Anda di halaman 1dari 5

BAB V

SEJARAH GEOLOGI

Berdasarkan hasil analisa data-data dari aspek geomorfologi, stratigrafi


serta struktur geologi, maka sejarah geologi dari daerah penelitian ini dapat
diinterpretasikan. Mulai dari sejarah lingkungan pengendapan sampai sejarah
struktur yang mengontrol daerah penelitian. Dari analisa stratigrafi, sejarah
lingkungan pengendapan daerah penelitian ini dimulai pada kala Miosen Tengah
sampai Pliosen Akhir. Interpretasi sejarah geologi daerah penelitian ini juga
didasarkan pada literatur peneliti terdahulu yaitu Surono, dkk (1992) yang secara
regional meneliti daerah Pegunungan Selatan Jawa. Hal ini dapat dijadikan suatu
acuan serta korelasi dari sejarah geologi yang telah diinterpretasi sebelumnya,
serta memungkinkan untuk memperjelas mengenai sejarah geologi yang
sebelumnya belum terjelaskan secara baik.
Sejarah geologi daerah pemetaan dapat dibagi menjadi beberapa fase, baik
fase pengendapan, deformasi, maupun denudasi. Fase pengendapan dimulai pada
kala Miosen Tengah (N8 - N10), dimana pada fase pertama terendapkan Satuan
batupasir breksian pada lingkungan Upper Bathyal (Gambar 5.1). dan mengalami
selang waktu untuk pengendapan fase kedua, dimana satuan batupasir breksian
dan batugamping klastik mengalami ketidakselarasan disconformity (Gambar
5.2).

64

Gambar 5.1 Fase pengendapan pertama, Satuan batupasir breksian, pada Miosen
Awal Miosen Tengah dengan lingkungan Transisi

Gambar 5.2 Terjadi penurunan muka air laut dimana mengalami fase darat dan
membuat selanng waktu untuk Fase pengendapan kedua

Selanjutnya fase kedua dimulai pada kala Miosen Tengah Miosen Akhir
(N12 - N18), dimana Satuan batugamping klastik mengalami selang waktu dari
pengendapan fase pertama dimana lingkungan pengendapan pada midle shelf
65

(Gambar 5.3). Pada saat pertengahan pengendapan fase kedua, terendapkan pula
fase ketiga yaitu Satuan batugamping terumbu yang dimulai pada kala Miosen
Tengah Miosen Akhir (N13 N18) dengan lingkungan pengendapan Inner Shelf
Marginal Marine, dimana muka air laut mengalami penurunan dan penaikan
(Gambar 5.3). Pada akhir pengendapan satuan batugamping klastik terendapkan
pula fase keempat yaitu satuan napal pada kala Pliosen Awal (N18-N19) dengan
lingkungan pengendapan Inner Shelf Marginal Marine (Gambar 5.4).

Gambar 5.3 Fase kedua pada kala Miosen Tengah Miosen Akhir (N12 - N18)
dan Fase ketiga dimulai pada kala Miosen Tengah Miosen Akhir (N13 N18),
dimana Satuan batugamping klastik Midle Shelf dengan batugamping terumbu
Inner Shelf Marginal Marine terendapakan

66

Gambar 5.4 Fase pengendapan keempat satuan napal pada kala Pliosen Awal
(N18-N19) dengan lingkungan pengendapan Inner Shelf Marginal Marine

Selanjutnya fase deformasi dimulai saat aktivitas tektonik secara regional


mengalami peningkatan pada kala Plio - Pleistosen dengan arah gaya dominan
barat laut tenggara yang menyebabkan terjadinya pengangkatan pada daerah
penelitian dan berubah menjadi daratan, dan akibat aktivitas tektonik yang terus
berlanjut, terbentuk perlipatan pada satuan napal di daerah penelitian dengan arah
jurus relatif timur laut barat daya dan Sesar geser sinistral Pakis pada Satuan
batugamping klastik dengan arah jurus relatif timur laut barat daya (Gambar
5.5). Selanjutnya pada fase akhir aktivitas tektonik dimana gaya sudah habis
bekerja dan terjadi realese terbentuk sesar turun Gedad tersebut dengan arah barat
laut-tenggara, yang memotong satuan batugamping terumbu (Gambar 5.5).

67

Gambar 5.5 Fase deformasi membentuk Sinklin, Sesar Geser, dan pada fase
terakhir terjadi release dan terbentuk sesar turun di daerah penelitian

Fase yang terjadi selanjutnya adalah proses denudasi pada kala Pleistosen
Holosen sehingga membentuk morfologi dan relief pada permukaan seperti saat
ini (Gambar 5.6).

Gambar 5.7 Kenampakan morfologi daerah penelitian akibat fase denudasi


hingga saat ini

68