Anda di halaman 1dari 11

Makalah Individual

tugas pengantar pendidikan arsitektur


OBJEK STUDI : KAMPUNG BENA, FLORES,
NUSA TENGGARA TIMUR

NAMA: Gustrian Ralintio


NIM:1406043
NAMA DOSEN : LILIS WIDANINGSIH, S.PD., MT.

PENDIDIDKAN TEKNIK ARSITEKTUR


FPTK UPI
2014

A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG PENELITIAN
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan kebudayaan yang tersebar di
setiap penjurunya. Kekayaan budaya tersebut menjadi sebuah karakter dan identitas bagi
masyarakatnya dan hadir pada tiap aspek kehidupan sehari hari, termasuk dalam arsitektur. Karya
arsitektur vernakular merupakan manifestasi dari kearifan lokal yang menyikapi keadaan alam,
dilandasi oleh kebudayaannya, dan merupakan perkembangan dari cara berpikir manusia dalam situasi
dan kondisi lingkungan yang dinamis. Oleh karena itu, bentuk dan tampilannya memiliki ciri khas
tersendiri dan menjadi kontekstual.
Arsitektur vernakular merupakan jenis arsitektur rakyat yang selalu berkembang dengan proses
trial and error. Perkembangan teknologi, globalisasi bentuk dan dinamika masyarakat dikhawatirkan
mengubah bentuk asli secara signifikan, dan mengaburkan jejak peradaban masa lalu. Salah satu
contoh arsitektur vernakular yang menjadi objek studi dalam penelitian ini adalah Kampung Bena di
Flores, Nusa Tenggara Timur.
Kampung Bena merupakan salah satu permukiman Suku Ngada yang tersebar di sekitar Kota
Bajawa, Flores Tengah. Wujud arsitektur vernakular yang diterapkan pada konfigurasi pemukiman khas
dan bentuk rumahnya masih menampakkan citra dan bentuk primitif, vernakular,sehingga arsitektur
vernakularnya menjadi daya tarik terbesar dari kampung adat ini. Namun tidak dapat disangkal bahwa
masyarakat penghuni kampung ini juga ingin berkembang menjadi lebih baik.
Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mendokumentasikan signifikansi budaya yang
terkandung di dalam arsitektur vernakular Kampung Bena, untuk kemudian dirumuskan aspek mana
yang harus dipertahankan, dan aspek mana yang bisa dinegosiasikan perubahannya dalam
perkembangan dan upaya konservasinya.
2. RUMUSAN PENELITIAN
1. Unsur unsur apa yang harus tetap dipertahankan Kampung Bena sebagai permukiman
tradisional Suku Ngada?
2. Upaya seperti apa yang dapat diterapkan untuk melestarikan lingkungan Kampung Bena
serta mampu mengakomodasi dinamika kehidupan masyarakat penghuninya?
3. JAWABAN PENELITIAN

unsur artistik kebudayaan dan sejarah leluhur yang di pegang teguh yang di pegang oleh mereka
sebagai keyakinan dan nilai nilai religi yang selalu mereka percayai

dengan cara menjaga nilai luhur dan menjauhkan generasi muda dengan globalisasi dan
membatasi arus zaman

3. TUJUAN PENELITIAN
menjadi sebuah referensi untuk kita mahasiswa tentang kearifan loakal yang dimiliki oleh
kampung bena yang akan bermanfaat untuk kita sebagai calon arsitektur

4. MANFAAT PENELITIAN
Menjadi referensi kekayaan budaya dan peradaban dari Suku Ngada, khususnya Kampung
Bena Menjadi referensi untuk mempertahankan pelestarian warisan budaya, dan menjadi
sebuah
5.

kearifan lokal yang patut ditiru

PEMBAHASAN

A. SUKU NGADA SEBAGAI IDENTITAS KABUPATEN NGADA


Suku Ngada merupakan salah satu dari lima kelompok
budaya besar di Flores. Suku Ngada beranggotakan sekitar 60.000
jiwa yang tersebar di Bajawa dan sekitarnya dan menjadi penduduk
terbesar di kabupaten yang diabadikan dengan nama suku tersebut
yaitu Kabupaten Ngada, dengan ibukota Bajawa, Flores Tengah.
Masyarakat Ngada mempertahankan adat istiadat yang kuat serta
budaya tradisional yang idealis, sehingga manusia dengan budaya
yang menyertainya menjadi karakter bagi Kabupaten Ngada. Masyarakat Ngada memiliki karakter
budaya yaitu konsep matrilineal, konsep penerapan kasta pada zaman dahulu, dan merupakan budaya
hasil akulturasi yang sukses antara kepercayaan tradisional Ngada yang disebut Baugae dengan agama
Katolik Roma yang dibawa oleh Bangsa Portugis.1
1. PERMUKIMAN SUKU NGADA
Permukiman yang dihuni oleh Suku Ngada disebut nua atau kampung adat. Nua tersebar di seluruh
penjuru Bajawa dan sekitarnya. Nua terdiri atas beberapa rumah adat atau sao meze yang terdiri dari
milik beberapa klan.
Pada setiap nua terdapat identitas tertentu yang menandakannya sebagai hunian Suku Ngada,
1

http://en.wikipedia.org/wiki/Flores

yaitu :
1. Nua dibangun pada lahan luas yang terbuka dan berada pada lereng yang tinggi
2. Konfigurasi tipikal perkampungan adalah linier

Ilustrasi 1. Konfigurasi tipikal permukiman

dengan ruang tengah yang terbuka dan luas

Suku Ngada

3. Pada ruang tengah kampung terdapat kontur kontur yang jumlahnya mewakili jumlah klan di
dalam kampung tersebut
4. Tiap klan memiliki sepasang bangunan sakral yang dinamakan ngadhu dan bagha.
5. Hadirnya monumen megalit yang terbuat dari batuan andesit
2. KAMPUNG BENA SEBAGAI PERMUKIMAN SUKU NGADA
Kampung Bena berada sekitar 18 km ke arah selatan dari ibukota kabupaten,Bajawa. Kampung
ini telah berusia lebih dari 300 tahun, dan masyarakat yang tinggal di dalamnya masih menunaikan
kebudayaan primitif Ngada yang telah berusia 1.200 tahun dalam kehidupannya sehari hari.

Gambar 1. Tampak depan Kampung Bena (kiri) ; Gambar 2. Kampung Bena dari sisi selatan (kanan)

SEJARAH KAMPUNG BENA


Kampung Bena diceritakan secara turun temurun sebagai sebuah kapal yang terdampar pada
dataran tinggi selagi mengarungi Laut Sawu. Penumpangnya memutuskan untuk membangun
permukiman di atas kapal tersebut. Ketujuh orang penumpang kapal tersebut adalah tujuh orang leluhur
Kampung Bena.
3. LETAK KAMPUNG BENA
Secara geografis, Kampung Bena terletak pada titik koordinat 8o 52 38 LS dan 120o 59 09.21
BT, pada elevasi 823 meter di atas permukaan laut. Batas batas geografis Kampung Bena adalah :
Utara : Gunung Manulalu, Desa Beja, Golewa
Barat : Gunung Inerie, Kampung Sarabawa
Timur : Gunung Ra, Kampung Tude
Selatan: Gunung Deru

B.

KEARIFAN LOKALPADA KAMPUNG BENA

1. USIA, SEJARAH DAN KELANGKAAN KAMPUNG BENA


Kampung Bena telah berusia lebih dari 300 tahun. (termasuk dalam Benda Cagar Budaya sesuai
UU RI no.5 thn 1992 tentang Benda Cagar Budaya), dan budaya yang melandasinya (budaya Ngada
telah berusia lebih dari 1.200 tahun). Selain itu, masih hadirnya penggunaan dan penghormatan
terhadap monumen megalitikum menjadikan Bena sebagai The Living Megalith Culture, yang
semakin langka di Indonesia.
2. ARSITEKTUR DAN BUDAYA KONSEP PENGGUBAHAN LINGKUNGAN
Lingkungan binaan Kampung Bena dibentuk berdasarkan asas religi dan ruang ruangnya
bersifat sakral simbolis sehingga keseluruhannya memiliki makna budaya terkait pemujaan terhadap

leluhur (kepercayaan Baugae)dan dibangun dengan ritual tertentu.


Filosofi dalam perancangan lingkungan di Kampung Bena :

Alam merupakan titipan dari Sang Pencipta

Konsep pasangan pria dan wanita layaknya manusia ( implementasinya pada dua jenis rumah
yaitu sao saka puu atau rumah utama wanita dan sao saka lobo atau rumah utama pria,
danjuga pada pasangan bangunan sakral, ngadhu (simbol leluhur pria) dan bagha (simbol
leluhur wanita)

3. DARI SEGI ARTISTIK


Ukiran merupakan wujud dari kearifan lokal Suku Ngada berupa kesenian yang hadir dalam
arsitektur vernakular. Tidak semua orang dari Suku Ngada mampu membuat ukiran. Hanya
beberapa orang tertentu yang menguasai keterampilan seni ukir bangunan adat. Pada
umumnya, orang yang mengukir juga menjadi spesialis pembuat teda one karena teda one
sarat akan ukiran, dan yang membuatnya harus mengerti betul mengenai adat Ngada.
4.PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan yang dapat digali dari Kampung Bena dan kehidupan
masyarakatnya adalah nilai arsitektural dan teknologi pembangunannya. Kampung Bena sangat
berpotensi untuk diteliti dari aspek pengetahuan akan arkeologi dan antropologi. Penelitian yang
dilakukan ini bermanfaat bagi masyarakat dunia, tidak hanya dalam bidang arsitektur vernakular, tetapi
juga bidang ilmu lainnya.
5. RELIGI DAN SPIRITUAL
Konsep religi dan spiritual diterapkan pada setiap penggubahan komponen vernakular pada
Kampung Bena. Maka dari itu, segala tahapan pembuatannya diikuti oleh rangkaian ritus religi berupa
upacara upacara adat. Monumen megalitik yang merupakan peninggalan zaman megalitik di masa
lalu masih digunakan untuk pemujaan hingga saat ini.
6. SIMBOLIK
Secara lokal, Kampung Bena telah menjadi permukiman tradisional Suku Ngada yang relatif
dikenal, sehingga kampung ini menjadi simbol dari Suku Ngada. Selain itu, hadirnya ngadhu dan
bagha pada Kampung Bena merupakan simbol dari sebuah permukiman Suku Ngada. Kampung Bena

sendiri bukan sebuah monumen yang dibuat untuk memperingati sesuatu, namun kampung itu telah
menjadi sebuah simbol yang menyatakan Kabupaten Ngada, Flores
7. ASOSIATIF, EMOSIONAL,PUBLIK SOSIAL
Kampung Bena adalah kampung adat yang paling dikenal di Bajawa karena keaslian dan
keindahannya, di antara puluhan kampung adat lain di sekitarnya, dan membuat Kabupaten Ngada
menjadi terkenal karenanya. Kebersamaan dan rasa memiliki masyarakat sekitar terhadap Kampung
Adat Bena menimbulkan rasa emosi terhadap kejadian kejadian, atau perubahan yang terjadi pada
kampung tersebut dalam segala hal. Di kalangan masyarakat Bajawa, Suku Ngada dan Kampung
Bena telah menjadi identitas yang diakui secara luas. Bila membahas Bajawa, tidak mungkin tidak
tersebut nama Kampung Adat Bena. Saat penelitian dilakukan, Kampung Bena telah dijadikan lokasi
pembuatan iklan televisi sebuah minuman energi ternama dengan

tema kekayaan Flores, yang

mendongkrak kebanggaan masyarakat Bena, terutama masyarakat Bajawa secara luas.


8. ORIENTASI DAN SIRKULASI KAMPUNG
Kampung Bena berkonfigurasi linear dengan sumbu utara selatan, dengan muka kampung
menghadap utara. Rumah rumah tersusun secara linear saling berhadapan dengan arah timur dan
barat menghadap kisanata. Pada kisanata, terdapat ngadhu dan bhaga yang dibangun menghadap
muka kampung,Jalur sirkulasi utama di Kampung Bena adalah area kisanata (area tengah). Jalur
sirkulasi minor kampung terdapat pada area belakang dan samping rumah dan digunakan untuk
keperluan servis.
Kisanata dibagi menjadi sembilan kontur yang dibatasi oleh ture nua. Banyaknya kenaikan
kontur melambangkan banyaknya klan yang mendiami kampung tersebut. Pada Kampung Bena
terdapat sembilan ture nua yang merepresentasikan sembilan klan.

Yang disebut sebagai rumah adat atau sao meze (sao = rumah) adalah sebuah rumah yang
memiliki ruangan inti yang disebut teda one di dalamnya.diperuntukkan kegiatan keseharian penduduk
pada siang hari. Teda moa merupakan ruang transisi antara ruang publik dan privat, yang digunakan

oleh penghuni rumah dan kerabat dekat. Ruang tambahan atau disebut soja adalah bentuk
perkembangan kebutuhan manusia. Sedangkan, teda one merupakan bagian inti dari sebuah rumah
adat Suku Ngada dan merupakan ruang sakral ( bersifat serupa dengan senthong tengah pada
arsitektur Jawa ).

Ilustrasi 6. Perkembangan ruang rumah dengan teda one dipertahankan sebagai inti dari rumah

Teda one merupakan suatu struktur ruang yang terpisah dari rumah. Ruang ini
dianggap sebagai tempat tinggal dari leluhur keluarga penghuni rumah tersebut. Untuk itu, sebagai
ruang paling penting, elevasi lantainya dibuat lebih tinggi daripada ruangan lain di dalam rumah.

DEPAN

Dalam teda one, terdapat elemen elemen yang harus dipertahankan terkait filosofi budaya yaitu :

Kabapere (tangga masuk teda one) yang diletakkan pada upacara puncak peresmian rumah

Pere one sao (pintu masuk teda one) yang dibuat rendah supaya manusia menunduk ketika
memasuki ruang tersebut

Lantai teda one harus terdiri dari 15 balok rangka

Tiap sisi dinding teda one harus terdiri dari 7 bilah papan (ube sao) melambangkan 7 orang
leluhur Bena

Papabhoko (tungku) dimana api harus selalu hidup dengan wanita sebagai penjaganya

Mataraga (penanda status sosial keluarga di rumah tersebut)

Ilustrasi 8. Denah sao meze (kiri) ; Ilustrasi 9. Tampak depan (tengah) ;


Ilustrasi 10.Tampak samping

Ilustrasi 11. Potongan


memanjang sao meze (kiri)
Ilustrasi 12. Potongan
melintang sao meze (kanan)

PASANGAN BANGUNAN SAKRAL (NGADHU DAN BAGHA)


Pasangan bangunan sakral yang disebut ngadhu dan bagha merupakan komponen sakral dalam
budaya Suku Ngada yang harus hadir dalam setiap kompleks permukimannya. Komponen ini hadir
berpasangan sebagai perwujudan leluhur pria dan wanita, yaitu ngadhu sebagai simbolisasi leluhur
pria dan bagha sebagai simbolisasi leluhur wanita ( memiliki konsep yang sama seperti lingga dan ioni
pada budaya Hindi ). Pasangan bangunan sakral yang melambangkan leluhur pria dan wanita ini
merupakan bangunan yang harus pertama kali dibangun sebelum sebuah klan mendiami sebuah
kampung. Sebelum sebuah klan baru masuk ke dalam sebuah kampung dan mendirikan rumah, pertama
ia harus mendirikan pasangan ngadhu dan bagha nya. Jumlah pasangan ngadhu dan bagha dalam
suatu kampung Ngada menunjukkan jumlah klan yang menetap di kampung tersebut. Di Kampung
Bena terdapat sembilan pasang ngadhu dan bhaga, menandakan sembilan klan yang tinggal di
dalamnya, yang diberi nama sesuai nama leluhurnya.

Ngadhu dan bagha selalu dibangun segaris menghadap muka kampung, dengan posisi ngadhu
berada di depan bagha. Filosofinya adalah pria sebagai garis depan pertahanan pelindung kampung dan
pelindung wanita.
PEMASANGAN TANDUK KERBAU DAN RAHANG BABI
Suku Ngada memiliki kebudayaan untuk memasang rahang babi dan tanduk kerbau pada teras
rumah. Benda benda ini menandakan jumlah hewan kerbau dan babi yang dikurbankan selama
pembangunan rumah tersebut. Pemasangan ini juga dimaksudkan sebagai kenangan bagi keturunan
pemilik rumah tersebut, bahwa orangtuanya bekerja keras untuk mampu mengurbankan hewan
sebanyak itu. Kenangan ini dibuat supaya keturunannya juga bekerja keras untuk mampu melebihi
orangtuanya.

C.

C. KESIMPULAN
Unsur unsur yang harus dipertahankan ( signifikansi budaya ) pada arsitektur vernakular

Kampung Bena adalah :


1. Konsep perancangan ruang yang berdasar pada religi (sakral simbolis)
2. Konsep pasangan pria dan wanita pada rumah dan bangunan sakral
3. Hadirnya ruang inti ( teda one ) dalam setiap rumah adat beserta komponennya
4. Penerapan elemen elemen bangunan rumah berupa :

Pemasangan ornamen pada bubungan atap berupa pedang, tombak dan galah

Pemasangan figur berupa ata (berbentuk orang orangan) bagi rumah utama leluhur laki
laki dan figur ana iye (berbentuk rumah) pada rumah utama leluhur perempuan

Pemasangan tanduk kerbau dan rahang babi untuk peringatan akan jumlah hewan yang
dikurbankan selama pembuatan rumah

Ukiran pada papan depan teras rumah dan pada teda one yang melambangkan asal muasal
Kampung Bena dan harapan dari penghuninya

5. Mempertahankan sosok arsitektural asli sebagai berikut :

Denah ruang sederhana dan menempatkan teda one sebagai bagian inti rumah

Atap perisai yang tinggi menjulang

Lantai rumah yang diangkat dari tanah untuk pemanfaatan kolong rumah

6. Penggunaan material lokal yang berasal dari lingkungan sekitar jika masih memungkinkan
dengan negosiasi tertentu pada elemen kampung yang tidak mengubah signifikansinya
7. Pelaksanaan upacara adat terkait dengan pembangunan rumah adat dan bangunan sakral
DAFTAR PUSTAKA
SITUS

http://en.wikipedia.org/wiki/Flores

http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Bena