b)

Distensi kandung kemih

c)

Ketidak sanggupan unutk berkemih.

d)

Sering berkeih dalam kandung kemih yang sedikit (25 50 ml)

e)

Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.

f)

Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.

2.

Inkontinensi urine

a)

Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol

keluarnya urine dari kandung kemih


b)

Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensia sampai

inkontinensi komplit
c)

Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia sampai

inkontinensi sebagian
DAFTAR PUSTAKA

Adams. Diagnosis fisik. 17th ed. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC; 1990. Hal. 67-85.
Aziz Alimul Hidayat , 2002. Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan. EGC : Jakarta
B. Kozier, Erb. 2009. Buku Ajar Praktik Keprawatan Klinis: ed 5. Jakarta: EGC

Bates B. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1995. Hal. 41-2, 151-5.
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8. EGC, Jakarta.
Hidayat, A.Aziz Alimul, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Joyce, K & Everlyn, R.H. (1996). Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : EGC
Laboratorium Ketrampilan Keperawatan PSIK FK UGM. 2002. Skills lab pendidikan
ketrampilan keperawatan program B semester I tahun ajaran 2002/2003. Yogyakarta:
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada; Hal. 1121.
Mubarak,Iqbal wahit,2008,Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi Dalam
Praktik,Jakarta : EGC
Perry, potter. 2006. Fundamental Keprawatan: Konsep,Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC.
Potter & Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik,
Jakarta: EGC
Price S.A, Lorraine MW. Patophysiology, konsep klinis proses-proses penyakit. EGC, Jakarta.
Snell S.R. 1991. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran bagian 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;. Hal. 115-22, 272-80.
Soeparman, W. S. 1990. Ilmu penyakit dalam. EGC. Jakarta: Hal. 210-2.
Suryadi hikmat,2012,Buku Saku Pemeriksaan Fisik Head to Toe.Sukabumi : LCN Press
Entrepreneur