Anda di halaman 1dari 5

RIZKY S.

BENGGOLO
2014339111
MATA KULIAH PENCEMARAN
UDARA

KEBISINGAN SEBAGAI PENCEMARAN UDARA


Kebisingan bisa diartikan sebagai suara yang tidak diinginkan atau suara
keras yang tidak menyenagkan atau tidak terduga. Kebisingan berasal dari kegiatan
manusia seperti penggunaan alat transportasi dan aktifitas industri. Dampak dari
kebisingan ini bukan hanya pada kota kota besar tetapi kota kecil dan desa yang
lokasinya di dekat tempat industri juga ikut terpengaruh. Masalah ini semakin lama
menjadi semakin besar akan tetapi masalah ini kurang mendapat perhatian bahakan
di negara maju sekalipun. Meskipun polusi bisa menjadi pembunuh bagi manusia
akan tetapi usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini sangatlah
sedikit. Kebisingan bisa mempengaruhi kesehatan manusia seperti menyebabkan
hipertensi, menggagu tidur dan bisa menghambat kemampuan kognitif pada anak
anak. Bahkan yang paling parah bisa menyebabkan ganguan pada memori atau
gangguan kejiwaaan. Masalah ini suadah tersebar hampir di seluruh dunia salah
satu contoh India. Di India masalah ini sudah menyebar luas. Beberapa studi
melaporkan tingkat kebisingan di kota metropolitan sudah melebihi batas standar
yang mengakibatkan para penduduk menjadi tuli dan studi yang dilakukan oleh Sigh
dan Mahajan di kalkuta dan dehli menemukan tingkat kebisingan di kota itu
mencapai 95dB padahal ambang batas hanya 45dB.
Studi lain yang dilakukan Murli dan Murthy menemukan bahwa lalu lintas di
Vishakhapatanam melebihi 90dB dan hal ini biasanya terjadi di pagi hari. Masalah ini
bukan

hanya

terjadi

di

India

saja.

Efek

dari

kebisingan

sudah

cukup

mengkhawatirkan terbukti dari tingkat kebisingan 40dB yang melebihi perkiraan


WHO yaitu 30 35 dB.
Di India penanganan polusi udara sangatlah rendah karena masyarakatnya
menganggap masalah ini bukanlah sebuah polutan. Dan sebuah survei yang
dilakukan

oleh

Pengendalian

Pencemaran

survei

Badan

Pusat

(CPCB)

menunjukkan bahwa di Delhi, tingkat kebisingan melebihi batas yang diizinkan.


Demikian pula, sebuah studi oleh NEERI telah mengungkapkan bahwa tingkat
kebisingan di perumahan, kawasan komersial dan industri dan zona diam Delhi dan

kota-kota DKI jauh melebihi standar yang ditetapkan. Tingkat kebisingan rata-rata di
Delhi adalah 80 dB sedangkan batas yang diijinkan adalah 55dB. Bombay juga
meraskan dampak dari tingkat kebisingan yang tinggi. Shetye (1980) memperkirakan
bahwa tingkat kebisingan di lokasi yang ramai di Bombay hampir dua kali lipat dari
standar perumahan di sebagian negara (45dB siang hari dan pada malam hari
35dB). Bukti dari meningkatnya polusi suara adalah adanya peningkatan pengaduan
kepada polisi. Akan tetapi dengan banyaknya urbanisasi dan industrialisasi yang
terjadi semakin memperumit masalah sehingga masalah ini makin sulit diselesaikan.
Ada beberapa sumber kebisingan, di antaranya yaitu sumber polusi suara
seperti lalu lintas kendaraan, lingkungan, peralatan listrik, TV dan musik sistem,
sistem alamat publik, kereta api dan udara, lalu lintas, dan bahkan kita juga menjadi
korban kebisingan yang dihasilkan oleh peralatan rumah tangga yang digunakan
oleh kita. Sebagian besar korban polusi suara adalah orang yang tinggal di kota
metropolitan atau kota-kota besar dan mereka yang bekerja di pabrik.
Dalam suatu pelajaran telah diteliti mengenai polusi suara dan dampaknya
bagi kehidupan manusia. Sebuah hasil Survei crossscection di Dehli mununjukan
bahwa sumber utama penyebab polusi udara adalah bunyi pengeras suara dan
bunyi kendaraan. Namun jika dilihat dari segi jumlah wanita lebih banyak yang
terkena dampaknya daripada lelaki. Polusi udara ini mengakibatkan ganguan
komunikasi, sulit tidur dan kurangnya efisiensi. Yang paling ekstrim polusi ini bisa
menyebabkan tuli dan gangguan mental. Banyak keluhan yang telah diterima
pemerintah ataupun polisi mengenai masalah ini dan sebagai cara untuk
mengatasinya dipilih cara memberikan pendidikan atau penyuluhan bagi publik
sebagai cara terbaik.
Tak diragukan lagi bahwa suara memiliki pengaruh negatif terhadap
kesehatan manusia. Kebisingan dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran,
stres, tekanan darah tinggi, kurang tidur, gangguan produktivitas, dan penurunan
umum dalam kualitas hidup. Sulit untuk mengukur efek dari kebisingan, hal ini
dikarenakan adanya perbedaan latar belakang masyarakat dan jenis kebisingan
yang beragam. Dalam sebuah penelitian ,penggunaan pengeras suara atau klakson
pada kendaraan bermotor di kehidupan sosial di India maupun di upacara

keagamaan dapat membahayakan kesehatan penduduk perkotaan. Dampaknya


yaitu dapat menyebabkan tuli, gangguan saraf, gangguan mental, masalah jantung,
tekanan darah tinggi, pusing dan bahkan insomnia (Bhargawa, 2001). Paparan
polusi suara melebihi 75 desibel selama lebih dari delapan jam sehari untuk jangka
waktu yang panjang dapat menyebabkan kehilangan pendengaran.
Semakin tinggi tingkatan polusi suara dengan intensitas kebisingan dan
periode paparan dapat semakin memperparah kondisi kesehatan manusia. Bunyi
suara seperti ledakan yang sangat keras dengan tingkat intensitas melebihi 150 dB
dapat menyebabkan sensasi dering yang disebut Tinnitus dan dapat merusak
pendengaran secara permanen. Secara umum sekitar 1 persen dari populasi
menderita kebisingan yang disebabkan oleh polusi suara. Nagi, (1993) menemukan
bahwa tingkat kebisingan diproduksi oleh peralatan rumah tangga dan peralatan
kadang-kadang mencapai hingga 97 dB yang lebih dari dua kali lipat diterima
(45dB). Kebisingan yang berlebihan bisa membawa beberapa efek buruk seperti
perasaan jengkel, gangguan bicara, gangguan tidur, stres mental, sakit kepala, dan
kurangnya daya konsentrasi. Demikian pula Singh (1984) mencatat bahwa pekerja
yang terpapar kebisingan tingkat tinggi memiliki insiden yang lebih tinggi dari
peredaran darah, penyakit jantung, hipertensi, tukak bisul, dan neurosensorik dan
gangguan motorik.
Mereka yang tinggal di dekat jalan yang sibuk tidak bisa mendengar satu
sama lain dan dengan demikian tidak dapat menghubungi untuk propagasi (Deutche
Presse-Agentur, 2003). Kita bisa memvisualisasikan bahwa kebisingan dapat
mengganggu komunikasi, mengganggu tidur dan mengurangi efisiensi individu.
Mayoritas responden sampel terkena terjadinya laporan polusi suara dari jengkel
dan gangguan pendengaran. Sebanyak 35% melaporkan tuli dan hampir sebanyak
itu juga melaporkan gangguan mental. Survei Data menunjukkan bahwa efek
kebisingan tidak sama di antara berbagai kelompok umur.
Umumnya, semakin berusia semakin banyak dan sering terkena paparan
polusi suara. Sebagai contoh, meningkatnya proporsi sampel responden dalam
kelompok usia yang lebih tinggi mengakui depresi, sulit tidur dan efek memekakkan
telinga. Sebagian besar responden merasa bahwa kebisingan mengganggu

komunikasi antar individu. Efek yang paling ekstrim (yakni gangguan mental dan tuli)
yang diakui oleh sepertiga dari populasi survei.
Namun, ada kejadian yang jauh lebih tinggi dari tuli efek pada orang tua (di
atas 60 tahun usia). Lebih lanjut, pada tabel menunjukkan bahwa psikosomatik
(misalnya depresi, tidur) dan fisiologis (tuli) gangguan diakui oleh sebagian kecil
responden (54% di berbagai kelompok umur) mengakui efek buruk dari kebisingan
yang dihasilkan oleh lingkungan. Sebuah proporsi yang hampir sama responden
(58%) di berbagai kelompok usia mengklaim bahwa suara yang berasal dari agama
fungsi mempengaruhi mereka. Secara umum, terlepas dari pengeras suara dan
mobil, fungsi agama, serta lingkungan bertindak sebagai sumber yang signifikan dari
polusi suara.
Dengan demikian, kota metropolitan menjadi korban baru dari polusi suara.
Selanjutnya, kita dapat meneliti apakah sumber polusi suara memiliki pengaruh beda
terhadap penduduk laki-laki dan penduduk perempuan.
Beberapa metode telah di kembangkan untuk mengendalikan tingkat
kebisingan. Pertama dengan mendesain mesin/peralatan dengan kebisingan
rendah. Kedua memberikan pengahalang untuk mengontrol kebisingan, ketiga
melindungi reseptor suara seperti membuat bangunan yang bisa mengisolasi
kebisingan dan membuat badan pesawat yang kedap suara. Selain dari teknologi
bisa dilakukan dengan mengatur penggunaan mesin/peralatan. Meskipun belum ada
peraturan yang jelas dari pemerintah tapi langkah ini bisa disebarkan dengan
memberikan pendidikan kepada masyarakat. Untuk membuat India menjadi tempat
tujuan pariwisata kelas dunia, maka pengembanagn dan pelaksanaan program
pengendalian kebisingan harus segera dilakukan karena untuk mengatasi masalah
ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
Salah satu langkah yang telah diulakukan adalah dengan penilitian dengan
mengidentifikasi sumber suara yang membuat polusi suara. Selain itu, penelitian ini
mengeksplorasi efek kebisingan pada publik dan reaksi publik terhadap masalah ini.
Dan bukti yang dikumpulkan melalui penelitian ini dapat digunakan untuk
mengembangkan sesuai hukum dan membuat aksi publik.

Beberapa negara maju berinisiatif untuk mengatasi masalah ini. Sebagai


contoh Amerika Serikat membuat situs yang menyebutkan bahwa orang yang
menyebabkan kebisingan tidak akan mendapat toleransi. Belanda juga telah
mengelurkan larangan membangun rumah di mana tingkat kebisingan dalam 24 jam
di tempat itu rata ratanya melebihi 50dB. Di Inggris ada Undang-Undang yang
menyebutkan bahwa pemerintah daerah dapat menyita peralatan yang membuat
kebisingan di malam hari. Hal terbaru yang terjadi adalah beberapa negara
mengembangkan teknologi aspal porus yang dapat mengurangi kebisingan lalu
lintas hingga 5dB.