Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

INFEKSI NOSOKOMIAL
Topik
Sasaran
Tempat
Hari/ tanggal
Waktu
Penyuluh

:
:
:
:
:
:

Infeksi Nosokomial
Keluarga pasien di ruang 27 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Ruang 27 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Kamis, 9 Juni 2016
30 Menit
Mahasiswa dan Pembimbing

1. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti penyuluhan keluarga mampu memahami tentang Infeksi
Nosokomial
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan keluarga mampu:
a) Menyebutkan pengertian Infeksi Nosokomial
b) Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi Infeksi Nosokomial
c) Menyebutkan penyebab Infeksi Nosokomial
d) Menyebutkan proses penularan Infeksi Nosokomial
e) Menyebutkan pencegahan Infeksi Nosokomial
f) Menyebutkan yang Perlu Diperhatikan Keluarga dan Pengunjung dalam
Pengendalian Infeksi Nosokomial
3. Materi
a) Pengertian Infeksi Nosokomial
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi Infeksi Nosokomia
c) Penyebab Infeksi Nosokomial
d) Proses penularan Infeksi Nosokomial
e) Pencegahan Infeksi Nosokomial
f) Yang Perlu Diperhatikan Keluarga dan Pengunjung dalam Pengendalian
Infeksi Nosokomial
g) Metode

h) Media

Ceramah
Diskusi
Tanya Jawab

Leaflet
Power Point
i) Pengorganisasian
Moderator
:
Penyaji
:
Observer & Fasilitator :

j) Susunan Kegiatan Penyuluhan

NO

WAKTU

KEGIATAN PENYULUHAN

KEGIATAN

.
1.

PESERTA
5 Menit

Pembukaan:
1. Salam dan memperkenalkan diri

Menyambut salam

2. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan

dan mendengarkan

3. Melakukan kontrak waktu


4. Menyebutkan materi penyuluhan yang
akan diberikan
2.

15 Menit

Pelaksanaan:
a) Menyebutkan

pengertian

Nosokomial
b) Menyebutkan

faktor-faktor

Infeksi Memperhatikan dan


yang

mengajukan

mempengaruhi Infeksi Nosokomial


pertanyaan
c) Menyebutkan
penyebab
Infeksi
Nosokomial
d) Menyebutkan proses penularan Infeksi
Nosokomial
e) Menyebutkan

pencegahan

Infeksi

Nosokomial
f) Menyebutkan yang Perlu Diperhatikan
Keluarga

dan

Pengunjung

dalam

Pengendalian Infeksi Nosokomial


3.

5 Menit

Evaluasi:
1. Menanyakan pada keluarga tentang

materi yang diberikan dan reinforcement Menjawab dan


kepada keluarga bila dapat menjawab

menjelaskan jawaban

dan menjelaskan kembali tentang materi

dari pertanyaan yang

yang diberikan

diberikan dan kembali

2. Menanyakan kembali kepada peserta


apa ada yang masih belum dimengerti
4.

5 Menit

bertanya jika belum


ada yang dimengerti

Terminasi:
1. Menyampaikan kesimpulan

Mendengarkan

2. Membagikan leaflet

Membalas salam

3. Mengucapkan terima kasih kepada


peserta
4. Mengucapkan salam

8. Evaluasi
Kesiapan materi : 100% sesuai yang terlampir.
Kesiapan waktu dan tempat : Ruang 27 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
hari Kamis, 9 Juni 2016 Jam 09.00 selasai
Kesiapan media meliputi : Leaflet, power point
Proses:
Pada saat penyuluhan peserta aktif mengikuti kegiatan penyuluhan.
Hasil :
Setelah diberikan penyuluhan peserta dapat menjawab dengan benar 80% dari
pertanyaan yang diajukan
MATERI PENYULUHAN

INFEKSI NOSOKOMIAL
A. Pengertian Infeksi Nosokomial
Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat penderita selama di Rumah Sakit

dan mempunyai masa inkubasi minimal 48-72 jam.


Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat di Rumah Sakit dan timbul atau
terjadi sesudah 72 jam perawatan pada pasien rawat inap dan pada pasien yang

dirawat lebih lama dari masa inkubasi suatu penyakit.


Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai
suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama
seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala
selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial.

(Bab, JR. Liffe, AJ.2011).


Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang
kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi
sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala
setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial. Infeksi
nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi
endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam
tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto
infection,

sementara

infeksi

eksogen

(cross

infection)

disebabkan

oleh

mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien
lainnya. (Suwarni. 2013).
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Infeksi Nosokomial
Sesara umum factor yang mempengaruhi terjadinya nosokomial terdiri atas 2 bagian besar,
yaitu : (Roeshadi, D, 2011)
1. Faktor endogen (umur, seks, penyakit penyerta, daya tahan tubuh dan
kondisikondisi lokal)
2. Faktor eksogen (lama penderita dirawat,kelompok yang merawat, alat medis, serta
lingkungan)

Untuk mudahnya bagaimana seorang pasien mendapat infeksi nosokomial selama dirawat di
RS dapat diringkas sebagai berikut :
1. Pasien mendapat infeksi nosokomial melalui dirinya sendiri (auto infeksi)
2. Pasien mendapat infeksi nosokomial melalui petugas yang merwat di RS
3. Pasien mendapat infeksi nosokomial melalui pasien-pasien yang dirawat ditempat
/ ruangan yang sama di RS tersebut
4. Pasien mendapat infeksi nosokomial melalui keluarga pasien yang bekunjung
kerumah sakit tersebut.
5. Pasien mendapat infeksi niosokomial melalui peralatan yang dipakai dirumah
sakit tersebut.
6. Pasien mendapat infeksi nosokomial melalui peralatan makanan yang disediakan
rumah sakit ataupun yang didapatnya dari luar rumah sakit.
7. Disamping ke-6 cara-cara terjadinya infeksi nosokomial seperti yang dinyatakan
diatas, maka faktor lingkungan tidak kalah penting sebagai factor penunjang
untuk terjadinya infeksi nosokomial, faktor lingkungan tersebut adalah
Air
Bahan yang harus di buang ( Disposial)
Udara
C. Penyebab Infeksi Nosokomial
Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah
sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu
menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan
terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:

karakteristik mikroorganisme,
resistensi terhadap zat-zat antibiotika,
tingkat virulensi,
banyaknya materi infeksius.

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan
infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari
orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri
(endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih
disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan

dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari
rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu
ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang
normal. (Notoatmodjo S. 2012)
D. Proses penularan Infeksi Nosokomial
1. Langsung
: Antara pasien dan personel yang merawat atau menjaga pasien
2. Tidak langsung
obyek tidak bersemangat atau kondisi lemah
lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak didesinfeksi atau sterilkan (Sebagai

contoh perawatan luka pasca operasi)


penularan cara droplet infection di mana kuman dapat mencapai ke udara (air borne)
Penularan melalui vektor, yaitu penularan melalui hewan atau serangga yang
membawa kuman

Selain itu penularan infeksi nosokomial yaitu


1. Penularan secara kontak
Penularan ini dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan
droplet. Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan
penjamu, misalnya person to person pada penularan infeksi virus hepatitis A secara
fecal oral. Kontak tidak langsung terjadi apabila penularan membutuhkan objek
perantara (biasanya benda mati). Hal ini terjadi karena benda mati tersebut telah
terkontaminasi

oleh

infeksi,

misalnya

kontaminasi

peralatan

medis

oleh

mikroorganisme.
2. Penularan melalui Common Vehicle
Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat
menyebabkan penyakit pada lebih dari satu penjamu. Adapun jenis-jenis common
vehicleadalah darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan dan sebagainya.
3. Penularan melalui udara dan inhalasi
Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil
sehingga dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran

pernafasan. Misalnya mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit yang terlepas
(staphylococcus) dan tuberculosis.
4. Penularan dengan perantara vektor
Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan
secara eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme
yang menempel pada tubuh vector misalnya shigella dan salmonella oleh lalat.
Penularan secara internal bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh vektor dan
dapat terjadi perubahan secara biologis, misalnya parasit malaria dalam nyamuk atau
tidak mengalami perubahan biologis, misalnya yersenia pestis pada ginjal (flea).
(Ducel. 2012)
E. Respon dan toleransi tubuh pasien
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien
dalam hal ini adalah:
Umur
status imunitas penderita
penyakit yang diderita
Obesitas dan malnutrisi
Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid
Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi.
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap
infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti
tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal,

dan AIDS. Keadaan-

keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman. Obatobatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap
infeksi.

Infection by direct or indirect contact (Infeksi yang terjadi karena kontak secara
langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi):
Penularan infeksi dapat melalui tangan, kulit dan baju, seperti golongan
staphylococcus aureus
Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis
dan HIV
Peralatan dan instrumen kedokteran
Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan

F. Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial


Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi,
monitoring dan program yang termasuk:
Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci
tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septik dan aseptik, sterilisasi dan
disinfektan.
Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang
cukup, dan vaksinasi.
Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.
Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.
a. Dekontaminasi tangan
Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene
dari tangan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini sulit dilakukan dengan benar, karena
banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan, alergi produk pencuci tangan,

sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini, dan waktu mencuci tangan
yang lama.
b. Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat
bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa
sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada
waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela,
tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Pengaturan
udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya
pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah
atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan
pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya
penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas
penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan
terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana
yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. Toilet rumah sakit juga harus
dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi
antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan.

c. Perbaiki ketahanan tubuh


Di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen oportunis, ada
pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis
tubuh, dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta
menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya,
misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan
tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad
renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam
mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan

demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat
dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.
Daya tahan tubuh yang baik dapat diperoleh dengan cara memperbaiki pola
hidup kita dengan cara memakan makanan yang bergizi. Dengan gizi yang
berkualitas, maka akan memberikan pertahankan tubuh kita dari serangan penyakit,
atau bakteri virus yang dapat masuk kedalam tubuh kita. Begitu pula pola istirahat
kita, apabila istirahat kita mencukupi maka tubuh kita menjadi tidak lemas dan tidak
akan mudah terserang penyakit dan berbagai hal yang dapat menyebabkan kita
terserang infeksi nosokomial.
d. Ruangan Isolasi
Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu
pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang
penularannya

melalui

udara,

contohnya

tuberkulosis,

dan

SARS,

yang

mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF


dan HIV. Biasanya, pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan
pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi.
Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam ruang
isolasi juga sangat penting. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi
udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi,
tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas,
beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita
penyakit yang sama (Siegel. 2011).

G. Yang Perlu Diperhatikan Keluarga dan Pengunjung dalam Pengendalian Infeksi


Nosokomial
1. Mengerti dan memahami peraturan dari Rumah sakit
Taatilah waktu berkunjung
Jangan terlalu lama menjenguk cukup 15-20 menit saja
Penunggu pasien cukup 1 orang
Jangan berkunjung jika anda sedang sakit

Jangan membawa anak dibawah usia 12 tahun


2. Menjaga kebersihan diri
a. lakukan cuci tangan sebelum dan setelah bertemu pasien
5 momen mencuci tangan :
sebelum menyentuh pasien
sebelum melakukan tindakan aseptic
setelah kontak dengan cairan tubuh pasien
setelah menyentuh pasien
setelah menyentuh lingkungan pasien
Cara mencuci tangan 6 langkah :

Buka semua perhiasan, basuh tangan dengan air, tuangkan sabun atau cairan
antiseptic ke telapak tangan, lalu gosok dengan cara memutar berlawanan dengan
arah jarum jam

Gosok punggung tangan kiri dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan.
Dan lakukan sebaliknya

Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jariJari-jari sisi dalam kedua tangan
saling mengunci dan saling digosokkan

Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci dan saling digosokkan

Gosok ibu jari tangan kiri dengan gerakan memutar dalam genggaman tangan
kanan. Dan lakukan sebaliknya.

Gosokkan ujung-ujung kuku tangan kanan pada telapak tangan kiri dengan cara
memutar. Dan lakukan sebaliknya. Bilas tangan denga air mengalir. Keringkan
dengan tisu sekaali pakai, gunakan tisu bekas untuk menutup keran.

b. jangan menyentuh luka, perban, area tusukan infuse, atau alat-alat lain yang
digunakan untuk merawat pasien
c. Menggunakan Masker

Masker, sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara.


Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas, mereka harus
menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita. Begitu juga dengan
pengunjung, pengunjung disarankan menggunakan masker sebagai cara untuk
mencegah terhadap infeksi atau penularan selama di rumah sakit.
d. Etika Batuk
Etika Batuk adalah tata cara batuk yang baik dan benar, dengan cara menutup hidung
dan mulut dengan tissue atau lengan baju. jadi bakteri tidak menyebar ke udara dan
tidak menular ke orang lain
Etika batuk :
Bila merasa akan batuk atau bersin, segeralah berpaling/menjauh sedikit dari

e.
f.
g.
h.
i.

orang-orang disekitar
Kemudian tutuplah hidung dan mulut dengan menggunakan

saputangan atau lengan dalam baju


Segera buang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah;
Cucilah tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun atau gel pembersih

tangan; dan
Bila perlu gunakan masker. (Depkes RI 2014)

bantulah pasien untuk menjaga kebersihan dirinya


Menjaga kebersihan lingkungan
Jangan menyimpan barang terlalu banyak di ruangan pasien
Jangan tidur di bed pasien
Jangan merokok diarea RS

tissue /

DAFTAR PUSTAKA

Babb, JR. Liffe, AJ. Pocket Reference to Hospital Acquired infection. Science Press limited,
Cleveland Street, London; 2011
Depkes RI bekerjasama dengan Perdalin. 2014. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
di Rumah Sakit dan Fasiltas Pelayanan Kesehatan Lainnya. SK Menkes No
382/Menkes/Jakarta: Kemenkes RI
Ducel, G. et al. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd edition. World
Health Organization. Department of Communicable disease, Surveillance and Response;
2012
Notoatmodjo S. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rhineka Cipta
Siegel JD et al. and HICPAC CDC. 2011. Guideline for Isolation Precaution: Preventing
Transmission of Infectious Agent in Healthcare Setting. CDC hal 1-92
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI, Jakarta; 2012
Suwarni, A. Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata
Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca
Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 2013.
Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta;
2013