Anda di halaman 1dari 7

Biografi Albert Bandura

Albert Bandura lahir di tanggal 4 Desember 1925 di Mundare, sebuah kota kecil
di provinsi Alberta, Kanada. Orangtuanya adalah petani gandum keturunan Polandia.
SMU yang dijalaninya hanya memiliki 20 murid dan 2 guru. Setelah lulus, Bandura
menghabiskan musim panasnya dengan bekerja di perusahaan rel kereta api Alaska.
Kebanyakan pekerjanya lari ke Alaska untuk melarikan diri dari "penagih utang,
kewajiban memberi tunjangan cerai dan petugas pembebasan bersyarat." Bekerja dengan
karakter-karakter seperti ini memunculkan dalam diri Bandura "sebuah pengapresiasian
yang mendalam terhadap psikopatologi hidup sehari-hari" (American Psychologist, 1981
dalam Olson dan Hergenhahn, 2013). Bandura masuk Universitas British Columbia di
tahun 1946 dan meraih gelar sarjana muda di tahun 1949 di jurusan psikologi. Ia
kemudian pergi ke Universitas Iowa di mana ia menerima gelar MA tahun 1951 dan PhD
tahun 1952, di sana ia bertemu istrinya, Virginia (Ginny) Varns, yang mengajar di sekolah
perawat. Bandura dan istrinya memiliki dua putri, Mary dan Carol. Setelah setahun
magang klinis di Guidance Center, Wichita, Kansas, dia masuk Universitas Stanford,
tempatnya bekerja sampai sekarang.
Setelah tiba di Stanford, Bandura mulai meneliti penyebab-penyebab agresi di
dalam keluarga dengan rekan studinya, Richard Walters (1918-1967). Selama
mengerjakan penelitian ini, Bandura jadi sadar pentingnya "modeling" dan pembelajaran
lewat observasi bagi perkembangan kepribadian. Satu bagian tentang pembelajaran lewat
observasi muncul di akhir buku pertama mereka, Adolescent Aggression (1959) dan
dibahas lebih jauh di buku kedua mereka, Social Learning and Personality Development
(1963).
Prinsip-prinsip Teori Bandura
Belajar
Manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari berbagai sikap, kemampuan,
dan perilaku, serta cukup banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil
dari pengalaman tidak langsung. Walaupun manusia dapat dan memang belajar dari
pengalaman langsung, banyak dari apa yang mereka pelajari didapatkan dengan
mengobservasi orang lain. Bandura (1986, dalam Feist dan Feist, 2014) menyatakan
bahwa apabila pengetahuan dapat diperoleh hanya melalui akibat dari tindakan

seseorang, proses kognitif dan perkembangan social akan sangat terbelakang, dan

juga akan menjadi sangat melelahkan.


Determinisme Resiprok
Olson dan Hergenhahn (2014) menjelaskan bahwa pandangan yang diamini

teorisi sosial-kognitif adalah determinisme resiprok, yaitu variabel pribadi, variabel


situasi dan variabel perilaku yang terus berinteraksi satu sama lain. Variabel situasi
menyediakan lingkup di mana seseorang bersikap, variabel pribadi menentukan
bagaimana situasi dianalisis dan perilaku mana yang kemudian dipilih, sedangkan
variabel perilaku menyediakan informasi tentang analisis individu terhadap situasi dan
memodifikasi lingkungan.
Pandangan tentang Individu
Teori kognitif sosial memiliki pandangan terhadap manusia untuk mrnjawab
pertanyaan tentang apakah manusia itu? Apa yang membuat seseorang menjadi manusia
dan orang lain bukan manusia. Tiga kualitas psikologis yang merupakan hal terpenting
bagi manusia adalah (1) manusia adalah suatu entitas yang mampu memberikan
penalaran tentang dunia melalui bahasa, (2) manusia memiliki kemampuan bernalar idak
hanya pada saat ini, melainkan peristiwa di masa lalu dan peristiwa di masa yang akan
datang, dan (3) kemampuan bernalar dapat diarahkan kepada refleksi diri.
Pandangan terhadap manusia menurut teori kognitif sosial adalah mendasarkan
pada asumsi bahwa penelitian tentang kepribadian adalah tentang manusia, dan kapasitas
kognisi yang unik merupakan fokus utama dari teori kognitif sosial. Pemusatan teori
kepribadian pada kapasitas kognisi manusia memiliki implikasi kritis. Hal inilah yang
mengatasi pengaruh lingkungan (behavioristik) dan impuls hewani (psikoanalisa)
terhadap munculnya perilaku manusia, sehingga manusia memiliki kendali sepanjang
kehidupan mereka.
Pandangan tentang Ilmu Kepribadian
Pendekatan kognisi sosial memandang ilmu kepribadian berbeda dengan teoriteori sebelumnya. Letak perbedaanya terdapat pada sudut pandang dalam menilai
kepribadian seeorang. Pandangan teori kognisi sosial mencoba untuk memandang
manusia sebagai individu yang memperlakukan metode penelitian secara nomotetis dan
idiografis. Selain itu, pendektan kognitif sosial mencoba mengembangkan teorinya

melalui disiplin ilmu lain, yakni psikologi, sosial dan disiplin ilmu lain yang mempelajari
manusia dan perilakunya. Mereka percaya bahwa psikologi kepribadian memiliki tugas
untuk mengintegrasikan pengetahuan dari cabang ilmu psikologi lainnya, seperti
perkembangan, sosial, kognitif , budaya , dan ilmu saraf kedalam suatu potret yang
koheren tentang manusia dan keunikan antar manusia. Bandura secara intens tertarik
terhadap aplikasi praktis dari ide teorinya. Penekannya terletak pada hal untuk
mengevaluasi suatu teori adalah apakah teori tersebut memberikan manfaat prkatis
terhadap kejahteraan manusia.
Teori Kepribadian Sosial-Kognitif-Struktur
Struktur kepribadian yang terdapat dalam teori kognitif soial adalah meliputi
empat aspek yakni, kompetensi dan keahlian, harapan dan kepercayaan, standar perilaku,
dan tujuan personal.
Pandangan inti dari teori ini adalah perbedaan antar manusia yang kita observasi
mungkin tidak hanya disebabkan oleh perbedaan dalam emosi atau impuls motivasional,
sebagiamana disebutkan oleh teori-teori lain. Perbedaan tersebut dapat mencerminkan
variasi dalam kemampuan seseorang untuk melakukan berbagai tipe aksi yang berbeda.
Tiga struktur kognitif yang lain dapat dipahami dengan cara mempertimbangkan
tiga cara berbeda mengenai pikiran manusia tentang dunia. Seperangkat pikiran
melibatkan kepercayaan-kepercayaan mengenai bagaimana sebenarnya dunia dan hal apa
yang mungkin terjadi di masa depan. Pikiran-pikiran ini disebut kepercayaan dan-ketika
kepercayaan diarahkan ke masa depan-harapan (expectancies).
Kritik terhadap Teori Bandura
Bandura telah mengembangkan teori kognisi sosialnya dengan menyeimbangkan
dua komponen dasar dari pembangunan suatu teori -spekulasi yang inovatif dan observasi
yang akurat. Spekulasi teoretisnya sangat jarang berada jauh dari data yang ia miliki,
tetapi telah diingatkan dengan sangat hati-hati, dalam jarak yang hanya satu langkah
didepan observasinya. Prosedur ilmiah yang teliti ini meningkatkan kemungkinan bahwa
hipotesisnya akan memberikan hasil yang positif, dan teorinya akan menghasilkan
hipotesis yang mampu dikaji.
Kegunaan dari teori kepribadian Bandura, seperti teori-teori lainnya, berada pada
kemampuannya untuk menghasilkan penelitian, menawarkan untuk dilakukan pengkajian

ulang, dan untuk mengorganisasikan pengetahuan. Selain itu, teori tersebut harus dapat
berfungsi sebagai panduan praktis terhadap tindakan dan konsistensi secara internal serta
tidak bertele-tele.
Teori Bandura

telah

menghasilkan

beberapa

ribu

penelitian

sehingga

mendapatkan nilai yang sangat tinggi dalam kapasitasnya untuk menghasilkan penelitian.
Bandura dan koleganya telah melakukan banyak dari pekerjaan tersebut, tetapi peneliti
lainnya juga telah banyak tertarik atas teori ini. Bandura mungkin adalah penulis yang
paling rajin dari pada pakar teori kepribadian lainnya. Formulasi yang dikonstruksikan
dengan sangat hati-hati oleh bandura telah memberikan banyak pengaruh terhadap
formulasi dari banyak hipotesis yang dapat dikaji.
Kasus
Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang
memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang
dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang
terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep
motivasi belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa
telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang
diinginkan. Hal ini berkaitan dengan efikasi diri, yang merujuk pada keyakinan manusia
bahwa mereka mampu melakukan perilaku-perilaku yang dapat membuahkan hasil yang
diinginkan dalam suatu situasi.
Berdasarkan studi kasus yang penulis coba telisik ulang dari pengalaman masa
lalu dan dari observasi kepada beberapa siswa di sekolah. Muncul pertanyaan-pertanyaan;
Mengapa sejumlah siswa tetap bertahan dalam menghadapi kegagalan sedang yang lain
menyerah? Mengapa ada sejumlah siswa yang bekerja untuk menyenangkan guru, sedang
yang lain berupaya mendapatkan nilai yang baik, dan sementara itu ada yang tidak
berminat terhadap bahan pelajaran yang seharusnya mereka pelajari? Mengapa ada
sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh lebih baik dari yang diperkirakan berdasarkan
kemampuan mereka dan sementara itu ada sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh
lebih jelek jika dilihat dari potensi kemampuan mereka? Mengkaji penguatan yang telah
diterima dan kapan penguatan itu diperoleh dapat memberikan jawaban atas pertanyaan
di atas, namun pada umumnya akan lebih mudah meninjaunya dari sudut motivasi untuk
memenuhi berbagai kebutuhan.

SUMBER BACAAN
Olson, M.H& Hergenhanh, B.R 2013. Teori-teori kepribadian. Yogyakarta: Pustaka belajar

RESUME TEORI KEPRIBADIAN BANDURA

Dosen Pengampu:
Dr. Anwar Sutoyo, M.Pd
Dr. Awalya, M.Pd., Kons

Oleh
Fauzi Aldina 0105515026

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016