Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang
terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan
abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di
dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang
telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Tumor otak
dibagi menjadi dua tipe yaitu tumor primer dan sekunder. Tumor primer, yaitu tumor yang
berasal dari dalam otak sendiri. Bisa berasal dari astrosit, oligodendrosit, ependimosit, fibroblast
arakhnoidal, neuroblas-meduloblas.Sedangkan tumor sekunder, yaitu tumor yang berasal dari
karsinoma metastasis yang terjadi di bagian tubuh lainnya, contohnya yang paling sering adalah
yang berasal dari tumor paru-paru pada pria dan tumor payudara pada wanita.
Tumor susunan saraf pusat ditemukan sebanyak 10% dari neoplasma seluruh tubuh,
dengan frekwensi 80% terletak pada intrakranial dan 20% di dalam kanalis spinalis. Di Amerika
di dapat 35.000 kasus baru dari tumor otak setiap tahun, sedang menurut Bertelone, tumor primer
susunan saraf pusat dijumpai 10% dari seluruh penyakit neurologi yang ditemukan di Rumah
Sakit Umum. Di Indonesia data tentang tumor susunan saraf pusat belum dilaporkan. Insiden
tumor otak pada anak-anak terbanyak dekade 1, sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan
pundak usia 40-65 tahun.Insidens tumor otak primer terjadi pada sekitar enam kasus per 100.000
populasi per tahun. Dimana tumor otak primer tersebut kira-kira 41% adalah glioma, 17%
meningioma, 13% adenoma hipofisis dan 12% neurilemoma. Pada orang dewasa 60% terletak
supratentorial sedang pada anak 70% terletak infratentorial.
Pada anak yang paling sering ditemukan adalah tumor serebellum yaitu meduloblastoma
dan astrositoma, sedangkan pada dewasa adalah glioblastoma multiforme. Diagnosa tumor otak
ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
radiologi dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosis
tumor otak apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis yang
ditemukan tergantung dari lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya
timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak yang dapat

menyebabkan kompresi, invasi dan destruksi dari jaringan otak. Walaupun demikian ada
beberapa jenis tumor yang mempunyai predileksi lokasi sehingga memberikan gejala yang
spesifik dari tumor otak. Dengan pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi hampir pasti dapat
dibedakan tumor benigna dan maligna.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI HISTOLOGI OTAK
Otak, merupakan merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang terletak di cavum cranii,
otak dibentuk oleh cavum neuralis yang membentuk 3 gelembung embrionik primer, yaitu
prosenchephalon,
membentuk

mesensephalon,
gelombang

mesencephalon,

rhombhencephalon,

embrionik

metenchepalon,

dan

sekunder,

untuk

yaitu

selanjutnya

telencephalon,

myelencephalon.

berkembang
dienchephalon,

Telencephalon

membentuk

Hemispaherum cerebri, corteks cerebri. Diencephalon membentuk epithalamus, thalamus,


hipothalamus, subthalamus, dan methatalamus. Didalam diencephalon terdapat rongga;
vebtriculus

tertius

yang

berhubungan

dengan

ventriculus

lateralis

melalui

foramen

interventriculare (Monroi).Mesencephalon membentuk corpora quadgemina dan crura cerebri,


dalam mesencephalon terdapat kanal sempit aquaductus sylvii yang menghubungkan ventriculus
tertius dengan ventriculus quartus. Metencephalon membentuk cerebellum dan pons, sedangkan
Myelencephalon membentuk medulla oblongata.
Berat otak saat lahir 350 gram, dan berkembang hingga saat dewasa seberat 1400-1500
gram.
Otak di bungkus oleh meninges yang terdiri dari 3 lapis. Di dalam otak terdapat rongga :
systerna ventricularis yang berisi liquors erebrospinalis yang lanjut ke rongga antar meninges,
cavum subarachnoidea. Fungsi utama liquorserebrospinalis yaitu melindungi dan mendukung
otak dari benturan.
Hemisphaerum cerebri jumlahnya sepasang, dipisah secara tidak sempurna oleh fissura
longitudinalis superior dan falx serebri, belahan kiri dan kanan dihubungkan oleh corpus
callosum. Hemisphaerum cerebri dibentuk oleh cortex cerebri, substantia alba, ganglia basalis,
dan serabut saraf penghubung yang dibentuk oleh axon dan dendrit setiap sel saraf.
Cortex cerebri terdiri dari selapis tipis substantia grissea yang melapisis permukaan
hemisphaerum cerebri. Permukaannya memiliki banyak sulci dan gyri, sehingga memperbanyak
jumlah selnya.diperkirakan terdapat 10 milyar sel saraf yang ada pada cortex cerebri.

Hemispaerum cerebri memiliki 6 lobus; lobus frontalis, lobus parietalis, lobus temporalis,
lobus occipitalis, lobus insularis dan lobus limbik. Lobus frontalis, mulai dari sulcus sentralis
sampai kapolus centralis, terdiri dari gyrus precentralis, girus frontalis superior, girus frontalis
media, girus frontalis inferior,girus recrus, dirus orbitalis, dan lobulus paracentralis
superior. Lobus parietalis, mulai dari sulcus centralis menuju lobus occipitalis dan cranialis dari
lobus temporalis, terdiri dari girus post centralis, lobulus parietalis superior,dan lobulus
parietalis inferior-inferior-posterior. Lobus temporalis, terletak antara polus temporalis dan polus
occipitalis dibawah sulcus lateralis. Lobus occipitalis terletak antara sulcus parieto occipital
dengan sulcus preoccipitalis, memiliki dua bangunan, cuneus dan girus lingualis.Lobus insularis,
tertanam dalam sulcus lateralis. Lobus limbik, berbentuk huruf C dab terletak pada dataran
medial hemisfer cerebri.
Lobus

oksipitalis

yang

terletak

di

sebelah

posterior

(di

belakang

kepala)

bertanggungjawab untuk pengolahan awal masukan penglihatan. Sensasi suara mula-mula


diterima oleh lobus temporalis, yang terletak di sebelah lateral (di sisi kepala)
Lobus parietalis terutama bertanggungjawab untuk menerima dan mengolah masukan
sensorik seperti sentuhan, tekanan, panas, dingin, dan nyeri dari permukaan tubuh. Sensasisensasi ini secara kolektif dikenal sebagai sensasi somestetik (perasaan tubuh). Lobus parietal
juga merasakan kesadaran megenai posisi tubuh, suatu fenomena yang disebut propriosepsi.
Kesadaran sederhana mengenai sentuhan, tekanan, atau suhu dideteksi oleh thalamus,
tingkat otak yang lebih rendah. Thalamus membuat anda sadar bahwa sesuatu yang panas versus
sesuatu yang dingin sedang menyentuh badan anda, tetapi tidak memberitahu dimana atau
seberapa besar intentitasnya.
Lobus frontalis bertanggungjawab terhadap tiga fungsi utama: (1) aktivitas motorik
volunteer (2) kemampuan berbicara (3) elaborasi pikiran. Daerah di lobus frontalis belakang
tepat di depan sulkus sentralis akhir di neuron-neuron motorik eferen yang mencetuskan
kontraksi otot rangka.
Area Broca yang betanggungjawab untuk kemampuan berbicara, terletak di lobus
frontalis kiri dan berkaitan erat dengan daerah motorik korteks yang mengontrol otot-otot
penting untuk artikulasi.

Daerah Wernicke yang terletak di korteks kiri pada pertemuan lobus-lobus parietalis,
temporalis, dan oksipitalis berhubungan dengan pemahaman bahasa. Daerah ini berperan penting
dalam pemahaman bahasa baik tertulis maupun lisan. Selain itu, daerah ini bertanggung jawab
untuk memformulasikan pola pembicaraan koheren yang disalurkan melalui seberkas saraf ke
daerah Broca, kemudian mengontrol artikulasi pembicaraan.
Daerah motorik, sensorik, dan bahasa menyusun hanya sekitar separuh dari luas korteks
serebrum keseluruhan. Daerah sisanya, yang disebut daerah asosiasi berperan dalam fungsi yang
lebih tinggi (fungsi luhur).
Korteks asosiasi prafrontalis adalah bagian depan dari lobus frontalis tepat di anterior
korteks motorik. Peran sebagai: (1) perencanaan aktivitas volunteer (2) pertimbangan
konsekuensi-konsekuensi tindakan mendatang dan penentuan pilihan (3) sifat-sifat kepribadian.
Korteks asosiasi parietalis-temporalis-oksipitalis dijumpai pada peetemuan ketiga lobus.
Di lokasi ini dikumpulkan dan diintegrasikan sensasi-sensasi somatic, auditorik, dan visual yang
berasal dari ketiga lobus untuk pengolahan persepsi yang kompleks.
Korteks asosiasi limbic di bawah dan dalam antara kedua lobus temporal. Daerah ini
berkaitan dengan motivasi dan emosi.
Pembentuk susunan saraf pusat adalah neuron yang jumlahnya mencapai 100 milyar,
didukung oleh sel glia yang jumlahnya 10 kali lipat dari neuron. Setiap neuron memiliki tonjolan
panjang , akson yang berfungsi membawa informasi keluar dari neuron (serabut eferen). Selain
itu terdapat tonjolan pendek, dendrit yang berfungsi membawa informasi menuju neuron (serabut
aferen)
Sel glia, atau neoroglia (hanya berada pada susunan saraf pusat) berfungsi untuk
menyangga dan dukungan metabolik terhadap neuron. Ada 2 macam sel glia; makroglia dan
microglia. Mikroglia berfungsi sebagai sel fagosit yang sangat besar jika terjadi infeksi atau
kerusakan pada susunan saraf, sedangkan makroglia berfungsi sebagai penyangga dan fungsi
nutritif. Mikroglia ada 4 macam, yaitu Oligodendroglia, sel schwann, sel astrosit, dan sel
ependyma. Bersama-sama mereka dipandang sebagai suatu sistem yang dinamik bermakna
fungsional dalam pertukaran metabolik antara neuron sistem saraf pusat lingkungannya. Terdapat

tiga jenis sel glia, mikroglia, oligodendroglia, dan astrosit. Mikroglia secara embriologis berasal
dari lapisan mesodermal sehingga pada umumnya tidak diklasifikasikan sebagi sel glia sejati.
Mikroglia memasuki SSP melalui sistem pembuluh darah dan berfungsi sebagai fagosit,
membersihkan debris dan melawan infeksi.
Astrosit
Astrosit merupakan neuroglia terbesar, berbentuk bintang , berinti besar, bulat atau lonjong,
sitoplasmanya mengandung banyak ribosom dan nukleoli tidak jelas. Astrosit protoplasma
terutama terdapat dalam substantia grissea otak dan medulla spinalis, sedangkan astrosit fibrosa
terutama dalam substantia alba. Karena banyaknya prosesproses sitoplasma yang luar, astrosit
penting sebagai struktur penyokong dan struktural dalam SSP. Fungsi astrosit masih
diteliti;bukti-bukti memperlihatkan bahwa sel-sel ini mungkin berperan dalam menghantarkan
impuls dan transmisi sinaptik dari neuron dan bertindak sebagai saluran penghubung antara
pembuluh darah dan neuron
Oligodendrosit
Disebut juga oligodendroglia, lebih kecil dari astrosit dengan cabang-cabang yang lebih
pendek dan jumlahnya lebih sedikit. Intinya kecil, lonjong, sitoplasma lebih padat dengan
ribosom bebas dan terikat dalam jumlah besar. Oligodendrosit terutama terdapat dalam 2 lokasi,
di dalam substansia grissea dan di antara berkas-berkas akson di dalam substantia alba. Lainnya
terletak dalam posisi perivascular sekitar pembuluh darah. Oligodendroglia dan astrosit
merupakan neuroglia sejati dan berasal dari lapisan embrional ektodermal (sama seperti neuron).
Oligodendroglia berperan dalam pembentukan myelin.
Sel Ependim
Sel ependim berasal dari lapisan dalam tabung neuralis dan mempertahankan susunan
epitel mereka . sel ependim melapisi rongga otak dan medulla spinalis dan terendam dalam
cairan serebrospinal uang mengisi rongga-rongga ini. Meskipin ujung apikal sel ependim
melapisi rongga tersebut, namun dasarnya tidak seragam dan terdiri dari procesus panjang yang
meluas dari pusat otak ke jaringan penyambung perifer, akibatnya procesus sel ependim berjalan
di antara unsur saraf dan merupakan matriks penyokong yang mirip dengan sel glia lainnya.

Sel schwann
Sel schwann membungkus semua serat saraf dari susunan saraf perifer, dan meluas sampai
perlekatannya masuk atau keluar dari perlekatannya di medulla spinalis dan batang otak sampai
ke ujungnya. Sel swhann memperlihatkan inti yang heterochromatik, biasanya gepeng, dan
terdapar di tengah sel dengan banyak mitokondria, mikrotubul dan mikrofilamen.
DEFINISI
Tumor adalah adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal yang disebabkan oleh mutasi
DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor.
Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya
yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu
berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA
kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang
menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.
Tumor

otak

adalah

suatu

pertumbuhan

jaringan abnormal

di

dalam

otakmerupakan penyakit yang menyerang otak manusia, yang merupakan pusat kendali dari
tubuh manusia, sehingga tumor otak pada umum nya dapat mengganggu fungsi organ tubuh lain
bahkan dapat menyebabkan kematian. Tumor otak dapat bersifat benigna dan maligna.
Tumor intrakranial (termasuk lesi desak ruang) bersifat jinak maupun ganas, dan timbul
dalam otak, meningen, dan tengkorak. Tumor otak berasal dari jaringan neuronal, jaringan otak
penyokong, sistem retikuloendotelial, lapisan otak dan jaringan perkembangan residual, atau
dapat bermetastasis dari karsinoma sistemik. Metastasis otak ditandai oleh keganasan sistemik
dari kanker paru, payudara, melanoma, limfoma dan kolon. Tumor otak dapat terjadi pada semua
usia; dapat terjadi pada anak kurang dari 10 tahun, tetapi paling sering terjadi pada dewasa
usia dekade kelima dan enam. Pasien yang bertahan dari tumor otak ganas jumlahnya tidak
berubah banyak selama 20 tahun terakhir.
ETIOLOGI
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah
banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

1.

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada

meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga.


Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi
pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma
tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang
kuat pada neoplasma.
2.

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)


Bangunan-bangunan

embrional

berkembang

menjadi

bangunan-bangunan

yang

mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian
dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di
sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma
intrakranial dan kordoma.
3.

Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan

degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah
dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
4.

Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan

dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi
hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor
pada sistem saraf pusat.
5.

Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah

diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik sepertimethylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini


berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.

KLASIFIKASI
Tumor otak memiliki banyak klasifikasi, klasifikasi yang mungkin paling banyak
dipahami adalah Klasifikasi Kernahan dan Sayre karena tumor diberi nama sesuai dengan sama
sel yang terserang, baik sel pada susunan saraf orang dewasa, pada pembuluh darah, maupun
pada gangguan perkembangan (kongenital) . Stadium keganasannya diberi derajat I-IV ( IV
adalah yang paling ganas).
Tabel I. Klasifikasi tumor otak.

TUMOR

PRESENTASE

Glioma

40-50%

Astrositoma derajat I

5-10%

Astrositoma derajat II

2-5%

Astrositoma derajat III

20-30%

(glioblastoma multiform)
Medulloblastoma

3-5%

Oligodendroglioma

1-4%

Ependimoma derajat I-I

1-3%

Meningioma

12-20%

Tumor Hipofisis

5-15%

Neurolemoma T.U NVIII

3-10%

Tumor metastatik

5-10%

Tumor pembuluh darah

0.5-1%

Malformasi arteriovenosa,
Hemangioblastoma,
Endotelioma
Tumor defek perkembangan

2-3%

1.

Glioma
Jumlah glioma

Kista dermoid, epidermoid,

adalah

Teratoma, Kordoma,

sekitar

40-50%

dari

tumor

Parafiseal

otak.

Glioma

Kraniofaringioma

3-8%

Pinealoma

0.5-0.8%

berdasarkan asal

Lain-lain

1-3%

embriologis.

Sarkoma, papilloma plexus


choroideus, lipoma,
tidak terklasifikasi

dikelompokkan

Pada

orang

dewasa sel neuroglia sistem saraf pusat berfungsi untuk memperbaiki, menyokong dan
melindungi sel-sel saraf yang lunak. Glioma terdiri dari jaringan penyambung dan sel-sel
penyokong. Neuroglia mempunyai kemampuan untuk terus membelah selama hidup. Sel-sel glia
berkumpul membentuk parut sikatriks padat dibagian otak dimana neuron menghilang oleh
karena cedera atau penyakit. Tumor glia merupakan penyebab dari hampir separuh tumor otak
pada anak. Sebagian besar tumor glia pediatrik merupakan tumor derajat rendah yang paling
sering terletak di fossa posterior dan regio diensefalon.
2.

Astrositoma
Astrositoma sering menginfiltrasi otak dan sering berkaitan dengan kista dalam berbagai

ukuran.walaupun menginfiltrasi bagian otak namun efeknya pada fungsi otak hanya sedikit
sekali pada permulaan penyakit. Pada umumnya astrositoma tidak bersifat ganas, walaupun
dapat mengalami perubahan keganasan berupa glioblastoma, yaitu suatu astrositoma yang sangat
ganas.tumor-tumor ini pada umumnya tumbuh lambat. Oleh karena itu penderita sering tidak
datang berobat walaupun tumor sudah berjalan bertahun-tahun. Astrositoma derajat I
memperlihatkan gambaran astrosit yang tidak banyak berbeda dengan astrosit normal, hanya saja
jumlahnya berbeda, sehingga kepadatannya dalam suatu daerah menonjol. Astrositoma derajat
II,III, dan IV secara berturut-turut memperlihatkan segi-segi keganasan yang meningkat.
Astrositoma derajat III menggambarkan gambaran histologik yang sudah mitotik, infiltratif dan
ekspansif sehingga banyak necrosis dan hemoragik terjadi. Apalagi astrositoma derajat IV,
berbagai jenis sel dalam tahap mitosis dijumpai baik dalam formasi yang khas, maupun yang
tersebar secara tidak teratur dengan banyak nekrosis dan hemoragi.maka astrositoma derajat III
dan IV diberi nama tersendiri yaitu Glioblastoma multiform.Sampai timbul gejala ( misal:
serangan epilepsi maupun nyeri kepala. Eksisi bedah lengkap pada umumnya tidak dapat
dilakukan karena tumor bersifat invasif, tapi bersifat residif terhadap radiasi.
3.

Glioblastoma multiform
Glioblastoma multiform adalah jenis gliom ayang paling ganas. Tumor ini memiliki

kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi. Dan eksisi bedah yang lengkap tidak ungkin
dilakukan. Harapan hidup pada umumnya sekitar 12 bulan. Tumor ini dapat timbul dimana saja

tetapi predileksi utamanya adalah lobus frontalis. dan sering menyebar ke sisi kontralateral
melalui korpus kalosum.
4.

Oligodendroglioma
Oligodendroglioma merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrositoma, tetapi

terdiri dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relatif avaskular dan cenderung mengalami kalsifikasi;
biasanya dijumpai pada hemisfer otak dewasa muda. Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan
kejang parsial yang timbul hingga 10 tahun, secara klinis bersifat agresif, dan menyebabkan
simptomatologi bermakna akibat peningkatan intrakranial.di dalam daerahnya terdapat kista,
perkapuran dan hemoragi.
Oligodendroglioma merupakan pada manusia yang paling bersifat kemosensitif. Regimen
kemoterapi yang paling sering digunakan adalah melfalan, thiotep, temozolomide, paklitaksel
( taxol) dan regimen berdasar platinum. Diyakini bahwa sel neoplasma dari oligodendroglia
rentan terhadap efek alkilasi dari kemoterapi sitotoksik. Penjelasan yang lebih lengkap masih
menunggu hasil dari penelitian genetik lebih lanjut.
5.

Ependimoma
Ependimoma adalah tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat pada

ependim yang menutupi ventrikel, paling sering terjadi pada fossa posterior, tetapi dapat terjadi
dari setiap bagian fossa ventrikularis. Tumor ini lebih sering terjadi ada anak maupun orang
dewasa. Dua faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan reseksi tumor dan kemampuan
bertahan hidup jangka panjang adalah usia dan letak anatomis tumor. Makin muda usia pasien
maka makin buruk prognosisnya (biasanya terlihat pada usia anak kurang dari 7 tahun) alasan
prognosis yang buruk msih belum diketahui. Diyakini bahwa tumor embrional pada anak
berbeda dari tumor pada dewasa dan semakin imatur jaringan tumor pada anak menyebabkan
makin agresifnya sifat tumor yang memperburuk prognosisnya (Spagolli,2000). penderita tumor
yang terletak pada dasar dan atap ventrikel dapat direseksi secara sempurna daripada penderita
tumor di processus lateralis. Perbedaan ini darena dasar dan atap tumor cenderung menginfiltrasi
struktur pedunculus cerebri dan pons sehingga menyebabkan tidak mungkin dilakukan
pengangkatan sempurna.pengobatan radiasi dilakukan pasca operasi, kecuali pada anak usia
kurang dari 3 tahun yang menjalani kemoterapi.

DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak yaitu melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun pemeriksaan penunjang yang
dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. Dari anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala
yang dirasakan oleh penderita yang mungkin sesuai dengan gejala-gejala yang telah diuraikan di
atas.
Gejala Klinik Umum
Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi difus
dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental, kejang, nyeri
kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas) menyebabkan gejala yang
lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada lobus temporal depan dan frontal
dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat besar tanpa menyebabkan defisit
neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan gejala-gejala yang umum. Tumor pada fossa
posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dulu baru
kemudian memberikan gejala umum.
Gangguan kesadaran akibat tekanan intrakranial yang meninggi
Peningkatan tekanan intrakranial yang progresif menimbulkan gangguan kesadaran dan
manifestasi disfungsi batang otak yang dinamakan sindrom uncus, atau sindrom kompresi
diencephalon, sindrom komresi sentral rostrokaudal, dan herniasi cerebellum ke foramen
magnum. Gejala umum tekanan intrakranial yang meninggi terdiri dari sakit kepala, muntah dan
kejang, gangguan mental dan perasaan abnormal di kepala.
Sakit kepala, merupakan gejala umum yang dapt dirasakan pada setiap tahap tumor
intrakranial. Sifat sakit nyeri berdengyt atau rasa penuh dikepala. Nyerinya paling hebat pada
pagi hari karena pada tidur malam PCO2 serebral meningkat sehingga mengakibatkan
peningkatan CBF dan dengan demikian mempertinggi lagi tekanan intrakranial. Juga lonjakan
tekanan intrakranial sejenak karena batuk, mengejan atau berbangkis memperberat nyeri kepala.
Nyeri kepala merupakan gejala dini tumor intrakranial pada kira-kira 20% dari para penderita.

Muntah. Juga gejala muntah sering timbul pada pagi hari setelah bangun tidur. Hal ini
disebabkan oleh tekanan intrakranial nyang menjadi lebih tinggi selama tidur malam.sifat
muntah penderita dengan tekanan intrakranial yang meninggi adalah khas yaitu proyektil atau
muncrat dan tidak didahului oleh mual.
Kejang lokal. Dapat merupakan manifestasi pertama tumor intrakranial pada 15%
penderita. Kejang umum dapat timbul sebagai manifestasi tekanan intrakranial yang melonjak
secara cepat terutama bagi manifestasi glioblastoma multiform. Kejang tonik yang sesuai dengan
serangan rigiditas deserebrasi biasanya timbul pada tumor fossa franii posterior dan secara tidak
tepat dinamakan cereberal fits.
Gangguan mental. Tumor serebri dapat mengakibatkan dementia, apatia, gangguan watak
dan intelegensia, bahkan psikosis tidak peduli lokasinya.
Perasaan abnormal di kepala. Banyak penderita tumor intrakranial merasakan berbagai
macam perasaan yang samar seperti enteng di kepala, pusing, atau tujuh keliling.mungkin sekali
perasaan itu timbul sehubungan dengan adanya tekanan intrakranial yang meninggi karena
samarnya maka kebanyakan dari keluhan semacam itu tidak dihiraukan oleh si pemeriksa dan
seringkali dianggap sebagai keluhan fungsional.
Tanda lokalisatorik yang menyesatkan
Suatu tumor intrakranial dapat menimbulkan manifestasi yang tidak sesuai dengan fungsi
tempat yang didudukinya. Manifestasi semacam itu dinamakan tanda-tanda lokalisatorik yang
menyesatkan. Tanda tersebut adalah;
Kelumpuhan saraf otak. Karena desakan tumor saraf otak dapat tertarik atau tertekan.
Desakan itu tidak usah langsung terhadap saraf otak.
Refleks patologik. Reflek patologik yang positif di kedua sisi dapat ditemukan pada
penderita dengan tumor yang didalam salah satu hemisferium saja..Fenomen ini dapat di jelaskan
oleh adanaaya penggeseran mesensefalon ke sisi kontralateral itu mengalami kompresi dan reflek
patologis pada sisi tumor menjadi positif karena kerusakan pada jaras kortikospinalis di tempat
yang diduduki tumornya sendiri.

Gangguan mental. Dapat timbul pada setiap penderita dengan tumor intrakranoal yang
berlokasi dimanapun.
Gangguan endokrin. Dapat juga timbul karena proses desak ruang di daerah hipofisis.
Desakan dari jauh dan pergeseran tumor tak langsung di ruang supratentorial dapat mengganggu
juga fungsi hipofisis dan hipothalamus.
Ensefalomalasia. Akibat kompresi arteri serebral oleh suatu tumor dapat terjadi di daerah
yang agak jauh dari tempat tumor sendiri, sehingga segala defisit yang timbul misalnya
hemianopsia atau afasia, tidak dapat dianggap sebagai tanda lokalisatorik.
Tanda-tanda lokalisatorik yang benar atau simptom fokal
Neoplasma serebral yang tumbuh di daerah fungsional yang khas membangkitkan
defisit serebral tertentu sebelum manifestasi hipertensi intrakranial menjadi suatu kenyataan.
Adapun defisit serebral itu adalah monoparese, hemiparese, hemiapsia, afasia, anosmia, dan
seterusnya. Dalam hal tersebut gejala dan tanda diatas mempunyai arti lokalosatorik, tetapi
bilamana tekanan intrakranial sudah cukup tinggi dan membangkitkan berbagai gejala dan tanda
maka, hemiparesis yang bangkit atau afasia yang baru muncul tidak mempunyai arti
lokalisatorik. Seringkali gejala atau tanda dini luput dihargai sebagai tanda lokalisatorik, karena
proses desakan ruang belum difikirkan. Baru setelah manifestasi tekanan intrakranial yang
meninggi muncul. Tanda atau gejala itu dikenal secara retrospektif sebagai tanda lokalisatotik.
Tanda tanda fisik diagnostik pada tumor intrakranial
Papiledema. Dapat timbul pada tekanan intrakranial yang meninggi. Atau akibat
penekanan pada nervus optikus oleh tumor secara langsung.papil edema tidak mempunyai
hubungan dengan lamanya tekanan intrakranial yang meninggi. Bilamana tekanan intrakranial
melonjak secara cepat, maka papil edema menunjukkan kongesti venosa yang jelas.dengan papil
yang berwarna merah tua dan perdarahan-perdarahan di sekitanya.
Hipertensi intrakranial. Mengakibatkan iskemia dan gangguan kepada pusat-pusat
vasomotorik serebral, sehingga menimbulkan bradikardia dan tekanan darah sistemik yang
meningkat secara progresif. Fenomena tersebut dapat dianggap sebagai mekanisme
kompensatorik untuk menanggulangi keadaan iskemia.

Perubahan irama dan frekuensi nafas. Akibat melonjaknya tekanan intrakranial.


Kompresi batang otak dari luar mempercepat pernafasan yang diselingi oleh pernafasan jenis
cheyne-stokes. Kompresi sentral rostrokaudal terhadap batang otak menimbulkan pernafasan
yang lambat namun dalam. Bagian bagian tulang tengkorak dapat mengalami destruksi atau
rangsangan, karena adanya suatu tumor yang berdekatan dengan tulang tengkorak.
Perubahan ukuran kepala. Pada anak-anak tekanan intrakranial yang meningkat dapat
memperbesar ukuran kepala dengan teregangnya sutura. Pada perkusi terdengar bunyi kendi
yang rengat.dan pada adanya tumor jaringan vaskular atau malformasi vaskular, auscultasi
kepala dfapat menghasilkan dapat terdengarnya bising.
Tanda dan Gejala Menurut lokasi tumor :
1.

Lobus frontalis
Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi, bingung, tingkah laku aneh,

sulit memberi argumenatasi/menilai benar atau tidak, hemiparesis, ataksia, dan gangguan bicara.
2.

Kortek presentalis posterior


Kelemahan/kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan jari.

3.

Lobus parasentralis

Kelemahan pada ekstremitas bawaan


4.

Lobus Oksipitalis
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen.

Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic terhadap
cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri.
5.

Lobus temporalis
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral,

defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial
kompleks. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan berkurangnya

konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun gejala yang lain
diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/ quadrianopsia inferior
homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris
6. Lobus Parietalis
Hilang fungsi sensorik, kortikalis, gangguan lokalisasi sensorik, gangguan penglihatan
Trias Klasik :
1.

Nyeri kepala

2.

Papil oedema

3.

Muntah

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Diagnostik :
1. Rontgent tengkorak anterior-posterior

2. EEG
3. CT Scan
4. MRI
5. Pemeriksaan cairan serebrospinal
6. Patologi anatomi
7. Angioserebral
CT scan dan MRI memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur
investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit
otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor.
Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya. Gambaran CT Scan pada
tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak
isekitarnya. Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena densitasnya

lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan jaringan
sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih nyata bila
pada waktu pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras.

Penilaian CT Scan pada tumor otak


Tanda proses desak ruang yaitu adanya pendorongan struktur garis tengah dan penekanan dan
perubahan bentuk ventrikel
Kelainan densitas pada lesi: hipodens, hiperdens atau kombinasi,
kalsifikasi, perdarahan
Udem perifokal
Foto polos dada dan pemeriksaan lainnya juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah
tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun
multiple pada otak.
Pemeriksaan cairan serebrospinal juga dapat dilakukan untuk melihat adanya sel-sel
tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien
dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui
pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan prosesproses infeksi (abses cerebri).
PENATALAKSANAAN
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
Kondisi umum penderita
Tersedianya alat yang lengkap
Pengertian penderita dan keluarganya

Luasnya metastasis.
Terapi yang dilakukan, meliputi Terapi steroid, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.
Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak
berefek langsung terhadap tumor.
Pembedahan
Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi
efek akibat massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi.
Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk melakukan dekompresi dengan cara
mereduksi efek masa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek paliasi.
Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan
terikut serta sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan
tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi
diharapkan akan menjadi lebih sempurna. Berbagai studi melaporkan bahwa dengan tindakan
reseksi komplit akan diperoleh ketahanan hidup yang makin lama, perbaikan pada defek
neurologis yang lebih nyata. Peningkatan kemampuan ahli bedah saraf untuk melakukan
pengangkatan total tumor menjadi lebih baik dengan kemajuan teknologi terutama di bidang
pencitraan.
Dikalangan neuro-onkologi telah disepakati semua tumor otak primer dilakukan upaya
pengambilan jaringan otak secara kraniotomi ataupunstereotactic needle biopsy. Kraniotomi
dilakukan guna mengeluarkan jaringan tumor sebanyak-banyaknya kemudian dilakukan
radioterapi tanpa/dengan kombinasi kemoterapi dosis rendah dan dilanjutkan dengan dosis
penuh.
Radioterapi
Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total sebesar 5000-6000
cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada
alasan bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel

tumor dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan
kemoterapi intensif.
Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan proses
keganasan. Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan
akan memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi
dan radioterapi. Sifat dan lokasi tumor otak seringkali menimbulkan proses desak ruang yang
akan meningkatkan tekanan intrakranial, terlebih pada kasus metastasis tumor ganas pada
intrakranial akan cepat menimbulkan edema serebri yang akan memperburuk tekanan
intrakranial.
Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive), sehingga pada
tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi
semua sel tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat
disekitarnya. Semakin dikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan.
Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat
presisi yang tinggi.
Perencanaan radiasi seperti 3-dimensional conformal theraphy, penggunaan multi leaf
collimators dan IMRT (Intensity Modulated Radiation Therapy) merupakan metode radiasi yang
saat ini digunakan dan masih terus dikembangkan.
Stereotactic Radiosurgery (SRS) merupakan metode radiasi yang bertujuan untuk
memberikan dosis radiasi setinggi mungkin pada lesi jaringan otak dengan meminimalkan dosis
yang diterima oleh jaringan sehat sekitar tumor. Digunakan alat leksel gamma knife yang
menggunakan sumber radiasi Cobalt-60. metode radiasi lain menggunakan sumber radiasi sinar
X pada alat Linier accelerator (Stereotactic Radiotheraphy, SRT). Selain berbeda pada sumber,
metode pemberiannya juga berbeda. Pada SRS radiasi diberikan dalam fraksi tunggal mengingat
perencanaan dan pelaksanaannya yang lebih rumit, hal ini berbeda dengan SRT dimana radiasi
dapat diberikan dalam beberapa fraksi. Baik SRS maupun SRT, berkombinasi dengan radiasi
eksterna seluruh otak, terbukti memberikan hasil yang efektif. Sebanyak 94% dan 73% tumor
terkontrol pada bulan ke-13 dan 26. Disamping tumor otak SRS dilaporkan juga memberikan
hasil yang baik dibandingkan dengan microsurgery pada kasus neuroma akustikus dalam hal

timbulnya neuropati fasial dan trigeminus, lama perawatan, gangguan pendengaran serta
kekambuhan. Lesi non maligna intrakranial lain yang tercatat dapat memberikan hasil
pengobatan yang baik adalah arterio venous malvormation (AVM).
Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) merupakan pengembangan metode
konformal yang menjamin akurasi radiasi. Di negara maju penggunaan peralatan ini sudah
merupakan hal yang biasa namun karena penggunaannya belum lama maka pelaporan yang
dipublikasikan belum banyak dan masih kontroversi. Sebagai pengembangan IMRT saat ini telah
beredar dipasaran peralatan cyberknife, sebuah alat dengan dasar kerja kombinasi antara
teknologi robotik dengan radiasi.
Kemoterapi
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan
sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti
meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan
berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.
Kombinasi radio-kemoterapi
Kombinasi radio-kemoterapi mulai dikembangkan. Peningkatan ketahanan hidup selama 1 tahun
sebanyak 10% dan 2 tahun sebanyak 8,6%. Nitrosourea (BCNU) merupakan regimen yang
paling efektif.
DIAGNOSA BANDING
Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial, kejang dan
tanda deficit neurologik fokal yang progresif. Setiap proses desak ruang di otak dapat
menimbulkan gejala di atas, sehingga agak sukar membedakan tumor otak dengan beberapa hal
berikut :
Abses intraserebral
Epidural hematom
Hipertensi intrakranial benigna

Meningitis kronik.

KOMPLIKASI
Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan
diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan
radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka
ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di Indonesia
secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada
beberapa rumah sakit di Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Harsono, Tumor Otak dalam Buku Ajar Neurologi Klinis edisi I, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta, 1999 : 201 207
Mahar, M., Proses Neoplasmatik di Susunan Saraf dalam Neurologi Klinis Dasaredisi 5, Dian
Rakyat, Jakarta, 2000 : 390 402
Uddin,Jurnalis. Kerangka Umum Anatomi Susunan Saraf dalam Anatomi susunan saraf
manusia. Langgeng sejati. Jakarta; 2001: 3-13
Price,Sylvia A.Tumor Sistem Saraf Pusat dalam Patofisiolosi edisi 6, EGC. Jakarta.2005. 11831189