Anda di halaman 1dari 2

Ringkasan kasus dr ayu

Siska awalnya mendatangi puskesmas. Di puskesmas, dilakukan pemeriksaan ketuban


untuk mempercepat kelahiran bayinya. Standar operasional prosedur menyatakan, kelahiran
harus diupayakan normal. Kondisi Siska di puskesmas terus dimonitor sampai akhirnya muncul
tanda kegawatan di mana bayi bisa meninggal jika tidak juga dilahirkan.
Puskesmas pun memberitahu Siska perlu ada tindakan operasi untuk menyelamatkan dia dan
bayinya. Oleh sebab itu diputuskan Siska dirujuk ke RS Prof dr Kandou untuk ditangani lebih
lanjut. Di rumah sakit itu, dokter mengambil tindakan 8 jam kemudian, setelah tahu ada gawat
janin pada kandungan Siska. Selama 8 jam itu, pasien bukannya ditelantarkan, tapi ditunggu
untuk melahirkan secara normal, kata Frizar.
Selanjutnya saat operasi caesar berlangsung, terjadi insiden emboli ketuban melebar, udara
masuk ke pembuluh darah dan lari ke paru-paru, mengakibatkan pembuluh darah pecah. Aliran
darah pun tersumbat seketika karena air ketuban masuk ke dalam pembuluh darah. Saat itu Siska
langsung terserang sesak nafas hebat.
Menghadapi hal ini, dokter Ayu dan timnya segera mengambil tindakan. Suntikan steroid
diberikan untuk menanggulangi peradangan. Mereka juga berupaya mempertahankan
oksigenisasi dengan memasang alat bantu yang disebut ventilator. Sayangnya nyawa pasien tidak
tertolong. Meski demikian bayi lahir dengan sehat.
Para dokter itu murka dan menuding MA tidak paham prosedur dan kode etik dokter. Rekan
kami korban kebodohan pakar hukum. MA tidak paham apa yang kami kerjakan. MA tidak
berkonsultasi dengan para pakar kedokteran sebelum memutuskan perkara, kata salah satu
dokter,
I
Gusti
Ngurah.
Sementara keluarga almarhum Julia Fransiska Makatey (Siska) bersikukuh dokter Ayu cs
melakukan tindakan malapraktik atau tak sesuai prosedur ketika menangani persalinan caesar
Siska tanggal 10 April 2010. Ibunda Siska, Yulin Mahengken, mengatakan, dokter membiarkan
anak mereka yang dalam kondisi sekarat, terlantar selama 12 jam di Rumah Sakit Prof dr
Kandou
Malalayang,
Manado.
Sementara berikut rincian kesalahan dokter Ayu seperti tertera di putusan Mahkamah Agung:
Dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr Hendry Simanjuntak, dan dr Hendy Siagian, baik secara
bersama-sama maupun bertindak sendiri-sendiri, telah dengan sengaja melakukan, menyuruh
melakukan, dan turut serta melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik (SIP).
Perbuatan tersebut dilakukan para terdakwa dengan cara dan uraian kejadian sebagai berikut:
Saat korban Siska Makatey (Julia Faransiska Makatey) sudah tidur terlentang di atas meja
operasi, dilakukan tindakan asepsi antiseptis pada dinding perut dan sekitarnya. Selanjutnya

korban ditutup dengan kain operasi kecuali pada lapangan operasi. Saat itu korban telah dibius
total.
Dr Ayu mengiris dinding perut lapis demi lapis sampai pada rahim milik korban, kemudian bayi
yang berada di dalam rahim korban diangkat. Rahim korban lalu dijahit sampai tidak terdapat
pendarahan lagi dan dibersihkan dari bekuan darah. Selanjutnya dinding perut milik korban
dijahit.
Berikut ini beberapa poin penting yang menjadi perdebatan soal ada atau tidak malpraktek dalam
kasus dokter Ayu:

1. Pemeriksaan jantung baru dilakukan setelah operasi.


2. Penyebab kematian masuknya udara ke bilik kanan jantung. Ini karena saat pemberian
obat

atau

infus

karena

komplikasi

persalinan.

3. Terdakwa tidak punya kompetensi operasi karena hanya residence atau mahasiswa
dokter spesialis dan tak punya surat izin praktek (SIP)
Komentar:
Menurut saya kesalahan awal dari malpraktek ini karna adanya penyakit emboli,dan
dokter seharusnya mencari penyebab dari penyakit tersebut,
Dan puskesmas tidak melakukan tindakan awal sebelum terjadi kesalahan dan kurang
teliti dalam menentukan diagnosa.
mengenai kasus malpraktek yang mengakibatkan kematian almarhumah Julia
fransiska makatey (siska),dokter ayu hanya membiarkan siska selama 8 jam , tanpa
mengambil tindakan segera mungkin.saat dokter ayu melakukan tindakan operasi air
ketubannya sudah pecah dan mengakibatkan emboli atau ketuban melebar, udara
masuk pembuluh darah dan lari ke paru-paru,mengakibatkan pembuluh darah pecah.