Anda di halaman 1dari 3

End August 2006

PETUNJUK BERMAIN PERAN (ROLE PLAY)


KASUS KONSELING REMAJA
Sesuai dengan tujuan pelatihan maka salah satu cara untuk meningkatkan ketrampilan
dalam bidang konseling adalah dengan bermain peran (Role Play). Para peserta pelatihan
diharapkan untuk bermain sinetron yaitu memainkan suatu adegan dalam sinetron. Pada
kesempatan ini akan diberikan beberapa skenario yang harus dimainkan oleh para
peserta. Para peserta harus membaca terlebih dahulu skenario yang diberikan, mengerti
dan menghayatinya kemudian mencoba untuk memerankannya.
Mungkin para peserta merasa bahwa sangat sulit untuk bermain peran itu atau merasa
malu dan lucu untuk melakukannya. Telah terbukti bahwa bermain peran merupakan cara
yang efektif untuk dengan cepat mengerti dan menghayati suatu persoalan
Peserta yang bermain peran sebagai REMAJA harus berusaha megerti dan menghayati
bagaimana sikap, perasaan dan perilaku remaja. Lupakanlah sejenak keadaan lingkungan
anda dan cobalah renungkan sebentar bagaimana keadaan salah seorang remaja yang
pernah anda temukan (anak anda, masa remaja anda sendiri atau remaja lainnya).
Cobalah juga untuk mengerti betapa BERAT masalah yang dihadapi
Peserta yang bermain peran sebagai Konselor harus berusaha untuk mengerti dan benarbenar menghayati perannya sebagai KONSELOR, seolah-olah berada di ruang konsultasi
dan berhadapan dengan seorang remaja yang bermasalah.
Para penonton yang berfungsi sebagai PENGAMAT harus membantu mereka yang
sedang bermain peran karena tugas yang mereka jalankan tidak mudah. COBALAH
JANGAN TERTAWA. Berusahalah untuk menjadi pengamat yang baik dengan
memperhatikan baik REMAJA maupun KONSELORnya. Apakah yang diperankan itu
sudah sesuai dengan TEORI yang anda pelajari ?
Catatlah observasi anda dengan teliti supaya jangan ada yang lupa dan diskusi setelah
bermain peran dapat berlangsung dengan lancar.
SELAMAT BERMAIN PERAN

KASUS 1.
GATOT, seorang siswa mengemukakan kepada konselor bahwa ia dirumah dianggap
sebagai anak yang bandel oleh orangtua dan saudara-saudaranya. Di rumah ia merasa
terisolasi dan tidak ada orang yang bisa diajak bicara mengenai masalahnya, baik yang di
rumah maupun sekolah. Orangtuanya sibuk sekali dan seolah-olah tidak punya waktu
untuk berbincang-bincang dengannya. Di sekolah sebenarnya ia banyak teman tetapi
banyak diantara mereka kerjanya cuma belajar saja dan tidak mau diajak menjadi anak
gaul. Ia sangat kesal dengan keadaan anak-anak yang bersikap sebagai BANCI seperti
itu sehingga ia sering bolos. Akhir-akhir ini ia sering terlibat perkelahian antara pelajar.
Hal ini sudah diketahui oleh guru BP dan dia diancam untuk dikeluarkan dari sekolah
kalau ia tidak mengubah kelakuannya

KASUS 2
DESI seorang murid SMU menghadap konselor dan mengemukakan bahwa ia akhirakhir ini sering mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Ia merasakan
kesulitan untuk konsentrasi dan daya ingatnya juga berkurang. Tadinya DESI adalah
murid yang pandai dan ia merasa bahwa sebetulnya tidak sukar untuk mengikuti
pelajaran di sekolah tetapi daya tangkapnya seolah-olah berkurang. Keadaan di rumah
sejak setahun yang lalu memang agak berubah karena ayahnya jarang tidur di rumah dan
ibundanya sering menangis. DESI sebenarnya agak bingung juga karena tadinya ia sangat
dekat dengan ayahnya tetapi sekarang kalau ia berusaha berbicara dengan ayah maka ia
menghindar. Kabarnya ayahnya mempinyai hubungan dengan wanita lain. Desi merasa
sangat sedih dan merasa mau mati saja kalau ayah memang sudah tidak peduli lagi
kepadanya.

KASUS 3
RATNA, seorang siswa datang ke Puskesmas dan mengemukakan bahwa ia sudah dua
kali mengalami keterlambatan haid dan ada kemungkinan mengalami kehamilan.
Sebelum ini Ratna memang pernah mengadakan hubungan intim dengan pacarnya.
Sebetulnya ia tidak bersedia untuk melakukan hubungan itu namun ia terhanyut oleh
rayuan pacarnya sehingga ia melakukannya juga. Ratna merasa bersalah, menyesal dan
merasa takut bahwa ia betul-betul mengalami kehamilan. Ratna masih ingin sekolah dan
melanjutkan pelajaran. Saat ini Ratna tidak bisa konsentrasi untuk belajar dan sulit tidur.
Ratna tidak berani menceriterakan permasalahannya kepada orangtuanya atau anggota
keluarga yang lain. Ia juga tidak berani menceriterakan keadaannya kepada pacarnya
karena ia takut akan ditinggalkan. Ia berharap bahwa dokter di puskesmas dapat
menolong dirinya untuk mengakhiri kehamilannya.

KASUS 4
KRISNA, seorang siswa datang ke Puskesmas dan mengemukakan bahwa sejak beberapa
waktu yang lalu ia mempunyai kebiasaan untuk menggunakan putaw, minum alkohol
dan obat-obatan lainnya. Hal ini dilakukan karena ia sering merasa gagal dalam pelajaran
di sekolah dan menjadi bahan ejekan teman-temannya karena tubuhnya yang sangat
kurus. Selain itu ia juga merasa bahwa hubungan antara dirinya dengan orangtuanya
sangat buruk. Krisna merasa dirinya seolah-olah dikucilkan dari pergaulan, ia merasa
rendah diri, tidak berguna dan putus asa. Untuk mengataasi permasalahannya, ia mencoba
menggunakan putaw, alkohol dan obat penenang. Ternyata obat-obatan tersebut
membantunya untuk tenang dan tidur enak pada malam hari. Pada saat ini ia merasa
kebingungan karena tidak punya uang dan terancam akan dikeluarkan dari sekolah akibat
prestasinya yang buruk serta kecurigaan pihak sekolah akan keterlibatan dirinya dengan
NAPZA.