Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN

Titanium, yang dilambangkan dengan simbol Ti, merupakan logam transisi dan
mempunyai nomor atom 22 dan berat atom 47,90. Titanium adalah logam yang
paling melimpah keempat, yaitu sekitar 0,62% dari kerak bumi. Meski melimpah,
titanium jarang ditemukan dalam bentuk logam murni. Kebanyakan titanium
ditemukan dalam bentuk rutile atau titanium dioksida (TiO2). Titanium umumnya
terbentuk pada batuan igneous, sering ditemukan sebagai ilmenite (FeTiO3) dan
perovskite (CaTiO3). Mineral Ilmenite (FeTiO3) ini banyak dijumpai di pantai selatan
pulau Jawa, Indonesia, dalam bentuk pasir besi. Untuk di luar Indonesia, Australia,
Kanada, Cina, India, Norwegia, Afrika Selatan, dan Ukraina adalah negara penghasil
konsentrat titanium terbesar. Di Amerika Serikat, titanium terutama diproduksi
negara bagian Florida, Idaho, New Jersey, New York, dan Virginia. Meskipun titanium
cukup melimpah, harga titanium tetap mahal dikarenakan pengolahannya hingga
menjadi logam murni masih sulit dilakukan.
Untuk ilmenite sendiri mengandung hampir 53% TiO2 (rutile) yang merupakan
mineral penting untuk pengolahan titanium yang masih ada pengotor silika sekitar
10%, besi oksida, vanadium, niobium, tantalum, dan sedikit timah, kromium, dan
senyawa molibdeum . Dalam bentuk magmatik, titanium berbentuk titanite
(CaTi(SiO4) yang mengandung silika. Rutiel-bering beach dapat ditambang jika
mengandung TiO2 sampai 0.3%. Dari beberapa bentuk bijih titanium hanya bijih
ilmenite (FeTiO3) dan rutile yang memiliki nilai ekonomis. Di bawah ini merupakan
bentuk bijih titanium yang tersebar di seluruh dunia dengan kandungan TiO2 yang
berbeda-beda.

Tabel 1: Jenis mineral Titanium yang terdapat di kerak bumi

Ilmenite ditemukan berupa bijih dengan skala yang besar atau sebagai deposit
alluvial sekunder (berupa pasir) yang mengandung mineral logam berat. Konsentrat
ini mengandung kadar besi yang sangat tinggi dari bentuk segregasi hematite dan
magnetite dari ilmenite. Besi dipisahkan dari permukaan ilmenite untuk
mendapatkan TiO2 dalam jumlah besar. Dibawah ini data mengenai komposisi
deposit ilmenite dan penyebarannya di dunia.
Tabel 2: Komposisi deposit ilmenit (%).

Hampir 95% produksi ilmenite dan rutile diproduksi untuk menghasilkan pigmen
TiO2 yang digunakan pada manufaktur logam titanium dan pengelasan elektroda.
Permintaan terhadap bahan baku dengan kandungan TiO2 yang tinggi telah
berkembang dengan adanya bahan baku sintetis dari TiO2 dimana besi dipisahkan
dari ilmenite. Beberapa produk sintetis tersebut berasal dari titanium slag (terak)
dan rutile sintetis. Pada proses titanium slag, besi dipisahkan di electric arc furnace
(EAF) pada temperatur 1200-1600 0C, sehingga didapatkan pig iron yang bebas dari
titanium dan selanjutnya titanium tersebut mengendap menjadi terak dengan
kandungan TiO2 sekitar 70-85% yang selanjutnya dapat diolah dengan asam sulfur.
Sedangkan pada sintetis rutile, hanya sejumlah kecil deposit yang dapat diolah dan
memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada proses ini besi dipisahkan dari konsentrat
ilmenite tanpa mengubah ukuran butir mineral untuk diproses selanjutnya pada
fluidized-bed.
Saat ini, ribuan paduan titanium telah dikembangkan dan dapat dikelompokkan ke
dalam empat kategori utama. Sifat mereka tergantung pada struktur kimia dasar
mereka dan cara mereka dimanipulasi selama pembuatan. Beberapa elemen yang
digunakan untuk membuat paduan meliputi aluminium, molibdenum, kobalt,
zirkonium, timah, dan vanadium. Berikut ini adalah kategori paduan titanium:
Alpha phase alloy, memiliki kekuatan terendah tetapi formable dan weldable.
Alpha plus beta alloys, memiliki kekuatan yang tinggi.
Near alpha alloy, memiliki kekuatan yang sedang namun memiliki ketahanan
mulur yang baik.
Beta phase alloy, memiliki kekuatan tertinggi dari paduan titanium yang lain,
tetapi mempunyai daktilitas yang rendah.

Sifat Fisik
Titanium berwarna abu abu putih keperakan. Logam ini memiliki kerapatan 4510
kg/m3, berada diantara aluminium dan stainless steel (bisa dikatakan sebagai
logam ringan). Meski ringan, logam ini mempunyai kekuatan hampir sama dengan
baja, ditambah mempunyai daktilitas yang tinggi. Bentuk titanium yang
dikomersilkan (kemurnian 99,2%) memiliki ultimate tensile strength (UTS) sekitar
63.000 psi atau 434 Mpa. Logam ini memiliki kekerasan yang cukup tinggi, nonmagnetik dan konduktor yang buruk. Selain itu, memiliki fatigue limit untuk batas
pemakaian pada beberapa aplikasi. Logam ini memiliki allotrope dimorphic dengan
bentuk alfa hexagonal yang dapat berubah menjadi bentuk beta body-centered
cubic pada temperatur 8820C. Ia memiliki titik leleh sekitar 3032 F (1667 C) dan
titik didih 5948 F (3287 C) sehingga dapat dipakai sebagai logam refractori.

Gambar 1: Titanium berwarna abu abu putih keperakan


Sifat Kimia.
Sifat yang paling menonjol dari titanium adalah ketahanannya terhadap korosi yang
hampir sama dengan platinum, mampu bertahan terhadap serangan asam, gas
klorin, dan beberapa larutan garam. Titanium akan lebih tahan terhadap korosi
apabila dipadu logam mulia, tetapi tidak dalam lingkungan asam dan gas asam
dengan konsentrasi dan temperatur yang tinggi dan bahkan terus meningkat.
Larutan titanium tidak larut dalam air, tetapi larut dalam larutan asam. Diagram
pourbaix menunjukkan bahwa titanium merupakan logam reaktif secara
termodinamik, tetapi kurang reaktif terhadap air dan udara. Logam ini membentuk
lapisan pasif yang protektif ketika berada di lingkungan udara bertemperatur tinggi.
Titanium terbakar ketika dipanaskan di udara pada 610 0C ataupun diatasnya
membentuk titanium dioksida dan merupakan satu dari beberapa logam yang dapat
terbakar dalam gas nitrogen murni membentuk titanium nitrit yang dapat
menyebabkan kerapuhan/brittle.

Tabel 3: Detail properties Titanium.

Tabel 4: Sifat korosi dari titanium murni yang dikomersilkan.

Keunggulan Titanium

Salah satu karakteristik Titanium yang paling terkenal bahwa titanium sama
kuatnya dengan baja, tetapi hanya 60% dari berat baja.

Kekuatan fatik (fatigue strength) lebih tinggi daripada paduan aluminium.

Tahan pada suhu tinggi. Ketika temperatur pemakaian melebihi 150 C maka
dibutuhkan titanium karena aluminium akan kehilangan kekuatannya seacara nyata.

Tahan korosi. Ketahanan korosi titanium lebih tinggi daripada aluminium dan
baja.


Dengan rasio berat-kekuatan yang lebih rendah daripada aluminium, maka
komponen-komponen yang terbuat dari titanium membutuhkan ruang yang lebih
sedikit dibanding aluminium.

Aplikasi Titanium

Militer. Oleh karena kekuatannya, unsur ini digunakan untuk membuat


peralatan perang (tank) dan untuk membuat pesawat ruang angkasa.

Industri. Beberapa mesin pemindah panas (heat exchanger) dan bejana


bertekanan tinggi serta pipa tahan korosi memakai bahan titanium.

Kedokteran. Bahan implan gigi, penyambung tulang, pengganti tulang


tengkorak, struktur penahan katup jantung menggunakan titanium.

Mesin. Titanium juga digunakan sebagai material pengganti untuk batang


piston.

Gambar 2: Titanium digunakan untuk berbagai macam item, seperti rangka sepeda,
implan pinggul, bingkai kacamata, dan anting-anting.

II.

PROSES EKSTRAKSI TITANIUM

Untuk melakukan proses ekstraksi, Ada beberapa proses pada ekstraksi titanium
menjadi TiO2 pigment dilakukan dengan dua proses yaitu metode sulfat dan
metode klorida. Namun, sebelumnya harus diilakukan proses preparasi bijih.
1.

Ore Preparation

Diagram alir di bawah ini menggambarkan tentang preparasi bijih sebelum


diproses.

Gambar 3: Pemrosesan bijih logam berat: a) dredger, b) sieve, c) bunker, d) Reichert


cones, e) spirals, f) magnetic sparator, g) dryer, h) electrostatic sparator, i) shaking
table, j) dry magnetic sparator, k) vertical belt conveyor, l) electrostatic sparator.

Banyak proses produksi bijih titanium dimulai dari pasir mineral berat. Ilmenite
biasanya mengandung rutile dan zircon, sehingga produksi ilmenite selalu berkaitan
dengan recovery logam-logam tersebut. Bahan baku pasir (raw sand) yang
mengandung 3-10% mineral berat diperoleh dari wet dredging (a). setalah melalui
proses (b), kemudian dimasukkan kedalam gravity concentration dalam beberapa
proses dengan Reichert cones (d) atau spirals (e) untuk menghasilkan produk
dengan kandungan 90-98%. Alat tersebut memisahkan mineral yang berat dan
ringan (berat jenis 4.2-4.8 g/cm3 dan <3 g/cm3). Mineral magnetis (ilmenite)
dipisahkan dari non magnetis (rutile, zircon, dan silikat) dengan dry atau wet
separation (f). Tahap electrostatic separation (h) memisahkan mineral non
konduktor yang berbahaya dari ilmenite. Mineral nonmagnetis mengalami proses
hydromechanical (i) untuk menghilangkan mineral low-density yang tersisa.
Recovery ilmenite dan leucoxenes dengan high-density magentic separation pada
tahap akhir (j).

2.

Produksi Titanium Dioksida(TiO2)

Titanium dioksida pigments (indikasi warna) diproduksi melalui dua proses yang
berbeda, yaitu dengan metode sulfat dan metode klorida.
a)

Proses Sulfat

Metode sulfat digambarkan oleh gambar diagram alir berikut.

Gambar 4: Produksi TiO2 dengan proses sulfat: a) Ball mill/dryer; b) Screen; c)


Magnetic separator; d) Cyclone; e) Silo; f) Digestion vessel; g) Thickener; h) Rotary
filter; i)Filter press; j) Crystallizer; k) Centrifuge; l) vacuum evaporator; m)
Preheater; n) Stirred tank for hydrilysis, o) Cooler; p) Moore filters; q) Stirred tank for
blaching, r) Stirred tank for doping; s) Rotary filter for dewatering; t) Rotary kiln; u)
Cooler

Grinding
Titanium-bearing raw materials dikeringkan menjadi uap. Pengeringan umumnya
untuk mencegah pemanasan dan reaksi prematur dengan asam sulfur.
Digestion
Mineral mentah dicampur dengan 80-98% H2SO4. Rasio asam sulfat tersebut dipilih
agar rasio berat dari asam sulfat terhadap TiO2 dalam suspensi antara 1.8-2.2(biasa

disebut acid number) dengan suhu 50-70C dan bentuk sulfat secara eksotermis
menaikan suhu mencapai 170-220C . Setelah mencapai suhu maksimum, maka
akan mencapai kematuran. Digestion dapat dipercepat dengan menghembuskan
udara saat suhu naik.
Dissolution and Reduction
Pada proses ini temperatur harus kurang dari 85C untuk mencegah hydrolisis
prematur. Udara dihembuskan kedalam untuk mencampur campuran selama
dissolution. Besi trivalen dihidrolisasi bersama dengan senyawa titanium, diikutkan
menjadi hydrat titanium oksida.
Clarification
Semua material padat yang tidak terurai harus diremove dari larutan. Metode
ekonomis dengan preliminary settling pada thickener, diikuti dengan filtrasi
sedimen dengan rotary vacuum filter. Dengan hal tersebut maka penambahan
bahan kimia pada thickener harus dilakukan.
Crystallization
Larutan dari terak digestion mengandung 5-6% FeSO4 dan dari digestion ilmenite
16-20% FeSO4 setelah reduksi Fe3+. Larutan harus didinginkan untuk
mengkristalkan FeSO4.7H2O mengurangi muatan FeSO4 dalam waste acid.
Hydrolisis
Hydrat Titanium oksida dan larutannya dipresipitasi dengan hyrolisis pada 94110C. Proses ini menghasilkan hydrolysate yang tidak memiliki warna, namun
dipengaruhi oleh ukuran dan tingkat flocculation. TiO2 yang dihasilkan adalah 9396% dengan syarat acid number sekitar 1.8-2.2.
Purification of the Hydrolysate
Setelah proses hydrolisis fasa cair suspensi hydrate tatanium oksida mengandung
20-28% H2SO4 dan sejumlah sulfat tak larut. Hydrate disaring dari larutan dan
dicuci dengan air atau dengan dilute acid. Kebanyakan dari pengotor dapat
dihilangkan dengan reduksi(bleaching), untuk filter cake dilarutkan dengan dilute
acid(3-10%) pada suhu 50-90C . Setelah melalui proses penyaringan memiliki 510% H2SO4.
Doping of the Hydrate
Saat memproduksi TiO2 dengan kemurnian yang tinggi, hidrat dipanaskan
(calcined) tanpa penambahan aditif. Namun, untuk pembentukan pigment grades
yang spesifik, hidrat harus diberikan perlakuan campuran alkali-metal dan asam
fosfor sebagai mineralizers (<1%) sebelum dilakukannya kalsinasi. Untuk
memproduksi pigmen rutile, harus ditambahkan rutile nuclei maksimal 10%. Contoh

dari rutile nuclei adalah ZnO, Al2O3. Sb2O3 juga terkadang ditambahkan dengan
kadar maksimal 3% untuk menstabilkan struktur Kristal.
Grinding
Setelah dikalsinasikan, proses selanjutnya adalah grinding. Proses grinding dapat
dilakukan baik dengan wet grinding maupun dry grinding.

b)

Proses Klorida

Proses klorida digambarkan pada diagram alir dibawah ini.

Gambar 5: Flow diagram produksi TiO2 melalui proses Klorida: a) mill; b) Silo; c)
Fluidized-bed reactor; d) Cooling tower; e) Separation of metal cholrides; f) TiCl4
condensation; g) Tank; i) Vanadium reduction; j) Distillation; k) Evaporator; l) TiCl4
superheater; n) Burner; o) Cooling coil; p) Filler; q) TiCl2 purification; r) Silo; s) Gas
purification; t) Waste-gas cleaning; u) Cl2 liquefaction.

v Chlorination
Titanium dapat diubah menjadi titanium tetraklorida dalam atmosfer yang rendah.
Calcined petroleum coke biasanya digunakan sebagai pereduktor karena
mempunyai kandungan abu yang sangat rendah. Dan karena kemampuan untuk
menguapnya rendah, hanya sedikit HCl yang terbentuk.
v Fixed-bed chlorination method
Metode ini sudah jarang digunakan. Pada proses ini, tanah yang mengandung
titanium dicampurkan dengan petroleum coke dan sebuah bahan pengikat (binder),
dan kemudian membentuk briket.
v Fluidized-bed chlorination method
Titaium, dengan ukuran sebesar pasir, dan petroleum coke, direaksikan dengan
klorin dan oksigen di dalam brick-lined-fluidized-bed reactor (ada pada gambar di
atas) pada temperatur 800-1200 0C. Material mentahnya (titanium) harus sangat
kering untuk menghindari pembentukan HCl. Magnesium klorida dan kalsium klorida
dapat ditambahkan pada fluidized-bed-reactor karena mereka punya volatility yang
rendah. Zirconium silikat juga dapat ditambahkan karena dapat diklorinisasikan
sangat lambat pada temperatur tersebut.

v Gas Cooling
Gas hasil reaksi sebelumnya kemudian didinginkan dengan TiCl4 cair. Pada tahap
pertama, gas didinginkan sedikit dibawah 300 0C. Pada suhu tersebut, klorida dapat
dipisahkan dari TiCl4 dengan cara kondensasi atau sublimasi. Kemudian, gas yang
kandungannya sebagian besar adalah TiCl4 didinginkan sampai suhu dibawah 0o C,
yang membuat sebagian besar TiCl4 terkondensasi. Sisa-sisa TiCl4 dan gas klorida
kemudian dihilangkan dengan cara scrubbing dengan unsur alkali.
v Purification of TiCl4
Klorida yang berada pada keadaan padat saat suhu ruang dapat dipisahkan dari
TiCl4 melalui cara evaporasi (distilling). Kemudian klorida yang terlarut dapat
dihilangkan dengan pemanasan atau reduksi dengan metal powders, seperti Fe, Cu,
maupun Sn.

3.

Pemurnian

Produksi titanium tetraklorida berdasarkan reaksi:


TiO2 + 2Cl2 + 2C TiCl4 + 2CO
Dari proses sulfat dan klorida, titanium tetraklorida yang terbentuk masih bersama
pengotor lain (Metal klorida dari logam lain) sehingga perlu dimurnikan. Pada
pembentukan titanium (IV) klorida, Klorida logam lain juga bisa terbentuk. Untuk
memisahkannya, logam dimasukkan ke dalam tangki distilasi besar kemudian
dipanaskan. Titanium (IV) klorida yang sangat murni bisa dipisahkan menggunakan
distilasi fraksional pada atmosfer argon atau nitrogen, kemudian disimpan di dalam
dry tanks. Tindakan ini menghilangkan klorida logam lain seperti besi, vanadium,
zirkonium, silikon, dan magnesium. Titanium (IV) klorida adalah klorida kovalen
khas. Ini adalah cairan tak berwarna yang menguap di udara lembab karena
bereaksi dengan air membentuk titanium (IV) oksida dan gas hidrogen klorida.
Semuanya harus dijaga sangat kering untuk mencegah ini terjadi.
4.

Produksi spons

Reduksi oleh natrium


Metode ini banyak digunakan di Inggris. Titanium (IV) klorida ditambahkan ke
reaktor di mana natrium sangat murni telah dipanaskan sampai sekitar 550 C semuanya berada pada suasana argon inert. Selama reaksi, temperatur meningkat
sampai sekitar 1000 C.

Setelah reaksi selesai, dan semuanya telah didinginkan selama beberapa hari
(sebuah inefisiensi dari proses batch), campuran dihancurkan dan dicuci dengan
asam klorida encer untuk menghilangkan natrium klorida.
Reduksi oleh magnesium
Metode digunakan di seluruh dunia. Metode ini mirip dengan menggunakan
natrium, tapi kali ini reaksi adalah:

Titanium tetraklorida murni dipindahkan dalam bentuk cairan ke reaktor vessel


stainless steel. Magnesium kemudian ditambahkan dan wadah dipanaskan sampai
sekitar 2012 F (1.100 C). Argon dipompa ke dalam wadah sehingga udara akan
dipindahkan dan kontaminasi oksigen atau nitrogen bisa dicegah. Magnesium
bereaksi dengan klor menghasilkan magnesium klorida cair dan meninggalkan
padatan titanium murni sejak karena leleh dari titanium lebih tinggi dari suhu
reaksi. Magnesium klorida dipisahkan dari titanium dengan destilasi di bawah
tekanan yang sangat rendah pada suhu tinggi.
Titanium padat dipindahkan dari reaktor melalui boring dan kemudian disiram
dengan air dan asam klorida untuk menghilangkan sisa magnesium dan magnesium
klorida. Produk yang dihasilkan adalah logam padat berpori yang disebut spons.
5.

Penciptaan Paduan

Spon titanium murni kemudian bisa diubah menjadi paduan yang lebih berguna
melalui consumable-electrode arc furnace. Pada proses ini, spons dicampur dengan
berbagai paduan dan logam tua (scrab metal). Proporsi spons yang tepat untuk
bahan paduan dirumuskan dalam laboratorium sebelum proses produksi
dilaksanakan. Campuran spons dan paduan kemudian di-pressure hingga kompak,
lalu dilas membentuk elektroda spons.
Elektroda spons kemudian ditempatkan di busur tanur vakum untuk dilebur. Dalam
air dingin pada wadah tembaga, busur listrik digunakan untuk melebur elektroda
spons untuk membentuk ingot. Semua udara di wadah dipindahkan (dibuat vakum)
atau suasana penuh dengan argon untuk mencegah kontaminasi. Biasanya, ingot
dilebur kembali satu atau dua kali lagi untuk menghasilkan ingot komersial. Di
Amerika Serikat, ingot yang paling banyak diproduksi oleh metode ini beratnya
sekitar 9.000 lb (4.082 kg) dan diameter 30 in (76,2 cm). Setelah ingot dibuat, ingot
dipindahkan dari tungku dan menjalani pemeriksaan cacat. Permukaan dapat
dikondisikan sesuai kebutuhan.
6.

Produk Sampingan / Limbah

Selama produksi titanium murni, sejumlah besar magnesium klorida dihasilkan.


Senyawa ini segera didaur ulang dalam sel daur ulang segera setelah diproduksi.

Sel daur ulang pertama-tama memisahkan logam magnesium, kemudian


mengumpulkan gas klor. Kedua komponen ini digunakan kembali dalam produksi
titanium.

III.

KESIMPULAN

Titanium merupakan salah satu elemen logam yang memiliki rasio kekuatan yang
tinggi dibandingkan beratnya. Logam tersebut ringan, kuat dengan densitas yang
rendah, ketika murni, cukup ulet(pada lingkungan bebas oksigen), lustrous, dan
berwarna putih metalik. Titanium memiliki melting point (titik lebur) yang cukup
tinggi yaitu diatas 1649 atau 3000 sehingga dapat dipakai sebagai logam
refractori. Titanium juga resistan yang baik terhadap korosi, hampir sama dengan
platinum, mampu bertahan terhadap serangan asam, gas klorin, dan beberapa
larutan garam dan akan lebih tahan terhadap korosi apabila ditambahkan logam
mulia, kecuali dalam lingkungan asam dan gas asam dengan konsentrasi yang
tinggi dengan temperatur yang tinggi dan terus meningkat. Dan proses
ekstraksinya dapat menggunakan proses sulfat dan klorida.

IV.

REFERENSI

1.
Habashi, Fathi. Handbook of Extractive Metallurgy volume 2. 1997. John wiley
VHC: Germany.
2.

http://www.chemguide.co.uk/inorganic/extraction/titanium.html

3.

http://en.wikipedia.org/wiki/Titanium

4.

http://www.lipi.go.id/www.cgi?proyek&1264061640&1&&1036006099&2011

5.

http://www.chemguide.co.uk/inorganic/extraction/introduction.html

6.

http://www.madehow.com/Volume-7/Titanium.html