Anda di halaman 1dari 38

1

PENYULUHAN
ADOPSI, DIFUSI, INOVASI DAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA
TERHADAP DINAMIKA KELOMPOK

RISKY PUTRI HAQIQI


D1E013088
KELAS B

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdullilah segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya paper ini terselesaikan. Penyusun juga
mengucapkan terimakasih kepada dosen dosen pengampu mata kuliah
penyuluhan atas bimbingannya dan teman teman kuliah atas dukungannya
dalam penyusunan dan penyelesaian paper ini
Munculnya berbagai permasalahan penyuluhan yang di hadapi oleh
masyarakat Indonesia merupakan suatu yang fenomenal. Masalah-masalah
tersebut sering di jumpai dalam kehidupan terutama dalam bidang peternakan,
sehingga atas dasar permasalahan tersebut penyusun membuat paper penyuluhan
berdasarkan kumpulan kumpulan karya hasil penelitian dimana karya tersebut
dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk pemecahan masalah penyuluhan di
bidang peternakan.
Paper tersebut di susun agar pembaca dapat mengetahui dan memahami
Penyuluhan. Semoga dengan makalah yang berjudul Adopsi, Difusi, Inovasi dan
Pendidikan Orang Dewasa terhadap Dinamika Kelompok menjadi acuan dan
perhatian para pembaca.
Penyusunan paper ini, masih terdapat kekurangan dan kekeliruan.
Berdasarkan hal tersebut, selaku penyusun, meminta maaf sebesar-besarnya serta
senantiasa terbuka menerima kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah
berikutnya. Semoga bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan membangun
masyarakat Indonesia yang di cintai ke arah perbaikan dan kemajuan di masa
mendatang.
Purwokerto, 2 Juni 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
JUDUL

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI ii
I. PENDAHULUAN 1
1.1.Latar Belakang
1.2.Tujuan

II. ADOPSI DAN DIFUSI INOVASI MELALUI PENDEKATAN


PSIKOLOGI 2
2.1. Adopsi Inovasi

2.1.1.Pengertian Adopsi Inovasi

2.1.2.Tahapan Adopsi Inovasi 4


2.1.3.Faktor yang Memengaruhi Kecepatan Adopsi Inovasi 7
2.2.Difusi Inovasi

17

III. PENDIDIKAN ORANG DEWASA MELALUI PENDEKATAN


PSIKOLOGI 22
3.1.Konsep Dasar Pendidikan Orang Dewasa
3.1.1.Definisi Pendidikan Orang Dewasa

22

3.1.2.Tujuan Pendidikan Orang Dewasa

26

3.2.Hambatan Pendidikan Orang Dewasa (10)


3.2.1.Hambatan Fisiologik

27

3.2.2.Hambatan Psikologik

32

3.2.Hambatan Perilaku

38

22

27

IV. PRINSIP DAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENDIDIKAN


ORANG DEWASA MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI 42

4.1.Suasana

42

4.1.1.Suasana Pendidikan Aktif

42

4.1.2.Suasana Saling Menghormati 43


4.1.3.Suasana Saling Percaya 44
4.1.4.Suasana untuk Menemukan Jati Diri
4.1.5.Suasana Tidak Mengancam
4.1.6.Suasana Keterbukaan

45

46

47

4.1.7.Suasana Membenarkan Perbedaan

49

4.1.8.Suasana Mengakui Hak untuk Berbuat Salah 50


4.1.9.Suasana Membolehkan Keraguan

51

4.1.10.Suasana Evaluasi Bersama dan Evaluasi Diri 52


4.2.Belajar

53

4.2.1.Jenis Jenis Belajar

53

4.2.2.Cara Cara Belajar

55

4.2.3.Prinsip Prinsip Belajar


4.2.4.Ciri Ciri Belajar

57

58

4.2.5.Faktor Faktor Psikologis yang Memengaruhi Belajar


V. DINAMIKA KELOMPOK (DK)

62

5.1. Konsep Dasar Dinamika Kelompok

62

61

5.1.1.Definisi Dinamika Kelompok 62


5.1.2.Analisis Dinamika Kelompok 64
5.2. Unsur Sosiologi Dinamika Kelompok
5.2.1. Tujuan Kelompok

66

66

5.2.2. Pembagian Tugas dan Hak serta Kewajiban Kelompok


5.2.3. Aturan dan Kebiasaan Kelompok

69

68

5.2.4. Kemudahan dan Tegangan Kelompok 71


5.2.5. Kegiatan Sosial Kelompok

72

5.3. Unsur Psikologi Dinamika Kelompok


DAFTAR PUSTAKA

74

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peternakan merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian
nasional. Pembangunan ekonomi akan tetap berbasis peternakan secara luas, dengan
kata lain kegiatan agribisnis peternakan akan menjadi salah satu kegiatan unggulan
pembangunan ekonomi nasional dalam berbagai aspek yang luas. Penyuluhan
peternakan sebagai bagian integral pembangunan peternakan merupakan salah satu
upaya pemberdayaan peternak-peternak dan pelaku usaha peternakan lain untuk
meningkatkan

produktivitas,

pendapatan

dan

kesejahteraannya.

Berdasarkan

pernyataan tersebut, maka kegiatan penyuluhan peternakan harus mengakomodasikan


aspirasi dan peran aktif peternak-peternak dan pelaku usaha peternakan lainnya
melalui

pendekatan

partisipatif.

Pendekatan

partisipatif

dalam

praktiknya

memerlukan pemahaman terhadap adopsi, difusi dan inovasi, pendidikan orang


dewasa dan faktor yang memengaruhinya serta dinamika kelompok. Pemahaman
tersebut diperlukan oleh seorang penyuluh karena diperlukan untuk pengembangan
pembangunan peternakan di masa mendatang, sebab melalui pemberian pemahaman
tersebut, peternak-peternak ditingkatkan kemampuannya baik secara afektif, kognitif
dan psikomotor agar dapat mengelola usaha ternaknya dengan produktif, efisien dan
menguntungkan, sehingga peternak-peternak dan keluarganya dapat meningkatkan
kesejahteraannya. Meningkatnya kesejahteraan peternak peternak dan keluarganya
adalah tujuan strategis utama dari pembangunan peternakan.

1.2 Tujuan
1. Mengkaji metode-metode dalam penyuluhan
2. Mengkaji dinamika kelompok

3. Mengkaji pendidikan orang dewasa melalui pendekatan psikologi


4. Mengkaji prinsip dan faktor yang berpengaruh dalam pendidikan orang dewasa
melalui pendekatan psikologi

II.

Dinamika kelompok

Dinamika kelompok merupakan kekuatan kekuatan yang terdapat di dalam


(internal) maupun di lingkungan (eksternal) kelompok yang akan menentukan
perilaku kelompok yang bersangkutan untuk bertindak atau memaksimalkan kegiatan
demi tercapainya tujuan bersama. Kekuatan kekuatan tersebut muncul karena
sebuah kelompok dapat terdiri atas dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama
lain dengan cara saling memengaruhi atau di pengaruhi (Hughes, 2012). Santosa
(2007) mengemukakan bahwa dinamika kelompok merupakan interaksi dan
interdependensi antar anggota kelompok yang satu dengan yang lain secara timbal
balik dan antara anggota dengan kelompok secara keseluruhan, namun menurut
Muchlas (2006), Dinamika kelompok merupakan seperangkat teknik seperti
permainan peran, brainstorming kelompok tanpa pemimpin, terapi kelompok, latihan
sensitifitas, pembentukan tim dan analisis transaksional.
Hughes dkk (2012) mengemukakan bahwa masing masing kelompok
memiliki sifat yang spesial, hal tersebut karena terdapat dua ciri khas dari kelompok
yaitu interaksi satu sama lain dan pengaruh timbal balik. Apabila di bandingkan
dengan tim maka secara umum terdapat empat hal yang membedakannya. Pertama,

anggota tim biasanya memiliki perasaan identifikasi yang lebih kuat antara satu sama
lain jika dibandingkan dengan kelompok sehingga identifikasi dalam kelompok
menjadi lebih sulit. Kedua, tim memiliki tujuan atau tugas yang sama sedangkan
kelompok mungkin milik sekumpulan individu dengan tujuan pribadi. Ketiga,
ketergantungan tugas biasanya lebih besar dalam tim dibandingkan dalam kelompok.
Keempat anggota tim sering memiliki peran yang berbeda dan spesial dibandingkan
anggota kelompok karena anggota kelompok sering memainkan peran yang bervariasi
dalam kelompok. Berdasarkan pernyataan diatas penting bagi penyuluh untuk
memahami konsep tersebut.
Dinamika kelompok pada dasarnya seperti organisasi karena mempunyai
kekuatan eksternal dan kekuatan internal yang memengaruhi perilaku kelompok yang
bersangkutan dimana jika digunakan dengan cara yang benar dapat bersifat
konstruktif (membangun) sedangkan jika digunakan dengan cara yang tidak benar
dapat bersifat destruktif (menghancurkan) atau jika di analogikan, kekuatan eksternal
dan internal seperti pedang bermata dua. Tika (2010), mengemukakan bahwa masalah
yang sering dihadapi oleh kelompok adalah masalah adaptasi eksternal dan integrasi
internal sehingga penyuluh harus menjelaskan dan menerapkan salah satu unsur
budaya kelompok yaitu memahami masalah adaptasi eksternal dan masalah intgrasi
internal yang ditekankan pada bagaimana cara untuk memahami dan merasakan
masalah masalah yang dihadapi oleh kelompok atau anggota kelompok menyangkut
penyesuaian dengan lingkungan eksternal dan masalah integrasi internal dalam
kelompok tersebut.
Permasalahan internal dan eksternal dapat terjadi di akibatkan adanya
perubahan. Winardi (2006), mengemukakan bahwa perubahan merupakan proses
perpindahan kondisi yang sekarang berlaku menuju ke kondisi dimasa mendatang
yang di lakukan oleh individu dan kelompok kelompok dengan bereaksi dan
melibatkan aneka macam kekuatan dinamik eksternal dan internal yang seringkali
berinteraksi hingga mereka saling memperkuat satu sama lainnya dan turut

menyebabkan adanya keharusan untuk menciptakan perubahan yang jelas.


Berdasarkan pernyataan tersebut, penyuluh perlu bereaksi dan menyesuaikan diri
terhadap berbagai macam kekuatan tersebut agar mampu bertahan dan berkembang
dengan cara melaksanakan kegiatan inovasi dan perbaikan permasalahan secara
berkesinambungan. Hughes dkk (2012), menyarankan penyuluh hendaknya
melakukan pembelajaran melalui tindakan, maksudnya adalah belajar sambil
melakukannya yang lebih diarahkan pada program dan kegiatan pelatihan
menggunakan isu dan tantangan dunia atau permasalahan yang sesungguhnya di
hadapi oleh kelompok dengan menempatkannya sebagai peran pemecah masalah
sehingga kelompok tersebut mampu menghasilkan keputusan solutif.
Pendekatan sosiologis merupakan analisis dinamika kelompok melalui analisis
terhadap bagian bagian atau komponen kelompok dan analisis terhadap sistem
sosial tersebut. Menurut Leilani dan Hasan (2006), sistem sosial pada suatu kelompok
dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi
tugas, pembinaan dan pengembangan kelompok, kekompakan kelompok, suasana
kelompok, ketegangan kelompok, keefektifan kelompok dan agenda / agenda
terselubung. Tika (2010) menambahkan bahwa sistem sosial dipengaruhi oleh
konsepsi keyakinan dan nilai, hierarki nilai dan nilai dasar budaya kelompok.
Winardi (2006) menguatkan dalam membentuk budaya kelompok, diagnosis
kelompok mutlak diperlukan sebagai titik tolak bagi pembentukan dan perubahan
kelompok yang terencana. Diagnosis kelompok dapat diterapkan melalui sejumlah
langkah dasar antara lain (1) mengenal dan menafsirkan masalah yang dihadapi, dan
merasakan kebutuhan akan perubahan; (2) mendeterminasi kesiapan dan kemampuan
organisasi yang bersangkutan untuk berubah; (3) mengidentifikasi sumber sumber
daya manajerial dan angkatan kerja kelompok untuk perubahan; (4) mendeterminasi
sebuah strategi perubahan dan sasaran sasarannya; (5) mengumpulkan berbagai
informasi yang di perlukan untuk diagnosa masalah.
3.1.

Unsur Sosiologi Dinamika Kelompok

10

3.1.1. Tujuan Kelompok


Dinamika kelompok pada dasarnya memiliki tujuan yang akan di capai. Leilani
dan Hasan (2006), mengemukakan untuk mengetahui kelompok tersebut dikatakan
baik atau tidak dapat dilakukan dengan menganalisis anggota kelompok melalui
perilaku para anggota dan pimpinannya. Tika (2010) mengemukakan bahwa tujuan
merupakan penjabaran lebih lanjut dari misi utama kelompok. Tujuan utama tidak
secara otomatis bahwa anggota anggota kelompok akan mempunyai tujuan yang
sama, sehingga untuk mencapai tahap mengenai tujuan, kelompok memerlukan
bahasa dan share asumsi yang sama menyangkut pelaksanaan logika dasar dari suatu
yang abstrak menjadi tujuan konkret menyangkut perancangan, manufaktur dan
penjualan produk atau pelayanan. Asumsi asumsi harus terdapat petunjuk
petunjuk yang harus dipatuhi kelompok menyangkut perilaku nyata, termasuk
menjelaskan kepada anggota kelompok bagaimana merasakan, memikirkan segala
sesuatu menyangkut masalah budaya kelompok dan solusinya yang berdasarkan lima
kategori dasar antara lain : (1) Hubungan dengan lingkungan; (2) Hakikat realitas,
ruang, dan waktu; (3) Hakikat sifat manusia; (4) Hakikat aktivitas manusia; (5)
Hakikat hubungan manusia.
Kelompok yang dinamis harus mempunyai sejumlah tujuan perubahan yang
direncanakan. Tujuan tersebut harus memuat dua tipe umum hasil yaitu tipe pertama
dan tipe kedua. Tipe pertama, ditujukan ke arah guna memperbaiki kemampuan
organisasi yang bersangkutan, guna menghadapi perubahan perubahan yang tidak
direncanakan yang dihadapi oleh kelompok dengan cara meningkatkan efektifitas,
fleksibilitas dan sistem peramalan secara tepat dan tepat waktu. Tipe kedua,
perubahan yang direncanakan ditujukan ke arah upaya mengubah perilaku para
anggota, agar mereka menjadi kontributor lebih efektif bagi tujuan tujuan organisasi
mereka dengan cara menimbulkan beberapa sikap dan nilai baru, cara
memvisualisasikan organisasi dan meningkatkan peranan para anggota di dalamnya
(Winardi, 2006).

11

Penetapan tujuan dalam suatu merupakan hal penting bagi kelompok.


Penetapan tujuan tersebut harus ditetapkan dengan benar di awal agar resolusi
(pemecahan) atau hasil yang dicapai jelas dan realistis. Hughes dkk (2012)
menyarankan untuk dapat menetapkan tujuan dengan benar, berikut ini beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi dalam penetapan tujuan antara lain:
a. Tujuan harus spesifik dan dapat diamati
Tujuan yang spesifik akan menghasilkan usaha dan kinerja yang lebih baik
daripada tujuan yang sifatnya umum. Tujuan yang spesifik berkaitan erat dengan
tujuan yang diamati sehingga dengan menetapkan tujuan secara spesifik penyuluh
maupun kelompok akan lebih mudah untuk memantau kemajuan.
b. Tujuan harus dapat tercapai, tetapi menantang
Tujuan yang ditetapkan harus menantang sehingga pencapaiannya sudah pasti
karena dengan pencapaian tujuan yang menantang maka kelompok akan di tuntut
menghasilkan kinerja yang tinggi sebab kinerja yang lebih tinggi muncul saat tujuan
yang ditetapkan cukup tinggi (menantang).
c. Tujuan memerlukan komitmen
Sebuah tujuan harus di dukung komitmen untuk menjamin kesuksesan
penetapan tujuan. Komitmen tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan anggota
kelompok dalam penetapan tujuan dan menyediakan sumber daya yang di perlukan
oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuan.
d. Tujuan memerlukan umpan balik
Umpan balik perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja anggota kelompok
ketika memenuhi kriteria suatu tujuan. Umpan balik itu sendiri dapat berupa imbalan
(reward) dan atau hukuman (punishment).
Winardi (2006) menguatkan, bahwa dalam penetapan tujuan yang spesifik
kelompok harus memusatkan perhatian pada target target spesifik yang memerlukan
perubahan dalam rangka menutup celah celah kinerja dan untuk mencapai sasaran
sasaran yang diinginkan. Tika (2010) menambahkan bahwa tujuan berkaitan dengan

12

asumsi dasar dimana akan berpengaruh terhadap keyakinan dan nilai nilai budaya
kelompok.
3.1.2. Jenjang Sosial (Social Rank)
Jenjang atau pelapisan anggota anggota kelompok yang menunjukkan
perbedaan nilai tertentu yang akan membedakan penghargaan, kehormatan dan hak /
wewenang anggota anggotanya. Winardi (2006) menguatkan bahwa jenjang sosial
berkaitan erat dengan perubahan nilai nilai sosial. Perubahan nilai nilai sosial
dapat berubah melalui banyak cara termasuk didalamnya antara lain: dari organisasi
menuju individu; dari konformitas menuju orisinalitas; dari independensi menuju
interdependensi; dari materialisme menuju kualitas kehidupan; dari kondisi status quo
menuju perubahan; dari masa mendatang menuju masa kini; dari kegiatan bekerja
menuju waktu luang; dari ototritas menuju partisipasi; dari sentralisasi menuju
desentralisasi; dari ideologi menuju desentralisasi; dari ideologi menuju pragmatisasi;
dari ekonomi menuju kearah keadilan sosial; dari alat alat menuju ke tujuan
tujuan; dari moralitas mutlak menuju arah keadilan sosial.
3.1.3. Peran Kedudukan (Status Role)
Yakni peran yang harus di lakukan / ditunjukkan oleh anggota kelompok sesuai
dengan kedudukan yang diperolehnya dalam struktur sistem sosial (kelompok) yang
bersangkutan. Adanya perbedaan peran kedudukan akan membuat setiap anggota
melaksanakan tugas / kewajiban sesuai dengan hak yang diperoleh dari
kedudukannya. Tika (2010) menambahkan bahwa setiap peran kedudukan menuntut
pola pekerjaan pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan kelompok.
3.1.4. Kekuasaan (Power)
Hughes dkk (2012) menjelaskan bahwa dari sudut pandang kelompok,
kekuasaan adalah fungsi dari pemimpin, pengikut dan situasinya, berdasarkan
pernyataan diatas maka dapat dianalisis bahwa kelompok dipengaruhi oleh lima

13

kekuasaan sosial yaitu (1) kekuasaan kepakaran, (2) kekuasaan rujukan, (3)
kekuasaan sah, (4) kekuasaan penghargaan, dan (5) kekuasaan paksa.

3.1.5. Kepercayaan (Belief)


Merupakan segala sesuatu yang secara akal atau perasaan anggota kelompok
dinilai dan diterima sebagai kebenaran, yang digunakan sebagai landasan kegiatan
kelompok dan masing masing anggotanya untuk mencapai tujuan kelompok yang
diinginkan. Menurut Tika (2010) kepercayaan merupakan salah satu unsur budaya
kelompok dimana mengandung nilai nilai kelompok, dengan kata lain keyakinan
merupakan sikap tentang cara bagaimana seharusnya bekerja dalam kelompok.
Hughes dkk (2012) menyatakan bahwa nilai adalah konstruk yang mewakili perilaku
atau keadaan umum yang dianggap penting oleh individu dimana nilai tersebut di
pelajari dari proses sosialisasi, lalu di internalisasi dan bagi anggota nilai nilai
tersebut merupakan komponen tak terpisahkan dari diri, sehingga nilai memainkan
peran penting dalam karakter psikologis seseorang dan dapat memengaruhi perilaku
dalam berbagai situasi. Berdasarkan pernyataan tersebut penting bagi penyuluh
maupun pemimpin kelompok untuk menyadari bahwa individu (anggota) dalam unit
kerja yang sama dapat memercayai nilai nilai yang berbeda, terutama karena kita
tidak dapat melihat nilai nilai secara langsung. Kita hanya dapat menarik
kesimpulan mengenai nilai nilai yang dipercayai anggota lain dari perilaku mereka.
3.1.6. Sanksi (Sanction)
Merupakan perlakuan yang diberikan kepada setiap anggota kelompok yang
berupa imbalan (reward) bagi yang menaati dan hukuman (punishment) bagi yang
melanggar aturan aturan kelompoknya. Winardi (2006), menyatakan bahwa sanksi
dapat di pergunakan sebagai cara untuk melakukan manajemen perubahan terhadap
kelompok dengan tujuan agar tiap anggota menyesuaikan diri dengan perubahan atau
tuntutan perubahan dari lingkungan (faktor eksternal). Perubahan tersebut dapat

14

terjadi baik evolusioner maupun revolusioner, namun perlu diingat bahwa tidak
semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi yang lebih baik, hingga
dalam hal demikian perlu di upayakan agar bila dimungkinkan perubahan diarahkan
ke hal yang lebih baik dari kondisi sebelumnya.
3.1.7. Norma (Norm)
Norma adalah aturan aturan informal yang diadopsi oleh kelompok untuk
mengatur dan membuat perilaku anggota anggota kelompok menjadi tertata,
meskipun norma jarang sekali ditulis atau didiskusikan secara terbuka, namun
memiliki pengaruh yang kuat dan konsisten terhadap perilaku. Hal tersebut karena
kebanyakan orang memiliki kemampuan yang baik untuk membaca isyarat isyarat
sosial yang memberitahu mereka tentang norma yang berlaku (Hughes, 2012).
Winardi (2006) menambahkan bahwa kelompok pada umumnya mengembangkan
norma norma mereka sendiri guna membantu pengembangan perilaku yang
dianggap baik (oleh mereka) akibatnya kebanyakan anggota kelompok mengikuti
norma norma tersebut, terutama pada kelompok yang bersifat kohesif maka, setiap
perubahan yang menyebabkan rusaknya norma norma kelompok yang cenderung
ditentang sehingga salah satu tugas pokok yang dihadapi para penyuluh atau
pemimpin, umumnya adalah meneliti dan memahami alasan alasan yang
melatarbelakangi tantangan para karyawan mereka terhadap perubahan yang sedang
dilaksanakan. Tantangannya adalah berupa mencari cara dan jalan untuk mengurangi
atau mengantisipasi sikap menentang tersebut.
3.1.8. Perasaan Perasaan (Sentiment)
Merupakan tanggapan emosional yang diberikan / ditujukan oleh setiap anggota
terhadap kelompoknya. Perasaan tersebut dapat berwujud kesenangan, kesetiaan,
kekecewaan dan lain lain. Adanya perasaan perasaan tertentu dikalangan anggota
kelompok, sebenarnya dapat dijadikan ukuran untuk melihat apakah kelompok
tersebut telah berhasil mencapai tujuan yang diinginkan semua anggotanya ataukah
tidak. Tika (2010) menambahkan bahwa perasaan dapat dijadikan tolak ukur apakah

15

para anggota berhasil atau gagal mengatasi dua masalah pokok kelompok yang sering
muncul, yakni masalah adaptasi eksternal dan masalah adaptasi integrasi internal
sehingga peran pimpinan ataupun penyuluh untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dengan asumsi dasar dan keyakinan yang dianut anggota kelompok.
3.1.9. Kemudahan (Facility)
Kemudahan merupakan segala sesuatu yang memiliki nilai yang diperlukan
kelompok untuk dapat melaksanakan kegiatan demi tercapainya tujuan kelompok,
seingga yang perlu diperhatikan bukanlah sekadar penyediaan kemudahan saja tetapi
bagaimana kemudahan dapat tersedia tepat waktu, mudah diperoleh / didapat dan
memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat digunakan dengan memperoleh hasil yang
baik maka disini anggota harus memanfaatnya semaksimal mungkin demi tercapainya
tujuan kelompok. Winardi (2006) menambahkan bahwa kemudahan dapat digunakan
untuk mencapai tujuan apabila pemimpin kelompok mengapresiasi sepenuhnya
dinamika peluang serta ancaman ancaman dalam lingkungan kompetitif mereka
dan memberikan cukup perhatian terhadap isu kemasyarakatan yang lebih luas
sehingga kelompok yang bersangkutan perlu mengupayakan agar sumber sumber
daya kemudahannya (inputnya dimanage secara strategik dengan memperhitungkan
kekuatan dan kelemahannya) dan bahwa kelompok tersebut memanfaatkan peluang
peluang yang ada.
3.1.10. Tegangan dan Himpitan (Stress and Strain)
Yaitu adanya berbagai tegangan (tekanan) dapat memperkuat persatuan dan
kesatuan antar sesama anggota kelompok yang bersangkutan demi tercapainya tujuan
kelompok. Leilani dan Hasan (2006) menyatakan bahwa elemen yang memengaruhi
ketegangan kelompok yaitu ketegangan internal dan eksternal. Ketegangan internal
merupakan ketegangan yang berasal dari dalam kelompok yang berkaitan dengan
tercapainya tujuan sedangkan ketegangan eksternal merupakan ketegangan diluar
kelompok yang berkaitan dengan kesatuan dan kelangsungan hidup kelompok. Tika
(2010), menyatakan ketegangan terjadi karena adanya konflik dimana konflik

16

tersebut disebabkan oleh tujuh hal yaitu (1) perbedaan pendapatl (2) salam paham; (3)
salah satu atau kedua belah pihak merasa dirugikan; (4) perasaan yang terlalu sensitif;
(5) konflik yang disebabkan struktur; (6) perilaku yang tidak menyenangkan; (7)
konflik yang disebabkan faktor luar kelompok.
IV.

PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Konsep pendidikan orang dewasa telah dirumuskan dan diorganisasikan


secara sistematis sejak tahun 1920. Pendidikan dewasa adalah suatu proses yang
menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang
hidup. Bagi orang dewasa belajar berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri
sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya(Supriantono, 2008)
Menurut UNESCO dalam Supriantono mendefinisikan pendidikan orang dewasa
berikut ini: Keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan apapun isi,
tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun
menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan
kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan
kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau
profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam
persfektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam
pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.
Defenisi di atas mengindikasikan bahwa pendidikan orang dewasa harus terorganisir
dan berorientasi pada pengembangan dan perubahan kognitif, afektif dan psikomotor
serta berpartisipasi aktif dalam pengembangan EKOSOSBUD.

4.1. TUJUAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA


4.1.1. Perubahan Perilaku

17

Suatu hal yang wajar apabila dalam suatu proses pendewasaan, seseorang
akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan
mengarahkan diri sendiri, namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda
dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula (Arif, 2009). Dan para
guru bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan
perubahan tersebut. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih
memerlukan pengarahan diri, walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat
tergantung. (Asmin, 2011)
Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses
pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam
hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk
meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain,
disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan
kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat
beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih masih diperlukannya
sebagai penyempurnaan hidupnya. (Sudjana, 2006)
4.1.2. Pengetahuan
Setiap individu hidup dalam dunia pengalaman yang selalu berubah dimana
dirinya sendiri adalah sebagai pusat, dan semua orang mereaksi seperti dia
mengalami dan mengartikan pengalaman itu. Ini berarti bahwa dia menekankan
bahwa makna yang datang dari makna yang dimiliki. Dengan begitu, belajar adalah
belajar sendiri dan yang tahu seberapa jauh dia telah menguasai sesuatu yang
dipelajari adalah dirinya sendiri. Dengan adanya hal semacam ini maka dalam
kegiatan belajar, keterlibatan siswa secara aktif mempunyai kedudukan sangat
penting dan mendalam. (Sudjana, 2006)
Seseorang belajar untuk mengetahui dengan penuh makna hanya apabila sesuatu yang
dia pelajari bermanfaat dalam pengembangan struktur dirinya (Trishnamansyah,
2007) Hal ini menekankan pentingnya program belajar yang relevan dengan

18

kebutuhan siswa, yaitu belajar yang bermanfaat bagi dirinya. Dan tentunya ia akan
mempersoalkan pengetahuan apa yang ia sedang pelajari dengan pengetahuan yang
dipaksakan atas dirinya, sehingga seolah-olah dirinya tidak berarti.
4.1.3. Sikap
Kegiatan pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan lagi menjadi obyek
sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya
dengan keinginan memegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi tujuan
kegiatan belajar atau pendidikan orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada
pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri; atau,
jika meminjam istilah Tukiran (2011), kegiatan belajar bertujuan mengantarkan
individu untuk menjadi pribadi atau menemuan jati dirinya. Dalam hal belajar atau
pendidikan merupakan process of becoming a person. Bukan proses pembentukan
atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai
dengan orang lain; atau, kalau meminjam istilah Hamzah (2009), belajar merupakan
proses untuk mencapai aktualiasi diri (self-actualization).
4.1.4. Keterampilan
Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana
seseorang mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka.
Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan
dalam pembelajaran tersebut. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih
aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama
apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat
mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya,
orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan
akan lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide
pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri
kepada mereka. (Rivda, 2009).

19

Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik,
maka terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan,
teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan
menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang
dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan
kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai
kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaandiri tersebut, maka suasana
belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud. (Arif, 2009)
4.2.

Hambatan Psikologik, meliputi:


1. Orang dewasa tidak di ajar namun di motivasi
Terciptanya proses belajar adalah suatu prose pengalaman yang ingin

diwujudkan oleh setiap individu orang dewasa. Proses pembelajaran orang dewasa
berkewajiban memotivasi/mendorong untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi.
(Semiun, 2006)
Salah satu upaya dalm memotivasi dalam sebuah pembelajaran dapat di
lakukan dengan menciptakan suatu struktur untuk perencanaan bersama. Secara ideal
struktur semacam ini seharusnya melibatkan semua pihak yang akan terkenai
kegiatan pendidikan yang direncanakan, yaitu termasuk para peserta kegiatan belajar
atau siswa, guru atau fasilitator, wakil-wakil lembaga dan masyarakat.(Arif, 2009)
2. Pesan berhubungan dengan kebutuhan
Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses
pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan
metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun
non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai
pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di
perguruan

tinggi,

yang

membuat

orang

dewasa

mampu

mengembangkan

kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan

20

kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan


kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh
dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya,
ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan. (Tukiran,
2011) Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin
dikembangankan dalam aktivitas kegiatan di lapangan. Pertama untuk mewujudkan
pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan
keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang
bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala
aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa, baik pria maupun
wanita, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.
3. Belajar adalah menyakitkan karena harus meninggalkan kebiasaan dan cara
berpikir lama
Orang dewasa mempunyai kesulitan dalam menerima gagasan, konsep,
metode dan prinsip baru. Seolah-olah mereka sudah yakin apa yang mereka ketahui
dan alami telah baik dan benar, sehingga sering menolak sesuatu yang baru.
Penolakan terhadap perubahan tersebut mengakibatkan mereka bertindak otoriter
sebagai cara untuk mempertahankan diri. (Semiun, 2006)
Selain pendapat tersebut di atas, umumnya yang sering dikeluhkan orang
dewasa ketika masuk dalam kegiatan pembelajaran adalah hambatan karena faktor
fisik (penglihatan, pendengaran, tenaga, dsb). Sebenarnya tanpa disadari ada juga
hambatan dari faktor psikologis. Untuk itu, seorang fasilitator harus mengetahui dan
belajar memahami kondisi psikologis warga belajarnya. (Siagian, 2010)

21

Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan


mengisi pengalaman baru dengan mempedomani masa lampau yang pernah dialami,
misalnya
dengan latihan keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan
kepekaan, dan lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masingmasing individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya (Arif,
2009). Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer
pengetahuan baru, pengalaman baru, keterampilan baru, untuk mendorong masingmasing individu orang dewasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan
yang diinginkannya,

apa yang menjadi kebutuhannya,

keterampilan yang

diperlukannya, misalnya belajar menggunakan program komputer yang dibutuhkan di


tempat ia bekerja. (Rivda, 2009) Untuk seorang pengajar, hal ini bukan perkara
mudah karena notabennya orang dewasa akan menganggap apa yang menjadi
kebiasaan dalam sehari-harinya baik dan sesuai dengan yang telah di wariskan oleh
pedahulunya. Pengajar harus bisa melakukan pendekatan semenarik mungkin seperti
yang telah di tuliskan di atas.
4. Belajar adalah mengalami sesuatu bukan di marahi atau di gurui
Seseorang akan termotivasi untuk belajar apabila ia dapat memenuhi
keinginan dasarnya. Keinginan dasar tersebut, antara lain (1) keamanan : secara
ekonomis, sosial, psikologis, dan spritual; (2) kasih sayang atau respons: keakraban,
kesukaan berkumpul dan bergaul, atau merasa memiliki; (3) pengalaman baru:
petualangan, minat, ide, cara, dan teman baru; (4) pengakuan: status, prestise, dan
menjadi terkenal. Sementara menurut Mardikanto (2007) faktor fisik seperti suasana
belajar, ruangan, penerangan, dan factor psikologi seperti sikap pembimbing,
dorongan atau dukungan teman,kebutuhan, dan lain-lain juga dapat mempengaruhi
orang belajar.
Dalam konteks pembelajaran orang dewasa apa yang dilakukan lembagalembaga diklat dapat memenuhi keinginan dasar para peserta didik sebagaimana di

22

atas. Mulai dari keamanan secara ekonomis, sosial, psikologis dan spritual sampai
pada pengakuan status, prestise atau ingin populer, tanpa terkecuali baik faktor fisik
yakni sarana prasarana dan lain-lain maupun factor psikologi serta proses
pembelajaran yang sangat menyenangkan di dalam ruangan pembelajaran.
5. Belajar adalah khas dan bersifat individual
Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta
bersifat individual. Setiap individu orang dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri
untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam
pembelajaran tersebut (Siagian, 2010). Dengan adanya pelung untuk mengamati kiat
dan strategi individu lain dalam belajar, diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan
menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih
efektif.
6. Sumber terkaya dalam belajar terdapat pada pengalaman
King (2010) menyatakan bahwa orang dewasa cenderung menyukai pada hal
yang bersifat pengalaman karena beberapa aspek kognisi (pikiran) yang membaik
seiring dengan bertambahnya usia salah satunya adalah kebijaksanaan (wisdom).
Kebijaksanaan ini meliputi pengetahuan peserta didik mengenaik aspek praktis dalam
hidup. Kebijaksanaan ini mungkin meningkat seiring bertambahnya usia karena
bertambahnya pengalaman hidup. Dengan kata lain orang dewasa cenderung dapat
mengembangkan dirinya melalui pengalaman dan kesulitan hidup yang dilaluinya
akibatnya pengalaman dari peserta didik akan bertentangan dengan struktur
pemikiran dari pendidik. Ia juga menyarankan bahwa untuk mendidik pada situasi
semacam ini pendidik / penyuluh perlu melakukan asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi dilakukan dengan menjelaskan keadaan lingkungan yang bersangkutan
melalui struktur pemikiran dari si pendidik dan akomodasi dilakukan dengan
memodifikasi struktur pemikiran pendidik (dengan kata lain mengubah cara berpikir
dari peserta didik).

23

Cervone dan Pervin (2012) menyatakan orang dewasa lebih suka pada hal
yang bersifat pengalaman karena mereka memliki ketahanan psikologis. Ketahanan
psikologis tersebut disebabkan karena meningkatnya kebijaksanaan pribadi walaupun
mungkin terjadi penurunan kognitif. Hal tersebut terjadi karena orang dewasa
memilih domain tertentu dalam kehidupan di mana mereka memfokuskan energi dan
pengetahuan mereka, sehingga dapat dimungkkinan mereka sangat mampu
mempertahankan tingkat dari fungsi dan kesejahteraan dalam domain kehidupan yang
dipilih dimana hal ini berkaitan erat dengan kebiasaan mereka (Najamudin, 2008).
Berdasarkan hal tersebut apabila dikaitkan dengan teori Carl Gustav Jung dapat di
analisis bahwa kemungkinan besar orang dewasa mampu memfokuskan energi dan
pengetahuan mereka disebabkan oleh dominansi tipe kecerdasan pada salah satu
bagian otak yang ada di dalam diri sejak mereka lahir dimana ini akan menjadi naluri
berpikir seumur hidup mereka dan dominansi ini bersifat genetik (merupakan karpet
merah (anugrah) yang di berikan oleh Yang Maha Kuasa) (Poniman, 2011).
7. Belajar adalah suatu proses emosional dan intelektual
Belajar adalah suatu transformasi ilmu pengetahuan dan juga merupakan
proses
pengembangan intelektualitas seseorang. Pemaksimalan hasil belajar dapat dicapai
apabila setiap individu dapat memperluas jangkauan pola berpikirnya. (Suprijanto,
2008) Menurut pendapat King (2010) menyatakan bahwa emosi adalah persaan atau
afeksi yang dapat melibatkan rangsangan fisiologis (seperti denyut jantung yang
cepat), pengalaman sadar, dan ekspresi perilaku (sebuah senyuman atau raut muka
cemberut)
Menurut Feldman (2012), emosi tersebut dilakukan oleh seseorang karena
beberapa hal antara lain
a.

mempersiapkan kita untuk bertindak sebagai tautan antara kejadian di


lingkungan dan respon yang kita keluarkan

24

b.

membentuk perilaku orang dimasa depan yaitu emosi memfasilitasi


pembelajaran yang akan membantu seseorang membuat respons yang sesuai
di masa depan

c.

membantu seseorang berinteraksi secara lebih efektif dengan orang lain.


Seseorang mengomunikasikan emosi yang dirasakan melalui perilaku verbal
dan non verbal sehingga emosi kita dapat dilihat oleh pengamat disekeliling
kita.

8. Belajar adalah hasil kerjasama antar manusia


Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila terdapat situasi antara
fasilitator/widyaiswara dengan peserta diklat saling kerja sama dan saling
menghargai. Situasi semacam ini kan menimbulkan rasa aman dalam diri peserta
diklat untuk belajar.
Pelajaran akan menjadi lebih banyak dapat di peroleh, apabila dua atau lebih banyak
manusia yang dapat saling memberi, menerima, dan saling bertukar pengalaman,
pengetahuan serta dapat saling mengungkapkan rekasi dan tanggapannya terhadap
suatu masalah. (Sumarno, 2010)
9. Belajar adalah proses evolusi
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses evolusi. Artinya penerimaan ilmu
tidak dapat dipaksakan sekaligus begitu saja, tetapi dapat dilakukan secara bertahap
melalui suatu urutan proses tertentu. Dalam kegiatan pendidikan, umumnya pendidik
menentukan secara jauh mengenai materi pengetahuan dan keterampilan yang akan
disajikan. Mereka mengatur isi (materi) ke dalam unit-unit, kemudian memilih alat
yang paling efisien untuk menyampai unit-unit dari materi tersebut, misalnya
ceramah, membaca, pekerjaan laboratorium, film, mendengar kaset dan lain-lain.
Selanjutnya mengembangkan suatu rencana untuk menyampaikan unit-unit isi ini
dalam suatu bentuk urutan. (Arif, 2009)

25

Pendidik atau fasilitator mempersiapkan secara jauh satu perangkat prosedur


untuk melibatkan siswa dalam suatu proses yang melibatkan elemen-elemen sebagai
berikut: (a) menciptakan iklim yang mendukung belajar, (b) menciptakan mekanisme
untuk perencanaan bersama, (c) diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar, (d)
merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar,
(e) merencanakan pola pengalaman belajar, (f) melakukan pengalaman belajar ini
dengan teknik-teknik dan materi yang memadai, dan (g) mengevaluasi hasil belajar
dan mendiagnosa kembali kebutuhan-kebutuhan belajar.
4.3.

Perilaku yang menghambat

4.3.1. Harapan mendapat hal baru namun yang di dapat atau di dengar tidak sesuai
dengan harapan dan timbul kebosanan.
Menurut Fiest dan Fiest (2010) harapan memiliki keterkaitan erat dengan
efikasi diri. Efikasi diri pada setiap orang bervariasi dari satu situasi ke situasi lain,
tergantung pada kompetensi yang dibutuhkan untuk kegiatan yang berbeda; ada atau
tidaknya orang lain; kompetensi yang dipersepsikan dari orang lain tersebut, terutama
apabila mereka adalah kompetitor; predisposisi dari orang tersebut yang lebih
condong terhadap kegagalan atas performa daripada keberhasilan; kondisi psikologis
yang mendampinginya, terutama adanya rasa kelelahan, kecemasan, apatis dan
ketidakberdayaan.
Cervone dan Pervin (2012) menambahkan bahwa efikasi diri yang tinggi dan
rendah berkombinasi dengan lingkungan yang responsif dan tidak responsif untuk
menghasilkan empat variabel prediktif. Ketika efikasi diri tinggi dan lingkungan
responsif, hasilnya kemungkinan besar akan tercapai. Saat efikasi rendah
berkombinasi dengan lingkungan yang responsif, peserta didik mungkin akan merasa
depresi karena mengobservasi bahwa orang lain dapat berhasil melakukan suatu tugas
yang terlalu sulit untuknya. Saat seseorang dengan efikasi diri yang tinggi menemui
situasi lingkungan yang tidak responsif, biasanya akan meningkatkan usahanya untuk

26

mengubah lingkungan. Sumarno (2010) menambahkan bahwa orang tersebut dapat


melakukan protes protes, kegiatan aktivis sosial, atau bahkan kekuatan untuk
memulai perubahan; namun saat semua usaha tersebut gagal maka orang tersebut
akan menyerah dan mencari lingkungan baru yang lebih responsif. Berdasarkan hal
tersebut dapat di analisis bahwa penyelenggara / penyuluh harus menciptakan
lingkungan yang responsif bagi peserta didik. King (2010) menguatkan bahwa hal
hal lain yang mampu memberikan harapan pada peserta didik adalah keyakinan
religius. Partisipasi religius juga dapat memberikan dampak positif terhadap
kesehatan melalui hubungannya dengan dukungan sosial. Pikiran yang religius dapat
berperan menjaga harapan dan menstimulasi perubahan hidup yang positif.
Partisipasi religius inilah yang membuat para peserta ini yang dapat mencegah
kebosanan ketika apa yang mereka harapkan kurang mendapat hasil yang optimal.
4.3.2. Mendengar teori yang muluk, sehingga meragukan kemungkinan penerapan
dalam praktik.
Orang melindungi dirinya dari kecemasan dalam berbagai cara diantaranya
individu mungkin memperluas suatu konstruk dan memudahkannya untuk bisa
diaplikasikan pada berbagai jenis peristiwa, atau mereka mungkin membatasi
konstruk mereka dan berfokus pada detail tertentu.
Giblin (2006) menyarankan untuk menghindari terjadinya skeptis tersebut maka
antar penyuluh perlu memahami dan menerapkan cara terampil meyakinkan orang
bukan melulu memberikan teori berangan-angan. King (2010) juga menambahkan
bahwa untuk melakukan regulasi diri tersebut perlu membuat tujuan tujuan yang
spesifik, berjangka pendek dan menantang, karena sebuah tujuan yang tidak jelas dan
rancu akan menyebabkan kegiatan yang dilakukan pendidik dalam mengajar menjadi
tidak pasti. Ia juga menyarankan untuk merencanakan bagaimana mencapai tujuan
dan mengawasi serta memberikan sedikit bukti yang mengena.

27

4.3.3. Harapan mendapat resep atau petunjuk baru, namun harus mencari pemecahan
sendiri
Peserta didik dewasa awal biasanya berumur sekitar 20 30 tahun dimana pada
masa ini kondisi fisik mereka mengalami puncak produktivitas baik fisik, mental dan
kognitifnya, ia juga menambahkan bahwa pada masa dewasa awal mereka memiliki
pemikiran yang lebih realistis dan pragmatis, berpikir secara relatif dan reflektif,
mampu mengenali sudut pandang dunia yang bersifat subjektif dan memahami
perbedaan perbedaan sudut pandang dunia yang harus diakui (dengan kata lain,
kemampuan intelektual mereka sangat kuat pada masa dewasa awal). Peserta didik
dewasa tengah biasanya berumur sekitar 30 50 tahun. Sedangkan pada aspek
kognitif terjadi penurunan fluid intelligence (yang melibatkan kecerdasan pemrosesan
informasi, seperti memori, kalkulasi dan pemecahan analogi) namun di sisi lain
terjadi kestabilan dan peningkatan crystallized intelligence (kecerdasan berdasarkan
akumulasi informasi, kecakapan dan strategi yang dipelajari melalui pengalaman)
(Feldman, 2012).
Cervone dan Pervin (2012) menguatkan bahwa pada masa dewasa awal dan
tengah mereka cenderung memiliki ketahanan psikologis. Mereka umumnya mampu
menahan kesulitan yang menyertai di kemudian tahun dan mempertahankan rasa diri
dan kesejahteraan pribadi. Berdasarkan hal tersebut maka penyuluh atau pendidik
hendaknya memfokuskan sistem pengajarannya pada pengetrap awal kemudian
setelah itu baru pada pengetrap akhir dan jika dimungkinkan diterapkan kepada
laggard.
4.3.4. Pesan bersifat umum, tidak spesifik
Dalam konteks pemebelajaran orang dewasa, sebagai pelatih harus
membangun

asumsi positif terhadap peserta diklat; pertukaran pendapat dengan

peserta bertujuan untuk memperkaya wawasan bukan dalam rangka mencoba apalagi
saling menyudutkan , peserta kelihatan santai karena mereka butuh suasana yang

28

menyenagkan bukan karena mereka mau main-main atau tidak serius, jika sebagian
mereka kelihatan super aktif karena pembelajaran orang dewasa memang
mengutamakan peran peserta didik dan mereka akan belajar jika materi yang di
berikan juga terlihat lebih spesifik seperti yang mereka butuhkan. (Arif, 2009)

V.

PRINSIP DAN CIRI-CIRI BELAJAR

5.1. Prinsip Prinsip Belajar


V.1.1. Prinsip Latihan
Prinsip latihan harus dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pada peserta
didik. Azzaini (2013) menambahkan bahwa peningkatan pengalaman dari peserta
didik berawal dari pembentukan myelin (ingatan otot) yaitu merupakan sumber dari
segala talenta yang dibentuk melalui pelatihan yang terprogram dan berulang ulang.
V.1.2. Prinsip Menghubungkan

29

Prinsip ini menjelaskan bahwa peserta didik harus mampu menghubungkan apa
yang telah di pelajarinya sebelumnya dengan materi pelajaran baru yang diberikan
oleh pendidik ataupun di lingkungan disekitarnya.
V.1.3. Prinsip Akibat
Prinsip ini menjelaskan bahwa peserta didik harus mengetahui konsekuensi saat
belajar. Konsekuensi belajar tersebut biasanya mengorbankan waktu, tenaga, uang,
mental dan pikiran dimana pengorbanan tersebut ada kalanya menyebabkan
seseorang dalam kondisi tertekan atau stress dimana membebani kemampuan mereka
dalam memcahkan masalah (King, 2010).
V.1.4. Prinsip Kesiapan
Prinsip ini menjelaskan, peserta didik harus siap secara fisik dan psikis untuk
menerima karena belajar bersifat terus menerus dan berulang ulang (rutinitas).
Feldman (2012) berpendapat bahwa mental dan semangat merupakan bagian dari
motivasi dimana merupakan kekuatan yang menggerakkan orang untuk berperilaku,
berpikir, dan merasa seperti yang mereka lakukan. Pada pendidikan motivasi akan
kebutuhan berprestasi merupakan dorongan yang harus di miliki oleh peserta didik
dimana karakteristik bersifat stabil dan dapat dipelajari ketika seseorang mendapatkan
kepuasaan dengan berjuang saat proses pembelajaran untuk mencapai tingkat
kesempurnaan.
V.2.

Ciri Ciri Belajar

V.2.1. Prosesnya bersifat aktif


Belajar mengajar ini pada prosesnya melibatkan peserta didik untuk
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sehingga dalam hal ini pendidik harus
mengorientasikan strategi pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik selain
itu juga harus didukung oleh hubungan interpersonal yang baik antara pendidik
dengan peserta didik (Mulyatiningsih, 2010). Menurut King (2010) keaktifan belajar
dapat terjadi apabila pendidik dan peserta didik memiliki kesadaran penuh dan

30

keterbukaan pikiran. Kesadaran penuh yang dimaksud adalah terjaga dan secara
mental hadir dalam kegiatan pembelajaran sedangkan keterbukaan pikiran yang
dimaksud adalah mampu menerima sudut pandang yang lain dalam melihat suatu hal,
dalam pendidikan orang dewasa, hendak penyuluh / pendidik perlu menerangkan
pada peserta didik untuk memiliki keterbukaan yang sederhana pada suatu sudut
pandang sehingga peserta didik tidak melompat terlalu cepat pada kesimpulan. Cara
lain agar tercapai keaktifan belajar adalah penyuluh bersikap rendah hati dan
mendengarkan dengan baik apa yang peserta didik ungkapkan berdasarkan lima
aturan yaitu tatap ketika ia berbicara, condongkan badan ke si pembicara dan
dengarkan dengan penuh perhatian, ikuti topic pembicaraannya dan jangan
memotong atau menyela, gunakan kata anda dan milik anda (Giblin, 2006).
V.2.2. Proses Belajar Sifatnya individu
Proses belajar merupakan suatu hal yang bersifat individu karena setiap
individu sejak permulaan kehidupan (saat bayi) terbiasa untuk belajar dengan tipe
yang sederhana (habituasi) atau pembiasaan. Habituasi merupakan penurunan respon
terhadap stimulus yang terjadi setelah penampilan stimulus yang sama secara
berulang ulang. Berdasarkan hal tersebut penyuluh hendaknya memahami bahwa
dalam pengajaran kepada peserta didik perlu di lakukan habituasi atau pembiasaan
belajar, tentunya habituasi tersebut harus di awali dengan tipe belajar dalam kerangka
yang lebih sederhana sehingga dapat dipahami oleh peserta didik (Feldman, 2012).
V.2.3. Belajar dipengaruhi oleh Pengalaman
Belajar merupakan proses yang dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman
tersebut mempengaruhi proses berpikir (kognitif) dimana menekankan pada
keawasan, keyakinan, pengharapan dan tujuan yang disadari (King, 2010) Menurut
Feldman (2012) proses kognitif terkait dengan kemajuan metakognisi yaitu kesadaran
dan pemahaman tentang kognisi tersebut. Metakognisi ini melibatkan perencanaan,
pengawasan dan perbaikan strategi berpikir yang pada akhirnya berpengaruh terhadap
proses belajar. Ia juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif terjadi sebagai

31

sebuah konsekuensi dari interaksi sosial ketika peserta didik bekerja dengan orang
lain (baik pendidik/penyuluh atau dengan peserta didik lain) untuk bersama sama
memecahkan masalah sehingga melalui interaksi seperti ini kecakapan kognitif akan
meningkat dan mereka meraih kemampuan untuk berfungsi secara intelektual sendiri.
Lebih spesifik lagi ia menyebutkan bahwa kemampuan kognitif akan meningkat
ketika peserta didik menghadapi informasi yang jatuh dalam zona perkembangan
proksimal mereka (ZPD) yaitu zona tingkatan dimana peserta didik dapat hampir,
tetapi tidak sepenuhnya memahami atau mengerjakan tugas sendiri. Ketika informasi
jatuh dalam ZPD, peserta didik dapat meningkatkan pemahaman mereka atau
menguasai suatu tugas baru dan sebaliknya jika informasi jatuh di luar ZPD mereka
tidak akan dapat menyelesaikan atau menguasainya.
Feist dan Feist (2010) menyatakan bahwa proses tersebut disebabkan karena
setiap individu mempunyai perilaku yang bersifat berkelanjutan. Perilaku tersebut
memproses informasi mengenai situasi internal ataupun eksternal sehingga mengikuti
hal tersebut, saat individu menghadapi situasi yang berbeda, perilakunya akan
bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya. Pengaruh relative dari variabel situasi
tersebut dapat ditentukan dengan mengobservasi keseragaman atau perbedaan dari
reaksi manusia dalam suatu situasi tertentu. Hal tersebut karena manusia
mengategorisasikan informasi yang diterima dari stimulus eksternal. Manusia
menggunakan proses kognitif (nerpikir) untuk mengubah stimulus ini menjadi
konstruk personal.
V.2.4. Melalui Indera
Indera merupakan bagian yang terpenting saat belajar karena indera merupakan
salah satu di antara banyak reseptor yang berfungsi menangkap rangsangan (stimulus)
dari lingkungan dan diterima oleh individu dalam bentuk sensasi. Menurut King
(2010) seluruh sensasi dimulai dari reseptor sensoris. Reseptor sensoris adalah sel
sel

yang

terspesialisasi

untuk

mendeteksi

informasi

rangsangan

dan

memancarakannya ke saraf sensoris dan otak. Pada manusia tipe reseptor sensoris

32

adalah panca indera yaitu pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan


pengecap. Feldman (2012) mengatakan bahwa pada indera, yaitu terutama saat
beraksi terhadap sesuatu yang di pelajari, energi stimulus mencapai sel panca indera.
Energi yang diterima ini mulai membentuk rangkaian kejadian yang mengubah
bentuk stimulus luar ke impuls neural yang dapat dikomunikasikan ke otak. Bahkan
sebelum pesan neural tersebut mencapai otak, beberapa pengodean dasar dari
informasi panca indera telah terjadi. Pemrosesan utama dari bentuk stimulus di dalam
otak ini terjadi di korteks otak, dan disinilah pemrosesan paling rumit terjadi, karena
banyak neuron di korteks tersebut yang sangar terspesialisasi dan diaktivasi hanya
oleh stimulus terntentu dari suatu bentuk atau pola tertentu yang dikenal dengan
deteksi bagian.
Cervone dan Pervin (2012), menguatkan bahwa deteksi bagian dapat
mengalami perubahan sebagai hasil dari pengalaman yang ada dan hal tersebut
memberikan gambaran jelas mengenai plastisitas sistem saraf. Deteksi bagian
tersebut terlihat dari penggambaran otak yang menyingkap saat dilakukan stimulus
berupa pelatihan dimana penggambaran tersebut mengalami perluasa secara
signifikan dari area abu abu otak (korteks), khususnya pada bagian otak yang
terlibat dalam persepsi gerakan. Berdasarkan hal tersebut dapat di analisis bahwa
sistem saraf dimana merupakan bagian dari sistem biologis manusia memiliki
hubungan dengan fenomena psikologis yang melibatkan suasana hati, impuls dasar,
dan emosi seperti rasa takut dan fenomena fungsi fungsi psikologis pada tingkat
yang lebih tinggi seperti moral, jati diri dan sebagainya.

33

VI.

Faktor Faktor Psikologis yang Memengaruhi Belajar

VI.1. Tujuan
tujuan ini merupakan stimulus (rangsangan) yang terasa secara fisik dari
dalam individu dan buka suatu peristiwa mental yang bertanggung jawab atas
suatu perilaku (Feist dan Feist, 2010). Tujuan terdiri atas 3 macam yaitu
sekedar ingin tahu; pemenuhan kebutuhan jangka pendek, dan pemenuhan
kebutuhan jangka panjang

34

VI.2. Tingkat Aspirasi (Cita Cita)


proses belajar yang dilakukan oleh setiap individu dipengaruhi oleh aspirasi
yang diharapkan. Bagi warga belajar yang memang memiliki aspirasi untuk
meraih prestasi sebaik baiknya, akan mendorong untuk lebih aktif mengikuti
kegiatan belajarnya dan sebaliknya.
VI.3. Pengertian atau Pemahaman tentang hal yang dipelajari
pemahaman seseorang terhadap sesuatu yang dipelajarinya sehingga
mendorong atau menghambat proses belajarnya.
VI.4. Pengetahuan tentang keberhasilan dan kegagalan
orang yang memiliki pengetahuan keberhasilan hanya dapat dicapai melalui
proses belajar, maka ia akan mencapai hasil belajar yang baik dan sebaliknya.
VI.5. Umur
kemampuan belajar akan meningkat mulai usia 5 -7 tahun (Feldman, 2012)
kemudian berada pada puncak perkembangannya pada usia 20-an dimana usia
tersebut merupakan masa puncak kesehatannya dan akan mengalami
penurunan secara nyata pada akhir usia 30-an (King, 2010).

VI.6. Kapasitas belajar


kapasitas belajar setiap individu berbeda beda tergantung pada umur, jenis,
kelamin, keadaan psikis, genetik (mesin kecerdasan yang dominan pada otak),
banyaknya stimulus yang diterima dan ketahanan serta tingkat konsentrasi.
VI.7. Bakat
berkaitan dengan faktor hereditas pada bidang bidang tertentu. Biasanya
ditentukan oleh mesin kecerdasan yang dominan yaitu Sensing (memori),
Thinking (analitis), Intuiting (imajinasi), Feeling (emosi) dan Insting (naluri)
dimana masing masing darinya terdapat pada belahan otak limbik kiri,
neokortek kiri, neokortek kanan dan limbik kanan (Poniman, 2011).

35

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Zainuddin. 2009. Andragogi. Bandung: Angkasa.


Azzaini, Jamil. 2013. ON. Co Writer: Sofie Beatrix. Bandung: PT Mizan
Pustaka.Bumi Aksara. Jakarta.

36

Cervone, Daniel dan Lawrence A. Pervin. 2012. Kepribadian : Teori dan Penelitian
Edisi 10 Buku ke-2. Penerjemah Aliya Tusyani, Evelyn Ridha Manulu, Lala
S.S, Petty G.G, Putri N.S. Salemba Humanika. Jakarta.
Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2010. Teori Kepribadian Edisi ke-7 Buku 2.
Penerjemah Smitha Prathita Sjahputri. Salemba Humanika. Jakarta.
Feldman, Robert S. 2012. Pengantar Psikologi edisi ke-10 buku ke-1.
Penerjemah Petty Gina Gayatri dan Putri Nurdina Sofyan. Salemba
Humanika. Jakarta.
Feldman, Robert S. 2012. Pengantar Psikologi edisi ke-10 buku ke-2.
Penerjemah Petty Gina Gayatri dan Putri Nurdina Sofyan. Salemba
Humanika. Jakarta.
Giblin, Les. 2006. Skill with People. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hamzah B. Uno, Masri Kuadrat. 2009. Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran.
Bumi Aksara. Jakarta.
Hughes,

Richard,

Robert

C.

Leadership:Memperkaya

Ginnett,
Pelajaran

dan

Gordon

dari

J.

Curphy.

Pengalaman

2012.

edisi

diterjemahkan oleh Putri Iva Izzati. Salemba Humanika. Jakarta.


King, Laura A., .2010. Psikologi Umum : Sebuah Pandang Apresiatif, Buku

1.

Penerjemah: Brian Marwensdy. Jakarta : Salemba Humanika.


Leilani, Ani Dan OD. Subhakti Hasan. 2006. Analisis Dinamika Kelompok Pada
Kelompok Tani Mekar Sari Desa Purwasari Kecamatan Dramaga Kabupaten

37

Bogorjurnal Penyuluhan Pertanian. Jurnal Penyuluhan

Pertanian.

Vol.

1(1) : 18 27.
Muchlas, M. 2006. Perilaku Organisasi. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.
Mulyatiningsih, Endang. 2010. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan
Menyenangkan.

Diklat

Peningkatan

Kompentensi

Pengawas

dalam

Rangka Penjaminan Mutu Pendidikan. Bojongsari, Depok: Direktorat


Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan

Tenaga

Kependidikan.

Jawa

Barat.
Poniman, Farid. 2011. STIFIn Personality : Mengenali Mesin Kecerdasan Anda.
Griya STIFIn Lt.2. Bekasi.
Rivda, Yetty. 2009. Pengaruh Keterlibatan Orang tua Terhadap Minat Baca Anak di
tinjau dari Pendekatan Stres Lingkungan. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Vol
XI. No.1
Santosa, S. 2007. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.
Siagian, Roida Eva Flora. 2010. Pengaruh Minat dan Kebiasaan Belajar Peserta
didik terhadap Prestasi Belajar Matematika. Jurnal Formatif 2(2) : 122-131
Sudjana, S. HD. 2006. Pendidikan Non Formal, Wawasan, Sejarah Perkembangan,
Falsafah, Teori Pendukung, Azas. Falah Production: Bandung .
Sumarno, Muhammad. 2010. Tingkat Adopsi Inovasi Teknologi Pengusaha
Sentra Industri Kecil Kerajinan Gerabah Asongan Kabupaten Sentul.

38

Jurnal Manajemen dan Kewiraushaan. Vol. 12(1) : 1 10. Maret. Fakultas


Teknik dan Pascasarjana. Universitas Negeri Medan.
Suprijanto. 2008. Pendidikan Orang Dewasa, dari Teori Hingga Aplikasi.
Tika, Moh. Pabundu. 2010. Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja
Perusahaan. Cetakan ke-3 Jakarta : PT Bumi Aksara.
Tukiran Taniredja, et all. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Alfabeta.
Bandung.
Winardi. 2006. Permotivasian dalam Manajemen. PT. Grafindo Raja Persada. Jakarta.