Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH FILSAFAT ILMU

PERANAN FILSAFAT DALAM ILMU


PENGETAHUAN
Oleh:
Tri wulan ningsih 1114500031
BK 3D

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan
rahmatnyalah maka kami boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Peranan Filsafat Ilmu Dalam
Ilmu Pengetahuan ", yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari
peranan filsafat ilmu dalam ilmu pengetahuan
Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi
makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah
SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Medan 07,05,2013

"Penulis"

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................ i
Daftar Isi .................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang ......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................... 2


C. Tujuan ........................................................................................2
D. Manfaat ......................................................................................2
BAB II Pembahasan
A. Pengertian Filsafat .....................................................................3
B. Pengertian Filsafat Ilmu ............................................................4
C. Pengertian Ilmu Pengetahuan ..................................................4
1. Karakteristik Ilmu Pengetahuan ...................................... 5
2. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan .............................................. 6
3. Syarat-Syarat Ilmu ............................................................ 6
D. Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan ............................. 7
BAB III Penutup
A. Kesimpulan ................................................................................ 10
B. Daftar Pustaka .......................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Pada awalnya yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan
bagian dari filsafat. Sehingga dikatakan bahwa filsafat merupakan induk atau ibu dari semua
ilmu (mater scientiarum). Karena objek material filsafat bersifat umum yaitu seluruh
kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek khusus. Hal ini menyebabkan
berpisahnya ilmu dari filsafat.
Dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak saja dipandang sebagai induk dan
sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami
spesialisasi. Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah
menjadi sektoral. Contohnya filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian
dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang
tertentu. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangat relevan untuk
dikaji dan didalami (Bakhtiar, 2005).
Meskipun pada perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat,
ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri
kekhususan yang dimiliki setiap ilmu, hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara
masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi
penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatu padukan
masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu
pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusian yang luas.
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang
memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan
dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan
yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat
sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah (Siswomihardjo, 2003).

Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas


melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan
menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah
adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional,
sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan
pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh sebab itu, hakikat berpikir
rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan
berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat
dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban
sementara.
Berfilsafat sesungguhnya dilakukan dalam masyarakat. Kenyataan ini menunjukkan
bahwa pada hakekatnya filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalahmasalah kehidupan. Salah satu tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bantuan apa yang dapat
diberikan filsafat kepada hidup masyarakat.
Selain filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan pun pada umumnya membantu manusia dalam
mengorientasikan diri dalam dunia. Akan tetapi, ilmu-ilmu pengetahuan, seperti biologi,
kimia, fisiologi, ekonomi, dan lain sebagainya secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk
menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu tersebut membatasi diri pada
tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu semakin
mengkhususkan metode-metode mereka.
Dengan demikian, ilmu-ilmu tersebut tidak membahas pertanyaan-pertanyaan yang
menyangkut manusia sebagai keseluruhan dan sebagai kesatuan yang utuh. Padahal
pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus dikemukakan manusia dan sangat penting bagi
praksis kehidupan manusia.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa arti dan tujuan hidup manusia, apa
kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai manusia, atau pun pertanyaan tentang dasar
pengetahuan kita, tentang metode-metode ilmu-ilmu, dan lain sebagainya, tidak mampu
ditangani ilmu-ilmu pengetahuan. Padahal jawaban yang diberikan secara mendalam dapat
mempengaruhi penentuan orientasi dasar kehidupan manusia. Di sinilah filsafat memainkan
peranannya.
Tulisan ini merupakan ulasan tentang filsafat, peranan dan kontribusi filsafat
berhadapan dengan ilmu-ilmu pengetahuan, serta bagaimana filsafat membantu masyarakat
menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dapat
mempengaruhi kehidupan manusia. Tulisan ini juga mengulas tentang hubungan filsafat
dengan kebenaran.

B.RUMUSAN MASALAH
A.
B.
C.
D.

Pengertian Filsafat.
Pengertian Filsafat ilmu.
Pengertian ilmu pengetahuan.
Peranan Filsafat dalam ilmu pengetahuan
C. TUJUAN

Adapun tujuan dari rumusan masalah dalam makalh ini adalah:


1. Untuk mengetahui peranan antara filsafat Ilmu dalam ilmu pengetahuan
2. Untuk mengetahui manfaat mempelajari filsafat
3. Pemenuhan sebagai tugas kelompok
D. MANFAAT
Manfaat yang di dapat dari makalah ini adalah:
1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Filsafat

2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang peranan antara filsafat Ilmu dalam ilmu pengetahuan

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani
philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos
(philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani
Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu
ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula
kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai
kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The
Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah
dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara
harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang
kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia
dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai
istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli
matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a 2 +
b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya philosophos (pencinta kearifan). Baginya kearifan
yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh
para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia
merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam
perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap
alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The
Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang
ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong
pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa
dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya
untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap
awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam
perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya
dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento
Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri.
Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.

B.Pengertian Filsafat Ilmu


Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu
bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan
timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari
filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti

perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama
tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan
ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu
yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi
pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi
kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti
maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari
ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmuilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono
(1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk
memahami hakekat dari sesuatu ada yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat
ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan
ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

C.Pengertian Ilmu pengetahuan


Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.

Beberapa pendapat para ahli tentang ilmu pengetahuan :


Harold H. Titus mendefinisikan Ilmu (Science) diartikan sebagai common science
yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau
peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).
Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut
kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.
J. Habarer mendefinisikan Suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan
kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.
Louis Leahy mendefinisikan Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan
kesempurnaan. Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan
yang tidak tahu apa-apa
The Liang Gie mendefinisikan Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah
sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai
pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu
yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.

1. Karakteristik Ilmu Pengetahuan


Karakteristik ilmu pengetahuan di antaranya sebdagai berikut :
1. Konkrit, yaitu dapat diukur kebenarannya.

2. Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau memiliki keterkaitan satu sama
lainnya.
3. Tidak terbatas sehingga masih banyak ilmu pengetahuan yang harus digali lagi dan tidak
mempunyai keterbatasan tertentu.
4. Metodologi yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
5. Rasionalis ; Penalarannya berdasarkan ide yang dianggap jelas dan dapat diterima oleh akal.
6. Wahyu ; Tidak menggunakan penalaran, tetapi menggunakan wahyu sebagai sumber
pengetahuan.
7. Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
8. Kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
9. Obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi

2. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan


1.
2.
3.
4.
5.

Menurut The Liang Gie (1987) ilmu pengetahuan mempunyai 5 ciri pokok yaitu :
Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan
Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu
mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan
pribadi
Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian
yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian
itu
Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.

Menurut Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1. Obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada
emosional subyektif,
2. Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan;
3. Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat
keterandalan (reabilitas) tinggi,
4. Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat
keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal,
5. Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum,
6. Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan
7. Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinankemungkinan suatu hal.

3. Syarat-Syarat Ilmu :
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratanpersyaratan, sebagai berikut
1. Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam
(kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial).
2. Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik
tertentu.

3. Pokok permasalahan (subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok
permasalahan yang akan dikaji.
Jadi seluruh bentuk ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam kategori ilmu
pengetahuan dimana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakterristik obyek
ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.

Salah satu dari bentuk ilmu pengetahuan ditandai dengan :


1. Obyek Ontologis : yaitu pengalaman manusia yakni segenap wujud yang dapat dijangkau
lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan panca indra.
2. Landasan Epistemologis : metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dengan
pengajuan hipotesis atau yang disebut logico hypotetico verifikasi.
3. Landasan Aksiologis : kemaslahatan umat manusia artinya segenap wujud ilmu pengetahuan
itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.

D.Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan


Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul dalam
dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang
nasibnya, tentang kebebasannya, dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya
sudah menghasilkan pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat
dibagi atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan
diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari binatang, manusia
tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah,
manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu
membantu manusia mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan
proses pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah merasuki setiap sudut kehidupan
manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu
manusia mengatasi berbagai masalah kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang
berjudul Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend mengungkapkan
bahwa ada dua alasan mengapa ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena
ilmu pengetahuan mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua,
karena ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua
alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap ilmu pengetahuan. Salah satu
tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu
pengetahuannya ini, tidak berarti anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti
terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya.
Feyerabend menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang
dan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih
unggul karena propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi
wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan, tidak dapat
disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya memberikan pengaruh yang besar dalam
kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu

manusia mengatasi masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan


dapat pula menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam membantu
manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti yang telah
diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu
pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan
itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan
manusia. Untuk mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam
hal inilah filsafat menjadi hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu
Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan dua penilaian filsafat atas
kebenaran ilmu-ilmu. Pertama, filsafat ikut menilai apa yang dianggap tepat dan benar
dalam ilmu-ilmu. Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu
sendiri. Dalam hal ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu. Akan tetapi,
mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak dapat menjawabnya
karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal yang berhubungan dengan
ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran dibahas dan dijelaskan oleh
filsafat. Kedua, filsafat memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan
pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran.
Dari dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa
ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia
menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar pengetahuan
itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara langsung berperan dalam
usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam filsafat, berbagai pertanyaan yang
berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan diolah demi menemukan jawaban yang
memadai.
Franz Magnis Suseno mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari
jawaban dari berbagai pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus mengkritik
jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat harus ikut mencari jawaban yang
benar. Kritikan dan jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya berbeda dari jawabanjawaban lain pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan
secara rasional.
Pertanggungjawaban rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus
terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara
argumentatif dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau ada yang
mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran, pertanyaan dan
sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau alasan-alasan yang masuk akal dan
dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu mengarah pada
pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu
pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu
saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat
sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan
evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan berbagai ilmu pengetahuan
yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan bekerjasama dengan berbagai ilmu
pengetahuan dalam rangka pencarian akan kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun
filsafat, bila diarahkan secara tepat dapat sangat membantu kehidupan manusia.

Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada


paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan
nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena
ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat
kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan
filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya
untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.antara ilmu
Pengetahuan dan ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat
Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulangulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa pengujian,sebab Filsafat
tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat
Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan
yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk
menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab
pelukisan fakta sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana
sesungguhnya fakat itu darimana awalnya dan akan kemana akhirnya

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Filsafat berasal dari kata Yunani philosophia yang lazim diterjemahkan sebagai
cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut
pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta
kearifan.sedangkan filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan.
Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah
mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama.
Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru dan Ilmu
pengetahuan atau Knowledge ini merupakan terminologi generik yang mencakup segenap
bentuk yang kita ketahui seperti filsafat, sosial, seni, beladiri, dan ilmu sains itu sendiri.
Peranan filsafat dalam ilmu pengetahuan adalah filsafat memberi penilaian tentang
sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran
tapi filsafat tidak ikut campur dalam ilmu-ilmu tersebut dimana filsafat selalu mengarah pada
pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu
pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu
saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat
sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan
evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.
Antara ilmu Pengetahuan dan ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu
Pengetahuan bersifat Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian
secara berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa
pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu
karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan filsafat
ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki tugas

melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh
pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan filsafat menjawab atas
pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu darimana awalnya dan akan kemana
akhirnya.

DAFTAR PUSTAKA
Bahm, Archie, J., 1980., What Is Science, Reprinted from my Axiology; The Science Of
Values; 44-49, World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.
Bertens, K., 1987., Panorama Filsafat Modern, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Koento Wibisono S. dkk., 1997., Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu
Pengetahuan, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya
Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan, Fakultas Pasca Sarjana UGM
Yogyakarta p.3, 14-16.
____________________., 1996., Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste
Comte, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.
____________________., 1999., Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai
Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu,
Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.
Nuchelmans, G., 1982., Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan
Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono, Fakultas Filsafat PPPT UGM
Yogyakarta p.6-7.
Sastrapratedja, M., 1997., Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Makalah,
Disampaikan Pada Internship Filsafat Ilmu Pengetahuan, UGM Yogyakarta 2-8 Januari 1997,
p.2-3.
Soeparmo, A.H., 1984., Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam, Penerbit
Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.
The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta,
p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.
Van Melsen, A.G.M., 1985., Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab, Diterjemahkan Oleh
K.Bartens, Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.
Van Peursen, C.A.,1985., Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Alih
Bahasa Oleh J.Drost, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 12.