Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian dari sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang


diterapkan pada daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan atau
mengeluarkan air yang masuk daerah penambangan.
Sumber air yang muncul di lokasi tambang dapat berasal dari air
permukaan tanah maupun air bawah tanah. Air permukaan tanah merupakan air
yang terdapat dan mengalir diatas permukaan tanah. Jenis air ini meliputi air
limpasan permukaan, air sungai, rawa atau danau yang terdapat di daerah tersebut,
air buangan (limbah), dan mata air. Sedangkan air bawah tanah merupakan air
yang terdapat dan mengalir dibawah permukaan tanah. Jenis ini meliputi air tanah
dan air rembesan.
Penanganan masalah air pada tambang terbuka dapat dibedakan menjadi :
1. Mine Drainage yang merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke
daerah penambangan. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan air
tanah dan air yang berasal dari sumber air permukaan, seperti air sungai,
danau dan lain lain
2. Mine Dewatering yaitu mengeluarkan air yang berada pada daerah
penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang berasal dari
hujan. Beberapa metode penyaliran mine dewatering adalah sebagai
berikut:

a. Sistem Kolam Terbuka (open sump)


6

Sistem ini diterapkan untuk membuang air yang telah masuk ke


daerah penambangan. Air dikumpulkan pada sumur (sump), kemudian di
pompa keluar.
b. Cara Paritan
Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling
mudah,

yaitu

dengan

pembuatan

paritan

(saluran)

pada

lokasi

penambangan. Pembuatan parit ini bertujuan untuk menampung air


limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air limpasan akan masuk ke
saluran - saluran yang kemudian di alirkan ke suatu kolam penampung
atau di buang langsung ke tempat pembuangan dengan memanfaatkan
gaya gravitasi.
c.

Sistem Adit
Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada tambang
terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran horisontal yang di buat
dari tempat kerja menembus ke shaft yang di buat disisi bukit untuk
pembuangan air yang masuk ke dalam tempat kerja. Pembuangan dengan
sistem ini biasanya mahal, disebabkan oleh biaya pembuatan saluran
horisontal tersebut dan shaft.

2.1

Faktorfaktor yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran


Faktorfaktor yang harus dipertimbangkan dalam mengkaji suatu sistem

penyaliran adalah :
2.1.1

Curah Hujan

Sumber utama air yang masuk ke dalam lokasi tambang pada tambang
tambang terbuka adalah air hujan. Semakin besar air hujan yang masuk ke dalam
tambang semakin besar pula air yang harus ditangani. Debit air tambang yang
akan dikeluarkan dari daerah tambang tersebut adalah banyaknya air hujan yang
jatuh di daerah tangkapan hujan. Besarnya curah hujan dapat dinyatakan sebagai
volume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu ( Arsyad 1989 ), oleh karena
itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam meter kubik per satuan luas,
secara umum dinyatakan dalam tinggi air (mm). Curah hujan 10 mm, berarti
tinggi hujan yang jatuh pada areal seluas 1 m2 adalah 10 mm.
2.1.2

Daerah Tangkapan Hujan ( Catchment Area )


Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian ada yang meresap ke dalam tanah

dan sebagian ada yang mengalir di atas permukaan tanah menuju ke tempat yang
lebih rendah. Daerah Tangkapan Hujan (DTH) adalah daerah tempat air hujan
yang mengalir di permukaan tanah mengumpul dan mengalir menuju tempat yang
lebih rendah. Penentuan daerah tangkapan hujan didasarkan pada peta topografi
daerah yang akan diteliti, dan dibatasi oleh pegunungan serta bukit, pada daerah
yang rendah akan mengumpulkan air hujan sementara dan dibendung. Pada
daerah penelitian, daerah tangkapan hujan meliputi daerah penambangan, daerah
yang sudah dan belum ditambang, bukit dan lembah. Kemudian daerah tersebut
diukur luasnya dengan menggunakan planimeter atau komputer.

2.1.3

Air Limpasan ( Run Off )

Air limpasan adalah bagian dari curah hujan yang mengalir diatas
permukaan tanah menuju sungai, danau atau laut. Aliran tersebut terjadi karena
curah hujan yang mencapai permukaan bumi tidak dapat terinfiltrasi, baik yang
disebabkan oleh karena intensitas curah hujan yang melampaui kapasitas infiltrasi
atau faktor lain misalnya kelerengan, bentuk dan kekompakan permukaan tanah
serta vegetasi.
Faktor faktor yang berpengaruh pada air limpasan:
1.

Curah hujan

: Kedalaman curah hujan, intensitas curah hujan dan

frekuensi hujan
2.

Tanah

: jenis dan bentuk topografi

3.

Tutupan

: Kepadatan, Jenis dan Macam Vegetasi

4.

Luas Daerah Aliran

2.1.4

Jenis Dan Sifat Fisik Tanah


Semua jenis tanah terdiri dari butiran-butiran dan ruang antar butir yang

disebut pori-pori. Sebagian besar pori-pori ini satu dengan yang lainnya saling
berhubungan sehingga dapat dilalui oleh air. Peristiwa lengketnya air diantara
ruangan antar butir atau pori-pori ini disebut rembesan. Sedangkan daya atau
kemampuan tanah atau butiran untuk dilalui oleh air (cairan) disebut
permeabilitas. Permeabilitas untuk setiap jenis tanah berbeda satu dengan yang
lainnya. Di suatu tambang (sumuran terbuka) permeabilitas lapisan tanah di
daerah tambang tersebut penting sekali diketahui untuk memperkirakan jumlah air
yang akan masuk kedalam tambang tersebut.
2.2 Dimensi Saluran Penyaliran

10

Dimensi saluran penyaliran dibuat berdasarkan debit total air yang


mengalir dan harus dapat menampung debit air limpasan maksimum selama
periode ulang hujan yang terjadi.
Berbagai bentuk rancangan saluran penyaliran diantaranya adalah persegi
panjang, segitiga, atau trapesium. Bentuk saluran penyaliran ini disesuaikan
dengan beberapa faktor, yaitu: jenis tanah, kekasaran tanah, mampu menampung
debit air limpasan, dinding saluran harus kuat agar tidak terjadi penggerusan
akibat aliran air.
Beberapa data yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam
merencanakan sistem penyaliran dalam tambang terbuka adalah :
2.2.1

Data Curah Hujan


Dalam perencanaan sistem penyaliran untuk air permukaan pada suatu

tambang, diperlukan suatu prakiraan hujan, yaitu curah hujan dengan periode
ulang tertentu yang ditetapkan sebagai acuan dalam perancangan.
Untuk menentukan prakiraan hujan, perlu dilakukan analisis frekuensi dari
data curah hujan yang tersedia. Makin lama selang waktu pengukuran akan
semakin akurat pula hasil analisis frekuensi. Data curah hujan yang akan dianalisa
adalah besarnya curah hujan harian maksimum.
2.2.2

Periode Ulang Hujan


Periode ulang hujan adalah suatu periode tahun dimana hujan dengan

tinggi intensitas yang sama kemungkinan dapat terjadi lagi sekali dalam batas
periode (tahun). Penetapan periode ulang hujan sebenarnya lebih ditekankan pada
masalah yang perlu diambil, sesuai dengan perencanaan.

11

Faktor resiko digunakan apabila terjadi kerusakan pada sistem penyaliran,


sehingga tidak membahayakan. Salah satu pertimbangan penentuan periode ulang
hujan adalah resiko yang dapat ditimbulkan bila curah hujan melebihi curah hujan
rencana, untuk perancangan sarana penyaliran pada daerah tambang beberapa
harga acuan periode ulang hujan terdapat dalam tabel berikut.
Tabel 2.1. Periode Ulang Hujan untuk Sarana Penyaliran Pada Daerah Tambang
Keterangan
Daerah terbuka
Sarana tambang
Lereng tambang & penimbunan
Sumuran utama
Penyaliran keliling tambang
Pemindahan aliran sungai

Periode ulang hujan (tahun)


0,5
25
5 10
10 15
25
100

Dari tabel diketahui bahwa Periode Ulang Hujan (PUH) untuk beberapa
daerah adalah berbeda satu dengan yang lain.
2.2.3

Hujan Rencana.
Dalam perancangan sistem penyaliran untuk air permukaan pada suatu

tambang, hujan rencana merupakan suatu kriteria utama. Hujan rencana adalah
hujan maksimum yang mungkin terjadi selama umur dari sarana penirisan
tersebut. Hujan rencana ini ditentukan dari hasil analisa frekuensi data curah
hujan, dan dinyatakan dalam curah hujan dengan periode ulang tertentu.
Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam analisa distribusi frekuensi
dan empat jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi yaitu :

1. Distribusi Normal

12

Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss.


Merupakan fungsi densitas peluang normal (PDF = probability density function)
yang paling dikenal yaitu bentuk bell dan disebut sebagai distribusi normal.
Distribusi ini mempunyai rumus :
XT =

+ KT . S.............................................................................................

(2.1)

Dengan,
XT
X

= Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T


= Nilai rata-rata hitung variat

= Deviasi standar variat

KT

= Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang periode ulang dan


tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan.
Nilai faktor frekuensi KT umumnya sudah tersedia dalam tabel untuk

mempermudah perhitungan, yang umum disebut sebagai tabel nilai variabel


reduksi Gauss (variable reduce Gauss). Tabel variabel reduksi Gauss dapat dilihat
pada tabel 2.2.

13

Tabel 2.2. Nilai Variabel Reduksi Gauss


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Periode Ulang, T
(tahun)
1,001
1,005
1,010
1,050
1,110
1,250
1,330
1,430
1,670
2,000
2,500
3,330
4,000
5,000
10,000
20,000
50,000
100,000
200,000
500,000
1000,000

Peluang

KT

0,999
0,995
0,990
0,950
0,900
0,800
0,750
0,700
0,600
0,500
0,400
0,300
0,250
0,200
0,100
0,050
0,020
0,010
0,005
0,002
0,001

- 3,05
- 2,58
- 2,33
- 1,64
- 1,28
- 0,84
- 0,67
- 0,52
- 0,25
0
0,25
0,52
0,67
0,84
1,28
1,64
2,05
2,33
2,58
2,88
3,09

Sumber : Bonnier, 1980 dalam Suripin, 2004.

2.

Distribusi Log Normal


Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara normal, maka X dikatakan

mengikuti distribusi Log Normal. Distribusi ini mempunyai rumus :


YT =

+ KT . S ............................................................................................

Dengan,
YT = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T
Y

= Nilai rata-rata hitung variat


= Deviasi standar nilai variat

(2.2)

14

KT = Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang

dan

tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk analisis


peluang.
Nilai faktor frekuensi dapat dilihat pada tabel harga variabel reduksi Gauss
pada tabel 2.2 di atas ( Suripin, 2004 : 39-41)
3.

Distribusi Log Person Type III


Pada situasi tertentu, walaupun data yang diperkirakan mengikuti

distribusi sudah dikonversi dalam bentuk logaritmis, ternyata kedekatan antara


data dan teori tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemakaian distribusi Log
Normal. Salah satu distribusi dari serangkaian distribusi yang dikembangkan
Person yang menjadi perhatian ahli sumberdaya air adalah Log-Person Type III.
Distribusi probabilitas ini hampir tidak berbasis teori dan masih tetap dipakai
karena fleksibilitasnya. Berikut ini langkah-langah penggunaan distribusi Log
Pearson Type III :
a.

Ubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = Log X ...............................

b.

Hitung harga rata-rata :

(2.3)

Log X

c.

log X
i 1

.................................................................................

(2.4)

Hitung harga Standar Deviasi :

log X
n

i 1

log X

n 1

....................................................................

(2.5)

15

d.

Hitung koefisien kemencengan :


n

n LogXi Log X
i 1

n i n 2 S 3
.....................................................................

e.

(2.6)

Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus :
Log XT = log

+ K. SD .......................................................................

(2.7)

Dimana :
log XT = Curah hujan maksimum dalam PUH (mm/24jam)
log

= Rata rata x

= Deviasi Standar

= Variabel standar
Dimana K adalah variabel standar (standardized variable) atau umum

disebut juga Koefisien Skewness untuk X yang besarnya tergantung koefisien


kemencengan (g). Tabel yang memperlihatkan harga K untuk distribusi LogPerson III dengan berbagai koefisien kemencengan (g) dapat dilihat pada tabel
2.3. (Suripin, 2004 : 41-43).

16

Tabel 2.3. Skew Factor (K) Digunakan Dalam Distribusi Peluang


Log Pearson Type III

Sumber : Soemarto, 1987 dalam Suripin, 2003

17

4.

Distribusi Gumbel
Tahapan-tahapan perhitungan dengan menggunakan metode Gumbel

adalah :
a. Tentukan rata-rata curah hujan (X) maksimum dengan rumus :

CH
n

....................................................................................................

(2.8)

b. Tentukan standar deviasi dengan rumus :

n 1

......................................................................................

(2.9)

c. Tentukan koreksi variansi, dengan rumus :

T 1
Yt In In

T

(2.10)
T = kala ulang (return period)
d. Tentukan koreksi rata-rata dengan rumus :

n 1 m
Yn In In

n 1

YN
Rata-rata Yn,

(2.11)

Yn
N

...................................................................

(2.12)

e. Tentukan koreksi simpangan dengan rumus :


Sn

Yn YN
n 1

.................................................................................. (2.13)

18

f. Tentukan curah hujan rencana dengan rumus :

CHR

S
Yt YN
Sn

............................................................................... (2.14)

(Suwandhi, 2004 : 9).

2.2.4

Intensitas Curah Hujan


Intensitas curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh dalam areal

tertentu dalam jangka waktu yang relatif sangat singkat dinyatakan dalam
mm/dtk, mm/mnt atau mm/jam. Intensitas curah hujan biasanya dinotariskan
dengan huruf I dengan satuan mm/jam, yang artinya tinggi/ kedalaman yang
terjadi adalah sekian mm dalam periode waktu satu jam.
Hubungan antara intensitas hujan, lama hujan, dan frekuensi hujan
biasanya dinyatakan dengan lengkung Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDF =
Intensity Duration Frequency Curve), diperlukan data hujan jangka pendek,
misalnya 5 menit, 10 menit, 30 menit, 60 menit dan jam-jaman untuk membentuk
lengkung IDF (Suripin, 2004 : 66). Untuk itu hanya didapat dari data pengamatan
curah hujan otomatis.
Seandainya curah hujan harian didaerah penelitian diketahui tidak
terdistribusi merata setiap tahun, maka menurut Mononobe (1992), Intensitas
curah hujan dapat dihitung dengan rumus perkiraan intensitas curah hujan untuk
waktu lama waktu hujan sembarang yang dihitung dari data curah hujan harian
yaitu:

19

R 24
I 24

24 t

.................................................................................................. (2.15)
Keterangan:
I

= Intensitas curah hujan (mm/jam)

= lama waktu hujan (jam)

R24

= Curah hujan harian maksimum (mm)


Pengelompokkan keadaan dan intensitas curah hujan berdasarkan pada

lamanya hujan yang turun pada satuan waktu tertentu dan banyaknya curah hujan
yang turun.
Tabel 2.4. Hubungan Antara Derajat Curah Hujan dan Intensitas Hujan
Derajat Hujan
Hujan lemah
Hujan normal
Hujan deras
Hujan sangat deras

Intensitas Hujan
(mm/menit)
0,02 0,05
0,05 0,25
0,25 1,00
> 1,00

Kondisi
Tanah basah semua
Bunyi hujan terdengar
Air tergenang diseluruh permukaan
dan terdengar bunyi dari genangan
Hujan seperti ditumpahkan,
saluran pengairan meluap

Sumber : Sayoga, 1993 dalam Suwandhi, 2004 : 10.

2.2.5

Debit Air Limpasan ( Run Off )


Debit air limpasan ditentukan oleh struktur tanah dalam daerah pengaliran.

Debit dari air limpasan ini digunakan untuk perencanaan sistem penyaliran daerah
pengaliran dengan menggunakan Metode Rasional (1973) :
Q = 0,002778 x C x I x A .............................................................................. (2.16)
keterangan:
Q

= debit air limpasan (m3/detik)

20

= koefisien limpasan

= intensitas curah hujan (mm/jam)

= luas daerah tangkapan hujan (ha)

(Suripin, 2004 : 79)

Tabel 2.5. Harga Koefisien Limpasan


Kemiringan
<3%
datar
3% - 15%
sedang

15%
curam

Jenis lahan
Sawah, rawa
Hutan, perkebunan
Perumahan
Hutan, perkebunan
Perumahan
Semak-semak agak jarang
Lahan terbuka, daerah timbunan
Hutan
Perumahan
Semak-semak agak jarang
Lahan terbuka, daerah tambang

C
0,2
0,3
0,4
0,4
0,5
0,6
0,7
0,6
0,7
0,8
0,9

Sumber : Rudy Sayoga, 1993 dalam Suwandhi, 2004 : 10

Dari harga koefisien limpasan di atas, maka koefisien air limpasan tiap
jenis lahan berbeda-beda nilainya.

2.3

Uji Chi Kuadrat


Uji chi kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah metode yang

digunakan dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisa.


Pengambilan keputusan ini menggunakan parameter X2 karena itu disebut uji chi
kuadrat (Suripin, 2003 : 57), yang dapat dihitung dengan rumus berikut :

21

Of Ef 2

t 1

Ef
....................................................................................................

(2.17)

Dimana :
X2

= nilai Chi Kuadrat terhitung

Ef

= frekuensi (banyaknya pengamatan) yang diharapkan sesuai dengan

pembagian

kelasnya.
Of

= frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama.

= jumlah sub kelompok dalam satu grup.

(Bambang Triadmodjo, 2004 : 231-232).

Parameter X2 merupakan variabel acak. Peluang untuk mencapai nilai X2


sama atau lebih besar dari nilai chi kuadrat yang diharapkan dapat dilihat pada
Tabel 2.4.
Tabel 2.6. Nilai Chi Kuadrat Kritik
dk
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

0,995
0,0000393
0,0100
0,0717
0,207
0,412
0,676
0,989
1,344
1,735
2,156
2,603
3,074
3,565
4,075
4,601
5,142
5,679
6,265
6,844
7,434
8,034
8,643
9,260
9,886

0,99
0,000157
0,0201
0,115
0,297
0,554
0,872
1,239
1,646
2,088
2,558
3,053
3,571
4,107
4,660
5,229
5,812
6,408
7,015
7,633
8,260
8,897
9,542
10,196
10,856

derajat kepercayaan
0,975
0,95
0,05
0,000982
0,00393
3,481
0,0506
0,103
5,591
0,216
0,352
7,815
0,848
0,711
9,488
0,831
1,145
11,070
1,237
1,635
12,592
1,690
2,167
14,017
2,180
2,733
15,507
2,700
3,325
16,919
3,247
3,940
18,307
3,816
4,575
19,675
4,404
5,226
21,026
5,009
5,892
22,368
5,629
6,571
23,685
6,262
7,261
24,996
6,908
7,962
26,296
7,564
8,672
27,587
8,231
9,390
28,869
8,907
10,117
30,144
9,591
10,851
31,410
10,283
11,591
32,671
10,982
12,338
33,924
11,689
13,091
35,172
12,401
13,848
35,415

0,025
5,024
7,378
9,348
11,143
12,832
14,449
16,013
17,535
19,023
20,483
21,920
23,337
24,736
26,119
27,488
28,845
30,191
31,526
32,852
34,170
35,479
36,781
38,076
39,364

0,01
6,635
9,210
11,341
13,277
15,086
16,812
18,475
20,090
21,666
23,209
24,725
26,217
27,688
29,141
30,578
32,000
33,409
34,805
36,191
37,566
38,932
40,289
41,638
42,980

0,005
7,879
10,597
12,838
14,860
16,750
18,548
20,278
21,955
23,589
25,188
26,757
28,300
29,819
31,319
32,801
34,267
35,718
37,156
38,582
39,997
41,401
42,796
44,181
45,558

22

25
10,520
11,524
13,120
26
11,160
12,198
13,844
27
11,808
12,879
14,573
28
12,461
13,565
15,308
29
13,121
14,256
16,047
30
13,787
14,953
16,791
Sumber : Bonnier, 1980 dalam Soewarno, 1995

14,611
15,379
16,151
16,928
17,708
18,493

37,652
38,885
40,113
41,337
42,557
43,775

40,646
41,923
43,194
44,461
45,722
46,979

44,314
45,642
46,963
48,278
49,588
50,892

46,928
48,290
49,645
50,993
52,336
53,672

Prosedur uji chi kuadrat adalah sebagai berikut :


1. Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya),
2. Kelompokkan data menjadi N sub-grup yang masing-masing beranggotakan
minimal 4 data pengamatan,
3. Jumlahkan data pengamatan sebesar Of tiap-tiap sub-grup,
4. Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ef,

Of Ef 2
5. Pada tiap sub-grup hitung nilai (Of Ef)2 dan

Ef

Of Ef 2
6. Jumlah seluruh N sub-grup nilai

Ef

untuk menentukan nilai chi

kuadrat hitung,
7. Tentukan derajat kebebasan, dk = N R 1 (nilai R = 2 untuk distribusi
normal dan binomial), k adalah banyak kelas.
(Suripin, 2004 : 58).

Interpretasi hasil uji chi kuadrat adalah sebagai berikut :


1.

Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan
dapat diterima.

23

2.

Apabila peluang kurang dari 1 %, maka persamaan distribusi yang


digunakan tidak dapat diterima.

3.

Apabila peluang berada diantara 1 % - 5 %, maka tidak mungkin


mengambil keputusan, misal perlu data tambahan.
Dari hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi diperoleh suatu debit

rencana, yang kemudian debit ini bisa dipakai dalam perencanaan penyaliran
(Suwandhi, 2004 : 9).

2.4

Bentuk Dan Dimensi Saluran Penyaliran


Dalam merancang bentuk saluran air, saluran air tersebut harus dapat

memenuhi hal-hal sebagai berikut:


Dapat mengalirkan debit air yang direncanakan
b.

Kecepatan air sedemikian sehingga tidak terjadi pengendapan

c.

Kecepatan air sedemikian sehingga tidak merusak saluran

d.

Mudah dalam menggali saluran


Bentuk penampang saluran air umumnya dipilih berdasarkan debit air,
tipe material pembentuk saluran, serta kemudahan dalam pembuatannya.
Perhitungan kapasitas pengaliran suatu saluran air dihitung dengan
menggunakan :
2.4.1

Rumus Chezy (1769)

V C RS

.................................................................................................. (2.18)

Keterangan :
V

= kecepatan rata-rata (m3/detik)

= kemiringan dasar saluran

24

= faktor tahanan aliran yang disebut koefisien Chezy

(Suripin, 2004 : 142)

2.4.2

Rumus Manning (1889)


Robert Manning (1889) mengemukakan sebuah rumus berikut :

1
R6

n
...................................................................................................... (2.19)

2 1

1
V R 3S2
n

Dengan koefisien tersebut maka rumus kecepatan aliran

menjadi :

.................................................................................................. (2.20)
Dari persamaan tersebut kemudiaan diperoleh persamaan :
2

Q A

1
R 3 S2
n
..................................................................................... (2.21)

Keterangan:
Q

= debit air yang masuk tambang

= luas penampang basah (m2)

= koefisien kekasaran dinding/saluran menurut manning

= jari-jari hidrolis (m)

= kemiringan dasar saluran

25

Tabel 2.7. Harga Koefisien Manning


Bahan
Besi tuang lapis
Kaca
Saluran beton
Bata lapis mortar
Pasangan batu disemen
Saluran tanah bersih
Saluran tanah
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput
Saluran pada galian batu padas

Koefisien Manning ( n )
0,014
0,010
0,013
0,015
0,025
0,022
0,030
0,040
0,040

Sumber : Bambang Triatmodjo, 1995 : 113

Gambar 2.1. Bentuk-bentuk Penampang Saluran Penyaliran


(a) Penampang segitiga:

d
= 90

A=d

P=

2d 2

2 2
R=

(b) Penampang segi empat:


A = 2d2

b = 2d

P = 4d

R=d

(c) Penampang trapesium:

= 60

A=

2d 2

2 3d
P=

R=d

26

Keterangan:
P

= keliling penampang basah

= tinggi penampang basah


Bentuk yang paling umum dipakai adalah bentuk trapesium. Keuntungan

dari bentuk penampang trapesium :


1. Dapat mengalirkan debit air yang besar
2. Tahan terhadap erosi
3. Tidak terjadi pengendapan di dasar saluran
4. Mudah dalam pembuatan
Saluran bentuk penampang trapesium merupakan bentuk kombinasi antara
bentuk segitiga (triangular) dan segiempat (rectanguler) dan paling umum
digunakan untuk saluran yang berdinding tanah yang tidak dilapisi sebab stabilitas
kemiringan dindingnya dapat di sesuaikan.
Dalam menentukan dimensi saluran penyaliran berbentuk trapesium yang
paling efisien maka luas penampang basah saluran (A), jari-jari hidrolis (R),
kedalaman aliran (h), lebar dasar saluran (b), panjang sisi saluran dari dasar ke
permukaan (a), lebar permukaan aliran (B), dan kemiringan dinding saluran (m) =
1/tg mempunyai hubungan sebagai berikut:
A

= b.d + md2

= 0,5 d

= b + 2 md

b/d

= 2 {(1 + m2)0,5-m}

= d/sin

27

Untuk dimensi saluran penyaliran berbentuk trapesium dengan luas


penampang basah paling ekonomis akan didapat bila sudut kemiringan dinding
saluran dibuat sebesar 60o, maka:
m

= 1/tg
= 1/tg 60o
= 0,58

sehingga harga b/d adalah:


b/d = 2 {(1 + m2)0,5-m}
= 2 {(1 + 0,582)0,5-0,58}
= 1,1521

Gambar 2.2. Penampang Saluran Penyaliran Bentuk Trapesium


Untuk menghitung volume air yang dapat ditampung sump dapat
menggunakan rumus luas trapesium dikalikan lebar sump sebagai berikut :

28

Volume Sump = (

1
2

x (t + b) x d) x L........................................................... (2.22)

Dimana :
t = panjang permukaan sump (m)
b = panjang dasar sump (m)
d = tinggi sump/kedalaman sump (m)
L = lebar permukaan sump (m)
e = lebar jenjang karena adanya slope (m)
(Negoro dkk, 2001 : 32).

Kemiringan dasar saluran ditentukan dengan pertimbangan bahwa suatu


aliran dapat mengalir secara alamiah tanpa adanya pengendapan lumpur pada
dasar saluran tersebut. Menurut Pf Heder (surface miring), kemiringan saluran
antara 0,25 0,5% cukup untuk mencegah terjadinya pengendapan lumpur.
Dalam hal ini maka harga S = (0,5%) yang merupakan syarat agar tidak terjadi
pengendapan partikel padatan.

2.5

Sumuran (Sump)
Sumuran (Sump) berfungsi sebagai tempat penampungan air limpasan

sebelum dipompa keluar tambang dan dapat berfungsi sebagai pengendap lumpur
alami. Dengan demikian dimensi sumuran ini sangat tergantung dari jumlah air
yang masuk serta keluar dari sumuran (Suwandi, 2004:12).
Dalam pelaksanaan kegiatan penambangan biasanya dibuat sumuran
sementara yang disesuaikan dengan keadaan kemajuan medan kerja (front)

29

penambangan. Jumlah air yang masuk kedalam sumuran merupakan jumlah air
yang dialirkan oleh saluran-saluran, jumlah limpasan permukaan yang langsung
mengalir kesumuran serta curah hujan yang langsung jatuh kesumuran.
Sedangkan jumlah air yang keluar dapat dianggap sebagai yang berhasil dipompa,
karena penguapan dianggap tidak terlalu berarti. Dengan melakukan optimalisasi
antara input (masukan) dan output (keluaran), maka dapat ditentukan volume dari
sumuran.

Volume
(m3)

Vol. pemompaan (m3)

Vol. Intensitas hujan (m3)

x = selisih vol. Terbesar


= volume sumuran

Waktu pemompaan (Jam)

Gambar 2.3. Grafik Penentuan Volume Sumuran Air Tambang


2.6

Pemompaan

30

Pompa dalam penyaliran berfungsi untuk memindahkan air dalam kolam


penampungan kemudian disalurkan keluar tambang menuju settling pond.
Pemilihan jenis pompa ditentukan berdasarkan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2.6.1

Kecepatan air yang dipompakan


Tinggi angkatan dari titik penampungan ke pembuangan
Ketinggian tempat pengoperasian pompa
Tinggi pompa diatas permukaan air yang akan dipompa
Ukuran pipa yang akan digunakan
Jumlah , ukuran , jenis, sambungan dan katup
Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemompaan adalah :
Kecepatan aliran dalam pipa
Kecepatan aliran dalam pipa dipengaruhi oleh debit / kapasitas pompa dan

diameter pipa sehingga dirumuskan :


V

Q
A

(2.23)

Keterangan:
V

= kecepatan aliran dalam pompa ( m3/dtk )

= Kapasitas / debit aliran pompa ( m3/detik )

= Luas Penampang ( m2 )

2.6.2

Head Total Pompa


Head total pompa yang harus diatasi untuk mengalirkan jumlah air seperti

yang direncanakan yaitu dari sump ke permukaan, dapat ditulis sebagai berikut :
H = Hc + Hv + Hf + Hl ................................................................................... (2.24)
Keterangan:
H

= Head Total Pompa

Hc

= Beda tinggi flens isap dan flens keluar (m)

31

1.

Hv

= Head kecepatan keluar (m)

Hf

= Kerugian gesekan sepanjang pipa (m)

Hl

= Kerugian akibat belokan, katup-katup, dan sambungan (m)

Head Statis Pompa


Head perbedaan kerugian antara pipa isap dengan pipa keluar
Hc = h2 h1 ................................................................................................... (2.25)

Keterangan :
Hc

= Head statis (m)

h2

= Elevasi air keluar

h1

= Elevasi air masuk


2. Head Kecepatan Keluar (Hv)

v2
Hv
2.g
................................................................................................. (2.26)
Keterangan :
Hv

= Head kecepatan keluar

= Kecepatan air melalui pompa (m/det)

= Gaya gravitasi bumi (m/det)


3. Head Kerugian Gesekan Pipa ( Hf )
H f fx

L v2
D 2.g

.............................................................................................. (2.27)

32

Keterangan:
Hf

= head kerugian gesekan pipa

= faktor kekasaran pipa

= diameter pipa ( m )

= Panjang pipa ( m )

= Kecepatan rata-rata aliran dalam pipa ( m/det )

= percepatan gravitasi bumi (m/det2)

Tabel 2.8. Koefisien kekasaran beberapa jenis pipa

Bahan
Baja : baru
lapisan pelastik non poros
Besi tuang : baru
lapisan bituman
lapisan semen

Koefisien kekasaran pipa (mm)


0,01
0,03
0,1 1,00
0,03 0,10
0,03 0,10

Polyethylene
Kuningan, tembaga

0,03 0,10
0,10

Aluminium baru

0,15 0,16

Beton : baru centrifuge


baru rata
tanah yang telah diolah
Semen asbes baru
Bahan dari batu/kaca

0,03
0,20 0,50
1,00 2,00
0,03 0,10
0,10 1,00

Sumber : Bambang Triadmodjo, 1996

4. Kerugian Head Belokan, Katup dan Sambungan

33

v2
H l fx
2.g
............................................................................................... (2.28)
Keterangan:
Hl

= Kerugian head belokan, katup dan sambungan

= Koefisien kerugian

= kecepatan air dalam pipa ( m / detik )

= percepatan gravitasi ( 9,8 m/dtk 2 )

( Suwandi , 2004 : 14-16)

Untuk mempermudah hitungan maka nilai koefisien pipa untuk belokan


dan koefisien kerugian dari katup, dapat dilihat pada tabel 2.7 dan tabel 2.8.

Tabel 2.9. Koefisien Kerugian Belokan Pipa

halus
F
kasar

5
0,016
0,024

10
0,034
0,44

15
0,042
0,062

22,5
0,066
0,154

30
0,130
0,165

45
0,236
0,320

60
0,471
0,684

90
1,129
1,265

Sumber : Sularso dan Tahara, 1987: 34

Tabel 2.10. Koefisien Kerugian Saringan


Diameter Pipa
Koef. Saringan

100
1,97

Sumber : Sularso dan Tahara, 1987 : 39

5. Waktu pemompaan

150
1,91

200
1,84

250
1,78

300
1,72

34

V
Qp
...................................................................................................... (2.29)

Keterangan:
t

= waktu pemompaan ( jam )

= volume lintasan ( m3 )

Qp

= debit pompa yang tersedia ( m3 / dtk )

2.6.3

Daya Air (Pw)


Daya air adalah energi yang efektif diterima oleh air dari pompa per satuan

waktu.
Pw QH

.................................................................................................... (2.30)
Keterangan :
Pw

= Daya air (kW)

= Berat air per satuan volume (kN/m3)

= Head total pompa (m)

(Sularso dan Tahara, 1987 : 53)

2.6.4

Daya Poros
Daya poros yang diperlukan untuk mengerakkan sebuah pompa sama

dengan daya air ditambah kerugian daya di dalam pompa. Daya ini dapat
dinyatakan sebagai berikut :
Pw
P
p
.......................................................................................................... (2.31)
Keterangan :
Pw
= Daya poros sebuah pompa (kW)
p
= Efisiensi pompa (pecahan)

35

(Sularso dan Tahara, 1987 : 53)

2.6.5

Debit Pompa
Untuk memperkirakan debit pemompaan dihitung dengan Metode

Discharge. Langkah kerja metode ini yaitu buat alat ukur berbentuk L seperti
terlihat pada Gambar 3.4. Sisi yang pendek berukuran 4 inchi dan sisi yang lebih
panjang merupakan panjang kekuatan air (X) dinyatakan dalam satuan mm.
Ketika air mengalir keluar dari pipa, letakan sisi L yang panjang pada bagian atas
pipa yang ditentukan pada saat sisi yang pendek menyentuh aliran air seperti yang
terlihat pada gambar. Kemudian catat panjang X. Tabel 2.11. menampilkan
hubungan antara panjang X dan diameter pipa (d) yang menentukan besar debit
pompa (Cassidy, 1973 : 174-176).

Sumber : Cassidy, 1973 : 176 dalam Ana Wahdiana, 2009

Gambar 2.4. Pengukuran Debit Pompa dengan Metode Discharge

Tabel 2.11. Pengukuran Debit Pompa Berdasarkan Panjang X


dengan Panjang Sisi Pendek Alat Ukur 4 inchi

36

Panjang
X (inchi)
4

1
5,7

1
9,8

1
13,3

7,1

12,2

16,6

8,5

14,7

20,0

10,
0
11,3

17,1

23,2

19,6

26,5

12,
8
14,
2
15,
6
17,
0
18,
5
20,
0
21,
3
22,
7

22,0

29,8

24,5

33,2

27,0

36,5

29,0

40,0

31,5

43,0

34,0

46,5

36,3

50,0

39,0

53,0

41,5

56,5

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

60,0

2
22,
0
27,
5
33,
0
38,
5
44,
0
49,
5
55,
5
60,
5
66,
0
71,
5
77,
0
82,
5
88,
0
93,
0
99,
0
110

Debit Pompa (Gpm)


Diameter Pipa (inchi)
2
3
4
5
31,3 48,
83,
5
5
39,0 61, 104 16
0
3
47,0 73, 125 19
0
5
55,0 85, 146 22
0
8
62,5 97, 166 26
5
0
70,0 110 187 29
3
78,2 122 208 32
6
86,0 134 229 36
0
94,0 146 250 39
0
102 158 270 42
5
109 170 292 45
6
117 183 312 49
0
125 196 334 52
0
133 207 355 55
0
144 220 375 59
0
148 232 395 62
0
156 244 415 65
0
256 435 68
5
460 72
0
75
0

24

10

12

285
334

580

380

665

430

750

476

830

525

915

570

100
0
108
0
1160

620
670
710
760
810
860
910
950
100
0
105
0
1100
1140

125
0
133
0
141
0
150
0
158
0
166
0
175
0
183
0
191
0
200
0

106
0
1190
133
0
146
0
160
0
173
0
186
0
200
0
212
0
226
0
239
0
252
0
266
0
280
0
292
0
306
0
320
0

166
0
185
0
220
0
222
0
240
0
259
0
278
0
296
0
314
0
333
0
350
0
370
0

Sumber : Cassidy, 1973 : 174-175 dalam Ana Wahdiana, 2009.

Dalam perkembangan metode discharge, dilakukan modifikasi pada alat


ukur yang digunakan yaitu dengan mengubah panjang sisi yang pendek menjadi
300 mm. Cara pengukuran debit sama dengan apabila menggunakan alat ukur

37

dengan sisi pendek 4 inchi. Nilai pengukuran debit pompa menggunakan alat ukur
dengan panjang sisi yang pendek 300 mm ditampilkan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Pengukuran Debit Pompa Berdasarkan Panjang X
dengan Panjang Sisi Pendek Alat Ukur 300 mm

Sumber : Engineering PT Pamapersada Nusantara Distrik KCMB, 2010

2.6.6

Water Balance
Hubungan antara aliran masuk, kapasitas pompa dan/atau aliran keluar dan

kapasitas tampungan dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

38

Qi Q o

d
dt

................................................................................................ (2.32)

Dimana :
Qi

= debit masuk (m3/dtk)

Qo

= debit keluar atau kapasitas pompa (m3/dtk)

dt

= volume tampungan (m3)


= waktu pemompaan (detik)

(Suripin, 2003 : 206)