Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKIOLITIS

A; Pengertian
Bronkiolitis merupakan infeksi virus akut dengan efek
maksimal pada tingkat bronkiolus. Infeksi terutama terjadi
pada musim dingin dan musim panas, jarang terjadi pada anakanak yang berusia lebih dari 2 tahun (Wong, 2008).
Bronkiolitis

adalah

penyakit

saluran

pernapasan

bayi

yang lazim akibat dari obstruksi radang saluran pernapasan


kecil. Penyakit ini terjadi selama umur 2 tahun pertama,
dengan insiden puncak pada sekitar umur 6 bulan.

B; Etiologi
Bronkiolitis merupakan penyakit virus. Virus sinsisium
respiratorik (VSR) adalah agen penyebab pada lebih dari 50%
kasus, virus influenza, mikoplasma, beberapa adenovirus, dan
kadang-kadang virus lain menyebabkan kasus sisanya.
Bronkiolitis paling sering terjadi pada bayi laki-laki
antara umur 3 dan 6 bulan yang belum pernah disusui ibunya
dan yang hidup pada keadaan penuh sesak. Sumber infeksi virus
biasanya anggota keluarga dengan penyakit pernapasan. Bayi
yang

ibunya

merokok

lebih

mungkin

berkembang

bronkiolitis

daripada bayi ibu-ibu yang tidak merokok.

C; Manifestasi Klinis
1; Pernapasan

awal

ditandai

dengan:

faringitis,

batuk/bersin, wheezing (bunyi nafas mengi), demam.

2; Sejalan dengan berkembangnya penyakit ditandai dengan:


peningkatan

batuk

dan

mengi,

napas

terengah-engah,

takipnea (pernafasan yang cepat) dan retraksi (otot di


sela iga tertarik ke dalam karena bayi berusaha keras
untuk bernafas), sianosis (warna kulit kebiruan karena

3;

kekurangan oksigen).
Penyakit berat ditandai dengan: takipnea (lebih dari 70
kali/menit), lesu, lemas, disertai serangan apnea.

D; Patofisiologi
Bronkiolitis ditandai dengan obstruksi bronkiolus yang
disebabkan oleh edema dan kumpulan mukus serta puing-puing
seluler

dan

oleh

invasi

bagian-bagian

bronkus

yang

lebih

kecil oleh virus. Virus dan kuman biasa masuk melalui port
de

entry

mulut

selanjutnya

akan

dan

hidung

menimbulkan

dropplet
viremia/

infection
bakterimia

yang
dengan

gejala atau reaksi tubuh untuk melakukan perlawanan.


Mukosa bronkiolus membengkak, dan lumen terisi mukus
dan

eksudat,

dengan

dinding

sel-sel

bronkus

inflamasi.

dan

bronkiolus

Berbagai

tingkat

terinfiltrasi

obstruksi

yang

dihasilkan dalam jalan napas akibat perubahan ini menyebabkan


hiperventilasi,

emfisema

obstruktif

yang

terjadi

akibat

obstruksi parsial, dan sebagian dari area atelektasis.


Dilatasi saluran bronkus pada saat inspirasi memberikan
cukup ruang untuk asupan udara, tetapi penyempitan pada saat
ekspirasi mencegah udara keluar paru. Oleh karena itu udara
terperangkap di bagian distal dari obstruksi dan menyebabkan
pemompaan berlebihan yang progresif (emfisema).

E; Clinical Nursing Pathway


Ploriferasi limfosit, sel plasma,
Virus/
dan bakteri
makrofagmemasuki tubuh
Penyempitan lumen bronkiolus
Iritasi mukosa bronkiolus
Kolonisasi dan replikasi dimukosa bronkiolus
Peningkatan akumulasi sekret

Penyebaran bakteri/virus
Atelektasiskeseluruh tubuh

Batuk produktif, sesak napas, penurunan kemampuan batuk efektif


Gangguan ventilasi/ perfusi

informasi tentang kondisi penyak


Peningkatan metabolisme tubuh
Intake nutrisi tidak Kurangnya
adekuat
Edema mukosa sel goblet memproduksi mukus

hipoksemia

Ketidakefektifan
bersihan
jalan
hipertermi
nutrisi
kurang
darinafas
kebutuhan tubuh
Gangguan pertukaran gas
anxietas

F; Penatalaksanaan Dan Terapi


Bronkiolitis

ditangani

secara

simtomatik

dengan

kelembapan tinggi, asupan cairan yang adekuat, dan istirahat.


Sebagian

besar

anak

dapat

dirawat

di

rumah.

Hopitalisasi

biasanya dianjurkan untuk anak-anak yang menderita kondisi


yang

menyebabkan

komplikasi,

seperti

penyakit

paru

atau

jantung, atau menderita keadaan yang melemahkan, jika anak


mengalami

takipnea,

retraksi

berat,

tampak

lemah,

atau

memiliki riwayat asupan cairan yang buruk.


Terapi
Terapi

uap

medis

biasanya
untuk

dikombinasikan

bronkiolitis

masih

dengan

oksigen.

kontroversial.

Bronkodilator, kortikosteroid, supresan batuk, dan antibiotik


tidak

terbukti

efektif

untuk

mengatasi

penyakit

tanpa

komplikasi dan tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin.


Ribavirin,

sejenis

agens

antivirus,

dapat

digunakan

untuk mengatasi infeksi RSV. Obat ini berbentuk aerosol.

G; Komplikasi
1; Atelektasis (akut)
2; Apnea (akut)
3; Gagal napas (akut)
4; Infeksi paru kambuhan (jangka panjang)

H; Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


1; Pengkajian
Keluhan

utama

pada

klien

bronkiolitis

meliputi

batuk

produktif dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh


dapat mencapai > 40o C dan sesak nafas.

a;

Riwayat penyakit saat ini


Riwayat
penyakit
saat

ini

pada

klien

dengan

bronkiolitis bervariasi tingkat keparahan dan lamanya.


Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit
akut

dengan

dengan

manifestasi

bronkiolitis

lemah,

demam,

takipnea.

klinis

sering

banyak

Sebagai

tanda

yang

mengeluh

berat.
badan

berkeringat,
terjadinya

Klien
terasa

takikardia,

iritasi,

keluhan

yang di dapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi atau


peningkatan produksi secret dan rasa sakit di bawah
sternum.

Penting

obat-obat yang
untuk

ditanyakan

telah atau

mengurangi

oleh

perawat

biasa yang

keluhannya

dan

diminum klien

mengkaji

apakah obat-obat tersebut masih relevan

b;

mengenai
kembali

untuk dipakai

kembali.
Riwayat penyakit terdahulu
Pada pengkajian riwayat kesehatan

terdahulu

kali

infeksi

mengeluh

pernah

mengalami

sering
saluran

pernafasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada


pernafasan

c;

atas.

Perawat

harus

memperhatikan

dan

mencatat baik-baik.
Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkiolitis
didapatkan keluarga sering mengalami kecemasan sesuai
dengan

keluhan

yang

keluhan

batuk,

stressor

penting.

moral

dan

dialami

sesak

nafas

Perawat

memfasilitasi

anaknya.
dan

perlu

Dimana

demam

memberikan

pemenuhan

adanya

merupakan
dukungan

informasi

untuk

pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit dari


klien.
Kaji keluhan
yang

klien

diberikan

dan

(nama,

keluarga
cara

tentang

kerja,

pengobatan

frekuensi,

efek

samping, dan tanda-tanda terjadinya kelebihan dosis).


Pengobatan

non

farmakologi

(nonmedicinal

interventions) seperti olahraga secara teratur serta


mencegah

kontak

dengan

allergen

atau

iritan

(jika

diketahui penyebab alergi), system pendukung (support


system), kemauan dan tingkat pengetahuan keluarga.

d; Pemeriksaan fisik
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan
bronkiolitis

biasanya

didapatkan

peningkatan

suhu

tubuh >40oC, frekuensi nafas meningkat dari frekuensi


nafas normal, nadi biasanya meningkat seirama dengan
peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan, serta
biasanya tidak ada masalah dengan tekanan darah.
1; B1 (Breathing)
Inspeksi: Klien biasanya mengalami peningkatan
usaha

dan

frekuensi

pernafasan,

biasanya

menggunakan otot bantu pernafasan


Palpasi: Taktil prenitus biasanya normal .
Perkusi:
Hasil
pengkajian
perkusi
menunjukkan

2;

adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paru.


Auskultasi : suara nafas ronchi/wheezing
B2(Blood)
Sering di dapatkan kelemahan secara umum. Denyut
nadi

takikardi.

Tekanan

darah

biasanya

normal.

Bunyi jantung tambahan biasanya tidak di dapatkan


berarti tidak mengalami pergeseran.

3; B3 (brain)
Tingkat

4;

kesadaran

klien

biasanya

composmentis

apabila tidak ada komplikasi penyakit yang serius.


B4 (bladder)
Pengukuran volume output urin berhubungan erat
dengan

intake

cairan.

Oleh

karena

itu,

perawat

perlu

memonitor

adanya

oliguria

yang

merupakan

salah satu tanda awal dari syok.

5; B5 (bowel)

Klien biasanya sering mengalami mual dan muntah,


penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

6; B6 (bone)

Kelemahan dan kelelahan fisik, secara umum sering


menyebabkan

klien

memerlukan

bantuan

orang

lain

untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari hari.

2; Diagnosa Keperawatan
a;

Ketidakefektifan

bersihan

jalan

nafas

berhubungan

dengan akumulasi mukus.

b; Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema


bronkiolus dan peningkatan produksi mucus

c;

Hipertermi

berhubungan

dengan

proses

infeksi

bakterimia, viremia

d; Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake

nutrisi

tidak

adekuat,

peningkatan

kebutuhan

metabolik, nausea, vomiting, malaise.

e;

Ansietas (anak dan orang tua) yang berhubungan dengan


kurangnya
anak.

informasi

dan

pengetahuan

tentang

kondisi

REFERENSI
Behrman, Richard E, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.
2. Jakarta: EGC
Ester, Monica. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Lynn,

Cecily

Betz.,

&

Linda

A.

Sowden.

2004.

Buku

Saku

Keperawatan pediatri Ed.5. Jakarta: EGC


Wong,

Donna

L.

2008.

Jakarta: EGC

Buku

Ajar

Keperawatan

Pediatrik

Wong.

3; Intervensi Keperawatan
No.Dx
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI
1
Tujuan: Jalan nafas bersiha; Jelaskan pada klien
dan patent setelah mendapat

keluarga

tindakan keperawatan.

tindakan

beberapa
yang

dilakukan
Kriteria

Hasil:

bernafas

tidak

otot-otot
nafas
suara

Pada

saat

menggunakan

RASIONAL
dana; Pengetahuan
yang

meningkatkan

memungkinkan
klien

untuk

tindakan perawatan.

kooperatif

dan
dalam

proses

pengeluaran sekret.

b; Peningkatan

frekwensib; Anjurkan kepada klien dan


batas normal, keluarga agar memberikan
nafas minum lebih banyak
dan

bronchovesikuler.

keluarga

dapat

bantu,

dalam

memadai

hangat kepada klien

akan

hidrasi

cairan

mengencerkan

sehingga

sekret

sekret

akan

lebih

mudah dikeluarkan.

c; Fisoterapi

c; Lakukan fisioterapi dada


dan latihan batuk efektif

sekret

dada

melepaskan

dari

tempat

perlekatan,

postural

drainase

memudahkan

pengaliran
efektif

sekret,

mengeluarkan

batuk
sekret

secara adekuat.

d; Kolaborasi

dalamd;

pemberian ekspektoran.

Ekspektoran

mengandung

regimen yang berfungsi untuk


mengencerkan

sekret

lebih mudah dikeluarkan.

agar

e; Observasi:

RR,

penggunaan

otot

irama,

suara

pola,e; Tanda

vital

merupakan

bantu,

indikator yang dapat diukur

nafas,

untuk

cyanosis, tekanan darah,

mengetahui

kecukupan

suplai oksigen.

nadi, dan suhu.


2

Tujuan

pertukaran

Gangguana; Kaji
gas

tidak

terjadi

frekuensi a; Pengkajian yang sering akan

pernafasan
iramanya
Jika

gangguan

meningkat

auskultasi

yang
secara

ditandai
mudah

gas

bernafas
dan

kulit merah muda.

warna

setiap

anak

Kriteria hasil : Anak akan


petukaran

anak

jam.

menjamin

fungsi

pernafasan

yang adekuat.

mengalami
pernafasan,
bunyi

lakukan
dada,

dan

nafas,

fisioterapi
dan

informasikan

pengobatan pernafasan

b; Ciptakan

lingkungan

b; Kelembaban yang dingin dari


tenda

atau

Croupette

akan

dengan

tinggi

membantu mengencerkan lendir

kelembabannya

dengan

dan

cara

menempatkan

anak

dalam tenda lembab atau


alat dengan humidifikasi

mengurangi

bronkiolus

edema

yang dingin.

c; Berikan

c; Oksigen

oksigen

sungkup

muka,

hidung,

atau

melalui
kanule
oksigen

tenda, sesuai petunjuk.

d; Posisikan

anak

kepala

dan

dada

tinggi

dan

leher

akan

mengurangi

pernafasan dan hipoksia

d; Posisi

ini

terbukanya

lebih

memudahkan

enstensi.

kegelisahan

berhubungan dengan kesukaran

dengan
agak

karena

mempertahankan
jalan

nafas

respirasi

menurnnya

dan
oleh

tekanan

diaphragm

e; Fisoterapi
e; Lakukan fisioterapi dada
setiap

membantu

jam,

sesuai petunjuk.

atau

dada

membantu

menghilangkan

dan

mengeluarkan

mukus

yang

dapat menghambat jalan nafas


yang lebih kecil

f; Berikan

bronkodilator f; Walaupun

sesuai petunjuk

sering

digunakan

untuk menangani spasme otot,


bronkodilator
efektif

juga

meng

Mengeluarkan
membantu
bronkiolus,

secara

Rasional:

lendir

akan

membersih

kan

akan

pertukaran gas.

meningkat

g; Berikan

obat

antivirus g; Obat

sesuai petunjuk.

anti

virus,

respiratory
immune

syncytial

globulin

digunakan

seperti

(RespiGam),

untuk

RSV,

ribavirin

juga

digunakan,

mengobati
(Virasole)
walaupun

kemanjuran

h; Berikan

istirahat

yang

dapat

dipertanyakan.

dengan h; Meningkatkan

adekuat

virus

istirahat

akan

mengurangi kegaduhan dan

mengurangi

kesukaran

pencahayaan

pernafasan

yang berhubungan

dan

kehangatan

berikan
dan

dengan bronkiolitis.

kenyamanan

i; Monitor denyut nadi pada i; Takikardia


anak;

jika

adanya
(dasarkan
anak),

mendeteksi

adanya

takikardia

pengaruh

pada
laporkan

usia

dapat

disebabkan

hipoksia

atau

penggunaan

bronkodilator.

pada

dokter kejadian tersebut


3

Tujuan:
hipertermia

Tidak

terjadia; Pertahankan
yang

sejuk

lingkungana; Lingkungan
melalui

membantu

yang

sejuk

akan

menurunkan

penggunaan

selimut

Kriteria hasil: anak dapat

pertahankan

mempertahankan

ruangan

suhu

tubuh

kurang dari 37,80C. (nilai


suhu

tubuh

temperatur

tubuh

melalui

temperature

kehilangan

panas

melalui

antara

72

dan

radiasi.

75F (22 dan 24 C).

spesifikb; Kolaborasi:

bergantung pada metode yang

antipiretik

digunakan

petunjuk.

mengukurnya.

dan

untuk

Berikan
sesuaib; Antipiretik
acetaminophen

c; Monitor suhu tubuh anak


setiap

seperti

sampai

efektif menurunkan demam

jamc; Peningkatan

(Tyleno),
suhu

tubuh

tiba-tiba

akan

bila terjadi peningkatan

secara

secara tiba-tiba

mengakibatkan kejang-kejang

d; Kolaborasi:

Berikand; Anti

antimikroba,

jika

disarankan

mikroba

petunjuk

guna

organism

anak

kompres

(98,6

pada
[37C])

guna menurunkan demam

dengan

mengobati
penyebab.

Antibiotik

e; Berikan

sesuai

disarankan

biasanya
untuk

tidak

mengobati

RSV.

e; Kompres

air

menyebabkan
dingin
konduksi.

tubuh

melalui

efektif
menjadi
peristiwa

Tujuan : kebutuhan nutrisia; Kaji


klien

terpenuhi

diberikan

setelah
tindakan

diet.a; Pasien

kebiasaan

akut sering anoreksia karena

ukuran tubuh.

dispnea,

Kriteria hasil : BB kembali


kembali

produksi

sputum,

dan obat-obatan.

b; Berikan
nafsu

pernapasan

Evaluasi berat badan dan

keperawatan

normal,

distress

makan

meningkat,

perawatan

oral,b; Rasa

dan buang sekret.

tak

penampilan

klien

utama

tidak

dan

terjadi mual, anoreksia

enak,
adalah

terhadap

dapat

muntah

bau,

pencegah

nafsu

membuat

dengan

dan
makan

mual

dan

peningkatan

kesulitan napas.

c; Hindari
penghasil

makananc; Dapat
gas

minuman berkarbonat.

dan

menghasilkan

distensi

abdmen yang mengganggu napas


abdomen
diafragma,

dan
dan

menggerakkan dispnea.

gerakan
dapat