Anda di halaman 1dari 13

Kram Pada Otot Tungkai Bawah

Bernadina N S Lewowerang*Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA


NIM: 102011303
Alamat Korespondensi:
Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl. Terusan Arjuna no. 6, Tanjung Duren,
Jakarta Barat 11510. E-mail: novi.lw_fc@yahoo.co.id

Pendahuluan
Banyak aktifitas yang manusia lakukan dengan menggunakan
tangan dan kaki. Tangan dan kaki memiliki otot-otot yang bekerja pada
saat manusia melakukan aktifitasnya. Apabila otot digunakan secara
terus menerus untuk melakukan aktifitas, otot akan menjadi kejang dan
tidak mampu berkontraksi lagi. Peristiwa ini disebut kram. Kram pada
kaki adalah kontraksi paksa atau kejang pada otot di kaki.1
Kram ini tampaknya disebabkan oleh ketidakseimbangan kalium dan
natrium, atau kalsium dan magnesium dalam tubuh. Penyebab lain
mungkin posisi tidak wajar atau tindakan repetitif yang mengganggu
suplai darah, menyebabkan otot untuk kontrak secara abnormal. Kaki
kram bisa menandakan berbagai kekurangan gizi. Yang paling umum
adalah kurangnya kalsium, yang penting untuk kontraksi otot yang
normal.1
Struktur Makroskopis ( anatomi ) Tungkai
Tulang dan otot merupakan jaringan yang paling banyak mengisi
tubuh manusia. Tulang merupakan jaringan tubuh yang berfungsi untuk
menopang tubuh dan bagian-bagiannya. Karena fungsi untuk menopang,
tulang

mempunyai

struktur

yang

kaku.

Otot

berfungsi

untuk

menggerakkan tulang dan sendi; ada yang untuk menggerakkan organ


tubuh; dan ada yang khusus untuk memompa darah di jantung. Tulang
dan otot memprunyai struktur yang saling berhubungan, keduanya
mempunyai serat collagen yang merupakan serabut sangat kuat.

A. Tulang
Secara anatomis, bagian proksimal dari tungkai bawah antara
grindel

pelvis

dan

lutut

adalah

paha;

bagian

antara

lutut

dan

pergelangan kaki adalah tungkai. Bagian proksimal dari tungkai bawah


antara lain :
1. Femur, dari bahasa Latin artinya paha. Merupakan tulang terpanjang,
kuat, dan terberat dari semua tulang pada rangka tubuh.
2. Tulang Tungkai adalah tulang tibia medial dan tulang fibia lateral.
a. Tibia adalah tulang medial besar yang membagi berat tubuh dari
femur ke bagian kaki.
b. Fibula adalah tulang yang paling ramping dalam tubuh, panjangnya
proposional, dan

tidak turut menopang tubuh. Kegunaan otot ini

adalah menambah area yang tersedia sebagai tempat perlekatan otot


pada tungkai.
3. Pergelangan kaki dan kaki tersusun dari 26 tulang yang diatur dalam
tiga rangkaian. Tulang tarsal menyerupai tulang karpal pergelangan
tangan, tetapi ukurannya lebih besar. Tulang metatarsal juga menyerupai
tulang metacarpal tangan, dan falang pada jari kaki menyerupai falang
jari tangan.
Ada tujuh tulang tarsal yaitu tulang Talus, Kalkaneus, Navikular,
Kuneiform, Kuboid,

Troclhea, Tuberositas. Telapak

kaki

dan

arkus

longitudinal terbentuk dari lima tulang metatarsal ramping. 2,3 Pada


gambar di bawah akan dijelaskan struktur tulang tungkai bawah.

(a)

(b)

Gambar 1 : (a) Struktur Tulang Tungkai Bawah, (b) Struktur Tulang


Tibia.
Sumber: (a)http://www.google.co.id/imgres?imgurl
(b)http://www.google.co.id/imgres?imgurl
Keterangan gambar.
1. Os. Coxae

6. Os.Fibula

2. Os. Sacrum

7. Os.Tarsi

3. Os. Coccygis 8. Os.Metatarsi

4. Os. Femur

9. Ossa Digitorum ( phalanx proximal, phalanx


medial, phalanx distal )

5. Os. Tibia

10. Os. Patella

B. Otot
Secara anatomi, otot yang ekstremitas inferior dibagi atas yaitu:
a). Otot Panggul: Otot yang menggerakan paha.
() Otot pada Girdel Pelvis terdiri dari tiga otot yaitu Psoas major,
illiakus, dan Psoas minor.
() Otot pada anterior terdiri dari Otot Pektineus, Aduktor Longus,
Aduktor Brevis, Aduktor magnus, Grasilis, Tensor fasia lata.
() Otot pada posterior terdiri dari Otot Gluteus maksimus, Gluteus
Medius, Gluteus minimus, Pirirformis, Obturatorius internus,
Obturatorius eksternus, Kuadratus femoris.
b). Otot paha : otot yang menggerakkan tungkai dan sendi lutut
() Otot anterior terdiri dari: M. rectus femoris, M. vactus lateralis,
M.vactus medialis, M. sartorius, M.
gracilis.
()

Otot

Posterior

terdiri

dari

M.

biceps

femoris,

M.

semitendinosus,
M.semimembranosus.
c). Otot Tungkai : otot yang menggerakan lutut dan kaki.
()

Otot Superfisial Anterior terdiri dari otot: Tibialis anterior,


Ekstensor ibu jari kaki longus, Ekstensor jari kaki longus,
Peroneus tersier.

() Otot Superfisial Lateral terdiri dari otot: Peroneus longus,


Peroneus brevis.
() Otot Superfisial Posterior terdiri dari otot: Gastroknemius,
Soleus, Plantaris.
() Otot dalam Posterior terdiri dari otot: Popliteus, Tibialis
posterior, Fleksor ibu jar kaki longus, Fleksor jari kaki longus.3

Gambar 2 : Struktur Sendi


Sumber : http://www.google.co.id/imgres?imgurl
Struktur Mikroskopis ( histologi ) Tungkai
Tulang
Tulang merupakan salah satu jaringan terkeras di dalam tubuh
manusia. Fungsi tulang adalah penyokong tubuh, melindungi organ vital,
tempat pembuatan sel-sel darah.

Komponene tulang terdiri dari :


Sel (osteoprogenitor, osteoblas, osteosit, osteoklas)
Serat (kolagen dan elastin dimana kolagen paling banyak)
Zat
antar
sel/matriks
(zat
organik=serat
kolagen,

zat

anorganik=kalsium fosfat 85%, kalsium karbonat 10%, CaCl, MgF).


Pada tulang yang aktif bertumbuh, terdapat empat jenis sel yaitu sel
osteoprogenitor, osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Tulang tersusun dari
sel-sel yang sangat kompak pada permukaannnya. Sel-sel banyak
mengandung martiks yang terdiri dari senyawa kalsium dan fosfat yang
mengakibatkan tulang menjadi keras. Sel-sel tulang merupakan sel-sel
penyusun jaringan ikat khusus yang berasal dari sel-sel mesenkim. Sel-sel
mesenkim banyak terdapat karena adanya peningkatan suplai darah dan
membentuk calon sel-sel tulang (osteogenik atau osteoprogenitor). Tulang
terdiri dari osteosit dan matriks. Osteosit merupakan sel-sel tulang
matang pembentuk tulang. Osteosit dibentuk oleh osteoblas. Osteoblas
merupakan sel-sel tulang muda. Selain osteoblas, terdapat osteoklas yang
merupakan

sel-sel

besar

berinti

banyak

serta

berfungsi

untuk

memindahkan martiks dari tulang lama dan menyisakan ruang untuk


pembentukan tulang baru. Tulang lama senantiasa mengalami proses
daur ulang materi untuk pembentukan tulang (resorpsi).
Matriks penyusun tulang memiliki berat sekitar 65% berat seluruh tulang.
Jenis-jenis martiks penyusun tulang yaitu semen, kolagen, dan mineral.
Semen tersusun oleh senyawa karbohidrat. Kolagen berbentuk seperti
serabut. Kolagen yang diikat oleh sel tulang akan memberikan ciri tulang
yang keras. Apabila tulang tidak mengandung kolagen, tulang akan
menjadi rapuh. Mineral yang umum terdapat di dalam martiks berupa
kalsium fosfa dan kalsium karbonat yang umunyaa terdapat di dalam
martiks. Mineral tersebut menentukan kelenturan tulang, namun hanya
konsentrasi kalsium yang menyebabkan tulang menjadi keras.
Sel

osteoprogenitor

berkembang

dari

sel

seperti

jaringan

mesenkim

ikat

embrional

tulang,
yang

tulang

semula

memiliki

potensi

perkembangan sangat luas, menghasilkan fibroblas, sel lemak, otot, dan


sebagainya. Sel ini tetap ada semasa kehidupan pasca-lahir dan

ditemukan pada atau dekat semua permukaan bebas tulang, dalam


endosteum, lapis dalam periosteum, dan pada trabekel tulang rawan
mengapur pada metafisis tulang yang tumbuh. Intinya terpulas lemah
(pucat) dan lonjong atau memancang dan sitoplasmanya yang sedikit
asidofilik atau sedikit basidofilik. Sel osteoprogenitor paling aktif selama
pertumbuhan tulang namun diaktifkan kembali semasa kehidupan dewasa
pada pemulihan fraktur tulang dan bentuk cedera lainnya.
Osteoblas

dan

osteosit

diduga

tidak

mempu

membelah.

Setelah

pemberian timidin bertritium, sel osteoprogenitir adalah sel satu-satunya


yang berlabel dalam autoradiograf pada interval awal. Kemudian butirbutir perak juga ditemukan pada inti osteoblas. Jadi jelas bahwa ketika
populasi

osteoblas

dihancurkan

selama

berlangsungnya

remodeling

tulang, mereka diganti baru melalui proliferasi dan diferensiasi sel-sel


osteoprogenitor.
Sel Osteoblas adalah sel pembentuk tulang dari tulang yang berkembang
menjadi dewasa. Selama deposis aktif dari martiks baru, mereka tersusun
sebagai lapis epiteloid sel-sel kuboid atau kolumnar pada permukaan
tulang. Intinya biasanya terletak pada ujung sel paling jauh daro
permukaan tulang.sitoplasmanya sangat basofilik dan sebuah kompleks
Golgitampak mencolok sebagai daerah lebih pucat antara inti dan dasar
sel. Sel ini

bertanggung jawab mesintesis komponen organik matriks

tulang (kolagen dan glikoprotein). Sel-sel ini terletak pada permukaan


jaringan tulang secara berdampingan yang menyerupai epitel sederhana.
Bila osteoblas telah berada dalam matriks yang baru disintesis dia dikenal
sebagai osteosit.
Sel Osteosit merupakan sel utama tulang dewasa yang ditemukan dalam
rongga (lakuna) pada matriks tulang yang telah mengalami mineralisasi.
Sel-sel ini aktif dalam pemeliharaan tulang. Kematian osteosit diikuti
dengan resorpsi matriks.
Sel Osteoklas meerupakan sel raksasa berinti banyak, bersifat motil
(dapat beregerak) dan bercabang banyak, diperlukan dalam resorpsi dan
perubahan bentuk jaringan tulang. Sel-sel ini mensekresikan kolagenase
dan enzim proteolitik. Seumur hidup, tulang tetap mengalami remodeling

intern dan pemberuan yang mencakup menghilangkan martiks tulang


pada banyak tempat, diikuti penggantiannya berupa deposisi tulang
baru.4,5
Otot
Sistem muskular (otot) terdiri dari sejumlah besar otot yang
bertanggung jawab atas gerakan tubuh. Otot-otot volunter melekat pada
tulang, tulang rawan, ligamen, kulit, atau otot lain melalui struktur fibrosa
yang disebut tendon dan aponeurosis. Serabut-serabut otot vollunte,
bersama selubung sarkolema, masing-masing tergabung dalam kumparan
oleh endomisium dan dibungkus oleh perimisium. Kelompok serabut
tersebut (fasikulus) digabungkan oleh selubung yang lebih padat, yang
disebut epimisium dan gabungan fasikulus ini membentuk otot volunter
badan individu. Jaringan otot, yang mencapai 40% sampai 50% berat
tubuh, pada umumnya tersusun dari sel-sel kontraktil yang disebut
serabut otot. Otot diklasifikasi secara struktural berdasarkan ada tidaknya
striasi

silang

(lurik),

dan

secara

fungsional

berdasarkan

kendali

konstruksinya, volunter (sadar) atau involunter (tidak sadar), dan juga


berdasarkan lokasi seperti otot jantung, yang hanya terdapat di jantung.6
Ada tiga jenis jaringan otot yang dapat dibedakan atas dasar
strukturnya dan ciri fiologis yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung.
a. Otot polos (smooth muscle/involuntary muscle)
Otot polos adalah otot tidak berlutik dan involunter. Jenis otot ini
dapat ditemukan pada dindind organ berongga seperti kandung kemih
dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik,
pencernaan, reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi darah. Serebut otot
berbentuk spindel dengan nukleus sentral yang terelongasi. Kontraksinya
kuat dan lambat. Otot polos tidak dibawah pengaruh kehendak.
b. Otot lurik (skeleton muscle/voluntary muscle)

Otot lurik atau otot rangka, volunter, dan melekat pada rangka.
Setiap serabut memiliki banyak inti, yang tersusun di bagian perifer.
Kontraksinya

cepat

dan

kuat.

Otot

lurik

dipersyafi

oleh

system

cerebrosfinal dan dapat dikendalikan. Otot lurik terdapat pada otot skelet,
lidah, diaphragm, bagian atas dinding oesophagus. Otot lurik yang
volunter terikat pada tulang atau fasia dan membentuk daging dari
anggota badan dan dinding tubuh. Ciri srtuktural yang paling menonjol
pada serat otot rangka adalah adanya banyak myofibril.

c. Otot Jantung
Merupakan otot lurik, involunter, dan hanya ditemukan pada
jantung. Serabut terelongasi dan membentuk cabang dengan satu
nukleus sentral. Kontraksi otot jantung kuat dan berirama. Terdiri dari
serabut otot yang bercorak yang bersifat kontraksinya bersifat otonom.
Tetapi dapat dipengaruhi system vagal. Serabutnya bercabang-cabang,
saling berhubungan dengan serabut otot di dekatnya. Intinya berbentuk
panjang dan terletajk di tengah.
Secara mikroskopis, otot yang yang menyusun tungkai bawah kanan yaitu
otot rangka. Otot rangka atau otot lurik adalah sejenis otot yang
menempel pada rangka tubuh dan digunakan untuk pergerakan.7,8
Mekanisme Kontraksi Otot
Mekanisme kontraksi otot secara singkat adalah sebagai berikut.
Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP.
Setelah itu, pangkal miosin terikat pada filamen aktin. Filamen aktin
bergerak kerena adanya tegangan. Pangkal miosin terlepas dari aktin
karena ATP lain terikat pada miosin, selanjutnya siklus dimulai kembali.
Molekul miosin terbentuk dari dua rantai protein berat yang identik dan
dua pasang rantai ringan. Bagian ekor rantai yang berat berpilin satu
sama lain dengan kepala protein globular, atau crossbridge, menonjol di

salah satu ujungnya. Crossbridge menghubungkan filamen tebal ke


filamen tipis. Setiap crossbridge memiliki sisi pengikat aktin, sisi pengikat
ATP, dan aktivasi ATPase (enzim yang menghidrolisis aktivasi ATP).
Beberapa ratus molekul miosin dalam setiap filamen tebal dengan ekor
cambuknya yang saling bertumpang tindih dan kepala globularnya
menghadap ke ujungnya. Molekul aktin tersusun dari tiga protein. F-aktin
fibrosa terbentuk dari dua rantai globular G-aktin yang berpilin satu sama
lain. Molekul tropomiosin membentuk filamen yang memanjang melebihi
subunit aktin dan melapisi sisi yang berikatan dengan crossbridge.
Molekul troponin berikatan dengan molekul tropomiosin dan menstabilkan
posisi penghalang pada molekul ptopomiosin. Troponin adalah suatu
kompleks yang tersusun dari satu polipeptida yang mengikat tropomiosin,
satu polipetida yang mengikat aktin, dan satu polipeptida yang mengikat
ion-ion kalsium. Jika kalsium tidak ada, tropomiosin dan troponin
mencegah terjadinya ikatan antara aktin dan miosin. Sedangkan jika
kalsium ada, maka reorganisasi troponin-tropomiosin memungkinkan
terjadinya hubungan antara aktin dan miosin.
Setiap serabut otot menerima satu ujung neuron motorik somatik, sel
saraf pada medula spinalis yang mentransmisi impuls ke otot rangka.
Ujung saraf motorik, disebut akson atau serabut saraf, menjalar dengan
sejumlah serabut serupa dari neuron motorik lain dalam sebuah saraf.
Serabut akson tunggal terbagi menjadi sejumlah percabangan yang
membentuk sambungan neuromuskular khusus dengan serabut otot
rangka. Setiap terminal akson berada dalam identasi penuh berisi cairan
pada sarkolema yang kemudian membentuk lipatan. Lempeng ujung
motorik merupakan sambungan cabang akson saraf dan serabut otot
rangka yang tidak berdekatan. Unit motorik adalah salah satu neuron
motorik serta semua serabut otot yang terinervasi di dalamnya. Satu unit
motorik dapat terdiri dari dua atau tiga serabut otot saja atau bisa lebih
dari seribu serabut dalam beberapa otot besar. Semakin sidikit jumlah
serabut otot yang terinervasi sebuah neuron, semakin akurat gerakan
yang dihasilkan. Jika impuls saraf terhenti, maka depolarisasi membran

selesai, ion kalsium ditangkap kembali oleh retikulum sarkoplasma, dan


proses kontraksi berhenti. Ach berhubungan dengan sarkoplasma hanya
selama beberapa milidetik. Zat ini hampir secara langsung dipecah oleh
enzim kolinesterase yang dilepas dari lipatan sarkolema. Pemecahan ACh
seperti ini sering untuk membatasi durasi kontraksi dan memungkinkan
terjadinya kontraksi berulang. Otot rangka juga mengandung banyak
ujung saraf sensorik.8,9

Mekanisme Relaksasi Otot


Apabila berlangsung normal, kontraksi otot akan selalu diikuti
dengan relaksasi, yaitu proses pemulihan sel otot ke keadaan istirahat.
Relaksasi

otot

akan

segera

terjadi

apabila

pemberian

rangsang

(penjalaran impuls) ke sel otot dihentikan.


Mekanisme relaksasi pada sel otot mirip dengan proses repolarisasi pada
sel

saraf.

Relaksasi

otot

diawali

dengan

penurunan

permeabilitas

membran sarkolema, retikulum sarkoplasma, dan tubulus transversus


terhadap

kalsium.

Hal

ini

menyebabkan

pemasukan

kalsium

ke

sarkoplasma terhenti. Proses tersebut dilanjutkan dengan pengaktifan


pompa kalsium, yang menigkatkan pemompaan kalsium dari sarkoplasma
ke tempat penyimpanannya didalam retikulum sarkoplasma dan tubulus
transversus. Setelah pompa kalsium bekerja, jumlah kalsium dalam
sarkoplasma turun secara signifikan sehingga troponin-C tidak lagi
berikatan dengan kalsium. Dengan demikian, konformasi dan posisi
troponin serta posisi aktin dan miosin akan kembali seperti semula
sehingga relaksasi pun terjadi.
Pengaktifan

pompa

kalsium

menuntut

ketersediaan

energi

untuk

memompakan kalsium dari sarkoplasma kembali masuk ke tubulus


transversus dan retikulum sarkoplasma. Hal ini dapat diatasi dengan
adanya enzim retikikulum sarkoplasma ATP-ase. Segera setelah terbentuk,
jembatan penyeberangan tersebut membebaskan sejumlah energi dan
menyampaikan

energi

tersebut

ke

arah

filamen

tipis.

Proses

ini

menyebabkan filamen tipis mengkerut. Secara keseluruhan sarkomer ikut

mengerut yang mengakibatkan otot pun berkerut. Kepala miosin akan


lepas dari filamen tipis. Proses ini memerlukan ATP yang diambil dari
sekitarnya. Dengan peristiwa ini, maka filamen tipis akan lepas dari
filamen tebal. Secara keseluruhan otot akan relasasi kembali.
Proses ini berulang sampai 5 kali dalam jangka waktu satu detik. Jadi,
kontraksi oto akan berlangsung selama ada rangsangan. Apabila tidak ada
rangsangan maka ion kalsium akan direabsorpsi. Pada saat itu pun
troponin dan tropomiosin tidak memiliki sisi aktif lagi dan sarkomer dalam
keadaan istirahat memanjat berelaksasi.9,10
Faktor Penyebab Kram
kram terjadi ketika otot mengalami kontrak kuat, biasanya otot betis
besar. kram juga dapat terjadi jika terjadi kontraksi terus-menerus dan
tidak diikuti relaksasi. Penderita akan merasa nyeri secara tiba-tiba yang
berat.

Otot berkontraksi sehingga menjadi sekeras batu.

Kram dapat

terjadi dengan dehidrasi. Otot ini akan mencapai titik kelelahan dalam
waktu 60 sampai 90 detik dan kejang kemudian akan berhenti.
Peregangan sebelum olahraga dapat mengurangi kram sementara pijatan
dapat istirahat kram. 10

Cara penanganan
Kram otot dapat berhenti dengan meregangkan otot yang mengalami
kram agar otot tersebut menjadi rileks kembali. Dapat juga dilakukan
dengan meregangkan otot secara berlebihan sehingga otot mengalami
relaksasi yang biasa disebut dengan regang otot kembali.10
Kesimpulan
Kram pada kaki adalah kontraksi paksa atau kejang pada otot di
kaki. Mekanisme kerja otot terdiri dari kontraksi dan relaksasi. Kontraksi
selalu diikuti dengan relaksasi. Apabila tidak diikuti dengan relaksasi maka
akan menyebabkan terjadinya kram. Untuk mengatasinya harus dilakukan
peregangan otot atau dilakukan peregangan secara berlebihan sehingga
otot mengalami relaksasi.10

Daftar pustaka
1. Kirschmann JD. Nutrition Almanac. Edisi ke-6. United States of
America: The McGraw-Hill companies; 2007.
2. R Putz, R Pabst. Atlas anatomi manusia. Edisi ke-22. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.
3. Purnomo A. Anatomi dan fisiologi sistem muskuloskletal. Jakarta:
Erlangga; 2008.
4. Muslim C, Manaf S, Winarni E. Biologi umum. Jakarta: Esis; 2004.
5. Fawcett D. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2002.
6. Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Edisi ke-10. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.
7. S Ethel. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003.
8. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2001.
9. Karmana O. Biologi. Jakarta: Grafindo Media Pratama; 2008.
10.
Isnaeni W. Fisiologi umum. Yogyakarta: Kanisius; 2006.