Anda di halaman 1dari 4

Aspek Hukum Euthanasia

Perubahan sosial budaya pada kehidupan masyarakat pada saat ini, telah
banyak didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan serta penemuanpenemuan teknologi. Salah satu bidang dalam kehidupan masyarakat yang telah
mengalami perkembangan teknologi adalah ilmu kedokteran. Melalui suatu
perkembangan teknologi medis yang semakin canggih dan modern, maka dapat
diketahui dengan cepat penyakit yang diderita oleh seseorang sehingga dapat
langsung didiagnose dengan cepat dan sempurna dapat dilakukan pengobatan
secara efektif terhadap suatu penyakit yang diderita oleh pasien. Kemajuan di
bidang kesehatan telah dapat menyembuhkan dan memperpanjang umur pasien
untuk dalam jangka waktu tertentu. Namun, adakalanya pasien tidak dapat
disembuhkan lagi. Pada batas tertentu, seorang yang tidak dapat disembuhkan
lagi karena penyakit yang didieritanya dan pasrah menginginkan untuk melepas
segala penderitaan, dengan salah satunya meminta untuk euthanasia atau
dengan kata lain kematian dengan baik(1).
Berikut kriteria kematian menurut PP no.18/1981 pasal 1g menyebutkan bahwa:
Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang
berwenang, bahwa fungsi otak, pernapasan, & atau denyut jantung seseorang
telah berhenti(2). Ditambah pula SK IDI no 336/PB/A.4/88, seorang dinyatakan
mati bila fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti
(irreversibel) atau apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak.
Dari penggolongan Euthanasia, yang paling praktis & mudah dimengerti
adalah(3):
- Euthanasia aktif, tindakan secara sengaja dilakukan oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien. Merupakan
tindakan yang dilarang, kecuali di negara yang telah membolehkannya lewat
peraturan perundangan.
- Euthanasia pasif, dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak
memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien, misalnya
menghentikan pemberian infus, makanan lewat sonde, alat bantu nafas, atau
menunda operasi.
- Voluntary euthanasia: Permohonan diajukan pasien karena, misalnya gangguan
atau penyakit jasmani yang dapat mengakibatkan kematian segera yang
keadaannya diperburuk oleh keadaan fisik & jiwa yang tidak menunjang.
- Involuntary euthanasia: Keinginan yang diajukan pasien untuk mati tidak dapat
dilakukan karena, misalnya seseorang yang menderita sindroma Tay Sachs.
Keputusan atau keinginan untuk mati berada pada pihak orang tua atau yang
bertanggung jawab.
Deklarasi Lisabon 1981, WMA mengakui hak pasien antara lain juga hak mati
(the right to die in dignity), tapi bukan berarti merestui eusthania aktif. Deklarasi
Madrid 1987, menggangap euthanasia perbuatan tidak etis. Dokter menganggap
hak mati beda dengan euthanasia, selama dokter tidak secara aktif membantu
pasien melaksanakan hak untuk mati secara nyata, dianggap tidak terjadi
euthanasia. Di Indonesia tidak diakui adanya hak untuk mati, selain itu dalam

KUHP euthanasia dikategorikan kejahatan terhadap nyawa maka euthanasia


tidak dapat dilakukan di indonesia. Karena euthanisia melanggar hak hidup yang
dijabarkan pada UU no 39/1999 tentang HAM yang bunyinya Hak yang paling
utama dimiliki manusia adalah hak untuk hidup dimana di dalam hak untuk
hidup tersebut pula di dalamnya hak untuk mati, meskipun hak tersebut tidak
mutlak. Selain itu dokter yang melakukan euthanasia dapat dijerat oleh KUHP
pasal 344 yang bunyinya Barang siapa merampas nyawa orang lain atas
permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati,
diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun.
Selain pasal KUHP 344 dokter dapat pula dijerat oleh :
-

Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang
lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15
tahun.
Pasal 340 KUHP : Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana
terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana seumur
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.
Pasal 345 KUHP : barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya
membunuh diri atau menolongnya dalam perbuatan itu, atau ikhtiar
kepadanya untuk itu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 4
tahun kalau jadi orangnya membunuh diri.
Pasal 356 (3) KUHP : kejahatan yang dilakukan dengan memberikan bahan
yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan dan diminum.

Dalam pandangan hukum, euthanasia bisa dilakukan jika pengadilan


menginjinkan dengan pertimbangan ahli hukum, etika dan agama. Tanpa dasar
hukum, maka dokter dan RS bisa dianggap melanggar pasal 345 KUHP
(menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan sarana).
Pada kitab hukum KUHP terdapat pula pasal-pasal yang menolak adanya
euthanasia pasif(2),
-

Pasal 304 KUHP : barang siapa dengan sengaja menempatkan atau


membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum
yang berlaku baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan
kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam
dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 306 (2) KUHP : jika mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut
dikenakan pidana penjara maksimal 9 tahun.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebenarnya telah cukup antisipasif dalam


menghadapi perkembangan iptekdok, antara lain dengan menyiapkan perangkat
lunak berupa SK PB IDI no.319/PB/4/88 mengenai Pernyataan Dokter Indonesia
tentang Informed Consent. Disebutkan di sana, manusia dewasa & sehat rohani
berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya.
Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan
kemauan pasien, walau untuk kepentingan pasien itu sendiri. Selain itu juga PB

IDI no 702/PBH2/09/2004 Euthanasia menyebutkan Di Indonesia sebagai negara


yang berazaskan Pancasila, dengan sila yang pertamanya adalah Ke Tuhanan
Yang Maha Esa, tidak mungkin dapat menerima tindakan euthanasia aktif (4).
Perlu diperhatikan bahwa pada saat dokter harus memilih harus menyelamatkan
ibu atau janin (double effect) tindakan tersebut tidak termasuk kepada
euthanasia. Walaupun beberapa pandangan menganggap itu adalah euthanasia
aktif(3).
Selain melanggar hukum pidana euthanasia juga melanggar disiplin kedokteran
yang ditetapkan konsil kedokteran Indonesia yaitu :
-

Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan dan pasien atas


permintaan sendiri dan atau keluarga.
Setiap dokter tidak dibenarkan melakukan perbuatan mengakhiri
kehidupan manusia karena bertentangan dengan sumpah kedokteran,
etika, tujuan profesi, aturan hukum pidana.
Pada kondisi terminal, di mana upaya kedokteran futille/sia-sia menurut
SOTA ilmu kedokteran maka dengan persetujuan pasien/keluarga, dokter
dapat menghentikan pengobatan, tapi tetap memberi perawatan yang
layak (ordinary care). Dianjurkan untuk berkonsultasi dengan sejawatnya
atau komisi etik RS yang bersangkutan.

Di Amerika Serikat, euthanasia lebih populer dengan istilah physician assisted


suicide. Negara yang telah memberlakukan euthanasia lewat undang-undang
adalah Belanda & di negara bagian Oregon-Amerika Serikat (2).
Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, antara lain:
- Orang yang ingin diakhiri hidupnya adalah orang yang benar-benar sedang
sakit & tidak dapat diobati, misalnya kanker.
- Pasien berada dalam keadaan terminal, kemungkinan hidupnya kecil & tinggal
menunggu kematian.
- Pasien harus menderita sakit yang amat sangat, sehingga penderitaannya
hanya dapat dikurangi dengan pemberian morfin.
- Yang boleh melaksanakan bantuan pengakhiran hidup pasien, hanyalah dokter
keluarga yang merawat pasien & ada dasar penilaian dari dua orang dokter
spesialis yang menentukan dapat tidaknya dilaksanakan euthanasia.
Semua persyaratan itu harus dipenuhi, baru euthanasia dapat dilaksanakan.
Indonesia sebagai negara berasaskan Pancasila, dengan sila pertamanya
Ketuhanan Yang Mahaesa, tidak mungkin menerima tindakan euthanasia
aktif.
Mengenai euthanasia pasif, merupakan suatu kontroversial karena memiliki
nilai bersifat ambigu yaitu di satu sisi bisa dianggap sebagai perbuatan amoral,
tetapi di sisi lain dapat dianggap sebagai perbuatan mulia karena dimaksudkan
untuk tidak memperpanjang atau berjalan secara alamiah (2).
Dafpus
1. Euthanasia Ditinjau dari Aspek Hukum Pidana dan Hak Asasi Manusia.
Available at http://lib.unnes.ac.id/2405/. Accessed at 30th january 2012.

2. Aspek Hukum dalam Pelaksanaan Euthanasia di Indonesia. Available at


http://hukumkes.wordpress.com/2008/03/15/aspek-hukum-dalampelaksanaan-euthanasia-di-indonesia/. Accessed at 30th january 2012.
3. Aspek
Hukum
Euthanasia.
Available
at
http://eprints.undip.ac.id/5896/1/aspek_hukum_euthanasia__lucia_ratna_kartika_wulan.pdf. accessed at 30th january 2012.
4. Euthanasia,
Legal
atau
non-legal?.
Available
at
http://laporanpenelitian.wordpress.com/2008/05/25/euthanasia-antaralegal-dan-non-legal/. Accessed at 30th january 2012.