Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

DHF
DEPARTEMEN Medical
Disusun untuk memenuhi tugas clinical study 2 di RST dr.Soepraoen Malang

Oleh :
Nadhira Wahyu Lestari
115070205111003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

DEFINISI

Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit demam berat yang sering
mematikan disebabkan oleh virus ditandai oleh permeabilitas kapiler, kelainan hemostasis
dan pada kasus berat terjadi sindrom syok kehilangan protein. Sekarang diduga mempunyai
dasar imunopatologis.
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus dengue yang berat, ditandai
gejala panas yang mendadak, perdarahan, dan kebocoran plasma. Penyakit ini dapat
menyerang semua orang dan sering menimbulkan wabah serta dapat menyebabkan
kematian (Soegijanto, 2006)
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah
dua hari pertama (Mansjoer dkk,1999)
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Demam berdarah (DBD)
atau Dengue Hemorrhagik Fever (DHF) merupakan penyakit infeksi virus dengue yang
berat yang terjadi pada anak dan dewasa yang ditandai dengan gejala panas yang
mendadak, perdarahan, kebocoran plasma, , nyeri otot dan sendi yang biasanya
memburuk setelah dua hari pertama.

KLASIFIKASI
DHF dikelompokkan dalam empat derajat (ada setiap kelompok ditemukan trombositopenia
dan hemokonsentrasi), yaitu:
a. Derajat I
Demam yang disertai dengan gejala klinis tidak khas, satu-satunya gejala
perdarahan adalah uji tourniquet positif (Departemen Kesehatan RI, 2005).
b. Derajat II
Gejala yang timbul pada derajat I ditambah dengan perdarahan spontan, biasanya
dalam bentuk perdarahan dibawah kulit (ptekie) atau dalam bentuk perdarahan
lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2005).
c. Derajat III
Adanya tanda-tanda kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang
cepat dan lemah, menyempitnya tekanan nadi (20 mmHg) atau hipotensi yang
ditandai dengan klit dingin dan lembab yang membuat penderita menjadi gelisah
(Departemen Kesehatan RI, 2005).
d. Derajat IV
Syok yang ditandai dengan tidak terabanya nadi dan tekanan darah

ETIOLOGI
Virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arbovirus) yang
sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, familio flavivisidae dan mempunyai 4 jenis
serotipe, yaitu : DEN 1 , DEN 2 , DEN 3, DEN 4. Di Indonesia pengamatan virus
dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa Rumah Sakit menunjukkan
keempat serotipe di temukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN 3
merupakan serotipe yang dominan

dan diasumsikan banyak yang menunjukkan

manifestasi klinik yang berat (Hadinegoro dkk, 2001)


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maria dkk (2013) faktor resiko
kejadian DHF adalah :
1. Densitas Larva
Keberadaan kontainer di lingkungan rumah sangat berperan dalam kepadatan
jentik Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat
perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat
populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan
waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat
yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB penyakit DBD.
2. Kepadatan Hunian Rumah
Kepadatan penghuni adalah perbandingan jumlah penghuni dengan luas rumah
dimana berdasarkan standar kesehatan adalah 10 m2 per penghuni, semakin luas
lantai rumah maka semakin tinggi pula kelayakan hunian sebuah rumah.

Pada

penelitian ini ditemukan bahwa kelompok kasus lebih banyak yang memiliki hunian
rumah yang padat (risiko tinggi) sebesar 37 orang (71,2%), sedangkan pada
kelompok kontrol lebih banyak yang memiliki hunian rumah yang tidak padat (risiko
rendah) sebesar 33 orang (63,5%)
3. Ventilasi Rumah
Pemakaian kawat kasa pada ventilasi rumah adalah salah satu upaya untuk
mencegah penyakit DBD. Pemakaian kawat kasa pada setiap lubang ventilasi yang
ada dalam rumah bertujuan agar nyamuk tidak masuk ke dalam rumah dan
menggigit manusia. Dalam penelitian ini ventilasi dan jendela rumah dikatakan
memenuhi syarat kesehatan bila pada lubang ventilasi terpasang jaring-jaring atau

kawat kasa. Dari hasil penelitian menunjukkan umumnya masyarakat memiliki tidak
berkasa. Pada kelompok kasus lebih banyak yang memiliki ventilasi yang tidak
memenuhi syarat kesehatan (risiko tinggi) sebesar 40 orang (76,9%), sedangkan
pada kelompok 7 kontrol lebih banyak yang yang memiliki ventilasi yang memenuhi
syarat kesehatan (risiko rendah) sebesar 38 orang (73,1%).
4. Kelembaban
Kelembaban merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
kenyamanan penghuni suatu rumah. Kondisi kelembaban udarah dalam ruangan
dipengaruhi oleh musim, kondisi udara luar, kondisi ruangan yang kebanyakan
tertutup. Pada penelitian ini kelompok kasus lebih banyak yang memiliki rumah
yang lembab (risiko tinggi) sebesar 30 orang (57,7%), sedangkan pada kelompok
kontrol lebih banyak yang memiliki rumah yang tidak lembab (risiko rendah) sebesar
37orang (71,2%).
5. Suhu
Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan jentik
nyamuk Aedes aegypti adalah suhu udara. Nyamuk aedes aegypti sangat rentan
terhadap suhu udara. Dalam waktu tiga hari telur nyamuk telah mengalami
embriosasi lengkap dengan temperatue udara 25-30C. Namun telur akan mencoba
menetas 7 hari pada air dengan suhu 16C. Telur nyamuk ini akan berkembang
pada air dengan suhu udara 20-30C

PATOFISIOLOGI
Digigit
nyamuk
aedes
PGE2
Hipothalamus

Hiperter
mi

Beredar
dalam aliran
darah

Infeksi virus
dengue

Membentuk
dan
melepaskan
zat C3a, C5a

Mengaktivasi
system
komplemen

Pening.
Reabs. Na+
dan H2O

Permeabilitas
membran
meningkat

Resiko
Agregasi
Kerusakandan
Merangsang
Ketidakseimbangan
syok
trombosi
endotel
mengaktivasi
Kekurangan
Renjatan
Resiko
perfusi
Asidosis
Hypoxia
nutrisi kurang
dari
Resiko
pola
hipovolem
t
pembuluh
darah
faktor
voume
hipovolemik
jaringan
tidak
metaboli
Mual
+
Paru-paru
Efusi
Kebocoran
Ke
Hepar Resiko
Trombositop
Abdomen
Asites
Perdaraha
DI
jaringan
kebutuhan
tubuh
nafas
tidakdanHepatomeg

MANIFESTASI KLINIS
1. Demam
Penyakit ni didahuli dengan demam tinggi mendadak yang berlangsung terusmenerus, selama 2-7 hari, naik turun tidak mempan dengan obat antipiretik. Kadangkadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 40 derajat C dan dapat terjadi kejang
demam.akhir fase demam merupakan fase krtitis DBD. Pada fase demam mulai
cenderung menurun dan pasien tampak sekan sembuh, hati-hati karena fase
tersebut dapat sebagai awal kejadian syok. Biasanya pada hari ke-3 dari demam.
Hari ke 3,4,5 adalah fase kritis yang harus dicermati, pada hari ke-6 dapat terjadi
syok.
2. Tanda-tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada pasien DBD ialah vaskulopati, trombositopenia, dan
gangguan fungsi trombosit, serta koagulasi intravaskuler yang menyeluruh. Jenis

perdarahan yang terbanyak adalah perdarahan kulit seperti uji turniket positif, petekir,
purpura, ekimosis, dan perdarahan konjungtiva. Petekie dapat muncul pada hari
pertama tetapi dapat pula dijumpai pada hari ke 3, 4, 5 demam. Perdarahan lain
yaitu epistaksis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis. Pada anak yang belum
pernah mengalami mimisan, maka mimisan merupakan tanda penting. Kadangkadang dujumpai pula perdarahan konjungtiva atau hematuria.
3. Pembesaran hati
Sifat pembesaran hati pada kasus DHF adalah mumnya ditemukan pada permulaan
hati, tidak berbanding luruus dengan beratnya penyakit dan sering dijumpai nyeri
tekan tanpa disertai dengan ikterus (Departemen Kesehatan RI, 2005).
4. Renjatan (syok)
Renjatan atau syok terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah
ekstra vaskuler melalui pembuluh darah kapiler yang terganggu. Tanda-tanda
renjatan diantaranya kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari
tangan dan kaki, sianosis di sekitar mulut, nadi cepat dan kecil hingga tak teraba
serta tekanan darah menurun yang menyebabkan penderita menjadi gelisah
(Departemen Kesehatan RI, 2005).
5. Trombositopenia
Jumlah trombosit 100.000/l yang biasanya ditemukan pada hari ke 3-7.
Pemeriksaan dilakukan pada pasien yang diduga menderita DBD dan dilakukan
berulang sampai suhu tubuh menurun dan terbukti jika jumalh trombosit dalam batas
normal atau menurun (Departemen Kesehatan RI, 2005).
6. Haemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
Peningkatan hematokrit selalu dijumpai pada kasus DHF dan merupakan indikator
yang peka akan terjadinya pembesaran plasma, sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan kadar hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan trombosit
mendahului peningkatan hematokrit. Peningkatan hematokrit 20% mencerminkan
peningkatan permeabilitas kapiler dan terjadinya pembesaran plasma (Departemen
Kesehatan RI, 2005).
7. Gejala klinik lain
Gejala klinik lain yang dapat menyertai DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual,
muntah, sakit perut, diare, konstipasi, dan kejang. Pada beberapa kasus terjadi
hiperpireksia yang disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering
diagnosis sebagai encephalitis. Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul
mendahului perdarahan gastrointestinal dan renjatan (Departemen Kesehatan RI,
2005).
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Laboratorium

1. Pemeriksaan Serologis
a. Tes standar (gold standar). Pemeriksaan ini memerlukan dua sampel darah
(serum), dimana serum ke-2 diambil pada saat penyembuhan (konvalsen)
sehingga tidak dapat memebrikan hasil yang cepat (Departemen Kesehatan RI,
2005).
b. ELISA (IgM/IgG)
Infeksi dengue dapat dibedakan sebagai infeksi primer ato sekunder dengan
menentukan rasio limit antibody dengue IgM terhadap IgG. Uji tersebut dapat
dilakukan hanya dengan menggunakan satu sampel serum pada masa akut
sehingga hasilnya cepat didapat (Departemen Kesehatan RI, 2005).
2. Deteksi Antigen
Virus dengue atau bagiannya (RNA) dapat ditentukan dengan cara hibridisasi DNARNA dan/atau amplifikasi segemen tertent dengan metode PCR (Polimerase Chain
Reaction). Cara ini dapat mengetahui serotipe virus namaun mahal, rumit, dan
memerlkan peralatan khusus (Departemen Kesehatan RI, 2005).
3. Isolasi virus
Penemuan virus dari sampel darah atau jaringan adalah cara paling konklsif untuk
menunjukkan infeksi dengue dan serotipenya, namun perl perlakuan khusus, waktu
yang lama untuk mendapatkan hasil, sulit, dan mahal (Departemen Kesehatan RI,
2005).
1. Darah
Pada demam berdarah dengue umum dijumpai trobositopenia (<100.000) dan
hemokonsentrasi uji tourniquet yang positif merupakan pemeriksaan penting. Masa
pembekuan masih dalam batas normal, tetapi masa perdarahan biasanya
memanjang. Pada analisis

kuantitatif ditemukan masa perdarahan biasanya

memanjang. Pada analisis kuantitatif ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan X.
Pada pemeriksaan kimia darah hipoproteinemia, hiponatremia, dan hipokloremia.
2. Urine
Ditemukan albuminuria ringan
3. Sumsum Tulang
Gangguan maturasi
1. Serologi
- Uji serologi memakai serum ganda
Serum yang diambil pada masa akut dan masa konvalegen menaikkan
antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali termasuk dalam uji ini
-

pengikatan komplemen (PK), uji neutralisasi (NT) dan uji dengue blot.
Uji serologi memakai serum tunggal.

Ada tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue uji dengue yang
mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas

antibodinya uji Ig M

antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas Ig M.


Diagnosis demam berdarah ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut
WHO tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.
1. Kriteria Klinis
- Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama
-

2 7 hari.
Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
Uji tourniquet positif
Retekia, ekomosis, epitaksis, perdarahan gusi.
Hemetamesis dan atau melena
Pembesaran hati
Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,

kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.
2. Kriteria Laboratoris
- Trombositopenia (100.000 sel/ mm3 atau kurang)
- Hemokonsentrasi peningkatan hematoksit 20% atau lebih
Dua kriteria pertama ditambah trombositopemia dan hemokonsentrasi atau
peningkatan hematokrit cukup untuk menegakkan diagnosis klinis demam berdarah
dengue. Hadinegoro dkk, 2001)
Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:
-

Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi

perdarahan adalah uji torniquet.


Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin

dan lembab, tampak gelisah.


Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur

PENATALAKSANAAN MEDIS

KOMPLIKASI
Infeksi primer pada demam dengue dan penyakit mirip dengue biasanya ringan dan
dapat sembuh sendirinya. Kehilangan cairan dan elektrolit, hiperpireksia, dan kejang
demam adalah komplikasi paling sering pada bayi dan anak - anak. Epistaksis,petekie,
dan lesi purpura tidak umum tetapi dapat terjadi pada derajat manapun.Keluarnya darah
dari epistaksis, muntah atau keluar dari rektum, dapat memberi kesan keliru perdarahan
gastrointestinal. Pada dewasa dan mungkin pada anak - anak, keadaan yang mendasari
dapat berakibat pada perdarahan signifikan. Kejang dapat terjadi saat temperatur tinggi
khususnya pada demam chikungunya. Lebih jarang lagi, setelah fase febril, astenia
berkepanjangan, depresi mental, bradikardia, dan ekstrasistol ventrikular dapat terjadi.
Komplikasi akibat pelayanan yang tidak baik selama rawatan inap juga dapat terjadi
berupa kelebihan cairan (fluid overload), hiperglikemia dan hipoglikemia, ketidak
seimbangan elektrolit dan asam - basa, infeksi nosokomial, serta praktik klinis yang
buruk (Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control WHO,2009).
Di daerah endemis, demam berdarah dengue harus dicurigai terjadi pada orangyang
mengalami

demam,

atau

memiliki

tampilan

klinis

hemokonsentrasi

dantrombositopenia(Halstead, 2007).
PENCEGAHAN
Memutuskan rantai penularan dengan cara :
1. Menggunakan insektisida :
- Malathion (adultisida) dengan pengasapan
- Temephos (larvasida) dimasukkan ketempat penampungan air bersih.
2. Tanpa Insektisida :
- Menguras bak mandi dan tempat penampungan air bersih minimal 1x seminggu
- Menutup tempat penampungan air rapat - rapat.
- Membersihkan halaman rumah dari kaleng - kaleng bekas, botol - Botol pecah
dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang (Hadinegoro dkk, 2001)
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata / Identitas
DHF dapat menyerang dewasa atau anak-anak terutama anak berumur < 15
tahun. Endemik didaerah Asia tropik.

b. Keluhan Utama
Panas / demam
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Demam mendadak selama 2-7 hari dan kemudian demam turun dengan tandatanda lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Demam disertai lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota
badan, punggung, sendi, kepala dan perut, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Ada kemungkinan anak yang telah terjangkau penyakit DHF bisa berulang DHF
lagi, Tetapi penyakit ini tidak ada hubungannya dengan penyakit yang pernah
diderita dahulu.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu keluarga ada yang
f.

menderita penyakit ini kemungkinan tertular itu besar.


Riwayat Kesehatan Keluarga
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini adalah lingkungan
yang kurang pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas and

ban bekas.
g. ADL
- Nutrisi: Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.
- Aktifitas: Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat terjadi
nyeri otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktifitas
-

bermain.
Istirahat tidur: Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
Eliminasi alvi
: Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.
Personal hygiene
: Pegal-pegal pada seluruh tubuh saat panas dapat

meningkatkan ketergantungan kebutuhan perawatan diri.


h. Pemeriksaan
- Keadaan umum: Suhu tubuh tinggi (39,4 41,1 0C), menggigit hipotensi,nadi
-

cepat dan lemah.


Kulit: tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.
Kepala : mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).
Dada: nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
Abdomen: pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan

dehidrasi turgor kulit menurun.


Anus dan genetalia : dapat terganggu karena diare/ konstipasi
Ekstrimitas atas dan bawah : ekstrimitas dingin, sianosis.
Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di
jumpai: 1)

Hb dan PCV meningkat (20%). 2)

(100.000/ml). 3)

Trombositopenia

Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis). 4)

Ig.D.dengue positif. 5)

Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan:

hipoprotinemia, hipokloremia, dan hiponatremia. 6)

Urium dan PH darah

mungkin meningkat. 7) Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.


8) SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.
2. Diagnosa Keperawatan

a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.


b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
c. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
3. PERENCANAAN
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi virus.
Tujuan: Anak menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh 36-37 0C
b. Pasien bebas dari demam.
Rencana tindakan :
- Monitor temperatur tubuh
Rasional : Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi akut
Observasi tanda-tanda vital (suhu, tensi, nadi, pernafasan tiap 3 jam atau
lebih sering).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
-

pasien.
Anjurkan pasien untuk minum banyak 1 -2 liter dalam 24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan yang banyak. d.

Berikan kompres dingin Rasional : Menurunkan panas lewat konduksi.


- Berikan antipiretik sesuai program tim medis
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.
b. Dx II Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, perdarahan, muntah, dan demam.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Kriteria hasil :
- TTV (nadi, tensi) dalam batas normal.
- Turgor kulit kembali dalam 1 detik.
- Ubun-ubun datar.
- Produksi urine 1 cc/ kg/ BB/ jam.
- Tidak terjadi syok hipovolemik.
Rencana tindakan :
- Kaji keadaan umum pasien
Rasional : Menetapkan data dasar untuk mengetahui dengan cepat
-

penyimpangan dari keadaan normalnya.


Observasi tanda-tanda syok (nadi lemah dan cepat, tensi menurun akral
dingin, kesadaran menurun, gelisah)
Rasional : Mengetahui tanda syok sedini mungkin sehingga dapat segera

dilakukan tindakan.
Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung produksi
urin turun).

Rasional : Mengetahui derajat dehidrasi (turgor kulit turun,

ubun-ubun cekung produksi urin turun).


Berikan hidrasi peroral secara adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Rasional : Asupan cairan sangat diperhatikan untuk menambah volume
cairan tubuh.
Kolaborasi pemberian cairan intravena RL, glukosa 5% dalam half strenght
NaCl 0,9%, Dextran L 40. f.

Rasional : Pemberian cairan ini sangat penting bagi pasien yang mengalami
defisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk karena cairan ini
langsung masuk ke pembuluh darah.
c. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
d. Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat.
e. Kriteria hasil :
- Suhu ekstrimitas hangat, tidak lembab, warna merah muda.
- Ekstrimitas tidak nyeri, tidak ada pembengkakan.
- CRT kembali dalam 1 detik.
Rencana tindakan :
- Kaji dan catat tanda-tanda vital (kualitas dan frekuensi nadi, tensi, capilary
reffil).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui penurunan perfusi
-

ke jaringan.
Kaji dan catat sirkulasi pada ekstrimitas (suhu kelembaban, dan warna).
Rasional : Suhu dingin, warna pucat pada ekstrimitas menunjukkan sirkulasi
darah kurang adekuat.
Nilai kemungkinan kematian jaringan pada ekstrimitas seperti dingin, nyeri,
pembengkakan, kaki.
Rasional : Mengetahui tanda kematian jaringan ekstrimitas lebih awal dapat
berguna untuk mencegah kematian jaringan.

DAFTAR PUSTAKA
Diagnosa NANDA 2012-2014
Hadinegoro, Sri Rezeki H. Soegianto, Soegeng. Suroso, Thomas. Waryadi, Suharyono.
TATA LAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE DI INDONESIA. Depkes &
Kesejahteraan Sosial Dirjen Pemberantasan Penyakit

Menular & Penyehatan

Lingkungan Hidup 2001. Hal 1 33


Halstead, S.B., 2007. Dengue Fever and Dengue Hemorrhagic Fever.In: Kliegman,Robert
M., Behrman, Richard E., Jenson, Hal B., and Stanton, Bonita F., eds.Nelson
Textbook of Pediatrics 18th ed.. Philadelphia: Saunders Elsevier, 1412-1414
Mansjoer, Arif. Triyanti, Kuspuji. Savitri, Rakhmi. Wardani, Wahyu Ika. Setiowulan, Wiwiek.
KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Media Aesculapius FK UI Edisi ketiga Jilid I.
1999. Hal 428 433.
Nusing Outcome Classification
Nursing Intervention Classification
Soegeng Soegijanto. 2006.Demam Berdarah Dengue(Edisi kedua). AirLangga University
Press. Surabaya.
Universitas Sumatra Utara. 2010. DENGUE HEMORRHAGDivisi Infeksi Tropis Bagian IKA
FK USU Medan IC FEVER ( D H F ).
World Health Organization. 2009. Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention
and control.