Anda di halaman 1dari 11

PENGENALAN & PENATALAKSANAAN

KEGAWATDARURATAN ANAK
Keadaan gawat darurat yang sering terjadi :
Distress pernafasan
Kejang
Nyeri abdomen
Gastroenteritis
Intoksikasi
Pada setiap kedaruratan medis pediatrik harus selalu dilakukan
penilaian awal secara cepat dengan memakai 3 komponen dari Pediatric
Assesment Triangle (PAT)
- Appereance / Penampilan anak
- Breathing / Work of breathing / Usaha nafas
- Circulation to skin / sirkulasi kulit
dilanjutkan Resusitasi ABCD
A : APPEREANCE dinilai dengan TICLES
TONE
Apakah anak gerak aktif atau menolak pemeriksaan dengan kuat ?
Apakah tonus ototnya baik atau lumpuh ?
INTERAVTIVENESS
Bagaimana kesadarannya ? apakah suara mempengaruhinya ?
Apakah ia mau main dengan mainan atau alat periksa ?
Atau anak tidak semangat berinteraksi dengan pengasuh / pemeriksa ?
CONSOLABILITY
Apakah ia dapat ditenangkan pengasuh / pemeriksa ?
Atau anak menangis atau terlihat agitasi sekalipun dilakukan
pendekatan yang lembut ?
LOOK / GAZE
Apakah ia memfokuskan penglihatan pada muka ?
Atau pandangannya kosong ?
SPEECH / CRY
Apakah anak berbicara / menangis dengan kuat ? lemah ? atau parau ?
B : BRATHING work of breathing
Suara nafas tidak normal : ngorok, parau, stridor, merintih, mengi
Posisi tubuh tidak normal : sniffing, tripoding, menolak baring
Retraksi : supraclavikula, interkostal, substernal, head bobbing

Cuping hidung : Pernafasan cuping hidung


C : CIRCULATION TO SKIN
Pucat : kulit / mukosa tampak kurang merah karena kurangnya aliran
darah ke daerah tersebut
Mottling : kulit berbercak kebiruan oleh karena vasokonstriksi
Sianosis : kulit & mukosa tampak biru
Penilaian ABCDE
A = AIRWAY
Penilaian jalan nafas diekspresikan sebagai :
- jalan nafas bebas
- jalan nafas masih dapat dipertahankan
- jalan nafas harus dipertahankan dengan intubasi
- obstruksi total jalan nafas
BREATHING
Kinerja nafas dinilai :
# Hitung frekuensi nafas
< 1 tahun : 30 40 x/m
2-5 tahun : 20 30 x/m
5-12 tahun : 15 20 x/m
> 12 tahun : 12 16 x/m
# Menilai upaya bernafas dan penampilan anak
Interpretasi suara nafas abnormal
SUARA
Stridor

PENYEBAB
Obstruksi jalan nafas atas

Mengi

Obstruksi jalan nafas bawah

Grunting
(merintih saat insp)

Oksigenasi tidak adekuat

Ronki basah pada


inspirasi
Suara nafas tidak
ada + upaya nafas
meningkat

Cairan / lendir / darah dalam


jalan nafas
Obstruksi jalan nafas total
atau
Gangguan transmisi suara

CO/ DIAGNOSIS
- croup
- benda asing
- abses retrofaring
- asma
- benda asing
- bronkiolitis
- pneumonia
- IRDS
- kontusio paru
- tenggelam
- pneumonia
- kontusio paru
- asma berat
- pneumothoraks
- hematothoraks
- pneumonia

- benda asing
- efusi pleura
CIRCULATION
Penilaian sirkulasi dilakukan dengan :
# Hitung denyut jantung
< 3 bulan : 85 200 x/m
3 bln-2 thn : 100 190 x/m
2-10 tahun : 60 90 x/m
# Tekanan darah : tekanan sistolik minimal =70 + (2 x umur (tahun))
# Perfusi organ : - denyut nadi perifer
- capilary refill time
- tingkat kesadaran
- produksi urin
Abnormal Vital Sign
Usia
TD (sistolik)
0-2 tahun
< 60
2-5 tahun
< 70
> 5 tahun
< 90

Nadi
< 80
< 60
< 50

Respirasi
< 10 / > 40
< 10 / > 30
< 5 / > 25

DISABILITY (status neurologi)


Evaluasi neurologik meliputi :
* Fungsi korteks : - dinilai dengan GCS
- dinilai dengan skala AVPU
* Batang otak : - pemeriksaan pola nafas sentral
- postur tubuh / dekortikasi / deserebrasi / flacid
- pupil, refleks cahaya
- evaluasi saraf kranial
SKALA AVPU
Kategori
Alert
Verbal

Painfull

Rangsang
Lingkungan
normal
Perintah
sederhana /
rangsang suara

Tipe Respon
Sesuai

Nyeri

- Sesuai

- Sesuai
- Tidak sesuai

Reaksi
Interaksi normal u/
tingkat usia
- Reaksi terhadap
suara normal
- Tidak spesifik /
bingung
- Menghindari
rangsang
- Mengeluarkan
suara tanpa
tujuan atau dapat
melokalisasi nyeri
- Posture

Unresponsive

Tidak ada respon yang dapat dilihat terhadap semua


rangsangan
EKSPOSURE (kelainan kulit / mukosa)
* Ruam akibat morbili
* Hematoma akibat trauma, dsb
* Jaga bayi jangan kedinginan

1. KEJANG
Kejang Demam
Dibagi menjadi 3 kelompok :
Kejang Demam Sederhana :
- Kejang yang didahului demam yang tidak lebih 38,5 C
- Berlangsung < 15 menit
- Hanya sekali dalam periode 24 jam
- Tidak mengalami infeksi intrakranial
Kejang Demam Kompleks
- Berlangsung lama
- Multiple dalam 24 jam atau
- Fokal
Status Epileptikus
Kejang berulang, 2 seri kejang tanpa pulihnya kesadaran, dan anak
tidak dapat melakukan komunikasi verbal diaantara kejang
Kejang lama terus-menerus selama > 20-30 menit
Merupakan kesadaran neurologik yang mempunyai resiko kerusakan
otaak / kematian
Penyebab tersesring : - infeksi
- gangguan metabolik
Paling sering terjadi pada usia < 5 tahun (85%)
Klasifikasi kejang menurut ILAE (1981)
1. Kejang Parsial (fokal, lokal)
- Kejang fokal sederhana
- Kejang parsial kompleks
- Kejang parsial umum
2. Kejang Umum
- mioklonik
- klonik
- tonik
- tonik klonik
- absens
3. Kejang yang tak dapat diklasifikasikan

Perbedaan antara kejang dan serangan yang menyerupai kejang


Keadaan
Kejang
Menyerupai Kejang
1. Onset
Tiba-tiba
Mungkin Graduil
2. Lama serangan
Detik / menit
Beberapa menit
3. Kesadaran
Sering terganggu
Jarang terganggu
4. Sianosis
Sering
Jarang
5. Gerakan ekstremitas
Sinkron
Asinkron
6. Streotipik serangan
Selalu
Jarang
7. Lidah tergigit / luka lain
Sering
Jarang
8. Gerakan abnormal bola mata Selalu
Jarang
9. Fleksi pasif ekstremitas
Gerakan tetap
Gerakan hilang
10. Dapat diprofokasi
Ada
Hampir selalu
11. Tahanan terhadap gerakan
Jarang
Selalu
12. Pasif
Jarang
Tidak pernah
13. Bingung pasca serangan
Hampir selalu
Hampir tidak
14. EEG iktal abnormal
Selalu
Pernah
15. EEG pasca iktal abnormal
Selalu
Jarang
Tatalaksana awal saluran nafas pada anak yang sedang kejang :
1. Letakkan anak pada posisi untuk membuka sal.nafas
2. Bersihkan mulut dengan pengisapan lendir
3. Pertimbangkan posisi dekubitus lateral jika anak muntah-muntah dan
pengisapan tidak cukup untuk mengontrol saluran pernafasan
4. Berikan oksigen 100% dengan mnggunakan masker non rebreathing
atau balon dan masker 9blow-up)
5. Pertimbangkan pemasangan alat bantu sal.nafas nasofaringeal (alat
bantu nafas orofaringeal jarang diperlukan)
6. Longgarkan pakaian ketat dan pastikan kepala tidak membentur benda
yang keras
Pedoman Pemberian Dekstrosa selama Kejang
Indikasi :
Bayi dan anak dengan kadar glukosa < 60 mg%
Bayi baru lahir dengan kadar glukosa < 40 mg%
Terapi :
Anak usia < 2 tahun
Berikan D 25 w, 2-4 ml/kg IV atau IO bolus (encerkan D 50 w 1 : 1
dengan air steril atau NaCl 0,9%)
Anak Usia > 2 tahun
Berikan D 50 w, 1-2 ml/kgBB IV atau IO bolus
Jika tidak ada jalur IV atau IO, berikan glikagon 1 mg IM

Bayi baru lahir dengan kadar glikosa < 40 mg%


Berikan D 10 w, 2-4 ml/kg/bolus IV atau IO ( 1 bagian D %) w, 4
bagian air steril atau NaCL 0,9%)
Tatalaksana penghentian kejang fase akut berdasarkan urutan waktu :
0-5 menit
Pertahankan supaya jalan nafas tetap baik
Pantau tanda vital, berikan oksigen
Bila stabil, lakukan anamnesis terarah, pemeriksaan fisik dan neurologi
secara cepat
Pemeriksaan fisik terinci : trauma, kelumpuhan fokal, tanda-tanda infeksi
5-10 menit
Pasang Akses IV
Ambil sampel darah
Pemberian diazepam IV/PR atau lorazepam IV atau midazolam
IV/IM/bukal
Berikan dekstrosa IV bila ada hipoglikemia
10-15 menit
Cenderung menjadi status konvulsius
Berikan fenitoin 15-20 mg.kgBB IV (kecepatan 25-50 mg/menit)
Ulang fenitoin 5-10 mg/kgBB sampai maksimum 30 mg/kgBB
> 30 menit
Antikonvulsan kerja panjang
Fenobarbital 10 mg/kgBB IV (maksimal 100 mg/menit), dosis tambahan
5-10 mg/kgBB dengan interval 10-15 menit
Awasi tanda depresi pernafasan
Pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan (AGB, elektrolit, gula darah)
Bila kejang belum teratasi, siapkan intubasi dan transportasi, berikan
fenobarbital 5-8 mg/kgBB IV, diikuti titrasi 3-5 menit/kgBB per jam
Keadaan yang perlu diwaspadai paada anak pasca iktal
Kejang pasca trauma
Kejang pasca ingesti
Kejang hipoksia
Kejang yang terjadi pada bayi baru lahir (berumur < 4 minggu)
Kejang pertama kali terjadi pada anak berumur > 6 tahun
Kejang lebih dari 1 kali
Kejang yang berlangsung > 5 menit
Komplikasi kejang
Hipoksia karena obstruksi saluran pernafasan, aspirasi atai ventilasi
inadekuat
Cedera otak

Rekurensi kejang

2. demam
Demam : naiknya suhu tubuh : Suhu rektal > 38 C
Suhu oral > 37,5 C
Suhu aksila > 37,2 C
Dikatakan Demam bila suhu > 38 C
Demam tinggi bila suhu > 39-40 C
Hiperpireksia bila suhu > 41,1 C
Terdapat keuntungan dan kerugian pemberian terapi simptomatik demam
Argumen yang tidak menyetujui
Argumen yang menyetujui
terapi simptomatik
terapi simptomatik
1. Kebanyakan demam berlangsung 1. Demam dapat menyebabkan efek
sebentar dan hilang sndiri
metabolik yang tidak diinginkan
2. Demam dapat mengganggu
2. Demam dapat menyebabkan efek
pertumbuhan atau kelangsungan
kardiopulmonal yang merugikan
hidup mikroorganisme
3. Demam dapat menyebabkan efek
3. Demam dapat merangsang respon
susunan saraf pusat yang
imunologis
merugikan
4. Demam dapat memaksa penderita 4. Demam dapat mempresipitasi
istirahat
kejang
5. Pengobatan demam dapat
5. Demam dapat menggangu respon
mengaburkan informasi klinis
imunologis
yang penting
6. Demam dapat menekan motilitas
gaster
7. Terapi demam dapat
mempermudah evaluasi pasien

3. penurunan kesadaran
Merupakan status neurologis abnormal
Anak kurang tanggap, kurang interaktif, murung, tidak bisa diganggu /
tidak responsif terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya (not acting right)
Dapat muncul dalam berbagai tindakan (mulai dari iritabilitas sampai tidak
responsif)
95% disebabkan kelainan nonstruktural (toksik-metabolik / medikal) yang
menyebabkan kelainan otak difus (meningitis, ensefaliis, hipotermi,
hipotensi, kejang, keracunan, gangguan metabolit-elektrolit)
Kemungkinan penyebab penurunan kesadaran : AEIOUTIPPS
Alkohol
Epilepsi, endokrin, elektrolit
Insulin
Opiat dan obat-obat lainnya

Uremia
Trauma, temperatur
Infeksi
Psikogenik
Poison (racun)
Shock, Stroke, perdarahan subarackhnoid

Penatalaksanaan Penurunan Kesadaran :


Buka jalan nafas pada pasien yang tampak malas (sluggish atau
semikoma)
Berikan pernafasan yang adekuat
Sirkulasi cadangan : buatlah akses vena dan ambil sampel darah vena
untuk pemberian glukosa serum
Lakukan uji cepat glukosa darah (bedside test)
Bila ada penurunan kesadaran dan depresi pernafasan, berikan nalokson.

HIPOGLIKEMIA
Definisi :
Keadaan kadar gula darah yang rendah / konsentrasi glukosa serum
pada bayi baru lahir : < 40 mg% atau
pada anak-anak
: < 60 mg %
Etiologi tersering :
Kurangnya asupan makanan
Ketidakseimbangan insulin pada diabetes
Hipoglikemia sementara pada neonatus, intoksikasi alkohol
Tanda dan gejala hipoglikemia
Ringan
Rasa lapar, iritabilitas, lemas, agitasi, takipneu, takikardia
Sedang
Cemas, penglihatan kabur, sakit perut, sakit kepaala, pusing,
berkeringat, pucat, tremor dan kebingungan
Berat
Kejang, koma
Terapi
Anak usia < 2 tahun
Berikan D 25 w, 2-4 ml/kg IV atau IO bolus (encerkan D 50 w 1 : 1
dengan air steril atau NaCl 0,9%)
Anak Usia > 2 tahun
Berikan D 50 w, 1-2 ml/kgBB IV atau IO bolus
Jika tidak ada jalur IV atau IO, berikan glikagon 1 mg IM
Bayi baru lahir dengan kadar glikosa < 40 mg%

Berikan D 10 w, 2-4 ml/kg/bolus IV atau IO ( 1 bagian D %) w, 4


bagian air steril atau NaCL 0,9%)

HIPERGLIKEMIA

Klasifikasi :
Hiperglikemia ringan
GDP 120-200 mg/dl
Hiperglikemia sedang
GDP 200-410 mg/dl
Hiperglikemia berat : kedaruratan medis
GDP > 410 mg/dl
Penatalaksanaan :
Lakukan prosedur ABCDE
Buat jalu IV atau IO berikan NaCL 0,9 % 10-20 ml/kgBB jika
ada dehidrasi / syok

PENANGANAN KEDARURATAN MEDIK


ANAK
Tahapan Evaluasi klinis :
Penilaian Awal
- Pemeriksaan secara cepat dengan anamnesa singkat tapi relevan
a. untuk melihat tanda vital dan resusitasi bila perlu
b. mengidentifikasi masalah yang berat
- Kedaruratan pernapasan
- Kedaruratan kardiovaskuler
- Kedaruratan neurologi
- Kedaruratan gastrointestinal
- Kedaruratan saluran kemih
- dll
Penilaian masalah akut
Hal ini dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang yang relevan
Evaluasi klinis lengkap
Melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang
relevan perlu dilakukan setelah keadaan darurat diatasi
Keadaan darurat medik pada anak yang penting :
1. Kedaruratan pernapasan
a. Obstruksi jalan nafas bagian atas
- aspirasi benda asing
- Croup
- Epiglotis
b. Obstruksi jalan nafas bagian bawah
- Aspirasi benda asing
- Asma
- Bronkiolitis
- Pneumonia
- Pneumothoraks
2. Kedaruratan kardiovaskuler
- Gagal jantung
- Disritmie jantung
- Syok
- Serangan sianotik (mis. Tetralogi fallot)
3. Kedaruratan sistem saraf pusat
- Kejang
- Trauma kapitis
- Koma

4. Kedaruratan gastrointestinal
- Gastroenteritis
- Akut abdomen
- Perdarahan saluran cerna

Kedaruratan pernapasan
Gangguan nafas akut sering dijumpai pada anak.
Beberapa perbedaan penting anatomi jalan nafas pada anak :
- Diameter lebih kecil
bila ada edema akan meningkatkan resistensi jalan nafas dan
work of breathy yang lebih besar
- Lidah relatif besar dibandingkan ukuran orofarings
disposisi lidah ke posteroir menyebabkan obstruksi berat
- Larings bayi hingga anak usia 3 tahun posisinya lebih tinggi
terdapat sudut yang relatif tajam antara basal lidah dan liang
glotis sehingga mempersulit penolong melihat glotis
Penatalaksanaan Sumbatan jalan nafas
Prinsip umum :
Mengenal adanya sumbatan jalan nafas pada setiap penderita dengan
gangguan pernafasan merupakan lngkah awal.
Observasi dilakukan dengan melihat gerakan dada/perut, mendengar
suara nafas dan auskultasi dada, serta merasakan adanya udara yang
keluar dari hidung/mulut anak.
Manuver head-tilt/chin-lift (mengangkat rahang bawah ke anterior) dan
jaw thrust dapat dilakukan untuk membuka jalan nafas. Pada penderita
yang tidak sadar tindakan ini dapat disertai dengan pmasangan
orofaringeal airway