Anda di halaman 1dari 79

MAKALAH

MARAMIS II
Guna memenuhi salah satu tugas mata kuluah Kesehatan Mental
Sri Adi Nurhayati, M.M

Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nurul Azka Munaza


Hazbi Yudianto N.
Iis Nurul Fitriyani
Tri Wulan Ningsih
Winda Lukitasari
Syahrul Aji P.P

1114500094 / 3C
1114500079 / 3D
1114500082 / 3C
1114500031 / 3D
1114500114 / 3D
1114500102 / 3C

YAYASAN PENDIDIKAN PANCASAKTI TEGAL

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
Jalan Halmahera KM. 1 (0283) 357122
2015

KATA PENGANTAR
Pertama dan yang utama, penulis memanjatkan puji dan syukur kepada
Allah Yang Maha Kuasa. Karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah penulis dapat
menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah di tentukan.
Penulis juga sangat berterima kasih kepada pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini, khususnya kepada dosen pengampu mata kuliah,
Sri Adi Nurhayati, M.M. Atas bimbingannya lah penulis dapat menulis makalah
ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Kesehatan Mental. Berharap makalah ini dapat diterima, dan bermanfaat
bagi semuanya saja, tidak hanya kepada penulis tetapi kepada setiap individu yang
membacnya.
Tiada gading yang tak retak. Dari peribahasa itu, penulis menyadari
makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena memiliki banyak kekurangan
baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisan. Oleh sebab itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini bisa memberikan
manfaat bagi penulis dan pembaca.
Tegal, 25 November 2015
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul ...............................................................................................

Kata Pengantar ..............................................................................................

ii

Daftar Isi

.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN

A.
B.
C.
D.

Latar Belakang .....................................................................................


Rumusan Masalah ................................................................................
Tujuan Pembuatan ...............................................................................
Manfaat ................................................................................................

BAB II

PEMBAHASAN

A. Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait


Stres .....................................................................................................
B. Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa ............................
C. Sexualitas Normal dan Abnormal ........................................................
D. Ketergantungan Zat ..............................................................................
E. Retardasi Mental ..................................................................................
F. Gangguan Psikiatik Lain yang Khusus ................................................
G. Fenomena yang Berkaitan dengan Faktor Sosial Budaya Setempat ....
H. Kedaruratan Psikiatrik .........................................................................
I. Pengobatan dalam Ilmu Kedokteran Jiwa ...........................................
J. Psikiatri Anak .......................................................................................
K. Kedokteran Jiwa Masyarakat ...............................................................
L. Psikiatri Geriatrik .................................................................................
BAB III

1
2
2
2

PENUTUP

A. Simpulan ..............................................................................................
B. Saran ....................................................................................................
Daftar Pustaka
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan Mental didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri.
Kesehatan mental adalah sebuah proses yang muncul dan terus berubah
selama kehidupan. Gangguan pada kesehatan mental, akan menyebabkan
terjadinya perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan
berlanjut. Kondisi ini ditandai dengan adanya perubahan dalam berfikir,
perilaku atau suasana hati. Terkait dengan tekanan yang bermakna dan
gangguan fungsi selama jangka waktu tertentu. Gangguan mental yang paling
umum adalah gangguan ansietas dan depresi dimana seseorang mengalami
perasaan ketegangan, ketakutan, atau kesedihan yang kuat dalam waktu
bersamaan. Pada tahap lanjut orang yang menderita salah satu gangguan
mental yang berat bermanifestasi dengan berbagai gejala yang mencakup
kecemasan, yang tidak beralasan, gangguan pikiran, dan persepsi, disregulasi
suasana hati.
Perlu pembelajaran tingkah laku, pencegahan yang dimulai secara
dini untuk mendapatkan hasil yang dituju oleh manusia. Untuk menelusurinya
diperlukan keterbukaan psikis manusia ataupun suatu penelitan secara
langsung atau tidak langsung pada manusia yang mengalami gangguan jiwa.
Pada dasarnya untuk mencapai manusia dalam segala hal diperlukan psikis
yang sehat. Sehingga dapat berjalan menurut tujuan manusia itu diciptakan
secara normal. Mengingat pentingnya persoalan kesehatan mental ini banyak
bidang ilmu khususnya yang mempelajari persoalan perilaku manusia.
Berbagai bidang ilmu seperti dunia kedokteraan, pendidikan , psikologi, studi
agama, dan kesejahteraan sosial. Kesehatan mental seseorang dipengaruhi
oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Yang termasuk faktor internal :
kepribadian , kondisi fisik, perkembangan, kematangan, kondisi psikologis,

keberagaman, sikap menghadapi problema hidup dan keseimbangan dalam


berfikir. Dan yang termasuk faktor eksternal: keadaan ekonomi, budaya, dan
kondisi lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun
lingkungan pendidikan. Dalam mempelajari kesehatan mental terdapat
penyesuian diri antara diri sendiri dengan dirinya sendiri, maupun diri sendiri
dengan orang lainataupun lingkungan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah gangguan-gangguan jiwa yang di alami seseorang?
2. Siapa saja Tokoh yang mengelompokan teori gangguan jiwa?
3. Kapan seseorang bisa mengalami gangguan jiwa?
4. Dimana sajakah penyembuhan gangguan jiwa dilakukan?
5. Mengapa seseorang bisa mengalami gangguan jiwa?
6. Bagaimanakah gangguan jiwa dapat disembuhkan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui gangguan Neurotik, gangguan somatoform, gangguan
terkait stres, gangguan kepribadian, dan gangguan psikiatrik.
2. Untuk mengetahui tokoh yang mengelompokan teori gangguan jiwa
tersebut.
3. Untuk mengetahui kapan seseorang bisa mengalami gangguan jiwa.
4. Untuk mengetahui dimana sajakah penyembuhan gangguan jiwa
dilakukan.
5. Untuk mengetahui mengapa seseorang bisa mengalami gangguan jiwa.
6. Untuk mengetahui pengobatan dalam ilmu kedokteran jiwa.
D. Manfaat
1. Dapat mengetahui dan menangani beberapa gangguan jiwa yang bisa
dialami seseorang.
2. Dapat menambah ilmu dan keakraban bagi seluruh anggota kelompok.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan
Gangguan Terkait Stres
Tiga kelompok besar gangguan jiwa yaitu gangguan
neurotik, gangguan somatoform dan gangguan terkait stres
stres yang saling terkait berdasarkan konsep neurosis dalam
sejarahnya.
Ada juga konsep penggabungan beberapa gangguan,
yaitu gangguan anxietas fobik, gangguan panik, gangguan
anxietas menyeluruh, gangguan campuran anxietas dan
depresi, serta gangguan obsesif-kompulsif, menjadi satu
kelompok gangguan anxietas.
Gangguan anxietas (Latin: angere = tercekik, tercekat)
adalah keadaan tegang yang berlebihan atau tidak pada
tempatnya yang ditandai oleh perasaan khawatir, tidak
menentu,

atau

takut.

Gejala

anxietas

terdiri

dari

dua

komponen, yaitu komponen psikis/mental dan komponen


fisik.
Neurobiologi Anxietas
Ciri dari sindrome anxietas terdiri atas meningkatnya
keterjagaan
simpatetik

(hyperarousal),
dan

perasaan

meningkatnya
subyektif

aktivitas

ketakutan

serta

kecemasan.
Laras saraf asendens yang mengandung noradrenalin
dan 5-hidroksitriptamin menginervasi lobus limbink dan
neokortex. Meningkatnya aktivitas saraf noradrenix akan
menimbulkan meningkatnya keterjagaan; meningkatnya
aktivitas saraf 5-hidroksitriptamin akan meningkatkan
respons terhadap stimulus yang bersifat aversif.
1. Gangguan Anxietas Fobik

Fobia ditandai oleh ketakutan yang mencekam dan


tidak masuk akal. Dibawah adalah beberapa macam fobia:
a. Agorafobia, (Latin: agora = pasar di luar ruangan)
ketakuatan akan tempat atau situasi yang sulit untuk
meloloskan diri atau sulit untuk mendapatkan pertolongan
apabila terjadi serangan cemas.
b. Fobia sosial, adalah ketakutan

akan

diamati

dan

dipermalukan di depan publik. Ini karena rasa malu dan


tidak nyaman yang sangat berlebihan di situasi sosial,
serta bukan karena masalah seperti gagap, jerawat, dan
lainnya.
c. Fobia spesifik (fobia sederhana), adalah ketakutan yang
tidak rasional dengan akan obyek atau situasi tertentu.
Contoh fobia antara lain takut dengan binatang
tertentu, terbang (pterigofebia), ketinggian (akrofobia),
air,

suntikan,

(klaustrofobia),

transportasi

umum,

dokter

(odonsiatofobia).

gigi

tempat

tertutup
Apabila

dihadapkan dengan tersebut maka orang dengan fobia


akan merasakan perasaan panik, berkeringat, berusaha
menghindar sulit untuk bernafas, dan jantung berdebar.
2. Gangguan Panik
Gangguan panik ditandai oleh serangan anxietas
atau teror yang berkala (serangan panik). Berlangsung
15-30 menit, meskipun efek sisa dapat berlangsung lebih
lama. Cirinya penderita merasakan sangat ketakutan atau
tidak nyaman yang disertai jantung berdebar, nyeri dada,
perasaan tercekik, berkeringat, gemetar, mual, pusing,
perasaan yang tidak riil, dann takut mati, atau takut
menjadi gila.
3. Gangguan Anxietas Menyeluruh
Gangguan anxietas menyeluruh

yaitu

adanya

kekhawairan atau anxietas yang kurang lebih konstan

yang

tidak

sebanding

dengan

tingkat

stresor

sesungguhnya dalam kehidupan.


Gejala yang mungkin ditemukan adalah rasa gelisah,
kelelahan,

sulit

berkonsentrasi,

mudah

tersinggung,

ketegangan otot, dan gangguan tidur.


Dibawah ini diagram pembagian gangguan anxietas:

Gangguan
Anxietas kontinyu
Gangguan anxietas menyeluruh

Pada situasi tertentu


Gangguan fobik
Fobia spesifik

4. Gangguan Campuran Anxietas dan Depresif


Gangguan ini adalah penyakit tersendiri dimana
gejalanya didapati dari gejala depresi dan anxietas.
Dengan catatan gejala-gejala depresi maupun anxietas
yang ada tidak memenuhi kriteria diagnosis untuk episode
depresi dan gangguan anxietas.
5. Gangguan Obsesif Kompulsif
Obsesif merupakan suatu idea atau bayangan mental
yang

mendesak

ke

dalam

Bayangan obsesif bisa

pikiran

berupa

secara

berulang.

kekhawatiran sampai

fantasi yang aneh dan menakutkan. Kemudian kompulsif


merupakan dorongan atau impuls yang tidak dapat
ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran

Fobia sosial

obsesif

mengakibatkan

suatu

tindakan

kompulsif.

Contohnya berulang kali memeriksa pintu apakah sudah


terkunci.
Ada beberapa

gangguan

yang

bisa

merupakan

bagian dari, atau dengan kuat dihubungkan dengan,


spektrum GOK (gangguan obsesif-kompulsif):
Gangguan
dismorfik
tubuh
(Body
Dysmorphic
Disorder). Pada gangguan ini orang terobsesi dengan
keyakinan bahwa mereka buruk rupa atau bagian dari
mereka berbentuk tidak normal.
Trikhotilomania. Orang dengan trikhotilomania terus
menerus mencabuti rambut mereka sehingga imbul
daerah botak.
Sindrom Tourettes. Gejala sindrom Touretes meliputi
gerakan yang pendek dan cepat, dan ucapan katakata kotor yang tak terkontrol.
6. Neurastenia
Neurastenia adalah gangguan kelelahan fisik dan
mental disertai nyeri dan keluhan lain, tanpa adanya
penyakit fisik

yang bisa diidentifikasi.. Diagnosisnya

adalaha disebabkan oleh penyakit fisik atau gangguan


depresi dan anxietas. Metode yang dapat digunakan
terapi perilaku kognitif dan peningkatan bertahap aktifitas
fisik.
7. Gangguan Disosiatif (Konversi)
Ciri disosiatif adalah hilangnya fungsi yang tidak
dapat dijelaskan secara medis, seperti fungsi amnesia
( amnesia psikogenik), berjalan-jalan dalam keadaan trans
(fugue), fungsi motorik (paralisis dan pseudoseizure) atau
fungsi sensorik (anestesia sarung tangan dan kaus kaki,
glove

and

dianggap

stocking

terjadi

anaesthenia).

hilangnya

asosiasi

Disosiatif
antara

karena
berbagai

proses mental seperti identitas pribadi dan memori.


Sedangkan

konversi

dikonversikan

karena

menjadi

terselesaikannya

perasaan

gejala-gejala

mental

atau

dan

anxietas

dengan

didapatkan

akibat
seperti

perhatian dari orang lain.


8. Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform

adalah

suatu

kelompok

gangguan yang memiliki gejala fisik (contohnya nyeri,


mual, pusing) dimana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis yang kuat. Ada dua gangguan yang termasuk
kelompok somatoform
9. Hipokondriasis dan Dismorfobia
Hipokondriasis
adalah pasien

yang

mempuyai

preokupasi bahwa ia menderita penyakit medis yang


serius padahal tidak. Gejala yang ditampilkan sering
berupa permintaan pemeriksaan medis yang berulangulang.
Dismorobia
dismorfik

dikenal

tubuh

dengan

(body

Penatalasanaannya

mengikuti

somatoform.

sering

Pasien

istilah

gangguan

dymorphic

disorder).

prinsip

gangguan

meminta

operasi

bedah

kosmetik,yang kadang kala dapat menolong, tetapi sering


malah membawa kepada ketidakpuasan berikutya.
Diagnosis banding kedua gangguan ini adalah
gangguan depresif, yang sering terdapat kekhawatiran
hipokhondrikal dan kekhawatiran terhadap penampilan,
dan gangguan psikotik dengan waham hipokhondrikal
atau halusnasi somatik.
10.

Gangguan Terkait Stres


a. Respons Terhadap Stres

Biasanya terhadap stres, respons yang normal terdiri


atas

tiga

komponen:

1.

respon

emosi

dengan

perubahan somatis yang menyrtainya, 2. Respon


psikologi yang mengurangi dampak pengalaman itu,
dan 3. Cara menanggapi situasi (coping) dan respons
emosi berkaitan dengan itu.
b. Gangguan Stres Akut
Isitilah ini menunjukan reaksi abnormal terhadap stres
yang

mendadak

maximal

satu

menimbulkan
ganggua

berlangsung

bulan.
stres

stres

kebakaran,

dan

Banyak

berat

akut,

dapat

sexual

definisi)

peristiwa

misalnya

penyerangan

(per

yang

menyebabkan
kecakaan

atau

atau

perkosaan,

bencana alam, peperangan atau serangan masal.


c. Gangguan Stres Pascatrauma
Reaksi yang berkepanjangan biasanya teradi menyusul
peristiwa

traumatik

katastrofik

dan

yang

extrem,

menakutkan,

yang

yang

bersifat

menimbulkan

distres pada hampir setiap orang.


d. Gangguan Penyesuaian
Gangguan terjadi dalam satu bulan seteah strsor
psikososial dan berlangsung tidak lebih lama dari
enam bulan setelah stresor tersebut (atau akibatnya)
menghilang,

kecuali

pada

kasus

reaksi

depresi

berkepanjangan.
B. Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa
1. Pengertian Kepribadian
Menurut Kusumanto Setyonegoro, kepribadian adalah ekspresikeluar
dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara obyektif oleh
seseorang. Kemudian menurut lainnya kepribadian adalah perilaku yang
khas seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenal dan dibedakan
dari orang lainkarena pola perilakunya. Sehingga dapat dikatakan
kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam

dirinya dan digunakan olehnya untuk bereaksi serta menyesuaikan diri


terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungan (dunia luar),
maupun yang berasal dari diri sendiri (dunia dalam).
Kepribadian (personality) berbeda dengan watak (character) dan
temperamen (temperament). Watak adalah kepribadian yang dipengaruhi
oleh motivasi yang menggerakan kemauan sehingga orang itu bertindak.
Dan temperamen adalah kepribadian yang lebih tergantung pada keadaan
badani.
Dulu dan sekarang kepribadian dibagi menjadi tipe-tipe. Tipologi
membagi kepribadian yang normal menjadi kelompok-kelompok
tertentu dengan sifat-sifat tertentu pula. Tipologi menurut Carl Gustav
Jung:
Introvert: orang suka memikirkan diri sendiri, banyak fantasi, lekas
merasa bila dikritik, tertutup, menahan ekspresi emosinya, lekas
tersinggung dalam diskusi, suka membesarkan kesalahannya, analisis
dan kritik diri sendiri menjadi buah pikirannya.
Extravert: orang yang melihat pada kenyataan dan keharusan, tidak
lekas merasakan kritik, ekspresi emosinya spontan, dirinya tidak
dituruti dalam alasannya, tidak begitu merasakan kegagalannya, tidak
banyak mengadakan analisis dan kritik diri sendiri.
Sekarang mulai banyak menggambarkan kepribadian menurut sifatsifatnya. Karena lebih obyektif dan Tipologi dipandang terlalu kaku. Sifat
dianggap sebagai suatu dimensi kepribadian dan dapat dinilai (diobservasi
dan diukur besarnya). R.B. Cattel berhasil medapatkan 171 sifat
kepribadian yang merupakan sifat lebih terperinci. Kemudian direduksi
menjadi 35 Kerumunan sifat dan setelah itu dijadikan 12 sifat sumber
utama kepribadian.
2. Patokan Gangguan Kepribadian
Menurut Kurt Schneider seorang dengan gangguan kepribadian
adalah seseorang yang merugikan dirinya sendiri dan/ atau masyarakat
karena sifat-sifat kepribadian yang konstitusional (akibat interaksi badani

dan psikologis atau antara genotipe dan fenotipe, bukan diperoleh sesudah
individu berkembang atau bukan karena stres yang berarti).
3. Berbagai Jenis Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa
Sesuai denga Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa keIII (PPDGJ-III) membagi gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa
menjadi beberapa blok diagnosis, dibawah ini gangguan tersebut dan
cirinya secara singkat:
a. Gangguan Kepribadian Paranoid
Dalam kepribadian paranoid kita menemukan secara berlebihan
kecenderungan yang sudah umum, yaitu suka melemparkan kesalahan
dan tanggung jawab kepada orang lain, menolak sifat-sifat orang lain
yang tidak memenuhi ukuran sendiri.
Penanganannya: bila diminta bantuan untuk orang dengan gangguan
paranoid, maka dalam bimbingan dititik-beratkan pada pengalaman
subyektifnya dalam interaksi dengan dokter dan jangan sering
membantah kecurigaannya.
b. Gangguan Kepribadian Skizoid
Sifat yang dimiliki adalah pemalu, pendiam, suka menyendiri, perasa,
emosi dan tempramen dingin, menghindari hubungan jangka panjang
dengan orang lain.
Penanganannya: psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup,
anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan latihan
dalam mengadakan relasi interpersonal. Nasihat kepada teman/
pasangan/ keluarga bahwa perhatian dan cinta kasih yang terus menerus
mungkin akan menyadarkan.
c. Gangguan Kepribadian Disosial
Pada dasarnya adalah orang yang tidak tersosialisasi. Perilakunya
mengakibatkan konflik dan ia tidak dapat belajar dari pengalamannya,
janjinya tidak sesuai, tidak punya loyalitas dengan kelompok, umumnya
egosentrik, tidak bertanggung jawab, impulsif, tidak mampu mengubah
diri.
Penanganannya: Cari ciri-ciri kepribadian lain, walaupun belum
diketahui pengobatan yang optimal tetapi bisa juga dengan terapi
individual atau terapi kelompok.

10

d. Gangguan Kepribadian Emosional tidak Stabil


Individu memperlihatkan sifat yang lain dari perilaku sehari-hari, yaitu
ledakan amarah dan agresifitas terhadap stres yang kecil. Terdapat dua
jenis:
Gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe impulsif
Gangguan kepribadian emosional tipe ambang (borderline) atau
dapat disebut juga Gaya hidup maladaptif atau gaya hidup tidak
sesuai
e. Gangguan Kepribadian Dependen
Cirinya adalah tidak memiliki gairah untuk menikmati kehidupan,
merasa lelah, lesu, tidak bertenaga dan lemah untuk memulai sesuatu.
Adanya abulia (kekurangan kemauan) dan anhedonia (kekurangan
kemampuan menikmati sesuatu).
Penanganannya, dilakukan manipulasi lingkungan menyesuaikan daya
stresnya, sugesti dan persuasi untuk menambah kemampuannya.
4. Berbagai Jenis Perubahan Kepribadian yang Berlangsung Lama yang tidak
Diakibatkan Oleh Kerusakan atau Penyakit Otak Serta Gangguan Perilaku
Masa Dewasa
Perubahan kepribadian dapat timbul karena dibawah ini:
a. Perubahan Setelah Mengalami Katastrofa
Perubahan kepribadian setelah mengalami katastrofik adalah setelah
mengalami stres yang sangat lama. Dipastikan dari keterangan orangorang terdekat. Gejala-gejala perubahan kepribadian sudah muncul
paling sedikit 2 tahun dan tidak berkaitan dengan gangguan kepribadian
yang sebelumnya atau dengan gangguan jiwa sebelumnya. Gejala
tersebut antara lain sikap bermusuhan atau tidak percaya kepada semua
orang, menarik diri dari kehidupan sosial, perasaan hampa dan putus
asa, terus merasa terancam dan terasingkan.
b. Perubahan Setelah Menderita Gangguan Jiwa
Perubahan ini timbul karena pengalaman stres yang hebat akibat
menderita gangguan jiwa yang berat. Menjadi sangat tergantung, selalu
mengeluh sakit, menjadi pasif, minatnya dan berkurang, afeknya labil.
Gejala ini berlangsung paling sedikit 2 tahun.
C. Sexualitas Normal dan Abnormal
1. Sexualitas Normal

11

Normal bermaksud sehat atau tidak patologis dalam hal fungsi


keseluruhan. Sexualitas adalah perilaku keseluruhan yang menunjukan
laki-laki atau perempuan. Perilaku sexual yang normal adalah yang dapat
menyesuaikan diri baik dengan tuntutan masyarakat, kebutuhan sendiri
dalam

mencapai

kebahagiaan

dan

pertumbuhan,

juga

mencapai

perwujudan diri. Seseorang dikatakan dapat menyesuaikan diri sexual


yang sehat ketika memperoleh pengalaman sexual tanpa rasa takut dan
salah.
Beberapa istilah dalam Sexualitas antara lain: Identitas Sexual
(Sexual Identity), yaitu kesadaran individu akan kelaki-lakian atau
kewanitaan tubuhnya. Biasanya individu sudah sadar sejak umur 3 atau 4
tahun. Identitas Gender (Gender Identity), yaitu kesadaran akan jenis
kelamin kepribadiannya. Perilaku Peran Gender (Gender Role Behavior),
adalah semua yang diucapkan dan dilakukan oleh seseorang yang
menunjukan bahwa dirinya itu pria atau wanita.
a. Perkawinan
Perkawinan merupakan ritual yang menjadikan pria dan wanita
sebagai suami dan istri dengan antisipasi menjadi ayah dan ibu.
Masalah-masalah psikosexual dalam perkawinan: hubungan yang
kurang karena pengaruh orang tua dan media masa, komunikasi yang
tidak baik; munculnya rasa takut pada suami ketika lanjut usia terhadap
mengurangnya kemampuan hubungan sex;
b. Teori Psikosexsual
Teori libido Freud menjelaskan instink sexual dari kanak-kanak
sampai dewasa melalui beberapa fase: oral, anal, falik dan genital.
Respons Faali
Pada pria dan wanita normal terdapat tingkat-tingkat rangsangan sexual
dengan masing-masing tingkat disertai perubahan faali yang khas.
Tingkat 1 (Perangsangan): ditimbulkan oleh rangsangan
psikologis (pikiran, fantasi, kehadiran obyek cinta) atau
rangsangan faali (usapan, ciuman) atau gabungan kedunya.
Terjadi ereksi dan lubrikasi (pelumasan lendir) vagina, puting
tegang, klitoris keras dan membesar serta labia mayora dan
minora menjadi tebal

12

Tingkat 2 (Dataran): Seterusnya tesis menjadi besar 50% dan


terangkat.

Sepertiga

bagian

vagina

mengecil

(panggung

orgasmik). Klitoris terangkat dan masuk kebelakang.


Tingkat 3 (Orgasme): serlanjutnya timbul orgasme pada pria
(mirip reflek bersin) diikuti dengan penyemprotan sperma, dan
pada wanita terjadi kontraksi panggung orgasmik.
Kekuatan nafsu sexual sangat bervariasi menurut umur, sex dan

keadaan individu
Tingkat 4 (Resolusi): dalam fase penyelesaian atau resolusi terjadi
pengaliran darah sehingga badan kembali dalam keadaan istirahat.
Setelah orgasme adanya Periode refrakter (hanya pada pria)
yaitu selama masa ini ia tidak dapat dirangsang untuk orgasme

lagi. Periode ini bertambah panjang dengan bertambahnya usia.


c. Organ Sexual
Pada wanita oragan utama sexual yaitu klitoris, vagina, labia, puting
susu, dan mulut. Dan pada pria organ utama sexual adalah penis, puting
susu, dan mulut.
d. Masturbasi
Masturbasi merupakan kegiatan yang menimbulkan rangsangan dan
kepuasan sexual pada diri sendiri. Hal ini biasanya adalah hal yang
normal sebelum perilaku heterosexual (hubungan dengan lawan jenis).
Merangsang diri sangat biasa pada masa kanak-kanak. Kemudian pada
masa pubertas masturbasi mulai bertambah banyak. Masturbasi menjadi
patologis bila dilakukan secara kompulsif, sehingga dapat dikatakan
gejala gangguan jiwa yaitu karena obsesif-kompulsif (tepikiran terus
dan terdorong).
2. Sexualitas Abnormal
Dorongan sexualitas memiliki dua aspek, yaitu aspek daya
(kemampuan) dan aspek arah (tujuan). Pada kedua aspek tersebut dapat
terjadi gangguan misalnya homosexual (gangguan arah-tujuan) dan
gangguan hipersexual (gangguan daya-kemampuan).
a. Disfungsi Sexual
Disfungsi bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit
organik. Fungsi sexual pria dan wanita dipengaruhi oleh faktor
psikologis (sadar atau tidak), fisiologis (neurologis, endoktrin, umur),

13

serta faktor sosial budaya (pendidikan, pendapatan, adat-istiadat).


Pembagian disfungsi sexual menurut PPDGJ-III sebagai berikut:
Kurang atau hilang nafsu sexual
Salah satu contohnya yaitu Frigiditas atau anestesia sexual,
berbagai kelainan sexual yang berhubungan dengan hambatan
respons sexual wanita. Penyebabnya antara lain takut hamil,
penolakan suami, takut padanya, cemburu, iri hati atau bermusuhan
dengan pria. Penanganannya pertama dicari penyebanya dan
melakukan psikoterapi suportif.
Penolakan dan kurangnya kenikmatan sexual
Dikarenakan perasaan negatif akan interaksi sexual dan juga karena
kurangnya kenikmatan sexual (orgasme terjadi tetapi kenikmatan
kurang memadai).
Kegagalan dari respons genital
Pada pria (disfungsi ereksi/ impotensi) dan pada wanita (vagina
yang kering, kurangnya pelicinan atau lubrication). Penyebab
disfungsi ereksi bisa faktor organik (penyakit, malnutrisi, dsb) dan
faktor psikologis (kurang pengalaman, gangguan identitas sexual,
identitas gender dan preferensi sexual). Pengobatannya: bila
disfungsi sekunder (dahulu normal) maka telurusi dan atasi
penyebabnya, dan bila karena psikogenik maka dengan psikoterapi
dan manipulasi lingkungan.
Disfungsi orgasme
Tidak dapat mencapai orgasme atau sangat terlambat, termasuk
anorgasmi psikogenik (Psycogenic anorgasmy).
Ejakulasi dini
Adalah pencapaian orgasme dan ejakulasi terlampau lekas atau
sebelum

dikehendaki.

Pengobatannya

dengan

menghambat

komponen psikologis, mengurangi komponen taktil penis dan


mengubah nilai-nilai ambang kepekaan.
Vaginismus non-organik
Terjadinya spasme otot-otot vaginajuga pada otot lingkar bagian
depan vagina, sehingga vagina tertutup.
Dispareunia non-organik

14

Yaitu nyeri pada saat hubungan sexual pada wanita ataupun pria
dan tidak ada kelainan sexual primer (misal kurang pelicin).
Dorongan sexual yang berlebihan (hipersexualitas)
Biasanya pada akhir masa remaja atau dewasa muda. Terjadi
karena gangguan primer (gangguan afektif atau dimensia).
Dikatakan gangguan yaitu menggunakan patokan adanya keluhan
dari pasangannya. Pengobatannya dengan pemberian etilestradiol
dan progresteron, dan spikoterapi suportif, penerangan, bimbingan
dan penyuluhan.
Disfungsi sexual lainnya, bukan disebabkan oleh gangguan atau
penyakit organik
Disfungsi sexual YTT (yang tidak tergolongkan), bukan disebabkan
oleh gangguan atau penyakit organik.
b. Gangguan Identitas Jenis Kelamin
Menurut PPDGJ-III adalah sebagai berikut:
Transexualisme
Yaitu perasaan risih dengan jenis kelamin anatomisnya dan
menolaknya, adanya rasa ingin membedah sesuai dengan
keinginannya.
Transvestisme peran ganda
Perilaku meniru lawan jenisnya yaitu dengan mengenakan pakaian
lawan jenisnya, tanpa ada rasa untuk merubah genitalianya.
Gangguan identitas jenis kelamin masa kanak
Gangguan ini sudah tampak sebelum pubertas, yaitu keyakinan
kuat atau keinginan mendalam untuk menjadi jenis kelamin lawan
jenisnya.
Gangguan identitas jenis kelamin lainnya
Gangguan identitas jenis kelamin YTT
c. Gangguan Preferensi Sexual
Gangguan Preferensi adalah gangguan arah tujuan sexual.
PPDGJ-III membagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:
Fethisisme
Keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan sexual
terutama dengan memakai (atau memiliki) sebagai pengganti objek
sexual sebuah benda yang khas di pakai oleh orang dengan sex

15

yang lain , misalnya sepatu , pakaian dalam , kaos kaki , rambut


dan lain-lain
Transvestisme fetishistik
Keadaan seseorang yang mencari rangsangan dan pemuasan sexual
terutama dengan memakai pakaian dan berperan sebagai seorang
dari sex yang berlainan
Exibisionisme
Cara utama untuk mencapai rangsangan dan pemuasan sexual ,
seorang exhibisionis memperlihatkan genitalianya di depan umum
(kepada orang lain)
Voyeurisme
Keadaan seseorang yang mengamati tindakan sexual atau
ketelanjangan (orang lain) sebagai cara utama untuk memperoleh
rangsangan dan pemuasan sexual
Pedofilia
Untuk mencapai rangsangan dan pemuasan sexual,seorang pedofil
memakai sebagai objek terutama seorang anak dari sex yang sama
atau berlainan
Sadomasokisme
Seorang sadis mencapai rangsangan dan pemuasan sexual terutama
dengan

menyakiti

(secara

fisik

dan

psikologis)

objek

sexualnya,seorang masokis bila di sakiti oleh objek sexualnya


Gangguan preferensi sexual multipel
Gangguan preferensi sexual lainnya
Bestialitas atau sodomi (dengan binatang) nekrofilia (hubungan sex
dengan mayat froteurisme atau friksionisme (menggosokan penis
pada pantat / badan wanita yang berpakaian , di tempat yang penuh
sesak manusia ) koprofilia ( di defekasi / mendefekasi partner atau
memakan fases untuk memperoleh rangsangan dan pemuasan
sexual) urolagnia (dengan urine)
Gangguan preferensi sexual YTT
D. Ketergantungan Zat

16

Ketergantungan zat/obat telah menjadi masalah yang


besar, komplex dan sukar di berbagai negara misalnya
Amerika

Serikat,

Inggris,

Belanda,

Thailand,

Jepang.

Walaupun di Indonesia masalah ini masih relatif kecil


dibandingkan dengan negara-negara tersebut itu, namun
pemerintah

telah

mengambil

kebijaksanaan

membentuk

badan-badan resmi khusus untuk menangani masalah ini,


supaya jangan sampai meluas seperti di negara lain. Pihak
swasta pun bersama pemerintah mengambil bagian dalam
pemecahan masalah ketergantungan obat, terutama dalam
bidang penerangan dan pengobatan intoxikasi.
Karena itu kita harus mengetahui paling sedikit beberapa
hal pokok yang berhubungan dengan ketergantungan obat,
agar kita dapat turut berperan serta dalam pemecahan
masalah

ini,

dan

juga

menolong

penderita-penderita

ketergantungan obat, terlebih karena memang sakit dan


sebagian besar mereka anak-anak muda.
Dibawah ini kita akan membicarakan beberapa istilah
teknis, sebab-musabab ketergantungan obat, gejala-gejala
intoxikasi dan lepas-obat (abstinensi), serta penanganan
masalah tersebut.
1. Pengertian Ketergantungan Obat
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan
Jiwa

ke-3

(PPDGJ-3)

ketergantungan
penggunaan

zat

dan

untuk

mutlak
kebutuhan

menegakkan
diperlukan
yang

diagnosis

bukti

terus

adanya

menerus.

Terdapatnya gejala abstinensi bukan satu-satunya bukti


dan juga tidak selalu ada, misalnya pada penghentian
pemakaian kokain dan ganja (marihuana). Obat yang

17

diberikan oleh dokter tidak termasuk dalam pengertian ini


selama penggunaan obat tersebut berindikasi medis.
Istilah ketergantungan zat mempunyai arti yang lebih
luas dari pada istilah ketagihan atau adiksi obat. expert
Comitte in drugs liable to produce addiction (Panitia Ahli
tentang

obat-obat

menimbulkan

yang

ketagihan)

besar

WHO

kemungkinannya

menyarankan

definisi

ketagihan sebagai berikut :


Ketagihan zat ialah suatu keadaan keracunan yang
periodik atau menahun, yang merugikan individu sendiri
dan masyarakat dan yang disebabkan oleh penggunaan
suatu zat (asli atau sinetik) yang berulang-ulang dengan
ciri-ciri sebagai berikut, yaitu adanya :

Keinginan atau kebutuhan yang luar biasa untuk


meneruskan

penggunaan

obat

itu

dan

usaha

mendapatkannya dengan segala cara;


Kecenderungan menaikkan dosis;
Ketergantungan psikologis (emosional) dan kadangkadang juga ketergantungan fisik pada zat itu.
Faktor

kepribadian

seseorang

cenderung

memengaruhi apakah ia akan tergantung pada suatu obat


atau tidak. Orang yang merasa tidak mantap serta
mempunyai sifat tergantung dan pasif lebih cenderung
menjadi ketergantungan pada obat.
2. Berbagai Jenis Ketergantungan Zat
Obat (drug atau farmakon) didefinisi oleh WHO
sebagai semua zat yang bila dimasukkan ke dalam tubuh
suatu makhluk, akan mengubah atau memengaruhi satu
atau lebih fungsi faali makhluk tersebut. Dalam masalah
ketergantungan obat, biasanya yang dimaksud dengan

18

obat ialah : zat dengan efek yang besar terhadap susunan


saraf pusat atau fungsi mental, seperti obat psikotropik,
termasuk obat psikotomimetik (psikedelik) dan stimulansia,
morfin dan derivatnya serta obat tidur. Opioid ialah
semua zat, asli atau sintetik, yang mempunyai efek seperti
morfin. Narkotika sebenarnya secara farmakologis berarti
obat-obat yang menekan susunan saraf pusat, terutama
opioid; tetapi kemudian ada yang hendak memasukkan
juga tranqulaizer, neropletika dan hipnotika ke dalam
kelompok narkotika. Menurut peraturan kita di Indonesia,
dalam narkotika termasuk juga kokain dan psikomimetika
(ganja).
Opioid
Yang terkenal ialah opium, morfin, heroin, kodein
dan petidin. Efek satu dosis tunggal morfin atau opioid
yang

lain

individu

ternyata

dengan

tergantung

obat

tersebut

pada

pengalaman

sebelumnya,

pada

kepribadiannya, adanya atau tidak adanya rasa nyeri


serta tergantung pula pada keadaan dan suasana
pemakaian.

Jika

seseorang

baru

pertama

kali

memakainya dan tidak ada rasa nyeri, maka morfin


sering mengakibatkan disforia karena rasa mual, mabuk
dan pikiran berkabut. Jika ada rasa nyeri, maka terjadi
efori negatif karena rasa nyeri itu hilang.
Semoga ini merupakan gejala-gejala intoxikasi
akut. Jika seseorang pernah memakai morfin, maka satu
dosis dapat menimbulkan efori positif padanya (rasa
senang luar biasa). Ada yang melaporkan perasaan
mirip orgasme, tetapi bertempat di perut. Keinginan

19

sexsual tidak bertambah, walaupun potensi dapat


bertambah karena orgasme tertunda.
Efek yang lain morfin dosis tunggal, bagaimana
pun cara pemberiannya, ialah miosis pupil, pernafasan
dan denyutan jantung menjadi pelan, suhu badan
menurun sedikit dan spasme sfinkter-sfinkter otot
polos. Pada umumnya efek satu dosis tunggal morfin
mencapai puncak kira-kira 20 menit sesudah suntikan
intravena dan 1 jam sesudah suntikan subkutan serta
berlangsung terus dengan efek makin lama makin
kurang selama 4-6 jam. Sesudahnya dapat timbul
perasaan kecewa.
Dosisi letal minimal morfin buat manusia belum
diketahui,

walaupun

pernah

dilaporkan

kematian

dengan 60 mg, tetapi orang yang ketaighan rata-rata


memakai 600 samapi 1200 mg sehari.
Dengan morfin terjadi toleransi sampai pada dosis
yang

tinggi.

Pada

intoxikasi

menahun

penderita

biasanya dalam keadaan disforik, ia cemas dan penuh


rasa salah.
Gejala lepas-obat pada adiksi morfin ialah rinorea,
sering menguap, buku roma berdiri dan kegelisahan,
yang

dimulai

12-16

jam

sesudah

dosis

terakhir.

Kemudian timbul rasa nyeri dan tarikan otot, sakit


perut, muntah-muntah, diare, hipertensi, insomnia,
anorexia, agitasi dan banyak sekali keringat.
Sindrom ini bersama dengan perubahan perilaku
yang beraneka ragam, mencapai puncak pada hari ke-2
atau ke-3 sesudah dosis morfin terakhir. Kemudian
gejala-gejala

cepat

berkurang

dalam

minggu

berikutnya, tetapi suatu keadaan yang stabil mungkin


baru dicapai sesudah 6 bulan atau lebih lama.

20

Sindrom

abstinensi

dapat

dicetuskan

dengan

suntikan N-alilnor-morfin (Nalline), suatu antagonis


morfin. Sesudah suntikan 3 mg, gejala-gejala lepas obat
mulai timbul dalam waktu 20 menit pada penderita
yang memakai 60 mg atau lebih sehari.
Untuk diagnosis perlu dicari bekas-bekas suntikan,
cacat

yang

kebiru-biruan

pada

vena.

Miosis

dan

mengantuk menunjukkan bahwa penderita masih di


bawah pengaruh opioid. Dalam waktu 24 jam setelah
pemakaiannya, opioid dalam urine dengan tes kimia
atau kromatografis.
Dexotikasi dapat dilakukan dengan mengurangi
dosis

morfin

secara

perlahan-lahan

atau

dengan

substitusi metadon, bila perlu dapat diberi nerolepika


untuk meringankan gejala-gejala lepas obat.
Non-opioid (non-narkotika)
Bermacam-macam
obat

non-narkotika

dapat

menimbulkan ketergantungan obat dan seperti pada


opioid, tergantung juga pada interaksi faktor-faktor
kepribadian, sosio budaya, fisik serta efek obat, mudahsukarnya

obat

itu

diperoleh

dan

kesempatan

pemakaiannya.
Yang sering dipakai ialah : barbiturat, bromida,
paraldehid,

tranquilaizer

(memprobamat,

klordiazepoxid), obat tidur (hipnotika), ganja (marihuana,


hasish),

kokain,

obat

halusinogenik

atau

psikedelik

(LSD=lysergic acid diethylamide, meskalin, psilobin)


dan amfetamin.
Alkoholisme dan Psikosis Alkoholik
Alkoholisme merupakan suatu gangguan perilaku
yang

menahun,

yang

21

menjadi

manifes

dengan

preokupasi tentang alkohol serta pemakaiannya dan


yang

mengganggu

Lingkungan

kesehatan

sosialpun

fisik

terganggu

dan

mental.

karenanya,

paling

sedikit keluarga penderita. Orang dengan alkoholisme


kehilangan pengawasan diri bila mulai minum. Ia juga
menunjukkan sikap yang merusak diri sendiri dalam
menghadapi hubungan antar manusia dan keadaan
hidupnya.
Di Indonesia
dibandingkan

alkoholisme

hanya

sedikit

sekali

di negara Eropa dan Amerika Utara. Di

negara kita lebih sering terdapat intoxikasi alkohol akut.


Intoxikasi alkohol ialah keadaan dengan gangguan
koordinasi, cara bicara yang terganggu dan perilaku
yang berubah karena alkohol itu. Minum episodik
secara berlebihan (episodic excessive drinking) ialah
bila terdapat alkoholisme dan individu itu mengalami
intoxikasi kira-kira empat kali setahun.
minum

secara

berlebihan

(habitual

Kebiasaan
excessive

drinking) ialah keadaan dengan intoxikasi lebih dari 12


kali setahun atau bila individu jelas di bawah pengaruh
alkohol

lebih

dari

satu

kali

seminggu.

Ketagihan

alkohol didiagnosis bila terdapat bukti bahwa penderita


itu tergantung pada alkohol, yang berarti bahwa terjadi
gejala-gejala abstinensi bila ia berhenti minum alkohol
atau ia minum berlebihan selama 3 bulan atau lebih
secara terus menerus.
Psikosis alkoholik timbul dalam berbagai bentuk.
Intoxikasi alkohol akut ialah psikosa karena sindrom
otak organik berhubungan dengan alkohol (lain dari pada
mabuk biasa). Deteriorasi alkoholik ialah sindrom itak
organik

menahun

dengan

22

gangguan

ingatan

dan

penilaian, serta disorientasi dengan amnesia total yang


timbul pada individu dengan alkoholisme menahun.
Intoxikasi patologis mulai secara tiba-tiba, kesadaran
menurun, penderita bingung dan gelisah serta terdapat
disorientasi, ilusi, halusinasi optik dan waham. Delirium
Tremens terjadi sesudah periode minum yang lama dan
berlebihan lalu dihentikan (jarang dibawah umur 30
tahun dan biasanya sesudah 3-5 tahun alkoholisme yang
berat). Terdapat kegelisahan, tremor, gangguan tidur,
ilusi, halusinasi visual, taktil dan pendiuman.
E. Retardasi Mental
1. Pengertian Dan Penyebab Retardasi Mental
Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi
yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak
lahir

atau

sejak

masa

anak).

Biasanya

terdapat

perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan


(seperti juga pada demensia), tetapi gejala utama (yang
menonjol) ialah intelegensi yang terkebelakang. Retardasi
mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit
dan fren = jiwa) atau una mental.
Penyebab retardasi mental mungkin faktor keturunan
(retardasi mental genetik), mungkin juga tidak diketahui
(retardasi mental simplex). Kedua-duanya ini dinamakan
juga retardasi mental primer. Retardasi mental sekunder
disebabkan faktor-faktor dari luar yang diketahui dan
faktor-faktor ini memengaruhi otak mungkin pada waktu
pranatal, perinatal atau postnatal.
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa ke-1
(PPDGJ-1) memerikan subkategori-subkategori klinis atau

23

keadaan-keadaan yang sering disertai retardasi mental


sebagai berikut :
a. Akibat Infeksi dan/atau Intoxikasi
Dalam kelompok ini termasuk keadaan retardasi
mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi
infrakranial, karena serum, obat atau toxik lainnya.
Beberapa contoh adalah :
-

Parotitis epidemika, rubela, sifilis dan toxoplasmosis

kongenital.
Ensefalopatia karena infeksi postanal.
Ensefalopatia karena toxemia gravidarum atau karena

intoxikasi lain.
Ensefalopatia bilirubin (Kernicterus).
Ensefalopatia post-imunisasi.

b. Akibat Rudapaksa dan/atau Sebab Fisik Lain


Rudapaksa : rudapkasa sebelum lahir serta juga
trauma lain, seperti sinar-X, bahan kontrasepsi dan
usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan
dengan retardasi mental. Rudapkasa kepada sesudah
lahir

tidak

begitu

sering

mengakibatkan

retardasi

mental.
Pada waktu lahir (perinatal kepala dapat mengalami
tekanan sehingga timbul perdarahan di dalam otak.
Mungkin juga terjadi kekurangan O2 (asfixia neonatum)
yang terjadi pada 1/5 dari semua kelahiran. Hal ini dapat
terjadi karena aspirasi lendir, aspirasi liquor amnii,
anestesia iobu dan prematuritas. Bila kekurangan zat
asam berlangsung terlalu lama maka akan terjadi
degenerasi sel-sel kortex yang kelak mengakibatkan
retardasi mental.
PPDGJ-1 menyebutkan :
-

Ensefalopatia karena kerusakan pranatal

24

Ensefalopatia karena kerusakan pada waktu lahir


Ensefalopatia karena kerusakan postnatal

c. Akibat Gangguan Metabolisme, Pertumbuhan Atau Gizi


Semua retardasi mental yang langsung disebabkan
oleh

gangguan

metabolisme

metabolisme

zat

lipida,

(misalnya

karbohidrat

gangguan

dan

protein),

pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini.


Ternyata bahwa gangguan gizi yang berat dan yang
berlangsung

lama

sebelum

umur

mempengaruhi

perkembangan

mengakibatkan

retardasi

tahun

sangat

otak

dan

dapat

Keadaan

dapat

mental.

diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6


tahun, sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan
makanan yang bergizi, inteligensi yang rendah itu sudah
sukar ditingkatkan.
Beberapa

contoh

keadaan

yang

sering

mengakibatkan retardasi mental dalam subkategori ini


ialah :
-

Lipidosis otak infantil (penyakit Tay-Sach)


Histiositosis lipidum jenis keratin (penyakit Gaucher)
Histiositosis lipidum jenis fosfatid (penyakit Niemann-

Pick)
Fenilketonuria : Diturunkan melalui suatu gen yang
resesif
Pada

fenilketonuria tidak

terdapat enzim yang

memecahkan fenilalanin sehingga timbul keracunan


neuron-neuron dengan zat itu. Retardasi mental akibat
ini

sekarang

dapat

dicegah

dengan

mengandung sedikit sekali fenilalanin.


d. Akibat Penyakit Otak yang Nyata

25

diet

yang

Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental


akibat neoplasma (tidak termasuk tumbuhan sekunder
karena rudapaksa atau keradangan) dan beberapa reaksi
sel-sel yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul
etiologinya (diduga herediter atau familial). Reaksi sel-sel
otak (reaksi struktural) ini dapat bersifat degeneratif,
infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif,
Misalnya :
-

Neofibromatosis (penyakit von Recklinghausen)


Angiomantosis otak trigemini (penyakit Sturge-

Weber-Dimitri)
Siklerosis tuberosis (Epiloia, penyakit Bournville)
Siklerosis spinal (ataxia Friedreich)

e. Akibat Penyakit/Pengaruh, Pranatal yang Tidak Jelas


Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum
lahir,

tetapi

tidak

diketahui

etiologinya,

termasuk

anomali kranial primer dan defek kongenital yang tidak


diketahui sebabnya.
-

Anensefali dan hemi-ensefali


Kelainan Pembentukan giri
Porensefali kongenital
Kraniostenosis
Hidorsefalus kongenital
Hipertelorisme
Makrosefali (Megalensefali)
Mikrorsefali primer
Sindrom Laurence-Moon-Biedl

f. Akibat Kelainan Kromosom


Kelainan

kromosom

mungkin

terdapat

dalam

jumlahnya atau dalam bentuknya.


Kelainan dalam jumlah kromosom : Sindrom Down
atau Langton-Down atau mongolisme (trisomi otomosal
atau trisomi kromosom 21)

26

Kelainan dalam bentuk kromosom : Cri du Chat :


tidak

terdapat

cabang

pendek

pada

kromosom

5.

Cabang pendek pada kromosom 18, tidak terdapat.


g. Akibat Prematuritas
Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental yang
berhubungan dengan keadaan bayi yang pada waktu
lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau
dengan masa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak
terdapat sebab-sebab lain seperti dalam subkategori
sebelum ini.
h. Akibat Gangguan Jiwa yang Berat
Retardasi mental mungkin juga suatu gangguan jiwa
yang berat dalam masa anak-anak. Untuk membuat
diagnosis ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang
berat dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.
Penderita

sikozofrenia

residual

dengan

deteriorasi

mental tidak termasuk dalam kelompok ini.


2. Tingkat-Tingkat Retardasi Mental
Hasil-hasil

integensi

(HI

atau

IQ

Intelligence

quotient) bukanlah merupakan satu-satunya patokan yang


dapat dipakai untuk menentukan berat-ringannya retardasi
mental. Sebagai kriteria dapat dipakai juga kemampuan
untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja
(vokasional). Pembagian tingkat-tingkat intelegensi
Tingkat-tingkat retardasi mental dalam PPDGJ-1 dibagi
menjadi :
-

Retardasi mental taraf perbatasan


Retardasi mental ringan
Retardasi mental sednag

27

Retardasi mental berat


Retardasi mental sangat berat

3. Penanganan Masalah Retardasi Mental


Ternyata bahwa banyak penderita retardasi mental
taraf

perbatasan,

ringan,

bahkan

yang

berat,

dapat

mengalami perkembangan kepribadian yang normal seperti


orang dengan inteligensi normal. Sebagian besar jumlah
penderita

retardasi

penyesuaian

sosial

mental
dan

dapat

mengembangkan

vokasional

yang

baik

serta

kemampuan hubunan dan kasih-sayang antar manusia


yang wajar bila terdapat lingkungan keluarga yang mau
memahaminya dan memberi semangat kepadanya secara
memadai serta fasilitas pendidikan dan latihan vokasional
yang tepat.

a. Faktor-faktor

yang

Memengaruhi

Perkembangan

Kepribadian
Seorang

dengan

retardasi

mental,

karena

keadaannya, sepanjang hidupnya menghadapi lebih


banyak risiko dari pada orang yang normal. Risiko ini
rupanya bertambah sesuai dengan berarnya retardasi
mental.
Karena
juga

keterbelakangan

perkembangan

intelegensinya

hidup

emosi

terdapat

yang

dapat

memengaruhi hubungan antar manusia. Bila di dalam


keluarga

terdapat

ketidakmampuan

anak
untuk

lain

yang

bersaing

pandai,

dapat

maka

merupakan

trauma baginya. Bila orang tua tidak mengetahui bahwa


anak

mereka

ketidaktahuan

menderita
atau

retardasi

karena

28

mental

mekanisme

(karena

pembelaan

penyangkalan), maka harapan atau tuntutan mengenai


perilaku normal akan menyebabkan frustasi yang dapat
mengakibatkan

ketegangan,

kebinguangan

atau

kerenggangan hubungan antara orang tua dan anak.


Sikap umum masyarakat terhadap retardasi mental
sangat memengaruhi reaksi orang tua terhadap adanya
anak dengan retardasi mental dalam keluarga mereka.
Masyarakat

dengan

teknologi

tinggi

yang

mengutamakan pendidikan dan kemampuan intelektual,


tidak begitu toleran terhadap penderita retardasi mental
dibandingkan dengan masyarakat dengan teknologi yang
lebih rendah. Bila anak dengan retardasi mental menjadi
lebih besar, maka diterimanya dia oleh anak-anak yang
lain dipengaruhi oleh sikap, toleransi dan emosi pribadi
orang tua anak-anak itu terhadap dengan retardasi
mental.
b. Diagnosis dan Diagnosis Banding
Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat,
perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti
mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan
anak.

Bila

mungkin

dilakukan

juga

pemeriksaan

psikologis. Bila perlu diperiksa juga di laboratorium,


diadakan evaluasi pendengaran dan bicara. Observasi
psikiatrik

dikerjakan

untuk

mengetahui

adanya

gangguan psikiatrik di samping retardasi mental.


Diagnosis banding ialah : anak-anak dari keluarga
yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang
berat

(retardasi

mental

ini

reversibel

bila

diberi

rangsangan yang baik secara dini). Kadang-kadang anak

29

dengan gangguan pendengaran atau penglihatan dikira


menderita retardasi mental. Mungkin juga gangguan
bicara dan cerebral palsy membuat anak kelihatan
terbelakang, biarpun inteligensinya normal. Gangguan
emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga
dikira anak itu bodoh. Early infantile Autism dan
skizofrenia anak juga sering menunjukkan gejala yang
mirip retardasi mental.
c. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan

primer

dapat

dilakukan

dengan

pendidikan kesehatan pada masyarakat perbaikan sosioekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran
(misalnya perawatan prenatal yang baik, pertolongan
persalinan yang baik, kehamilan pada wanita adolesen
dan

di

atas

keradangan

40

tahun

otak

pada

dikuragi

dan

anak-anak).

pencegahan
Tiap

usaha

mempunyai cara sendiri untuk berbagai aspeknya.


Pencegahan

sekunder

meliputi

diagnosis

dan

pengobatan dini keradangan otak, perdarahan subdural,


kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat,
dapat dibuka dengan kraniotomi, pada mikrosefali yang
kongenital, operasi tidak menolong).
Pencegahan

tersier

merupakan

pendidikan

penderita atau latihan khusus sebaiknya di sekolah luar


biasa, dapat diberi neuroleptika kepada yang gelisah,
hiperaktif atau destruktif. Amfematimine dan kadangkadang

juga

antihistamin

hiperkinesa.

Barbiturat

menimbulkan

efek

berguna

juga

kadang-kadang

paradoxal

dengan

pada
dapat

menambah

kegelisahan dan ketegangan. Dapat dicoba juga obat-

30

obat yang meperbaiki mikrosirkulasi di otak (membuat


masuknya zat asam dan makanan dari darah ke sel-sel
otak lebih mudah) atau yang langsung memperbaiki
metabolisme sel-sel otak, akan tetapi hasilnya, kalau
ada, tidak segera dapat dilihat.
Konseling pada orang tua dilakukan secara fleksibel
dan pragmatis dengan tujuan antara lain membantu
mereka

dalam

mengatasi

frustasi

oleh

karena

mempunyai anak dengan retardasi mental. Mereka


sering

perlu

ditenangkan

dan

sekaligus

dianjurkan

dengan mengatakan bahwa bukanlah salah mereka anak


ini menderita retardasi mental, tetapi adalah salah bila
mereka tidak mau berusaha untuk mengatasi keadaan
anak itu. Karena orang tua sering menghendaki anak itu
diberi obat, dapat diberi penerangan bahwa sampai
sekarang

belum

ada

obat

yang

dapat

membantu

pertukaran zat (metabolisme) sel-sel otak, akan tetapi


biarpun anak itu menelan obat semacam itu banyak dan
lama sekali (tidak mengganggu badan), ia tidak akan
maju

kalau

ia

tidak

belajar

melalui

latihan

dan

pendidikan.

F. Gangguan Psikiatrik Lain Yang Khusus


Pada umumnya gangguan ini terdapat baik pada anak-anak maupun
pada orang dewasa antara lain:
1. Gangguan Tidur
Salah satu keluhan yang sering di dengar dalam praktek kedokteran
ialah insomnia atau kesukaran tidur. Insomnia biasanya timbul sebagai
gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya, seperti kecemasan dan
depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.

31

Untuk insomnia ringan tidak perlu diberi obat, tetapi cukup dengan
penjaminan kembali. Insomnia yang berat biasanya merupakan gejala
gangguan yang lain atau dapat merupakan faktor penyebab (misalnya
kelemahan badan, tremor, berkurangnya konsentrasi) atau faktor pencetus
karena stres yang ditimbulkannya (misalnya gejala-gejala skizofrenia
mungkin timbul lagi atau kecemasan).

Inasomni pada pagi-pagi sekali (penderita tertidur biasa, tetapi


terbangun pukul 02.- atau 03.- lalu tidak dapat tertidur lagi) biasanya
merupakan gejala depresi endogenik. Kesukaran untuk memulai tidur
biasanya terdapat pada nerosa (depresi atau cemas). Terdapat juga

pasien yang takut tertidur karena takut mimpi-mimpi buruk.


Pengobatan ialah menemtramkan penderita dan mengobati gangguan
yang mendasarinya. Bila tidak terdapat gangguan yang mendasarinya,
maka dilakukakan psikoterapi suportif dibantu dengan obat tidur bila

perlu untuk mengembalikan ritme tidur penderita.


Pavor nokturnus terdapat pada anak-anak kecil. Dalam tidur anak itu
mendadak duduk dan berteriak ketakutan karena mimpi yang
menyeramkan. Biasanya episode ini singkat saja dan anak kembali

tidur. Esok harinya sering ia tidak ingat tentang kejadian itu.


Mimpi buruk hal ini lebih ringan dari pavor nokturnus dan terjadi
sewaktu tidur REM pada anak-anak dan orang dewasa. Karena mimpimimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat

mengakibatkan insomnia.
Hipersomnia sering merupakan gejala suatu nerosa yang berat. Dapat
dikatakan bahwa penderita menarik diri dalam tidur agar tidak
menghadapi secara sadar pengalaman-pengalaman yang menyakitkan.
Sering kebiasaan tidur menjadi terbalik: penderita tidur nyenyak
sepanjang pagi, perlahan-lahan terbangun pada sore hari dan tidak

mengantuk sewaktu orang lain pergi tidur.


Somnolensi ialah rasa mengantuk yang abnormal. Biasanya terjadi
pada keadaan keracunan, keradangan otak, tumor otak yang menekan
dasar vertikal ke-3 dan pada gangguan metabolisme.

32

Berjalan dalam tidur dan bicara dalam tidur cenderung untuk menjadi
sewaktu tidur non-REM fase 4 tidak lama sesudah tidur. Hal ini dapat
dimulai pada anak-anak dan dapat berlangsung terus sampai dewasa
serta dapat dianggap normal sebagai manisfestasi kekurang-matangan

susunan saraf pusat.


Narkolepsi idiopatik ialah keadaan dengan serangan-serangan
perasaan mengantuk yang tidak dapat ditahan dan biasanya terdapat
bersama kataplexsi, kelumpuhan tidur atau halusinasi hipnagogik.
Kataplexsi (tiba-tiba otot-otot seluruh badan akan terbangun) dan
paralisis tidur (perasaan tidak dapat bergerak sewaktu akan terbangun).
Halusinasi

hipnagogik

merupakan

mimpi

yang

hidup

yang

berhubungan dengan tidur REM sehingga menyerupai halusinasi dan


terjadi ketika individu akan tidur. Kelainan yang didapati adalah
timbulnya tidur REM pada permulaan tidur (yang tidak terjadi pada
orang yang tidur normal).
Tabel gangguan tidur.
GANGGUAN

GEJALA KLINIS

Gangguan Tidur Primer


Kataplexsi
Pengurangan tau

GEJALA EEG

Tidur yang

kehilangan tonus otot

mengikutinya

secara tiba-tiba, sering

langsung masuk ke

menyeluru. Dapat di

dalam REM.

PENGOBATAN

Imipramin

timbulkan oleh
tertawa, amarah atau
sesuatu yang tidak
terduga. Otot mata
tidak terkena. Jika
penderita sedang
berbaring maka dapat
Hipersomnia

diikuti dengan tidur.


Tidur berlebihan

EEG tidur yang

Pengobatan

Menahun

waktu malam atau

normal

gangguan yang

33

siang hari. Tidak

menyertainya

terdapat gejala-gejala

bila ada.

narkolepsi.
Kebingungan sesudah
tidur. Kecepatan
jatung dan pernapasan
bertambah. Mungkin
terdapat depresi.
Dapat terjadi bersama
kerusakan saraf pusat.
Tidak mampu tertidur

Waktu yang lama

Obat tidur dan

atau sukar untuk tidur

baru terbangun

pengobatan

terus. Termasuk

tertidur. Wakyu tidur

yang

bangun pagi-pagi

yang pendek.

membantu.

buta. Sebagai

Kebanguna faaliah

gangguan tidur primer

lebih besar sewaktu

tidak terdapat

tidur. Tidur REM

gangguan fisik atau

bertambah.

Sindrom

psikologis.
Episode hipersomnia

Berbagai

Akhirnya

Kliene-Levin

secara periodik (kira-

penemuan.Beberapa

menghilang

kira tiap 6 bulan).

pasien tidak

dengan sendiri.

Timbul pertama pada

menunjukkan sleep

adolesensi, biasanya

spindles

Imsomnia

pada anak laki-laki


dan disertai bulimia
(nafsu makan yang
Narkolepsi

besar sekali).
Episode-episode tidur

Episode REM mulai

Amfetamin

singkat yang tidak

bersama-sama

atau

dapat ditahan dan

dengan mulainya

metifenidat.

berulang-ulang,

tidur.

34

disertai kataplexi,
paralisa tidur (tidak
dapat bergerak
sewaktu mau bangun)
dan halusinasi
hipnagogik (timbul
sewaktu orang itu
bukan tidur). Terdapat
juga gangguan tidur
Mimpi buruk

waktu malam.
Kecemasan ringan dan Terjadi waktu tidur

Penjaminan

(serangan

reaksi otonomik.

kembali.

cemas mimpi)

Dibeadakan dengan

Psikoterapi bila

Pavor

pavor nocturus.
Panik hebat, bicara,

Terjadi waktu tidur

hebat.
Anak-anak:

Nocturnus

berteriak, aktivitas

tingkat 4

dijamin orang

REM

otonomik,

tua. Orang

kebingungan, lagat

dewasa: dapat

samar-samar. Pada

dipakai obat

anak-anak jarang

untuk menekan

terdapat gangguan

tidur tidur fase

mental lain, pada

4.

orang dewasa sering.


Dibedakan dari mimpi
Sindrom

buruk.
Obesitas, iregularitas

EEG menunjukkan

Pickwick

pernapasan dan

tanda-tanda

hipersomnia. Tidur

kebangunan pada

disertai periode-

akhir tiap apnea.

periode apnea (tidak

Sedikit atau tidak

bernapas). Tidur

ada gelombang

terputus-putus

lambat waktu tidur

35

REM
Gangguan tidur sekunder
(gangguan klinis disertai gangguan tidur yang spesifik atau nonspesifik)
Fsikosis
Berubah-ubah
Gelombang lambat
alkoholik

dan tidur REM


ditekan sewaktu
keadaan alkoholik
akut, sesudahnya
terdapat suatu
penambahan. Lepas
alkohol
mengakibatkan
gelombang lambat
dan tidur REM lebih

Anorexia

Waktu tidur secara

banyak.
Berkurangnya fase

nervosa

keseluruhan

3,4 dan tidur REM.

berkurang

Waktu lebih lama


sebelum fase 1,3 dan

Depresi

Waktu tidur secara

REM
Tidur dengan

keseluruhan

gelombang lambat

berkurang

lebih kurang .
Keadaan REM
berkurang dan
interval antara tidur

Hipertiroidism
e
Hipotiroidism
e
Skizofrenia

Insomnia

REM berkurang.
Fase 3 dan 4

Somnolensi

bertambah
Fase 3 dan 4

Berubah-ubah

berkurang
Kurang sekali tidur

36

gelombang lambat.
Gejala-gejala yang
berhubungan dengan
utang REM
Parasomnia
(perilaku seperti sadar yang terjadi waktu tidur)
Bruxisme
Bunyi keras dan
Tibul waktu fase 2.

Memperbaiki

(kertakan gigi)

akhirnya gigi dan

Fase tidur tidak

gangguan gigi.

struktur penyangga

terganggu.

Memakai

rusak.

protesa agar
tidak

Enuresis

Sebagian besar pada

Dalam terjadi dalam

menggigit.
Bimbingan

pria dewasa dan anak

semua fase

oleh orang

laki.Mungkin

tidur,tetapi sering

tua,latihan.

familial.Kontraksi

pada fase 4.Tidak

Impramin.

kantong seni yang

berhubungan dengan

berlebihan waktu tidur mimpi.


dan kecepatan jantung
Bicara dalam

lebih tinggi.
Sering hanya ini atau

Terutama waktu

tidur

sebagai gejala

tidur Non-

gangguan tidur lain

REM.Kadang

atau gangguan jiwa

kadang waktu tidur

Somnabulisme

atau badaniah.
Terutama pada pria

REM
Terjadi waktu fase 4.

(berjalan

dewasa dan anak

anak baik

waktu tidur)

laki.Sering disertai

sendiri.Pada

Pavor nocturnus dan

orang dewasa

enuresis.bangun yang

sering terdapat

dipaksa disertai

gangguan jiwa.

kebingungan.

37

Pada anak-

Gangguan yang diperkeras oleh tidur


Astma
Pada orang dewasa, serangan tidak
bronkiale

berhubungan dengan fase tidur. Pada anakanak, serangan biasanya tidak terjadi selama
bagian pertama tidur, sewaktu lebih banyak
terdapat fase 4, orang dewasa dan anak-anak
dengan atsma bronkiale, tidur fase 4
berkurang dan waktu tidur kesuluruhan

Gangguan

kurang
Tidur REM berhubungan dengan perubahan-

Hindari obat-

Koroner

perubahan kecepatan jantung, pernapasan dan

obat yang

tekanan darah. Angina malam hari

mengakibatkan

berhubungan dengan tidur REM.

REM
bertambah
banyak

Ulkus usus 12

Asam lambung dikeluarkan jauh lebih banyak

sesudahnya.
Hindari obat-

jari

pada malam hari dibandingkan dengan orang

obat yang

normal. Puncak sekresi asam lambung pada

mengakibatkan

waktu tidur REM.

REM
bertambah
banyak
sesudahnya

2. Beberapa Gangguan Jiwa Yang Lain


Sindrom Gilles de la Torrete

biasanya mulai pada anak-anak

sebelum pubertas. Penderita memperlihatkan banyak macam tic


(multiple tics), yaitu gerakan-gerakan involunter yang hebat pada muka,
kepala, extremitas dan badan. Kadang-kadang juga dikeluarkan suarasuara yang tidak berbentuk atau kata-kata kotor

(koprolalia).

Pengobatan dengan haloperidol ialah yang paling efektif pada waktu ini.

38

Sindrom Copgras: ciri khas ialah bahwa penderita yakin (suatu


paham) bahwa orang-orang tertentu di sekitarnya bukan orang yang
sebenarnya, akan tetapi merupakan orang lain yang merupakan mereka dan
peran. Sindrom ini lebih sering ditemukan pada kaum wanita dan tidak
didapati pada kasus yang bukan manisfestasi suatu psikosa lain. Biasanya
skizofrenia. Psikosa yang menimbulkanya yang harus diobati dan
prognosis tergantung pada hasil pengobatan psikosa itu. Sindrom ini sering
membaik, paling sedikit untuk sementara waktu, dengan terapi
elektrokonvulsi dan farmakoterapi.

G. Fenomena Yang Berkaitan Dengan Faktor Sosial Budaya Setempat


1. Amok
Amok adalah suatu keadaan yang dapat timbul secara mendadak
atau didahului tindakan ritualistis atau meditasi pada seseorang (biasanya
pria), yang masuk dalam suatu kesadaran yang menurun atau berkabut
(trance-like state), tanpa dasar epilepsi. Dalam keadaan itu ia akan bangkit
dan bertindak agresif. Agresivitas ini ditunjukan kepada orang, hewan atau
benda di sekitarnya. Setelah beberapa waktu, individu menjadi tenang
sekali. Kesadaranya mencapai taraf biasa lagi. Setelah kejadian tersebut ia
tidak ingat sebagian atau seluruhnya peristiwa tersebut. Sering kali Amok
berakhir karena individu tersebut dibuat tidak berdaya, kadang-kadang ia
melukai diri sendiri atau kehabisan tenaga. Penyebab Amok biasanya
psikogenik. Rasa malu memegang peranan penting. Dalam periode
meditasi individu itu makin lama makin tegang, rasa malu akan
bertambah dan rasa harga diri dirasakan hancur, dipengaruhi oleh adatistiadat serta norma-norma dan nilai-nilai setempat.
Contoh: Penulis pernah mewawancarai seseorang didalam lembaga
permasyrakatan yang dalam keadaan amok telah membunuh lima orang,
Menurut ceritanya ia dibuat malu di hadapan banyak orang sewaktu ia
sedang berjualan dipasar. Seorang calon pembeli menawar jualanya terlalu
rendah. Sesama penjual di sebelahnya melemparkan kata-kata yang sangat

39

memalukanya, karena barangnya di tawar begitu rendah. Ia segera pulang


dan di rumahnya ia diam saja sambil memikir-mikir tentang kejadian itu
tadi.
Amok sebenarnya merupakan suatu variasi reaksi disosiasi, tetapi
karena pengaruh kebudayaan besar. Ada pendapat yang menekankan
bahwa suatu kebudayaan dengan pembatasan-pembatasan yang keras
terhadap anak remaja dan orang dewasa, tetapi mengizinkan anak-anak
kecil mengekspresikan emosi agresi mereka, lebih mudah menimbulkan
reaksi-reaksip psikopatologis jenis amok.
Satu-satunya pengobatan yang segera adalah menangkap orang itu
dan membuat ia tidak berdaya. Serangan amok biasanya mereka kembali
sesudah beberapa jam. Sesudahnya mungkin penderita memerlukan
pengobatan bagi luka-lukanya atau gangguan mental lain bila ada.
2. Koro
Koro adalah suatu serangan cemas yang hebat sekali dan hilang
dengan sendiri sesudah beberapa jam atau beberapa hari. Biasanya terjadi
pada orang yang berumur setengah tua dan sebagian besar pada kaum pria,
jarang pada wanita. Penderita merasa genitalianya (penis, labia, mayora,
dan buah dada) sedang mengerut, sedang tertarik masuk ke dalam rongga
perut. Dan ia yakin ia akan mati bila hal ini terjadi.
Psikodinamika terjadinya koro belum begitu jelas, misalnya
bagaimana sampai timbul keyakinan bahwa genetalia masuk ke dalam
rongga perut berati kematian. Kepribadian individu dengan presdisposisi
memegang perananya juga di samping interaksi faktor-faktor kebudayaan,
sosial dan psikologis. Kepercayaan dan adat istiadat yang menakut-nakuti
mengenai pengeluaran sperma dalam tidur, masturbarsi, dan hal-hal lain
tentang sex dapat membuat orang menjadi peka terhadap koro. Penderita
koro juga tidak begitu menyadari dan mengerti keadaan ini
Pengobataan adalah psikoterapi suportif dan tranquilaizer atau
neuroleptika, suntikian atau per os, tergantung pada keadaan.

40

3. Latah
Latah adalah suatu keadaan yang umumnya timbul pada wanita
muda atau setengah tua yang biasanya berasal dari kalangan sosial
ekonomi rendah dengan kehidupan dan cara berfikir sederhana dan
pendidikan yang rendah pula. Dalam wawancara biasanya diperoleh
keterangan, bahwa keadaan tersebut sering diawali dengan mimpi tentang
alat kelamin laki-laki ( pria, hewan, atau barang lain yang mirip penis) atau
sesuatu yang melambangkan alat kelamin yang bergantungan di dinding
atau di kamar tidurnya dan dapat bergerak. Di samping itu di jumpai juga
pengalaman traumatik yang sangat mengerikan.
Gejala-gejala latah adalah: bila ia dikejutan oleh suara atau gerakan,
maka ia bereaksi dengan mendadak mengucapkan istilah kasar yang
artinya alat kelamin pria (koprolalia) yang tidak sesuai dengan suasana
budaya. Individu juga dapat bereaksi dalam keadaan kesadaran yang di
duga menurun dan menyempit dengan mengikuti gerakan orang lain yang
berada di dekatnya (ekhopraxia) atau mengulangi kata-kata orang itu
(ekhollalia). Bila rangsangan suara atau gerakan tersebut berkurang maka
individu akan kembali pada kesadaran semula, merasa malu dan
menyatakaan maaf atas ketidaksopananya. Hal itu dapat berulang bila
individu dikejutan lagi.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa latah mungkin merupakan
suatu bentuk empati yang istimewa. Pada empati, perhatian seseorang
kadang-kadang begitu terpikat oleh suatu keadaan sehingga ia meniru
perbuataan atau ucapan yang ditangkapnya. Misalnya sewaktu menonton
permainan sepak bola seorang penonton turut. menangkap bola seperti
penjaga gawang; penonmton lawak turut mengucapkan kata-kata yang
yang dicuapkan pelawak itu.
Pendapat yang lain adalah bahwa kepercayaan akan pengaruh rohroh pada manusia, permainan-permainan yang mencetuskan keadaan
trance atau imajinasi sexsual yang leluasa, mempermudah menimbulkan

41

latah. Koprolalia yang kadang-kadang dijumpai, dapat diterangkan sebagai


suatu tindakan deferensif yang simbolik. Penderita latah datang kepada
dokter untuk mengobati keadaan yang biasanya sudah menahun. Mereka
dapat bekerja dengan baik dan latah itu tidak dianggap sebagai penyakit
oleh masyarakat, tetapi sebagai variasi perilaku yang menarik atau
aneh. Bila penderita datang untuk berobat, mungkin karena ia sering
diganggu oleh orang lain karena latahnya, maka dilakukuan psikoterapi
suportif dan diberi obat psikotropik.

4. Kesurupan
Menurut kepercayaan masyarakat, kesurupan terjadi bila roh orang
lain memasuki seseorang dan menguasainya. Orang itu menjadi lain dalam
hal bicara, perilaku dan sifatnya. Perilakunya menjadi seperti kepribadian
orang yang rohnya

memasukinya. Yang sebenarnya terjadi adalah

disosiasi, suatu mekanisme yang sudah lama dikenal dalam psikiatri dan
yang dapat menimbulkan kepribadian ganda. Terdapat dua macam keadaan
yang dinamakan kesurupan oleh masyarakat, yaitu:
1) Orang itu merasa bahwa didalam dirinya ada kekuatan lain yang
berdiri di samping aku-nya dan dapat menguasainya. Jadi simultan
terdapat dua kekuatan yang bekerja sendiri-sendiri dan orang itu
berganti-ganti menjadi yang satu atau yang lain.Kesadaranya tidak
menurun. Perasaan ini berlangsung kontinu. Dalam hal ini kita melihat
suatu permulaan perpecahan kepribadian yang merupakan gejala khas
bagi skiozofrenia.
2) Orang itu telah menjadi lain, ia mengidentifikasikan dirinya dengan
orang lain. Binatang atau benda. Jadi pada suatu waktu tertentu tidak
terdapat dua atau lebih kekuatan di dalam dirinya, tetapi terjadi suatu
metamorfosis yang lengkap. Ia telah menjadi orang lain binatang atau

42

barang, dan ia bertingkah laku seperti orang, binatang atau barang itu.
Sesudahnya amnesia total atau sebagian.
Secara ilmiah disebut disosiasi, yaitu terjadi karena konflik dan
stress psikologis, maka keadaan itu dinamakan reaksi disosiasi (suatu subjenis dalam neurosis histerik). Bila disosiasi itu terjadi karena pengaruh
kepercayaan dan kebudayaan, maka dinamakan kesurupan.Orang dengan
kesurupan jarang dibawa ke dokter. Biasanya kesurupan berhenti dengan
sendiri, sering dengan upacara kepercayaan oleh dukun atau orang lain.
Kesurupan yang spontan biasanya hilang sendiri. Bila ia dibawa kepada
dokter, maka dapat diberi transquilaizer intramuskuler dan bila perlu juga
diberi tranquilaizer atau pentotal intravena.
H. Kedaruratan Psikiatri
Keadaan

gaduh-gelisah

dapat

dimasukan

ke

dalam

golongan

kedaruratan psikiatrik, bukan karena frekuensinya yang cukup tinggi, akan


tetapi karena keadaan ini berbahaya, baik bagi pasien sendiri maupun bagi
lingkungannya, termasuk orang-orang dan bendah-bendah.
Kita akan membicarakan secara singkat gejala-gejala keadaan gaduhgelisah, kemudian berbagai penyebabnya dan akhirnya tentu cara-cara
mengatasinya. Sesudah itu akan dibahas percobaan bunuh diri bersama
beberapa masalahnya. Dan akhirnya akan disoroti beberapa keadaan gaduhgelisah

yang

lain,

seperti

serangan

kecemasan

akut,

kebingungan

pascakonvulsi, reaksi disosiasi, keadaan fugue dan ledakan amarah.


1. Keadaan Gaduh Gelisah
Tidak jarang seorang yang gelisah serta gaduh dibawa ke rumah
sakit, pusat kesehatan masyarakat atau ke tempat praktik dokter.
Pengantarnya sering tidak sedikit dan biasanya mereka adalah anggota
keluarga, tetangga dan juga kadang-kadang anggota angkatan bersenjata
atau polisi. Sering mereka juga bingung dan gaduh.
a. Gejala-gejala

43

Keadaan gaduh gelisah biasanya timbul akut atau subakut. Gejala


utama adalah psikomotorik yang sangat meningkat. Orang itu banyak
sekali berbicara, berjalan mondar-mandir,tidak jarang ia berlari-lari dan
meloncat-loncat bila keadaan itu berat. Gerakan tangan dan kaki serta
ajuk (mimik) dan suaranya cepat dan hebat. Mukanya kelihatan
bingung, marah-marah atau takut. Ekspresi ini mencerminkan gangguan
afek-emosi dan proses berpikir yang tidak realistik lagi.
Karena gangguan berpikir ini, serta waham curiga dan halusinasi
(lebih-lebih bila halusinasi itu menakutkan), maka pasien menjadi
sangat bingung, gelisah dan gaduh. Ia bersikap bermusuhan dan
mungkin

menjadi

berbahaya

bagi

dirinya

sendiri

dan/atau

lingkungannya.
Tergantung pada gangguan primer, maka kesadaran dapat
menurun secara kuantitatif (tidak compos mentis lagi) dengan
amnesia sesudahnya (seperti pada sindrom otak organik yang akut),
atau kesadaran itu tidak menurun, akan tetapi toh tidak normal,
kesadaran itu berubah secara kualitatif (seperti pada psikosis
skizofrenia dan bipolar). Seperti pada semua psikosis, maka individu
dalam keadaan gaduh gelisah itu sudah kehilangan kontak dengan
kenyataan: proses berpikir, afek-emosi, psikomotor dan kemauannya
sudah tidak sesuai lagi dengan realitas.
b. Sebab-musabab
Keadaan gaduh-gelisah bukanlah suatu diagnosis dalam arti kata
yang sebenarnya, akan tetapi hanya menunjuk kepada suatu keadaan
tertentu, suatu sindrom dengan sekelompok gejala tertentu. Istilah
keadaan gaduh-gelisah hanya dapat dipakai sebagai pemberian
sementara tentang suatu gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri
utama seperti dicantumkan pada namanya, yaitu gaduh dan gelisah.
Kita akan membicarakan secara singkat beberapa jenis penyebab
ini yang dapat menimbulkan keadaan gaduh gelisah.

44

Psikosis karena gangguan mental organik: delirium pasien


dengan keadaan gaduh-gelisah karena delirium menunjukan
kesadaran yang menurun. Istilah sindrom otak organik menunjuk
kepada keadaan gangguan fungsi otak karena suatu penyakit
badaniah.
Penyakit badaniah itu yang mengakibatkan gangguan fungsi otak.
Penyebab itu mungkin terletak didalam tengkorak atau otak sendiri
dan

karenannya

menimbulkan

kelainan

patologis-anatomis

(misalnya meningo-ensefalitis, gangguan pembuluh darah otak,

neoplasma intrakranial, dan sebagainya).


Skizofrenia dan gangguan skizoptipal. Bila kesadaran tidak
menurun, maka biasanya keadaan gaduh-gelisah itu merupakan
manifestasi suatu psikosis dari kelompokini, yaitu psikosis yang
tidak berhubungan atau sampai sekarang belum diketahui dengan
pasti adanya hubungan dengan suatu penyakit badaniah seperti

pada gangguan mental organik


Gangguan psikotik akut dan sementara timbul mendadak tidak
lama sesudah terjadi stres psikologis yang dirasakan hebat sekali
oleh individu. Stres ini disebabkan oleh suatu frustasi atau konflik
dari dalam atau pun dari luar individu yang mendadak dan jelas,
misalnya dengan tiba-tiba kehilangan seorang yang dicintainya,

kegagalan, kerugian dan bencana.


Skizofrenia merupakan psikosis yang sering terdapat dinegara kita.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bila kesadaran tidak
menurun dan terdapat inkoherensi serta afek-emosi yang inadekuat,
tanpa frustasi atau konflik yang jelas,maka hal ini biasanya suatu

skizofrenia.
Psikosis bipolar termasuk dalam kelompok psikosis afektif karena
pokok gangguannya terletak pada afek emosi. Tidak jelas ada
frustrasi atau konflik yang menimbulkan gangguan mental ini.

45

Pada psikosis bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi dalam


arti kata yang sebenarnya, tetapi pasien itu memperlihatkan jalan

pikiran yang meloncat-loncat atau melayang (flight of ideas).


Amok adalah keadaan gaduh gelisah yang timbul mendadak dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor sosiobudaya.
Kesadarannya menurun atau berkabut (seperti dalam keadaan
trance). Sesudahnya terdapat amnesia total atau sebagian. Amok
sering berakhir karena individu itu dibuat tidak berdaya oleh orang
lain, karena kehabisan tenaga atau karena ia melukai diri sendiri,

dan mungkin sampai ia menemui ajalnya.


c. Penanganan pasien dengan keadaan Gaduh-gelisah
Bila seorang dalam keadaan gaduh-gelisah dibawa kepada kita,
penting sekali kita harus bersikap tenang. Dengan sikap yang
meyakinkan, meskipun tentu waspada, dan kata-kata menentramkan
pasien maupun para pengantarnya, tidak jarang kita sudah dapat
menguasai keadaan.
Bila pasien itu masih diikat, sebaiknya ikatan itu suruh dibuka
sambil tetap berbicara dengan pasien dengan beberapa orang yang
memegangnya agar ia tidak mengamuk lagi. Biarpun pasien masih tetap
dipegang dan dikekang, kita toh berusaha memeriksanya secara fisik.
Suntikan

secara

intramuskuler

suatu

neuroleptikum

yang

mempunyai dosis terapeutik tinggi (misalnya chlor promazine HCL),


pada umumnya sangat berguna untuk mengendalikan psikomotorik
yang meningkat.
Efek samping neuroleptika yang segera timbul terutama yang
mempunyai dosis terapiutik tinggi, adalah hipotensi postural, lebi-lebih
pada pasien dengan susunan saraf vegetaitif yang labil atau pasien
lanjut usia.
Penjagaan dan perawatan yang baik tentu juga perlu, mula-mula
agar ia jangan mengalami kecelakaan melukai diri sendiri, menyerang
orang lain, atau merusak barang-barang.

46

Bila pasien suda tenang dan mulai kooperatif, maka pengobatan


dengan neuroleptika dilanjutkan per os (bila perlu suntikan juga dapat
diteruskan).
Kita berusaha terus mencari penyebabnya, bila belum diketahui,
terutama bila diduga suatu sindrom otak yang akut. Bila ditemukan,
tentu diusahakan untuk mengobatinya secara epiologis.
d. Keadaan Gaduh-Gelisah Lain
Serangan kecemasan akut dan panik mungkin saja terjadi pada
orang yang normal bila nilai ambang frustrasinya mendadak
dilampaui, misalnya kecemasan dan panik sewaktu kebakaran,

kecelakaan massal atau bencana alam serta serangan perang.


Kebingungan pascakonvulsi tidak jarang terjadi sesudah konvulsi
karena epilepsi grand mal atau sesudah terapi elektrokonvulsi. Pasien
menjadi gelisah atau agresif. Keadaan ini berlangsung beberapa

menit dan jarang lebih lama dari 15menit.


Reaksi disosiasi dan keadaan fugue memperlihatkan pasien dalam
keadaan bingung juga. Kedua-duanya merupakan jenis neurosis
histerik yang disebabkan oleh konflik emosional. Kesadaran pasien
menurun, ia berbicara dan berbuat seperti dalam keadaan mimpi.

Sesudahnya terdapat amnesia total.


Ledakan amarah (temper tantrums) tidak jarang timbul pada anak
kecil.

Mereka

menjadi

bingung

dan

marah

tidak

karuan.

Penyebabnya sering terdapat pada hubungan dengan dunia luar yang


dirasakan begitu menekan sehingga tidak dapat ditahan lagi dan anak
kecil itu bereaksi dengan caranya sendiri.
2. Percobaan Bunuh Diri
a. Definisi Bunuh Diri
Ada macam-macam pembagian

bunuh diri dan percobaan

bunuh diri. Pembagian Emile Durkheim masih dapat dipakai karena


praktis, yaitu :
o Bunuh diri egoistik: individu itu tidak mampu berintegrasi
dengan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi kebudayaan

47

atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolaholah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga
dapat menerangkan mengapa mereka yang tidak menikah lebih
rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan
dengan mereka yang menikah.
o Bunuh diri alturistik: individu itu terkait pada tuntutan tradisi
khusus atau pun ia cenderung untuk bunuh diri karena
identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa
bahwa kelompok tersebut sangat mengharapkannya.
o Bunuh diri amoniak: hal ini terjadi bila terdapat gangguan
keseimbangan integrasi antara individu dengan masyarakat,
sehingga

individu

tersebut

meninggalkan

norma-norma

kelakuan yang biasa.


o Menninger melihat 3 komponen pada orang yang melakukan
bunuh diri, yaitu: keinginan untuk membunuh atau menyerang,
keinginan untuk dibunuh, dan keinginan untuk mati atau
menghukum diri sendiri.
Schneidmen dan Farberow membagi orang yang melakukan
bunuh diri menjadi 4 kelompok, yaitu:
o
o
o
o

Mereka yang percaya bahwa tindakan bunuh diri itu benar.


Mereka yang sudah tua.
Mereka yang psikotik.
Mereka yang bunuh diri sebagai balas dendam.
Menurut Schneidmen dan Ferberow (para pendiri suicide

prevention center di los Angeles) istilah bunuh diri (suiside) dapat


mengandung arti:
1) Ancaman bunuh diri (Threatened Suicide)
2) Percobaan bunuh diri (Attempted Suicide)
3) Bunuh diri yang telah dilakukan (Comitted Suicide)
4) Depresi dengan niat hendak bunuh diri.
5) Melukai diri sendiri (Self destruction)
Secara sederhana Triman Prasadio melihat suiside sebagai salah
satu cara dari empat cara orang meninggal dunia, yaitu:
1) Mati wajar (natural death, termasuk karena sakit atau tua)
2) Mati kecelakaan
3) Mati bunuh diri (suiside)

48

4) Mati terbunuh
Terdapat hubungan yang erat antara suiside dan depresi. Orang
dengan

depresi

mencoba

melakukan

bunuh

diri

untuk

menghilangkan depresinya. Sebaliknya, percobaan bunuh diri dapat


menyebabkan depresi untuk waktu yang lama.
Para penganut teori neurofisiologis menganggap bahwa
keputusan terakhir untuk melakukan bunuh diri dipengaruhi oleh
kelemahan fungsi serebrokortikal, antara lain karena insomnia dan
barbiturat serta alkohol.
b. Epidemiologi
Sukar sekali untuk mendapatkan angka-angka yang dapat
dipercayai tentang bunuh diri, apalagi tentang percobaan bunuh diri.
Sering keluarga atau orang lain menutup nutupinya karena malu.
Suiside dan kebudayaan
Kebudayaan mempengaruhi niat dan tekat seorang individu untuk
mengakhiri

hidupnya

dan

merupakan

faktor

penting

yang

mempengaruhi hal bunuh diri di samping kedudukan sosio-ekonomi


dan situasi extern yang merugikan.
Suiside dan jenis kelamin
Angka bunuh diri pada wanita lebih besar dari pada pria disemua
negara dan di sepanjang masa.
Suiside dan umur
Angka bunuh diri meningkat dengan bertambahnya umur, kurvanya
merupakan garis lurus yang mendaki pada wanita kurva ini naik
sampai umur 60 tahun, kemudian menurun lagi. Jadi angka suiside
berbanding lurus dengan kenaikan umur, tetapi beberapa penulis
menemukan angka yang meningkat pada usia muda, yaitu antara 1530 tahun.
Suiside dan status sosial
Dalam dunia perdagangan penurunan dalam usaha berhubungan erat
dengan kenaikan angka bunuh diri, terutama pada pedagang
pedagang besar dengan kerugian yang besar pula. Ternyata ada

49

hubungan erat antara kedudukan sosial dan bunuh diri, makin tinggi
kedudukan sosial seseorang makin rentan ia terhadap bunuh diri.
Suiside dan status perkawinan
Frekuensi suiside lebih kecil pada mereka yang sudah menikah,
terutama mereka yang mempunyai anak, dibandingkan dengan
mereka yang belum berkeluarga. Perceraian mempunyai angka
bunuh diri tertinggi, disusul dengan janda lalu tidak kawin dan
sendirian.
Suiside dan gangguan jiwa
Dibagian Psikiatri Rumah sakit Dr.Soetomo dalam periode 19651968 ditemukan 38 kasus suiside terbagi dalam 6 ancaman bunuh
dir, 32 percobaan bunuh diri.

c. Pencegahan dan Pengobatan


Yang berhasil bunuh diri tentunya tidak perlu pengobatan lagi,
hanya keluarga yang ditinggalkan mungkin perlu diperhatikan,
karena kejadian ini menimbulkan strez pada mereka. Sedangkan
Untuk yang tidak berhasil, tindakan apa yang menjadi prioritas
atau perhatian utama dalam pengobatan pada permulaan itu,
tergantung pada berat ringannya keadaan badan dan jiwa atau kepada
gejala-gejala yang paling menonjol. Pada semua kasus bunuh diri
egoistik dan anomik, pemeriksaan dan pengobatan psikiatrik mutlak
diperlukan.
I. Pengobatan Dalam Ilmu Kedokteran Jiwa
Bila timbul suatu gangguan atau penyakit pada seorang manusia, bukan
hanya jiwanya yang terganggu (misalnya pada depresi, imbesilitas,
skizofrenia dan sebagainya), bukan badannya saja yang sakit (misalnya pada
apendisitis, kelainan jantung, dermatitis, dan sebagainya), akan tetapi seluruh
manusia itulah yang menderita dan memerlukan pertolongan dari siapa pun
yang menurut anggapannya dapat menolongnya. Dan orang sakit itu juga
senantiasa berinteraksi dengan lingkungannya.

50

Sebab itu pengobatan dalam ilmu kedokteran pada umumnya dapat


dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu :
1) somatoterapi : dengan cara pembedahan, farmakoterapi dan fisioterapi.
2) psikoterapi : sebagai psikoterapi suportif dan psikoterapi genetikdinamik (atau psikoterapi wawasan/ pengertian, insight psychotherapy).
3) manipulasi lingkungan (environmental manipulation) dan sosioterapi.
Pembagian ini hanya buatan (artifisial) saja sebab pengobatan terhadap
manusia sebenarnya tidak dapat dipisah-pisahkan demikian, sesuai dengan
pendekatan manusia seutuhnya, yaitu bahwa manusia merupakan makhluk
bio-psiko-sosial-spiritual yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Tujuan pengobatan kedokteran adalah: menghilangkan penderitaan
pasien/masyarakat dan bila mungkin mengembalikannya ke keadaan sehat.
1. Suasana Terapi
Dasar semua pengobatan adalah suasana terapi yang diciptakan oleh
dokter bersama pasiennya. Yang memegang peranan penting dalam hal ini
adalah hubungan pasien-dokter.
Selama pasien itu masih tetap merupakan manusia yang holistik dan
yang mempunyai hidup perasaan, seperti perasaan khawatir dan cemas
serta harapan dan cinta kasih, ia harus dihadapi pula oleh seorang manusia
yang lain, yaitu sang pengobat atau dokter yang mempunyai emosi juga.
Hubungan ini lain sekali dari hubungan antara ahli teknik dan robot, atau
komputer atau pun pasien dan komputer
Penderitaan dapat menimbulkan perilaku yang sifatnya dipengaruhi
oleh berbagai faktor, antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)

Genetik orang itu


Persepsi sejak masa kecil
Pengalamannya tentang sakit dan rasa nyeri
Keadaan hidup sekarang
Keinginan dan harapannya
Dengan memperhatikan faktor-faktor yang diatas ini dokter akan

lebih dapat menilai

hakiki perilaku pasiennya, sehingga pendekatannya

terhadap pasien itu akan lebih membantu suasana terapi.


Jadi dengan demikian, maka tugas dokter tidak hanya menolong
pasien seorang diri

saja, akan tetapi harus memperhatikan keluarga

juga. Ia dapat:

51

1) Melindungi keluarga terhadap pengaruh ketegangan yang dapat


merusak hubungan antar-anggota keluarga akibat adanya seorang
anggota yang sakit.
2) Menjaga agar regresi dan sikap pasif si sakit itu dapat dimanfaatkan
dalam pengobatan serta tidak menjadi lebih keras dan lama atau
meluas ke anggota yang lain.
3) Meningkatkan proses pengobatan, tidak hanya dengan nasihat dalam
bidang kedokteran, tetapi juga dalam bidang psikologi sosial dan
ekonomi rumah-tangga.
Dengan perkataan lain, yang perlu dilakukan oleh setiap dokter
untuk menciptakan

suasana terapi yang baik, adalah tidak lain dari

suatu pelaksanaan kesehatan jiwa.


2. Somatoterapi
Sasaran utama cara pengobatan ini adalah tubuh manusia dengan
harapan bahwa pasien itu akan sembuh karena ia bereaksi secara holistik.
Somatoterapi secara umum dapat dibagi menjadi: farmakkoterapi,
pembedahan dan fisioterapi. Selanjutnya akan dibicarakan somatoterapi
yang dipakai dalam bidang

ilmu kedokteran jiwa, yaitu: medikasi

psikotropik dan terapi elektrokonvulsi, serta tentang

terapi

konvulsi

kardiazol; terapi insulin koma dan leukotomi akan disinggung hanya


sedikit saja.
3. Pengobatan Psikotropik
Sesudah menciptakan suasana terapi, maka dalam suasana inilah
dokter melakukan sesuatu yang menurut si sakit dapat menolongnya. Bila
diberi obat, maka pengaruh obat, maka pengaruh obat itu tidak terlepas
pula dari suasana terapi itu, sehingga efek plasebo dapat setinggi 30% 50%, bukan saja darri obat psikotropik, tetapi juga dari misalnya obat
antihipertensi, antidiabetes dan antikholesterol.
Bila kita sudah mengetahui kemampuan dan kelemahan suatu obat,
barulah kita dapat memakainya dengan baik sesuai dengan tujuannya.

52

Pembagian Obat Psikotropik


Ada 4 kelompok utama:
a) Obat Antidepresi: mempunyai efek meredakan depresi.
b) Obat Antianxietas (anxiolitik atau tranquilizer, dahulu dinamakan
minor tranquilizer): mempunyai efek anticemas, antitegang, dan
antiagitasi.
c) Obat Antipsikotik (atau neuroleptik, neuroleptic, dahulu dinamakan
major tranquilizer): mempunyai efek antipsikosis dan antiskizofrenia,
serta juga efek anticemas, antitegang, dan antiagitasi. Nama minor dan
major tranquilizier tidak dipakai lagi karena seakan-akan yang satu
lebih lemah dari yang lain, pada hal efek sangat berbeda.
d) Stabilisator mood: dapat menimbulkan gejala gejala psikosis, tetapi
reversibel, misalnya Meskalin dan LSD (tidak akan dibicarakan disini
karena tidak dipakai buat pengobatan, tetapi dipakai buat penelitian
gejala - gejala psikosis).
4. Terapi Elektrokonvulsi
Ugo Cerlleti (1877-1963) dan Bini adalah yang pertama memakai
terapi elektrokonvulsi (TEK) pada penderita dengan psikosis.
Bagaimana sebenarnya TEK dapat menyembuhkan penderita dengan
gangguan jiwa belum diketahui dengan pasti. Berbagai teori telah
dikemukaka, ada yang berorientasi organic dan ada juga yang berorientasi
organic dan ada juga yang berorientasi psikologis, tetapi sampai sekarang
belum terdapat kata sepakat tentang cara kerjanya.
a. Alat Elektrokonvulsi
Ada

alat

elektrokonvulsi

(elektrokonvulsator)

yang

mengeluarkanaliran listrik sinusoid dan ada yang menindakan satu fase


dari aliran sinusoid itu sehingga penderita menerima aliran listrik yang
terputus-putus.
Pada konvulsator terdapat pengatur tegangan listrik (voltase) dan
juga pengatur waktu yang secara otomatis memutuskan aliran listrik
yang keluar sesudah waktu yang ditetapkan.

53

Penderita menjadi tidak sadar seketika, pada waktu aliran listrik


masuk kedalam kepalanya. Biarpun tidak terjadi konvulsi ia tidak dapat
mengingat kembali kejadian itu.
b. Persiapan

Penderita

dan

Cara

Melakukan

TEK

(Terapi

Elektrokonvulsator)
1) Sebelum pemberian TEK penderita diperiksa badannya dengan
teliti, terutama jantung dan paru-paru.
2) Penderita harus puasa supaya jangan sampai ia muntah dan
terdesak waktu ia tidak sadar (bahaya pneumonia)
3) Kandung seni dan rektum perlu dikosongkan supaya ia tidak
mengotori dirinya dan tempat tidur bila terjadi inkontinensia.
4) Gigi palsu yang dapat dilepaskan harus dikeluarkan, juga bendabenda lain yang ada lepas didalam mulut (permen dan sebagainya)
5) Penderita berbaring lurus diatas permukaan yang datar dan agak
keras, pakaian yang ketat (sabuk, kutang, dan sebagainya)
dilonggarkan.
6) Bagian kepala yang akan ditempelkan elektroda dibersihkan
(misalnya degan alcohol) supaya minyak kulit hilang sehingga
tidak terlalu menahan aliran listrik.
7) Diantara rahang atas dan bawah ditempat gigi-gigi yang masih kuat
diberi bahan yang lunak yang disuruh digigit oleh penderita.
8) Dagu penderita tidak perlu ditahan.
9) Elektroda ditekan dengan kekuatan yang sedang pada tempatnya,
rambut tebal dikesampingkan sedapat-dapatnya.
c. Reaksi Penderita
Konvulasi yang mirip seragam epilepsy jenis gran mal dengan
fase tonik kira-kira 10 detik diikuti oleh fase klonik yang lebih lama
(30-40 detik). Sesudah fase klonik timbul fase relaksasi otot dengan
pernapasan yang dalam dank eras. Kepada penderita dimiringkan agar
ia tidak tersedak saliva.
d. Frekuensi dan Jumlah
Tergantung pada keadaan penderita, TEK dapat diberi :
Secara block: 2-4hari berturut-turut 1-2 kali sehari.
2-3 kali seminggu
TEK maintenance setiap tiap 1-2 minggu.

54

Sebelum zaman obat psikotropik, TEK diberi paling sedikit 12x,


bila perlu sampai 20x tetapi sekarang bila diberi bersama obat
psikotropik maka TEK dihentikan setelah pasien menunjukan
perbaikan yang jelas (tidak usah sampai 12x) dan dilanjutkan obat
saja.
e. Kontraindikasi
Hampir semua kontraindikasi tidaklah terhadap aliran listrik itu
sendiri, akan tetapi bagi konvulsi yang timbul. Konvulsi itu berat buat
sistem kardiovaskuler dan tulang-tulang.
Kontraindikasi mutlak ialah tumor otak, karena listrik yang masuk
mempertinggi permeabilitas kapiler otak sehingga terjadi edema sedikit.
f. Komplikasi
Tidak jarang terjadi luxasio, fraktur atau robekan otot. Paling
sering ialah luxasio pada rahang atau fraktur kompresi pada vertebra.
Luxasio rahang direposisi sesudah konvulsi berhenti, waktu otot-otot
masih lemas dan pasien belum sadar.
g. Indikasi
Terapi elektrokonvulsi mula-mula dipakai untuk skizofrenia.
Setelah 4 tahun terlihat bahwa efek yang paling baik diperoleh pada
pengobatan depresi. Kemudian TEK dipakai juga untuk berbagai
macam gangguan jiwa.
5. Terapi Somatis yang Lain
a.Terapi Konvulsi Kardiazol
Dipakai pertama kali oleh Lazlo Joseph Meduna tahun 1935.
Beliau mengatakan skizonfrenia dan epilepsi tidak terdapat bersamasama pada satu orang, karena dikatakan antagonis biologis. Teknisnya
dengan larutan kardizol 10% disuntikan intravena dengan cepat
sehingga timbul konvulsi. Karena komplikasi lebih banyak maka
sekarang terapi ini tidak dipakai.
b.

Terapi Koma Insulin

55

Dipakai pertama kali oleh Manfred J. Sakel (1900-1957). Insulin


biasa disuntik intramuskuler, muali dengan 10-15 unit, setiap hari
ditambah dengan 5-10 unit sehingga koma hipoglikemik. Pasien
dibiarkan dalam 1-2 jam, lalu dibangunkan dengan suntikan glukosa
intravena atau dengan pemberian air gula melalui pipa lambung.
Diusahakan supaya tercapai 40-60 x koma. Terapi ini sekarang jarang
karena mahal, banyak kontra indikasi dan komplikasinya.
c.Lekotomi Frontal
Dilakukan pertama kali oleh Egas Moniz. Serat-serat subkortikal
dari thalamus ke lobus frontalis dipotong dengan sebuah pisau khusus
(lekotom) melalui lubang pada tengkorak. Terapi ini mengakibatkan
komplikasi dan efek samping yang banyak, dan juga dibutuhkan
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.
6. Psikoterapi
Psikoterapi ialah suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional
seorang pasien yang dilakukan oleh seorang yang terlatih dalam
hubbungan professional secara sukarela, dengan maksud hendak
menghilangkan, mengubah atau mengembangkan gejala-gejala yang ada,
mengoreksi perilaku yang terganggu dan mengembangkan pertumbuhan
kepribadian secara positif.
a.Pembagian Psikoterapi
Cara-cara psikoterapi dapat dibagi menjadi dua kelompok besar,
yaitu psikoterapi suportif dan psikoterapi genetik-dinamik.
1) Psikoterapi suportif (supresif atau non-spesifik)
Tujuan psikoterapi jenis ini adalah:
Menguatkan daya tahan mental yang ada
Mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik
untuk mempertahankan control diri.
Mengembalikan keseimbangan adaptasi (dapat menyesuaikan
diri)
Cara-cara psikoterapi suportif antara lain ialah sbg berikut:

56

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Ventilasi atau (psiko-) katarsis.


Persuasi atau bujukan
Sugesti
Penjaminan kembali (reassurance)
Bimbingan dan penyuluhan
Terapi kerja
Hipno-terapi dan narkoterapi
Psikoterapi kelompok
Terapi perilaku
Beberapa jenis psikoterapi suportif:

(1) Ventilasi atau karaktris ialah membiarkan pasien mengeluarkan


isi hati sesukannya.
(2) Persuasi ialah penerangan yang masuk akal tentang timbulnya
gejala-gejala serta baik-buruknya atau fungsi gejala-gejala itu.
Kritik diri sendiri oleh pasien penting untuk dilakukan.
(3) Sugesti ialah secara halus dan tidak langsung menanamkan
pikiran pada pasien atau membangkitkan kepercayaan padanya
bahwa gejala-gejala akan hilang.
(4) Penjaminan kembali atau reassurance dilakukan melalui
komentar yang halus atau sambil lalu dan pertanyaan yang hatihati, bahwa pasien mampu berfungsi secara adekuat (cukup,
memadai)
(5) Bimbingan ialah member nasihat-nasihat yang praktis dan
khusus (spesifik) yang berhubungan dengan masalah kesehatan
(jiwa) pasien agar ia lebih sanggup mengatasinya, misalnya
tentang cara mengadakan hubungan antar-manusia, cara
berkomunikasi, bekerja dan belajar, dan sebagainya.
(6) Konseling ialah suatu bentuk wawancara untuk membantu
pasien mengerti dirinya sendiri lebih baik, agar ia dapat
mengatasi suatu masalah lingkungan atau dapat menyesuaikan
diri.
(7) Kerja-kasus sosial, secara tradisional didefinisikan sebagai suatu
proses bantuan oleh seorang yang terlatih kepada seorang pasien
yang memerlukan satu atau lebih pelayanan sosial khusus.

57

(8) Terapi kerja dapat berupa sekadar member kesibukan kepada


pasien, ataupun berupa latihan kerja tertentu agar ia terampil
dalam hal dan berguna baginya untuk mencari nafkah kelak.
(9) Hypnosis dapat membantu psikoterapi, akan tetapi apa yang
dapat dicapai dengan hypnosis dalam psikoterapi, dapat juga
dicapai engan cara yang lain tanpa hypnosis.
(10)
Narkoterapi secara intravena disuntikan suatu hipnotikum
dengan efek yang pendek (misalnya penthotal atau amital
natrium)
2) Psikoterapi Generic-dinamik
Psikoterapi wawasan

(genetic-dinamik)

dibagi

menjadi

psikoterapi reedukatif dan psikoterai rekontruktif.


a) Psikoterapi reedukatif
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang
letaknya lebih banyak dialam sadar, dengan usaha berencana untuk
menyesuaikan

diri

kembali,

memodifikasi

tujuan

dan

membangkitkan serta mempergunakan potensi kreatif yang ada.


Cara-cara psikoterapireedukatif antara lain ialah:
(1) Terapi hubungan antarmanusia
(2) Terapi sikap (attitude theory)
(3) Terapi wawancara (interview therapy)
(4) Analisis dan sintetis yang distributif (terapi psikobiologis
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

adolf meyer)
Konseling terapeutik
Terapi case work
Reconditioning
Terapi kelompok yang reedukatif
Terapi somatic

b) Psikoterapi rekonstruktif
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang
letaknya dialam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan
perubahan yang luas daripada struktur kepribadian dan peluasan
pertumbuhan

kepribadian

dengan

pengembangan

penyesuaian diri yang baru.


Cara-cara psikoterapi rekontruktif yaitu:

58

potensi

Psikoanalisis Freud
Psikoanalisis non-freudian
Psikoterapi yang berorientasi kepada psikoanalisis.
Cara: asosiasi bebas, analisis mimpi, hipnoanalisis/sintesis,
narkoterapi, terapi main, terapi seni, terapi kelompok analitik.
b.

Psikoterapi Kelompok
Bila kelompok terdiri dari para anggota satu keluarga, maka
disebut terapi keluarga. Bila hanya suami-istri, disebut konseling
pernikahan (marriage counseling).
Terapi keluarga (family therapy) dan konseling pernikahan
dilakukan bila keadaan keluarga atau pernikahan itu sendiri yang
menjadi sumber stress atau penyebab gangguan jiwa. Sukar untuk
mengobati satu orang saja bila interaksi atau pola komunikasi itu yang
patagonis, karena semua anggota keluarga merupakan kesatuan dan
terus menerus saling memengaruhi.
Terapi kelompok berguna untuk pasien yang:
1) Segan terhadap psikoterapi individual karena takut, tidak percaya
therapist, bersaing keras melawan figure orang tua.
2) Tidak atau kurang berpengalaman dengan saudara-saudara,
mempunyai

sikap

bertentangan

dengan

saudara,

kurang

berpastisipasi dalam lingkungan, mempunyai pengalaman keluarga


yang merusak, tidak atau sukar menyesuaikan diri dalam keompok.
3) Mempunyai intelegensi yang rendah
Agar proses kelompok dapat berjalan lebih lancar, maka:
Individu harus diterima sebaik-baiknya, sebagaimana adanya.
Pembatasan yang tidak perlu, dihindarkan.
Pernyataan (ekspresi) verbal yang tidak tertahankan dibiarkan
keluar
Reaksi-reaksi dalam interaksi kelompok dinilai
Pembentukan kelompok harus dilakukan untuk
kebutuhan pada anggota secara perorangan

59

memenuhi

Fase-fase terapi kelompok secara singkat pada umumnya ialah:


1) Penyatuan kelompok dengan terbentuknya identifikasi kelompok
2) Interaksi dalam kelompok dengan melihat pada dinamika
kelompok
3) Pengertian dan penyelesaian dinamika dengan timbulnya wawasan
(insight)
Tujuan terapi kelompok ialah : membebaskan individu dari strez,
membantu para anggota kelompok agar dapat mengerti lebih jelas
sebab-musabab kesukaran mereka, membantu terbentuknya mekanisme
pembelaan yang lebih baik, yang dapat diterima dan lebih memuaskan.
c.Terapi Perilaku
Terapi perilaku (behavior therapy) berusaha menghilangkan
masalah perilaku khusus secepat-cepatnya dengan mengawasi perilaku
belajar si pasien. Burus F. Skinner merupakan seorang yang terkenal
dalam bidang ini. Ada tiga cara utama untuk mengawasi atau mengubah
perilaku manusia, yaitu:

Perilaku dapat diubah dengan mengubah peristiwa-peristiwa yang

mendahuluinya, yang membangkitkan bentuk perilaku khusus itu.


Suatu jenis perilaku yang timbul dalam suatu keadaan tertentu dapat

diubah atau dimodifikasi.


Akibatnya suatu perilaku tertentu dapat diubah dan dengan demikian
perilaku itu dapat dimodifikasi.
Terapi perilaku dapat dilakukan secara imdividual ataupun secara

berkelompok. Indikasi utama yaitu gangguan fobik dan perilaku


komplusif, disfungsi sexual (misalnya impotensi dan frigditas) dan
deviasi sexual (misalnya exhibisionisme).
d.

Gangguan Iatrogenik
Tidak jarang seorang terapis begitu bersemangat ataupun begitu
sembrono dan kurang hati-hati mengobati pasien sehingga pasien itu

60

bukan menjadi sembuh, melainkan malahan terganggu karena


pengobatan itu.
Dapat dikatakan bahwa gangguan iatrogenic ialah suatu gangguan
yang tanpa diketahui (bukan resiko yang sudah diperhitungkan) oleh
dokter yang dipercepat timbulnya, diperkeras atau disebabkan oleh
dokter itu karena sikapnya, pemeriksaan, ucapan dan komentar atau
pengobatannya.
Gangguan ini mungkin terutaa badaniah, akan tetapi mungkin
juga terutama mental.
Gangguan iatrogenic badaniah tidak jarang karena operasi,
pertolonga kelahiran, pemberian obat atau kombinasi obat yang tidak
begitu perlu, berlebihan atau dalam jangka waktu terlalu lama tanpa
indikasi yang tepat, misalnya obat lambung, obat antihipertensi,
kontraspetif, kortikosteroid, obat jantung, anti-parkinson, psikotropika,
dan sebagainya. Efek samping obat dapat diperhitungkan oleh dokter,
tetapi gangguan iantrogenik timbul karena kesalahan dokter tanpa
diketahui sebelumnya.
Gangguan iantrogenik mental juga tidak sedikit dan dapat
dinamakan gangguan psikiatrogenik. Hal ini timbul karena sikap,
ucapan, komentar, dan transferensi balas (counter transference) dokter.
H. Psikiatri Anak
WHO memperkirakan bahwa 5 15% dari jumlah anak 3 15 tahun
pernah mengalami gangguan jiwa.
Di Indonesia psikiatri anak baru mulai berkembang. Seorang dokter ahli
Psikiatri anak (Psikiater anak) dapat berperan :
a. Sebagai pendidik, penganjur dan penasihat dalam bidang pencegahan
dari promosi kesehatan jiwa anak.
b. Dalam bidang diagnosis, terutama melalui kerja sama dengan dokter
yang lain, tenaga paramedis, ahli jiwa (psikolog) dan pekerja sosial serta

61

karyawan lain dalam masyarakat luas yang berhubungan dengan anakanak.


c. Dalam bidang pengobatan dan rehabilitasi, secara perorangan, bersama
anak-anak itu dan keluarga mereka, dalam masyarakat, bersama sekolah
dan badan-badan sosial lain yang terlibat dengan anak-anak.
1. Pemeriksaan Psikiatrik Pada anak
Pemeriksaan Psikiatrik meliputi :
a. Pemeriksaan atau observasi terhadap pengantar anak (biasanya orang
tua)
b. Interview dengan anak sendiri. Ditanyakan bagaimanakah hubungan
anak dengan lingkungannya, terutama hubungannya dengan orang
tua dan saudaranya.
c. Tes Intelegensi dan tes kepribadian dapat dipakai WISC (Wesclher
Intellegence Scale for Children)
2. Gangguan Situasional Sementara dan Gejala Khusus
Gangguan Situasional Sementara dan gejala khusus ini dapat berupa
antara lain : kenakalan biasa, masalah tidur dan makan, masalah bicara
dan bahasa, masalah afektif, masalah sexual (pada adolesen). Masalah
kencing dan buang air besar, masalah belajar dan sikap (terlalu tergantung,
terlalu independent, bermusuhan, negativisme, suka menggoda, terlalu
menurut), menggigit kuku, sakit kepala, gangguan tidur dan sebagainya.
Keadaan sakit badaniyah, masuk rumah sakit dan pembedahan dapat
menimbulkan stress pada anak.
Akan dibicarakan secara lebih terperinci beberapa gejala khusus,
yaitu : mengisap jari, enuresis dan enkopresis serta tik (tic).
a. Mengisap jari
Apabila seorang anak masih mengisap jari setelah berumur 3 - 4
tahun, maka biasanya ada ketegangan emosional pada dirinya. Berikut
pencegahan terhadap sikap anak yang suka menghisap jari :

62

Pada masa bayi diberikan cukup waktu untuk mengisap. Menurut banyak
peneliti, kebiasaan mengisap jari lebih sering terjadi pada anak-anak
yang kurang diberi kesempatan mengisap jari.

Diselidiki keadaan emosional anak.

Bila anak masih tetap mengisap biarkanlah hingga anak berumur kirakira 5 tahun.
b. Enuresis
Keadaan ini ialah tidak dapat menahan kencing sesudah umur 3-4
tahun tanpa gangguan organik.
Bagaimana sikap kita terhadap anak dengan enuresis?

Mencari faktor organik, misalnya iritasi lokal seperti balanitis, fimosis,


sistisis atau anomali susunan saraf pusat seperti spina bifida.

Latihan yang salah, yaitu terlalu cepat dilatih karena terlalu banyak
perhatian, atau sebaliknya.

Mencari gangguan emosional, misalnya keadaan di rumah atau di


sekolah yang tidak memuaskan sehingga menimbulkan ketegangan.
c. Enkopresis
Anak-anak yang berumur 2-3 tahun biasanya sudah tidak berak
di celana lagi. Apabila sesudah umur 3 - 4 tahun seorang anak masih
berdefekasi di celana, maka perlu diselidiki faktor-faktor yang
menyebabnya, misalnya adanya gangguan organik atau retardasi
mental. Penyebab yang lain ialah:

Latihan yang salah: ibu yang tergesa-gesa mefatih anaknya sebelum


waktu (sebelum umur 1 tahun seorang anak memang belum dapat
mengontrol sfinkternya), sehingga menjadi bingung dan takut. Atau anak
itu kurang diperhatikan sehingga juga kurang dilatih.

Adanya gangguan emosional, misalnya rasa iri hati terhadap adik yang
baru lahir.

63

d. Tik (tic)
Tik (tic) ialah gerakan sekelompok otot yang timbulnya
berulang-ulang, cepat atau tidak dengan sengaja dan tidak bertujuan.
Yang sering terjadi ialah tik otot-otot muka dan leher.
3. Gangguan Perilaku Masa Anak Dan Remaja
Gangguan ini termasuk dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis
Gangguan Jiwa. Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku
yang tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma-norma
masyarakat.
a. Sebab musabab
Penyebab gangguan perilaku mungkin dari anak sendiri atau
mungkin dari lingkungannya, akan tetapi kedua faktor ini saling
memengaruhi.
1) Anak sendiri
a) Penyebab yang diturunkan. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh dapat diturunkan.
b) Penyebab yang diperoleh pada waktu anak berkembang. Telah
lama diketahui bahwa gangguan otak seperti trauma kepala,
ensefalitis, neoplasma dan lain- lain dapat mengakibatkan
perubahan kepribadian.
2) Lingkungan
a) Orang tua: sikap orang tua terhadap anak mereka merupakan
faktor yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak
itu. Perkawinan yang tidak bahagia atau perceraian menimbulkan
kebingungan pada anak.
b) Saudara-saudara: Rasa iri hati terhadap saudara-saudara adalah
normal, biasanya lebih nyata pada anak pertama dan lebih besar
antara anak-anak dengan jenis kelamin yang sama. Perasaan ini
akan bertambah keras bila orang tua memperlakukan anak-anak

64

tidak

sama

(pilih

kasih),

anak-anak

tersebut

biasanya

menunjukkan perilaku yang agresif atau negativistik.


c) Orang-orang lain di dalam rumah, seperti nenek, saudara orang
tua atau pelayan, juga dapat memengaruhi perkembangan anak.
d) Hubungan di sekolahnya juga perlu diselidiki. Bagaimanakah
hubungannya dengan gurunya, dengan teman-temannya?
e) Keadaan ekonomi. Sering didapati pada anak dari golongan sosioekonomi tinggi atau rendah.
Dapat disimpulkan bahwa orang tua pada anak dengan
gangguan perilaku sering menunjukkan sikap menolak terhadap anak
mereka. Sikap menolak pada anak dapat dilihat dari hal-hal seperti di
bawah ini:
a) Menghukum anaknya secara berlebih-lebihan.
b) Anak itu kurang diperhatikan mengenai makanan, pakaian, kemajuan
di sekolah dan kegiatan sosial.
c) Kurang sabar terhadap anaknya dan mudah marah.
d) Ancaman-ancaman untuk mengusir anak.
e) Anak yang bersangkutan diperlakukan lain dibandingkan dengan
saudara- saudaranya.
f) Sangat kritis terhadap anak tersebut.
4. Jenis - jenis Gangguan Perilaku
-

Reaksi

hiperkinetik

ditandai

oleh

aktivitas

yang

berlebihan,

kegelisahan, perhatian yang mudah dialihkan dan daya konsentrasi yang


kurang.
-

Reaksi menarik diri: Gejala utama pada reaksi ini ialah penarikan diri
dari hubungan antar manusia. Ia sering diam, malu-malu dan patuh.

Reaksi cemas berlebihan ditandai oleh kecemasan yang berlebihan dan


menahun. Aktivitas susunan saraf vegetatif meninggi secara nyata pada
anak ini.

65

Reaksi melarikan diri: Anak dengan reaksi ini sebenarnya melarikan


diri dari lingkungan rumah yang penuh frustrasi. Anak ini biasanya
tampak kesepian, tidak matang dan tidak berdaya.

Reaksi agresif individual : Anak ini menunjukkan sikap bermusuhan,


ia penuh dengan rasa dendam dan suka merusak

Reaksi delinkuen kelompok: perilaku dan keterampilan kelompok atau


"gang". Loyalitasnya terhadap kelompok ini tinggi dan mereka
bersama-sama mencuri, membolos, dll.

Delinkuensi anak : Anak delinkuen mungkin sama sekali tidak


berhubungan dengan kelompok dan ia sering mempunyai kepribadian
antisosial.

5. Gangguan Jiwa yang Lain Pada Anak


-

Nerosis : dapat saja terjadi pada anak sebagai nerosa cemas (mungkin
dengan serangan-serangan kecemasan pada malam hari atau siang hari

Gangguan psikosomatis : didiagnosis hanya bila faktor psikologis dan


badaniah memegang peranan dalam menimbulkan gangguan somatis.

Gangguan kepribadian : merupakan pola perilaku maladaptif yang


tertanam dalam-dalam dan berbeda dengan nerosa atau psikosa.

Kepribadian antisosial : Mereka tidak sanggup menunjukkan loyalitas


yang berarti terhadap orang lain, kelompok atau nilai-nilai sosial.

I. Kedokteran Jiwa Masyarakat


1. Pengertian dan Ruang Lingkup
Kedokteran

jiwa

masyarakat

adalah

pengetahuan

untuk

melaksanakan program masyarakat dengan menggunakan pendekatan


masyarakat dan berorientasi pada masyarakat dalam hal peningkatan,
pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi. Istilah-istilah lain yang dipakai
adalah kesehatan jiwa masyarakat, psikiatri preventif atau psikiatri sosial.

66

Masalah pencegahan gangguan jiwa sangat besar dan komplex


sehingga perlu kerjasama antara Pemerintah, Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dan organisasi swasta lain.
Menurut G. Kaplan, psikiatri preventif adalah ilmu tentang teori dan
praktik untuk merencanakan dan melaksanakan program sehingga:
a. Penambahan segala bentuk gangguan jiwa dalam masyarakat
berkurang: pencegahan primer (primary prevention).
b. Lamanya sebagian besar gangguan jiwa menjadi lebih pendek:
pencegahan sekunder (secondary prevention).
c. Cacat yang mungkin ditimbulkan oleh gangguan jiwa berkurang:
pencegahan tersier (tertiary prevention).
2. Kesehatan Jiwa (Masyarakat) dan Faktor Sosial
Bila masyarakat atau suatu kelompok manusia mengalami stres,
maka dapat dilihat bahwa ada orang yang jatuh sakit, tetapi ada juga yang
tidak. Makin hebat stres itu, makin banyak orang yang terganggu, tetapi
selalu ada yang tetap "sehat". mengapa ada yang sakit, tetapi juga
mengenai faktor-faktor yang membantu, mengapa ada yang tidak sakit.
Para ahli epidemiologi mengenal faktor-faktor tuan rumah (host
factor) yang merupakan kualitas pada anggota masyarakat dan yang
menentukan kerentanan atau kekebalan mereka terhadap stres. Pengertian
ini dapat dipakai juga dalam psikiatri masyarakat dan dapat dibagi menjadi
dua kelompok:
a. Faktor "nasib", yaitu yang tidak atau sukar sekali dapat
dikendalikan, seperti umur, jenis kelamin, keadaan sosio
ekonomis, daerah, dan sebagainya.
b. Faktor psikologis, seperti kematangan kepribadian, kemampuan
menyelesaikan

stres

emosional,

kecemasan dan kekecewaan.

67

kemampuan

mengatasi

Pada suatu waktu tertentu faktor-faktor itu sudah ada dalam bentuk
tertentu pula, tetapi dapat diubah dengan memengaruhi pengalaman
individu atau orang tua mereka. Kemudian juga terdapat kemungkinan
untuk memperbaiki faktor keturunan. Hal ini akan menjadi lebih nyata
dengan majunya eugenetika (eugenetics), namun mengandung banyak
masalah moral. Faktor-faktor itu ada dalam bentuk perbekalan.
a. Perbekalan
Konsep yang dipakai adalah bahwa untuk jangka panjang
seseorang harus mempunyai perbekalan (supply)
Perbekalan fisik : gunanya untuk perkembangan dan kekuatan badan,

seperti makanan, perumahan, rangsangan-rangsangan untuk pancaindera, kesempatan untuk gerak badan dan sebagainya.
Perbekalan

psikososial

merupakan

rangsangan

untuk

perkembangan dalam bidang sifat-sifat kepribadian, kemauan, cara


berpikir, perbuatan dan emosi. Manusia mempunyai kebutuhankebutuhan psikologis yang perlu terpenuhi agar ia dapat hidup
tenang. Misalnya:

Kebutuhan akan dicintai dan mencintai,

Kebutuhan akan keterlibatan,

Kebutuhan akan harga diri,

Kebutuhan akan autonomi,


Perbekalan sosiobudaya: merupakan berbagai pengaruh pada
perkembangan dan fungsi kepribadian dari pihak adat-istiadat,
kebudayaan dan struktur masyarakat.
Faktor-faktor sosiobudaya tidak hanya memengaruhi individu secara
langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui pengaruh
terhadap faktor-faktor psikososial dan perbekalan fisik.

68

3.

Pencegahan Primer
Menurut definisi, pencegahan primer adalah usaha mengurangi
kasus-kasus baru gangguan jiwa dalam masyarakat dengan mengurangi
atau menghilangkan hal-hal yang dapat menimbulkannya.
Dengan demikian, maka untuk suatu program pencegahan primer
kita harus:

o mengenal pengaruh buruk apa yang ada pada waktu itu.


o Mengenal kekuatan lingkungan apa yang membantu para individu
melawan pengaruh buruk pada waktu itu.
o mengenal kekuatan lingkungan apa yang mempengaruhi daya tahan
masyarakat terhadap pengalaman buruk yang mungkin menimpa
dikemudian hari.
Dengan demikian diharapkan bahwa keseimbangan kekuatan dapat
diubah sedemikian rupa sehingga penambahan gangguan jiwa berkurang,
pengalaman buruk dibatasi atau dihilangkan dan daya tahan masyarakat
diperkuat.
Tetapi dapatkah gangguan jiwa dicegah? Pengetahuan kita tentang
sebab- musabab banyak gangguan jiwa belum sempurna, bagaimana dapat
kita mencegahnya dengan baik? Seperti diketahui, oleh petugas-petugas
kesehatan masyarakat dahulu telah dikerjakan banyak hal pencegahan
sebelum diketahui sebab - sebab suatu penyakit. Dan hasilnya memuaskan.
Misalnya pencegahan skorbut pada pelaut dengan membawa buah buahan di kapal; pencegahan variola oleh Jenner dengan vaksinnya.
a. Teori Krisis
Krisis berarti suatu kehilangan perbekalan dasar yang mendadak,
bahaya akan kehilangan atau tantangan untuk mendapatkan perbekalan
yang lebih banyak, tetapi dengan tuntutan yang lebih berat bagi
individu.

69

Periode-periode krisis yang penuh dengan ketegangan dan yang


berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu oleh Erikson
(1959) dinamakan krisis kebetulan (accidental crisis).
Dahulu krisis dipandang sebagai sesuatu yang selalu berbahaya,
sering merugikan dan paling sedikit tidak mengakibatkan apa-apa.
Sekarang

krisis

dipandang

sebagai

periode

peralihan

dengan

dua_kemungkinan sebagai akibatnya.


o Mempunyai efek baik terhadap perkembangan kepribadian, individu
menjadi lebih matang sesudah krisis itu.
o Indidvidu mengalami gangguan jiwa sesudahnya atau menjadi lebih
mudah terganggu, lebih rentan terhadap gangguan jiwa.
Penyelesaian Krisis
Dalam keadaan krisis timbul bermacam-macam perasaan yang
tidak enak, seperti rasa cemas, takut, rasa salah, atau malu, tergantung
pada orang dan keadaan. Yang menentukan penyelesaian krisis adalah
antara lain kesehatan badan, faktor kebetulan yang memengaruhi
perkembangan krisis, persediaan sumber-sumber sosial yang dapat
menolong, sistem komunikasi dalam lingkungan itu serta kepribadian
individu yang merupakan kristalisasi dari konstitusi dan pengalaman.

Faktor individual, yang turut memengaruhi penyelesaian krisis adalah:


1) Hubungan secara simbolis antara keadaan sekarang dengan
keadaan krisis dahulu dan-cara penyelesaian krisis yang dahulu itu.
2) Bagaimana individu menerima keadaan sekarang sebagai stres dan
krisis.

Pengaruh sosiobudaya : Manusia biasanya menghadapi krisis tidak


sendirian. Ia sering ditolong atau sebaliknya dihalangi oleh orang-orang di

lingkungannya
Pengaruh keluarga : Keluarga atau anggota lain dari kelompoknya akan
menolong individu dalam krisis untuk mendapatkan jalan keluar sesuai
dengan adat-istiadat, kebudayaan dan pengalaman keluarga itu.

70

Keluarga atau kelompok harus menolong individu agar ia secara aktif


menemukan cara penyelesaian masalahnya dan bukan agar ia menghindari
tantangan atau memakai mekanisme pembelaan hanya sekadar untuk

menghilangkan ketegangan.
Pengaruh orang lain: Ada banyak orang lain juga yang dapat memengaruhi
seseorang dalam menyelesaikan krisisnya, yaitu: orang-orang terkemuka,
yang penting dan berarti baginya dalam masyarakat. Yang resmi adalah :
pejabat pejabat keagamaan, dokter, perawat, guru, pekerja sosial, dan
mungkin juga pemimpin pemimpin politik.
Program pencegahan primer dapat diadakan untuk keluargakeluarga, anak-anak sebelum masa sekolah, anak-anak masa sekolah,
untuk para anggota angkatan bersenjata dan orang dewasa lain di
tempat pekerjaan atau sesuai dengan profesi ilan untuk orang-orang
usia lanjut. Semua dilakukan melalui penerangan, ceramah, bimbingan
dan konseling serta latihan kelompok, antara lain kelompok enkonter
(encounter groups) mungkin juga pelatihan manajemen stres ("stress
management training") sesuai dengan tujuan dan tuntutan masyarakat.

4. Pencegahan Sekunder dan Tersier


Pencegahan sekunder didefinisikan sebagai usaha diagnosis dini
dan pengobatan segera sehingga lamanya penyakit atau gangguan
dipersingkat.
Dokter umum, dokter keluarga dan pekerja kesehatan jiwa yang
dekat dengan keluarga serta para anggotanya dapat banyak membantu
dalam hal ini, misalnya mengenai leaksi abnormal pada anak, gangguan
situasional sementara, retardasi mental, anak yang diadopsi, sindrom
menopause dan permulaan skizofrenia serta gangguan mental organik pada
orang usia lanjut.

71

Pencegahan tersier adalah usaha mengurangi cacat atau fungsi yang


defek akibat penyakit atau gangguan. Dalam hal ini, maka pelayanan
rehabilitasi sangat penting. Suatu program pencegahan tersier harus
mencerminkan dalil bahwa usaha rehabilitasi sudah mulai pada permulaan
gangguan jiwa. Program ini harus berusaha menjamin kesinambungan
tanggung jawab atas perawatan penderita.
Perlu diperhatikan agar "stigma rumah sakit jiwa" tidak melekat
terus pada penderita dan agar tidak terjadi desosialisasi. Bila hal ini terjadi,
maka rehabilitasi menjadi sangat sukar. Karena itu suatu rumah sakit jiwa
sekarang didirikan di tengah-tengah masyarakat (tidak seperti dahulu di
surau tempat yang terpencif) agar penderita mudah mengadakan kontak
dengan keluarganya dan masyarakat.
Pelayanan rehabilitasi diadakan melalui terapi kerja (dengan ahli
terapi kerja), rumah. Sakit siang hari atau malam hari, keluarga angkat
(foster home), rumah separuh-jalan ("halfway house") dan bengkel
terlindung ("sheltered workshop").

5. Peran Tenaga Kesehatan Jiwa Masyarakat


Seorang profesional kesehatan jiwa harus mengidentifikasikan
semua orang dalam "masyarakat yang dapat membantu penderita sebelum,
selama dan sesudah masuk rumah sakit dan mengadakan hubungan dengan
mereka.
Para dokter umum memegang peran yang penting, terlebih dalam
kebijaksanaan Pemerintah untuk melaksanakan integrasi kesehatan jiwa
dalam Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas atau PKM) dan dalam
RSU di kabupaten.
Para guru dalam sistem pendidikan dapat banyak membantu dalam
mencegah gangguan jiwa dan juga dalam menemukan gangguan jiwa
secara dini bila mereka dilatih. Mereka dapat membantu pula dalam
pengobatan dan rehabilitasi.

72

Para rohaniwan sering juga diminta bantuan-oleh penderita


gangguan jiwa atau oleh keluarga mereka.
Para perawat pun dapat mengambil bagian dalam gerakan kesehatan
jiwa bila mereka memperhatikan juga keadaan mental penderita dengan
penyakit badaniah.
J. Psikiatri Geriatrik
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan
menangani masalah kesehatan pada usia lanjut. Psikiatri geriatrik atau
psikogeriatri adalah psikiatri mengenai orang usia lanjut. Gerontologi adalah
studi mengenai semua mengenai masalah orang usia lanjut (fisik, mental,
finansial, teknologi, pembangunan, dan sebagainya (Orang lanjut usia disebut
lansia (lanjut usia), manula (manusia usia lanjut). Glamur (golongan lanjut
umur) atau pun warga senior, yaitu orang yang berumur 65 tahun lebih, tetapi
ada perhimpunan-perhimpunan warga senior yang menerima anggota umur
60 th, atupun 50 th (setelah pensiun).
1. Beberapa Masalah Khusus Pada Usia Lanjut
Sifat gotong royong masyarakat kita dan cara hidup keluarga besar
(extended family) serta nilai-nilai dan norma-norma mengenai keluarga,
sangat membantu para anggota keluarga yang senior. Akan tetapi bila
masyrakat kita menuju masyarakat industri dengan sifat individualitas dan
cara hidup keluarga inti (nuclear famaly). Maka masalah orang usia lanjut
akan lebih banyak lagi, bukan saja dalam bidang kesehatan fisik dan
mental, tetapi juga dalam hubungan antar manusia, sosial dan ekonomi.
Keluarga dalam masyarakat industri memang terpaksa harus keluarga inti
untuk bertahan hidup (survice), karena mobilitas lebih tinggi, lebih mudah
menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan lingkunganfisik serta normanorma baru.
a. Gangguan fisik: Banyak perubahan fisik pada warga senior adalah
karena penyakit. Akan tetapi sebagian juga karena proses menjadi tua

73

yang sampai sekarang belum dapat dimengerti.Mengapa seorang


menjadi tua? Beberapa perubahan fisik adalah berkurangnya
ketajaman pancaindra, berkurangnya kemampuan melaksanakan
sesuatu karena turunya kekuatan motorik, perubahan penampilan fisik
yang mempengaruhi peranan dan status ekonomik dan sosial serta
kemunduran efisiensi integratif susunan saraf puat, misalnya
penciutan minat, kelemahan ingatan dan penurunan inteligensi. Tidak
jarang terjadi depresi pada orang orang yang berumur 60-an. Depresi
sering mengisyratakan adanya suatu penyakit organik. Penyakit yang
laten mungkin menunjukan eksaserbasi, seperti diabetes, hipertensi,
dan galukoma. Gangguan pembuluh darah yang progresif pada
jantung dan otak yang mengancam serta membatasi hidup, dapat
menimbulkan reaksi takut, amarah dan depresi. Sebaliknya, reaksi
emosional

yang

berlebihan

dapat

memperhebat

gangguan

kardiovaskuler, endokrin dan penyakit lain yang sebelumnya masih


ringan. Orang lanjut usia sering menyatakan kekakhwatiranya
terhadap ketidakmampuan fisiknya, tetapi jarang tentang rasa takutnya
terhadap kematian.
b. Kehilangan dalam bidang sosial ekonomi: Kehilangan keluarga atau
teman karib, kedudukan sosial, uang, pekerjaan (pensiun), atau
mungkin rumah tinggal, semua ini dapat menimbulkan reaksi yang
merugikan. Perasaan aman dalam hal sosial dan ekonomi serta
pengaruhnya terhadap semangat hidup, rupanya lebih kuat dari pada
keadaan badani dalam hal melawan depresi.
c. Sex pada usia lanjut: Orang usia lanjut dapat saja mempunyai
kehidupan sex yang aktif sampai umur 80-an. Libido dan nafsu
sexsual penting juga pada usia lanjut, tetapi sering hal ini
mengakibatkan rasa malu dan bingung pada mereka sendiri dan anakanak mereka yang menggap sex pada usia lanjut sebagai hal yang tabu
atau tidak wajar.Orang yang pada masa muda mempunyai kehidupan
sexsualyang sehat dan aktif, pada usia lanjut masih juga demikian,

74

biarpun sudah berkurang. Kalau yang waktu muda sudah lemah, pada
usia lanjut akan habis sama sekali.
d. Adaptasi terhadap kehilangan: Pada umumnya seseorang yang
sejak muda meghadapi hidup dengan cara yang aktif dan bersemangat
serta dengan sikap memecahkan masalah, pada masa usia lanjut ia
lebih dapat menyesuaikan diri dari pada seseorang yang memandang
masa usia lanjut itu hanya sebagai masa dengan pengurangan sumber
daya, kecerdasan dan kemampuan atau sebagai masa dengan perilaku
streotip saja. Seorang yang sudah lanjut usianya dan yang
menganggap bahwa ia memerlukan perlindungan, karena ia akan tetap
sehat, kuat dan dapat berdiri sendiri, secara relatif akan dapat
menyesuaikan diri, biarpun keadaan sosial ekonominya tidak seperti
dahulu lagi. Bagi kebanyakan warga senio , kehilangan sumber nafkah
ditambahkan pada sumber daya yang memang sudah terbatas. Yang
menarik perhatian psikiater adalah kekurangan kemampuan adaptasi
berdasarkan hambatan psikologi yaitu, rasa khawatir dan takut yang
timbul dari masa lebih muda dan modifikasi, diperkuat dan diuraikan
sepanjang hidup individu melalui mitos-mitos serta lelucon-lelucon
negatifmengenai usia lanjut.
e. Gangguan psikiatrik yang sering terdapat pada usia lanjut adalah,
sindrom otak organik dan psikosis involusi. Skizofrenia, psikosis
bipolar dan ketergantungan obat bila ada, mungkin itu sejak masa
muda. Hampir semua gangguan jiwa pada masa muda dapat bertahan
sampai atau timbul lagi pada usia lanjut. Neurosis sering berupa
cemas dan depresi. Gangguan psikosomatis dapat juga berlangsung
sampai masa tua, tetapi beberapa menjadi lebih baik atau hilang
sendiri.
Pengobatan bagi warga senior dengan gangguan jiwa mempunyai
tujuan umum sebagai berikut :
Mengurangi penderitaan pasien agar keluhannya menjadi minimal.
Memperbaiki perilakunya dan mengurangi perselisihan antar manusia
agar keluhan lingkunganya mengenai perilaku menjadi minimal.

75

Mempertinggi kemampuan mencari dan mempertahankan teman dari


kedua sex dan menunjukan perilaku sex yang dapat diterima oleh
masyrakat.
Mengembalikan penderita ke suatu pekerjaan atau kesibukan dalam
batas-batas sumber dayanya dan sesuai dengan intelegensinya, serta
keterampilan dan peranan sosial yang biasa dilakukanya.
Membangkitkan keinginan bertindak atau berbuat sesuatu agar dia
produktif dan kreatif secara optimal.

76