Anda di halaman 1dari 6

PENGARUS STREPTOCCUS PNEUMONIAE TERHADAP KESEHATAN

MASYARAKAT

ANNISA AULIA
B1J013003
KELAS B

TUGAR TERSTRUKTUR MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

I.

PENDAHULUAN

Udara, sebagai salah satu komponen lingkungan merupakan kebutuhan yang


paling utama untuk mempertahankan kehidupan. Metabolisme dalam tubuh makhluk
hidup tidak mungkin dapat berlangsung tanpa oksigen yang berasal dari udara. Selain
oksigen terdapat zat-zat lain yang terkandung di udara seperti mikroorganisme,
mikroorganisme yang ada diudara dikenal sebagai bioaerosol. Mikroorganisme
dalam udara terdiri dari komposisi yang kompleks antara bioaerosol seperti jamur,
bakteri dan allergen dan partikel non biologi seperti asap rokok, partikel pembakaran
generator dan lain-lain (Rachmatanti, 2014).
Secara alamiah mikroorganisme tidak ada di udara, karena udara bukan
habitat mikroorganisme. Mikroorganisme berada di udara karena terbawa angin
bersama partikel debu atau untuk sementara mengapung di udara. Walaupun udara
bukan habitat hidup mikroba, aktivitas manusia baik disengaja maupun tidak
membantu terciptanya media hidup sementara di udara, misalnya kelembaban yang
terjadi saat manusia bernapas atau bersin, furniture atau alas ruangan yang basah,
tumpukan buku-buku, tanaman dalam ruangan dan lain lain (Lisyastuti, 2010).
Mikroorganisme di udara jika masih berada dalam batas-batas tertentu masih dapat
dinetralisasi, tetapi jika sudah melampaui ambang batas maka proses netralisasi akan
terganggu dan akan menimbulkan pencemaran udara (Rachmatanti, 2014).
Kualitas udara dalam ruang sangat mempengaruhi kesehatan manusia,
kualitas udara yang buruk akan membawa dampak negatif dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Dampak pencemaran udara terhadap tubuh terutama pada
daerah tubuh atau organ tubuh yang kontak langsung dengan udara seperti iritasi
selaput lendirIritasi mata, mata pedih, mata merah, mata berair, iritasi hidung, bersin,
gatal: iritasi tenggorokan, sakit menelan, gatal, batuk kering, gangguan neurotoksik:
sakit kepala, lemah/capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, gangguan paru
dan pernafasan: batuk, nafas berbunyi/mengi, sesak nafas, rasa berat di dada,
gangguan kulit: kulit kering, kulit gatal, gangguan saluran cerna: diare/mencret, lainlain: gangguan perilaku, gangguan saluran kencing, sulit belajar. Salah satu
mikroorganisme udara patogen adalah Streptococcus, bakteri ini dapat menyebabkan
penyakit epidemik antara lain scarlet fever, erisipelas, radang tenggorokan, febris
puerpuralis, rheumatic fever, dan bermacam-macam penyakit lainnya (Wulandari,
2013).

II.

PEMBAHASAN

S. pneumoniae merupakan bakteri Gram-positif yang berbentuk lanset


biasanya tumbuh berkoloni/berpasangan namun kadang sendiri-sendiri dalam bentuk
rantai pendek. Karakteristik penting dari organisme ini adalah adanya polisakarida
kapsul yang merupakan dasar dari 90 serotipe lebih yang berbeda, yang
diklasifikasikan lebih lanjut ke 46 serotipe berdasarkan kesamaan antigenik.
Organisme ini biasanya memiliki enzim yang disebut autolysin yang memiliki
kemampuan untuk mengganggu dan menghancurkan sel yang disebut autolisis
(Donkor dan Badoe, 2014).
Patogenisitas pneumokokus telah dikaitkan dengan berbagai struktur, yang
sebagian besar terletak di permukaannya. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi
mikroorganisme ini dipengaruhi oleh struktur kapsul dan protein yang mampu
memberikan perlawanan terhadap fagositosis dan dengan demikian mempromosikan
melarikan diri dari pertahanan kekebalan tubuh inang. Faktor-faktor lain, termasuk
komponen dinding sel dan racun pneumolysin intraseluler, yang terlibat terutama
dalam peradangan yang disebabkan oleh infeksi. Proses peradangan mungkin
sepenuhnya berkembang hanya setelah lisis bakteri oleh autolysin. Sejak peradangan
diduga menginduksi sebagian besar gejala penyakit radang paru. Langkah pertama
dalam patogenesis penyakit pneumokokus invasif melibatkan translokasi organisme
dari nasofaring (di mana itu terjadi sebagai komensal) ke situs penyakit termasuk
paru-paru, darah dan meninges. Pada situs penyakit, perkembangan penyakit
pneumokokus melibatkan interaksi kompleks antara pneumokokus penentu virulensi
dan respon imun host yang menghasilkan empat efek utama termasuk adhesi, invasi,
peradangan dan shock (Valesco et al, 1995).
Pneumokokus masuk ke dalam paru melalui jalan pernafasan secara percikan
(droplet). Proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadia, yaitu: (1) Stadium
kongesti: kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat
jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag. (2) Stadium
hepatisasi merah: lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak
mengandung udara, warna menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Dalam
alveolus didapatkan fibrin, leukosit neutrifil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan
kuman. Stadium berlangsung sangat pendek. (3) Stadium hepatisasi kelabu: lobus
masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan plera suram

karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi
fagositosis Pneumokokus. Kapiler tidak lagi kongestif. (4) Stadium resolusi: eksudat
berkurang. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit mengalami nekrosis
dan degenerasi lemak. Fibrin direabsorbsi dan menghilang. Secara patologis
anatomis bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi
sebagai bercak-bercak dengan distribusi yang tidak teratur. Dengan pengobatan
antibiotika urutan stadium khas ini tidak terlihat (Kustiyati, 2008).
Insiden penyakit pneumokokus tertinggi pada bayi di bawah usia 2 tahun dan
pada orang dewasa di atas 60 tahun. Pneumokokus merupakan penyebab kematian
paling sering kedua (setelah Hae mophilus influenzae tipe b) setelah meningitis dan
otitis media pada anak-anak (Valesco et al, 1995). Streptococcus pneumoniae (SP)
atau pneumokokus adalah penyebab utama pneumonia, sepsis, bakteremia, dan
meningitis pada bayi dan anak. Penyakit tersebut merupakan penyebab terbanyak
kesakitan dan kematian pada anak. Infeksi respiratori akut menyebabkan kematian
anak usia di bawah lima tahun (20%) di dunia dengan penyebab terbanyak
pneumonia dan bronkiolitis. Pneumokokus masih banyak sebagai penyebab
community acquired pneumonia (CAP) pada anak. World Health Organization
(WHO) memperkirakan pneumokokus menyebabkan kematian 1.612.000 anak setiap
tahun di dunia, dan 716.000 anak di antaranya berusia di bawah lima tahun.
Diperkirakan 26% kematian tersebut terjadi di negara-negara Asia Pasifik terutama
di Asia Tenggara (Purniti et al, 2011).
Sebenarnya pada tenggorok orang sehat pun terdapat pneumonia. Saat
kekebalan tubuh menurun akibat sakit, usia lanjut, kurang gizi, atau ada gangguan
kekebalan tubuh, bakteri berkembang biak, menyebar ke paru dan menyebabkan
radang buli udara paru (Kustiyati, 2008). Diagnosis pneumonia ditegakkan
berdasarkan pedoman WHO yaitu adanya batuk atau sesak napas dan takipne disertai
salah satu gejala dari retraksi dinding dada, tangis merintih atau napas cuping
hidung, serta terdengar ronki, suaram napas menurun atau suara napas bronkial, dan
pada foto radiologi dada terdapat gambaran infiltrat. Adakalanya disertai tanda lain
seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun). Pada bayi
(usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu ditemukan
demam dan batuk. Pneumonia yang dikonfirmasi dengan foto radiologi dada
gambaran konsolidasi minimal satu lobus atau terdapat efusi pleura, dan subjek
pneumonia (Pn) didiagnosis dengan CRP, dan foto radiologi (Purniti et al, 2011).

Bakteri ini mudah menular lewat pernafasan. Berada dekat dengan si


pembawa kuman sangat beresiko tertular, apalagi saat dia berbicara, batuk atau
bersin, dapat membuat kuman terhirup masuk ke tubuh anak. Yang bisa dilakukan
adalah meningkatkan daya tahan tubuh secara umum dengan mengkonsumsi
makanan bergizi dan istirahat cukup. Apabila daya tahan tubuh menurun, tubuh lenih
rentan terkena penyakit, dan hal ini berlaku bagi segala infeksi, bukan hanya
pneumokokus. Pemberian ASI eksklusif dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi
karena mengandung antibodi yang melindungi terhadap berbagai penyakit. Faktor
resiko lain adalah adanya kelainan pada saluran nafas. Hindari asap rokok dan polusi
udara yang dapat mengiritasi mukosa saluran nafas. Ada sebuah kebiasaan yang
tampaknya sederhana tetapi sering dilupakan yaitu mencuci tangan dengan sabun.
Walau terlihat sepele, hal ini dapat menghilangkan kuman dan virus yang menempel
tanpa disadari. Untuk orang-orang yang rentan terhadap pneumonia, latihan bernafas
dalam dan terapi untuk membuang dahak, bisa membantu mencegah terjadinya
pneumonia (Kustiyati, 2008).
Pneumonia bisa dicegah dengan vaksin pneumonia (pneumovax). Karenanya
jika Anda termasuk golongan berisiko, sebaiknya minta dokter untuk vaksinasi. Daya
perlindungan vaksin ini enam tahun. Penemuan terbaru setelah melewati berbagai
penelitian, meta analisis dan evidence based medicine, vaksin anti kuman
Streptococcuc pneumoniae. Vaksin ini disebut Pneumococcal 7 valent conjugated
vaccine (PCV7), yang memberikan solusi dalam pencegahan penyakit akibat kuman
Streptococcus, sedangkan pada lansia di atas 65 tahun vaksin yang diberikan adalah
vaksin polisakarida 23 valen. Vaksin PCV7 mengandung ekstrak dari 7 tipe kuman
Streptokokus pneumoniae dengan cara kerja merangsang sistem kekebalan tubuh
untuk membentuk antibodi yang berfungsi mengenali sekaligus membunuh kuman
Streptokokus. Vaksin ini akan memberikan kekebalan dari serangan penyakit
meningitis, pneumonia dan otitis media (Kustiyati, 2008).
Berdasarkan basil penelitian berbagai negara termasuk Indonesia yaitu
berbagai publikasi ilmiah dilaporkan berbagai faktor resiko baik yang meningkatkan
insiden (morbiditas) maupun kematian (mortalitas) akibat pneumonia dibagi atas
(Sigalingging, 2010):
1.
2.
3.
4.

Umur
Jenis kelamin
Gizi yang kurang
Tidak mendapatkan ASI yang memadai

5.
6.
7.
8.

Tekanan Polusi Udara


Perubahan Iklim
Kepadatan tempat tinggal
Tingkat Ekonomi Rendah
III.

KESIMPULAN

Salah satu mikroba udara yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat


adalah Streptococcus pneumoniae yang menyebabkan penyakit scarlet fever,
erisipelas, radang tenggorokan, febris puerpuralis, dan rheumatic fever. Insiden
penyakit pneumokokus tertinggi pada bayi di bawah usia 2 tahun dan pada orang
dewasa di atas 60 tahun. Pengobatan terhada penyakit ini dapat menggunakan vaksin
PCV7.
DAFTAR REFERENSI
Donkor, E. S. dan Badoe, E. V. 2014. Insights into Pneumococcal Pathogenesis and
Antibiotic Resistance. Advances in Microbiology, 4: 627-643.
Kustiyanti, Sri. 2008. Invasive Pneumococcal Disease (IPD). Gaster, 4(1): 194-200.
Lisyastuti, E. 2010. Jumlah Koloni Mikroorganisme Udara Dalam Ruang dan
Hubungannya dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada Pekerja
Balai Besar Teknologi Kekuatan struktur (B2TKS) BPPT di Kawasan
Puspiptek Serpong Tahun 2010. Thesis. Depok: Universitas Indonesia.
Purniti, P. S., Subanada, I. B., Kari, I. K., Arhana, BNP, Iswari, I., dan Tarini, N. M.
A. 2011. Surveilan Pneumokokus dan Dampak Pneumonia pada Anak Balita.
Sari Pediatri, 12(5): 359-364.
Rachmantantri, I., Hadiwidodo, M., dan Huboyo, H. S. 2014. Pengaruh Penggunaan
Ventilasi terhadap Keberadaan Mikroorganisme Udara di Ruang Perpustakaan.
Jurnal Mikrobiologi, 4(2): 1-13.
Sigalingging, Z. G. 2010. Karakteristik Penderita Penyakit Pneumonia Pada Anak Di
Ruang Merpati II Rumah Sakit Umum Herna Medan. Jurnal Darma Agung, 2:
60-78.
Velasco, E. A., Verheul, A. F. M., Verhoef, J., dan Snippe, H. 1995. Streptococcus
pneumoniae: Virulence Factors, Pathogenesis, and Vaccines. Microbiological
Reviwes, 59(4): 591603.
Wulandari, E. 2013. Faktor yang Berhubungan Dengan Keberadaan Streptococcus di
Udara Pada Rumah Susun Kelurahan Bandarharjo Kota Semarang. Unnes
Journal Public Health, 2(4): 1-9.