Anda di halaman 1dari 11

RFID MENUJU ERA BARU UBIQUITOUS

Martini

martini.mtn@bsi.ac.id

ABSTAKSI
Dewasa ini penggunaan barcode sebagai piranti pengenal identitas sudah sering
kita jumpai di berbagai keperluan. Identifikasi terhadap barang dengan menggunakan
barcode dilakukan satu per satu. Hal ini membutuhkan waktu yang lama, terutama jika
barang yang diidentifikasi heterogen dan dalam jumlah yang cukup besar. Belum lagi jika
label barcode sudah rusak, terlipat, atau tertutup lapisan debu atau es. Piranti yang dapat
mengenali sebuah barang/alat yang lebih unggul dibanding barcode adalah Radio
Frequency Identification (RFID). Data dapat diidentifikasikan melalui gelombang radio
pada sebuah alat bernama reader yang diterima oleh sebuah label RFID atau tag RFID.
Ketika sebuah reader menginduksi sebuah tag (apabila password dalam tag sama
dengan password yang ada pada reader), maka informasi yang ada di dalam sebuah tag
akan terbaca, seperti ID, nama barang, jenis, type, harga, dan lainnya, dan dikirimkan ke
sebuah host komputer yang akan membaca data atau informasi tersebut sesuai dengan
data yang telah tersimpan di database. Maka dengan sistem otomatisasi ini kegiatan
akan lebih cepat dikerjakan dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Kata kunci : pengenal identitas, RFID, tag

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempunyai pengaruh yang
kuat teknologi informasi itu sendiri namun juga terhadap totalitas hidup ini.
Perkembangan ini membawa dampak yang begitu besar bagi pola hubungan antar
individu, antar komunitas, bahkan antar negara/bangsa. Kebutuhan manusia untuk dapat
menambah wawasan dan memperoleh informasi tidak terlepas dari aktivitas sehari-hari
yang menggunakan sarana komunikasi dan teknologi. Di era Teknologi Informasi banyak
orang berfikir bahwa komputer sebagai alat yang pintar dan sebagai alat bantu pekerjaan
harus digunakan dengan cara berhadapan langsung. User menggunakan keyboard atau
mouse sebagai alat input dan monitor sebagai alat output. Tentu saja dengan cara seperti
ini maka orang sering kali merasa terisolir karena harus mengerjakan pekerjaan dimana
komputer tersebut ditempatkan. Dalam perkembangan evolusinya, di era Sistem
Informasi banyak pekerjaan yang dapat terbantu dengan adanya sebuah sistem yang
dirancang agar mampu mengendalikan berbagai aktivitas baik di pemerintahan maupun
pihak swasta. Sistem yang diimplementasikan secara otomatis akan menolak sebuah
masukan yang tidak dikenalnya, dan akan melaksanakan perintah sesuai commandcommand yang ditampilkan pada layar monitor. Tetapi ini semua masih dirasakan kurang
mampu memenuhi kebutuhan akan pengolahan data selama masih melibatkan tenaga
manusia yang banyak menyita waktu.
Dewasa ini sudah banyak instansi pemerintah atau swasta yang sudah
memanfaatkan TI dengan cara menerapkan sebuah sistem yang secara otomatis akan
melakukan identifikasi, tetapi tidak mengihilangkan perangkat komputer sebagai unit
utama pengolah data. Kenyataannya, tanpa disadari sebenarnya kita sering
berhubungan langsung dengan komputer. Bahkan orang awam sekalipun yang belum
mengenal komputer sudah dapat menggunakannya tanpa mengetahui pada saat itu
sedang mengakses komputer sebagai pengendali perintah. Seperti membeli minuman di
mesin penjual minuman otomatis (vending machine), penggunaan mesin cuci,
penggunaan ATM, penggunaan smart card. Dengan kata lain orang secara tidak
langsung banyak berinteraksi dengan komputer (one person many computers). Sehingga
paradigma antri dan menunggu sudah mulai ditinggalkan, seperti antri di loket
pembayaran listrik, antri di bank untuk melakukan transaksi, atau antrian panjang pada

saat transaksi pembelian di kasir pasar swalayan. Karena aktivitas dan kebutuhan yang
melibatkan komputer atau teknologi informasi inilah, maka muncullah konsep Ubiquitous.
Ubiquitous berasal dari kata latin yang berarti ada di mana-mana. Istilah ini
dipopulerkan pertama kali pada tahun 1988 oleh Mark Weiser dari Xerox Inc. Palo Alto,
California yang berarti siapa saja (anybody), dimana saja (anywhere), kapan saja
(anytime), dan dengan apa saja (anydevice). Karena pengertian ini sangat luas, maka
banyak pula aplikasi yang dapat diterapkan dengan konsep ubiquitous ini. Kebutuhan
akan layanan yang cepat, tepat dan akurat mendorong perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi yang tidak terlepas dari adanya komputer sebagai sarana
pengolah data, pengotrolan, dan pelaksana perintah.

TINJAUAN PUSTAKA
Istilah Ubiquitous belum lama tersebar luas, tetapi penerapannya sangat luas
karena mengandung pengertian yang sangat luas pula. Apabila ditelaah mengenai
pengertian dari Ubiquitous ini, maka siapa saja dapat mengakses komputer dengan
mudah tanpa harus berhadapan langsung dengan perangkat komputer dan tanpa harus
mempelajari cara-cara memprogram komputer. Dimana pun kita memerlukan informasi,
maka dengan mudah kita dapatkan informasi tanpa harus pergi ke tempat-tempat
pelayanan informasi seperti perpustakaan, museum, dan toko buku. Orang juga dapat
melakukan berbagai transaksi dengan mudah tanpa mengenal waktu, contohnya
transaksi perbankan yang menyediakan jaringan ATM di setiap penjuru yang mudah
dijangkau oleh publik kapan saja. Selain itu kini dengan berbagai media atau perangkat
yang harganya cukup terjangkau oleh berbagai kalangan dapat dengan mudah
melakukan pertukaran informasi atau melakukan berbagai transaksi. Seperti handphone
yang sekarang bukan lagi dianggap barang mewah tetapi sudah merupakan barang
kebutuhan untuk mendapatkan informasi, yang penggunaannya bisa dilakukan di mana
saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.
Cabang ilmu Ubiquitous yang dapat dikembangkan dan sebagian besar sudah
diterapkan adalah Ubiquitous Network, Ubiquitous Learning, Ubiquitous Sensor
Network, Ubiquitous Technology, Ubiquitous Devices, Ubiquitous Diictionary, Ubiquitous
game, Ubiquitous GIS, Ubiquitous Healthcare, dan Ubiquitous Computing. Lebih lanjut
akan dibahas tentang Ubiquitous Computing atau disingkat Ubicomp.
Istilah Ubicomp tersebar luas setelah Mark Weiser mempublikasikan artikelnya
yang berjudul The Computer of the 21st Century di jurnal Scientific American terbitan
September 1991. Dalam artikelnya tersebut Weiser mendefiniskan istilah ubicomp
sebagai berikut :
Ubiquitous computing is the method of enhancing computer use by making
many computers available throughout the physical environment, but making
them effectively invisible to the user
Apabila diterjemahkan maka ubicomp dapat diartikan sebagai metode yang bertujuan
menyediakan serangkaian komputer bagi lingkungan fisik pemakainya dengan tingkat
efektifitas yang tinggi namun dengan tingkat visibilitas serendah mungkin. Disini Weiser
menjelaskan komputer tidak terbatas pada sebuah PC, sebuah notebook, ataupun
sebuah PDA tetapi berwujud sebagai macam-macam alat yang memiliki sifat demikian
natural, sehingga seseorang yang tengah menggunakan ubicomp devices tidak akan
merasakan bahwa mereka tengah mengakses sebuah komputer.
Latar belakang munculnya ide dasar ubicomp berasal dari sejumlah pengamatan
dan studi di PARC terhadap PC yang mempunyai kegunaan dan manfaat demikian besar
ternyata justru seringkali menghabiskan sumber daya dan waktu bagi penggunanya,
karena PC membuat penggunanya harus tetap berkonsentrasi pada unit yang mereka
gunakan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Penggunaan PC justru membuat
mereka terisolasi dari aktifitas lainnya. Orang tidak hanya terfokus pada suatu lingkungan
dimana komputer PC tersebut ditempatkan, tetapi masih ada pekerjaan lain yang berada
di luar lingkungan PC dalam waktu yang sama.

Ubicomp menjadi inspirasi dari pengembangan komputasi yang bersifat off the
desktop, di mana interaksi antara manusia dengan komputer bersifat natural dan secara
perlahan meninggalkan paradigma keyboard/mouse/display dari generasi PC. Ubicomp
menggunakan konsep yang sama, yaitu menggunakan gerakan, pembicaraan, ataupun
tulisan sebagai bentuk input baik secara eksplisit maupun implisit ke komputer. Salah
satu efek positif dari ubicomp adalah orang-orang yang tidak mempunyai keterampilan
menggunakan komputer dan juga orang-orang dengan kekurangan fisik (cacat) dapat
tetap menggunakan komputer untuk segala keperluan.
Salah satu awal dari pengembangan ubicomp adalah Active Badge dari
Laboratorium Riset Olivetti. Active Badge dikembangkan sekitar tahun 1992, berukuran
kira-kira sebesar radio panggil (pager). Alat ini dipasang pada pakaian atau sabuk para
pegawai yang berguna untuk memberikan informasi di mana posisi seorang karyawan
dalam kantor, sehingga saat seseorang ingin menghubunginya lewat telepon secara
otomatis komputer akan mengarahkan panggilan telepon ke ruang di mana orang
tersebut berada.

!
Gambar 1. Olivetti Active Badge

Sebagai sebuah teknologi terapan ataupun sebagai sebuah cabang dari ilmu
komputer (Computer Science) pengembangan ubicomp tidak dapat dilepaskan dari
aspek-aspek ilmu komputer lain, yang salah satunya adalah pengembangan Teknologi
Mikro-nano (Micro-nano technology). Perkembangan teknologi mikro dan nano, yang
menyebabkan ukuran microchip semakin mengecil, saat ini menjadi sebuah faktor
penggerak utama bagi pengembangan ubicomp device. Semakin kecil sebuah device
akan menyebabkan semakin kecil pula fokus pemakai pada alat tersebut, sesuai dengan
konsep off the desktop dari ubicomp. Para perintis nanoteknologi, telah melihat
kemungkinan penggunaan material yang berukuran seribu kali lebih kecil dibandingkan
generasi mikroelektronika sebelumnya sebagai komponen elektronika di masa depan.
Dengan beralih ke nanoteknologi ini, tentu saja bidang yang banyak berpengaruh
adalah komputer. Materi yang berukuran kecil (atau bahkan seukuran molekul) akan
dihimpun sehingga membentuk komponen elektronika yang mampu menjalankan tugas
tertentu. Salah satu teknologi yang memanfaatkan materi berukuran kecil ini adalah
Radio Frequency Identification (RFID) yang sudah banyak diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari dalam bentuk smart card atau tag.

METODE PENELITIAN
Studi kepustakaan (Library Research) merupakan salah satu metode yang saat ini
paling mudah dilakukan. Metode ini lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang ingin
mendapatkan informasi mengenai kajian penulisan, tanpa harus melakukan survey (Field
Research) dan interview ke sebuah tempat. Saat ini dengan internet orang bisa dengan
mudah melakukan penelusuran lebih lanjut dengan mengakses berbagai perpustakaan
on line dari berbagai sumber (resources) yang ada. Cukup dengan browsing di internet

dan memasukkan kata kunci yang diinginkan, maka semua informasi yang berkaitan
dengan topik penulisan dapat dengan mudah diperoleh kapan saja, dimana saja, oleh
siapa saja, dan dengan apa saja. Sesuai dengan konsep the world is at your fingertips
yang dapat diartikan bahwa kita dapat menjangkau dunia dengan segala informasi yang
ada, cukup dengan ujung jari dan dalam hitungan detik. Kajian yang diperoleh bisa
beragam informasi, mulai dari definisi, metode, analisa, simulasi, gambar, atau bahkan
sebuah tayangan berupa video. Cara inilah yang digunakan dalam penulisan ini guna
mendapatkan informasi yang berkaitan dengan tema penulisan, sekaligus sebagai salah
satu pembuktian peranan Ubiquitous Computing.
PEMBAHASAN
Tentunya kita sekarang sudah tidak asing lagi dengan istilah Barcode. Sebuah
alat yang banyak dijumpai di tempat-tempat penjualan atau pasar swalayan yang
berbasis komputer. Dalam sebuah artikel yang diambil dari www.pvidia.com, Barcode
merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital yang menerapkannya
pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih dan biasa ditemui di
kemasan produk umum. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili
bilangan 1. Masing-masing batang pada Barcode memiliki ketebalan yang berbeda.
Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai yang nantinya akan
menentukan waktu lintasan bagi titik sinar pembaca yang dipancarkan oleh alat
pembaca.
Sampai saat ini, Barcode adalah salah satu bentuk teknologi yang
diimplementasikan pada berbagai bidang aplikasi, dan dirasa mampu memenuhi
kebutuhan akan identifikasi dari koleksi-koleksi barang/data yang dimiliki oleh pengguna.
Dengan Barcode ini, berbagai proses dapat dikerjakan dengan lebih cepat dibanding
dengan cara menghitung menggunakan kalkulator, yakni dengan tambahan hardware
barcode reader dan aplikasi software untuk menjalankan rutin-rutin proses-proses
tersebut. Seperti penggunaan Barcode di pasar swalayan atau toko-toko retail yang
sudah memakai Barcode dalam proses transaksi penjualan. Hal ini sangat terasa
bermanfaat sekali selain lebih cepat dalam melayani pelanggan juga ke-akurasian yang
cukup tinggi sehingga kerja kasir lebih efektif dan efisien dibanding cara menghitung
dengan kalkulator. Tujuannya adalah kepuasan bagi pelanggan dan profitabilitas bagi
produsen.
Bayangkan seandainya semua barang yang dikemas dalam kardus besar yang
disimpan di gudang harus di-barcode satu persatu, tentunya akan menyita waktu yang
cukup lama. Karyawan akan mendata barang satu per satu kemudian akan mengecek
kode yang ada di kemasan dengan yang tertera di fisik barang tersebut. Hal ini akan
menjadi permasalahan yang serius di bagian gudang terutama untuk sistem stok barang
dimana barang yang keluar dan masuk harus diketahui jumlahnya. Di berbagai
perusahaan banyak yang mengalami penyitaan waktu karyawan terutama pada saat
kegiatan stock off name berlangsung. Kemungkinan di masa mendatang dapat
diterapkan penggunaan alat yang baru yang lebih praktis ditinjau dari segi efisiensi waktu
pengoperasian, tenaga, informasi dan validasi data. Berdasarkan permasalahan inilah
maka dimungkinkan penerapan RFID yang dapat digunakan di segala bidang aplikasi.

!
Gambar label RFID yang dipasang pada produk barang

Pemanfaatan RFID juga sudah dapat dilakukan untuk pembayaran di gerbang tol
(E-Zpass). Pemilik kendaraan tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membayar,
tetapi dengan kartu bayar yang sudah dipasangi tag. Ketika mobil melintasi tag reader
yang dipasang sebelum palang pintu, tag reader akan menginduksi tag yang ada pada
kartu. Maka secara otomatis saldo yang ada pada kartu tersebut akan di-debet langsung
sesuai besarnya pembayaran, dan palang pintu akan terbuka. Cara ini dapat mengurangi
antrian panjang yang sering terjadi di loket pembayaran tol.

!
Gambar RFID pada gerbang pembayaran tol

Dalam sebuah artikel bebas di Wikipedia mendefinisikan RFID (Radio Frequency


Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah sebuah metode identifikasi
dengan menggunakan sarana yang disebut label RFID atau transponder untuk
menyimpan dan mengambil data jarak jauh. Label atau kartu RFID adalah sebuah benda
yang bisa dipasang atau dimasukkan di dalam sebuah produk, hewan atau bahkan
manusia dengan tujuan untuk identifikasi menggunakan gelombang radio. Label RFID
terdiri atas mikrochip silikon dan antena. Label yang pasif tidak membutuhkan sumber
tenaga, sedangkan label yang aktif membutuhkan sumber tenaga untuk dapat berfungsi.
Beberapa manfaat RFID sebetulnya hampir sama dengan manfaat penggunaan
Barcode, hanya saja banyak kelebihan RFID dibandingkan dengan penggunaan
Barcode, antara lain :

1. RFID lebih cepat dalam proses pengidentifikasiannya, karena tidak memerlukan


kontak langsung seperti Barcode.
2. RFID lebih tahan terhadap kondisi seperti kotoran kimiawi debu dan lainnya
dalam pembacaannya, dimana Barcode belum mampu melakukan itu. Terbukti
apabila kode garis hitam-putih diselimuti es (pada kemasa ice cream), Barcode
akan mengalami kesulitan dalam mendetekti kode tersebut.
3. RFID memiliki pembaca yang tidak bergerak sehingga lebih awet untuk investasi
kepemilikan aset jangka panjang
4. RFID tag dapat dibaca dalam keadaan situasi rawan pada kecepatan luar biasa,
umumnya merespon dalam waktu kurang dari 100 milidetik.
5. RFID lebih susah digandakan atau ditiru serta dicopy.
Perkembangan teknologi RFID terus menghasilkan kapasitas memori lebih
besar, lebih luas jarak baca, dan diproses super cepat. Sangat mungkin bahwa pada
akhirnya akan menggantikan teknologi barcode. Sirkuit yang terintegrasi (CHIP) dalam
sebuah RFID tag tidak akan pernah tertandingi secara ekonomis dibandingkan barcode
label. Namun, teknologi RFID akan terus berkembang dimana barcode atau teknologi
optik tidak efektif lagi. Jika standarisasi komponen dicapai dimana komponen RFID dari
berbagai produsen dapat digunakan secara bersama maka pasar sangat mungkin akan
tumbuh eksponensial.
Komponen RFID
Komponen RFID terdiri dari 3 bagian utama yaitu :
1. Tag RFID, dapat berupa stiker, kertas atau plastik dengan beragam ukuran. Di dalam
setiap tag ini terdapat chip berantena yang mampu menyimpan sejumlah informasi
tertentu, yang disertakan pada suatu unit barang. Dengan piranti ini, perusahaan bisa
mengidentifikasi dan melacak keberadaan suatu produk. RFID tag terdiri dari tiga
bagian. Pertama, lapisan pelindung dari benturan. Kedua, berupa lilitan antena dan
sebuah kapasitor membentuk rangkaian yang beresonansi pada frekuensi tertentu.
Antena ini akan menangkap induksi medan elektromagnet dari RFID reader dan
mengubahnya menjadi arus sebagai sumber tenaga bagi chip. Ketiga, ID chip yang
akan memodulasi arus yang merepresentasikan bit-bit sinyal. Bit-bit sinyal ini berisi
kode yang tersimpan di dalam ID chip. Panjang bit sinyal berbeda-beda untuk setiap
produsen RFID tag. Jarak antara antena pembaca RFID dengan tag secara langsung
dipengaruhi oleh frekuensi kerja yang digunakannya. Frekuensi RFID yang berbeda
akan menghasilkan jangkauan yang berbeda pula. Berikut contoh berbagai bentuk
tag :

!
!
Gambar 2. Label RFID

!
Gambar 3. RFID Inplant

Gambar 4. RFID Tag

2. Terminal Reader RFID, terdiri atas RFID-reader dan antena yang akan
mempengaruhi jarak optimal identifikasi. Antena memancarkan gelombang radio
untuk mengaktifkan kartu, membaca dan menulis data ke dalamnya. Antena
berfungsi sebagai penghubung antara kartu (tag) dan perangkat penerima
gelombang radio (transceiver), yang mengontrol sistem perolehan data dan
komunikasi. Contoh reader RFID :

!
!
Gambar 5. Freecom Harddrive 1 RFID

Gambar 6. RFID Reader CRF-121

3. Host Komputer, sistem komputer yang mengatur alur informasi dari item-item yang
terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi antara tag dan
reader. Host bisa berupa komputer stand-alone maupun terhubung ke jaringan LAN /
Internet untuk komunikasi dengan server.
Frekuensi yang digunakan
Sistem RFID juga dibedakan berdasarkan rentang frekuensi. Ada empat macam
RFID tag yang sering digunakan yang dikategorikan berdasarkan frekuensi radio yaitu :
Low Frequency Tag dengan jangkauan frekuensi antara 125 yang merupakan
standar aslinya dan 134,5 KHz yang merupakan standar internasional. Frekuensi
ini banyak digunakan untuk identifikasi binatang, keylock pada mobil, dan sistem
anti pencuri.
High Frequency Tag dengan jangkauan frekuensi 13,56 MHz, banyak digunakan
pada perpustakaan, pallet tracking, pelacakan bagasi pada pesawat terbang, dan
apparel item tracking.
Ultra High Frequency Tag dengan jangkauan frekuensi antara 868 - 956 MHz,
digunakan pada pelacakan container, pelacakan truk dan trailer pada pelabuhan
kapal laut.
Microwave Tag dengan jangkauan frekuensi 2,45 GHz, digunakan dalam akses
kontrol jarak jauh kendaraan bermotor.
Cara Kerja RFID

!
Gambar 7. Skema dasar cara kerja RFID
Berdasarkan gambar skema dasar di atas dapat dijelaskan bagaimana RFID
bekerja. Terminal RFID terhubung langsung dengan host komputer. Ketika sebuah kartu
RFID melewati zona elektromagnetik yang dipancarkan oleh RFID reader, maka akan
mendeteksi sinyal. Terminal akan membaca/mengubah informasi yang tersimpan di
dalam tag (yang memancarkan gelombang radio dalam kisaran 1 - 100 kaki/ lebih
tergantung kekuatan daya pancar dan frekuensi radio yang digunakan) kemudian akan
menginduksi RFID tag. Gelombang induksi berisi password yang apabila dikenali oleh
RFID tag, memori RFID tag (ID chip) akan terbuka.
RFID tag akan mengirimkan kode yang terdapat di memori ID chip melalui
antena yang terpasang di tag. RFID reader akan membandingkan kode yang diterima
dengan kode kunci yang tersimpan di RFID reader. Jika sesuai, RFID reader akan
membuka kunci pintu. Data yang dipancarkan tag dapat beragam informasi, seperti ID,
harga, warna, type, merk, dan lain-lain. Data yang diterima reader akan ditransmisikan ke
host.
RFID Tag dapat bersifat pasif atau aktif. RFID Tag yang pasif tidak memiliki
power supply sendiri. Daya listrik yang dihasilkan disebabkan oleh adanya frekuensi
radio scanning yang masuk tetapi hanya dalam jangkauan medan reader. Hal ini sudah
cukup untuk memberi kekuatan bagi RFID tag untuk mengirimkan respon balik. Dengan
tidak adanya power supply, jarak jangkauannya mulai dari 10 mm sampai dengan 6
meter. RFID tag yang pasif harganya bisa lebih murah untuk diproduksi dan tidak
bergantung pada baterai.
RFID Tag yang aktif memiliki power supply sendiri sehingga jarak jangkauannya
lebih jauh. Memori yang dimilikinya juga lebih besar sehingga bisa menampung berbagai
macam informasi di dalamnya. Jarak jangkauan dari RFID tag yang aktif ini bisa sampai
sekitar 100 meter dan dengan umur baterai yang bisa mencapai beberapa tahun
lamanya.
Permasalahan Seputar RFID
1.

Meningkatnya resiko terhadap security. Penggunaan gelombang, infra merah,


ataupun bentuk media komunikasi tanpa kabel lain antara alat input dengan alat
pemroses data membuka peluang bagi pihak lain guna menyadap data. Sehingga
perlu juga difikirkan tentang pengiriman data yang aman.

2.

Pengurangan ruang lingkup kerja karyawan (privacy). Karyawan yang menggunakan


tag akan merasa bahwa dirinya selalu dimonitor oleh atasannya, bahkan untuk
melakukan sesuatu yang sangat pribadi. Hal ini menyebabkan karyawan tidak lagi
mendapatkan privasi yang menjadi haknya dan keberadaannya dapat dipantau
setiap saat oleh atasannya karena data di dalam tag selalu menyertainya.
Keterkaitan dengan produsen yang lain, dan tidak semua produsen dapat
menyediakan teknologi yang terkait dengan penggunaan RFID ini. Seperti produksi
barang atau makanan yang dihasilkan oleh sebuah home industri yang modalnya
terbatas. Dengan adanya penggunaan RFID ini maka produsen harus menyediakan

3.

label RFID di setiap kemasan yang harganya bisa lebih mahal dari label barcode.
Berikut gambar-gambar dari berbagai kegiatan yang telah menerapkan RFID :

!
!
Gambar RFID
Tag yang
dipasang pada
hewan

Gambar Label
RFID pada
pasport

!
!

G a m b a r R F I D Gambar RFID
yang digunakan p a d a s i s t e m
p a d a s i s t e m inventory
perparkiran

!
!

G a m b a r l a b e l Gambar RFID
RFID
p a d a pada sistem
produk barang
perpustakaan

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi yang cukup pesat secara perlahan-lahan sedikit memaksa


manusia agar dapat memanfaatkan berbagai teknologi khususnya Teknologi Informasi
dan Komunikasi. Dewasa ini penggunaan piranti yang berhubungan dengan komputer
sudah banyak dijumpai di setiap kegiatan, seperti di pasar swalayan, bank, tempat
pemesanan tiket, dan lain-lain. Tetapi orang juga tidak menyadari beberapa aktivitas
yang dilakukan sebenarnya sedang mengakses sebuah komputer tanpa disadari. Konsep
Ubiquitous inilah yang muncul sebagai akibat penggunaan komputer yang dapat diakses
dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan apa saja. Salah satu
pengembangan ubiquitous adalah penerapan RFID yang menggunakan piranti yang
mampu menjalankan tugas tertentu. Data yang diperoleh dari penggunaan RFID ini tidak
melibatkan tenaga dari banyak orang dan waktu untuk mengaksesnya. Cukup dengan
menempatkan sebuah alat (reader) yang secara otomatis akan mengakses data yang
terdapat bada barang yang sudah dipasang RFID tag atau label. Dengan pemanfaatan
RFID ini dimungkinkan bahwa segala kegiatan yang berkaitan dengan data-data yang
cukup besar tidak lagi diperlukan waktu yang lama, tetapi dengan tingkat akurasi yang
tinggi. Data cukup dikenali, dibaca dan disimpan ke dalam host komputer, yang kemudian
dapat digunakan oleh penggunanya.

SARAN
Pemanfaatan teknologi tidak selamanya dapat diterima setiap orang. Di Indonesia
kebiasaan membeli dengan cara menawar barang sudah menjadi kebiasaan hampir
semua orang. Apalagi pembelian barang melalui internet, dimana kepercayaan
merupakan syarat mutlak agar transaksi dapat berjalan dengan baik. Konsumen harus
melihat barang secara langsung untuk mengetahui kondisi barang yang akan dibeli.
Produsen juga harus mengecek pembayaran yang dilakukan secara elektronik.
Penggunaan RFID ini dapat diterapkan dengan melibatkan banyak pihak yang tentunya
harus berfikir sebelum menerapkannya. Produsen sudah harus memikirkan infrastruktur,
dan modal yang akan disiapkan jika ingin beralih ke RFID. Perlu diperhatikan juga bahwa
penggunaan nirkabel dalam hal ini gelombang radio, akan banyak ditemui kendala dalam
pelaksanannya. Masalah penyadapan dan ruang lingkup/area yang dapat dijangkau oleh
reader RFID juga menjadi faktor penentu keberhasilan RFID. Sehingga perlu difikirkan
juga mengenai keamanan datanya yang terjadi pada saat identifikasi berlangsung, dan
jangkauan gelombang radio yang dapat diterima dan dikirim dari dan ke RFID reader.
Untuk itu dibutuhkan kebijakan atau regulasi yang dapat melindungi dan mengakomodasi
pengguna dalam rangka mendorong bangkitnya industri dalam negeri terkait dengan
pemanfaatan RFID tersebut.
Segala kegiatan yang dilakukan secara otomatis dan tidak memerlukan banyak
aktifitas manusia, tentunya akan menjadi pertimbangan bagi perusahaan untuk
mengurangi tenaga kerja. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja,
terutama bagi mereka yang pekerjaannya digantikan dengan mesin. Pengangguran akan
meningkat seiring diterapkannya RFID sebagai salah salah satu sarana pencatatan dan
identifikasi data. Ini akan menjadi perhatian khusus bagi perusahaan atau bahkan
pemerintah yang akan menerapkan RFID.
Penggunaan RFID chip yang ditanam (implant) di dalam tubuh manusia akan
menjadi benda asing yang dipengaruhi oleh gelombang yang dipancarkan reader RFID
menjadi pertimbangan seseorang sebelum menggunakannya. Adanya sesuatu yang
sengaja ditanam perlu juga diperhatikan mengenai materi pembuatnya. Materi harus
bebas dari kuman (steril) dan tidak mempengaruhi organ tubuh, sehingga aktifitas orang
yang ditanamkan chip tidak merasa terganggu walaupun telah dijelaskan di atas bahwa
masalah privasi juga merupakan faktor yang harus difikirkan sebelum menggunakan chip
jenis ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Angga Ariyana Ilyas. Radio Frequency Identification. Artikel Bebas. 2008. Available
from <http://www.ittelkom.ac.id> Diakses pada 31 Oktober 2009.
2. Depkominfo. Seminar Penelitian : Mendukung Penerapan Smart Card Dan RFID.
Artikel Seminar. 2009. Available from <http://balitbang.depkominfo.go.id> Diakses
pada 31 Oktober 2009.
3. Dudung Abdussomad Toha. RFID Sebagai Pengenal Identitas. Artikel Bebas. 2009.
Available from <http://www.dudung.net> Diakses pada 31 Oktober 2009.
4. Henlia. Mengenal RFID. Makalah Ilmiah. 2006. Available from <http://
www.lib.itb.ac.id> Diakses pada 31 Oktober 2009.
5. Mohammad Mustafa Sarinanto. Ubiquitous & Broadband. Bahan ajar perkuliahan.
2009. STMIK Nusa Mandiri. Jakarta.
6. Muklis Akhadi. Elektronika : dari Mikro ke Nano. Artikel. 2000. Available from < /http://
www.elektroindonesia.com> Diakses pada 15 Nopember 2009.
7. Noname. Cara Kerja Barcode. Artikel Bebas. Available from <http://www.pvidia.com>
Diakses pada 10 Oktober 2009.
8. PUTU A. WIDHIARTHA. Ubiquitous Computing : Era Ketiga dari Revolusi Komputer.
Makalah Ilmiah. 2007. Available from : < http://widhiartha.multiply.com> Diakses pada
21 Oktober 2009.
9. Uki dan Admin. Implementasi RFID Untuk Sistem Informasi Perpustakaan. Artikel
Bebas. 2008. Available from <http://smartech.gamatechno.com> Diakses pada 31
Oktober 2009.
10. Wikipedia. RFID. Ensiklopedia Bebas. Available from <http://www.wikipedia.org/wiki/
RFID> Diakses pada 31 Oktober 2009.