Anda di halaman 1dari 2

Pesantren Berbasis Pertanian Terpadu

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan,


lembaga ini telah lama eksis di nusantara, lama sebelum bangsa eropa berkelana di tanah air.
Munculnya lembaga pendidikan pesantren pada awalnya diprakarsai oleh para ulama islam
dalam menyebarkan ajaran islam kepada masyarakat. Pada zaman penjajahan, perkembangan
pesantren terus berjalan seiring dengan banyaknya masyarakat yang telah memeluk agama islam.
Perkembangan pesantren terus mengikuti arusnya sejalan dengan perjuangan rakyat dalam
merebut dan memeprthanakan kemerdekaan.
Di zaman kemerdekaan, pesantren tidak lagi berdiri sebagai lembaga nonformal, yang
hanya mengasuh beberapa santri saja. Perkembangan dan kemajuan pesantren terus mengalami
peningkatan. Perkembangan ini terbukti dengan beberapa peraturan dan undang-undang yang
mengatur dan melegalkan pesantren sebagai lembaga formal pendidikan.
Dalam perkembangannya, pesantren tidak hanya mengajarkan tentang ilmu keagaman
saja. Pesantren telah mampu meramba ke dunia sains dan teknologi, yang santri-santrinya
mamou bersaing dengan siswa dari lembaga pendidikan formal lainnya. Perkembangan
pesantren tentu saja tidak terlepas dari dukungan dari berbagai oihak yang terlibat didalamya.
Perkembangan pesantren di Indonesia terbukti dengan menjamurnya pendirian pesantren hinga
mencapai angka 2400 pesantren.
Begitu banyaknya pesantren, secara kasat mata tentu saja akan timbul adanya
permasalahan pendanaan yang harus disediakan baik oleh pemerintah maupun orangtua santri.
Tetapi, keadaan yang sebenarnya terjadi bukanlah demikian beratnya. Banyak dari pesantren di
tanahair yang tidak memungut biaya dari para santrinya, dengan dasar sedekah dan tabungan
akhirat. Lebih luar biasa lagi, lembaga pesantren menjadi sebuah lembaga kewirausahaan dalam
mendukung segala bentuk kegiatan di pesantren.
Pesantrn dapat menjalankan kegiatan operasional pendidikan hingga kehidupan santrinya
dengan jalan kewirausahaan terpadu. Pada dasarnya, pesantren semestinya dapat memanfaatkan
ruangkingkup mereka sebagai lahan pertanian, terutama komoditas pertanian pangan. Komoditas
pangan dipilih karena komoditas denderung berumur pendek dan dapat langsung dimanfaatkan
sebagai bahan makanan penduduk pesantren. Selain itu, dengan umurnya yang pendek lahan ini
dapat dimanfatkan untuk keperluan lainnya oleh pesantren. Masalah perawatan dan penjagaan
projek pertanian di pesantren ini tentu saja tidak seharusnya menjadi kajian mendalam oleh
pesantren tentang siapa yang akan melakukannya. Santri yang jumlahnya ratusan hingga ribuan
orang itu dapat dimaksimalkan dalam pengelolaannya. Melibatkan peran santri ini bukanlah
semata-mata hanya memanfaatkan tenaga santr saja, tetapi terlebih kepada mengajarkan santri
tentang pertanian dan terjun langsung dalam hidup duniawi realitas.
Keterlibatan santri dalam pengelolaan pertanian akan menambah wawasan dan
pengetahaun santri dalam bidang pertanian dan kesiapan dalam hidup bermasyarakat. Bahkan,
jika perlu untuk kemasylahatan perkembangan pesantren dan pembelajaran bagi santri, pesantren
seharusnya dapat menjadikan program kewirausahaan dan pertanian ini sebagai kurikulum
ataupun bahan ajar ekstrakurikuler bagi santri. Dengan usaha yang demikian kuatnya, pesantren

dapat memanfaatkan pertanian ini dengan merambah ke pasar kewirausahaan yang berbasis
profit oriented