Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PAJAK PENGHASILAN

OLEH KELOMPOK II :
IMANUEL PUNGUS

14400 032

WIDYA APRILIA MANDEY

14400 075

VIRNIA RISKA MANUSAMA

14400 083

YESINTA PUSUNG

14400 070

DIANOVITTA. R. TAMPANGUMA
PAULUS LOMBOK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA


FAKULTAS HUKUM

MANADO

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada TUHAN YANG MAHA ESA, karena
atas berkat dan rahmat-Nya-lah maka kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat
waktu.
Berikut ini kami

mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Pajak

Panghasilan (PPh)", yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi
kita guna lebih mengetahui ruang lingkup yang terdapat pada Pajak penghasilan.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat
kurang tepat
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga TUHAN YANG MAHA ESA memberkati makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat.

Manado,

November 2013

Kelompok II

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A. Latar Belakang...................................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah dan Tujuan............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
Pengertian PPh Pasal 21........................................................................................................ 3
Penghasilan yang di potong menurut pasal 21....................................................................... 3
Penghasilan yang PPh pasal 21-nya Ditanggung Pemerintah..................................................... 4
Cara Menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21............................................................................ 6
Pengertian PPh Pasal 22......................................................................................................... 6
Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 22........................................................................................ 7
Tarif PPh Pasal 22....................................................................................................................... 9
Pengecualian pemungutan............................................................................................................11
Saat Terutang dan Pelunasan/Pemungutan PPh Pasal 22............................................................12
Tata cara pemungutan...................................................................................................................15
Cara menghitung pph...................................................................................................................15
BAB III PENUTUP............................................................................................................. 13
A. Kesimpulan............................................................................................................................. 13
B. Saran....................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pajak merupakan sumber penerimaan Negara yang digunakan untuk
membiayai kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi
individu seperti kepentingan rakyat, pendidikan, kesejahteraan rakyat, kemakmuran
rakyat dan sebagainya. Sehingga pajak merupakan salah satu alat untuk mencapai
tujuan Negara.
Pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah merupakan sumber terpenting dari
penerimaan Negara. Lagipula penerimaan Negara dari pajak dapat dijadikan indicator
atas peran serta masyarakat (sebagai subjek pajak) dalam kontribusinya melakukan
kewajiban perpajakan, karena pembayaran pajak yang dilakukan akan dikembalikan
lagi kepada masyarakat dalam bentuk tidak langsung, dan berupa pengeluaran rutin
dan pembangunan yang berguna bagi rakyat.
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya dan sumber daya
alamnya. Pada saat ini, Indonesia mengalami perkembangan yang mendorong
pemerintah untuk melakukan perubahan di segala sector demi meningkatkan
pendapatan atau kas Negara guna membiayai pembangunan dan biaya biaya
Negara.dalam rangka menyelenggarakan perubahan tersebut, pastilah memerlukan
dana yang tidak sedikit, dana tersebut berasal dari APBN dan APBD, dimana sebagian
besar bersumber pada penerimaan pajak. Dalam hal ini menjelaskan bahwa pajak
memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di
dalam pelaksanaan pembangunan. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan
Negara yang ada untuk membiayai pengeluaran termasuk pengeluan untuk
meningkatkan pembangunan.
Indonesia memiliki beraneka ragam kekayaan yang sangat kuat oleh sebab itu
sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam membangun
pertumbuhan ekonomi untuk menunjang segala kebutuhan dalam negeri. Namun pada
kenyataannya Indonesia pada saat ini hanya mampu menjadi penonton ditengah
persaingan global yang begitu selektif.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan pada makalah
ini adalah :
1. Apa pengertian secara keseluruhan tentang pajak penghasilan menurut pasal 21?
2. Apa pengertian secara keseluruhan tentang pajak penghasilan menurut pasal 22?

C. TUJUAN
Makalah ini disusun dengan maksud sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Pajak.
2. Untuk lebih memahami secara mendalam mengenai Pajak penghasilan dari
pasal 21 dan pasal 22

BAB II

PEMBAHASAN

1. PAJAK PENGHASILAN MENURUT PASAL 21


A. Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 21
PPh Pasal 21 merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah,
honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun
sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh
wajib pajak orang pribadi dalam negeri.
B. Subjek Pajak PPh Pasal 21 (Wajib Pajak PPh Pasal 21)
Wajib pajak yang dipotong PPh pasal 21 dan/atau PPh pasal 26 adalah orang pribadi
yang merupakan :
1.

Pegawai.

2.

Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua,

atau jaminan hari tua termasuk ahli warisnya.


3.

Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan

dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.


C. Yang tidak termasuk Wajib Pajak PPh Pasal 21 yaitu :
1.

Pejabat perwakilan diplomatic dan konsulat atau pejabat lain dari Negara asing

dan orang orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan warga Negara Indonesia dan
di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau
pekerjaannya tersebut, serta Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal
balik.
2.

Pejabat perwakilan organisasi internasional dimaksud dalam pasal 3 ayat (1)

huruf c Undang Undang Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh Menteri
Keuangan, dengan syarat bukan warga Negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha
atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
D. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21
Pemotong PPh pasal 21 adalah setiap orang pribadi atau badan yang diwajibkan oleh
UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan
UU No. 17 tahun 2000 dan terakhir UU No 36 tahun 2008 untuk memotong PPh Pasal

21. Termasuk pemotong PPh Pasal 21 dalam peraturan Menteri Keuangan No.
252/KMK.03/2008 adalah :
1.

Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat

maupun cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai atau
bukan pegawai.
2.

Bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk bendahara atau pemegang

kas yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain
dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan,
jasa dan kegiatan.
3.

Dana pensiun, badan penyelenggara jaminan social tenaga kerja dan badan

badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua.
4.

Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan

yang membayar:
a.

Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa dan

atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status subjek pajak dalam
negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak
untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya.
b.

Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan

dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status subjek pajak luar negeri.
c.

Honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan dan magang.

d.

Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat

nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi, serta lembaga lainnya yang
menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah atau penghargaan
dalam bentuk apapun kepada wajib pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan
dengan suatu kegiatan.

Yang tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk
melakukan pemotongan pajak adalah :
1.

Kantor Perwakilan Negara Asing.

2.

Organisasi organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat

(1) huruf c Undang Undang Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh Menteri

Keuangan.
3.

Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan

bebas yang semata mata mempekerjakan orang pribadi untuk melakukan pekerjaan
rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.
4.

Dalam hal organisasi internasional tidak memenuhi kebutuhan tersebut,organisasi

internasional dimaksud merupakan pemberi kerja yang berkewajiban melakukan


pemotongan pajak.
E. Penghasilan Yang Dipotong PPh Pasal 21 (Objek Pajak PPh Pasal 21)
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah :
1.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap, baik berupa penghasilan

yang bersifat teratur maupun tidak teratur;


2.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima paensiun secara teratur

berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;


3.

Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan

sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon,
uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua dan pembayaran lain
jenis;
4.

Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah

mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan;
5.

Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan

imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan;


6.

Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang representasi,

uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk
apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun;

7.

Penerimaan dalam bentuk antara dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan

dalam bentuk apapun yang diberikan oleh :


a.

Bukan Wajib Pajak;

b. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final; atau
c.

Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma penghitungan

khusus (deemed profit)


Penghasilan yang PPh pasal 21-nya Ditanggung Pemerintah
PPh ditanggung pemerintah terdiri atas :
1.

PPh yang terutang atas penghasilan teratur atau gaji yang diterima oleh Pegawai

Negeri Sipil.
2.

PPh yang terutang atas penghasilan yang diterima oleh karyawan asing yang

bekerja pada kontraktor ,konsultan, dan pemasok utama atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh karena pekerjaan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan
proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah.
3.

PPh atas penghasilan pekerja pada kategori usaha tertentu.

F. Cara Menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21


PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong Pajak secara umum diformulasikan
sebagai berikut :
Tarif PPh Pasal 21
Beberapa tarif berikut ini digunakan sebagai dasar menghitung PPh Pasal 21 :
a.

Tarif Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah

terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, dengan ketentuan sebagai


berikut :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Rp0,00 s/d Rp50.000.000,00

5%

Di atas Rp50.000.000,00 s/d Rp250.000.000,00


Di atas Rp250.000.000,00 s/d Rp500.000.000,00

15%
25%

Di atas Rp500.000.000,00

30%

b. Tarif 5% (lima persen)


c.

Tarif 15% (lima belas persen)

d. Tarif khusus
Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang
tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) menjadi lebih tinggi 20% (dua
puluh persen) daripada tariff yang ditetapkan terhadap wajib Pajak yang dapat
menunjukkan NPWP.
Contoh :
Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp75.000.000,00
Pajak Penghasilan yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang memiliki NPWP
adalah :
5% x Rp50.000.000,00

Rp 2.500.000,00

15% x Rp25.000.000,00
Jumlah

Rp 3.750.000,00 (+)

Rp 6.250.000,00

Pajak Penghasilan yang harus dipotong jika Wajib Pajak tidak memiliki NPWP
adalah :
5% x 120% x Rp50.000.000,00
15% x 120% x Rp25.000.000,00
Jumlah

Rp 3.000.000,00
Rp 4.500.000,00 (+)

Rp 7.500.000,00

2. PAJAK PENGHASILAN MENURUT PASAL 22


A. Pengertian pajak penghasilan pasal 22
PPh Pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan atas pembelian barang,
impor barang dan pembelian / penjualan barang di bidang usaha tertentu. Oleh
karena itu yang dikenakan pemungutan PPh pasal 22 adalah pemasok barang
kepada pemerintah, importer, dan pemasok / pembeli barang dari badan badan
tertentu.
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh:
1. Bendahara Pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembagalembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang;

2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan


kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.
3. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.

B.

Objek dan Pemungut PPh Pasal 22


Berikut merupakan objek dan pemungut PPH Pasal 22, antara lain :
No.
1

Objek
Pemungut
Pembelian Barang oleh Bendaharawan Pihak yang membayar / membeli:
Pemerintah dan DJA ( Direktorat Jenderal

Bendaharawan Pemerintah

Anggaran )
DJA
Pembelian barang oleh BUMN/BUMD BUMN/D
2

yang bersumber dari dana APBN dan atau


APBD
Pembelian barang oleh badan tertentu yang Badan tertentu

bersumber dari dana APBN maupun non


APBN
Impor Barang :
Dilakukan oleh importer yang memiliki

API

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (


DJBC )
Bank Devisa

Dilakukan oleh importer yang tidak


memiliki API
Yang tidak dikuasai ( lelang)
Pembelian bahan untuk industri tertentu Industri tertentu yang bergerak di

6
7
8

atau eksportir dari pedagang pengumpul

bidang

pertanian,

perkebunan

dan

perikanan
Penjualan bahan bakar minyak, gas, dan Produsen atau importer bahan bakar
pelumas
Penjualan barang yang tergolong mewah

minyak, gas, dan pelumas


Wajib Pajak Badan yang melakukan

Penjualan hasil industry tertentu :

penjualan tersebut
Industry tertentu yang menjual

Kertas
Baja
Otomotif
Semen

Rokok

C.

Tarif PPh Pasal 22


Berikut merupakan tariff PPH Pasal 22, antara lain :
No.
1

Objek
Pembelian barang yang dilakukan oleh DPJB, Bendahara Pemerintah,
BUMN/D, dan badan tertentu
Impor Barang:

1,5%

Yang menggunakan API

2,5%

Yang tidak menggunakan API

7,5%

Yang tidak dikuasai ( Lelang )


Pembelian bahan bahan untuk keperluan industry / ekspor dari pedagang
pengumpul
Penjualan oleh pertamina :
Premium, Solar, Premix, Super TT
Minyak Tanah, LPG, Pelumas
Penjualan oleh Selain Pertamina:

Tarif

Premium, Solar, Premix, Super TT

7,5%
2,5%

0,25%
0,3%
0,3%

Minyak tanah, LPG, Pelumas


0,3%
Penjualan hasil industry tertentu :

Kertas

0,1%

Baja

0,3%

Otomotif

0,45%

Semen

0,25%

Rokok

0,15%

Selain tarif di atas, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253/PMK.03/2008 tanggal 31


Desember 2008 juga mengatur tentang wajib pajak badan tertentu sebagai pemungut PPh
pasal 22 atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah yaitu wajib pajak badan yang
melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah, diantaranya :

a.

Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari Rp20.000.000.000,00 (Dua Puluh
Miliar Rupiah)

b.

Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh
Miliar Rupiah)

c.

Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari
Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah) dan luas bangunan lebih dari 500 m2

d.

Apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan harga jual atau pengalihannya lebih dari
Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah) dan/atau bangunan lebih dari 400 m2

e.

Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari 10 orang berupa sedan.
Jeep, sport utility vehicle (SUV), multi purpose vehicle (MPV), minibus dan sejenisnya
dengan harga jual lebih dari Rp5.000.000.000,00 (Lima Miliar Rupiah) dan dengan kapasitas
silinder lebih dari 3.000 cc. Sebesar 5% dari harga jual tidak termasuk PPN dan PPnBM.

Selain tarif pajak yang tercantum di atas, terdapat tarif sebagai berikut :
-

Impor kedelai, gandum, dan tepung terigu oleh importer yang menggunakan API sebesar
0,5%

Untuk wajib pajak yang tidak memiliki NPWP maka pajak dipungut 100% lebih tinggi
dari tarif PPh pasal 22.

D.

Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22


Berikut merupakan bukan objek PPh pasal 21, antara lain:
1. Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan tidak terutang PPh, dinyatakan dengan Surat Keterangan Bebas
(SKB).
2. Impor barang yang dibebaskan dari Bea Masuk dan atau Pajak Pertambahan Nilai;
dilaksanakan oleh DJBC.
3. Impor sementara jika waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor
kembali, dan dilaksanakan oleh Dirjen BC.

4. Pembayaran atas pembelian barang oleh pemerintah atau yang lainnya yang
jumlahnya paling banyak Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) dan tidak merupakan
pembayaran yang terpecah-pecah.
5. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum/PDAM,
benda-benda pos.
6. Emas batangan yang akan di proses untuk menghasilkan barang perhiasan dari emas
untuk tujuan ekspor, dinyatakan dengan SKB.
7. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial oleh Kantor Perbendaharaan dan
Kas Negara.
8. Impor kembali (re-impor) dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang telah
diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian yang memenuhi syarat
yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
9. Pembayaran untuk pembelian gabah dan atau beras oleh Bulog.

E.

Saat Terutang dan Pelunasan/Pemungutan PPh Pasal 22

1.

Atas impor barang terutang dan dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk.
Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka PPh Pasal 22 terutang dan
dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB);

2.

Atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 2,3, dan 4 )
terutang dan dipungut pada saat pembayaran;

3.

Atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 5) terutang
dan dipungut pada saat penjualan;

4.

Atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 6) dipungut
pada saat penerbitan Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order);

5.

Atas pembelian bahan-bahan (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 7) terutang
dan dipungut pada saat pembelian.

F.

Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 22

1.

PPh Pasal 22 atas impor barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 1) disetor
oleh importir dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak, Cukai dan Pabean
(SSPCP). PPh Pasal 22 atas impor barang yang dipungut oleh DJBC harus disetor ke bank
devisa, atau bank persepsi, atau bendahara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dalam jangka
waktu 1 (satu) hari setelah pemungutan pajak dan dilaporkan ke KPP secara mingguan paling
lambat 7 (tujuh) hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir.

2.

PPh Pasal 22 atas impor harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan
dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22 atas impor harus dilunasi saat
penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor. Dilaporkan ke KPP paling lambat
tanggal 20 setelah masa pajak berakhir.

3.

PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 2)
disetor oleh pemungut atas nama dan NPWP Wajib Pajak rekanan ke bank persepsi atau
Kantor Pos pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang.
Pemungut menerbitkan bukti pungutan rangkap tiga, yaitu :
a. lembar pertama untuk pembeli;
b. lembar kedua sebagai lampiran laporan bulanan ke Kantor Pelayanan Pajak;
c. lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan, dan dilaporkan
ke KPP paling lambat 14 (empat belas ) hari setelah masa pajak berakhir.

4.

PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 3)
disetor oleh pemungut atas nama dan NPWP Wajib Pajak penjual ke bank persepsi atau
Kantor Pos paling lama tanggal 10 sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Dilaporkan ke KPP paling lambat tanggal 20 setelah masa pajak berakhir.

5.

PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir 4 )
disetor oleh pemungut atas nama dan NPWP Wajib Pajak penjual ke bank persepsi atau
Kantor Pos paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya dengan
menggunakan formulir SSP dan menyampaikan SPT Masa ke KPP paling lambat 20 (dua
puluh) hari setelah masa pajak berakhir.

6.

PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir
5, dan 7 ) dan hasil penjualan barang sangat mewah (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal
22 butir 8) disetor oleh pemungut atas nama wajib pajak ke bank persepsi atau Kantor Pos

paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya dengan menggunakan formulir
SSP. Pemungut menyampaikan SPT Masa ke KPP paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah
masa pajak berakhir.
7.

PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek PPh Pasal 22 butir
6) disetor oleh pemungut ke bank persepsi atau Kantor Pos paling lama tanggal 10(sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. Pemungut wajib menerbitkan bukti
pemungutan PPh Ps. 22 rangkap 3 yaitu:

a.

lembar pertama untuk pembeli;

b.

lembar kedua sebagai lampiran laporan bulanan kepada Kantor Pelayanan Pajak;

c.

lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang bersangkutan.


Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa ke KPP setempat paling lambat
20

(dua

puluh)

hari

setelah

Masa

Pajak

berakhir.

Dalam hal jatuh tempo penyetoran atau batas akhir pelaporan PPh Pasal 22 bertepatan dengan
hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, penyetoran atau pelaporan dapat
dilakukan pada hari kerja berikutnya.

G. Cara Menghitung PPh Pasal 22


1.

Cara menghitung PPh pasal 22 atas kegiatan Impor Barang


Besarnya PPh pasal 22 atas impor:
Yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API), tarif pemungutannya sebesar 2,5% dari
nilai impor.

PPh Pasal 22 = 2,5% x Nilai Importir yang tidak menggunakan Angka Pengenal
Imortir (API), tarif
PPhpemungutannya
Pasal 22 = 7,5%
sebesar
x Nilai
7,5%
Importir
dari nilai
Yang
impor
tidak dikuasai,tarif pemungutannya
sebesar 7,5% dari harga jual lelang

.
PPh Pasal 22 = 7,5% x Harga Jual Lelang

Catatan :
Yang dimaksud dengan nilai impor adalah nilai berupa uang yang digunakan sebagai dasar
perhitungan bea masuk. Nilai impor dihitung sebesar Cost Insurance Freight (CIF) +Bea
Masuk+ Pungutan pabean lainnya.
Contoh 1:
PT ANGGARA, memiliki nomor API, melakukan impor komputer dari Amerika Serikat
dengan perincian sbb:
Harga Komputer (Cost)US$ 20,000.00
Asuransi (Insurance) US$ 1,000.00
Biaya angkut (Freight) .US$ 4,000.00
Harga Pabean ..US$ 25,000.00
Pungutan :
- Bea Masuk 20% US$ 5,000.00
- Bea Masuk Tambahan 10% US$ 2,500.00
NILAI IMPOR US$ 32,500.00
Apabila pada tanggal impor (sesuai dokumen impor:pemberitahuan impor barang) nilai kurs
US $ 1.00= Rp 10.000,00 maka:
Dasar pengenaan PPh Pasal 22: US$ 32,500.00 x Rp 10.000,00= Rp 325.000.000, PPh Pasal 22 yang harus dipungut :Rp 325.000.000,00 x 2,5% = Rp 8.125.000,00
Contoh 2:
Seperti soal nomor diatas, tetapi PT ANGGARA tidak memiliki API, maka perhitungan PPh
Pasal 22 adalah :
Dasar pengenaan PPh Pasal 22: US$ 32,500.00 x Rp 10.000,00= Rp 325.000.000,PPh Pasal 22 yang harus dipungut :Rp 325.000.000,00 x 7,5% = Rp 24.375.000,-

2.

Cara Menghitung PPh Pasal 22 Atas Pembelian Barang Yang Dibiayai dengan
APBN/ APBD
PPh Pasal 22 = 1,5% x Harga Perolehan
Atas pembelian barang yang dananya dari belanja Negara atau belanja daerah dikenakan
pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% dari harga pembelian.
Pembayaran yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 adalah:
Pembayaran atas penyerahan barang (bukan merupakan jumlah yang dipecah-pecah) yang
meliputi jumlah kurang dari Rp 1.000.000,00.
Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak,listrik,gas,air minum/PDAM, dan bendabenda pos.
Pembayaran/ pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh kantor Perbendaharaan dan
Kas Negara.
Contoh 3 :
PT Jayadi Maju melakukan penjualan lemari arsip kepada Departemen Dalam Negri senilai
Rp 220 juta. Pembayaran dilakukan oleh Bendaharawan Depdagri. Dalam kontrak penjualan
dengan pemerintah yang didanai dari APBN/APBD, biasanya harga jual sudah termasuk
Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10%.
Diminta : Hitunglah PPh Pasal 22 PT Jayadi Maju
Jawab :

Dasar Pengenaan PPh Pasal 22: (100/110 x Rp 220 juta)= Rp200.000.000,00.

PPh Pasal 22 yang dipungut Bendaharawan Pemerintah dari transaksi pembayaran: Rp


200.000.000,00 x 1,5%= Rp 3.000.000,00

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1.

PAJAK PENGHASILAN MENURUT PASAL 21


Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
PPh Pasal 21 merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan
dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan
pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi
dalam negeri. Pemotong PPh pasal 21 adalah setiap orang pribadi atau badan yang
diwajibkan oleh UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 17 tahun 2000 dan terakhir UU No 36 tahun 2008 untuk
memotong PPh Pasal 21.

2.

a.

PAJAK PENGHASILAN MENURUT PASAL 22


PPh pasal 22 merupakan pembayaran PPh dalam tahun berjalan yang dipungut oleh:

Bendaharawan pemerintah baik pusat atau daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan
lembaga-lembaga Negara lainnya sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang.

b. Badan-badan tertentu, baik badan pemrintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan
dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lainnya.
c.

Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah

B. Saran
1.

Dari uraian pembahasan di atas penulis menyarankan kepada pembaca sekalian agar
manfaat dari pembahasan mengenai Pajak Penghasilan Pasal 21 dapat memberikan
wawasan positif. Dimana sisi positif dari uraian tersebut bisa dijadikan sebagai bahan
untuk menambah pengetahuan tentang Pajak Penghasilan Pasal 21 tersebut dan sisi
kurang baiknya bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi.
Untuk itu, penulis sangat mengharapkan saran dari pembaca

2. berkaitan dengan PPh pasal 22, penulis menyarankan kepada pembaca untuk lebih taat
melakukan pembayaran pajak guna membantu meningkatkan APBN dan APBD
khususnya pada PPh pasal 22.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=13585
http://armuhammad.wordpress.com/2012/06/19/pph-pasal-22-barang-mewah/
http://septikomariyah.blogspot.com/2012/11/makalah-perpajakan-tarif-pajak.html
http://populerkan.blogspot.com/2010/11/makalah-pajak-penghasilan.html
http://indahjewel.blogspot.com/2012/05/makalah-pph-pasal-22.html
http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-pasal-22
http://dedijayadiborneo.wordpress.com/2013/01/14/pajak-penghasilan-pasal-22/