Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seperti kita ketahui bahwa sistem vestibuler merupakan salah satu dari tiga sistem yang
berfungsi untuk mempertahankan posisi tubuh dan keseimbangan. Yang dua lainnya
adalah somatosensoris (terutama proprioseptif) dan sistem penglihatan. Kehilangan
proprioseptif (misalnya seperti pada tabes dorsalis) atau penglihatan menyebabkan
gangguan ekuilibrium dan keseimbangan yang lebih nyata daripada kehilangan fungsi
vestibuler. Akibat kehilangan fungsi vestibuler bilateral, gangguan terjadi hanya bila
salah satu sistem yang lain ikut terganggu (misalnya bila berjalan dalam gelap atau pada
permukaan yang licin) atau ketika keseimbangan harus dipertahankan dalam kondisi yang
sulit (misalnya berjalan meniti balok kayu yang sempit). Jadi pada manusia, pada kondisi
fisiologik, sistem vestibuler mungkin paling kurang penting dari ketiga sistem
ekuilibrium dan keseimbangan. Gangguan funsi yang paling nyata timbul ketika sistem
vestibuler terserang, kerusakan asimetris akut dan menimbulkan kesan posisi kepala
salah atau kepala berputar.

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.

Mempelajari tentang anatomi organ keseimbangan pada telinga


Mempelajari tentang fisiologi keseimbangan
Mempelajari patofisiologi keseimbangan
Mempelajari pemeriksaan-pemeriksaan fungsi keseimbangan

BAB II
ISI
A. Anatomi Organ Keseimbangan Pada Telinga
Seperti yang telah kita ketahui bahwa telinga merupakan salah satu organ keseimbangan
disamping dipengaruhi mata dan alat perasa pada tendon dalam. Dimana secara anatomi
fungsi keseimbangan pada telinga bagian dalam berada di tulang labirin, yang terdiri dari
bagian vestibuler (kanalis semisirkularis, utriculus, sacculus) dan bagian koklea. Derivat
vesikel otika ini membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membran yang berisi
endolimfe, satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah
natrium. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe (tinggi natrium rendah
kalium) yang terdapat dalam kapsul otika bertulang.
Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi
sel-sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia dan pada
lapisan ini terdapat pula otolit yang mengan dung kalsium dan dengan berat jenis yang
lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan
membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.
Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus yang sempit yang juga
merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang
yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada
utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk
ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel- sel rambut menonjol pada pada suatu
kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakan
kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang
sel reseptor.

Jalur saraf yang dilalui dimulai dari nervus-nervus dari utriculus, saculus dan kanalis
semisirkularis membentuk suatu ganglion vestibularis. Jalur keseimbangan terbagi 2
neuron; neuron ke 1; Sel-sel bipolar dari ganglion vestibularis. Neurit-neurit membentuk
N. Vestibularis dari N. Vestibulocochlearis pada dasar liang pendengaran dalam dan

menuju nuklei vestibularis. Nuklei ke 2 dari Nucleus vestibularis lateralis (inti Deiters)
keluar serabut-serabut yang menuju Formatio retikularis, ke inti-inti motorik saraf otak ke
III, IV dan V (melalui Fasciculus longitudinalis medialis), ke Nuclei Ruber dan sebagai
Tractus vestibulospinalis didalam batangdepan dari sumsum tulang belakang. Dari Nuclei
vestibularis medialis (inti Schwable) dan Nucleus vestibularis inferior (inti Roller)
muncul bagian-bagian Tractus vedtibulospinal dan hubungan-hubungan kearah Formatio
Retikularis. Nucleus vestibularis superior (inti Bechterew) mengirimkan antara lain
serabut-serabut untuk otak kecil.

B. Fisiologi Keseimbangan
Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea, telinga dalam
memiliki komponen khusus lain, yaitu aparatus vestibularis, yang memberikan informasi
yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk koordinasi gerakan gerakan kepala
dengan gerakan gerakan mata dan postur tubuh. Aparatus vestibularis terdiri dari dua
set struktur yang terletak di dalam tulang temporalis di dekat koklea- kanalis
semisirkularis dan organ otolit, yaitu utrikulus dan sarkulus.

Apartus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala.seperti di koklea,


semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe dan dikelilingi oleh
perilimfe. Juga, serupa dengan organ korti, komponen vestibuler masing masing
mengandung sel rambut yang berespon terhadap perubahan bentuk mekanis yang
dicetuskan oleh gerakan gerakan spesifik endolimfe. Seperti sel sel rambut
auditorius,reseptor vestibularis juga dapat mengalami depolarisasi atau hiperpolarisasi,
tergantung pada arah gerakan cairan. Namun tidak seperti sistem pendengaran sebagian
besar informasi yang dihasilkan oleh sistem vestibularis tidak mencapai tingakat
kesadaran.
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau rotasional
kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau memutar
kepala. Tiap tiap telinga memiliki 3 kanalis semisirkularis yang secara tiga dimensi
tersusun dalam bidang bidang yang tegak lurus satu sama lain. Sel- sel rambut reseptif
di setiap kanalis semisirkularis terletak di atas suatu bubungan ( ridge ) yang terletak di
ampula, suatu pembesaran dipangkal kanalis. Rambut rambut terbenam dalam suatu
lapisan gelatinosa seperti topi diatasnya yaitu kupula yang menonjol kedalam endolimfe

di dalam ampula. Kupula bergoyang sesuai arah gerakan cairan seperti gangang laut yang
mengikuti arah gelombang air.
Pada kanalis semisirkularis polarisasi sama pada seluruh sel rambut pada tiap kanalis dan
pada rotasi sel-sel dapat tereksitasi dan terinhibisi. Ketiga kanalis ini hampir tegak lurus
satu dengan lainnya, dan masing-masing kanalis dari satu telinga terletak hampir pada
bidang ang sama dengan kanalis telinga satunya. Dengan demikian terdapat tiga pasang
kanalis; horisontal kiri-horisontal kanan, anterior kiri-posterior kanan, posterior kiri
anterior kanan. Pada waktu rotasi salah satu dari pasangan kanalis akan tereksitasi
sementara satunya akan terinhibisi. Misalnya bila kepala pada posisi lurus normal dan
terdapat percepatan dalam bidang horisontal yang menimbulkan rotasike kanan maka
serabu-serabut aferen dari kanalis horisontal kanan akan tereksitasi sementara serabut
serabut yang kiriakan terinhibisi. Jika rotasi pada bidang vertikal misalnya rotasi kedepan
maka kanalis anterior kiri dan kanan kedua sisi akan tereksitasi sementara kanalis
posterior akan terinhibisi.
Perlu diperhatikan bahwa percepatan sudut merupakan rangsangan yang adekuat untuk
serabut aferen kanalis semisirkularis. Suatu kecepatan rotasi yang konstan tidak akan
mengekssitasi serabut-serabut tersebut. Namun tentunya dalam mencapai suatu kecepatan
tertentu harus ada akselerasi, dan dipengaruhi akselerasi ini akan terus berkurang hingga
nol setelah beberapa saat hingga beberapa menit. Keterlambatan ini disebabkan oleh
pengolahan SSP dan inersia kupula serta viskositas endolimfe yang menyebabkan kupula
tertinggal dibelakang perubahan sudut kepala.Sebagai contoh efek dari penghentian
mendadak setelah suatu rotasi ke kanan searah jarum jam. Perlambatan menuju kecepatan
nol ini ekuivalen dengan percepatan arah yang berlawanan searah jarum jam.
Perlambatan menuju kecepatan nol ini ekuivalen dengan percepatan kearah yang
berlawanan, yaitu kekiri. Dengan demikian, serabut aferen dari kanalis kiri aka tereksitasi
sedangkan serabut yang kanan terinhibisi. Bila ini dilakukan pada ruangan gelap maka
subjek akan merasa bahwa ia berputar ke kiri, setelah kupula kembali pada posisi istirahat
subjek akan meras berhenti berputar.

Akselerasi ( percepatan ) atau deselerasi ( perlambatan) selama rotasi kepala ke segala


arah menyebabkan pergerakan endolimfe, paling tidak disalah satu kanalis semisirkularis
karena susanan tiga dimensi kanalis tersebut. Ketika kepala mulai bergerak saluran
tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam dalam kupula bergerak mengikuti
gerakan kepala.namun cairan didalam kanalis yang tidak melekat ke tengkorak mula
mula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi, tetapi tertinggal di belakang karena adanya
inersia ( kelembaman ). ( karena inersia, benda yang diam akan tetap diam, dan benda
yang bergerak akan tetap bergerak,kecuali jika ada suatu gaya luar yang bekerja padanya
dan menyebabkan perubahan.) ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai berputar,
endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser dengan
arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala ( serupa dengan tubuh anda yang
miring ke kanan sewaktu mobil yang anda tumpangi berbelok ke kiri ). Gerakan cairan ini
menyebabkan kupula condong kearah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala,
membengkokan rambut rambut sensorik yang terbenam di bawahnya. Apabila gerakan
kepala berlanjut dalam arah dan gerakan yang sama, endolimfe akan menyusul dan
bergerak bersama kepala, sehingga rambut rambut kembali ke posisi tegak mereka.
Ketika kepala melambat dan berhenti, keadaan yang sebaliknya terjadi. Endolimfe secara
singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi kepala, sementara kepala
melambat untuk berhenti. Akibatnya kupula dan rambut- rambutnya secara sementara
membengkok sesuai dengan arah rotasi semula, yaitu berlawana dengan arah mereka
membengkok ketika akselerasi. Pada saat endolimfe secara bertahap berhenti, rambut
rambut kembali tegak. Dengan demikian, kanalis semisirkularis mendeteksi perubahan
kecepatan gerakan rotasi kepala. Kanalis tidak berespon jika kepala tidak bergerak atau
ketika bergerak secara sirkuler dengan kecepatan tetap.
Secara morfologi sel rambut pada kanalis sangat serupa dengan sel rambut pada organ
otolit. Rambut rambut pada sel rambut vestibularis terdiri dari 20 -50 stereosilia yaitu
mikrofilus yang diperkuat oleh aktin dan satu silium, kinosilium. Setiap sel rambut
berorientasi sedemikian rupa, sehingga sel tersebut mengalami depolarisasi ketika
stereosilianya membengkok kearah kinosilium; pembengkokan kearah yang berlawanan
menyebabkan hiperpolarisasi sel.sel sel rambut membentuk sinaps zat perantara

kimiawi dengan ujung ujung terminal neuron aferen yang akson aksonnya menyatu
dengan akson struktur vestibularis lain untuk membentuk saraf vestibularis.saraf ini
bersatu dengan saraf auditorius dari koklea untuk membentuk saraf vestibulo koklearis.
Depolarisasi sel rambut meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi diserat
serat aferen; sebaliknya, ketika sel sel rambut mengalami hiperpolarisasi, frekuensi
potensial aksi diserat aferen menurun.
Sementara kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai perubahan rotasional
gerakan kepala kepada SSP, organ otolit memberikan informasi mengenai posisi kepala
relatif terhadap gravitasi dan mendeteksi perubahan dalam kecepatan gerakan liniear
( bergerak dalam garis lurus tanpa memandang arah ).
Utrikulus dan sarkulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga
tulang yang terdapat diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut rambut pada
sel sel rambut reseptif di organ organ ini juga menonjol kedalam suatu lembar
gelatinosa diatasnya, yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta
menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Terdapat banyak kristal halus kalsium
karbonat otolit ( batu telinga ) yang terbenam dalam lapisan gelatinosa, sehingga
lapisan tersebut lebih berat dan lebih lembam ( inert ) daripada cairan di sekitarnya.
Ketika seseorang berada dalam posisi tegak, rambut- rambut di dalam utikulus
berorientasi secara vertikal dan rambut- rambut sarkulus berjajar secara horizontal.
Masa gelatinosa yang mengandung otolit berubah posisi dan membengkokan rambut
rambut dalam dua cara :
1.

Ketika kepala digerakkan ke segala arah selain vertikal (yaitu selain tegak dan
menunduk ), rambut rambut membengkok sesuai dengan arah gerakan kepala
karena gaya gravitasi yang mendesak bagian atas lapisan gelatinosa yang berat. Di
dalam utrikulus tiap tiap telinga, sebagian berkas sel rambut diorientasikan untuk
mengalami depolarisasi dan sebagian lagi mengalami hiperpolarisasi ketika kepala
berada dalam segala posisi selain tegak lurus. Dengan demikian SSP menerima pola
pola aktivitas saraf yang berlainan tergantung pada posisi kepala dalam kaitannya
dengan gravitasi )

10

2.

Rambut rambut utrikulus juga berubah posisi akibat setiap perubahan dalam
gerakan linier horizontal ( misalnya bergerak lurus kedepan, kebelakang, atau
kesamping ). Ketika seseorang mulai berjalan kedepan, bagian atas membran otolit
yang berat mula mula tertinggal di belakang endolimfe dan sel sel rambut
karena inersianya yang lebih besar. Dengan demikian rambut rambut menekuk
kebelakang, dalam arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala yang
kedepan. Jika kecepatan berjalan di pertahankan lapisan gelatinosa segera
menyusul dan bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kepala sehingga
rambut rambut tidak lagi menekuk. Ketika orang tersebut berhenti berjalan,
lapisan otolit secara singkat terus bergerak kedepan ketika kepala melambat dan
berhenti, membengkokan rambut rambut kearah depan. Denga demikian sel sel
rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linier horizontal, tetapi tidak
memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.

11

Sarkulus mempunyai fungsi serupa dengan utrikulus, kecuali bahwa ia berespon secara
selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal ( misalnya bangun dari
tempat tidur ) dan terhadap akselerasi atau deselerasi liner vertikal ( misalnya meloncat
loncat atau berada dalam elevator ).
Sinyal sinyal yang berasal dari berbagai komponen apartus vestibularis dibawa melalui
saraf vestibulokoklearis ke nukleus vestibularis, satu kelompok badan sel saraf di batang
otak, dan ke sereberum.di sini informasi vestibuler diintegrasikan dengan masukan dari
permukaan kulit, mata, sendi, dan otot, untuk :
1. mempertahankan keseimbangan dan postur yang diinginkan;
2. mengontrol otot mata eksternal, sehingga mata tetap terfikasasi ke titik yang sama
walaupun kepala bergerak; dan
3. mempersepsikan gerakan dan orientasi.
Reflek vestibularis berjalan menuju SSP dan bersinap pada neuron inti vestibularis di
batang otak. Selanjutnya neuron vestibularis menuju kebagian alain dari otak, sebagian
langsung menuju motoneuron yang mensarafi otot-otot ekstraokular dan motoneuron
spinalis yang lain menju formatia retikularis batang otak, serebelum dan lainnya.
Hubungan-hubungan langsung inti vestibularis dengan motoneuron ekstraokular
merupakan suatu jaras yang penting dalam mengendalikan gerakan mata dan reflek
vestibulo-okularis (RVO). RVO adalah gerakan mata yang mempunyai suatu komponen

12

lambat berlawanan arah dengan putaran kepala dan suatu komponen cepat yang searah
dengan putaran kepala. Komponen lambat mengkompensasi gerakan kepala dan
berfungsi menstabilkan suatu bayangan pada retina. Kompone cepat berfungsi untuk
kembali mengarahkan tatapn ke bagian lain dar lapangan pandangan. Perubahan arah
gerakan mata selama rangsang vestibularis merupakan suatu contoh dari nistagmus
normal.
Beberapa individu, karena alasan yang tidak di ketahui, sangat pekak terhadap gerakan
gerakan tertentu yang mengaktifkan aparatus vestibularis dan menyebabkan gejala pusing
( dizziness ) dan mual; kepekaan ini disebut mabuk perjalan ( motion sickness ). Kadang
kadang ketidak seimbangan cairan di telinga dalam menyebabkan penyakit menier.
Karena baik aparatus vestibularis maupun koklea mengandug cairan telinga dalam yang
sama, timbul gejala keseimbangan dan pendengaran. Penderita mengalami serangan
sementara vertigo ( pusing 7 keliling ) yang hebat disertai suara berdenging di telinga dan
gangguan pendengaran. Selama serangan itu, penderita tidak dapat berdiri tegak dan
melaporkan perasaan bahawa dirinya atau benda benda di sekelilingnya terasa berputar.
Serebellum,yang melekat kebelakang bagian atas batang otak,terletak di bawah lobus
oksipitalis korteks. Serebelum terdiri dari tiga bagian yang scara fungsional berbeda.
Bagian bagian ini memiliki rangkaian masukan dan keluaran dan, dengan demikian
memiliki fungsi yang berbeda beda :
1.

Vestibuloserebellum penting untuk untunk mempertahankankeseimbangan dan

2.

mengontrol gerak mata.


Spinoserebelum mengatur tonus oto dan gerakan volunter yang terampil dan

3.

terkoordinasi.
Serebroserebelum berperan dalam perencanaan dan inisiasi aktifitas volunter dengan
memberikan masukan ke daerah daerah motorik korteks. Bagian ini juga merupakan
daerah serebelum yang terlibat dalam ingatan prosedural.

Berbagai gejala yang menandai penyakit serebelum semuanya dapat dikaitkan dengan
hilangnya fungsi fungsi tersebut, antara lain adalah gangguan keseimbangan, nistagmus,
penurunan tonus otot tetapi tanpa paralisis.

13

C. Patofisiologi Keseimbangan

Ransangan normal akan selalu menimbulkan gangguan vertigo., misalnya pada tes kalori.
Ransangan abnormal dapat pula menimbulkan gangguan vertigo bila terjadi kerusakan
sistem vestibuler, misal pada orang dengan paresis kanalakan merasa terganggu bila naik
kapal. Ransangan noram dapat pla menimbulkan vertigo pada orang normal bila
situasinya berubah.
Sistem vestibuler sanga sensisitif terhadap perubahan konsentrasi O2 dalam darah, oleh
karena itu perubahan mendadak aliran darah dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak
hanya timbul bila hanya terjadi perubahan O2 tetapi harus ada faktor lain yang menyertai
seperti sklerosi pada salah satu arteri auditiva interna atau salah satu arteri terjepit.
Dengan demikian bila ada perubahan konsentrasi O2 hanya satu sisi saja yang
mengadakan penyesuaian akibatnya terdapat perbedaan elektro potensial antara vestibular
kana dan kiri. Akibatnya terjadi serangan vertigo.
Perubahan

konsentrasiO2

dapat

terjadimisalnya

pada

hipertensi,

hipotensi

spondiloartrosis servikal. Pada kelainan vaso motor mekanisme erjadinya vertigo


disebabkan oleh terjadinya perbedaan prilaku antara arteri auditiva interna kanan dan kiri,
sehingga menimbulkan beda potensial.
Vertigo adalah perasaan berputar, sesuai dengan kejadianya vertigo ada beberapa macam,
yaitu vertigo spontan, posisi dan kalori. Dalam vertigo posis timbul disebabkan oleh
perubahan

posisi

kepala.

Vertigo

timbul

karenaperangsangan

kupula

kanalis

semisirkularis oleh debris atau pada kelainan servikal. Yang dimaksud sebagai debris
adalah kotoran yang menempel pada kanalis semisirkularis. Pada pemeriksaan kalori juga
dirasakan adanya vertigo dan vertigo ini disebut dengan vertigo kalori. Penting di
tanyakan pada psien sewakt tes kalori, supaya ia dapat membandingkan perasaan vertigo
ini dengan serangan yang pernah dialaminya. Bila sama maka keluhan vertigo adalah
betul, sedangkan bila berbeda makakeluhan vertigo perlu diragukan.

14

Rasa pusing disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan
ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh
susunan saraf pusat. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut :
1. Teori Rangsang Berlebihan (Overstimulation)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi
kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu; akibatnya akan timbul vertigo,
nistagmus, mual dan muntah.
2. Teori Konflik Sensorik
Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai
reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus, vestibulum dan proprioseptik, atau
ketidak-seimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Ketidakcocokan
tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang
dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata), ataksia atau sulit berjalan(gangguan
vestibuler, serebelum) atau rasa melayang, berputar (yang berasal dari sensasi kortikal).
Berbeda dengan teori rangsang berlebihan, teori ini lebih menekankan gangguan proses
pengolahan sentral sebagai penyebab.
3. Teori Neural Mismatch
Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik; menurut teori ini otak
mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu; sehingga jika pada suatu saat
dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan,
timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan
berulang-ulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsur-angsur tidak lagi
timbul gejala.
4. Teori Otonomik

15

Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebagai usaha adaptasi
gerakan/perubahan posisi; gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan,
sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan .
5. Teori Neurohumoral
Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat)
yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam mempengaruhi
sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo
6. Teori Sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan
perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi, belajar dan daya
ingat. Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF
(corticotropin releasing factor); peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan
susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa
meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Teori ini dapat menerangkan gejala
penyerta yang sering timbul berupa pucat, berkeringat di awal serangan vertigo akibat
aktivitas simpatis, yang berkembang menjadi gejala mual, muntah dan hipersalivasi
setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis.
Nistagmus adalah gerak bola mata kian kemari yang terdiri dari fase lambat dan fase
cepat. Fase lam bat merupakam reaksisistem vestibuler terhadap ransangan sedangkan
fase cepat merupakan raksi kompensasinya. Nistagmus merupaka suatu parameter yang
akurat untuk menentukan aktivitas sistem vestibuler. Nistagmus adalah gejala yang
berasal dari satu sumbermeskipun nistagmus dan vertigo tidak selalu timbul
bersamaan.dalam keadaan terlatih dengan baikvertigo biasanya tidak diraskan meskipun
nistagmus ada.pada kelainan vestibuler perifer gejala vertigo dapat dihilangkan dengan
latihan yang baik. Nistagmus terdiri dari nistagmus horisontal, nistagmus vertikal dan
nistagmus rotoroar. Nistagmus merupakan parameter penting dalam tes kalori. Dimana
dapat emnentukam normal tidaknya sistem vestibuler, dan dapatjuga menduga ada

16

kelainan pada vestibuler sentral. Nistagmus juga penting dalam pegangan menentukan
diagnosa dengan tes nistagmus posisi.
Penyakit Meniere disebabkan oleh pelebaran dan ruptur periodik kompartemen
endolimfatik di telinga dalam; selain vertigo, biasanya disertai juga dengan tinitus dan
gangguan pen-dengaran. Belum ada pengobatan yang terbukti efektif; terapi profilaktik
juga belum memuaskan; tetapi 60-80 % akan remisi spontan. Dapat dicoba pengggunaan
vasodilator, diuretik ringan bersama diet rendah garam; kadang-kadang dilakukan
tindakan

operatif

berupa

dekompresi

ruangan

endolimfatik

dan

pe-motongan

n.vestibularis. Pada kasus berat atau jika sudah tuli berat, dapat dilakukan labirintektomi
atau merusak saraf dengan instilasi aminoglikosid ke telinga dalam (ototoksik lokal).
Pencegahan antara lain dapat dicoba dengan menghindari kafein, berhenti merokok,
membatasi asupan garam. Obat diuretik ringan atau antagonis kalsium dapat meringankan
gejala. Simtomatik dapat diberi obat supresan vestibluer.
Neuritis vestibularis merupakan penyakit yang self limiting, diduga disebabkan oleh
infeksi virus; jika disertai gangguan pendengaran disebut labirintitis. Sekitar 50% pasien
akan sembuh dalam dua bulan. Di awal sakit, pasien dianjurkan istirahat di tempat tidur,
diberi obat supresan vestibuler dan anti emetik. Mobilisasi dini dianjurkan untuk
merangsang mekanisme kompensasi sentral.

D. Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan

Sejumlah uji klinis dapat dilakukan untuk menentukan apakah sistem vestibularis
berfungsi normal atau tidak, jika tidak, terdapat pula uji untuk menentukan di mana letak
permasalahan (BOIES).Pemeriksaan fungsi keseimbangan dapat dilakukan mulai dari
pemeriksaan yang sederhana yaitu uji Romberg dan uji berjalan (Stepping test) sampai
dengan

pemeriksaan

secara

(elektronistagmografi) (FKUI).

obyektif

yaitu

dengan

posturografi

dan

ENG

17

Beberapa uji dirancang untuk merangsang suatu organ akhir khusus, misalnya pengujian
sepasang kanalis semisirkularis atau organ otolit pada saat rotasi seluruh badan dalam
ruangan gelap.Uji yang lain dirancang untuk melihat interaksi antara beberapa masukan
sensorik seperti propioseptif otot, masukan visual dan vestibularis, yang semuanya dapat
terjadi dengan perubahan postur tubuh atau kepala.boies
Salah satu tujuan penting dari dokter THT adalah menentukan apakah penyebab vertigo
(sensasi bumi berputar relatif terhadap subyek) adalah suatu problem telinga dalam dan
atau saraf kedelapan, ataukah gangguan pada sistem saraf pusat.Contoh-contoh gangguan
sistem saraf pusat antara lain sklerosis multipel dan penyakit demielinasi lainnya, tumor,
penyakit vaskular dan stroke, serta toksisitas obat.Contoh-contoh gangguan perifer
termasuk penyakit Menier, labirintis, ototoksisitas akibat antibiotik dan neuroma
akustik.boies
Pada berbagai uji fungsi vestibularis, dilakukan pengukuran gerakan mata (respon
RVO).Untuk itu, sebelumnya perlu dilakukan evaluasi sistem okulomotorik.Ini dapat
dilakukan dengan memeriksa gerakan mata spontan dalam keadaan terang dan gelap,
gerakan terhadap target visual, saccade dan pursuit tracking.boies
Pada beberapa uji vestibularis perlu pencegahan fiksasi visual dan rangsang optokinetik
(gerakan penglihatan sekeliling relatif terhadap subyek).Untuk tujuan ini, rangsangan
dapat diberikan dalam ruangan yang sangat gelap, atau dengan mata tertutup, atau
meminta subyek mengenakan kacamata +20 dioptri (kacamata Frenzel).Pada dua kondisi
terakhir, gangguan RVO dapat dikurangi ; kondisi optimum adalah kegelapan total
dengan mata terbuka.boies
Gerakan dapat diukur dengan menempatkan elektroda pada kantus eksterna kedua mata
pada gerakan horisontal, atau di atas dan di bawah mata pada gerakan vertikal.Terdapat
beda potensial listrik antara retina dan kornea masing-masing mata, yang berfungsi
sebagai listrik dua kutub.Gerakan mata mengubah orientasi kedua kutub dan kejadian ini
mengubah pula beda potensial antara kedua elektroda di permukaan kulit.boies

18

1.

Pemeriksaan fungsi keseimbangan dapat dilakukan mulai dari pemeriksaan


yang sederhana yaitu:
a. Uji Romberg
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata
terbuka
kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Harus
dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan
bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata
tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali
lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan
serebeler badan penderita
akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. tentang
gangguan keseimbangan karena gangguan vestibuler, maka input visual diganggu
dengan menutup mata dan input proprioseptif dihilangkan dengan berdiri di atas
tumpuan yang tidak stabil.
b. Uji Berjalan (Stepping Test)
Berjalan di tempat 50 langkah, bila tempat berubah melebihi jarak 1 meter dan badan
berputar lebih dari 30 derajat berarti sudah terdapat gangguan.

2.

Tes Unterberger
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan
mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit.Pada kelainan vestibuler posisi
penderita akan menyimpang atau berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang
melempar cakram, kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua tangan bergerak ke
arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik.Keadaan ini
disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.(vertigo)

19

3.

Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)


Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh
mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk
tangan pemeriksa.Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan
tertutup.Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke
arah lesi.(vertigo)

4.

Rangsangan Kalori
Rangsangan kalori adalah suatu tes yang menggunakan perbedaan temperatur untuk
mendiagnosa adanya kerusakan saraf ke delapan yang menyebabkan vertigo.(caloric
stimulation-internet)Dengan tes ini dapat ditentukan adanya kanal paresis atau
directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Kanal paresis ialah jika abnormalitas
ditemukan di satu telinga, baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin,
sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas pada arah nistagmus
yang sama di masing-masing telinga.Kanal paresis menunjukkan lesi perifer di
labirin atau N.VIII, sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.
(vertigo, cermin dunia kedokteran)Pada tes ini, subyek ditempatkan sedemikian rupa
sehingga bidang salah satu kanalis semisirkularis (biasanya horisontal) menjadi
sejajar dengan suatu bidang yang vertikal terhadap bumi yaitu dengan cara posisi
pasien tidur terlentang, dengan kepala fleksi 30, atau duduk dengan kepala ekstensi
60. Tes ini terdiri dari dua cara, yaitu tes kalori cara Kobrak dan tes kalori
bitermal.fkui
a. Tes Kobrak
Digunakan spuit 5 atau 10 mL, ujung jarum disambung dengan kateter.Perangsangan
dilakukan dengan mengalirkan air es (0C), sebanyak 5 mL selama 20 detik ke dalam
liang telinga.Sebagai akibatnya terjadi transfer panas dari telinga dalam yang
menimbulkan suatu arus konveksi dalam endolimfe.Hal ini menyebabkan defleksi
kupula dalam kanalis yang sebanding dengan gravitasi, dan rangsangan serabutserabut aferennya.Suatu cairan dingin yang dialirkan ke liang telinga kanan akan

20

menimbulkan nistagmus dengan fase lambat ke kanan.Kecepatan maksimum dari


komponen lambat dan lamanya nistagmus diukur bila tidak timbul penglihatan.Nilai
dihitung dengan mengukur lama nistagmus, sejak air mulai dialirkan sampai
nistagmus berhenti.Harga normal 120-150 detik.Harga yang kurang dari 120 detik
merupakan bukti defisit perifer atau adanya suatu paresis kanal. Boies&fkui
b. Tes Kalori Bitermal
Tes kalori ini dianjurkan oleh Dick & Hallpike.Pada cara ini dipakai 2 macam air,
dingin dan panas.Suhu air dingin adalah 30C, sedangkan suhu air panas adalah
44C.volume air yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing 250 mL,
dalam waktu 40 detik.Setelah air dialirkan, dicatat lama nistagmus yang
timbul.Setelah liang telinga kiri diperiksa dengan air dingin, diperiksa telinga kanan
dengan air dingin jugakemudian telinga kiri dialirkan air panas, lalu telinga
kanan.Pada tiap-tiap selesai pemeriksaan (telinga kiri atau kanan atau air dingin atau
air panas) pasien diistirahatkan selama 5 menit (untuk menghilangkan pusingnya).
(lihat tabel Tes Kalori)fkui

Tabel 2.1 Tes Kalori


Langkah
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat

Telinga
Kiri
Kanan
Kiri
Kanan

Suhu air
30C
30C
44 C
44 C

Arah Nistagmus
Kanan
Kanan
Kanan
Kanan
Kanan
Kanan
Kanan
Kanan

Waktu Nistagmus
a. . detik
b. . detik
c. . detik
d. . detik

Hasil tes kalori dihitung dengan menggunakan rumus:


Sensitifitas L R : (a=c) (b=d) =
Dalam rumus ini dihitung selisih waktu nistagmus kiri dan kanan.Bila selisih waktu
ini kurang dari 40 detik maka berarti kedua fungsi vestibuler dalam keadaan

21

seimbang.Tetapi bila selisih ini lebih besar dari 40 detik, maka berarti yang
mempunyai waktu nistagmus lebih kecil mengalami paresis kanal.fkui
5.

Tes Nistagmus Spontan


Nylen memberikan kriteria dalam menentukan kuatnya nistagmus ini.Bila nistagmus
spontan ini hanya timbul ketika mata melirik searah dengan nistagmusnya, maka
kekuatan nistagmus itu sama dengan Nylen 1.Bila nistagmus timbul sewaktu mata
melihat ke depan, maka disebut Nylen 2, dan bila nistagmus tetap ada meskipun mata
melirik berlawanan arah nistagmus, maka kekuatannya disebut Nylen 3.
Bila terdapat nistagmus spontan, maka harus dilakukan tes hiperventilasi.Caranya
ialah pasien diminta mengambil nafas cepat dan dalam selama satu menit, dan sejak
mulai setengah menit terakhir direkam.Bila terdapat perbedaan 7 per detik maka
berarti tes hiperventilasi positif.Tes valsava caranya adalah dengan menahan nafas
selama 30 detik, dan sejak mulai menahan nafas itu direkam, dan interpretasi sama
dengan hiperventilasi.fkui

6.

Tes Nistagmus Posisi


Tes nistagmus posisi ini dianjurkan oleh Hallpike dan cara ini disebut Perasat
Hallpike.Caranya adalah, mula-mula pasien duduk, kemudian tidur terlentang sampai
kepala menggantung di pinggir meja periksa, lalu kepala diputar ke kiri, dan setelah
itu kepala diputar ke kanan.
Pada setiap posisi nistagmus diperhatikan, terutama pada posisi akhir.Nistagmus
yang terjadi dicatat masa laten, dan intensitasnya.Juga ditanyakan kekuatan
vertigonya secara subyektif.Tes posisi ini dilakukan berkali-kali dan diperhatikan ada
tidaknya kelelahan.Dengan tes posisi ini dapat diketahui kelainan sentral atau
perifer.Pada kelainan perifer akan ditemukan masa laten dan terdapat kelelahan dan
vertigo biasanya tersasa berat.Pada kelainan sentral sebaliknya, yaitu tidak ada masa
laten, tidak ada kelelahan dan vertigo ringan saja.

22

Nistagmus posisi yang berasal dari perifer dapat dibedakan dari nistagmus yang
disebabkan oleh debris (nistagmus paroksismal tipe jinak), atau oleh kelainan
servikal, atau kedua-duanya (kombinasi).
Tes nistagmus posisi dengan bantuan ENG menjadi sederhana.Pada pemeriksaan,
kita hanya memerlukan dua posisi, yaitu HL / HR dan BL / BR.Posisi HL adalah
tidur terlentang dengan leher diputar, sehingga posisi kepala dengan telinga kiri ada
di bawah, atau bila HR maka dilakukan hal yang sama sehingga telinga kanan berada
di bawah.Posisi BL adalah tidur miring ke kiri dengan leher tetap lurus, dan posisi
BR ialah tidur miring ke kanan.
Pada posisi HL mungkin terjadi dua macam rangsangan, yaitu rangsangan yang
berasal dari debris (kotoran yang menempel pada kupula kss), kita sebut saja
nistagmus yang timbul adalah nistagmus debris (ND), dan nistagmus lain mungkin
disebabkan oleh putaran servikal, kita sebut saja nistagmus servikal (NS).
Dalam perhitungan:
MisalHL = a perdetik
BL = b perdetik
MakaA = NS+ND
ND adalah sama dengan harga BL, yaitu besarnya sama dengan B perdetik.
Jadi NS = A B perdetik
Dengan pemeriksaan yang telah kita lakukan seperti di atas maka kita harus mampu
menentukan apakah kelainan terdapat di sentral atau di perifer.fkui
Tabel 2.2 Macam Nistagmus
Tanda yang kita ketahui
1. Nistagmus spontan

Kelainan sentral
Vertikal

Kelainan perifer
Horizontal/rotatoir

23

2. Nistagmus posisi
3. Nistagmus kalori
7. Tes Rotasi

Tidak ada kelelahan


Normal/ Preponderance

Ada kelelahan
Paresis

Penderita didudukkan di atas kursi yang diletakkan pada pusat aksis rotasi dari suatu
motor torque dan mempunyai perlengkapan untuk menjaga kepala dan kaki.Kursi
khusus ini dikenal dengan kursi Barany, yang khusus dibuatuntuk tes ini.Bila subyek
duduk tegak dengan memiringkan kepala 30 ke bawah, maka kanalis horisontalis
dapat dirangsang secara maksimum.Gerakan leher dicegah sehingga rotasi akan
menggerakkan tubuh dan kepala bersamaan.Rotasi dilakukan dengan mata tertutup,
dalam satu arah dengan percepatan konstan dalam waktu singkat (mis. 20 detik) atau
secara osilatorik (mis. Sinusoid).Untuk percepatan konstan dilakukan pengukuran
amplitudo dan lamanya respon, sedangkan untuk rotasi sinusoid diukur fase serta
hasil yang didapat.undip&boies
Pada akhir putaran (rotasi) dihentikan mendadak dan penderita langsung disuruh
melihat jari pemeriksa yang dilakukan di depan penderita dan terhadap telinga yang
diperiksa.Pada tes ini dicatat waktu dalam detik, lama pasca nistagmus, dan pada
orang normal akan hilang kurang lebih 25 sampai 35-40 detik.undip
8.

Posturografi
Alat pemeriksaan keseimbangan dapat menilai secara obyektif dan kuantitatif
kemampuan keseimbangan postural seseorang. Untuk mendapatkan gambaran yang
benar tentang gangguan keseimbangan karena gangguan vestibuler, maka input
visual diganggu dengan menutup mata dan input proprioseptif dihilangkan dengan
berdiri di atas tumpuan yang tidak stabil.
Ada 3 macam tes posturografi yaitu;
a. Sensory Organization Test (SOT)

24

Secara obyektif mengidentifikasikan problem pengontrolan posisi dengan


mengukur kemampuan pasien untuk mengefektifkan informasi penglihatan,
vestibuler dan proprioseptif.
1.

Eyes open, fixed surface and visual surround.

2.

Eyes closed, fixed surface.

3.

Eyes open, fixed surface, sway referenced visual surround.

4.

Eyes open, sway referenced surface, fixed visual surround.

5.

Eyes closed, sway referenced surface.

6.

Eyes open, sway referenced surface and visual surround.

b. Motor Control Test (MCT)


Mengukur kemampuan pasien untuk secara cepat dan otomatis pulih dari
provokasi eksternal yang tidak terduga.
c. Tes Adaptasi
Mengukur kemapuan pasien untuk memodifikasi reaksi motorik.
9.

Elektronigtagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk merekam
gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis
secara kuantitatif. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menetukan apakah gangguan
keseimbangan tersebut disebabkan oleh penyakit di telinga dalam atau tidak.
Ada empat bagian utama tes dari elektronistagmografi:
1.

Tes kalibrasi berguna untuk mengevaluasi rapid eye movements.

2.

Tracking test mengevaluasi pergerakan dari mata selama mengikuti gerakan dari
benda target.

3.

Tes posisi mengukur nistagmus yang diukurposisikepala.

25

4.

Tes kalori mengukur respon terhadap air panas dan dingin yang dimasukkan ke
dalam liang telinga.

Tes ENG merupakan gold standar untuk mendiagnosis gangguan telinga yang
mengenai satu telinga pada suatu waktu. Sebagai contoh, ENG sangat bagus untuk
mendiagnosis vestibular neuritis. ENG juga berguna untuk mendiagnosis BPPV dan
gangguan keseimbangan bilateral.
ENG juga berguna untuk memonitor gerakan bola mata. Prinsipnya sederhana saja,
yaitu bahwa kornea mata itu bermuatan positif. Muatan positif ini sifatnya sama
dengan muatan positif listrik atau magnit yang selalu mengimbas daerah sekitarnya.
Begitu pula muatan positif kornea ini mengimbas kulit sekitar bola mata. Dengan
meletakkan elektroda pada kulit kantus lateral mata kanan dan kiri, maka kekuatan
muatan kornea kanan dan kiri bisa direkam. Rekaman muatan ini disalurkan pada
sebuah galvanometer.
Bila muatan kornea mata kanan dan kiri sama, maka galvanometer akan meninjukkan
angka nol (di tengah). Bila mata bergerak ke kanan, maka elektroda kanan akan
bertambah muatannya, sedangkan elektroda kiri akan berkurang, jarum galvanometer
akan bergerak ke satu arah. Jadi kesimpulannya, jarum galvanometer akan bergerak
sesuai dengan gerak bola mata. Dengan demikian nistagmus yang terjadi bisa
dipantau dengan baik. Bila gerak jarum galvanometer diperkuat, maka akan mampu
menggerakkan sebuah tuas, dan gerakan tuas ini akan membentuk grafik pada kertas,
yang disebut elektronistagmografi (ENG).
Dalam grafik ENG dapat mudah dikenal gerakan nistagmus fase lambat dan fase
cepat, arah nistagmus serta frekuensi dan bentuk grafiknya. Yang menjadi pegangan
utama adalah kecepatan fase lambat dari nistagmus yang dapat dihitung di dalam
derajat perdetik.
Rumus perhitungan yang dipakai sama dengan rumus yang dianjurkan Dick dan
Hallpike, hanya parameter yang dipakai adalah kecepatan fase lambat yang dihitung
dengan derajat perdetik.

26

Rumus I.
Sensitivitas L-R : (a+c) (b+d) x 100% = (a+c+b+d)
Bila hasil rumus di atas kurang dari 20% maka kedua fungsi vestibuler dalam
keadaan seimbang, dan bila hasilnya melebihi 15 derajat perdetik, maka kedua fungsi
vestibuler dalam keadaan normal. Bila hasilnya lebih besar dari 20%, maka
vestibular yang hasilnya kecil berarti mengalami paresis kanal.
Rumus II.
Kuat Nist. R-L : (a+d) (b+c) x 100% = (a+d+b+c)
Bila hasil rumus lebih besar dari 20%, maka nistagmus berat ke kanan (directional
preponderance to the right), berarti kemungkinan terdapat lesi sentral di sebelah
kanan, atau ada fokus iritatif sentral di sebelah kiri.

27

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari makalah ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. telinga merupakan salah satu organ keseimbangan disamping dipengaruhi mata dan
alat perasa pada tendon dalam. Dimana secara anatomi fungsi keseimbangan pada
telinga bagian dalam berada di tulang labirin, yang terdiri dari bagian vestibuler
(kanalis semisirkularis, utriculus, sacculus) dan bagian koklea.
2. telinga dalam memiliki komponen khusus lain, yaitu aparatus vestibularis, yang
memberikan informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk
koordinasi gerakan gerakan kepala dengan gerakan gerakan mata dan postur
tubuh.
3. Aparatus vestibularis terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang
temporalis di dekat koklea- kanalis semisirkularis dan organ otolit, yaitu utrikulus
dan sarkulus.
4. Apartus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala.seperti di
koklea, semua komponen aparatus komponen vestibuler masing masing
mengandung sel rambut yang berespon terhadap perubahan bentuk mekanis yang
dicetuskan oleh gerakan gerakan spesifik endolimfe. Seperti sel sel rambut
auditorius,reseptor vestibularis juga dapat mengalami depolarisasi atau
hiperpolarisasi, tergantung pada arah gerakan cairan.
5. Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau rotasional
kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau
memutar kepala.
6. sel rambut pada kanalis sangat serupa dengan sel rambut pada organ otolit. Setiap
sel rambut mengalami depolarisasi ketika stereosilianya membengkok kearah

28

kinosilium; pembengkokan kearah yang berlawanan menyebabkan hiperpolarisasi


sel.sel sel rambut membentuk sinaps zat perantara kimiawi dengan ujung ujung
terminal neuron aferen yang akson aksonnya menyatu dengan akson struktur
vestibularis lain untuk membentuk saraf vestibularis.
7. Depolarisasi sel rambut meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi
diserat serat aferen, ketika sel sel rambut mengalami hiperpolarisasi, frekuensi
potensial aksi diserat aferen menurun.
8. Utrikulus dan sarkulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam
rongga tulang yang terdapat diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut
rambut pada sel sel rambut reseptif di organ organ ini juga menonjol kedalam
suatu lembar gelatinosa diatasnya, yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi
rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Ketika seseorang
berada dalam posisi tegak, rambut- rambut di dalam utikulus berorientasi secara
vertikal dan rambut- rambut sarkulus berjajar secara horizontal.
9. Rasa pusing disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang
mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa
yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat.
10. Pemeriksaan fungsi keseimbangan dengan menggunakan uji Romberg, tes
unterberg, uji tunjuk barany, rangsangan kalori,tes nistagmus spontan, nistagmus
posisi, posturografi, elektronigtagmogram