Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Geokimia adalah sains yang menggunakan prinsip dan teknologi bidang

kimia untuk menganalisis dan menjelaskan mekanisme di balik sistem geologi


seperti kerak bumi danlautan yang berada di atasnya.Cakupan geokimia melebar
hingga keluar bumi, melingkupi seluruh system pergerakan bebatuan di tatasurya
dan memiliki kontribusi penting dalam memahami proses di balikkonveksi
mantel, pembentukan planet, hingga asal muasal bebatuan seperti granitdan
basalt.Bidang

geokimia

yang

berkaitan

dengan

proses

sedimentasi

batuansedimenantara lain geokimia isotop dan biogeokimia. Geokimia Isotop


melibatkan penentian konsentrasi relative dan absolute dari suatu elemen kimia
dan isotopnya di bumi dan permukaan bumi. Biogeokimia merupakan bidang
yang focus pada studi efek kehidupan pada bahan-bahan kimia yang ada di bumi.
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh
media air, angin, esataugletserdi suatucekungan. Delta yang terdapat di mulutmulut sungai adalahh asildan proses pengendapan material-material yang diangkut
oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di
tepi pantai adalah pengendapan dari material - material yang diangkut oleh angin.
Hasil dari sedimentasi ini dapat berupa batuan breksi dan batuan
konglomeratyang terendapkan tidak jauh dari sumbernya, batupasir yang
terendapkan lebihjauhdari batu breksi dan batuan konglomerat, serta lempung
yang terendapkanjauh dari sumbernya.
1.2

Maksud dan Tujuan


Makalah ini dibuat bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara proses

sedimentasi batuan sedimen dengan bidang keilmuan geokimia.

TUGAS GEOKIMIA #2 | 1

BAB II
BATUPASIR

Batupasir termasuk golongan batuan klastik detritus dan sebetulnya yang


dimaksud batupasir disini adalah batuan detritus pada umumnya yang berkisar
dari lanau sampai konglomerat. Namun secara praktis hanyalah batupasir yang
dibahas. Batupasir merupakan jenis batuan reservoir yang paling penting dan
paling banyak dijumpai, secara presentase nya, 60 % dari semua batuan reservoir
adalah batupasir. Porositas yang didapat di dalam batupasir ini hanya bersifat
intergranular, pori-pori terdapat diantara butir-butir dan khususnya terjadi secara
primer, jadi rongga-rongga terjadi pada waktu pengendapan. Namun tidak dapat
dipungkiri, bahwa setelah proses pengendapan tersebut dapat terjadi berbagai
modifikasi pada rongga-ronga, misalnya sementasi ataupun pelarutan dari semen
dan juga proses sekunder lainnya seperti peretakan/perekahan.

Menurut Pettijohn, batupasir dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :


Orthoquartzites, Graywacke, dan Arkose. Pembagian tersebut didasarkan pada
jumlah kandungan mineralnya. Kandungan mineral dan komposisi kimia
penyusun batuan reservoir sangat berpengaruh terhadap besarnya sortasi yang
dapat mempengaruhi besarnya pori-pori batuan reservoir.

2.1

Orthoquartzites
Orthoquartzites merupakan jenis batuan sedimen yang terbentuk dari suatu

proses yang menghasilkan unsur silika yang tinggi, dengan tidak mengalami
metaformosa (perubahan bentuk) dan pemadatan, terutama terdiri atas mineral
kwarsa (quartz) dan mineral lainnya yang stabil. Proses metamorfosa adalah
proses perubahan mineral batuan, karena adanya kondisi yang berbeda dengan
kondisi awal.
Material pengikatnya (semen) terutama terdiri atas carbonate dan silica.
Orthoquartzites

merupakan

jenis

batuan

reservoir

sangat

baik

karena

TUGAS GEOKIMIA #2 | 2

pemilahannya sangat baik, butirannya berbentuk bundar dan padatannya tidak


terdapat matriks kecuali semen saja, bebas dari kandungan shale dan clay.
Komposisi kimia dari orthoquarzites dapat dilihat pada Tabel A Berikut. Dari
Tabel A, dapat dilihat bahwa orthoquartzites mempunyai susunan unsur silica
dengan prosentase yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan unsur-unsur yang
lainnya. Jadi pada orthoquartzites ini unsur silikanya sangat dominan sekali, yaitu
berkisar antara 61,7 % sampai hampir 100 % sedangkan sisanya adalah unsur
lainnya sepeti Ti02, Al203, Fe203, Fe0, Mg0, Ca0, Na20, K20, H20+, H20-, dan
C02. Batupasir Orthoquarzites relatif bersih karena matrik dan sementasinya
jumlah unsurnya kecil sehingga prosentase porositasnya besar .
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Batupasir Orthoquartzites
(Pettijohn, F. J., Sedimentary Rock, 1957)

2.2

Graywacke
Graywacke merupakan jenis batupasir yang tersusun dari unsur-unsur

mineral yang berbutir besar, yaitu kuarsa, clay, mika flake {KAl2(OH)2 AlSi3O10},
magnesite (MgCO3), fragmen phillite, fragmen batuan beku, feldspar dan mineral
lainnya. Material pengikatnya adalah clay dan carbonate. Indikator yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi batuan jenis ini adalah adanya mineral illite.
Hal yang sangat penting adalah bahwa graywacke itu mempunyai matriks dan hal

TUGAS GEOKIMIA #2 | 3

ini mengurangi porositasnya. Juga sortasinya tidak baik, sehingga sebagai batuan
reservoir graywacke tidak terlalu baik.
Batuan jenis ini, banyak berasosiasi dengan turbidit ataupun diendapkan oleh arus
turbid. Di Indonesia graywacke masih belum ditemukan sebagai batuan
reservoir, akan tetapi di Amerika Serikat di cekungan Ventura dan cekungan Los
Angeles greywacke atau batu pasir turbit diketahui sebagai lapisan reservoir yang
cukup penting. Secara lengkap mineral-mineral penyusun graywacke terlihat pada
Tabel B. Komposisi graywacke tersusun dari unsur silica dengan kadar lebih
rendah dibandingkan dengan rata-rata batupasir, dan kebanyakan silica yang ada
bercampur dengan silikat (silicate). Secara terperinci komposisi kimia graywacke
dapat dilihat pada Tabel C.
Tabel 1.2 Komposisi Mineral Graywacke
(Pettijohn, F. J., Sedimentary Rock, 1957)

Tabel 2.3Komposisi Kimia Graywacke(Pettijohn, F. J., Sedimentary Rock,


1957)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 4

KET :
A. Average of 23 grayweckes
B. Average of 30 grayweckes after tyrrel (1933)
C. Average of 2 avrg. Shale and 1 part avrg. Arkose
*Probably in eror Fe203 probably should be 1,4 and the total 100,0

2.2 Arkose
Salah satu jenis batupasir yang biasanya tersusun dari kuarsa sebagai
mineral yang dominan, meskipun seringkali mineral arkose feldspar (MgAlSi 3O8)
jumlahnya lebih banyak dari kuarsa. Selain dua mineral utama tersebut, arkose
juga mengandung mineral-mineral yang bersifat kurang stabil, seperti
clay{Al4Si4O10(OH)8},microline (KAlSi3O8), biotite {K(Mg,Fe)3(AlSi3O10)(OH)2}
dan plagioklas {(Ca,Na) (AlSi)AlSi2O8}.
Biasanya cukup bersih tetapi kebundaran daripada butirannya tidak terlalu
baik karena bersudut-sudut dan juga pemilahannya tidak terlalu baik. Arkose
biasanya didapatkan sebagai hasil pelapukan batuan granit. Sebagai contoh adalah
granit wash di pendopo, Sumatra Selatan yang biasa bertindak sebagai batuan
reservoir. Kandungan mineral lainnya, secara berurutan sesuai prosentasenya

TUGAS GEOKIMIA #2 | 5

dapat dilihat pada Tabel D. Komposisi kimia arkose ditunjukkan pada Tabel E,
dimana terlihat bahwa arkose mengandung lebih sedikit silika jika dibandingkan
dengan orthoquartzites, tetapi kaya akan alumina, lime, potash, dan soda.
Tabel 2.4Komposisi Mineral Arkose (%)(Pettijohn, F. J., Sedimentary
Rock, 1957)

Tabel 2.5 Komposisi Kimia Dari Arkose (%)(Pettijohn, F. J., Sedimentary


Rock, 1957)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 6

Gambar 2.1 Komposisi Mineral Sandstone(Pettijohn, F. J., Sedimentary


Rock, 1957)
Jumlah mineral dan komposisi kimia yang terkandung dalam batupasir memiliki
komposisi yang berbeda-beda. Penyebab terjadinya perbedaan ini adalah karena
proses sedimentasi dan lingkungan pengendapan yang berbeda.

BAB III
BATULEMPUNG

Batulempung adalah jenis batuan sedimen (umumnya silisiklastik) yang


disusun oleh butiran yang sangat halus berupa lempung dengan ukuran <1/256
mm. bila ukurannya pada kisaran 1/16-1/256 mm dinamakan silt (lanau) kalau
jadi batu namanya siltstone. (Boggs, 2006). menurut Raymond mudrock adalah
siltsone (batulanau), mudstone, mudshale, claystone, dan clayshale. shale sendiri
dibedakan dengan modstone dan claystone karena laminasinya (berarti penulis ini
juga setuju dengan terminologinya Boggs).
Bentonit adalah tipe calystone atau clayshale yang komposisi utama
penyusunnya

adalah

smektit

(montmorillonite)

dari

kelompok

lempung

TUGAS GEOKIMIA #2 | 7

(Raymond, 2002). sementara Loess adalah jenis mudrock yang porous, friable,
umumnya calcareous silststone yang merupakan endapan penutup endapan
lainnya material halus penyusunnya ini (untuk loess) oleh Raymond dikatakan
kemungkinan dibawa oleh transport angin. adapun bentonit merupakan jenis
lempung yang terbentuk akibat altrasi abu vulkanik yang siliceous (kaya silika),
bentonit ini banyak ditambang buat bahan baku semen karena daya rekatnya yang
oke.
Selain bentonit diatas sana studi mengenai mudrock banyak dilakukan
oleh ahli, karena manfaatnya sebagai batuan penyekat (seal rock) yang juga sangat
oke (karena memiliki permeabilitias sangat buruk) untuk menyekat minyak (atau
air tanah) pada reserovior. studi geoteknik dan ketahanan pondasi juga dipelajari
oleh ahli geotek dan sipil yang juga mempelajari perilaku dari mudrock ini.
pokoknya di gak kalah sexy dari batuan silisiklastik lainnya.

3.1 Ciri ciri Kimia


Pembahasan mengenai kimia mudrock dibagi dua yaitu kimia organik dan
anorganik dalam kompsisi kimianya dan warna dari lempung itu sendiri yang
mencirikan

karakterisitik

kimianya.

Penulisnya

ini

bodoh

dibagi

tiga

maksudnya komposisi kimia inorganik dan organik dari mudrock, dan warna
dari mudrock. Sebentar kenapa dibagi dua inorganic dan organic?? Karena
karakter kimia dari dalam mudrock ini merupakan fungsi dari komposisi
mienraloginya (Raymond, 2002). Jika ternyata isinya karbonnya banyak
(batubara) kan beda atuh genetiknya sama yang kaya fosfat atau kaya feldspar.
Kenapa warna itu penting kan dibatuan lain gak begitu dibahas? Karena mudrock
itu kan komponennya halus artinya susaaaaah sekali diamati komposisi
mineraloginya secara teliti kayak batuan silisiklastik laennya.. nah karena
ukurannya yang begitu halus dan seragam kemungkinan unsur yang terkandung di

TUGAS GEOKIMIA #2 | 8

dalammnya dapat memberikan kesan dari warna yang tampak, dari hasil analisis
kimia para ahli sedimentografer dan geokemis mudah-mudahan dapat diketahui
hubungan empiris dari komposisi kimia dan impresi warna yang dibawa oleh
lempung yang diamat..
Tapi ternyata lempung ini berbeda dari sedimen lain, komposisi mineralogi
penyusunnya super komplek (bervariasi), dan tentu saja sangat gampang
teralterasi (jangan heran yang originnya langsung diabawa saat pengendapan gak
begitu banyak dibandingin sama yang berasal dari proses diagensis kemudian
merombak komposisi kimia di dalamnya) menjadi tantangan tersendiri bagi para
peneliti. Meski gak begitu memuaskan, setiaknya usaha-usaha para ahli dalam
menghubungkan aspek geokimia dari lempung terhadap sejarah dan source area
provenancenya patut diacungkan jempol dan palu geologi heolohi!! Heolohi!!
heolohi!!
Kimia inorganik
Mudrock adalah batuan silisiklastik. Maka kandungan kimia inorganiknya
dominan SiO2 (Raymond, 2002). Menurut Boggs, kandugnan kedua yang umum
dari senyawa oksida dalam lempung adalah Al2O3 yang kelimpahannya nomer
dua paling banyak setelah SiO2. Sama kayak batupasir menurut Boggs, SiO2 ini
berasal dan mengalami pengayaan dari butiran kuarsadan mineral silikat lainnya
semetnara pengayaan Al2O3 secara umum kaya pada mineral lempung
(filosilikat) dan feldspar. Fe dalam shale berasal dari mineral oksida besi (hematit,
geotit), biotit, dan beberapa mineral seperti siderit, ankerit, dan smektit (semuanya
mineral lempung). Kelimpahan K2O dan MgOberhubungan dengan kelimpahan
mineral lempung dalam komposisinya, meskipun Mg dpaat berasal dari dolomit
dan K dari feldspar. Kelimpahan Na berhubungan dengan mineral lempung
(seperti smektit) dan sodium plagioklas (Na plag).
Tabel 3.1 Kimia lempung dari berbagai sumber (dalam Boggs, Jr, 2006)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 9

Menurut Raymond keberagaman jenis material dalam batulempung


kelimpahan kuarsa, organic debris, carbonate mineral, evaporite mineral seperti
halit dan gipsum, matrerial fosfatik, dan oksida dan hidroksida besi menunjukan
bahwa kimia mudrock variasinya cukup luas seperti pada tabel tabel yang
ditunjukin dibawah ini.

Tabel 3.2 oksida oksida yang hadir dalam lempung (Raymond, 2002)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 10

Variabilitas kimia yang besar dalam mudrock diketahui dari analisis yang
disajikan pada tabel diatas, silika kadarnya bisa dari 40% sampai 80%. Sama juga
aluminanya dari 1-22%. Oksida besi (ferrous dan ferric) bisa saja banyak jika
digabungin keduanya bisa mencapai 1-30%. MnO dan Na2O umumnya kurang
banyak kelimpahannya kurang dari 1%, tapi kisarannya bisa mencapai 5% pada
jenis batuan tertentu. Potas (K) umumnya mencapai 1%hingga lebih,karena
kandungan illit, ika, dan alkali feldspar. CaO dan MgO variasinya uas, bergantung
pada kelimpahan komponen mineral karbonat. Kelimpahan Kalsit dan atau
dolomit mengingkatkan kandungan CaO dan/atu MgO, nilai tinggi dari MgO juga
dipengaruhi oleh kelimpahan klorit. Fosfor tinggi dalam phosphatic shales
(Heckel, 1977; Giresse, 1980).
Studi isotop juga dipake untuk mencirikan sedimen dan lingkungan
pengendapannya. Oleh Maynard (1980)dan Gautier (1986) menemukan bahwa
rasio isotop sulfur berhubungan dengan sedimentation rate. Gautier (1986) juga
menghubungkan komposisi isotop terhadap kondisi lingkungan tertentu. Dia juga
menjelaskan persebaran pirit dalam mudrock yang mengandung sedikit sulfur
hadir dalam batuan yang kaya kandungan karbon organik. Batuan ini terlaminasi
(tapi bukan akibat bioturbasi) dan muds rupanya diendapakan pada lingkungan
anoxic (eweuh oksigen). Sedangkan mudrock terbioturbasi (nonlaminated)
kemungkinan diendapkan pada air yang teroksigenasi dengan kandungan karbon
organik yang rendah dan hal I dtunjukan oleh suatu kisaran tertentu dari nilai
isotop sulfur.
Kimia Organik
Karbon organik, oleh Gautier (1986) menggunakan hubungan sulfur untuk
mengetahui karakteristik mudrock, yang mana sulfur ini merupakan suatu
kandungan yang umum dalam mudrock. shale, memiliki kandungan organik 2.1 %
(Degens, 196, p 202), tapi bisa mencapai hingga kisaran 35% (Bradley, 1948;
Simoneit, 1974; Claypool, Love, dan maugham (1978) dan lain lain). Karbon
organik ini menghasilkan endapan batubara (berasal material tumbuhan yang
terkonsentrasi dalam jumlah besar) dan minyak (dimana material organik
amophous melimpah). Apapun sumber asal dari sumber organik dari organik
TUGAS GEOKIMIA #2 | 11

debris, terdapat juga aksi mikroba yang dihasilkan oleh bakteri dan fungi yang
merubah komposisi kimia dari material (Ourrion, Albrecht, danRohmer, 1984).
Kandungan organik dari sedimen beragam. Termasuk senyawa amino,
karbohidrat dan turunanya, lipid, isoprenoid, steroid, senyawa heterocyclic, fenol,
quinones, senyawa basah, hidrokarbon, dan aspal (Degens, 1965 hal 2). Lipid
merupakan rantai panjang dari asam karboksil, khususnya pada tumbuhan dan
lemak hewan. Sementara kerogen merupakan suatu senyawa yang halus, berwaran
coklat (brown) sampai hitam, tidak laurt, secara umum disusun oleh karbon,
hidrogen, oksigen, dan nitrogen, plus or minus sulfur. Baik lipid maupun kerogen
merupakan dua jenis material organik yang penting dalam mudrock. (Fporsman
dan Hunt, 1958)
Khususnya jenis senyawa organik dan rasio senyawa ini berguna untuk
mencirkan sumber sedimen dan sejaarah pemanasan (thermal history) dari
mudrock. dalam material keseluruhan dari mudrock (diantara lipid dan kerogen),
indikator molekul penyusunnya dapat menjadi ciri atau indikator untuk
menentukan source dari mudrock. sebagai contoh lipid perlene dapat menjadi
indikator untuk origin terigen (Aizenshtat, 1973; Simoneit, 1976). Sama halnya,
rasio pirstane/phytane mencirikan laminasi mudrock dari derivasi kontental (L.M
Pratt, Claypool, dan King, 1986). Simoneit (1986) menyimpulkan bahwa asal
muasal dari material organic debris pada batuan cretaceous di laut, adalah
terrestrial (darat) dan marine. Adal muasal ini semakin susah diuraikan lagi
seiring meningkatnya kontrol diagensisi, yang bisa mempengaruhi perubahan
rasio unsur dan karena penambahan lipid (Ourrison, Albrecht, dan Rohmer, 1984).
Perbedaan antara batuan mudrock yang kaya akan karbon organik (dengan
mudrock lain) yang akaya karbon ini dinamakan black shale. Secara luas
didistribusikan dalam rekaman geologi, dan secara khusus merupakan produk dari
pengendapan amrin cretaceous. Dan pengendapan devon marine di antartika utara.
Hipotesis bahwa shale dari matrial sedimen kaya organik merupakan anoxic
bottom dari tubuh air secara umum telah dapat diterima. Bukti karbon
biomolekular, dihasilan oleh bakteri sulfur hijau, dalam black shale yang

TUGAS GEOKIMIA #2 | 12

terbentuk pada utara samudra atlantik, mendukung hiptoesis ini bahwa pada
pertengahan cretaceous di laut ini merupakan anoxic (Sinninghe Damste dan
Koster, 1998) dan black shale pada atlantik jurassik dan cretaceous black shale
diidentifikasi kedalam tiga tipe matrial organik (Tasot et al, 1980; B.J Katz dan
Pheifer, 1986):
a. material organik marine yang terpreservasi baik, dengan nilai tinggi secara
relatif dari rasio Hidrogen/karbon (H/C) berada pada kisaran 1.2 dan nilai
Oksigen/karbon (O/C) dalam kerogen yaitu kurang dari 0.15
b. material organik terpreservasi secara moderat dari terresrial origin (dari
darat atau kontinen) dengan nilai H/C sekitar 0.85 dan nialai O/C dalam
kerogen yang bisa mencapai 0.3
c. matrial organik terdaur (recycled) atau teralterasi, dengan nilai H/C kurang
dari 0.7 dan O/C yang bervariasi, dan variasi ini cukup luas sifatnya.
Fakta yang menunjukan proporsi relatif dari tipe ini berbeda dari satu
lokasi ke lokasi lain pada level stratigrafi tertentu, mengindikasikan bahwa origin
dari kandungan sedimen dalam mudrock juga bervariasi. Menurut B.J Katz dan
Pheifer (198/6) bahwa kondisi anoxic tidak diperlukan bagi formasi black shale.
Pendapat ini diterima secara luas. Rapid burial, aktivitas organik yang tinggi,
kondisi rekduksi, dan senyawa organik yang presisten serta metastabil dapat
menjadi komponen yang melimpah secara lokal dalam membentuk formasi
blackshale yang besar. (Raymond, 2002).
3.2 Cara Terjadinya dan Lingkungan
Mudrock dapat hadir pada setting lingkungan apapun dimana sedimen
halus melimpah dan energi air cukup lemah sehingga memudahkan settling
(terendapnya) material suspensi halus ini berupa silt dan clay (Boggs, Jr., 2006
144). shale secara khsusu mencirikan lingkungan laut yang dekat dengan kontinen
dimana lantai laut berada dibawah storm wave base. tapi bisa juga hadir di danau

TUGAS GEOKIMIA #2 | 13

dan air tenang pada bagian tertentu di lingkungan sungai, dan di lagoon, tidal-flat,
dan lingkungan deltaik (Boggs, Je p 145).
Sedimen silisiklastik halus yang merupakan produk langsung hasil
pelapukan jumlahnya melebihi partikel sedimen yang lebih kasar saat pelapukan
terjadi. karena kelimpahan jumlah sedimen halus ini maka sedimen halus ini dapat
diendapkan pada lingkungan manapun dimuka bumi dengan arus yang tenang,
selama ini diketahui shale merupakan jenis sedimen yang paling banyak
jumlahnya mengisi permukaan bumi perkiraan kasarnya mencapai 50% total
sedimen yang menutupi permukaan bumi, umumnya berselang seling dengan
batupasir atau batugamping pada unit ketebalan yang bervariasi mulai dari
beberapa milimiter hingga puluan meter. bahkan ada yang mendekati satu unit
masif shale dapat mencapai ratusan meter tebalnya. unit shale pada lingkungan
laut cukup luas secara lateral persebarannya (terutama laut dalam).
Menurut Raymond (2002) mudrock ini dapat terbentuk di kontinen pada
daerah fluvial floodplains, alluvial fans, playa lake, playa dan sabkhas, swamps,
caves, dan lake yang menunjukan varasi klimatik, topografik, dan lingkungan
tektonik tertentu. pada lingkungan transisi mudrock umumnya terbentuk pada
estuari, lagoon, dan marshes. mudrock terdistribusi secara luas pada daerah shelf
dan endapan lerng, juga pada daerah rise (continental rise), trench, dan basin
plain. (Raym0nd, 2002 p 341) bayangin aja hampir semua lingkungan
pengendapan disebutin artinya.. mudrock adalah jenis batuan sedimen terbanyak
yang mengisi permukaan bumi.
2.3 Komposisinya
Secara sederhana mineral lempung itu masuk ke dalam kelompok
phylosilicate (mineral yang berlembar lembar) bentuk struktur dari mineral ini
adalah berlembar lembar dan beruikuran sangat halus.

TUGAS GEOKIMIA #2 | 14

Gambar 3.1 Perhatiian struktur internal mineral lempung disamping. Coba


liat bagaimana perlapisan perlapisan dari mineral lempung ini disusun oleh
ion ion air dan ion logam lain (Mg or Ca), jadi jelas sekali mengapa mineral
lempung ini adalah tipe mineral yang sangat mampu menahan air, bahkan
gak mau lepas itu air. Sehingga batulempung ini sangat sulit ditembus air
(seal yang oke) dan bila dalam fase sedimen lepas (belum jadi batu) dia juga
kuat nahan air (makanya jangan heran daerah daerah rawan longsor adalah
daerah yang kaya formasi lempung (air tertahan dalam masa lempung
akibatnya massa formasi lempung bertambah berat, kalo posisinya ada di
lereng atau tempat yang miring.. jebreeeet longsor deh)
Shale (mudrock) ini disusun oleh material kristal halus seperti disebutin
diatas adalah mineral mineral lempung (ukuran <1/256 atau antara 1/16-1/256
mm), selain itu ada juga mineral lain seperti karbonat (kalsit, dolomit, siderit),
sulfida (pirit, markasit), oksida besi (geotit), mienral berat, juga beberapa karbon
organik (Boggs Jr, 2006). Kalo kata gue mineral apa aja bisa sih asal ukurannya

TUGAS GEOKIMIA #2 | 15

segitu. Mineral lain seperti oksida alumunium (selain oksida besi diatas),
hidrokseida, zeolit, sulfat dan sulfida, apatit, mineral berat seperti hornblenda,
selain itu ada gelas vulkanik dan material organik (P.E Potte, Maynard, Prior,
1980; Scheiber et al., 2000 dalam Raymond, 2002).
Tabel 3.3 Contoh sample batuan Mineral mineral penyusun batulempung
dari berbagai tempat versi OBrien dan Slatt, 1990. Untuk kelompok mineral
lempung pada kolom kedua diatas (clay minerals) kemungkinan empat
kelompok utama mineral lempung (illit, smektit, kaolinit, dan klorit). (dalam
Boggs, Jr, 2006).

Tabel 3.4 Versi raymond hasil berbagai peneliti (Raymond, 2002)

Tabel 3.5 Mineral pengisi lempung (mud) modern dan batulempung


(mudrock) ancient; dalam Raymond (2002)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 16

Mineral lempung dalam mudrock termasuk kaolinit; smektit, termasuk


montmorilonit, beidelite (aluminous smectite), dan nontronite (iron smectite);
chamosite; ilmenite, mixed layer (I/S) clay; Mg-bearing clay, termasuk corrensite,
sepiolite, dan attapulgite (palygorskite). Tiap individu lempung yang terbentuk
pada kondisi tertentu. Diantra mineral mineral lempungi ni ada yang teralterasi
menjadi illite, klorit, muskovityaitu kelompok mineral yang mencirikan suatu
alterasi diagenetik dan memarfisme lemah dari mudrock. Sebasgai contoh
montmorilonit terubah menjadi illilte, yang mana dapat terreksritalisasi
membentuk muskovit seiring meingkatnya diaganesisi atau metamorfisme.
Corrensite teralterasi menajdi kloirt.
Mineral karbonat hadir pada kondisi tertentu seperti kaslit, dolomit,
sideerit, dan ankerite. Seperti halnya mika setiap mineral ini hadir pada kondisi
tertentu.
Mieneral lain dan material non mineral juga bisa hadir. Zeolit dijumpai
pada batulempung termasuk mineral mienral seperti phillipsite, clinoptilolite, dan
analcite. Oksida besi dan alumunium atau hidroksidanya seperti hematit, geotit,

TUGAS GEOKIMIA #2 | 17

limonite, gibsite juga bisa hadir. Sulfida yang umum adalah pyrite dan marcasite,
dan sulfat contonya kayak gipsm dan anhidrit. Terus ada juga mineral asesoirs
seperti apatit, plus horndblenda, zirkon dan mineral berat lainnya menjadi
komposisi minor dalam lempung. Gelas volcanic juga umum dalam lumpur, tapi
sedikit dalam mudrock, karena mudah terkonversi menjadi zeolite, lempung dan
mineral lainnya.(Raymond, 2002 p 344) (mmmmm pantesan banyak zeolit di
Tasik ya pak dhe.. ini sebabnya di kavling sahabat saya master of literature Reza
marza dan manzur DJ banyak dijumpai zeolite yang berasosiasi dengan tuff).
Transportasi, setting tektonik, dan lingkungan pengendapan juga
mempengaruhi kelimpahan mineral dakn komposisi kimia dari sedimen
(Raymond, 2002).
Untuk syarat lingkungan diatas, air teroksigenasi akan menghasilkan
mineral teroksidasi sepreti hamtit dan manganoan calcite, sementara air anoxic
(eweuh oksigen na) akan menghasilkan mineral sulfidic seperti pyrite. Khususnya
pad alingkungan saline (banyak larutan garam kayak air laut lah contonya ya pak
dhe) kemuungkinan hadirnya zeolit seperti erionite, chabazite, dan phillipsite
terbentuk (Sheppard dan Gude, 1968; Surdam dan Eugster, 1976). Secara umum,
kaolinit cenderung mendominasi ke arah shoreward (proximal) menuju basin
(cekungan), dan palygorkskite (Parham, 1960). Kuarsa dan feldspar juga
cenderung melimpah ke arah proks8imal karena sifat proksimitas source terrain
(semakin melimpah). Jumlah signifikan dari kuarsa, bagaimanapun juga dapat
mengalami proses diagenetis dan dueerrr terubah lagi.. (Scheiber et al., 2000 gak
pake dueer sob).
Perbedaan transportasi versus ujan sedimen (sediment rain) ditunjukan
oleh aksi aurs trubditit dan hemipelagic mud yang mengisi abysal plain (laut
dalam). Hemiplagic mud mengandung lempung dan mineral Mg carbonate,
termasuk dolomit, semenatra mudrock pada perlapisan turbidit, kaya akan illite,
kuarsa dan kalsit.
Cekungan marin dan kontinental dari berbagai jenis yang mana juga
menghasilkan arus turbidit dapat bekerja (darat di danau contohnya laut ya lereng
TUGAS GEOKIMIA #2 | 18

laut) terbentuk sebagai fungsi setting tektonik (syarat kedua diatas), setting
tektonik mengontorl source dari sedimen, juga lingkungan pengendapan dan
recycle dari sedimen. Sebagai contoh Garver dan Scott (1995) menemukan
bahwa, pada lingkungan yang secara tektonik aktif seperti pada mesozoic pacific
northwest (barat laut pasifik), migrasi crustal block (source area nya)
menghasilkan perubahan komposisi shale dari waktu ke waktu pada cekungan
yang berdekatan (menempati daerah tersebut). Semetnara itu Cox et al (41995)
mengamati mudrock di Colorado Province (Amrik) mengemukakan bahwa
komposisi mudrock berubah dari waktu ke waktu bukan hanya sebagai respon
terhadap evolusi (erosi) dari source terrain, tapi juga sebagai respon terhadap
pelapukan dan recycle dari material sedimen yang lebih tua.
Berikut ini adalah bukti umum komposisi mudrock berubah seiring
perubahan (berjalannya) waktu geologi. Smektit melimpah pada mud dan shale
kuarter, tapi pada era kenozoik yang melimpah justru illite (>50%) dan smektit
hanya sedikit saja (kata pak raymond, 2002). Sementara itu variasi kimia dari
berbagai jenis lempung juga signifikan, termasuk perubahan kandungan K2O
yang kaya pada batulempung lebih tua dibandingin sama yang lebih muda, terus
kadar CaO yang banyak di yang muda dan habis gak ada di lempung yang lebih
tua. Perubahan perubahan ini merupakan respon proses diagensis dalam batuan
yang mana unsur unsur dan senyawa tidak stabil akan hilang dan terganti yang
baru. Smektit yang mendaung kalsium terkonversi menjadi illite yaitu jenis
mineral baru yang membawa larutan (bearing) oksida potasium (K2O). penjelasan
lain yang mengontrol perubahan kimia ini (selain diagentic process) adalah
perubahan kontrol giologi dari pelapukan seiring waktu berjalan dan perbuahan
kontrol tektonisme, vulkanisme, dan iklim (E.G dan Blatt, 1982p291ff.; C.E
Weaver, 1989, 1989 p 563ff.).
Sementara menurut Boggs, Jr (2006) selain proses diagensis (burial
diagensisi khususnya), setting tektonik, lingkungan pengendapan dan provenance
(source), udah disebutin semua diatas ditambah lagi ukuran butir. kuarsa, feldspar
dan mineral lempung umumnya merupakan mineral detritus (terrigen), namun
beberapa bagian dari mineral ini juga terbentuk selama proses diagensis terjadi

TUGAS GEOKIMIA #2 | 19

(grain

contact,

dissolution,

dll

sudah

dijelaskan

sebasgain

kecil sebelumnya mudah mudahan detailnya nanti di postingan berikutnya), secara


khusus mineral lempung hadir secara kuat dipnegaruhi oleh proses diagentis
(Boggs, Jr 2006). Mungkin maksud kontrol ukuran butir menurut Boggs ini lebih
ke arah proses diagensis, masih ingat kan pelajaran kimia SMA?? Apa saja yang
mempercepat reaksi kimia? Ada temperatur (semakin meningkat) dan bidang
sentuh permukaan reaktan semakin halus semakin mudah bereaksi bukan?? Ketika
detritus yang diendapkan kasar maka proses diagensisi yang bekerja pada bidang
kontak akan semakin lama berbeda dengan ukuran butiran yang lebih kecil maka
ketika ada larutan fluida yang larut melewati pori (antar ruang butir) maka reaksi
perubahan (alterasi) mineral lain menjadi lempung akan semakin cepat.

BAB IV
KLASIFIKASI BATUPASIR DAN BATULEMPUNG

Karena batupasir mempunyai jenis yang sangat beragam, maka dalam


penentuan namanya tentulah harus digunakan suatu klasifikasi yang jelas dan bisa
digunakan secara internasional. Berikut ini adalah macam-macam klasifikasi
untuk batupasir:
a. Klasifikasi batupasir berdasar Pettyjohn
b. Klasifikasi batupasir berdasar Folk (1974)
c.

Klasifikasi batupasir menurut Gilbert (1982)

TUGAS GEOKIMIA #2 | 20

Klasifikasi batupasir menurut Pettyjohn (1987) dan Folk (1974)


didasarkan pada komposisi batupasir tersebut, dimana komposisinya ada butiran
yang terdiri dari fragmen batuan, kuarsa, maupun feldspar; matriks; dan semen.
Berdasarkan komposisi inilah dihasilkan beberapa jenis penamaan seperti
batupasir kuarsa (quartz arenite), batupasir arkose (arkoses), batupasir litik
(litharenites), batupasir wacke (greywacke).
Dalam tulisan kali ini, saya akan lebih mengkhususkan kepada klasifikasi
menurut Pettyjohn.

Gambar klasifikasi batupasir menurut Pettyjohn

TUGAS GEOKIMIA #2 | 21

Dalam membuat klasifikasinya, Pettyjohn memakai dasar komposisi dari


batupasir tersebut. Klasifikasi ini menggunakan dasar segitiga sama sisi dimana
setiap sudutnya terdiri dari kuarsa, fielspar (plagioklas + K. fieldspar) dan
fragmen batuan.
1. Luasan segitiga pertama sampai kedua yaitu dimana terdapat kandungan
matriks 0 15 % dinamakan arenit. Untuk klasifikasi selanjutnya, tergantung dari
unsur utama penyusun batuan itu.

a. Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi


litarenit atau litik arenit,yaitu kandungan fragmen batuan kurang lebih 50
% dengan kuarsa kurang lebih 20 %.
b. Jika batuan litik arenit tersebut banyak tercampur mineral kuarsa, maka
namanya menjadi sublitik arenit.
c. Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic
arenite; yaitu kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang
lebih 20 %.
d. Jika batuan arkosic arenite tersebut banyak mengandung mineral kuarsa,
maka namanya menjadi subarkose.
e. Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar lebih dari 90 %),
maka nama batuan itu disebut quartz arenit.
2. Luasan segitiga kedua sampai ketiga yakni terdapat kandungan matriks antara
15 % - 75, batuan yang terdapat di daerah tersebut dinamakan wacke

TUGAS GEOKIMIA #2 | 22

Cara penamaanya hampir sama dengan luasan segitiga pertama yaitu:


a. Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi lithic
wacke atau litik arenit, yaitu kandungan fragmen batuan kurang lebih 50 %
dengan kuarsa kurang lebih 10 %.
b. Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic wacke;
yaitu kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 10 %.
c. Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar 90 %), maka nama
batuan itu disebut quartz wacke

3. Luasan segitiga ketiga dan seterusnya yakni terdapat kandungan matriks lebih
dari 75 %; batuan yang terdapat di daerah itu disebut mudstone

Cara penamaan dan pembacaan:

TUGAS GEOKIMIA #2 | 23

a. Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi lithic
mudstone, yaitu kandungan fragmen batuan kurang lebih 50 % dengan
kuarsa kurang lebih 30 %.
b. Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic
mudstone;

yaitu kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan

kuarsakurang lebih 30 %.
c. Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar lebih dari 70 %),
maka nama batuan itu disebut quartz mudstone.

DAFTAR PUSTAKA
http://oaji.net/articles/2014/1150-1408334347.pdf diakses pada tanggal 27 Mei
2016
http://catatanminyak.blogspot.co.id/2012/02/komposisi-kimia-batuanreservoir.htmldiakses pada tanggal 27 Mei 2016
http://dokumen.tips/documents/makalah-geokimia-56e0cbb1c4100.htmldiakses
pada tanggal 27 Mei 2016

TUGAS GEOKIMIA #2 | 24

TUGAS GEOKIMIA #2 | 25