Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usaha pertanian pada dasarnya adalah memproduksi produk pertanian
secara optimal. Namun terkadang untuk merealisasikan hal ini kita terbentur
beberapa persoalan, diantaranya adalah masalah lahan yang kurang tersedia
padahal kita membutuhkan beberapa jenis tanaman untuk ditanam. Salah satu
terobosan terbaru adalah dengan tehnik budidaya tumpang sari.
Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu
diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh di antaranya
ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit. Penentuan
jenis tanaman yang akan ditumpangsari dan saat penanaman sebaiknya
disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini
dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi secara optimal.
Tinggi dan lebar tajuk antar tanaman yang ditumpangsarikan akan
berpengaruh

terhadap

penerimaan

cahaya

matahari,

lebih

lanjut

akan

mempengaruhi hasil sintesa (glukosa) dan muara terakhir akan berpengaruh


terhadap hasil secara keseluruhan. Antisipasi adanya hama penyakit tidak lain
adalah untuk mengurangi resiko serangan hama maupun penyakit pada pola tanam
tumpangsari. Sebaiknya ditanam tanam-tanaman yang mempunyai hama maupun
penyakit berbeda, atau tidak menjadi inang dari hama maupun penyakit tanaman
lain yang ditumpangsarikan.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu mahasiswa mampu menerapkan teknik
budidaya tanaman semusim dengan pola tanam tumpangsari dan mengelola usaha
tani dengan baik.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pola tanam berganda merupakan sistem pengelolaan lahan


pertanian

dengan

mengkombinasikan

intensifikasi

dan

diversifikasi tanaman (Francis,1989). Pada umumnya sistem

tumpangsari

lebih

menguntungkan

dibandingkan

sistem

monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi, jenis


komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian
sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets,
1982).
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada
lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan
tanaman. Penanaman dengan cara ini dapat dilakukan pada lahan dan waktu yang
sama , dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan
kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbedabeda (Warsana, 2009)
Sistem tanam tumpangsari mempunyai banyak keuntungan yang tidak
dimiliki pada pola tanam monokultur. Beberapa keuntungan pada pola
tumpangsari antara lain: 1) akan terjadi peningkatan efisiensi (tenaga kerja,
pemanfaatan lahan maupun penyerapan sinar matahari), 2) populasi tanaman
dapat diatur sesuai yang dikehendaki, 3) dalam satu areal diperoleh produksi lebih
dari satu komoditas, 4) tetap mempunyai peluang mendapatkan hasil manakala
satu jenis tanaman yang diusahakan gagal dan 5) kombinasi beberapa jenis
tanaman dapat menciptakan beberapa jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas
biologis

sehingga dapat menekan serangan

hama

dan penyakit serta

mempertahankan kelestarian sumber daya lahan dalam hal ini kesuburan


tanah. Sistem

tumpangsari

dapat

meningkatkan

produktivitas

lahan pertanian jika jenis jenis tanaman yang dikombinasikan


dalam sistem ini membentuk interaksi saling menguntungkan
(Vandermeer,1989).
Tumpangsari seumur (inter cropping) merupakan salah satu bentuk dari
pola pertanaman ganda (multiple cropping) yang dilakukan pada sebidang lahan
dengan cara menanam lebih dari satu jenis tanaman secara berselang seling dalam
barisan yang teratur dengan waktu penanaman yang bersamaan. Keteraturan
barisan tanaman akan mempermudah dalam aplikasi tindakan budidaya yang lain

seperti : pengairan, pemupukan, pengendalian organism pengganggu tanaman


(OPT) serta pemanenan.

III.

METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan alat

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini antara lain,


benih kedelai, jagung manis, ubi jalar, kangkung, bawang daun,
bawang merah, bayam, buncis, mentimun pupuk urea, KCl, SP36.
Alat yang diperlukan dalam praktikum ini adalah cangkul,
sabit, tali rafia, roll meter, tugal, sprayer, kantung plastik,
timbangan analitik dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja

1. Rancangan praktikum :
a. Menggunakan rancangan acak kelompok.
b. Faktor yang dicoba dengan 6 jenis sistem pertanaman
tumpangsari yaitu buncis dengan bawang merah, buncis
dengan bawang daun, buncis dengan kedelai, buncis
dengan ubi jalar, buncis dengan bayam, dan buncis dengan
kangkung.
c. Diulang sebanyak 3 kali.
2. Pelaksanaan percobaan :
a. Siapkan alat untuk melakukan pengolahan tanah.
b. Pengolahan tanah dilakukan dua kali. Pengolohan pertama
bertujuan untuk membajak tanah dan menghilangkan
gulma yang tumbuh, pengolahan kedua bertujuan untuk
menggemburkan dan menghaluskan tanah sehingga tanah
menjadi

gembur

dan

rata.

Pengolahan

dilakukan sampai tanah siap untuk ditanami.


c. Kemudian dilakukan penanaman dengan

tanah

kedua

pola

tanam

tumpangsari antara tanaman bawang merah dan buncis.


Penanaman dilakukan serempak.

d. Lalu

dilakukan

pengairan.

Pengairan

bertujuan

agar

tanaman tidak kekurangan air atau kekeringan, tergantung


pada curah hujan hari tersebut.
e. Dalam sela-sela kegiatan yang dilakukan sebelumnya, juga
dilakukan pengendalian hama dan penyakit, misalkan
dengan menggunakan pestisida.
f. Setiap dua minggu dilakukan pengamatan mengenai tinggi
tanaman, jumlah daun, dan hama juga penyakit dari setiap
tanaman sampel yang telah dipilih sebelumnya.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


B. Pembahasan

Deskripsi dan syarat tumbuh tanaman mentimun yaitu berakar


tunggang

dan

berakar

serabut

dimana

akar

tunggangnya

tumbuh lurus kedalam dan akar serabutnya tumbuh menyebar


secara horizontal. Tanaman mentimun memiliki batang berwarna
hijau, berbulu dan panjangnya bisa mencapai 1,5 m, daunnya
berbentuk bulat dengan ujung daun runcing, memiliki tulang
menyirip dan bercabangcabang. Buah mentimun menggantung
dari ketiak antara daun dan batang, biji mentimun berbentuk
pipih dengan kulit berwarna putih.
Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai
lempung berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun
membutuhkan pH tanah di kisaran 6 - 7 dengan ketinggian tempat 100 - 1000
M di atas permukaan laut (dpl). Mentimun juga membutuhkan sinar

matahari terbuka, drainase air lancar dan bukan bekas penanaman mentimun dan
familinya seperti melon, semangka, dan waluh.
Untuk pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar
matahari yang

cukup

dengan

temperatur

optimal

antara

o
o
21 C30 C.

sementara untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 25

o
C35 C. Kelembapan udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun
agar hidup dengan baik adalah antara 50-85%. Sementara curah hujan
optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400 mm/bln, curah hujan yang
terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat berbunga karena
akan mengakibatkan menggugurkan bunga (Wahyudi, 2011).
Tanaman bawang merah berakar serabut dengan sistem perakaran
dangkal dan bercabang terpencar, pada kedalaman antara 15-20 cm di dalam
tanah. Jumlah perakaran tanaman bawang merah dapat mencapai 20-200 akar.
Diameter bervariasi antara 0,5-2 mm. Akar cabang tumbuh dan terbentuk
antara 3-5 akar (AAK, 2004).
Buah berbentuk bulat dengan ujungnya tumpul membungkus biji
sejumlah 2-3 butir. Daun bawang merah bertangkai relatif pendek, berbentuk
bulat mirip pipa, berlubang, memiliki panjang 15-40 cm, dan meruncing pada
bagian ujung.
Daerah yang paling baik untuk budidaya bawang merah adalah
o
o
daerah beriklim kering yang cerah dengan suhu udara 25 C-32 C. Daerah
yang cukup mendapat sinar matahari juga sangat diutamakan, dan lebih baik
jika lama penyinaran matahari lebih dari 12 jam.
Bawang merah dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah dengan
ketinggian tempat 10-250 m dpl. Pada ketinggian 800-900 m dpl bawang
merah juga dapat tumbuh, namun pada ketinggian tersebut yang berarti
suhunya rendah pertumbuhan tanaman terhambat dan umbinya kurang baik
(Wibowo, 2007).
Tanah yang paling baik untuk lahan bawang merah adalah tanah yang

mempunyai keasaman sedikit agak asam sampai normal, yaitu pH-nya antara
6,0-6,8. Keasaman dengan pH antara 5,5-7,0 masih termasuk kisaran
keasaman yang dapat digunakan untuk lahan bawang merah (Wibowo, 2007).
Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri
dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar, sejumlah akar
sekunder, dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil.
Panjang akar tunggang ditentukan oleh berbagai faktor seperti kekerasan tanah,
populasi tanaman, dan varietas. Akar tunggang pada tanaman kedelai dapat
mencapai kedalaman 200 cm. Tanaman kedelai mempunyai kemampuan untuk
membentuk bintil akar yang mampu menambat nitrogen. Bintil akar yang telah
matang akan berwarna merah muda yang disebabkan oleh adanya leghemoglobin
yang diduga aktif menambat nitrogen, sebaliknya bintil akar yang sudah tidak
aktif akan berwarna hijau (Sumarno et al., 2007).
Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai pertambahan umur tanaman,
tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar antara 15--20 buku dengan
jarak 2--9 cm. Batang tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang
tidak bercabang tergantung dari karakter varietas kedelai (Adisarwanto, 2008).
Bunga tanaman kedelai umumnya berwarna putih atau ungu dan mempunyai 5
mahkota dan 4 kelopak.
Tanah yang sesuai untuk usaha tani kedelai adalah tanah yang bertekstur liat
berpasir, liat berdebu berpasir, debu berpasir, drainase baik, mampu menahan
kelembaban tanah, dan tidak mudah tergenang air. Kandungan bahan organik
tanah (3--4%) sangat mendukung pertumbuhan tanaman kedelai (Sumarno et
al.,2007).
Kebutuhan air tanaman berkisar antara 350-550 mm, Suhu yang sesuai bagi
pertumbuhan tanaman kedelai berkisar antara 22-27 C.
Ubi jalar merupakan tanaman ubi ubian dan tergolong tanaman semusim
(berumur pendek) dengan susunan utama terdiri dari batang, ubi, daun, buah dan
biji. Tanaman ubi jalar tumbuh menjalar pada permukaan tanah dengan panjang
tanaman dapat mencapai 3 m, tergantung pada kultivarnya. Batang tanaman
berbentuk

bulat,

tidak

berkayu,

tidak

berbuku-buku

dan

tipe

pertumbuhannya tegak atau merambat. Daun berbentuk bulat sampai lonjong


dengan tepi rata atau berlekuk dangkal sampai berlekuk dalam, sedangkan
bagian ujungnya meruncing (Rukmana, 1997).
Ubi jalar adalah tanaman yang tumbuh baik di daerah beriklim panas dan
lembab, dengan suhu optimum 27C berkelembaban udara 50% 60% dan
lama penyinaran 11-12 jam per hari dengan curah hujan 750 mm 1500 mm per
tahun. Produksi dan pertumbuhan yang optimal untuk usaha petani ubi jalar yang
cocok adalah pada saat musim kemarau (kering). Tanaman ini dapat tumbuh
sampai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ubi jalar masih dapat
tumbuh dengan baik di dataran tinggi (pegunungan) tetapi umur panen
menjadi panjang dan hasil yang didapat rendah (Rukmana, 1997).
Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim
dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas
CO2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi yang tinggi
pada beragam ekosistem. Bayam memiliki siklus hidup yang
relatif singkat, umur panen tanaman ini 3-4 minggu. Sistem
perakarannya adalah akar tunggang dengan cabang-cabang
akar yang bentuknya bulat panjang menyebar ke semua arah.
Umumnya perbanyakan tanaman bayam dilakukan secara
generatif yaitu melalui biji (Hadisoeganda, 1996).
Batang tumbuh tegak, tebal, berdaging
mengandung air, tumbuh tinggi

diatas

dan

banyak

permukaan

tanah.

Daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan


urat-urat daun yang jelas. Bunga bayam berukuran kecil,
berjumlah banyak terdiri dari daun bunga 4-5 buah, benang sari
1-5, dan bakal buah 2-3 buah. Bunga keluar dari ujung-ujung
tanaman atau ketiak daun yang tersusun seperti malai yang
tumbuh tegak. Biji berukuran sangat kecil dan halus, berbentuk
bulat, dan berwarna coklat tua sampai mengkilap sampai hitam
kelam.

Secara umum bayam dapat tumbuh sepanjang tahun, baik


di

dataran

rendah

maupun

dataran

tinggi

(pegunungan).

Tanaman bayam tidak menuntut persyaratan tumbuh

yang

sulit, asalkan kondisi tanah subur, penyiraman teratur, dan


saluran drainase lancar. Bayam juga sangat toleran terhadap
keadaaan yang tidak menguntungkan sekalipun serta tidak
memiliki kriteria jenis tanah tertentu. Akan

tetapi, untuk

pertumbuhan yang baik memerlukan tanah yang subur dan


bertekstur gembur serta banyak mengandung bahan organik.
Derajat keasaman tanah (pH) yang baik untuk tumbuhnya
adalah antara 6-7. Apabila tanaman berada di bawah pH

6,

bayam akan merana. Sedangkan di atas pH 7, tanaman akan


menjadi klorosis (warnanya putih kekuning-kuningan, terutama
pada daun-daun yang masih muda).
Tanaman Buncis termasuk tanaman

semusim

yang

di

bedakan atas dua tipe pertumbuhan, yaitu tipe merambat dan


tipe tegak. Kacang Buncis tipe merambat umumnya berbatang
memanjang setinggi 2-3 meter, sedangkan tipe Buncis tegak
mempuyai batang pendek setinggi 50-60 cm. Batang tanaman
Buncis

umumnya

berbuku-buku,

yang

merupakan

tempat

melekat tangkai daun. Daun Buncis bersifat majemuk, dan helai


daunnya

berbentuk

jorong

segi

tiga

(Rukmana,1994).

Tanaman buncis memiliki akar tunggang yang dapat menembus


tanah sampai pada kedalaman 1 meter. Akar-akar yang tumbuh
mendatar

dari

pangkal

batang

umumnya

menyebar

pada

kedalaman sekitar 60 90 cm. Sebagian akarakarnya mebentuk


bintil-bintil yang merupakan sumber utama unsur Nitrogen dan
sebagian lagi tanpa nodula yang fungsinya antara lain menyerap
air dan unsur hara (Setianingsih dan Khaerodin, 1991).
Kacang buncis termasuk tanaman menyerbuk sendiri, tetapi
persilangan alami sering terjadi meskipun dalam jumlah atau

persentase sangat sedikit. Bunga buncis mekar pada pagi hari


sekitar jam 07.00-0800 WIB. Dari proses-proses penyerbukan
bunga akan dihasilkan buah yang disebut polong. Polong buncis
berbentuk panjang bulat atau panjang pipih dengan panjang
berkisar antara 12-13cm (Rukmana, 1994).
Tanaman Buncis dapat tumbuh baik apabila ditanaman di
dataran tinggi yaitu pada ketinggian 1000-1500 meter dpl.
Namun tidak tertutup kemungkinan untuk di tanam pada daerah
dengan

ketinggian

500-600

meter

dpl.

Temperatur udara yang paling baik untuk tanaman Buncis


berkisar antara 20-500C. Di luar kisaran temperatur tersebut
produksinya

tidak

maksimal.

menghendaki kelembaban
dapat

mengundang

hama

Umumnya

50-60%,
dan

tanaman

Buncis

kondisi terlalu lembab

penyakit

sehingga

dapat

mengancam pertumbuhan tanaman. Tanaman buncis dapat


tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan 1.500 2.500 mm per tahun. Suhu udara yang paling baik untuk
pertumbuhan buncis adalah 20 - 25C. Cahaya matahari
diperlukan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Umumnya
tanaman buncis membutuhkan cahaya matahari yang besar atau
sekitar 400 - 800 footcandles. Oleh karena itu, tanaman buncis
termasuk

tanaman

yang

tidak

membutuhkan

naungan.

Kelembapan udara yang diperlukan tanaman buncis sekitar 50 60 % (sedang). Tanah yang cocok bagi tanaman Buncis adalah
Regosol, Latosol dan Andosol yang merupakan tanah lempung
ringan dan memiliki draenase yang baik. Sifat tanah untuk
Buncis gembur, remah dan keasaman (pH) adalah berkisar 5,5-6.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2004. Pedoman Bertanam Bawang. Kanisius. Yogyakarta.


Adisarwanto, T., 2002. Budidaya Kedelai Tropika. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Beets, W.C. 1982. Multiple Cropping and Tropical Farming
System. Gower Publ. Co., Chicago
Francis, C.A. 1986. Multiple Cropping System. Macmilan Publising
Company, New York
Hadisoeganda, A.W.1996. Bayam: Sayuran Penyangga Petani di
Indonesia. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Bandung.
Rukmana, Rahmat. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat. 1994. Bayam Bertanam & Pengolahan
Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi jalar: Budidaya dan pasca panen.
Kanisius, Yogyakarta.
Setianingsih T dan Khaerodin, 1991. Pembudidayaan Buncis,
Tipe Tegak dan Merambat. Penerbar Swadaya, Jakarta.
Vandermeer, J. 1989. The Ecology on Inter-cropping. Cambridge
University. Press. New York
Warsana, 2009. Introduksi Tanaman Tumpang Sari Jagung
Dengan Kacang Tanah. BPTP Jawa Tengah: Jawa Tengah
Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.