Anda di halaman 1dari 8

tBAB I

TINJAUAN TEORI
Metabolisme basal adalah metabolisme yang dilakukan oleh organorgan tubuh dalam keadaan istirahat total (tidur). Energi tersebut
dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh seperti denyut
jantung, bernafas, pemeliharaan tonus otot, pengaturan suhu tubuh,
metabolisme makanan, sekresi enzim, sekresi hormon, transmisi elektrik
pada otot dan lain-lain. Kebutuhan energi angka metabolisme basal ini
dinyatakan dalam kilokalori perkilogram berat badan per hari. Kurang
lebih dua pertiga energi yang dikeluarkan seseorang sehari digunakan
untuk aktivitas metabolisme basal tubuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi basal metabolisme, antara lain :
1. Ukuran tubuh (body size)
Ukuran tubuh menentukan pengeluaran energi seseorang. Tubuh
yang besar mempunyai BMR yang lebih besar. Sebagai contoh
pada wanita obese besarnya BMR dapat mencapai 125% atau
lebih dibanding wanita normal.
2. Usia
BMR tinggi pada bayi dan menurun menjelang anak-anak. Pada
bayi BMR diperlukan untuk pertumbuhan, tambahan diperlukan
5 kkal/g dari pertumbuhan jaringan, 12-15% energi untuk
pembentukan jaringan. BMR menurun dengan lambat menjelang
proses penuaan (turunnya aktivitas fisik, gaya hidup dan
perubahan komposisi tubuh, lebih tinggi jaringan adipose. BMR
turun 2% setiap 10 tahun setelah usia 30 tahun.
3. Jenis kelamin
BMR pada wanita lebih rendah dibanding pria dengan usia yang
sama. Bila pria dan wanita memiliki BB dan TB yang sama, maka
BMR wanita lebih rendah 5-10% dibanding pria, karena komposisi
jaringan adiposa wanita lebih besar dibanding pria. Jaringan
adiposa mempunyai metabolic rate rendah.
4. Status endokrin

Hormon tiroid atau kelenjar tiroid mempengaruhi BMR. Hormon


tiroid berpengaruh dalam reaksi oxidative pathway dalam sel
tubuh manusia.
5. Obat-obatan

seperti

Nicotine,

caffein,

theophyline

dan

amphetamines (efek obat tersebut terutama pada sistem syaraf


pusat).
6. Penyakit-penyakit tertentu seperti luka bakar, panas (demam)
dan kanker
BMR meningkat 7% untuk kenaikan 10% diatas 98 0 F atau 13%
diatas 370C.
7. Status gizi seperti kelaparan atau kronik malnutrition cenderung
menurunkan BMR sampai 20%.
8. Kehamilan.
Selama hamil terjadi kenaikan aktivitas metabolik pada jaringan
ibu, janin dan plasenta. Semakin lanjut usia kehamilan semakin
tinggi BMR.
9. Suhu tubuh
BMR meningkat dengan peningkatan suhu tubuh, tiap kenaikan
suhu 10C BMR meningkat 13%.
10.

Komposisi tubuh

Kebutuhan energi lebih tinggi bila tubuh secara proposional lebih


banyak mengandung otot daripada lemak atau tulang.
11.

Luas Permukaan Tubuh

Luas permukaan tubuh mencerminkan tinggi badan dan berat


badan. Semakin besar luas permukaan tubuh, maka BMR akan
meningkat. Dua orang dengan berat badan yang sama akan
tetapi memiliki tinggi badan yang berbeda, orang yang lebih
pendek

akan mengalami peningkatan berat badan secara

signifikan jika mengikuti pola diet orang yang lebih tinggi.


12.

Diet

Starvasi atau pengurangan jumlah intake kalori secara mendadak


akan dapat menurunkan BMR hingga 30%. Sedangkan pada diet

penurunan berat badan yang rendah kalori dapat menurunkan


BMR hingga sebesar 20%.
13.

Suhu Lingkungan

Suhu lingkungan dapat mempengaruhi BMR sebagai bentuk


adaptasi

tubuh.

Pajanan

terhadap

sushu

rendah

akan

meningkatkan BMR sebagai upaya tubuh untuk menjaga agar


tidak samapai mengalami hipotermia. Pajanan yang singkat
terhadap panas tidak akan banyak berpengaruh terhadap BMR
karena tubuh memiliki mekanisme tersendiri dalam membuang
kelebihan panas. Akan tetapi pajanan yang berkepanjangan
terhadap panas akan meningkatkan BMR.
14.

Latihan Fisik

Latihan fisik tidak hanya efektif daam membakar lemak, akan


tetapi juga dapat meningkatkan BMR. Jaringan tubuh akan
meningkatkan uptake terhadap kalori, dan pembakaran lemak
akan tetap terjadi meskipun saat tidur.
Kebutuhan Angka Metabolik Basal atau Basal Metabolik Rate (BMR)
pada dasarnya ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh serta umur.
Hubungan antara tiga peubahan ini sangat kompleks. AMB per satuan
berat badan berbeda menurut umur, yaitu lebih tinggi pada anak-anak
dan lebih rendah pada orang dewasa dan tua. AMB per unit berat badan
juga berbeda menurut tinggi badan. AMB per kg berat badan lebih tinggi
pada orang pendek dan kurus serta lebih rendah pada orang tinggi dan
gemuk. Dengan memperhitungkan umur (U, tahun), jenis kelamin, tinggi
badan (TB, cm) dan berat badan (BB, kg), Harris dan Benedict pada tahun
1909 menentukan rumus untuk menghitung kebutuhan energi basal
sebagai berikut :
BMR laki-laki = 66,5 +13,7 BB + 5,0
TB 6,8 U

Pada pasien dengan hipertiroid yang mengalami peningkatan laju


metabolisme dan penurunan berat badan, rumus Harris Benedict diatas

tidak dapat digunakan. Karena pada pasien hipertiroid yang mengalami


penurunan berat badan, jika kebutuhan kalorinya dihitung dengan rumus
diatas, akan terjadi penurunan kebutuhan kalori, sedangkan seharusnya
pada pasien hipertiroid yang mengalami peningkatan laju metabolisme,
kebutuhan kalorinya bertambah untuk kompensasi terhadap peningkatan
tadi.
Karena itu, digunakanlah rumus REED untuk menghitung basal
metabolic

rate

dan

aktifitas

tiroid

pada

pasien

hipertiroid

yang

menggabungkan antara nilai sistole dan diastole arteri brakialis dan


frekuensi nadi, dengan rumus sebagai berikut :
BMR : 0,75 {0,74 (S-D) + N} -72
Keterangan :
S = Sistole, D= Diastole, N=Nadi
Nilai normal : -10% - 10%

Perhitungan BMR dilakukan pada pagi hari saat klien baru bangun
tidur dan belum melakukan aktivitas apapun, karena hormone tiroid
biasanya

akan

berada

pada

rentang

normal

saat

bangun

tidur.

Perhitungan BMR dilakukan 3 hari berturut-turut dan diambil rata-rata dari


ketiga perhitungan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN KASUS
Contoh kasus :
Seorang mahasiswi STAN bernama Nuni Tejo Sari usia 20 tahun,
mempunyai berat badan (BB) 40 Kg dan tinggi badan (TB) 163 cm. Hitung
metabolisme basal yang dibutuhkan Nuni Tejo Sari dengan menggunakan
rumus Harris Benedict.
Pembahasan :
Rumus Harris Benedict :
BMR laki-laki = 66,5 +13,7 BB + 5,0
TB 6,8 U
Karena pada kasus diatas yang dihitung adalah perempuan, kita gunakan
rumus :
BMR perempuan = 665 + 9,7 BB + 1,7 TB 4,7 U, diketahui : BB=40 kg,
TB=193 cm, U=20 tahun
BMR = 665 + (9,7 x 40)+ (1,7 x 193) (4,7 x 20) kkal/hari

= 665 + 388 + 194,7 94 kkal/ hari


= 1154 kkal/hari
Jadi, kebutuhan metabolisme basal untuk Nuni Tejo Sari adalah 1154 kkal/hari.

Contoh kasus :
Seorang wanita usia 25 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan
keluhan jantungnya berdebar-debar. Selama 3 bulan terakhir pasien
melaporkan kehilangan berat badan sebanyak 7 kg, tanpa disertai
penurunan nafsu makan. Terdapat pembesaran kelenjar tiroid tanpa nyeri
tekan, tidak ditemukan adanya proptosis. Klien didiagnosa mengidap
hipertiroid. Perawat melakukan pengukuran tekanan darah dan nadi
selama 3 hari berturut-turut, pada jam yang sama, untuk pengumpulan
data pada pemeriksaan BMR. Berikut hasil pengumpulan data :
Tanggal, Jam

Tekanan Darah

Nadi

Pemeriksaan
28 November 2012,

110/70 mmHg

98 x/menit

06.00
29 November 2012,

120/80 mmHg

90 x/menit

06.00
30 November 2012,

100/70 mmHg

88 x/menit

06.00

Hitung metabolisme basal yang dibutuhkan klien tersebut dengan


menggunakan rumus REED.
Pembahasan :
Rumus REED :
BMR : 0,75 {0,74 (S-D) + N} -72

Perhitungan BMR hari ke-1 :


BMR = 0,75 {0,74 (S-D) + N} -72

= 0,75 {0,74 (110-70) + 98} -72


= 0,75 (29,6 + 98) 72
= 95,7-72
= 23,7%
Perhitungan BMR hari ke-2 :
BMR = 0,75 {0,74 (S-D) + N} -72

= 0,75 {0,74 (120-80) + 90} -72


= 0,75 (29,6 + 90) 72
= 89,7-72
= 17,7%
Perhitungan BMR hari ke-3 :
BMR = 0,75 {0,74 (S-D) + N} -72

= 0,75 {0,74 (100-70) + 88} -72


= 0,75 (22,2 + 88) 72
= 82,65-72
= 10,65%
Perhitungan rata-rata BMR klien :
BMR klien = BMR hari ke-1 + BMR hari ke-2 + BMR hari ke-3
3

= 23,7% + 17,7% + 10,65%


3
= 52,05%
3

= 17,35%
Jadi, laju metabolisme basal pada klien hipertiroid diatas adalah 17,35%.
Laju

metabolismenya

meningkat,

lebih

dari

10%

karena

terjadi

hipermetabolisme akibat hormone tiroid yang berlebih.

DAFTAR PUSTAKA
Krisnasary,

Arie.

2011.

Basal

(http://id.scribd.com/doc/61596832/bmr,

Metabolic
diakses

Rate.

tanggal

01

Desember 2012, jam 11.06)


Weta, I Wayan Dan NL Partiwi Wirasamadi. Kecukupan Zat Gizi Dan
Perubahan Status Gizi Pasien Selama Dirawat Di Rumah Sakit
Umum

Pusat

Sanglah

Denpasar.

(Http://Persagi.Org/Document/Makalah/154_Makalah.Pdf, Diakses
Tanggal 01 Desember 2012, Jam 11.15)