Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup bersama
dan saling berinteraksi dalam suatu lingkungan. Manusia dapat
berinteraksi

dengan

sesama

pastinya

menggunakan

alat

komunikasi yang dinamakan bahasa. Menurut Robins, Bahasa


merupakan

sistem

arbitrer

lambang-lambang

bunyi

yang

digunakan oleh sekelompok masyarakat untuk melakukan kerja


sama (Jurnal Roely, 2012:14). Oleh sebab itu, bahasa dapat
difungsikan sebagai alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi,
bahasa memiliki peran yang sangat penting, salah satunya
adalah bahasa sebagai alat untuk menyampaikan informasi
kepada orang lain seperti yang dikemukakan oleh Chaer (2003:
33), bahwa bahasa digunakan dalam segala tindak kehidupan
(jurnal

Roely

Ardiansyah,

2012:14).

Maka

dengan

bahasa

seseorang dapat melakukan berbagai kegiatan, salah satunya


adalah berdakwah. Dakwah merupakan kata serapan yang
berasal

dari

bahasa

Arab,

yaitu

dari

kata

dawah,

yang

bersumber dari kata (daa, yadu, dawatan) yang bermakna


seruan, panggilan, undangan, atau doa. Menurut terminologi
dakwah merupakan upaya untuk memanggil, menyeru, dan
mengajak menuju jalan yang lurus, jalan yang benar, yaitu jalan
yang diridlai Allah (Tata Sukayat, 2009: 1).
1

Di dalam kegiatan

dakwah,

seorang

pendakwah

harus

menyampaikan

materi

dengan bahasa yang baik dan mudah dipahami sehingga


pendengar mudah memahami materi dan tidak salah paham
dalam menangkap atau salah pengertian terhadap materi yang
disampaikan oleh pendakwah. Hal tersebut sangat dibutuhkan
oleh pendakwah. karena jika ada salah pemahaman atau
pengertian

terhadap

pendengar,

maka

bisa

saja

terjadi

penyimpangan yang berujung dengan kesesatan.


Berdasarkan penjelasan di atas yang membahas tentang
penyampaian seseroang dan pemaknaan oleh pendengar, dalam
ilmu bahasa hal tersebut dikaji dalam bidang pragmatik.
Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan
oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar atau
pembaca (Yule, 2014:3). Sedangkan menurut Kaser (dalam Ida,
2015:3), Pragmatik merupakan ilmu yan mempelajari baaimana
bahasa diunakan dan bagaimana bahasa tersebut diintegrasikan
ke dalam konteks. Menurut Stalnaker (dalam Ida, 2015:3) dalam
pragmatik terdapat beberapa kajian yang dibahas, yaitu deiksis,
implikatur, presuposisi, tidak tutur, dan aspekaspek struktur
wacana. Namun, dalam penelitian ini akan meneliti deiksis.
Deiksis merupak istilah teknis (dari bahasa yunani) untuk salah
satu hal mendasar yang dilakukan dengan tuturan. Deiksis
mempunyai arti penunjukan melalui bahasa. Bentuk linguistik

yang

dipakai

untuk

menyelesaikan

penunjukan

disebut

ungkapan deiksis (Yule, 2014:13). Menurut Lyons (dalam Ida,


2015:37), deiksis merupakan lokasi dan identifikasi orang, objek,
peritiwa, proses atau keiatan yang sedang dibicarakan atau yang
sedang diacu dalam hubunannya dengan dimensi ruang dan
waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara dan bergantung
pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.

Menurut

Sudaryanto deiksis sama dengan kata ganti tunjuk atau deiksis


sangat terikat pada situasi, hubungannya dengan situasi dan si
penutur begitu jelas (Jurnal Roely, 2012:14). Menurut Nababan
(dalam Ida, 2015: 42) deiksis mempunyai lima macam jenis,
yaitu 1) deiksis persona. Deiksis persona dibagi menjadi tiga
macam, yaitu deiksis persona orang pertama, deiksis persona
orang kedua, dan deiksis persona orang ketiga; 2) deiksis
tempat; 3) deiksis waktu; 4) deiksis sosial; dan 5) deiksis wacana.
Berdasarkan

beberapa

penjelasan

tentang

deiksis,

sangat

menarik jika dakwah menjadi objek yang diteliti dengan kajian


deiksis. Hal ini deiksis akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.
Penelitian yang dimaksud dapat dicontohkan sebagai berikut.
Rasulullah merupakan teladan bagi manusia, maka untuk
menjadi orang yang baik marilah kita meneladaninya.
Dari contoh di atas Rasulullah menjadi rujukan dari kata
-nya pada kata meneladaninya. Contoh tersebut merupakan
deiksis wacana dengan bentuk kohesi anafora. Selain itu,

Rasulullah merupakan kata ganti orang ketiga (deiksis persona)


dan kita merupakan kata ganti orang pertama (deiksis
persona). Bentuk deiksis dalam kalimat tersebut adalah Deiksis
eksofora. Hal ini dikarenakan Rasulullah menjadi rujukan dari
atau diwakilkan dengan kata -nya sehingga mempunyai makna
pendakwah menyuruh meneladani Rasulullah.
Dalam penelitian ini akan membahas jenis deiksis yang
terdapat dalam dakwah dari KH. Anwar Zahid. KH. Anwar Zahid
merupakan kyai kondang yang berasal dari Bojonegoro. Beliau
mempunyai ciri khas dalam berdakwah yang humoris. KH. Anwar
Zahid merupakan salah satu kyai yang dakwahnya disukai oleh
pendengar dari mulai anak-anak sampai orang tua. Hal ini
disebabkan karena kehumorisannya dan dakwahnya mudah
dipahami pula.
Dalam penelitian ini akan menganalisis deiksis pada vidio
ceramah KH. Anwar Zahid ketika beliau berdakwah di Rumah
Tahanan Gresik II B dalam rangka membangun mental spiritual
warga binaan rutan pada tanggal 21 september 2015 dengan
tema taubat. Peneliti memilih sebuah vidio dari beberapa vidio
dakwah KH. Anwar Zahid yang didapat dari www.youtube.com.
Hal ini dikarenakan isi dakwah yang disampaikan terdapat
ungkapan-ungkapan deiksis yang sangat banyak. Maka dari itu
penelitian ini dilakukan.
1.2. Rumusan Masalah

Dalam berinteraksi seseorang pasti menggunakan deiksis


dalam komunikasinya, salah satunya dalam kegiatan dakwah
KH. Anwar Zahid. Pada kajian deiksis terdapat beberapa jenis
deiksis, yaitu deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu,
deiksis sosial, dan deiksis wacana. Dalam kajian ini sangat jarang
sekali yang meneliti pada objek dakwah.

Maka dengan ini,

peneliti akan meneliti bagaimana deskripsi jenis-jenis deiksis


yang digunakan KH. Anwar Zahid dalam dakwahnya ketika beliau
berdakwah di Rumah Tahanan Gresik II B dalam rangka
membangun mental spiritual warga binaan rutan pada tanggal
21 september 2015 dengan tema taubat.
1.3. Batasan Penelitian
Batasan dalam penelitian ini adalah peneliti hanya meneilti
tentang deiksis \pada

dakwah

KH. Anwar Zahid di Rumah

Tahanan Gresik II B dalam rangka membangun mental spiritual


warga binaan rutan pada tanggal 21 september 2015 dengan
tema taubat. Dalam hal ini peneliti mencari

jenis-jenis deiksis

berdasarkan pendapat Nababan (dalam Ida, 2014:43) dalam


dakwah KH. Anwar Zahid. Jenis-jenis deiksis

tersebut meliputi

deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis sosial, dan


deksis wacana. Dari beberapa jenis deiksis tersebut ada dua
deiksis yang masih dibagi menjadi beberapa bagian lagi, yaitu
deiksis persona dan deiksis wacana. Deiksis persona dibagi

menjadi tiga macam, yaitu deiksis persona pertama, deiksis


persona kedua, dan deiksis persona ketiga. Sedangkan dalam
deiksis wacana dibagi menjadi tiga macam, yaitu deiksis wacana
yang

menggunakan

menggunakan

deiksis

deiksis

waktu,

tempat,

dan

deiksis

wacana

yang

deiksis

wacana

yang

berhubungan dengan kohesi. Deiksis wacana yang berhubungan


dengan kohesi dibagi menjadi dua macam, yaitu anafora dan
katafora.
1.4.

Tujuan Penelitian
Pada penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan dan

mendesripsikan

jenis-jenis

deiksis

yang

ditemukan

dalam

dakwah KH. Anwar Zahid ketika berdakwah Rumah Tahanan


Gresik II B dalam rangka membangun mental spiritual warga
binaan rutan pada tanggal 21 september 2015 dengan tema
taubat.
1.5. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dalam

penelitian

ini

yaitu

dapat

mengetahui penggunaan deiksis dalam kegiatan berdakwah,


sehingga dapat menambah wawasan dalam bidang kebahasaan
dalam penunjukan (deiksis),

khususnya ketika pada kegiatan

berdakwah.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan

dapat

menambah

wawasan

kebahasaan dalam kajian deiksis yang digunakan ketika dalam

kegiatan berdakwah sehingga dapat mepraktikkannya dalam


kegiatan berdakwah. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat
menjadi tolok ukur bagi peneliti lain yang akan meneliti dakwah
maupun kegiatan yang lain dengan kajian deiksis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.1 Penelitian Terdahulu
Pertama, jurnal Yudia Siska Anggraini

yang

berjudul

Deiksis Dalam Rubrik Tajuk Surat Kabar Haluan. Dalam jurnal


ini Yudia meneliti jenis-jenis deiksis yang terdapat dalam rubrik
tajuk surat kabar. Dalam penelitiannya, Yudia menemukan lima
jenis deiksis, yaitu persona, tempat, waktu, wacana, dan sosial.
Dalam penelitian ini, penulis memanfaatkan teori-teori yang
terdapat dalam jurnal dari Yudia untuk menambah wawasan
tentang kajian deiksis dan jenis-jenisnya.
Kedua,
jurnal Mery Ansiska,
Penggunaan

Deiksis

Persona

dan

dkk
Tempat

yang

berjudul

dalam

Novel

Supernova 1 Karya DEE. Dalam jurnal ini Mery dkk meneliti

jenis-jenis deiksis yang terdapat dalam novel Supernova 1 karya


DEE. Dalam penelitiannya, Mery dkk hanya menfokuskan untuk
mencari deiksis persona dan tempat yang terdapat novel
tersebut. Dalam penelitian ini, penulis memanfaatkn teori-teori
yang terdapat dalam jurnal dari Mery dkk

untuk menambah

wawasan tentang kajian deiksis, khususnya pada deiksis persona


dan deiksis tempat.
Ketiga, penelitian

Happy

Leo

Mustika

yang

berjudul

Analisis Deiksis Persona dalam Ujaran Bahasa Rusia. Dalam


penelitian ini, Happy meneliti deiksis persona

dalam novel

Antara Ayah dan Anak karya Ivan Turgenev yang


mengandungunsur deiksis persona. Pada penelitian ini, penulis
juga memanfaatkan teori-teori yang terdapat dalam penelitian
Happy

untuk

menambah

wawasan tentang kajian

khususnya pada deiksis persona.


Keempat,
jurnal
Roely

Ardiansyah

yang

deiksis,
berjudul

Penggunaan Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Dalam jurnalnya,


Roely hanya mendeskripsikan pengertian bahasa secara umum,
deiksis persona, dan deiksis waktu. Pada penelitian ini, penulis
memanfaatkan teori-teori yang terdapat dalam jurnal Roely
untuk

menambah

wawasan

tentang

kajian

deiksis,

menambah wawasan tentang bahasa secara umum.


1.2 Landasan Teori
1.2.1 Pengertian Pragmatik

dan

Menurut Khaser (dalam Ida, 2014::1) merupakan ilmu yang


mempelajari bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana
bahasa tersebut diintegrasikan ke dalam konteks.
Yule (Yule, 2014:2) mendefinisikan pragmatik dengan
membaginya

dalam

empat

ruang

lingkup,

yaitu

pertama,

pragmatik didefinisikan sebagai studi tentang makna yang


disampaikan

oleh

penutur

(penulis)

dan

ditafsirkan

oleh

pendengar (pembaca). Kedua, pragmatik adalah studi tentang


makna kontekstual. Pragmatik merupakan studi tentang maksud
penutur. Yule (Ida, 2014:2) menegaskan bahwa studi pragmatik
memerlukan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di
dalam suatu

konteks

khusus

dan bagaimana

konteks

itu

berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Dalam hal ini sangat


diperlukan

pertimbangan

tentang

bagaimana

cara

penutur

mengatur apa yang ingin mereka katakan yang disesuaikan


dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan
dalam keadaan apa. Ketiga, pragmatik adalah studi tentang
bagaimana agar lebih banyak tuturan yang disampaikan. Dalam
hal ini, pragmatik berfungsi untuk menyelidiki bagaimana cara
pendengar dapat menyimpulkan tentang yang dituturkan oleh
penutur. tipe studi ini menggali betapa banyaknya sesuatu yang
tidak dikatakan akan tetapi ternyata menjadi bagian yang
disampaikan. Maka dapat dikatakan bahwa studi pragmatik

10

merupakan studi untuk pencarian makna yang samar (Ida,


2014:2). Keempat, pragmatik adalah studi tentang ungkapan
dari

jarak

hubungan.

Berdasarkan

pendangan

ketiga,

menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menentukan pilihan


antara yang dituturkan dan yang tidak dituturkan. Jawaban
mendasar terikat pada gagasan jarak keakraban, baik fisik,
sosial, maupun konseptual menyiratkan adanya pengalaman
yang sama. Pada asumsi tentang beberapapa dekat atau jauh
jarak

pendengar,

penutur

menentukan

seberapa

banyak

kebutuhan yang dituturkan. Sebab inilah pragmatik sebagai studi


ungkapan dari jarak hubungan (Ida, 2014:2).
Levinson (dalam Ida, 2014:1) memberikan dua pengertian
jika pragmatik dikaitkan dengan konteks, yaitu a) pragmatik
merupakan kajian ihwal hubungan antara bahaasa dan konteks
yang digramatikalisasikan dan dikodekan dalam struktur bahasa,
dan

(b)

pragmatik

merupakan

kajian

ihwal

kemampuan

pengguna bahasa untum menyesuaikan kalimat dengan konteks


sehingga kalimat tersebut petut atau tepat untuk diujarkan.
Menurut Yudia (Yudia, 2014:3) Pragmatik salah satu bidang
studi yang menelaah bagaimana kemampuan pemakai bahasa
menghubungkan

dan

menyerasikan

kalimatkalimat

sesuai

konteks secara tepat dalam berkomunikasi.


Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mengkaji makna

11

atau penafsiran dari pendengar terhadap ujaran penutur dengan


memperhatikan konteks ketika penutur berbicara.
1.2.2 Pengertian Deiksis
Deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk
salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan.
Deiksis berarti Penunjukan melalui bahasa. Deiksis adalah istilah
yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu deiktikos yang berarti
penunjukan. Sehingga ungkapan yang menunjukan kepada
suatu objek disebut dengan ungkapan deiksis (Yule, 2014:13).
Misalnya kita menggunakan ungkapan yang mengandung kata
ini, itu, -mu, -ku, -nya, disini, disana, sekarang, tadi, kemudian,
maka ungkapan itu menjadi ungkapan deiksis. Dengan demikian,
ada rujukan yang

berasal dari penutur, dekat dengan penutur

dan jauh dari penutur.

Deiksis kemudian diperkenalkan pada

abad ke-20 oleh Karl Buhler. Konsep yang mirip dengan itu tetapi
lebih luas cakupannya diperkenalkan oleh C.S. Peirce, dengan
istilah indeksikalitas (indexicality). Peirce memperkenalkan istilah
tanda indeksikal (indexical sign). Dalam bahasa Inggris bentuk
dasar kata (indexicality) ialah index, yang maknanya adalah
sesuatu yang menunjuk, menunjukkan, atau petunjuk (Ida,
2014:37).
Dari beberapa pengertian secara etimologi di atas, dapat
dikemukakan beberapa teori deiksis menurut istilah. Menurut
Agustina (Ida, 2014:37) deiksis merupakan kata atau frasa yang

12

menunukkan kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah


dipakai atau yang akan diberikan. Menurut Yudia (Yudia, 2014:3)
Deiksis merupakan suatu cara untuk mengacu ke hakikat
tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat
ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan
dipengaruh situasi pembicaraan. Deiksis lebih dikenal sebagai
kata ganti atau kata tunjuk dalam sebuah tuturan langsung
maupun dalam kalimat secara tertulis.
Menurut Lyons (Ida, 2014:37) deiksis merupakan lokasi dan
identifikasi

orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang

sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya


dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh
pembicara atau yang diajak bicara. Cummings (Ida, 2014:38)
mengatakan bahwa deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke
hakikat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat
ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan
dipengaruhi situasi pembicaraan.
Menurut Ida (Ida, 2014:38) deiksis adalah bentuk bahasa
baik berupa kata maupun yang lainnya yang berfungsi sebagai
penunjuk hal atau fungsi tertentu diluar bahasa. Dengan kata
lain menurut Purwo (Happy, 2012:6) sebuah bentuk bahasa bisa
dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah
atau berganti-ganti pada siapa yang menjadi si pembicara dan
bergantung pula pada saat dan tempat dituturkan kata itu. Jadi

13

deiksis merupakan kata-kata yang tidak memiliki referen yang


tetap. Hal ini juga disampaikan oleh wijana (Ida, 2014:38) yang
menyatakan

bahwa

deiksis

merupakan

kata-kata

yang

mempunyai referen yang berubah-ubah atau berpindah.pindah.


Berdasrkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
deisksis merupakan kata maupun frasa yang menjadi penunjuk
pada

kata

rujukannya

maupun

frasa

berubah-ubah

yang
dan

lain.

Dalam

bergantung

hal

tersebut

pada

tempat

dituturkannya kalimat tersebut.


1.2.3 Jenis-jenis Deiksis
Menurut Nababan (Ida, 2014:43) deiksis ada lima macam,
yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis
wacana dan deiksis sosial. Kelima macam deiksis dideskripsikan
di bawah ini.
a. Deiksis Persona
Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai
terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng
(topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga
peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara.
Menurut Lyons (Happy, 2012:7) istilah persona dipilih oleh ahli
bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara
peristiwa bahasa dan permainan bahasa. Deiksis perorangan
(person deixis) menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa
percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan, dan entitas

14

yanng lain. Menurut Sudaryat (dalam Mery, dkk: 2) deiksis


persona

merupakan

pronomina

persona

yang

bersifat

ekstratekual yang berfungsi menggantikan suatu acuan di luar


wacana.
Yule (Yule, 2014:15) mengatakan deiksis persona dengan
jelas menerapkan tiga pembagian dasar, yang dicontohkan kata
ganti orang pertama saya, orang kedua kamu, dan orang
ketiga (dia orang atau dia barang). Deiksis orang ditentukan
menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. Peran peserta
itu dapat dibagi menjadi tiga. Pertama ialah orang pertama, yaitu
kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang
melibatkan dirinya, misalnya saya, kita, dan kami. Kedua ialah
orang kedua, yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang
pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama,
misalnya kamu, kalian, saudara. Ketiga ialah orang ketiga, yaitu
kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau
pendengar ujaran itu, baik hadir maupun tidak, misalnya dia dan
mereka.
Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti
persona, yaitu persona pertama, persona kedua, dan persona
ketiga (Firdawati dalam Ida, 2014:43). Pronomina persona adalah
pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Pronomina

15

dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama), mengacu


pada orang yang diajak bicara (persona kedua), atau mengacu
pada orang yang dibicarakan (persona ketiga).
1. Pronomina Persona Pertama
Dalam Bahasa Indonesia, pronomina persona pertama
tunggal adalah saya, aku, dan daku. Bentuk saya, biasanya
digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Bentuk saya,
dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan
diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya, misalnya: rumah
saya, paman saya. Pronomina persona pertama aku, lebih
banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak
menunjukkan

keakraban

antara

pembicara

dengan

penulis

maupun pendengar dengan pembaca. Pronomina persona aku


mempunyai variasi bentuk, yaitu -ku dan ku-. Sedangkan untuk
pronomina persona pertama daku, pada umumnya digunakan
dalam karya sastra.
Selain

pronomina

persona

pertama

tunggal,

bahasa

Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak, yakni


kami dan kita. Kami bersifat eksklusif; artinya, pronomina itu
mencakupi pembicara dengan penulis dan orang lain dipihaknya,
tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar dengan
pembacanya. Sebaliknya, kita bersifat inklusif artinya, pronomina

16

itu mencakupi tidak saja pembicara dengan penulis, tetapi juga


pendengar dengan pembaca, dan mungkin pula pihak lain.
2. Pronomina Persona Kedua
Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa
wujud, yakni engkau, kamu, anda, dikau, kau- dan -mu.
Pronomina persona kedua engkau, kamu, dan -mu, dapat dipakai
oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan
baik dan lama orang yang status sosialnya lebih tinggi orang
yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau
status sosial.
Pronomina
menetralkan

persona

hubungan.

kedua
Selain

Anda
itu,

dimaksudkan

pronomina

Anda

untuk
juga

digunakan dalam hubungan yang tak pribadi, sehingga Anda


tidak diarahkan pada satu orang khusus dalam hubungan
bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal
ataupun terlalu akrab.
Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak,
yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua
ditambah sekalian: Anda sekalian, kamu sekalian. Pronomina
persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan
kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan -mu.

17

3. Pronomina Persona Ketiga


Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia, dia, -nya
dan beliau. Dalam posisi sebagai subjek, atau di depan verba, ia
dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi
sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang
diterangkan, hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul.
Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk
menyatakan rasa hormat, yakni dipakai oleh orang yang lebih
muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang
dibicarakan. Dari keempat pronomina tersebut, hanya dia, -nya
dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik.
Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. Pada
umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. Benda atau konsep
yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain; misalnya dengan
mengulang

nomina

tersebut

atau

dengan

mengubah

sintaksisnya.
Akan tetapi, pada cerita fiksi atau narasi lain yang
menggunakan gaya fiksi, kata mereka kadang-kadang juga
dipakai

untuk

mengacu

pada

binatang

atau

benda

yang

dianggap bernyawa. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk

18

sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang


dipakai, misalnya usul mereka, rumah mereka.
b. Deiksis Tempat
Deiksis tempat adalah lokasi, ruang atau tempat yang
dipandang dari lokasi pemeran serta atau pelaku dalam peristiwa
berbahasa. Penggunaan deiksis tempat ini dipakai juga nama
atau sebutan lain dari tempat atau lokasi itu sendiri (Yudia,
2012:4).

Seadangkan menurut Yule (Yule, 2014:19) deiksis

tempat yaitu hubungan erat antara orang dengan bendanya


yang ditunjukkan.
Menurut Nababan (Ida, 2014:49) deiksis tempat ialah
pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa
bahasa. Semua bahasa termasuk bahasa Indonesia membedakan
antara yang dekat kapada pembicara (di sini) dan yang bukan
dekat kepada pembicara (termasuk dekat kepada pendengar di
situ).
Pronomina penunjuk tempat dalam bahasa Indonesia
seperti sini, situ, dan sana. Dalam bahasa lisan yang tidak baku,
kata situ juga sering digunakan sebagai pronomina kedua yang
sepadan dengan engkau dan kamu. Selain beberapa kata
tersebut juga terdapat kata deiksis tempat yang lain seperti ke
mana dan di mana, seperti pada kalimat Ke mana dia pergi?.
Selain itu dipaparkan juga pronomina penunjuk ihwal seperti
ihwal begini, begitu, dan demikian.

19

Dari beberapa contoh kalimat di bawah ini.


1. Kita akan bertolah dari sini.
2. Entah, saya taruh di mana buku tadi.
3. Jangan berbuat begitu lagi.
4. Memang kemarin dia mengatakan demikian.
c. Deiksis Waktu
Dalam tata bahasa, deiksis ini disebut adverbial waktu,
yaitu pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang
dari saat suatu ujaran terjadi, atau pada saat seorang penutur
berujar (Ida, 2014:50).

Deiksis waktu ialah pemberian bentuk

pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam


peristiwa bahasa. Deiksis waktu adalah pengungkapan yang
merujuk pada kapan waktu peristiwa berbahasa itu terjadi (Yudia,
2012:4). Contohnya ketika ujaran terjadi dapat diungkapkan
dengan deiksis waktu sekarang atau saat ini. Untuk waktuwaktu berikutnya dapat diungkapkan dengan kata besok (esok),
lusa, kelak, nanti. Jika untuk waktu yang sebelumnya

dapat

diungkapkan dengan kata tadi, kemarin, minggu lalu, ketika itu,


dan dahulu. Dasar menghitung dan mengukur waktu dalam
banyak bahasa tampak bersifat siklus alami dan nyata, yaitu
siklus hari dan malam (dari pagi sampai malam hari), hari (dalam
sepekan dengan nama-nama hari), bulan (dari bulan Januari
hingga bulan Desember), musim (di Indonesia ada musim hujan
dan musim kemarau), dan tahun (Ida, 2014:50).
Contoh deiksis waktu.

20

1. Karena kamu sudah ngomong, maka sekarang saya ganti


ngomong.
2. Sekarang kan zaman edan, jadi semua orang pun edan.
Ppada contoh pertama, makna kata sekarang mengacu
pada saat penutur berhadapan langsung dengan mitra tuturnya.
Waktu yang disampaikan pada kata sekaramg sangat jelas.
Sedangkan pada contok kedua, makna sekarang mengacu pada
referen yang tidak jelas. Pa yang disampaikan penutur, tidak
memiliki batasan waktu terhadap ungkapan itu. Berdasarkan
penjelasan tersebut, pada dua contoh tersebut terdapat deiksis
waktu yang sama, yaitu sekarang. Namun, kata sekarang dari
kedua cntoh tersebut berbeda referen. Hal ini menunjukkan
bahwa deiksis mempunyai referen yang berubah-ubah atau
berganti-ganti.
d. Deiksis Wacana
Deiksis wacana

adalah

acuan

kepada

bagian-bagian

tertentu dalam wacana yang telah diperikan (sebelumnya) atau


yang sedang dikembangkan (yang akan terjadi) (Ida, 2014:51).
Deiksis wacana adalah merujuk pada hal atau bagian-bagian
tertentu dalam wacana baik yang sudah disebutkan sebelumnya
(anafora) maupun yang sedang berkembang atau belum atau
baru akan disebutkan (katafora) (Yudia, 2012:4). Dalam deiksis
wacana dapat juga mengungkapkan waktu dan tempat. Dalam
hal ini deiksis waktu dapat dipakai untuk mengacu kepada

21

bagian-bagian wacana tersebut (Ida, 2014:51). Contohnya yaitu


jika pada deiksis waktu seperti akhir minggu, bulan berikut, awal
tahun, maka dalam deiksis wacacana dapat dicontohkan akhir
paragraf, bab berikut, awal paragraf, dan sebagainya. Sedangkan
dalam hal deiksis tempat juga dapat digunakan, terutama
demonstratif ini, itu, di situ, di sini, begitu, begini, demikian yang
dapat mengacu kepada bagian tertentu dari wacana. Hal ini
dicontohkan sebagai berikut.
a. Saya percaya anda belum pernah membaca cerita ini.
b. Di sini sudah tampak pada keraguan penulis.
Berdasarkan penjelasan di atas, contoh deiksis wacana
anafora yaitu.
1. Maulidah itu cantik, seperti Ibunya. (-nya adalah deiksis
anafora)
2. Semuanya palsu dan aku tahu itu. (itu adalah deiksis anafora)
Pada kalimat yang pertama -nya merupakan deiksis
wacana

anafora

dikarenakan

-nya

merujuk

pada

kata

sebelumnya, yaitu Maulidah. Sedangkan pada kalimat yang


kedua itu merupakan deiksis wacana anafora dikarenakan itu
merujuk pada frasa sebelumnya, yaitu semuanya palsu.
Sedangkan contoh deiksis katafora dipaparkan dibawah ini.
1. Lihatlah wajahnya, Fitriyani sangat manis. (-nya adalah
deiksis katafora)
2. Ini jawaban saya: Tidak! (ini adalah deiksis katafora)
Pada kalimat yang pertama -nya merupakan deiksis
wacana

katafora

dikarenakan

-nya

merujuk

pada

kata

sesudahnya, yaitu Fitriyani. Sedangkan pada kalimat yang

22

kedua ini merupakan deiksis wacana katafora dikarenakan ini


merujuk pada kata sesudahnya, yaitu Tidak!.
e. Deiksis Sosial
Deiksis sosial berhubungan dengan aspek-aspek kalimat
yang mencerminkan kenyataan-kenyatan tertentu tentang situasi
sosial ketika tindak tutur terjadi. Deiksis sosial menunjukkan
perbedaan-perbedaan sosial yang disebabkan beberapa faktor
seperti usia, jenis kelamin, kedudukan dalam masyarakat,
pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya yang ada pada partisipan
dalam sebuah komunikasi verbal yang nyata, terutama yang
berhubungan dengan segi hubungan peran antara penutur dan
petutur, atau penutur dengan topik

aau acuan lainnya (purwo

dalam Ida, 2014:53).


Deiksis sosial menurut Nababan (Ida, 2014:53) merupakan
rujukan

yang

dinyatakan

berdasarkan

perbedaan

kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan


pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan
kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara
pembicaa dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi
kata dan sistem morfologi kata-kata tertentu.
Menurut Yudia (Yudia, 2012:4) deiksis

sosial

adalah

mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial yang


dimiliki oleh pemeran serta berbahasa. Deiksis sosial terbagi
menjadi tiga golongan pemakaiannya, yaitu gelar (termasuk

23

profesi dan jabatan), sapaan dan eufemisme (pemakaian kata


halus).
Dari beberapa penjelasan di atas, sangat terlihat bahwa
deiksis sosial itu merupakan deiksis yang disamping mengacu
keadaan referen tertentu , juga mengandung konotasi sosial
tertentu,

khususnya

pada

deiksis

persona.

Dalam

bahasa

Indonesia, hal itu sangat tampak, misalnya dalam penggunaan


kata sapaan Kamu, Kau, Anda, Saudara, Anda, Tuan, Bapak, Ibu,
dan sebagainya. Deiksis persona bagi penutur seperti saya, aku,
hamba, patik, atau penggunaan nama diri sendiri. Dalam bahasa
juga mengenal tingkatan bahasa, seperti bahasa Jawa seperti
kata neda dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan
sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar,
maupun orang yang dibicarakan. Dalam hal ini disebut dengan
tingkatan bahasa. Dalam bahasa Jawa, ngoko dan kromo dalam
sistem pembagian dua, atau ngoko, madyo, dan kromo kalau
sistem bahasa tersebut dibagi tiga, dan ngoko, madyo, kromo,
dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi menjadi empat. Aspek
berbahasa ini disebut kesopanan berbahasa (Nababan dalam
Ida, 2014:54).
Dalam bahasa Indonesia pun demikian, walau tidak seperti
bahasa daerah, bahasa Indonesia masih dapat diamati, baik itu
melalui cara penyampaian maupun cara pemilihan katanya.
Contoh, rasa meninggal dunia dianggap lebih baik dan sering

24

digunakan daripada kata mati atau wafat. Selain itu ada contoh
lain, yaitu kata diamankan lebih sering digunakan daripada
kata ditangkap.