Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu kegiatan promosi
dan peningkatan tingkat fisik, mental dan kesejahteraan dari setiap
pekerjaan, mencegah pekerja dari penyakit akibat kerja, melindungi pekerja
dari

resiko

dan

faktor-faktor

yang

mengatur

dapat

menempatkan

dan

pekerja

lingkungannya

dan untuk mempermudah

mengganggu

untuk

kesehatan,

beradaptasi

adaptasi

pekerja

dengan
terhadap

pekerjaannya masing-masing.
Pekerja atau tenaga kerja merupakan asset yang berharga bagi
sebuah perusahaan. Semakin tinggi teknologi yang digunakan maka semakin
tingggi pula pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan
dalam pengoperasian dan pemeliharaan. Teknologi yang semakin tinggi akan
menyebabkan lebih besarnya bahaya yang ditimbulkan.
Suatu pekerjaan yang baik harus bisa mengetahui potensi bahaya
apa saja yang bisa mengancam nyawa pekerjanya. Dalam rangka
menghindari serta mengurangi adanya kecelakaan kerja maka diperlukan
identifikasi bahaya (hazard identification) serta penilaian resiko (risk
assessment). Dengan adanya kegiatan tersebut suatu perusahaan akan
mengetahui

bahaya

apa

saja

yang

bisa

mengancam

keselamatan

pekerjanya.

1.2 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian hazard identification
2. Untuk mengetahui proses dan tujuan hazard identification di lingkungan kerja
3. Untuk mengetahui prinsip identifikasi bahaya dalam perusahaan

4. Untuk mengetahui metode identifikasi bahaya di perusahaan


5. Untuk mengetahui pengertian bahaya, potensi bahaya, jenis bahaya dan
sumber bahaya di lingkungan kerja
6. Untuk mengetahui pengertian risk assessment (penilaian resiko)
7. Untuk mengetahui langkah-langkah penilaian resiko
8. Untuk mengetahui komponen utama penilaian resiko

1.3 MANFAAT
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami hazard identification
(identifikasi bahaya), bahaya dan potensi bahaya serta risk assessment
(penilaian resiko)
2. Masyarakat khususnya perusahaan mampu mengetahui dan memahami
hazard identification (identifikasi bahaya), bahaya dan potensi bahaya serta
risk assessment (penilaian resiko) sehingga keselamatan kerja para
karyawan terjamin

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Identifikasi Bahaya


Identifikasi bahaya adalah suatu usaha untuk mengetahui, mengenal,
dan memperkirakan adanya bahaya pada suatu sistem baik itu peralatan,
tempat kerja, prosedur aturan dan lainnya. Kegiatan identifikasi meliputi
mendiagnosa, menentukan bahaya, mengenal proses atau urutan aktifitasnya,
kemungkinan sebab dan aktifitasnya. Identifikasi bahaya merupakan suatu
upaya untuk mengurangi atau meminimalisir Resiko serta tindakan yang
dilakukan. (D. Jeff Burton 1997)18
Identifikasi bahaya merupakan suatu proses yang dapat
dilakukan untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian yang
berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang mungkin timbul di tempat kerja. Suatu bahaya di
tempat kerja mungkin tampak jelas dan kelihatan, seperti: sebuah
tangki berisi bahan kimia, atau mungkin juga tidak tampak dengan
jelas atau tidak kelihatan, seperti: radiasi, gas pencemar di udara
(Tarwaka, 2008)[3].
Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dari suatu sistem
manajemen pengendalian risiko yang merupakan suatu cara untuk
mencari dan mengenali terhadap semua jenis kegiatan, alat, produk
dan jasa yang dapat menimbulkan potensi cidera atau sakit yang
bertujuan dalam upaya mengurangi dampak negative risiko yang
dapat

mengakibatkan

kerugian

aset

perusahaan,

baik

berupa

manusia, material, mesin, hasil produksi maupun finansial.


Identifikasi Bahaya adalah Identifikasi dan notifikasi dari bahaya yang dapat
mempengaruhi staf dan klien di tempat kerja atau di mana pun tugas resmi
dilakukan adalah tanggung jawab staf. Hal ini berlaku tidak hanya untuk bahaya
yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik, seperti cedera otot-tulang, tetapi juga
untuk situasi yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti beban
kerja yang berlebihan, konflik di tempat kerja, pelecehan dan intimidasi.16
Hal tersebut menimbulkan definisi sebagai berikut:16
3

1. Bahaya. Sebuah kondisi, objek, aktivitas atau peristiwa yang berpotensi


menyebabkan cedera pada personil, kerusakan pada peralatan atau struktur,
kerugian materi, atau pengurangan kemampuan untuk melakukan fungsi
yang ditentukan.
2. Kegiatan penyelamatan (safety event). Sebuah kondisi kegagalan, faktor
penyebab, ancaman atau prekursor acara yang dalam isolasi atau dalam
kombinasi dengan peristiwa keselamatan lainnya dapat mengakibatkan
sebuah acara yang tidak diinginkan.
3. Kejadian yang tidak diinginkan (undesirable event). Sebuah panggung di
eskalasi skenario kecelakaan di mana kecelakaan itu akan terjadi, kecuali
aktif ukuran pemulihan tersedia dan berhasil digunakan.
4. Hasil (Outcome). Sebuah titik akhir potensi skenario kecelakaan yang dapat
diberi keparahan konsekuensi.
5. Konsekuensi. Tingkat cedera personil, kerusakan pada peralatan atau
struktur, kerugian materi, atau pengurangan kemampuan untuk melakukan
fungsi yang ditentukan timbul dari suatu hasil. Konsekuensi memiliki
berkekuatan.
6. Kontrol Risiko (Hambatan dan Mitigasi). Sebuah sistem, aktivitas, tindakan
atau prosedur yang diberlakukan untuk mengurangi risiko yang terkait
dengan bahaya. Yang termasuk mitigasi antara lain:
penghapusan bahaya (disukai),
pengurangan frekuensi bahaya (hambatan),
pengurangan kemungkinan hasil dari bahaya (mitigasi outcome),
pengurangan keparahan hasil dari bahaya (mitigasi konsekuensi)18
B. Proses dan Tujuan Identifikasi Bahaya
Menurut Tarwaka (2008), proses identifikasi bahaya dapat dilakukan
dengan urutan:14
a. Membuat daftar semua objek meliputi mesin, peralatan kerja, bahan proses
kerja, sistem kerja dan kondisi kerja yang ada di tempat kerja
b. Memeriksa semua objek yang ada di tempat kerja
c. Melakukan wawancara dengan tenaga kerja yang bekerja di tempat kerja
yang berhubungan dengan objek-objek tersebut
d. Mereview kecelakaan, catatan P3K dan informasi lainnya

e. Mencatat seluruh bahaya yang teridentifikasi


Tujuan dilakukannya identifikasi bahaya adalah untuk mengenali seluruh
jenis bahaya yang ada di tempat kerja, sehingga dapat dilakukan pengendalian
terhadap bahaya tersebut (Ramli, 2010).22
Hal yang dilihat dalam mengidentifikasi bahaya adalah:
a. Apa yang terjadi
Dalam melakukan identifikasi bahaya pelu diungkap dengan detail tentang
apa yang dapat terjadi dan dampak apa yang timbul dari kejadian tersebut.
b. Bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi
Dalam kegiatan identifikasi perlu juga dilihat dengan membuat scenario
kejadian dan juga perlu dilihat penyebab dari kejadian tersebut. Dalam
mengidentifikasi bahaya dapat dilakukan dengan beberapa alat atau
instrument yang berguna untuk memudahkan mengenali komponen diatas.22
Pengendalian terhadap sumber-sumber bahaya bertujuan untuk
mengurangi kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan dan penyakit
akibat kerja (Syukri Sahab,1997)

, kerugian yang disebabkan oleh

[5]

kecelakaan ada dua macam, yaitu kerugian ekonomi dan kerugian non
ekonomi. Kerugian ekonomi berupa kerugian yang langsung dapat
ditaksir dengan menggunakan uang, kerugian non ekonomi antara lain
adalah rusaknya citra perusahaan.
C. Prinsip Identifikasi Bahaya
1. Komponen Prosedur Identifikasi Bahaya
Keberhasilan usaha identifikasi bahaya tergantung pada 2 (dua)
faktor, yaitu tersedianya data dan cara pengorganisasian. Tersedianya data
tersebut perlu diperiksa pada tahap awal sebelum ditentukan diagram akhir.
Data-data yang diperlukan dalam setiap studi adalah :21
Gambar-gambar desain (PFD, P&ID, as built drawing)
Sifat fisik dan kimia dalam proses
Parameter reaksi kimia atau fisik
Standard Operating Procedure yang berlaku
Penjelasan lengkap tentang sistem operasi
Data Fasilitas dan Peralatan termasuk perawatannya

Data Pekerja dan kontraktor


Organisasi
Kondisi lingkungan sekitar kegiatan
2. Sumber Pengetahuan dan Pengalaman
Pengetahuan tentang bahaya dapat diperoleh dengan cara antara
lain :22
Pengalaman pribadi
Tahu dari orang lain yang pernah mengalami bahaya
Menyadari bahwa situasi tertentu adalah sama dengan situasi bahaya
yang pernah dipelajari
Penyelidikan ilmiah tentang suatu bahaya
Berdasarkan standard atau praktek rekayasa tertentu
D. Metode Identifikasi Bahaya
Menurut Roland P. Blake (1991) dalam bukunya Industrial Safety
disebutkan beberapa metode identifikasi bahaya, diantaranya:3
a. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
FMEA merupakan metode untuk mengidentifikasi bahaya yang
melibatkan analisis modus kegagalan dari suatu entitas, penyebabnya,
dampaknya, dan hubungan kritikalitas dari kegagalan (Mannan, 2005).19
Tujuan dari FMEA adalah untuk mengidentifikasi kegagalan yang
mempunyai dampak yang tidak diinginkan pada sistem operasi.
Tujuannya antara lain :

Identifikasi setiap bentuk kegagalan, dari urutan peristiwa yang


berhubungan dengannya, penyebabnya, dan dampaknya.

Klasifikasi

dari

setiap

bentuk

kegagalan

berhubungan

dengan

karakteristik, termasuk pendeteksian, diagnosa, pengujian, pergantian


barang, kompensasi dan ketentuan operasional.
FMEA adalah suatu metode menganalisis bahaya secara krotos
dan menurunkan potensi kegagalan yang dilakukan untuk mereview atau
mengkaji system tentang adanya kemungkinan kegagalan dan dampak
yang ditimbulkan.
b. Hazard Operability Study (HAZOPS)

Merupakan metode yang banyak digunakan oleh industri proses untuk


mengidentifikasi bahaya pada atau dekat, tahap diagram garis rekayasa
(Mannan, 2005). Hazops merupakan metode analisis yang paling sistematis,
teliti dan lengkap.19
Hazops merupakan suatu metode pendekatan identifikasi atau analisa
yang mulai digunakan pertama kali di industry kimia. Ditujukan untuk
mengidentifikasi potensi bahaya dan kemungkinan terjadinya penyimpangan
atau gangguan pada proses operasi, terutama hal-hal yang menyimpang dari
desain awal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan HAZOPS
adalah sebagai berikut:

Kelengkapan dan keakuratan data

Kemampuan teknik mengamati dari tim pelaksana

Kemampuan tim pelaksana melakukan pendekatan tujuan dari imajinasi


dalam

memvisualisasikan

penyimpangan,

faktor

penyebab

dan

konsekuensi yang mungkin timbul

Kemampuan tim pelaksana untuk memfokuskan pada bahaya serius


yang teridentifikasi

c. Preliminary Hazard Analysis (PHA)


Merupakan suatu sistem atau metode yang biasanya digunakan
untuk menjelaskan dengan teknik kualitatif dalam untuk identifikasi bahaya
pada tahap awal dalam proses desain (Mannan, 2005).19
PHA adalah suatu metode analisis kualifikatif yang dilakukan untuk
mengenal sedini mungkin adanya potensi bahaya pada tahap awal sebelum
system diimplementasikan pada proses operasi. PHA dilakukan serangkaian
pertanyaan what if.
Prinsip dari PHA adalah untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin
akan berkembang menjadi kecelakaan. Ini dilakukan dengan menimbulkan
situasi atau proses yang tidak direncanakan atau dimaksud terjadi. Ini
penting untuk melakukan identifikasi bahaya dari awal pada proses desain

bertujuan untuk mengimplementasikan corrective measure pada desain,


yang dikenal dengan manajemen resiko atau reduksi pro aktif.
Keuntungan dari PHA Adalah:

Membantu memastikan produk yang dihasilkan adalah aman

Lebih murah dalam melakukan perbaikan

Mudah diterapkan pada tahap awal

d. Fault Tree Analysis (FTA)


Merupakan suatu teknik identifikasi dengan menggunakan pendekatan
yang bersifat Town-Down, yang dimulai dari kejadian yang tidak diinginkan
atau kerugian kemudian menganalisa penyebab-penyebabnya.
FTA dapat digunakan untuk:

Menentukan

penyebab-penyebab

yang

mungkin

menimbulkan

kerugian

Menemukan tahapan kejadian yang kemungkinan besar sebagai


penyebab kerugian

Menghitung probabilitas kerugian

Menganalisa kemungkinan sumber-sumber risiko sebelum kerugian


timbul

Menginvestigasi kegagalan dan kecelakaan

e. Job Safety Analysis (JSA)


Merupakan teknik analisis untuk mengkaji langkah-langkah suatu
kegiatan dan mengidentifikasikan sumber bahaya yang ada dari tiap langkahlangkah

tersebut

serta

merencanakan

tindakan

pencegahan

untuk

mengurangi risiko.
Identifikasi bahaya dengan menggunakan JSA menurut Diberardinis
(1999) dapat menghasilkan analisa yang baik. Keuntungan yang dapat
diperoleh dengan menggunakan JSA yaitu:6

Pendekatan JSA sangat mudah dipahami, tidak membutuhkan suatu


tahapan dalam training dan dapat cepat disesuaikan dengan pandangan
individu yang berpengalaman.

Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada inidividu untuk


mengenali atau memberikan pengetahuan mengenai operasi.

Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya


dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan trainning) pekerja baru

Dokumentasi JSA juga dapat digunakan sebagai bahan audit.

Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling, 1990):7


a. Job (pekerjaan)
Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan dalam unit produksi
untuk diidentifikasi risikonya.
1. Task (rincian kegiatan)
Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan
untuk masing-masing tahapan kegiatan, yang dapat menggambarkan
faktor-faktor terjadinya dampak.
2. Hazard (bahaya)
Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik, kimia, bioogi, mekanik,
ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan.
3. Probability (kmungkinan)
Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera
(sering, terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan.
4. Consequency (konsekuensi)
Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari
setiap kegiatan kerja.
2.2 Potensi Bahaya
a. Pengertian Bahaya dan Potensi Bahaya
Potensi bahaya (Hazard) ialah suatu keadaan yang memungkinkan
atau dapat menimbulkan kecelakaan/kerugian berupa cedera, penyakit,

kerusakan atau kemampuan melaksakan fungsi yang telah ditetapkan (P2K3


Depnaker RI, 2000).1
Menurut Ridley & Channing (1998), bahaya merupakan unsur
potensial yang dapat menyebabkan kerugian, bahaya biasanya digambarkan
dengan tingkat bahaya dan dapat diperhitungkan.11
Bahaya

adalah

sumber

risiko

atau

situasi

yang

berpotensi

menimbulkan kerugian. Bahaya merupakan sumber risiko apabila risiko


tersebut diartikan sebagai sesuatu yang negatif (Cross, 1998).10
Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999
memaparkan bahwa bahaya adalah sumber atau situasi yang memiliki
potensi menimbulkan kerugian.8
Bahaya merupakan segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan
mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan, maupun
manusia (Budiono, 2003).9 Sedangkan pandangan berbeda dijelaskan bahwa
bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan. Ini
dapat mencakup substansi, proses kerja, dan aspek lain lingkungan kerja
(Suardi, 2005).12
Bahaya merupakan sumber energi: yakni segala sesuatu yang
memiliki potensi untuk menyebabkan cedera pada manusia, kerusakan pada
equipment dan lingkungan sekitar (Bakhtiar, 2008).2 Sedangkan menurut
Syahab (1997) bahaya adalah segala sesuatu atau kondisi yang berpotensi
pada suatu tempat kerja dimana dengan atau tanpa interkasi dengan variabel
lain dapat menyebabkan kematian, cidera atau kerugian lain.5
Hazard / resiko adalah sumber atau situasi tertentu dengan suatu
potensial bahaya berkenaan dengan gangguan kesehatan atau luka,
kerusakan harta milik, kerusakan lingkungan tempat kerja atau kombinasi
hal-hal tersebut (OHSAS 18001:1999).17
Hazard

identification

(identifikasi

resiko)

merupakan

proses

penyadaran adanya suatu resiko (hazard) dan mendefinisikan karakteristikkarakteristiknya (OHSAS 18001:1999). Contoh:17

10

Tinjauan keselamatan: penjelasan kualitatif tentang persoalan keselamatan

yang potensial
Checklist: daftar tertulis mengenai hal-hal yang diperiksa terhadap status

sistem
What-if-analysis: pendekatan brainstorming tentang hal-hal yang tidak

diinginkan
Hazard and Operability Study (HazOp): suatu pemeriksaan yang terstruktur
dan sistematis dari suatu renana proses atau proses yang sudah berjalan,
sehubungan

dengan

identifikasi

dan evaluasi

masalah

yang dapat

memberikan resiko kepada manusia atau peralatan atau membuat operasi


tidak efisien.
HazOp adalah suatu teknik kualitatif yang berdasarkan pada pernyatan dan
dihasilkan oleh suatu tim multi disiplin (HazOp Team) melalui pertemuanpertemuan. Study HazOp sebaiknya dan sedapat mungkin dihasilkan pada
tahap desain awal, agar dapat memengaruhi desain yang dibuat. Pada sisi
lain, untuk menghasilkan HazOp dibutuhkan desain yang lebih lengkap. Jadi
HazOp biasanya dilakukan pada pengecekan akhir pada saat rincian desain
telah rampung.
b. Jenis Bahaya
Berdasarkan kelompoknya, bahaya dapat di bagi menjadi 2 jenis,
yaitu : 13
1. Bahaya Keselamatan (Safety Hazard)
Bahaya keselamatan (safety hazard) fokus pada keselamatan manusia
yang terlibat dalam proses, peralatan, dan teknologi. Dampak safety hazard
bersifat akut, konsekuensi tinggi, dan probabilitas untuk terjadi rendah. Bahaya
keselamatan (Safety hazard) dapat menimbulkan dampak cidera, kebakaran,
dan segala kondisi yang dapat menyebabkan kecelakaan di tempat kerja. Jenisjenis safety hazard, antara lain :
a. Mechanical Hazard, bahaya yang terdapat pada benda atau proses yang
bergerak yang dapat menimbulkan dampak, seperti tertusuk, terpotong,
terjepit, tergores, terbentur, dan lain-lain.

11

b. Electrical Hazard, merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik.


c. Chemical Hazard, bahaya bahan kimia baik dalam bentuk gas, cair, dan
padat yang mempunyai sifat mudah terbakar, mudah meledak, dan korosif.
Safety hazard merupakan bahaya yang terdapat ditempat kerja yang
berpotensi menimbulkan insiden, injury, baik pada manusia maupun pada
proses kerja. Ciri-ciri safety hazard antara lain:

Mempunyai potensi untuk menimbulkan injury, cacat, gangguan, pada poses


dan kerusakan alat.

Memajan bahaya hanya pada saat terjadinya kontak.

Dampak yang ditimbulkan langsung terlihat.

Tidak mempertimbangkan aspek besaran, konsentrasi dan dosis.

2. Bahaya Kesehatan (Health Hazard)


Bahaya kesehatan (health hazard) fokus pada kesehatan manusia.
Dampak health hazard bersifat kronis, konsekuensi rendah, bersifat terusmenerus, dan probabilitas untuk terjadi tinggi. Jenis-jenis health hazard,
antara lain :
a) Physical Hazard, berupa energi seperti kebisingan, radiasi, pencahayaan,
temperature ekstrim, getaran, dan lain-lain.
b) Chemical Hazard, berupa bahan kimia baik dalam bentuk gas, cair, dan
padat yang mempunyai sifat toksik, beracun, iritan, dan patologik
c) Biological Hazard, bahaya dari mikroorganisme, khususnya yang patogen
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
d) Ergonomi,

merupakan

bahaya

yang

dapat

menimbulkan

gangguan

kesehatan sebagai akibat ketidaksesuaian desain kerja dengan pekerja.


Health hazard merupakan suatu bahaya yang terdapat di lingkungan
kerja yang mempunyai potensi untuk menimbulkan terjadinya gangguan
kesehatan, kesakitan dan penyakit akibat kerja. Ciri-ciri health hazard antara
lain (Supriyadi, 2005):4
1. Mempunyai potensi untuk menimbulkan kesakitan, gangguan kesehatan,
dan penyakit akibat kerja.
12

2. Berada di lingkungankerja dan memajan pekerja selama bekerja.


3. Umumnya dalam konsentrasi rendah.
4. Bersifat kronik.
5. Mempertimbangkan aspek besaran, konsentrasi dan dosis.
Sedangkan berdasarkan jenis-jenis bahaya antara lain (Syahab, 1997):5
a) Bahaya fisik adalah bahaya yang berasal dari lingkungan fisik disekitar,
seperti kebisigan, radiasi, suhu/temperature dan getaran, dll.
b) Bahaya kimia adalah substansi bahan kimia yang digunakan dalam proses
produksi dan penyimpanan serta penanganan limbah.
c) Bahaya biologis adalah bahaya yang berasl dari makhluk hidup selain
manusia dan lebih mengarah pada aspek kesehatan seperti: virus, bakteri
dan jamur.
d) Bahaya ergonomi adalah bahaya yang disebabkan karena ketidaksesuaian
antara peralatan kerja dengan pekerja seperti kursi terlalu rendah, meja yang
terlalu tinggi, dll.
e) Bahaya psikologi adalah bahaya yang dapat menyebabkan kondidi psikologi
pekerja tidak baik yang berpengaruh terhadap pekerjaan, seperti stress
karena kelebihana beban kerja atau rekan kerja, dll.
c. Sumber Sumber Bahaya di Lingkungan Kerja
Menurut Syahab (1997), kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat
terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya dan risiko yang ada di
lingkungan kerja. Sumber bahaya itu bisa berasal dari :5
1. Bangunan, Instalasi, dan Peralatan
Proses bahaya yang berasal dari bangunan, instalasi, dan peralatan
yang digunakan bisa berupa konstruksi bangunan yang kurang kokoh dan
tidak memenuhi persyaratan yang ada. Selain itu desain ruang dan tempat
kerja serta ventilasi yang baik merupakan beberapa hal yang harus
diperhatikan.
2. Bahan Baku

13

Bahan baku yang digunakan pada proses produksi dapat memiliki


bahaya dan risiko yang sesuai dengan sifat bahan baku, antara lain : Mudah
terbakar, mudah meledak, menimbulkan alergi, bahan iritan, karsinogen,
bersifat racun, radioaktif, proses kerja
3. Proses kerja
Bahaya dari proses sangat bervariasi tergantung dari teknologi yang
digunakan. Proses yang ada pada industri ada yang sederhana, tetapi ada
juga yang prosesnya rumit. Ada proses yang berbahaya dan ada juga proses
yang kurang berbahaya. Dalam proses biasanya juga digunakan suhu dan
tekanan tinggi yang memperbesar risiko bahayanya. Dari proses ini
terkadang timbul asap, debu, panas, bising, dan bahaya mekanis seperti
terjepit, terpotong, atau tertimpa bahan. Hal ini dapat berakibat kecelakaan
dan penyakit akibat kerja.
4. Cara Kerja
Bahaya dari cara kerja yang dilakukan oleh pekerja yang dapat
membahayakan pekerja itu sendiri atau orang lain disekitarnya, yaitu :
a. Cara mengangkat dan mengangkut, apabila dilakukan dengan cara yang
salah maka dapat menyebabkan cidera dan yang paling sering adalah cidera
pada tulang punggung.
b. Cara kerja yang mengakibatkan hamburan debu dan serbuk logam, percikan
api, serta tumpahan bahan berbahaya.
c. Memakai alat pelindung diri yang tidak semestinya dan cara memakai yang
salah.
5. Lingkungan
Bahaya yang berasal dari lingkungan kerja dapat digolongkan atas
berbagai jenis bahaya yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan
keselamatan dan kesehatan kerja, serta penurunan produktivitas kerja dan
efisiensi kerja, bahaya-bahaya tersebut adalah :
a. Bahaya fisik adalah bahaya yang berasal dari lingkungan fisik di sekitar kita
dan berasal dari benda bergerak atau bersifat mekanis seperti ruangnan
yang

terlalu

panas,

kebisingan,

kurang

penerangan,

berlebihan, radiasi, mesin pemotong, dan lain-lain.

14

getaran

yang

b. Bahaya kimia adalah substansi bahan kimia yang digunakan secara tidak
tepat baik dalam proses kerja, pengolahan, penyimpanan, dan penanganan
limbah. Biasanya bahaya yang bersifat kimia berasal dari bahan baku yang
digunakan maupun bahan yang dihasilkan selama proses produksi
berlangsung.
c. Bahaya biologis adalah bahaya yang berasal dari makhluk hidup selain
manusia seperti bakteri, virus, dan jamur. Bahaya ini lebih mengarah kepada
kesehatan.
d. Bahaya ergonomi, biasanya gangguan yang bersifat faal atau ergonomi ini
karena beban kerja yang terlalu berat, peralatan kerja yang digunakan
desainnya tidak sesuai dengan pekerja seperti kursi yang terlalu rendah,
meja yang terlalu tinggi, dan lain-lain. Bahaya ini akan muncul dalam jangka
waktu yang lama.
e. Bahaya psikologis adalah bahaya yang berhubungan dengan timbulnya
kondisi psikologis yang tidak baik yang berpengaruh terhadap pekerjaan.
Gangguan psikologis ini dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial
tempat kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada
pekerja, seperti keharusan mengenai pencapaian target produksi yang terlalu
tinggi di luar batas kemampuan si pekerja.

2.3 Risk Assessment (Penilaian Resiko)


a. Pengertian Resiko dan Penilaian Resiko
Risiko adalah kemungkinan terjadinya

kecelakaan

terjadinya

kecelakaan atau kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi
tertentu. Setiap bahaya yang sudah diidentifikasi harus dinilai risikonya.
Penilaian risiko terutama ditujukan untuk menyusun prioritas penanganan
bahaya yang sudah diidentifikasi.
Risiko adalah suatu kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.
Sedangkan tingkat risiko merupakan perkalian antara tingkat
kekerapan dan keparahan (severity) dari suatu kejadian yang dapat
menyebabkan kerugian, kecelakaan atau cedera dan sakit yang

15

mungkin timbul dari pemaparan suatu hazard di tempat kerja


(Tarwaka, 2008)[3].
Menurut Soehatman Ramli (2010) risiko K3 adalah risiko yang
berkaitan dengan sumber bahaya yang timbul dalam aktivitas
bisnis yang menyangkut aspek manusia, peralatan, material, dan
lingkungan kerja. Umumnya risiko K3 dikonotasikan sebagai hal
negatif (negative impact) antara lain :
1) Kecelakaan terhadap manusia dan asset perusahaan.
2) Kebakaran dan peledakan.
3) Penyakit akibat kerja.
4) Kerusakan sarana produksi.
5) Gangguan operasi.
Risiko

adalah

kemungkinan

terjadinya

kecelakaan

terjadinya

kecelakaan atau kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus


operasi tertentu. Setiap bahaya yang sudah diidentifikasi harus dinilai
risikonya.
Penilaian risiko merupakan proses dengan menggunakan hasil yang
diperoleh dari analisis risiko untuk meningkatkan keselamatan suatu sistem
dengan cara mengurangi risiko tersebut (Kristiansen, 2005).20
Semakin tinggi risiko yang dikandung suatu bahaya semakin kritis sifat
bahaya tersebut dan berarti menuntut tindakan perbaikan atau penangganan
yang semakin mendesak. Penilaian risiko terutama ditujukan untuk
menyusun prioritas penanganan bahaya yang sudah diidentifikasi.
Setelah diketahui berbagai potensi bahaya yang ada di lingkungan pekerjaan
selanjutnya perlu diadakan penilaian risiko tersebut untuk menentukan tindakan
pengendalian sesuai prioritas apakah risiko tersebut cukup besar dan
memerlukan pengendalian langsung atau dapat ditunda.
HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control)
merupakan tahap pertama yang paling penting dalam manajemen resiko (OHSAS
18001)17
Yang penting dalam HIRARC adalah:
16

a.
b.
c.
d.
e.

Identifikasi semua kerugian


Lihat semua kemungkinan kejadian dan konsekuensinya
Nilailah resiko secara akurat dan identifikasikan resiko yang signifikan
Buat ukuran pengendalian yang paling efektif dan efisien
Rencanakan untuk proses

b. Langkah-langkah Risk Assessment


Penilaian

risiko

pada

hakikatnya

merupakan

proses

untuk

menentukan pengaruh atau akibat pemaparan potensi bahaya yang


dilaksanakan melalui tahap atau langkah yang berkesinambungan.
Oleh karenanya dalam melakukan penilaian risiko terdapat 5 proses
yaitu :
1. Mengestimasi tingkat kekerapan
Mengestimasi tingkat kekerapan atau keseringan terjadinya
atau sakit akibat kerja, harus mempertimbangkan tentang berapa
sering dan berapa lama seorang tenaga kerja terpapar potensi
bahaya. Tingkat kekerapan atau frekuensi kecelakaan atau sakit
dikategorikan menjadi 5 yaitu :
Tingkat

Kriteria

Penjelasan

an
1

Rarely

Suatu insiden yang jarang terjadi,


kemungkinan bisa terjadi dalam

Unlikely

jangka waktu 2 tahun sekali


Suatu insiden yang kadang
kadang bisa terjadi, kemungkinan
bisa terjadi dalam jangka waktu

Occasional

12 bulan sekali
Suatu insiden yang sesekali bisa
terjadi, kemungkinan bisa terjadi

Frequent

dalam

jangka

sekali
Suatu

insiden

waktu
yang

bulan

acapkali

terjadi, kemungkinan bisa terjadi

17

dalam
5

jangka

waktu

bulan

sekali
Suatu insiden yang selalu bisa

Constant

terjadi, kemungkinan bisa terjadi


dalam

jangka

waktu

bulan

{perawatan

P3K

sekali
(Sumber :Septia Wulandari, 2011)[7]
2. Mengestimasi tingkat keparahan (severity)
Tingkat

Kriteria

Penjelasan

an
1

Trivial

Cedera

ringan

(tindakan medis sederhana, pemberian


obat-obatan
kepada

dengan

daftar

obat

berpedoman
esensial

atau

generik)}, kerugian materi sangat kecil


(0-1
2

Low

juta

rupiah),

tidak

kehilangan

waktu kerja.
Cedera ringan, memerlukan perawatan
P3K,{

tindakan

medis

sederhana,

bimbingan dan konsultasi kesehatan,


pemberian

obat-obatan

berpedoman

kepada

esensial

atau

generik,

dengan

daftar

obat

pemeriksaan

laboratorium sederhana, pemeriksaan


dan pengobatan
dokter

umum}

langsung

dapat

ditangani, kerugian materi sedang ( 1


juta - 5 juta rupiah) kehilangan waktu
kerja

1x24

Jam

(berdasarkan

Surat

Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan


Hubungan
Industrial

18

Dan

Pengawasan

Ketenagakerjaan Departemen Tenaga


Kerja RI No. Kep.84/BW/1998 tentang
cara pengisian formulir laporan dan
3

Minor

analisis statistik kecelakaan)


Cedera ringan, memerlukan perawatan
medis

(tindakan

medis

sederhana,

bimbingan dan konsultasi kesehatan,


pemberian

obat-obatan

berpedoman

kepada

esensial

atau

dengan

daftar

generik,

obat

pemeriksaan

laboratorium sederhana, pemeriksaan


dan pengobatan
dokter umum, pemeriksaan diagnosis
lanjutan, rujukan rawat inap di rumah
sakit

yang

kerugian

ditunjuk
materi

perusahaan),

cukup

besar,

kehilangan waktu kerja maksimal 2x24


4

Major

jam
Cidera yang mengakibatkan cacat atau
hilang fungsi tubuh secara total, sakit
permanen,

memerlukan

perawatan

medis, (pemeriksaan dan pengobatan


oleh dokter spesialis, rawat inap di
rumah sakit yang
ditunjuk

perusahaan,

laboratorium,
dan

pemeriksaan

pemeriksaan

perawtan

jangka

radiologi)
panjang

{treatment berkelanjutan (rehabilitasi)}


kerugian materi besar (25 juta rupiah50 juta rupiah), kehilangan waktu kerja
5

Fatality

lebih dari 2x24 jam.


Menyebabkan kematian, off-site release
19

bahan toksik dan efeknya merusak,


kerugian materi sangat besar (50 juta
rupiah -100 juta rupiah)
(Sumber : Septia Wulandari, 2011) [7].

3. Penentuan jumlah orang terkena paparan


Tingkat

Kriteria

an
1
2
3
4
5

1 2 orang
3 7 orang
8 15 orang
16 50 orang
Lebih dari 50 orang
(Sumber : Septia Wulandari, 2011) [7].

4. Penentuan Kemungkinan (likelihood)


Tingkata

Kriteria

Penjelasan

n
1

Unlikely

(Hampir

tidak mungkin)

Suatu insiden mungkin dapat terjadi


pada suatu kondisi yang khusus atau
luar

biasa

atau

setelah

bertahun-

Possible

tahun.
Suatu kejadian mungkin terjadi pada

(Kemungkinan

beberapa

kecil)
Probable

(Sedang

kecil kemungkinan terjadinya.


Suatu kejadian akan terjadi

atau

Mungkin

beberapa kondisi

terjadi)
Likely

(Mungkin

terjadi)
Certain

(Hampir

20

kondisi

tertentu,

namun
pada

tertentu.
Suatu kejadian mungkin akan terjadi
pada hampir semua kondisi.
Suatu kejadian akan terjadi

pada

pasti)

semua kondisi atau setiap kegiatan


yang dilakukan.

(Sumber : Septia Wulandari, 2011)

[7]

5. Penentuan risk rating


Tingkata

Kriteria

Penjelasan

n
50>

Prioritas

Harus segera dilakukan tindakan untuk

(Critical Priority)

mengurangi

risiko.

Aktivitas

atau

kegiatan bisa dihentikan sampai risiko


tersebut
10 50

<10

dihilangkan

atau

Prioritas

secara ketat dan tepat.


Diperlukan monitor dan kontrol untuk

(Monitor&Control)

memperkecil

Prioritas

risiko.
Tidak ada risiko atau risiko sudah dapat

(Tolerate)
dikendalikan dengan tepat.
(Sumber : Septia Wulandari, 2011) [7].
c. Komponen Utama Risk Assessment
Penilaian

risiko

pada

hakikatnya

merupakan

proses

untuk

menentukan pengaruh atau akibat pemaparan potensi bahaya yang


dilaksanakan melalui tahap atau langkah yang berkesinambungan. Oleh
karenanya dalam melakukan penilaian risiko ada dua komponen yang utama
yaitu:
1) Analisis Risiko
Analisis

dikontrol

resiko

adalah

suatu

kegiatan

sistematik

dengan

menggunakan infomasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa tingkat

21

keparahan dan tingkat keseringan suatu kejadian yang muncul (Ramli,


2010)22
Dalam kegiatan ini, semua jenis bahaya, risiko yang bisa terjadi,
control atau proteksi yang sudah ada, peluang terjadinya risiko, akibat yang
mungkin timbul, dan upaya pengendalian bahaya dibahas secara rinci dan
dicatat selengkap mungkin (Sahab, 1997).5
Sumber bahaya yang teridentifikasi harus dinilai untuk menetukan
tingkat

resiko

yang

merupakan

tolak

ukur

kemungkinan

kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Depnaker RI, 2002)

terjadinya

21

Tujuan analisis resiko adalah untuk memisahkan antara resiko kecil


dengan resiko besar yang kemudian dapat digunakan sebagai evaluasi dan
pertimbangan perlakuan penegndalian (Ramli, 2010)22
Dengan kegiatan ini bahaya dapat diketahui lebih detail dan juga lebih
spesifik. Dasar dari analisa resiko ini adalah melakukan estimasi kombinasi
dari tingkat keparahan dan tingkat keseringan dari bahaya yang timbul
(Silalahi, 1995).21

Hal yang harus diperhatikan dalam menganalisa resiko adalah:12


a) Menentukan pengendalian yang ada
Dalam
pengendalian

melakukan
yang

telah

estimasi

ini

dilakukan.

harus

Pada

mempertimbangkan

pengendalian

ditentukan

bagaimana bentuk pengendalian bahaya dan upaya minimalisasi dampak


yang telah dilakukan. Pengendalian ini kemudian dibandingkan dengan
standar keselamatan yang ada. Dari perbandingan yang telah dilakukan
tersebut akhirnya dapat dilihat seberapa efektif bahaya dapat dikendalikan
dan kemungkinan bahaya tersebut muncul.

22

b) Probability (keseringan) dan severity (keparahan)


Probability adalah hasil dari suatu yang diekspresikan dalam bentuk
kualitatif / kuantitatif;umumnya berupa kehilangan, cidera, atau kerugian
material. Probability dibedakan menurut resiko yang dinilai. Contoh indikator
untuk ukuran konsekuensi antara lain:
Resiko keselamatan seperti kematian, cidera, hilangnya waktu kerja,
kerusakan harta benda, kerugian produktifitas dan penjualan
Resiko kesehatan seperti kasus kanker/non kanker misalnya gangguan
pernapasan, sistem syaraf dan reproduksi
Resiko lingkungan seperti kepunahan spesies dan keanekaragaman,
perubahan habitat dan ekosistem, kerusakan sumber daya alam.
Resiko kesejahteraan masyarakat seperti ketebatasan pemakaian sumber
daya, bau tidak sedap, penurunan pandangan estetika, nilai property
Resiko financial seperti asuransi, liabilitas
Severity adalah tingkat keparahan terjadinya loss, injury, timbulnya
dampak kesehatan atau kerugian material. Severity merupakan deskripsi
kualitatif dari tingkat kemungkinan atau frekuensi. Untuk menghindari bias
dalam menentukan severity, sumber informasi terbaik yang dapat digunakan
berupa:

Catatan masa lalu


Pengalaman serupa
Literature yang berhubungan dengan kegiatan penelitian
Tes pemasaran dan penelitian pasar
Experiment dan prototype
Model ekonomi, model teknik atau model lain
Pemikiran ahli dan pakar

Dalam menentukan probably, exposure dan severity dapat dilakukan dengan


bebagai estimasi. Menurut Ramli (2010), hal-hal yang harus diperhatikan dalam
menentukan estimasi meliputi:
a. Estimasi probability (keseringan)
Probabilitas dengan skala kemunculan singkat (accident)
23

Pada pelaksanaannya probabilitas dengan skala kemunculan singkat hanya


dapat diestimasi berdasarkan pengalaman personal, intuisi dan pengalaman
dari kejadian yang tidak dilaporkan. Sumber informasi yang tentu saja dari
orang yang pernah mengalami kejadian. Jika suatu kejadian belum pernah
dilakukan sebelumnya, informasi dapat diperoleh dari pengalaman dengan

jenis pekerjaan yang sama berdasarkan data luar


Probabilitas dengan skala kemunculan panjang
Untuk mengestimasi probabilitas dengan skala kemunculan yang panjang
seperti penyakit kronik perlu dilakukan survey proporsi dari group yang
terpajan, intensitas dan durasi dan faktor-faktor yang lain yang terlibat dalam

pajanan.
b. Estimasi exposure
Exposure denga skala kemunculan singkat (accident)
Lain halnya dengan probabilitas, exposure dengan skala kemunculan singkat
(accident) lebih mudah diestimasi atau diukur. Estimasi exposure ini
merupakan kalkulasi dari beberapa pekerjaan yang dilakukan dalam suatu
waktu.

Exposure dengan skala kemunculan panjang


Faktor yang perlu diperhatikan dalam mngestimasi exposure dengan skala
pengukuran panjang adalah mekanisme kemunculan dari kontaminan dan

intensitas, durasi dari pajanan.


c. Severity (keparahan)
Bentuk severity yang diakibatkan dapat berupa injury/cidera efek kesehtan,
sakit kesakitan, trauma dan psychological upset, kehilangan kesenangan
hidup masa depan, kehilangan kapasitas dan kehilangan masa depan,
kerugian financial yang nyata.
2) Evaluasi tingkat risiko
Dalm kegiatan ini dilakukan prediksi tingkat risiko melalui evaluasi yang
akurat dan merupakan langkah yang sangat menentukan dalam rangkaian
penilaian tingkat resiko. Kualifkasi dan kuantifikasi resiko dikembangkan
dalam proses tersebut (Ramli, 2010)22

24

Dalam kegiatan ini dilakukan prediksi tingkat risiko melalui evaluasi


dan merupakan langkah yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian
tingkat risiko (Ichsan, 2004).15
Tingkat resiko merupakan perkalian antara tingkat kekerapan (probability)
dan keparahan (severity) dari suatu kejadian yang dapat menyebabkan kerugian,
kecelakaan atau cedera dan sakit yang mungkin timbul dari pemaparan suatu
hazard ditempat kerja.
a) Tingkat kekerapan
Merupakan keseringan terjadinya kecelakaan terhadap tenaga kerja/manusia.
Tingkat kekerapan atau keseringan kecelakaan dikategorikan menjadi 4 (empat)
kategori sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Sering; dimana kemungkinan terjadi sangat sering dan berulang


Agak sering; dimana kemungkinan terjadi beberapa kali
Jarang; dimana kemungkinan terjadinya jarang atau terjadinya sekali waktu
Jarang sekali; kemungkinan terjadi kecil tetapi tetap ada kemungkinan

b) Tingkat keparahan
Merupakan seberapa berat dampak kecelakaan yang di alami para tenaga
kerja/manusia. Tingkat keparahan kecelakaan dapat di kaegorikan menjadi 5 (lima)
kategori sebagai berikut:
1. Bencana; kecelakaan yang banyak menyebabkan kematian
2. Fatal; kecelakaan yang mengakibatkan kematian tunggal
3. Cedera Berat; kecelakaan yang mengakibatkan cedera atau sakit yang parah
untuk waktu yang lama tidak mampu bekerja atau menyebabkan cacat tetap
4. Cedera Ringan; kecelakaan yang dapat mengakibatkan cedera atau sakit
ringan dan segera dapat bekerja kembali atau tidak menyebabkan cacat
tetap
5. Hampir Cedera; kejadian hampir celaka yang tidak mengakibatkan cedera
atau memerlukan perawatan kesehatan
c) Penentuan Tingkat Risiko.

25

Penentuan

tingkat

risiko

adalah

dengan

mengkombinasikan

perhitungan dari dampak risiko dan peluang risiko. Risiko = Kekerapan X


Keparahan

Setelah melakukan pengukuran tingkat risiko, selanjutnya harus


dibuat skala prioritas resiko untuk setiap potensi yang di identifikasi dalam
upaya menyusun rencana pengendalian resiko.

Penilaian risiko adalah suatu alat yang ampuh dalam memperoleh


informasi dan peningkatan pemahaman sistem, bahaya, dan mekanisme
kecelakaan. Informasi dan pemahaman ini yang membuat kita mampu
melaksanakan opsi pengendalian risiko dan dengan demikian dapat
meningkatkan

sistem

keselamatan.

26

Namun

kita

harus

menyadari

keterbatasan dari analisis tersebut terutama yang kaitannya dengan analisis


kuantitatif. Kurangnya data statistik yang baik dikarenakan akan pengalaman
yang terbatas adalah kemungkinan keterbatasan yang signifikan dan umum
yang terjadi.12
Langkah awal dalam melakukan penilaian risiko adalah dengan
membuat definisi masalah dan gambaran sistem, sebagai contoh untuk
menentukan kapal dan/atau kegiatan yang risikonya dapat dipelajari.
Langkah kedua dari proses penilaian risiko adalah untuk melakukan
identifikasi bahaya yang dimana kemungkinan dapat terjadi dan kondisi yang
dapat menghasilkan tingkat keparahan yang dapat diidentifikasi. Setelah
bahaya telah teridentifikasi, kemudian dilakukanlah penilaian risiko, yang
proses perkiraan risikonya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Pertama digunakan analisis frekuensi untuk mengestimasi berapa
besar kemungkinan kecelakaan yang berbeda atau bahaya akan tejadi (yaitu
kemungkinan

terjadinya).

Dalam

hubungan

paralel

dengan

analisis

frekuensi, pemodelan konsekuensi mengevaluasi konsekuensi atau dampak


yang dihasilkan jika bahaya benar-benar terjadi.
Pada perihal maritim, kecelakaan dapat berpengaruh terhadap kapal,
penumpang dan awak kapal, muatan, dan/atau lingkungan. Ketika frekuensi
dan konsekuensi dari setiap bahaya telah dapat diestimasikan, keduanya
digabungkan untuk membentuk suatu ukuran risiko secara keseluruhan.
Risiko dapat disajikan dalam bentuk yang berbeda dan saling melengkapi.21

27

BAB III
KESIMPULAN

Identifikasi bahaya merupakan suatu proses yang dapat dilakukan


untuk mengenali seluruh situasi atau kejadian yang berpotensi sebagai
penyebab terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin
timbul di tempat kerja. Terdapat banyak sekali bahaya yang terdapat di
lingkungan kerja, baik yang berasal dari bangunan, mesin, cara kerja dll.
Identifikasi dibutuhkan untuk mengenal bahaya apa saja yang bisa
mengancam nyawa pekerja.
Setelah adanya identifikasi bahaya maka langkah selanjutnya
dilakukan risk assessment (penilaian resiko). Penilaian risiko terutama
ditujukan untuk menyusun prioritas penanganan bahaya yang sudah
diidentifikasi. Penilaian risiko merupakan proses dengan menggunakan hasil
yang diperoleh dari analisis risiko untuk meningkatkan keselamatan suatu
sistem dengan cara mengurangi risiko tersebut. Dengan adanya kegiatan
tersebut, maka diharapkan akan mengurangi kecelakaan di tempat kerja
sehingga keselamatan kerja terjamin.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. Modul Umum Pembinaan Operasional P2K3. 2000. Pembinaan Operasional


P2K3 MODUL 1 Dasar-Dasar Keselamatan Kesehatan Kerja. Departemen
Tenaga Kerja Republik Indonesia.

2. Bakhtiar A. 2008. Job Safety Analysis (Identifikasi Bahaya dan Penilaian


Resiko). PT Upaya Riksa Patra; Jakarta.

3. Blake, Roland P. 1963. Industrial Safety. 3rd Edition. Engleword Cliff NJ:
Prentice Hall.

4. Supriyadi, Gemilar SP. 2005. Penilaian Resiko Kecelakaan Pada Kegiatan di


Bagian Pengantongan PT. Semen Cibinong Tbk Bogor. Skripsi S1 Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

5. Syahab, Syukri. 1997. Tehnik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan


Kerja. Jakarta: PT Gunung Agung

6. Diberardinis, Louis J. 1999. Handbook of Occupational Safety and Health.


Second Edition. John Wiley & Sons Inc.

7. Colling, David A. 1990. Indutrial Safety Management and Technology.


Pentice Hall, Inc.

8. Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Risk


Management Guidelines. Sydney, 1999.

29

9. Budiono, Sugeng A.M. Manajemen Risiko Dalam Hiperkes dan Keselamatan


Kerja Bunga Rampai Hiperkes & KK Edisi Kedua. Semarang : Universitas
Diponegoro, 2003.

10. Cross, Jean. Study Notes SESC9211 : Risk Management. Department of


Safety Science University of New South Wales, 1998.

11. Ridley and Channing, John. Risk Management Safety at Work. ButterworhHeinemann : Elsivier Science Ltd, 1998.

12. Mulya, Adi. Analisis dan Pengendalian Risiko Keselamatan Kerja dengan
Metode Semi Kuantitatif pada Pekerja Pengelasan di Bengkel Pabrik PT.
ANTAM Tbk. UBP Emas Pongkor Bogor Tahun 2008. Skripsi S1 Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Jakarta, 2008.

13. Suardi, Rudi. Sistem Manajemen K3. Jakarta : PPM, 2005.


14. Tarwaka, 2008. Managemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja.
Surakarta: Harapan Press.

15. Slamet Ichsan, 2004. Penilaian Resiko Dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Pusat
Hiperkes Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.

16. Syahu, Sugian O. 2006. Kamus Manajemen (Mutu). PT Gramedia Pustaka


Utama: Jakarta

17. Maragakis, Ilias.,dkk. 2009. Guidance on Hazard Identification. European


Strategic Safety Innitiative: European

18. Burton, D, Jeff. 1998. Controlling The Occupational Environment. UT,IUE Inc.
Salt Lake City.

19. Mannan, S. (2005). Lees Loss Prevention in the Process Industries 3rd
Edition. Elsevier. US

30

20. Kristiansen, S. (2005). Maritime Transportion Safety Management and Risk


Analysis. Elsevier. Great Britain.

21. Wachyudi, Yusuf. 2010. Identifikasi Bahaya, Analisis dan Pengendalian


Resiko Dalam Tahap Desain Proses Produksi Minyak & Gas Di Kapal
Floating Production Storage & Offloading (FPSO) Untuk Projek Petronas
Bukit Tua Tahun 2010. Tesis Program Magister Keselamatan & Kesehatan
Kerja Universitas Indonesia: Depok

22. Wulandari, Septia. 2011. Identifikasi Bahaya, Penilaian Dan Pengendalian


Resiko Area Produksi Line 3 Sebagai Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja
di PT. Coca Cola Amatil Indonesia Central Java. Laporan Tugas Akhir
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret: Surakarta

31