Anda di halaman 1dari 22

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal..............................................telah dipresentasikan portofolio oleh:


Nama Peserta

: ...................................................................................................................................................................................

Dengan judul/topik :....


Nama Pendamping :
Nama Wahana

No
.

:....

Nama Peserta Presentasi

No
.

10

10

11

11

Tanda Tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

Catatan: Halaman portofolio ini sebaiknya disalin sinar (fotokopi) karena anda akan membuat sejumlah laporan yang
sekaligus merupakan catatan untuk bekal dan berpraktik nantinya.

Borang Portofolio
Nama Presentan : dr. Desita Permatasari
Nama Wahana: RS Dr.H.Moch.Ansari Saleh, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Topik: Kasus Bedah
Tanggal (kasus): 18 November 2015
Nama Pasien: Tn. D

No. RM : 14 23 98

Tanggal Presentasi:

Nama Pendamping: dr. Akhyarudin Noor

Tempat Presentasi: Ruang Komite Medik


Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus

Keterampilan
Manajemen
Bayi

Penyegaran
Masalah
Anak

Tinjauan Pustaka
Istimewa
Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Seorang laki-laki usia 74 tahun datang dengan keluhan luka bakar disekujur tubuhnya, didaerah muka, punggung,
dada, kedua lengan dan kedua telapak kaki. Luka terasa nyeri
Tujuan: Mengetahui diagnosis Combusio dan penatalaksanaanya

Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara membahas:

Diskusi

Data pasien:

Riset

Presentasi dan diskusi

Nama: Tn. D

Nama Klinik: Ruang IGD

Kasus

Audit

Email

Pos

Nomor Registrasi: Telp:

Terdaftar sejak: 18 November 2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Combusio 47% grade 2a -2b dengan keluhan luka bakar disekujur tubuh pada muka, dada,
punggung, kedua lengan dan kedua telapak kaki. Kulit terkelupas dan luka terasa nyeri.
2. Riwayat Pengobatan : pasien belum pernah berobat sebelumnya

3. Riwayat Penyakit Dahulu : HT(-), DM(-), keluhan serupa (-)

4. Riwayat Keluarga : tidak ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga

5. Riwayat Pekerjaan : -

6. Riwayat kebiasaan dan psikososial: Pasien tinggal bersama anak, menantu serta 2 orang cucunya. Pasien tidak bekerja dan
bergantung pada penghasilan anak dan menantunya. Pasien senang berkumpul bersama keluarga dan lingkungan sekitarnya.

7. Keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan luka bakar disekujur tubuhnya karena peristiwa kebakaran yang terjadi dirumah pasien pada pukul 12 malam (8
jam SMRS). Luka bakar terdapat pada muka, punggung, dada, kedua lengan dan kedua telapak kaki. Pasein sebelumnya mendapat penanganan di
RS Kapuas kemudian dirujuk ke RS Moch Ansari Saleh untuk mendapatkan penangan lebih lanjut.
8. PEMERIKSAAN FISIK
A. Primery Survay
a. Airway : Bebas
b. Breathing : Spontan, thoracoabdominal, pernapasan 21x/ menit
c. Circulation : Tekanan darah 90/70 mmHg, nadi 89x/menit
d. Disability : GCS: E4V5M6 reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm)
e. Exoposure : Suhu 36,1 C
B. Secondary Survay
Mata : konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/THT : dalam batas normal
Leher : pembesaran KGB (-), peningkatan JVP (-)
Axilla : pembesaran KGB (-)
Thorax : gerak simetris,
cor: BJ I II (n) regular, murmur (-), gallop (-)
pulmo : VBS +/+ whz -/- rh-/Abdomen : datar, supel, hepar/lien tidak teraba membesar, defans muscular (-), timpani, bising usus(+) normal, nyeri tekan epigastrium (-)
Ekstremitas : akral hangat, edema -/-, CRT < 2

Status Lokalis :
a. Regio Facialis
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
b. Regio Thorax
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
c. Regio Thorax Dorsal
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
d. Regio Antebrachii dextra
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
e. Regio Antebrachii sinistra
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
f. Regio Plantar dextra
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)
g. Regio Plantar sinistra
Inspeksi : tampak luka berupa vulnus ekskoriasi
Palpasi : Nyeri tekan (+), krepitasi (-)

dengan dasar kemerahan (grade 2a) 9%


dengan dasar kemerahan (grade 2a) 9%
dengan dasar putih (grade 2b) 18%
dengan dasar putih (grade 2b) 4,5%
dengan dasar putih (grade 2b) 4,5%
dengan dasar kemerahan (grade 2a) 1%
dengan dasar kemerahan (grade 2a) 1%

10. DIAGNOSA KERJA


Combusio 47% grade 2a- 2b
11. DIAGNOSIS BANDING

12. PENATALAKSANAAN
-

Pasang infus 2 jalur RL ( 4700 cc untuk 16 jam)

Inj Ketorolac 30mg/ 8jam

Inj Ceftazidine 1gr/ 8 jam

Debridement

13. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

Daftar Pustaka :
1. Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC. Jakarta. p 66-88
2. David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Dalam : Surabaya Plastic Surgery.
http://surabayaplasticsurgery.blogspot.com
3. James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier. Philadelphia. P 118-129
4. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGraw- Hill Companies. New York. p 245-259
5.

Jerome FX Naradzay. http: // www. emedicine. com/ med/ Burns, Thermal.

6. Mayo clinic staff. Burns First Aids. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus.


7. Benjamin C. Wedro. First Aid for Burns. http://www.medicinenet.com.
8. James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartzs Principles of Surgery. 18th ed. McGraw-Hill. New York. p.189-216
9.

St. John Ambulance. First aid: First on the Scene: Activity Book, Chapter 19

Hasil Pembelajaran :
1. Penegakkan diagnosis dan klasifikasi Combusio
2. Faktor risiko pasien dengan Combusio
3. Komplikasi pasien dengan Combusio
4. Tatalaksana pasien dengan Combusio

Tinjauan Pustaka
A. Definisi Luka bakar
Luka bakar atau combustio merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ketubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda
panas (kontak panas), akibat sengatan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn). Luka bakar merupakan suatu jenis
trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi. Biaya yang dibutuhkan untuk penanganannya pun tinggi.
Hal ini disebabkan karena pada luka bakar terdapat keadaan yaitu terdapat kuman dengan patogenitas tinggi, terdapat banyak jaringan mati,
mengeluarkan banyak air, serum dan darah, terbuka untuk waktu yang lama (mudah terinfeksi dan terkena trauma) dan memerlukan jaringan untuk
menutup 1 luka bakar yang lebih luas dan dalam memerlukan perawatan lebih intensif dibandingkan luka bakar yang hanya sedikit dan superfisial.
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya
mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis
bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri dan
psikologi.
B. Anatomi dan Histologi Kulit
Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar
dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi.
Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis,
labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong.
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm
sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat
a. Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans
dan Merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya
sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D
dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans).
Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) :
- Stratum Korneum : Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
- Stratum Lusidum : Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit
tipis.

Stratum Granulosum : Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar
yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel Langerhans.
Stratum Spinosum : Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan
penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan
tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril
Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans. Stratum Basale (Stratum Germinativum) :
Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap
28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit

b. Dermis
Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal
pada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan : Lapisan papiler; tipis : mengandung jaringan ikat jarang. Lapisan retikuler; tebal :
terdiri dari jaringan ikat padat. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. Serabut elastin
jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut
kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang. Hal ini menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan
tampak mempunyai banyak keriput. Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis
yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi
Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi
c. Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan
kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu.
Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.

C. Etiologi
Luka bakar banyak disebabkan karena suatu hal, diantaranya adalah
a. Luka bakar suhu tinggi(Thermal Burn): gas, cairan, bahan padat
Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas (scald) ,jilatan api ketubuh (flash), kobaran api di tubuh (flam), dan akibat terpapar
atau kontak dengan objek-objek panas lainnya(logam panas, dan lain-lain)
b. Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn)
Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang biasa digunakan dalam bidang industri militer ataupu bahan pembersih
yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga
c. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki
resistensi paling rendah. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khusunya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke
distal. Sering kali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun grown
d. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radio aktif. Tipe injury ini sering disebabkan oleh penggunaan radio aktif untuk
keperluan terapeutik dalam dunia kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar
radiasi.
D. Klasikfikasi
Klasifikasi luka bakar menurut kedalaman
a. Luka bakar derajat I
Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis superfisial, kulit kering hiperemik, berupa eritema, tidak dijumpai pula nyeri karena ujung ujung
syaraf sensorik teriritasi, penyembuhannya terjadi secara spontan dalam waktu 5 -10 hari
b. Luka bakar derajat II
Kerusakan terjadi pada seluruh lapisan epidermis dan sebagai lapisan dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Dijumpai pula,
pembentukan scar, dan nyeri karena ujung ujung syaraf sensorik teriritasi. Dasar luka berwarna merah atau pucat. Sering terletak lebih tinggi
diatas kulit normal
1) Derajat II Dangkal (Superficial)
Kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis.
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh
Bula mungkin tidak terbentuk beberapa jam setelah cedera, dan luka bakar pada mulanya tampak seperti luka bakar derajat I dan
mungkin terdiagnosa sebagai derajat II superficial setelah 12-24 jam
Ketika bula dihilangkan, luka tampak berwarna merah muda dan basah.
Jarang menyebabkan hypertrophic scar.
Jika infeksi dicegah maka penyembuhan akan terjadi secara spontan kurang dari 3 minggu
2) Derajat II dalam (Deep)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis
Organ-organ kulit seperti folikel-folikel rambut, kelenjar keringat,kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung biji epitel yang tersisa.

Juga dijumpai bula, akan tetapi permukaan luka biasanya tanpak berwarna merah muda dan putih segera setelah terjadi cedera karena
variasi suplay darah dermis (daerah yang berwarna putih mengindikasikan aliran darah yang sedikit atau tidak ada sama sekali, daerah
yg berwarna merah muda mengindikasikan masih ada beberapa aliran darah
Jika infeksi dicegah, luka bakar akan sembuh dalam 3 -9 minggu
c. Luka bakar derajat III (Full Thickness burn)
Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dermis dan lapisan lebih dalam, tidak dijumpai bula, apendises kulit rusak, kulit yang
terbakar berwarna putih dan pucat. Karena kering, letak nya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar. Terjadi koagulasi protein pada epidermis
yang dikenal sebagai scar, tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung ujung syaraf sensorik mengalami kerusakan atau
kematian. Penyembuhanterjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka
d. Luka bakar derajat IV
Luka full thickness yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan ltulang dengan adanya kerusakan yang luas. Kerusakan meliputi
seluruh dermis, organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat mengalami kerusakan, tidak dijumpai bula,
kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat, terletak lebih rendah dibandingkan kulit sekitar, terjadi koagulasi protein pada epidemis dan
dermis yang dikenal scar, tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensori karena ujung-ujung syaraf sensorik mengalami kerusakan dan
kematian. penyembuhannya terjadi lebih lama karena ada proses epitelisasi spontan dan rasa luka.

Gambar 2 Klasifikasi Luka Bakar

E. Patogenesis
1. Respon Lokal
Segera setelah kontak permukaan kulit dengan sumber panas, terjadi nekrosis kulit yang terkena. Menurut Jackson, ada tiga zona konsekutif
pada luka bakar yaitu: koagulasi, stasis, dan hiperemis. Zona koagulasi menggambarkan area yang terkena kontak erat dengan sumber panas. Sel
pada area ini mengalami nekrosis koagulasi dan tidak membaik. Pada zona ini terjadi kehilangan jaringan yang ireversibel. Zona stasis adalah area
konsentris yang kerusakan jaringannya lebih sedikit, ditandai dengan penurunan perfusi jaringan. Jaringan pada zona ini berpotensi untuk
diselamatkan. Zona hiperemis adalah zona terluar dimana perfusi jaringan meningkat. Sel pada area ini mengalami trauma minimal, dan pada
sebagian besar kasus akan membaik dalam 7-10 hari.

Gambar 3. Respon Lokal


Fase Luka Bakar
a. Fase awal/akut/syok
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, akibat cedera termis sistemik dan gangguan perfusi oksigen
b. Fase subakut
Masalah kehilangan jaringan yang menyebabkan reaksi inflamasi, meningkatnya kerentanan terhadap infeksi, hipermetabolisme dan masalah
penutupan luka.
c. Fase lanjut
Masalah jaringan parut hipertrofik dan kontraktur sebagai penyulit.

2. Respon Sistemik
Luka bakar suhu pada tubuh terjadi baik karena kondisi panas langsung atau radiasi elektromagnetik. Sel-sel dapat menahan temperatur sampai
440C tanpa kerusakan bermakna, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap drajat kenaikan temperatur. Saraf dan pembuluh darah
merupakan struktur yang kurang tahan dengan konduksi panas. Kerusakan pembuluh darah ini mengakibatkan cairan intravaskuler keluar dari lumen
pembuluh darah, dalam hal ini bukan hanya cairan tetapi protein plasma dan elektrolit. Pada luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas
yang hampir menyelutruh, penimbunan jaringan masif di intersitial menyebabakan kondisi hipovolemik. Volume cairan iuntravaskuler mengalami
defisit, timbul ketidak mampuan menyelenggarakan proses transportasi ke jaringan, kondisi ini dikenal dengan syok. Luka bakar juga dapat
menyebabkan kematian yang disebabkan oleh kegagalan organ multi sistem. Awal mula terjadi kegagalan organ multi sistem yaitu terjadinya
kerusakan kulit yang mengakibatkan peningkatan pembuluh darah kapiler, peningkatan ekstrafasasi cairan (H 2O, elektrolit dan protein), sehingga
mengakibatkan tekanan onkotik dan tekanan cairan intraseluler menurun, apabila hal ini terjadi terus menerus dapat mengakibatkan hipopolemik dan
hemokonsentrasi yang mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi jaringan. Apabila sudah terjadi gangguan perkusi jaringan maka akan
mengakibatkan gangguan sirkulasi makro yang menyuplai sirkulasi orang organ organ penting seperti : otak, kardiovaskuler, hepar, traktus
gastrointestinal dan neurologi yang dapat mengakibatkan kegagalan organ multi sistem. Proses kegagalan organ multi sistem ini terangkum dalam
bagan berikut

F. Manifestasi Klinis
Efek lokal
1. Kerusakan jaringan
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Luka bakar
menyebabkan rupturnya sel atau nekrosis sel. Sel yang di perifer masih dapat hidup tapi sebagian ada yang rusak. Akibat rusaknya mikrosirkulasi
perifer lapisan kolagen akan berubah bentuk dan rusak. Pembuluh kapiler yang mengalami trombosis, padahal pembuluh ini membawa sistem
pertahanan tubuh atau antibiotik., permeabilitas kapiler akan meningkat mengakibatkan kebocoran cairan intravaskuler sehingga terjadi oedem.
Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian, fungsi sendi dapat berkurang
atau hilang.
2. Inflamasi
Reaksi infalamasi yang paling awal terlihat adalah erythema, yang disebabkan karena respon neurovaskular mengakbibatkan vasodilatasi
pembuluh darah. Makin berat kerusakan jaringan, respon inflamasi yang muncul akan makin lama bertahan. Makrofag akan menghasilkan
mediator inflamasi seperti cytokine dan sel fagosit nekrotik. Netrofil dan limfosit akan menghalangi terjadinya infeksi.
3. Infeksi
Luka bakar merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme, biasanya akan menyebabkan infeksi dalam 24-48 jam. Dalam
kondisi yang lebih berat akan muncul bakteriemi atau septikemi yang kemudian akan tejadi penyebaran infeksi ke tempat yang lain. Bakteriemi
merupakan penyebab kematian tersering pada luka bakar mulai dari 24 jam pertama sampai pada luka bakar yang sudah sembuh. Streptococcus
-hemolitikus dan pseudomonas memproduksi enzym protease yang dapat mencegah penempelan dari skin graft. Infeksi ringan dan noninvasif
ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasive ditandai dengan keropeng yang mula-mula
kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik, akibatnya luka bakar yang mula-mula derajat dua
menjadi derajat tiga. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis.
Efek regional
Sirkulasi
Jika terdapat oedem yang luas, maka akan terjadi pembengkakkan, aliran darah dari extremitas dapat mengalami obstruksi. Sirkulasi untuk otot
tangan intrinsic dapat terganggu akibat oedem, dapat terjadi nekrosis yang lama kelamaan menjadi kontraktur. Akumulasi cairan interstitial
dalam tangan menyebabkan jaringan kolagen menggembung maksimal sehinggga terbentuk posisi claw (metacarpalphalangeal extensi, dan
proximal interphalangeal flexi ). Dapat juga terjadi muscle compartement syndrome yang mengenai otot flexor dan extensor extremitas bagian
atas maupun bawah.
Efek sistemik
1. Kehilangan cairan
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula yang banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume
cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke
bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.

Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi
syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun, dan
produksi urin berkurrang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.
2. Multiple organ failure dan Sepsis
Kegagalan progresif dari ginjal dan hepar di akibatkan karena kehilangan cairan, toxemia karena infeksi, sepsis. Ganguan sirkulasi ke ginjal
menyebabkan iskemia ginjal ( tubulus) berlanjut dengan Akut Tubular Necrosis yang akhirnya terjadi gagal ginjal (ARF). Gangguan sirkulasi
perifer meneybabkan iskemia otot-otot dengan dampak pemecahan glikoprotein yang meningkatkan produksi Nitric Oxide (NO). NO ini
diketau berperan sebagai modulator sepsis. Ganguan sirkulasi ke kulit dan system integum menyebabkan gangauan system imun karena
penurunan produksi limfosit dan penurunan fungsi barier kulit. 1 Luka bakar inhalasi Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka
terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas ayang terrisap. Udem laring yang ditimbulkannya
dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak bewarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga keracunan gas CO dan gas beracun lainnya. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak
mampu lagi mngeikat oksigen. Tanda keracuna ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi
koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal
Komplikasi sistemik
Stress atau beban faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menimbulkan tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan
gejala yang sama dengan tukak peptic. Kelainan ini disebut tukak Curling. Yang khawatirkan pada tukak curling ini adalah penyulit perdarahan
yang tampil sebagai hematemesis dan atau melena. Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein
menjadi negatif. Protein dalam tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang
rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil dan berat badan menurun.
G. Penilaian luka bakar
Beberapa cara penentuan derajat luka bakar.
1. Palmar surface
Luas permukaan pada telapak tangan pasien (termasuk jari-jari)secara kasar adalah 0,8% dari seluruh luas permukaan tubuh. Permukaan
telapak tangan dapat digunakan untuk mengukur luka bakar yang kecil (<15%>85% luas permukaan tubuh). Untuk luka bakar dengan
ukuran sedang, pengukuran dengan cara ini tidak akurat
2. Wallace rule of nines
Merupakan cara yang baik dan cepat untuk mengukur luas luka bakar pada orang dewasa. Tubuh dibagi menjadi area 9%, dan total daerah yang
terkena luka bakar dapat dihitung. Tetapi cara ini tidak akurat pada anak-anak. Pada anak dan bayi digunakan

rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan
luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak. Untuk anak, kepala dan
leher 15 %, badan depan dan belakang masing-masing 20 %, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10 %, ekstremitas bawah
kanan dan kiri masing-masing

3. Lund and Bowder chart


Dapat digunakan pada bentuk tubuh dan usia yang bervariasi, termasuk pada anak-anak

H. Pemeriksaaan penunjang
3. Lab darah
- Hitung jenis
- Kimia darah Analisa gas darah dengan carboxyhemoglobin
- Analisis urin
- Creatinin Phosphokinase dan myoglobin urin ( Luka bakar akibat listrik)
- Pemeriksaan factor pembekuan darah ( BT, CT)
4. Radiologi
- Foto thoraks : untuk mengetahui apakah ada kerusakan akibat luka bakar inhalasi atau adanya trauma dan indikasi
pemasangan intubasi
- CT scan : mengetahui adanya trauma Tes lain : dengan fiberoptic bronchoscopy untuk pasien dengan luka bakar inhalasi
3. Tes lain : dengan fiberoptic bronchoscopy untuk pasien dengan luka bakar inhalasi.
I. Tatalaksana
-

Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk
menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala
Singkirkan baju, perhiasan dan benda-benda lain yang membuat efek Torniket, karena jaringan yang terkena luka bakar akan segera
menjadi oedem
Setelah sumber panas dihilangkan rendam daerah luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir selama sekurangkurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api
dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan
mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Akan tetapi cara ini tidak
dapat dipakai untuk luka bakar yang lebih luas karena bahaya terjadinya hipotermi. Es tidak seharusnya diberikan langsung pada
luka bakar apapun.
Evaluasi awal
Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penanganan pada luka akibat trauma yang lain, yaitu dengan ABC (Airway
Breathing Circulation) yang diikuti dengan pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey sekunder

Airway
Sama halnya dengan bantuan hidup lanjut, sebaiknya servical tetap dilindungi kecuali yakin tidak ada jejas servical. Inhalasi gas
panas dapat menyebabkan edema pita suara beberapa saat kemudian. Oleh karena itu jaga jalan napas tetap paten. Bila diperlukan
dapat dilakukan intubasi.
Tanda-tanda trauma inhalasi adalah sebagai berikut
1) Riwayat luka bakar karena api atau luka bakar diruangan tertutup
2) Luka bakar yang luas dan dalam area ajah, leher, atau upper torso
3) Bulu hidung yang terbakar
4) Adanya sputum berkarbon atau partikel karbon di orofaring
Indikasi untuk dilakukan intubasi adalah sebagai berikut
1) Edema atau eritema area orofaring dari inspeksi langsung dengan laringoskop
2) Suara yang berubah menjadi kasar atau batuk kasar
3) Stridor, takipnea atau dispnea
Breathing
Seluruh pasien dengan luka bakar sebaiknya mendapatkan oksigen 100% dengan non-rebreathing mask.
- Luka bakar yang mengelilingi dada atau sangat luas dan dalam diarea dada, dapat membatasi pergerakan dada dan membuat
ventilasi inadekuat. Dibutuhkan tindakan eskarotomi
- Jejas yang mempenetrasi menyebabkan tension pneumotoraks, kontusio paru dan trauma alveolar yang dapat menyebabkan
adult respiratory distress syndrome
- Sekalipun telah dingin, hasil kombustio dapat masuk ke dalam paru-paru dan mengiritasi paru yang menyebabkan inflamasi,
bronkospasme dan bronkorhoea. Silia pneumosit yang rusak dpat berlanjut menjadi atelektasis atau pneumonia. Dapat
diberikan nebulizer atau ventilasi tekanan positif dengan positivE end-expiratory pressure (PEEP)
Resusitasi Cairan
Sebagai bagian dari perawatan awal pasien yang terkena luka bakar, Pemberian cairan intravena yang adekuat harus dilakukan,
akses intravena yang adekuat harus ada, terutama pada bagian ekstremitas yang tidak terkena luka bakar. Adanya luka bakar diberikan
cairan resusitasi karena adanya akumulasi cairan edema tidak hanya pada jaringan yang terbakar, tetapi juga seluruh tubuh. Telah diselidiki
bahwa penyebab permeabilitas cairan ini adalah karena keluarnya sitokin dan beberapa mediator, yang menyebabkan disfungsi dari sel,
kebocoran kapiler.

Tujuan utama dari resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan mengembalikan perfusi jaringan tanpa menimbulkan edema.
Kehilangan cairan terbesar adalah pada 4 jam pertama terjadinya luka dan akumulasi maksimum edema adalah pada 24 jam pertama
setelah luka bakar. Prinsip dari pemberian cairan pertama kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada jaringan
yang terbakar, dan sel-sel tubuh. Pemberian cairan paling popular adalah dengan Ringer laktat untuk 48 jam setelah terkena luka bakar.
Output urin yang adekuat adalah 0.5 sampai 1.5mL/kgBB/jam.
Formula yang terkenal untuk resusitasi cairan adalah formula Parkland : 24 jam pertama.Cairan Ringer laktat : 4ml/kgBB/%luka bakar
-

contohnya pria dengan berat 80 kg dengan luas luka bakar 25 %


membutuhkan cairan : (25) X (80 kg) X (4 ml) = 8000 ml dalam 24 jam pertama
jumlah cairan 4000 ml diberikan dalam 8 jam
jumlah cairan sisanya 4000 ml diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Cara lain adalah cara Evans :


1. luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah NaCl / 24 jam
2. luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg =jumah plasma / 24 jam ( no 1 dan 2 pengganti cairan yang hilang akibat oedem.
Plasma untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh dan meninggikan tekanan osmosis hingga mengurangi perembesan
keluar dan menarik kembali cairan yang telah keluar )
3. 2000 cc Dextrose 5% / 24 jam (untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan ) Separuh dari jumlah cairan 1+2+3
diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan
pada hari pertama. Dan hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.
Cara lain yang banyak dipakai dan lebih sederhana adalah menggunakan rumus Baxter yaitu : % x BB x 4 cc Separuh dari jumlah
cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu
larutan RL karena terjadi defisit ion Na. Hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama. Contoh : seorang dewasa dengan BB 50
kg dan luka bakar seluas 20 % permukaan kulit akan diberikan 50 x 20 % x 4 cc = 4000 cc yang diberikan hari pertama dan 2000 cc
pada hari kedua. Setelah 24 jam pemberian kristaloid, selanjutnya dapat diberikan koloid karena dapat memperbaiki ekspansi volume
intravaskular. Berikan 0,3-0,5 ml x berat badan (kg)x total permukaan area luka bakar selama 24 jam.
Petunjuk perubahan cairan
- Pemantauan urin output tiap jam
- Tanda-tanda vital, tekanan vena sentral
- Kecukupan sirkulasi perifer
- Tidak adanya asidosis laktat, hipotermi
- Hematokrit, kadar elektrolit serum, pH dan kadar glukosa

Pengganti Darah
Luka bakar pada kulit menyebabkan terjadinya kehilangan sejumlah sel darah merah sesuai dengan ukuran dan kedalaman
luka bakar. Sebagai tambahan terhadap suatu kehancuran yang segera pada sel darah merah yang bersirkulasi melalui kapiler yang
terluka, terdapat kehancuran sebagian sel yang mengurangi waktu paruh dari sel darah merah yang tersisa. Karena plasma
predominan hilang pada 48 jam pertama setelah terjadinya luka bakar, tetapi relative polisitemia terjadi pertama kali. Oleh sebab itu,
pemberian sel darah merah dalam 48 jam pertama tidak dianjurkan, kecuali terdapat kehilangan darah yang banyak dari tempat luka.
Setelah proses eksisi luka bakar dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan
Perawatan Luka Bakar
Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan perawatan luka. Perawatan tergantung pada
karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal. Setelah
luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. Penutupan luka ini memiliki beberapa fungsi: pertama dengan penutupan luka
akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. Kedua, luka harus benar-benar
tertutup untuk mencegah evaporasi pasien tidak hipotermi. Ketiga, penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien
merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.
- Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu
di balut, luka dicuci dengan air sabun, berikan pelembab atau salep antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan
melembabkan kulit. Bila perlu dapat diberi NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan
pembengkakan
- Luka bakar derajat II, perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-tama luka diolesi dengan salep antibiotic biasanya
krim Neomicyn Basitrasin atau salep MEBO dua kali sehari dan ditutup dengan kasa kering. Pilihan lain luka dapat
ditutup dengan penutup luka sementara yang terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin) atau Allograft (homograft,
cadaver skin) ) atau bahan sintetis (opsite, biobrane, transcyte, integra) .
- Luka derajat III, berikan antibiotik topikal, biasanya butuh waktu minimal 4 minggu untuk sembuh dan sembuh dengan
jaringan parut hipertrofik. Biasanya membutuhkan eksisi tangensial dan skin graft (kecuali luka dengn diameter <4 cm).
Escharotomy
Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas dapat menyebabkan iskemik distal yang progresif, terutama apabila
terjadi edema saat resusitasi cairan, dan saat adanya pengerutan keropeng. Iskemi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada jarijari tangan dan kaki. Tanda dini iskemi adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai baal pada ujung-ujung distal. Juga luka
bakar menyeluruh pada bagian thorax atau abdomen dapat menyebabkan gangguan respirasi, dan hal ini dapat dihilangkan dengan
escharotomy. Dilakukan insisi memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas

Permasalahan Pasca Luka Bakar


Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur
kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk sekali sehingga
diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan kepercayaan diri. Permasalahan-permasalahan yang ditakuti pada luka bakar:
- Infeksi dan sepsis
- Oliguria dan anuria
- Oedem paru
- ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )
- Anemia
- Kontraktur
- Kematian
Indikasi Rawat Jalan
1. Luka bakar derajat II menutupi < 10% total permukaan tubuh dewasa
2. Luka bakar derajat II menutupi < 5% total permukaan tubuh anak-anak
3. Tidak ada penyulit
K. Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya
komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya
jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor
membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan
fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.