Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat
melaksanakan kerja praktek di PT PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan serta
dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini
Laporan kerja praktek ini disusun berdasarkan orientasi di Unit NPU
(Naphta Processing Unit) khususnya unit Penex dengan ditunjang oleh data-data
dari literatur dan petunjuk serta penjelasan yang diberikan oleh pembimbing.
Kerja praktek ini merupakan serangkaian tugas yang harus dilaksanakan oleh
setiap mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata-1
Teknik Kimia, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu dan mendukung di
dalam penyusunan laporan kerja praktek ini, terutama kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan pertolongan, kekuatan dan kelancaran
dalam pelaksanaan kerja praktek di PT PERTAMINA (Persero) RU-VI
Balongan.
2. Bapak Ir. Drs. Faisal R.M, MSIE., Ph.D selaku Ketua Program Studi
Teknik Kimia, Universitas Islam Indonesia.
3. Bapak Dulmalik, Ir, MM selaku dosen pembimbing kerja praktek Program
Studi Teknik Kimia, Universitas Islam Indonesia.
4. Wahyu Ardie N selaku pembimbing lapangan kerja praktek di PT
PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan atas penjelasan, bimbingan,
bantuan, dan kesabarannya dalam pelaksanaan Kerja Praktek dan
penulisan laporan.
5. Orang tua yang telah banyak membantu baik secara moril maupun
materi,serta doa yang telah diberikan untuk kelancaran kerja praktek ini.

6. Teman-teman OJT (On Job Training) yang selalu bersama sama dalam
suka dan duka pada saat kerja praktek di PT PERTAMINA (Persero) RU
VI Balongan
7. Teman-teman mahasiswa UII angkatan 2013 yang telah memberikan
dukungan dan semangat, serta menjadi tempat berbagi suka dan duka
selama menjalani kerja praktek di PT PERTAMINA (Persero) RU VI
Balongan.
8. Semua pihak yang turut membantu penulis dalam penyusunan proposal ini
yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan laporan kerja praktek ini
masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala
kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir
kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca.

Yogyakarta , 18 Maret 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iv
DAFTAR TABEL....................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan..........................................................................................2
1.5 Batasan Penulisan..........................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................4
2.1 Unit PENEX Kilang UP VI Balongan...........................................................4
2.2 Fungsi Unit.....................................................................................................5
2.3 Uraian Proses PENEX...................................................................................8
2.4 Katalis PENEX............................................................................................14
2.4.1. Reaksi-Reaksi.......................................................................................15
2.4.2 Senyawa -Senyawa Pengotor................................................................19
BAB III METODOLOGI.......................................................................................23
3.1 Pengumpulan Data.......................................................................................23
3.2 Pengolahan Data..........................................................................................23
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................25
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................31
5.1 Kesimpulan..................................................................................................31
5.2 Saran.............................................................................................................32
LAMPIRAN...........................................................................................................vii

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Perbandingan antara feed inlet lead reactor dengan feed inlet lag reactor
...............................................................................................................25
Tabel 4.2 Pengaruh X factor terhadap angka oktan output reactor........................27
Tabel 4.3 Pengaruh temperatur pada komposisi massa output reactor (range X
factor 30-35 %)......................................................................................29

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.Blok Diagram Naphtha processing Unit Kilang UP VI Balongan.......4


Gambar 2.2.Skema Proses PENEX Oncw Through................................................7
Gambar 2.3 Diagaram alir Unit PENEX (Unit 33)................................................13
Gambar 2.4 Isomerisasi Naphthen.........................................................................17
Gambar 2.5 reaksi penjenuhan Benzene................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proeses isomerisasi parafin dikembangkan sejak tahun 1950-an. Awalnya
proses isomerisasi fraksi pentane-hexane atau light straight naphta (LN) bukan
merupakan pilihan yang menarik. Hal ini disebabkan karena walaupun LN
mempunyai karakteristik beroktan rendah, antara 60-70 RON namun mempunyai
sifat lead susceptibility yang sangat baik sehingga dengan sedikit penambahan
TEL, LN dapat dinaikan oktannya antara 16-18 angka oktan. Oleh karena itu
biasanya LN dicampur langsung dengan komponen gasoline pool lainnya tanpa
pengolahan lebih lanjut kecuali penghilangan merkaptan.
Sejalan dengan kebijakan penghapusan TEL,fraksi LN menjadi masalah
bagi sebagian besar kilang minyak di Amerika dan Eropa. Hal ini disebabkan
karena LN mempunyai oktan yang rendah dan jumlahnya cukup besar, yaitu
sekitar 10% dari total komponen gasoline di Amerika atau bahkan lebih dari 10%
di Eropa. Jika dicampur langsung dengan komponen gasoline yang lainnya, maka
dibutuhkan komponen gasoline beroktan tinggi dengan jumlah yang cukup besar
agar LN dapat diserap dalam gasoline pool. Oleh karena itulah proses konversi
untuk menaikan Ontan Number LN menjadi sebuah kebutuhan. Salah satu proses
konversi yang ada adalah proses yang ditawarkan oleh UOP yang dinamakan
PENEX. Proses ini mengkonversi LN menjadi isomernya dengan menggunakan
katalis hydroisomerization. Katalis yang digunakan mempunyai keaktifan yang
tinggi dan beroperasi pada temperatur yang cukup rendah.

Didorong oleh kebijakan reformulasi gasoline di Amerika yang membatasi


kandungan benzene di dalam gasoline, beberapa variasi proses PENEX
dikembangkan agar mempunyai kemampuan mensaturasi seluruh benzene yang
terkandung di dalam fraksi LN tetapi tetap mampu meningkatkan secara
signifikan angka oktan dari fraksi LN ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diperoleh dari tugas khusus kerja praktek
ini antara lain :
1. Bagaimana pengaruh temperatur terhadap pembentukan komposisi massa
output lag reaktor berdasarkan konversi tertinggi yang dapat tercapai tanpa
memperhitungkan kinetika reaksi katalis ?
2. Bagaimana perbandingan Oktan Number yang dihasilkan berdasarkan case
X factor tinggi dan rendah pada output lag reaktor unit PENEX ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penelitian dari kerja praktek ini ,antara lain :
1. Untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap pembentukan komposisi
massa output lag reaktor berdasarkan konversi tertinggi yang dapat
tercapai tanpa memperhitungkan kinetika reaksi katalis.
2. Untuk mengetahui perbandingan Oktan Number yang dihasilkan
berdasarkan case X factor tinggi dan rendah pada output lag reaktor unit
PENEX.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan laporan kerja praktek ini adalah :

1. Secara teoritis dan praktek, penyusunan makalah ini dapat menambah


pengetahuan penulis dan pembaca mengenai proses isomerisasi pada unit
PENEX di PT.PERTAMINA RUVI Balongan.
2. Bagi penulis, penulisan makalah ini dapat memberikan masukan serta
menjadi acuan dalam pembuatan laporan selanjutnya.
3. Bagi

pembaca,

makalah

ini

memberikan

penjelasan

mengenai

perbandingan oktan number berdasarkan case X factor di output reaktor


unit PENEX dengan pengaruh temperatur berdasarkan konversi tertinggi
yang dapat tercapai tanpa memperhitungkan kinetika reaksi katalis .
1.5 Batasan Penulisan
Pembahasan masalah dalam tugas khusus ini dititk beratkan pada
pengaruh temperatur lag reactor dan feed reaktor di proses unit PENEX dalam
menentukan oktan number di output reactor dengan studi isomerisasi tertinggi
yang dapat tercapai berdasarkan hanya pada kesetimbangan reaksi dan tidak
memperhitungkan kinetika reaksi katalis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Unit PENEX Kilang UP VI Balongan


Unit PENEX yang ada di kilang UP VI Balongan merupakan bagian dari
rangkaian unit pemrosesan naphtha. Rangkaian Unit pemrosesan naphtha ini
dikenal pula dengan Kilang Langit Biru Balongan (KLBB). Secara sederhana
rangkaian unit pemrosesan naphtha ditampilkan dalam gambar 1.1 di bawah ini.

Gambar 2.1.Blok Diagram Naphtha processing Unit Kilang UP VI Balongan


Rangkaian unit PENEX yang digunakan dikilang RU VI adalah rangkaian
unit PENEX yang dilengkapi dengan kolom DIH. Produk isomerta yang
dihasilkan dari unit penex kilang UP VI didesain untuk mempunyai angka oktan
87. Setelah diblending dengan plattformer, combine produk isomerat+plattformer
mempunyai oktan sekitar 92.3. Di unit PENEX kilang UP VI Balongan, tidak
dilengkapi dengan sulfur guard karena kandungan sulfur dari unit sangat rendah.
4

2.2 Fungsi Unit


Tujuan Utama unit PENEX adalah meng-isomerisasi senyawa-senyawa
pentane dan hexane (yang merupakan komponen utama dalam LN) dengan
menggunakan katalis. Reaksi yang terjadi berlangsung dalam atmosfer hydrogen
dengan menggunakan katalis fix bed, dang berlamgsung pada kondisi yang sesuai
untuk berlangsungnya proses isomerisasi dengan meminimalkan terjadinya
hydrocracking. Proses PENEX ini cukup sederhana sehingga umumnya tidak
banyak permasalahan yang dihadapi dalam pengoperasiannya karena PENEX
berporasi pada tekanan yang moderate, temperature yang rendah, LHSV yang
tinggi dan serta tidak diperlukannya tekanan parsial hydrogen yang tinggi.
Unit PENEX terdiri dari lima bagian utama sebagai berikut :

Liquid Feed dan make up gas driers

Reactors dan associated Heatrs dan Exchangers

Product Stabilizer

Caustic Scrubber
Semua normal paraffin feed dan make up hydrogen harus dikeringkan

terlebih dahulu sebelum masuk reactor. Driers berfungsi untuk mrnghilangkan air
difeed, karena air akan meracuni katalis secara permanen.
Seksi Reactor Terdiri dari heat exchangers yang dibutuhksn untuk
mengoptimalkan pemakaian energy. Proses Isomerisasi dapat merubah normal
paraffin menjadi isoparafin sampai 100% dan berlangsung didalam reactor
tersebut. Dengan tingginya LHSV, atau dengan kata lain jumlah kata yang
dibutuhkan per volume feed rendah, maka biaya capital untuk pengadaan katalis
dapat dikurangi. Reaksi isomerisasi dan benzene hydrogenasi adalah proses
5

exothermic dan karenanya akan terjadi kenaikan temperature sepanjang beed


reactor.
Umumnya proses PENEX menggunakan 2 reaktor yang beroprasi secara
seri. Dengan penggunaan 2 reaktor yang beroperasi secara seri maka
dimungkinkan untuk mengatur agar terjadi temperature gradient yang terbalik
antara reactor 1 dan reactor 2 dengan cara pendinginan stream dari outlet reactor 1
dengan menggunakan feed yang diumpankan kereactor 1. Sebagian besar reaksi
isomerisasi berlangsung dengan kecepatan reaksi tinggi direactor pertama karena
beropaerasi pada temperature yang tinggi dan sia n-parafin yang belum
terkonversi akan mendekati titik kesetimbangan reaksi direactor 2 yang beroperasi
pada tem[eratur rendah. Selain itu dengan adanya 2 reaktor yang dijalankan secara
seri maka jika salah satu reactor telah habis umurmya, maka reactor tersebut dapat
di by-pass untuk keperluan penggantian katalis sehingga unit tidak perlu
dihentikan operasinya untuk kegiatan penggantian katalis disalah satu reactor.
Sebagai promotor ditambahkan chloride secara continue dan yang akan
terurai menjadi hydrogen chloride dalam jumlah yant sangat kecil. Efluen reactor
akan terdiri dari product ( yang sering dinamakan Penexate, yamg kaya akan iso
paraffin) yang kemuadian dipisah dari stabilizer gas pada product stabilizer.
Jumlah gas yang keluar dari stabilizer sangat kecil karena sifat selektifitas katalis
yang sangat rendah terhadap reaksi hydrocracking dari C5/C6. Stabilizer gas
mempunyai gas yang terdiri dari :

Sisa gas hydrogen yang tidak terpakai didalam reactor.

Gas-gas ringan (C1 sampai C4) yang dimasukan bersama dengan makeup
gas, dan hasil reaksi hydrocracking didalam reactor.

Gas hydrogen Chloride yang berasal dari perchloride yang harus


disingkirkan dari aliran stabilizer gas dicaustic scruber.

Stabilizer gas kemudian digabung kedalam refinery fuel gas system.


Caustic scrubber sangat esensial dalam menyingkirkan hydrogen chloride

dari steam stabilizer off gas sebelum bergabung kedalam refinery fuel gas system.
Berdasarkan perhitungan material balance scrubber, 10% Wt larutan caustic akan
berkurang menjadi 2% Wt caustic yang harus dibuang dan diganti dengan larutan
caustic fresh setiap minggu. Jumlah caustic yang harus dibuang dan diganti setiap
minggu kurang lebih 104.3 m3.
Inovasi UOP dengan penggunaan skema proses hydrogen once through
(gambar 2.1) untuk proses PENEX menghasilkan penghematan yang substansial
dalam hal biaya capital dan biaya utilities karena tidak diperlukannya lagi produk
separator dan recycle kompresor.

Gambar 2.2.Skema Proses PENEX Oncw Through

2.3 Uraian Proses PENEX


Di unit NHT light naphtha dipisahkan dari heavy naphtha di kolom
stripper 31-C-101 dan light naphtha merupakan produk overhead kolom tersebut.
Dari overhead receiver, light naphtha dipompakan ke unit PENEX (Unit 33). Di
unit PENEX, feed light naphtha didinginkan dengan menggunakan fin fan cooler
(33-E-101 A/B) dan water cooler (33-E-102 A/B) sebelum diumpankan ke drier.
Di drier air yang terkandung di dalam feed naphtha dari NHT dikeringkan dengan
menggunakan mol sieve sebelum diperbolehkan untuk diumpankan ke reaktor.
Feed kemudian dimasukan ke dalam feed surge drum (33-V-107) dan bergabung
dengan recycle feed daro kolom DIH.
Sementara itu gas hydrogen (make up gas) dari unit paltformer (dari
discharge Net Gas Compressor 32-K-102 A/B/C) diumpankan ke make up gas
drier untuk menghilangkan kandungan air di dalamnya, karena air dapat
menyebabkan keracunan pada katalis sehingga reaksi isomerisasi menjadi
terganggu. Gas hydrogen ini kemudian digabungkan dengan aliran feed dari 33-V107 yang dipompakan dengan menggunakan pompa feed 33-P-101 menuju ke
Combined Feed dari 33-E-105 dan 33-E-106 A/B/C. Promotor perclhoride di
injeksikan bersamaan di upstream untuk mempertahankan keaktifan katalis di
reactor. Media pemanas di 33-E-105 adalah produk outlet Reactor 33-R-102
sedangkan media pemanas di 33-E-106 A/B/C adalah produk outlet Reactor 33-R101 yang akan diumpankan ke reactor 33-R-102. Dari 33-E-106 A/B/C, feed
kemudian dipanaskan dengan menggunakan media HP steam untuk mencapai
temperatur inlet yang diinginkan sebelum diumpankan ke reactor 33-R-101.
Outlet reactor 33-R-101 didinginkan dengan menggunakan feed dari 33-V-107
untuk mencapapi temperatur inlet 33-R-102 yang diinginkan.
8

Reaksi isomerisasi adalah reaksi yang eksotermis sehingga dari sudut


pandang termodinamika konversi feed menjadi produk akan lebih baik jika reactor
beroperasi pada temperatur yang rendah. Namun jika dilihat dari sudut pandang
kinetika, jika temperatur reaksi dijaga rendah maka laju pembentukan produk
akan rendah pula. Oleh karena itu untuk mencapai konversi pembentukan
isomerate yang optimum maka kondisi operasi direactor 33-R-101 dan reactor 33R-102 dikondisikan berbeda. Kondisi 33-R-101 dioperasikan pada temperatur
yang lebih tinggi agar secara kinetika lebih favourable, selain itu dengan
temperatur yang lebih tinggi ini maka diharapkan reaksi saturasi benzene dan
reaksi pembukaan cincin naphthene dapat terjadi dengan sempurna. Sedangkan
33-R-102 dioperasikan pada temperatur yang rendah agar kesetimbangan reaksi nC5/n-C6 menjadi isomernya dapat tercapai. Dengan dua kombinasi pengaturan
temperature reactor maka konversi n-C5/n-C6 yang tinggi dapat tercapai dengan
oktan produk isomerate yang tinggi.
Produk outlet reactor 33-R-102 kemudian diumpankan ke satbilizer untuk
memisahkan faksi ringan (H2 ,C1-C4) dari produk penexate. Jumlah produk
stabilizer gas yang dihasilkan dari kolom stabilizer ini cukup kecil karena sifat
katalis yang sangat selective dan kecenderungan terbentuknya hidrocarbon
rendah. Stabilizer gas terdiri dari :

Hydricarbon yang tidak terkonsumsi di reactor

Gas ringan (C1-C4) yang bai terbawa bersama make up gas ataupun yang
berasal dari hasil reaksi hydrocracking

Gas HCL (yang berasal dai perchloride) yang kemudian dibersihkan di


caustic scrubber.

Produk ringan akan dikeluarkan sebagai produk atas, sebagian produk yang
terkondensasi digunakan sebagai reflux sementara produk atas yang tidak
terkondensasi oleh overhead condenser 33-E-109 A/B dan 33-E-110 A/B
kemudian dikondensasikan dengan 33-E-111 yang menggunakan pendingin
refrigerant. Produk overhead receiver dialirkan ke LPG stripper 33-C-102, di
kolom ini LPG dikondisikan komponen-komponen ringannya untuk mengatur
RVP produk sebelum LPG dialirkan ke tanki.
Dari stabilizer juga ada yang dialirkan ke colom caustic scrubber untuk
menghilangkan kandungan HCL yang dapat menganggu reaksi isomerisasi dengan
bereaksi dengan air. Di caustic scrubber dinjeksikan NaOH ,berdasarkan
perhitungan material balance di scrubber dengan menggunakan caustic 10% akan
terdegradasi menjadi 2% spent caustic dan harus diganti setiap minggu sebanyak
104.3 m3
Produk bottom stabilizer diumpankan ke kolom DIH (33-C-103) untuk
dipisahkan antara komponen-komponen isomerate yang akan keluar dari overhead
dan bottom produk dengan komponen feed yang tidak terkonversi untuk di
recycle dari produk tengah kolom. Feed DIH sebagian digunakan sebagai
pemanas di kolom LPG stripper (33-C-102), sebelum dumpankan ke kolom DIH
feed dipanaskan dengan menggunakan HE 33-E-116 dimana proses yang diserap
oleh feed dimanfaatkan untuk mengkondensasikan liquid yang digunakan sebagai
internal reflux di tray 62. Setelah feed panaskan di 33-E-116 ini kemudian feed
masuk ke kolom DIH di tray 31.
Di kolom ini produk-produk dengan oktan tinggi akan keluar sebagai
produk overhead produk. Produk ini dikondensasikan dengan menggunakan fin
fan condensor 33-E-118 A-N. Hasil kondensasi ditampung di overhead receiver
10

DIH 33-V-113. Sebagian overhead liquid digunakan sebagai reflux dan sebagian
lagi di tarik dari kolom sebagai produk overhead, jumlah produk overhead
ditentukan oleh tray 5 temperature (33-TC-050) atauoleh komposisi analyzer (33AC-003).
Produk recycle ditarik dari tray 89, jumlah produk yang ditarik dari side
stream ini dikendalikan oleh level control bottom DIH. Sementara itu bottom
produk flow di set secara manual dan diusahakan seminimum mungkin. Selama
konsentrasi komponen C7+ di feed ke reactor masih di bawah batasan maksimum
yaitu 2.8% vol, flow bottom produk masih dapat dikurangi, tetapi berdasarkan
pengalaman, flow bottom produk sebesar 2-3 ton cukup untuk menjaga C7+ yang
di recycle dalam batas-batas operasi.
Sebagian besar produk -produk beroktan rendah memiliki boiling point
yang rendah dibandingkan dengan produk-produk beroktan tinggi kecuali
benzene. Namun senyawa benzene di aliran produk reactor sangat tidak
diharapkan karena jika benzene masih terdapat di outler reactor maka terdapat
indikasi terjadinya deaktivasi katalis atau adanya operasi yang tidak sesuai. Oleh
karena itu, jika hanya terdapat dua stream produk maka produk isomerat akan
dihasilkan dari overhead DIH sementara produk yang di recycle di feed akan
dihasilkan sebagai bottom produk.
Namun demikian, opsi dengan hanya membuat dua stream produk tidak
dapat dilakukan. Hal ini disebabkan karena produk outlet reactor terdapat senyawa
C7+. Senyawa ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sangat dibatasi
konsentrasinya di feed reactor. Oleh karena itu maka perlu tambahan satu stream
lagi untuk memisahkan stream yang kaya akan senyawa-senyawa untuk di
recycle. Senyawa-senyawa yang di recycle adalah senyawa yang beroktan rendah
11

serta mampu untuk dikonversikan lagi di reactor. Senyawa yang menjadi target
untuk di recycle adalah n-hexane, 2 methylpentane, 3 methylpentane. Sementara
n-pentane tidak menjadi target utama karena senyawa ini mempunyai boilling
point yang mendekati senyawa-senyawa dengan oktan yang tinggi. Selain itu
jumlah n-pentane di stream inlet maupun di outler reactor biasanya tidak dominan
sehingga upaya untuk memisahkan senyawa ini dari stream produk isomerat tidak
ekonomis.

12

Gambar 2.3 Diagaram alir Unit PENEX (Unit 33)

13

2.4 Katalis PENEX


Pada awal mula dikembangkannyaproses isomerisasi Light Naptha, katalis
yang digunakan adalah zeolitic based catalyst. Dengan katalis ini oktan yang
didapat dicapai dari reaksi isomerisasi adalah sekitar 78. Kemudian berkembang
katalis yang berbasis Metal Oxide. Dengan katalis ini oktan produk isomerisasi
meningkat menjadi 81. Kemudian berkembang lagi menjadi katalis yang berbasis
Chloride Alumina. Dengan katalis ini oktan produk hasil reaksi isomerisasi dapat
mencapai 84.
Unit PENEX dikilang UP VI Balongan menggunakan katalis 1-8. Katalis
menggunakan support alumina dengan dua jenis active side yaitu Platinum dan
Chloride. Katalis Penex ini mempunyau keaktifan yang sangat tinggi dan
harganya cukup mahal. Namun demikian Katalis ini sangat sensitive, terutama
terhadap air dan tidak dapat diregenerasi. Platinum dan Chloride dibutuhkan
dalam reaksi isomerisasi. Pada reaksi ini hydrogen sebenarnya tidak terkonsumsi,
namun hydrogen dibutuhkan sebagai senyawa anatara reaksi isomerisasi.
Mekanisme reaksi isomerisasi dari 5 tahap yaitu :
a. Pembentukan Senyawa Antara Olefin (Pt Site)
Pt
CCCCC-C

C C C C - C = C + H2

b. Pembentukan Ion Carbonium (Acid Site)


+
C C C C C = C + H+ + A-

C C C C C C + A-

c. Penyusunan Ion Carbonium


CCCCCC-C

+
CCCC-C
C
14

d. Pembentukan Iso Olefin (Acid Site)


+
C C C C C + A-

C C C C = C + H- + A-

e. Hydrogenasi Iso Olefin (Pt Site)

C C C C = C + H2

CCCCC

Selain itu, Platinum berfungsi juga untuk mempercepat reaksi saturasi benzene.
Dengan adanya Platinum dan hydrogen didalam reactor PENEX, saturasi benzene
mudah sekali terjadi pada temperature yang relative rendah (temperature inlet
reactor PENEX). Karena mudahnya benzene tersaturasi maka konversi benzene
mencapai 100%.

2.4.1. Reaksi-Reaksi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, reaksi utama yang
berlangsung diunit PENEX adalah isomerasi C5/C6 parafin. Selain itu terjadi
pula reaksi penjenuhan benzene serta pembukaan cincin senyawa-senyawa
napthene. Reaksi samping yang terjadi adalah reaksi hydrocracking senyawa
C7+ yang terikut bersama dengan fresh feed dari unit NHT maupun dari unit
NHT maupun recycle feed dari kolom DIH.
Reaksi isomerisasi C5/C6 parafin yang terjadi direactor PENEX adalah
sebagai berikut :
15

a. Reaksi kesetimbangan antara N-Hexane (nC6) dengan 2-Methyl


Pentane (2MP).
n-C6H14(24.8 RON-O)

CH3-CH(CH3)-(CH2)2-CH3(73.4 RON-O).

b. Reaksi kesetimbangan antara N-Hexane (nC6) dengan 3-Methyl


Pentane (3MP).
n-C6h14(24.8 RON-O)

CH3-CH2-CH(CH3)-CH2-CH3(74.5 RON-O).

c. Reaksi kesetimbangan antara N-Hexane (nC6) dengan 2,2-Dimethyl


Butane ( 2,2 DMB).
n-C6H14(24.8 RON-O)

CH3-C(CH3)2-CH2-CH3(91.8 RON-O).

d. Reaksi kesetimbangan antara N-Hexane (nC6) dengan 2,3-Dimethyl


Butane (2,3DMB).
n-C6h14(24.8 RON-O)

CH3-CH(CH3)-CH(CH3)-CH3(104.3 RON-O)

e. Reaksi kesetimbangan antara N-Petane (nC5) dengan Iso-Pentane.


n-C5H12(61.8 RON-O)

CH3-CH(CH3)-CH2-CH3(93 RON-O).

Dari reaksi diatas terlihat bahwa untuk reaksi isomerisasi, jumlah


atom carbon feed dan produk adalah sama sehingga untuk mengukur
derajat isomerisasi dikenak rasio antara i-C5 terhadap total C5 parafin dan
rasio 2,2 DMB dan 2,3DMB terhadap C6 parafin.
Selain reaksi-reaksi diatas, ada beberapa reaksi reaksi penting lainnya
antara lain :
a. Pembukaan cincin Naphthene
Sekitar 20 sampai 40% Naphthene [biasanya cyclopentane (CP),
methyl cyclopentane (MCP), dan cyclohexane (CH)] terhidrogenasi

16

menjadi paraffin. Menaikan temperature reactor akan menyebabkan


reaksi pembukaan cincin ini meningkat.
b. Isomerisasi Naphthene
Kandungan

senyawa

kesetimbangan

reaksi.

MCP

dan

Kenaikan

CH

berada

temperature

pada

kondisib

reactor

akan

menyebabkan reaksi mengarah menuju pembentukan MCP. Reaksi


yang berlangsung adalah sebagai berikut :

Gambar 2.4 Isomerisasi Naphthen

c. Penjenuhan Benzene
Reaksi penjenuhan Bnezene (BZ) menjadi cyclo Hexane (CH)
berlangsung sangat cepat dengan 100% konversi pada temperature
rendah. Fungsi platinum pada katalis platinum betanggung jawab
dalam reaksi penjenuhan benzene ini.
Reaksi yang berlangsung adalah sebagau berikut :

17

Gambar 2.5 reaksi penjenuhan Benzene


Panas reaksi saturasi benzene 25 kali panas reaksi isomerisasi dan
5 kali panas reaksi hydrocracking. Oleh karena itu, jika benzene
terlalu banyak difeed maka run away temperature potensial terjadi.
Karena saturasi benzene mudah terjadi maka reaksi ini terjadi pada
bagian atas reactor sehingga pada bagian ini, dalam kondisi
normal, kenaikan temperature akan paling besar.
d. Reaksi Hydrocracking
Molekul-molekul besar, dalam hal ini diwakili oleh senyawa C7+
dalam analisis laboratorium, cenderung lebih mudah ter-cracking
disbanding dengan senyawa-senyawa dengan molekul yang lebih
kecil, walaupun C5/C6 parafin dapat juga ter-acak. Jika isomerisasi
terlalu dipaksakan dengan cara meningkatkan temperature reactor
maka reaksi hydrocracking akan terjadi lebih banyak dan akan
yield liquid produk (isomerat) karena peningkatan konversi feed
menjadi Metahne, Ethane, Propane, dan Butane. Selain itu Produk
panas dari reaksi akan bartambah.

18

2.4.2 Senyawa -Senyawa Pengotor


Dalam setiap unit proses yang melibatkan reaksi berkatalis, selalu terdapat
senyawa yang konsentrasinya sangat dibatasi karena berpengaruh terhadap kinerja
katalis. Demikian halnya dengan unit PENEX, senyawa-senyawa ini ada yang
menyebabkan keracunan permanent terhadap katalis, ada yang menyebabkan
keracunan sementara terhadap katalis, atau ada yang menghambat reaksi
isomerisasi. Oleh karena itu senyawa-senyawa pengotor dikategorikan menjadi 3
yaitu racun permanen, racun sementara dan hidrokarbon yang tidak diinginkan.
Senyawa-senyawa yang dikategorikan sebagai kontaminan adalah sebagai berikut:
a. Racun Permanent
Senyawa-senyawa pengotor ini yang menyebabkan keracunan permanen
karena dengan chloride yang ada dikatalis atau memblock active site
katalis dan tidak dapat dihilangkan dengan sempurna. Senyawa-senyawa
yang dikategorikan sebagai racun antara lain :

Air dan Senyawa-senyawa oxigenat (Alcohol, ether)


Deaktivasi katalis yang disebabkan oleh air dan senyawa-senyawa
oxigenenat bersifat permanen. Air jika bereaksi dengan katalis, akan
menyebabkan HCl yang terikat secara kimia sebagai hydroxyl
kealumina terlepas.

Nitrogen
Nitrogen biasaya bereaksi dengan katalis atau dengan HCl dan
membentuk garam yang dapat menyebabkan deaktivasi katalis secara
permanen.

Flouride

19

Senyawa ini bersifat racun permanen terhadap katalis, kurang lebih 1


kg fluoride akan mendeaktivasi 100 kh katalis.

CO dan CO2
Senyawa CO dan CO2 akan menyebabkan keracunan jika bereaksi
dengan hydrogen direactor sehinggan menghasilkan air dan metane,
seperti berikut
CO + 3H2

CH4 +H2O

CO2 + 4H2

CH4 + 2H2O

b. Racun Sementara
Senyawa-senyawa yang dikategorikan racun sementara akan menyerang
fungsi platinum yang ada dikatalis. Senyawa-senyawa ini tidak akan
bereaksi dengan chloride yang ada dikatalis. Racun sementara dapat
diatasi dengan cara menghilangkannya dari katalis dan keaktifan katalis
dapat dikembalikan kekondisi sebelum keracunan terjadi. Senyawasenyawa yang dikategorikan sebagai racun sementara adalah :

Sulfur
Adanya sulfur di feed PENEX akan menyebabkan menurunnya
keaktifan katalis. Penurunan keaktifan katalis yang dilibatkan oleh
sulfur bersifat sementara dan dapat dikembalikan dengan cepat saat
sulfur telah dihilangkan.

Senyawa-senyawa siklik (lingkar)


Senyawa siklik dapat teradsorb dikatalis sehingga menyebabkan
berkurangnya active site yang ada. Jika konsentrasi benzene difeed

20

melebihi 5%, jumlah katalis yang dibutuhkan akan meningkatkan akan


meningkat pula untuj mengakomodasi tinggunta benzene difeed.
c. Hidrokarbon yang tidak diinginkan
Selain senyawa-senyawa diatas, ada beberapa senyawa hidrokarbon yangt
dapat mengganggu reaksi isomerisasi. Pada batasa-batas tertentu, Unit
PENEX dapat mentoleransi senyawa-senyawa ini. Namun demikian
kandungan senyawa-senyawa ini difeed harus diupayakan minimum untuk
menjamin kinerja unit PENEX yang optimum.
Senyawa-senyawa hidrokarbon ini tidak diinginkan karena beberapa alas
an antara lain :
-

Akan

menyebabkan

volume

feed

menjadi

besar

sehingga

mengakibatkan tingginya LHSV dan menurukankonversi


-

Memiliki oktan yang rendah

Menyebabkan yield produk menurun

Menghambat reaksi isomerisasi

Senyawa-senyawa Hidrokarbon yang tidak diinginkan tersebut adalah


sebagai berikut :

Senyawa-senyawa olefin
Senyawa-senyawa olefin ini mempunyai efek negative terhadap katalis
PENEX karena dapat terpolimerisasi yang kemudian hasil polimerisasi
tersebut menutupi secara fisik permukaan katalis.

Senyawa C7+

21

Senyawa C7+ yang tidak terhidrocack akan terisomerisasi dan


menghasilkan campuran yang oktan lebih rendah dari pada C5 dan C6
sehingga mengdegradasi oktan produk secara keseluruhan.

Butane
Butane yang terkandung difeed dapat menyebabkan kerusakan atau
terganggunya proses reaksi isomerisasi.

22

BAB III
METODOLOGI

3.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan untuk dijadikan sebagai dasar analisa
pada output reaktor di dalam unit PENEX. Data-data aktual diperoleh dari
operasi yang berasal dari ruang control room di lead 33-R-102 dan lag 33-R-101
untuk tanggal 11 Maret 31 Desember 2015. Data yang diperoleh kemudian di
urutkan berdasarkan X faktor dan di kelompokan sesuai range yang diinginkan.
Selain itu dilakukan pula pengumpulan data sekunder yang berasal dari literatur.
3.2 Pengolahan Data
Dari data aktual yang diperoleh dari lead reactor dilakukan
pengolahan data melalui perhitungan menggunakan aplikasi Hysys, untuk
mengetahui massa alir pada fasa vapor dan liquid yang akan digunakan sebagai
feed untuk di alirkan ke lag reactor.
Perhitungan output reaktor dan ON
1. Menghitung fraksi massa yang akan dijadikan feed reaktor dengan
aplikasi Hysys ,ubah satuan menjadi massa dengan basis.
2. Menghitung ratio senyawa yang diinginkan

23

,
x=temper
y = ax2 + bx + c

atur
a

b
-

0,001
iC4/C4P

6,014E-07

1
-

0,90

0,000
iC5/C5P (Vapor)

2,372E-07

6
-

0,93

0,000
iC5/C5P (Liquid)

8,138E-08

2-2 DMB/C6P
(Vapor)

0,88

0,001
1,268E-06

2-2 DMB/C6P
(Liquid)

5
-

7
-

0,72

0,001
1,039E-06

3
0,000

0,59

2-3 DMB/C6P
-1,039E-07
0
0,10
Dimana menghitung ratio di pengaruhi oleh temperatur.

3. Menghitung output rektor lag

24

4. Menghitung ON feed / Output

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.1 Perbandingan antara feed inlet lead reactor dengan feed inlet lag reactor

x factor 30-35 %
senyaw feed
feed
a
lead
lag
denst
0,680
0,686
prop
0,000
0,000
isoB
0,010
0,697
nB
0,454
0,543
isoP
11,208
14,643
nP
10,052
5,350
22DMB
4,463
12,121
CP
1,253
1,117
23DMB
4,339
4,500
2MP
24,908
21,237
3MP
15,075
12,490
nH
12,358
6,977
MCP
8,911
11,190
CH
4,553
8,620
Bz
1,857
0,013
C7+
0,331
1,903

25

Dari tabel perbandingan antara feed inlet lead reactor dengan feed inlet lag
reactor dapat di lihat bahwa komposisi benzene di feed lead reactor besar, namun
setelah masuk ke lead reactor 33-R-102 akan keluar dengan komposisi yag lebih
kecil. Hal ini menunjukan bahwa pada lead reactor terjadi reaksi saturasi
benzene,dimana benzene tersaturasi menjadi cyclohexane dan selanjutnya terjadi
reaksi ring opening dari rantai siklik menjadi rantai lurus, kemudian rantai lurus
membentuk isomerisasi. Untuk mensaturasi benzene yang sempurna ,lead reactor
membutuhkan operasi pada temperatur yang tinggi. Semakin banyak senyawa
siklik dan C7+ di feed maka temperatur operasi yang dibutuhkan di reactor juga
makin tinggi. Pada lead reactor juga terjadi reaksi isomerisasi, di lihat dari
penambahan iso-paraffin yang terdapat pada inlet lag reactor dan pengurangan
senyawa n-paraffin. Pengurangan n-paraffin ini karena perubahan dari n-paraffin
menjadi iso-paraffin dengan reaksi isomerisasi. Reaksi isomerisasi kurang
maksimal jika di lakukan pada temperatur yang tinggi sehingga pada lag reactor
akan dilakukan reaksi isomerisasi pada temperatur yang lebih rendah untuk
mendapatkan iso-paraffin yang maksimal. Outlet dari lag reactor akan di gunakan
untuk menghitung oktan output. Data feed lag reactor dimasukan ke aplikasi
hysys untuk mendapatkan komposisi mass flow vapor dan liquid untuk
menghitung output reactor. Di aplikasi hysys feed ditambahkan dengan gas H 2
untuk menurunkan tekanan parsial pada feed sehingga dapat membentuk vapor,
jika partial press tinggi maka untuk terbentuknya uap lebih sulit begitu sebaliknya
jika partial press rendah maka untuk terbentuknya uap mudah. Kemudian di
26

panaskan dengan menggunkan heater, kemudian di pisahkan antara fase vapor


dengan fase liquid. Setelah dapat mass fractionnya kalikan dengan mass flow
untuk mendapatkan massa. Massa ini dibagi dengan sp.gr untuk mendapatkan
volume, dari volume dikali oktan yang diketahui. Hasil volume kali oktan di bagi
volume total di dapatkan oktan campuran feed. Untuk mencari massa di output
gunakan rasio isomer produk iC4/C4P, iC5/C5P ,22DMB/C6P, 23 DMB/C6P.

Tabel 4.2 Pengaruh X factor terhadap angka oktan output reactor

Dari table diatas dapat di lihat range X factor 0-10% octane output reactor
range 81,15 - 81,98 sedangkan range X factor 30-35% octan output reactor pada
range 79,28 - 80,46. Dapat di simpulkan bahwa semakin besar range X Factor,
maka nilai Octane Number yang dihasilkan di output reactor lag akan semakin
kecil, hal ini juga disebakan karena pada case low X factor isomerisasi di lead
reactor juga lebih tinggi. Dan juga disebabkan karena senyawa-senyawa yang
tidak di inginkan seperti %MCP, %BZ, %CH, dan %C7+ juga akan semakin
besar terakumulasi ke dalam jumlah komposisi senyawa yang bereaksi, sehingga
Octane Number yang dihasilkan akan semakin kecil. Di unit PENEX senyawa
27

C7+ sangat dibatasi sekitar 2 atau 3% karena senyawa C7+ dapat terisomerisasi
menjadi campuran yang mempunyai angka oktan lebih rendah dari C5 atau C6
yang di produksi sehingga akan mendegradasi angka oktan produk.
Dari

table

diatas

dapat

juga

dilihat

bahwa

Temperature

akan

mempengaruhi Octane Number dari produk isomerat, dimana semakin tinggi


temperature maka Octane Number akan semakin turun. Pada kondisi temperatur
yang terlalu tinggi, konsentrasi iso-paraffin di output reactor akan berkurang
karena kesetimbangan reaksi mengarah ke produk, walaupun pada temperatur
tingi akan memberikan laju yang tinggi. Tetapi ada beberapa kasus dimana Octane
Number akan mengalami kenaikan pada temperatur tertentu dan akan mengalami
penurunan setelah temperatur tertentu juga. Tabel diatas menunjukan bahwa
Octane Number mengalami penuranan setelah temperure 100 oC hingga 150oC,
namun mengalamin kenaikan setelah tempeture 150oC dan mengalami penurunan
lagi setelah temperatur 180oC. hal tersebut memperlihatkan bahwa secara
kesetimbangan reaksi isomerisasi memerlukan temperatur yang rendah namun
jika dilihat dari sudut pandang kinetika, jika temperatur reaksi dijaga rendah maka
laju pembentukan produk akan reandah pula. Oleh karena itu untuk mencapai
konversi pembentukan isomerate yang optimum maka kondisi operasi di reactor
33-R-101 dan di reactor 33-R-102 dikondisikan berbeda. Kondisi di reactor
pertam di operasikan pada temperatur yang lebih tinggi agar secara kinetika lebih
favourable, selain itu dengan temperatur yang tinggi ini maka di harapkan reaksi
saturasi benzene dan pembukaan cincin naphthene dapat terjadi dengan sempurna.
Sedangkan di reactor kedua di operasikan pada temperatur yang lebih rendah agar
kesimbangan reaksi n-C5/n-C6 menjadi isomernya dapat tercapai.

28

Berdasarkan feed desain, angka oktan produk dari outlet reactor adalah 8284. Dengan adanya kolom Deisohexanizer angka oktan produk dari unit PENEX
bisa mencapai 87 atau naik 3-4 angka oktan. Di dalam reactor terjadi reaksi
saturasi benzene, pembukaan rantai siklik menjadi rantai lurus kemudian
dilakukan reaksi isomerisasi untuk meningkatkan angka oktan. Dari reactor
kemudian di alirkan ke stabilizer untuk di pisahkan fraksi ringan (H2) dari produk
penexate. Produk penexate kemudian di alirkan ke kolom deisohexanizer. Dengan
adanya deisohexanizer, oktan produk dapat ditingkatkan dengan cara memisahkan
antara produk-produk hasil reaksi di reactor yang mempunyai oktan tinggi dengan
produk-produkyang beroktan rendah baik dari hasil reaksi maupun dari feed yang
tidak terkonversi. Hampir 90 % produk-produk yang beroktan tinggi akan keluar
sebagai overhead produk sedangkan produk-produk yang beroktan rendah keluar
di side stream kolom DIH. Produk side stream kolom ini kemudian direcycle lagi
ke reactor agar dapat di konversikan kembali menjadi produk-produk yang
beroktan tinggi. Senyawa-senyawa yang di jadikan target untuk di recycle adalah
n-hexane, 2 methylpentane, 3 methylpentane.

29

Tabel 4.3 Pengaruh temperatur pada komposisi massa output reactor (range X
factor 30-35 %)

Dari tabel 4.3 terlihat bahwa semakin besar temperatur komposisi massa
output reactor yang terbentuk akan semakin berkurang. Seperti yang telas
dijelaskan bahwa reaksi yang terjadi adalah reaksi eksotermis (menyerap panas)
sehingga akan lebih baik bila reactor dijalankan pada kondisi temperatur yang
rendah untuk mendapatkan output/produk yang tinggi. Disini reaksi yang terjadi
berdasarkan kesetimbangan saja, tidak melihat kinetika reaksi (laju reaksi). Pada
operasi di unit PENEX terdapat rasio isomer produk ,berarti rasio berat antara
iso pentane (i-C5) terhadap ke total C5 Paraffin alifatik (i-C5/C5P), atau rasio
berat anatara 2.2 dan 2.3 Dimethyl Butane terhadap total C6 paraffin alifatik pada
aliran produk (2.2 DMB/C6P dan 2.3 DMB/C6P). Perbandingan antara iso

30

pentane dengan C5 paraffin akan selalu lebih besar iso-Pentane, baik di feed
maupun di output (lebih besar kandungan iso-paraffin dibandingkan dengan
n-paraffin). Tetapi pada output reactor kandungan iso-paraffin akan lebih besar
dibandingkan dengan kandungan iso-paraffin pada feed. Hal ini disebabkan
karena adanya reaksi isomerisasi ,dimana adanya perubahan dari senyawa nparaffin menjadi iso-paraffin. Reaksi isomerisasi ini bertujuan untuk menaikan
angka oktan pada unit PENEX. Pada keadaan tertentu, bisa terjadi dimana
komposisi iso-paraffin pada output lebih kecil dibandingkan dengan komposisi nparaffin pada output reactor, hal ini disebabkan karena reaksi berjalan ke arah
reaksi n-paraffin.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari studi kasus di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari perhitungan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa semakin besar
temperatur proses maka komposisi output reactor dan oktan number akan
semakin kecil, dikarenakan reaksi isomerisasi di unit PENEX reaksinya
eksotermis. Untuk mendapatkan output/produk yang tinggi berdasarkan
31

kesetimbangan maka reaksi harus di operasikan pada temperatur yang


rendah.
2. X faktor (% MCP, % Benzene, % CH, %C7+ ) juga mempengaruhi
pembentukan komposisi isomer output reactor, semakin sedikit
kandungan X factor maka komposisi output reactor akan makin besar.
Pembentukan iso-paraffin pada output reactor akan selalu lebih besar di
bandingkan dengan komposisi n-paraffin di output reactor, namun pada
temperatur proses tertentu iso-paraffin di output reactor akan lebih kecil
di bandingkan dengan n-paraffin di output reactor karena reaksi berjalan
ke arah reaksi n-paraffin.

5.2 Saran
Untuk mendapatkan pola operasi optimal reactor PENEX, perlu dilakukan
studi kinetika katalis melalui Step Test untuk mendapatkan oktan number
maksimal berdasarkan kesetimbangan reaksi.

32

33

LAMPIRAN

vii