Anda di halaman 1dari 28

BAB II

PENETAPAN PRIORITAS MASALAH


DAN PENYEBAB MASALAH

2.1

PENETAPAN PRIORITAS MASALAH


Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan

apa yang aktual terjadi (observed). Perlu ditentukan masalah yang menjadi prioritas
karena keterbatasan sumber daya, dana, dan waktu menyebabkan tidak semua
permasalahan dapat dipecahkan sekaligus. Setelah pada tahap awal merumuskan
masalah, maka dilanjutkan dengan menetapkan prioritas masalah yang harus
dipecahkan. Prioritas masalah didapatkan dari data atau fakta yang ada secara
kualitatif, kuantitatif, subjektif, objektif serta adanya pengetahuan yang cukup.
Dalam penetapan prioritas masalah, digunakan teknik skoring dan
pembobotan. Untuk dapat menetapkan

kriteria, pembobotan dan skoring perlu

dibentuk sebuah kelompok diskusi. Agar pembahasan dapat dilakukan secara


menyeluruh dan mencapai sasaran, maka setiap anggota kelompok diharapkan
mempunyai informasi dan data yang tersedia. Beberapa langkah yang dilakukan
dalam penetapan prioritas masalah meliputi:
1.

Menetapkan kriteria

2.

Memberikan bobot masalah

3.

Menentukan skoring tiap masalah

Berdasarkan hasil analisis program P2ML Puskesmas Kecamatan Kelapa


Gading yang diangkat, maka didapatkan sebelas permasalahan. Adapun masalah
tersebut meliputi:

1. Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di Puskesmas se-Kecamatan


Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 14,58% kurang dari
target > 70 %.
2.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading periode


Januari - Desember 2014 sebesar 52,63% kurang dari target > 80%.

3.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur periode


Januari - Desember 2014 sebesar 77,7% kurang dari target > 80%.

37

4.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode Januari


- Desember 2014 sebesar 28,57% kurang dari target > 80%.

5.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A periode


Januari - Desember 2014 sebesar 50% kurang dari target > 80%.

6.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B periode


Januari Desember 2014 sebesar 76,92% kurang dari target > 80%.

7. Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading


periode Januari - Desember 2014 sebesar 33,33% kurang dari target > 85%
8.

Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur


periode Januari - Desember 2014 sebesar 55,5% kurang dari target > 85%.

9.

Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat


periode Januari - Desember 2014 sebesar 9,52% kurang dari target > 85%.

10. Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A


periode Januari - Desember 2014 sebesar 35,71% kurang dari target > 85%.
11. Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B
periode Januari Desember 2014 sebesar 53,84% kurang dari target > 45%.
12. Angka Incidence Rate Kasus Diare di Wilayah Puskesmas se-Kecamatan
Kelapa Gading Periode Januari - Desember 2014 sebesar 80,1% kurang dari
target < 5%.
13. Jumlah Penderita Kusta di wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari- Desember 2014 sebesar 0,002% kurang dari target 0%.

2.1.1 Non-Scoring Technique


Bila tidak tersedia data, maka cara penetapan prioritas masalah yang lazim
digunakan adalah teknik non skoring.
Dengan menggunakan teknik ini, masalah dinilai melalui diskusi kelompok,
oleh sebab itu juga disebut Nominal Group Technique (NGT). NGT terdiri dari
dua, yaitu :

A. Metode Delbecq
Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini dilakukan melalui
diskusi dan kesepakatan sekelompok orang, namun yang tidak sama keahliannya.
Sehingga untuk menentukan prioritas masalah, diperlukan penjelasan terlebih

38

dahulu untuk memberikan pengertian dan pemahaman peserta diskusi, tanpa


mempengaruhi peserta diskusi. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang
disepakati bersama.

B. Metode Delphi
Yaitu masalah masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang
mempunyai keahlian yang sama melalui pertemuan khusus. Para peserta diskusi
diminta untuk mengemukakan pendapat mengenai beberapa masalah pokok.
Masalah yang terbanyak dikemukakan pada pertemuan tersebut, menjadi prioritas
masalah.

2.1.2 Scoring Technique


Berbagai teknik penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik
skoring antara lain:

A. Metode Bryant
Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu :
1.

Prevalence
Besarnya masalah yang dihadapi

2.

Seriousness
Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh suatu masalah dalam masyarakat dan
dilihat dari besarnya angka kesakitan dan angka kematian akibat masalah
kesehatan tersebut.

3.

Manageability
Kemampuan untuk mengelola dan berkaitan dengan sumber daya

4.

Community concern
Sikap dan perasaan masyarakat terhadap masalah Kesehatan tersebut

Parameter diletakkan pada baris dan masalah-masalah yang ingin dicari


prioritasnya diletakkan pada kolom. Kisaran skor yang diberikan adalah satu sampai
lima yang ditulis dari arah kiri ke kanan sesuai baris untuk tiap masalah. Kemudian
dengan penjumlahan dari arah atas ke bawah sesuai kolom untuk masing-masing
masalah dihitung nilai skor akhirnya. Masalah dengan nilai tertinggi dapat dijadikan

39

sebagai prioritas masalah. Tetapi metode ini juga memiliki kelemahan yaitu hasil
yang didapat dari setiap masalah terlalu berdekatan sehingga sulit untuk menentukan
prioritas masalah yang akan diambil.

B. Metode Matematik PAHO


Dalam metode ini parameter diletakkan pada kolom dan masalah-masalah yang
ingin dicari prioritasnya diletakkan pada baris, dan digunakan kriteria untuk
penilaian masalah yang akan dijadikan sebagai prioritas masalah. Kriteria yang
dipakai ialah :
1. Magnitude
Berapa banyak penduduk yang terkena masalah atau penyakit yang
ditunjukkan dengan angka prevalens.
2. Severity
Besarnya kerugian yang timbul yang ditunjukkan dengan case fatality rate
masing- masing penyakit.
3. Vulnerability
Sejauh mana ketersediaan teknologi atau obat yang efektif untuk mengatasi
masalah tersebut.
4. Community and political concern
Menunjukkan sejauh mana masalah tersebut menjadi concern atau kegusaran
masyarakat dan para politisi
5. Affordability
Menunjukkan ada tidaknya dana yang tersedia

C. METODE MCUA
Pada metode MCUA, yang menjadi kriteria penilaian untuk menentukan
prioritas masalah adalah :

1. Emergency
Emergency menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga
menimbulkan kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini
adalah CFR (Case Fatality Rate),

jika masalah yang dinilai berupa penyakit.

Adapun jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain,

maka digunakan

40

parameter kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat
ditimbulkan oleh permasalahan tersebut.

2.

Greetest member
Kriteria ini digunakan untuk menilai seberapa banyak penduduk yang terkena

masalah kesehatan tersebut. Untuk masalah kesehatan yang berupa penyakit, maka
parameter yang digunakan adalah prevalence rate. Sedangkan untuk masalah lain,
maka greatest member ditentukan dengan cara melihat selisih antara pencapaian
suatu kegiatan pada sebuah program kesehatan dengan target yang telah ditetapkan.

3.

Expanding Scope
Menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan terhadap sektor lain

diluar sektor kesehatan. Parameter penilaian yang digunakan adalah seberapa luas
wilayah yang menjadi masalah, berapa banyak jumlah penduduk di wilayah tersebut,
serta berapa banyak sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan dengan
masalah tersebut.

4.

Feasibility
Kriteria lain yang harus dinilai dari suatu masalah adalah seberapa mungkin

masalah tersebut diselesaikan. Parameter yang digunakan adalah ketersediaan


sumber daya manusia berbanding dengan jumlah kegiatan, fasilitas terkait dengan
kegiatan bersangkutan yang menjadi masalah, serta ada tidaknya anggaran untuk
kegiatan tersebut.

5.

Policy
Berhubungan dengan orientasi masalah yang ingin diselesaikan adalah masalah

kesehatan masyarakat, maka sangat penting untuk menilai apakah masyarakat


memiliki kepedulian terhadap masalah tersebut serta apakah kebijakan pemerintah
mendukung terselesaikannya masalah tersebut.

Metode ini memakai lima kriteria yang tersebut diatas untuk penilaian masalah
dan masing-masing kriteria harus diberikan bobot penilaian untuk dikalikan dengan

41

penilaian masalah yang ada sehingga hasil yang didapat lebih obyektif. Pada metode
ini harus ada kesepakatan mengenai kriteria dan bobot yang akan digunakan.
Dalam menetapkan bobot, dapat dibandingkan antara kriteria yang satu
dengan yang lainnya untuk mengetahui kriteria mana yang mempunyai bobot yang
lebih tinggi. Setelah dikaji dan dibahas, didapatkan kriteria mana yang mempunyai
nilai bobot yang lebih tinggi. Nilai bobot berkisar satu sampai lima, dimana nilai
yang tertinggi adalah kriteria yang mempunyai bobot lima.

Bobot 5 : paling penting


Bobot 4 : sangat penting sekali
Bobot 3 : sangat penting
Bobot 2 : penting
Bobot 1 : cukup penting

EMERGENCY
Emergency menunjukkan seberapa fatal suatu permasalahan sehingga
menimbulkan kematian atau kesakitan. Parameter yang digunakan dalam kriteria ini
adalah CFR (Case Fatality Rate),

jika masalah yang dinilai berupa penyakit.

Adapun jika yang dinilai adalah masalah kesehatan lain, maka digunakan parameter
kuantitatif berupa angka kematian maupun angka kesakitan yang dapat ditimbulkan
oleh permasalahan tersebut. Nilai proxy CFR ditentukan berdasarkan hasil diskusi,
argumentasi, serta justifikasi.
Nilai CFR dan Angka kematian:
1.

CFR TB

: 39%

2.

CFR ISPA

: 22,3%

3.

CFR Diare

: 8,2%

4.

CFR Kusta

: 0%

42

Tabel 2.1
Skala Score Emergency
Range (%)

Score

Range (%)

Score

0 4.99

50 54.99

11

5 9.99

55 59.99

12

10 14.99

60 64.99

13

15 19.99

65 69.99

14

20 24.99

70 74.99

15

25 29.99

75 79.99

16

30 34.99

80 84.99

17

35 39.99

85 89.99

18

40 44.99

90 94.99

19

45 49,99

10

95 99.99

20

43

Tabel 2.2
Penentuan Score Emergency Terhadap Masalah Pengendalian Penyakit
Menular Langsung (P2ML) yang Terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas seKecamatan Kelapa Gading Periode Januari - Desember 2014
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Daftar Masalah
Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading
periode Januari Desember 2014 sebesar 14,58%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 52,63%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur periode Januari Desember 2014 sebesar 77,7%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode Januari Desember 2014 sebesar 28,57%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A periode Januari Desember 2014 sebesar 50%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B periode Januari
Desember 2014 sebesar 76,92%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading periode
Januari - Desember 2014 sebesar 33,33%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur periode
Januari - Desember 2014 sebesar 55,5%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode Januari
- Desember 2014 sebesar 9,52%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A periode
Januari - Desember 2014 sebesar 35,71%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B periode
Januari - Desember 2014 sebesar 53,84%.
Angka Incidence Rate Kasus Diare di Wilayah Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading
periode Januari - Desember 2014 sebesar 80,1%.
Jumlah Penderita Kusta di wilayah Puskesmas Kelurahan Penjagalan Periode JanuariDesember 2014 sebesar 0,002%.

Pada emergency, daftar masalah program P2ML didapatkan skor


terbesar yaitu 17 pada angka Incidence Rate kasus diare di wilayah Puskesmas
se-Kecamatan Kelapa Gading periode Januari - Desember 2014 sebesar
80,1%.

44

Score
3
11
16
6
11
16
7
12
2
8
11

17
1

GREETEST MEMBER
Greetest member menunjukkan berapa banyak penduduk yang terkena
masalah atau penyakit yang ditunjukkan dengan angka prevalensi. Semakin besar
selisih antara target dan cakupan maka akan semakin besar score yang didapatkan.

Tabel 2.3 Skala pada Score Greetest Member

Score

Range (%)

Score Range (%)

Score

Range (%)

0-2,99

13

36-38,99

25

72-74,99

3-5,99

14

39-41,99

26

75-77,99

6-8,99

15

42-44,99

27

78-80,99

9-11,99

16

45-47,99

28

81-83,99

12-14,99

17

48-50,99

29

84-86,99

15-17,99

18

51-53,99

30

87-89,99

18-20,99

19

54-56,99

31

90-92,99

21-23,99

20

57-59,99

32

93-95,99

24-26,99

21

60-62,99

33

96-98,99

10

27-29,99

22

63-65,99

48

99-101,99

11

30-32,99

23

66-68,99

12

33-35,99

24

69-71,99

Keterangan:
Untuk menentukan score pada greetest member digunakan range. Range
didapatkan dari selisih antara target dan cakupan dari tiap masalah. Diberikan score
dari satu sampai 48 dengan jarak tiap range sebesar dua koma sembilan puluh
sembilan agar mendapatkan nilai greetest member yang bervariasi.

45

Tabel 2.4 Daftar masalah program P2ML di Wilayah Puskesmas Kecamatan


Penjaringan periode Januari Desember Tahun 2014
No
1.

2.

Program dan Kegiatan


Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di
Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading periode Januari
Desember 2014 sebesar 14,58%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kecamatan
Kelapa Gading periode Januari - Desember 2014 sebesar
52,63%.

Cakupan

Target

Selisih

Score

14,58 %

> 70 %

55,42

19

52,63 %

> 80 %

27,37

10

3.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading


Timur periode Januari - Desember 2014 sebesar 77,7%.

77,7%

>80 %

2,3

4.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading


Barat periode Januari - Desember 2014 sebesar 28,57%.

28,57%

>80 %

51,43

18

50%

>80%

30

11

76,92%

>80%

3,08

33,33 %

>85%

51,67

18

55,5%

>85%

29,5

10

9,52%

>85%

75,48

26

35,71%

>85%

49,29

17

53,84%

>85%

31,16

11

80,1%

<5%

75,1

26

0,002%

0%

0,002

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan


Pegangsaan 2A periode Januari - Desember 2014 sebesar
50%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan
Pegangsaan 2B periode Januari Desember 2014 sebesar
76,92%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading periode Januari - Desember
2014 sebesar 33,33%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Timur periode Januari - Desember
2014 sebesar 55,5%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Barat periode Januari - Desember
2014 sebesar 9,52%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2A periode Januari - Desember
2014 sebesar 35,71%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2B periode Januari - Desember
2014 sebesar 53,84%.
Angka Incidence Rate Kasus Diare di Wilayah Puskesmas
se-Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari - Desember
2014 sebesar 80,1 %
Jumlah Penderita Kusta di wilayah Puskesmas Kecamatan
Kelapa Gading Periode Januari- Desember 2014 sebesar
0,002%.

Skor Greetes Member terbesar didapatkan pada masalah Angka kesembuhan


(CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode Januari - Desember
2014 adalah 26.

46

3. EXPANDING SCOPE
Expanding Scope menunjukkan seberapa luas pengaruh suatu permasalahan
terhadap sektor lain diluar kesehatan, berapa banyak jumlah penduduk di wilayah
tersebut, serta ada tidaknya sektor di luar sektor kesehatan yang berkepentingan
dengan masalah tersebut.
Untuk Jumlah penduduk diurut berdasarkan kelurahan yang memiliki
penduduk terbanyak sampai yang terkecil.

Tabel 2.5
Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk

Nilai

Kecamatan Kelapa Gading

= 135.415

25

Kelurahan Kelapa Gading Barat = 44.155

30

Kelurahan Kelapa Gading Timur = 38.507

20

Kelurahan Pegangsaan dua

= 27.746

15

Total se-Kecamatan Klp Gading = 245.823

40

Tabel 2.6
Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Luas Wilayah
Luas Wilayah

Nilai

Kecamatan Kelapa Gading

= 16 (km2)

25

Kelurahan Klp Gading Barat = 5.0132 (km2)

30

Kelurahan Klp Gading Timur = 3.5513 (km2)

20

Kelurahan Pegangsaan dua

= 6.2845 (km )

15
2

Total se-Kecamatan Klp. Gading =30.849 (km )

40

Tabel 2.7
Penentuan Nilai Expanding Scope Berdasarkan Keterpaduan Lintas Sektoral
Nilai

Lintas Sektor

Tidak ada keterpaduan lintas sector

10

Ada keterpaduan lintas sector

47

Tabel 2.8
Penentuan Score Expanding Scope Program P2ML di Wilayah Puskesmas
se-Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari Desember 2014
NO

DAFTAR MASALAH

1.

Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di


Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading periode
Januari Desember 2014 sebesar 14,58%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 52,63%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan
Gading Timur periode Januari - Desember 2014
sebesar 77,7%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan
Gading Barat periode Januari - Desember 2014
sebesar 28,57%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan
Pegangsaan 2A periode Januari - Desember 2014
sebesar 50%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan
Pegangsaan 2B periode Januari Desember 2014
sebesar 76,92%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 33,33%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Timur periode Januari Desember 2014 sebesar 55,5%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Barat periode Januari Desember 2014 sebesar 9,52%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2A periode Januari Desember 2014 sebesar 35,71%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2B periode Januari Desember 2014 sebesar 53,84%.
Angka Incidence Rate Kasus Diare di Wilayah
Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading Periode
Januari - Desember 2014 sebesar 80,1 %
Jumlah Penderita Kusta di wilayah Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading Periode JanuariDesember 2014 sebesar 0,002%.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Jumlah
Penduduk

Luas
Wilayah

Lintas
Sektoral

Jumlah

57

30

10

97

30

16

10

56

10

20

10

21

10

23

10

10

26

19

16

10

45

10

18

10

17

10

21

10

23

2320

30

10

2360

16

10

29

Nilai expanding scope terbesar pada program pengendalian penyakit menular


langsung periode Januari Desember 2014 adalah CDR di Puskesmas se48

Kecamatan Penjaringan dan Angka Incidence Rate Kasus Diare pada di Wilayah
Puskesmas se-Kecamatan kelapa Gading 2360.

4. FEASIBILITY
Feasibility merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai seberapa
mungkin suatu masalah dapat diselesaikan. Pada dasarnya, kriteria ini adalah kriteria
kualitatif, oleh karena itu perlu dibuat parameter kuantitatif sehingga penilaian
terhadap kriteria ini menjadi obyektif.
Adapun parameter yang digunakan untuk menilai apakah suatu masalah
dapat diselesaikan meliputi:
1.

Rasio tenaga kesehatan Puskesmas terhadap jumlah penduduk. Semakin banyak


jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk, maka kemungkinan suatu
permasalahan terselesaikan akan semakin besar. Oleh karena itu, dilakukan
penghitungan rasio tenaga kesehatan di setiap Puskesmas kelurahan terhadap
jumlah penduduk yang menjadi sasaran program kesehatan di masing masing
wilayah Puskesmas.

Berikut adalah rasio tenaga kesehatan di tiap puskesmas terhadap jumlah


penduduk sasaran di wilayah Puskesmas tersebut :

49

Tabel 2.9

Scoring Rasio Tenaga Kesehatan dengan Jumlah Penduduk Sasaran Program


P2ML di Wilayah Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari Desember 2014
Jumlah
Jumlah
Puskesmas
Tenaga
Perbandingan
Score
Penduduk
Kesehatan
24
34724
1 : 1446
2
Kecamatan Kelapa Gading

Kelurahan Klp Gading Barat

10

21648

1 : 2164

Kelurahan Klp Gading Timur

34984

1 : 8746

Kelurahan Pegangsaan dua

21235

1 : 7078

Total se-Kecamatan Klp.

6396

1 : 913

No

Gading

2.

Ketersediaan fasilitas (material), fasilitas juga merupakan hal yang dibutuhkan


untuk menjalankan suatu kegiatan dan menyelesaikan suatu masalah dan
cakupan kegiatan tersebut. Namun, fasillitas yang dibutuhkan oleh setiap
kegiatan berbeda-beda. Oleh karena itu, dibuatkan kategori untuk fasilitas yang
dibutuhkan oleh kegiatan-kegiatan tersebut.

Kategori fasilitas digolongkan menjadi dua yaitu ketersediaan alat/obat dan


ketersediaan tempat. Penilaian berdasarkan ada dalam jumlah mencukupi, ada
namun kurang mencukupi dan tidak ada sama sekali. Digolongkan cukup bila dari
kegiatan pelaksanaan program tidak ada masalah yaitu selalu tersedia dan diberi
nilai dua. Digolongkan kurang bila tersedia namun jumlah kurang, atau terlambat
datang, atau ada namun tidak layak pakai dan diberi nilai satu. Dan tidak ada bila
tidak tersedia dan diberi nilai nol.

50

Tabel 2.10
Scoring Ketersediaan Fasilitas Terhadap Kegiatan di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari Desember 2014
Kategori

Tempat

Alat/ Obat

3.

Ketersediaan

Score

Tidak ada

Ada tetapi kurang

Ada dan cukup

Tidak ada

Ada tetapi kurang

Ada dan cukup

Ketersediaan dana, Scoring ketersediaan dana terhadap setiap kegiatan


Puskesmas penilaian dibagi tiga yaitu tidak ada, cukup dan kurang.
Penilaian berdasarkan wawancara dengan pemegang program dan kepala
Puskesmas terkait.

Tabel 2.11
Scoring Ketersediaan Dana Terhadap Kegiatan di Wilayah Puskesmas seKecamatan Kelapa Gading Periode Januari Desember 2014

Dana

Score

Tidak ada

Ada tetapi kurang

Ada dan cukup

51

Tabel 2.12
Penentuan Score Feasibility Program P2ML Terhadap Kegiatan di Wilayah
Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari Desember 2014

NO

DAFTAR MASALAH

SDM

1.

Angka penemuan kasus baru (CDR) TB


Paru di Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading periode Januari Desember 2014
sebesar 14,58%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading periode Januari
- Desember 2014 sebesar 52,63%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Timur periode Januari Desember 2014 sebesar 77,7%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Barat periode Januari Desember 2014 sebesar 28,57%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2A periode Januari Desember 2014 sebesar 50%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2B periode Januari
Desember 2014 sebesar 76,92%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
periode Januari - Desember 2014 sebesar
33,33%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Gading Timur
periode Januari - Desember 2014 sebesar
55,5%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode
Januari - Desember 2014 sebesar 9,52%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A
periode Januari - Desember 2014 sebesar
35,71%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B
periode Januari - Desember 2014 sebesar
53,84%.
Angka Incidence Rate Kasus Diare di
Wilayah Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading Periode Januari - Desember 2014
sebesar 80,1 %
Jumlah Penderita Kusta di wilayah
Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari- Desember 2014 sebesar
0,002%.

2.

3.

4.

5.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

FASILITAS

DANA

JUMLAH

10

10

Alat/Obat

Tempat

52

Feasibility tertinggi pada program P2ML periode Januari Desember 2014


adalah Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur dan Angka
kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Barat dengan jumlah
10.

5.POLICY
Untuk dapat diselesaikan, aspek lain yang harus dipertimbangkan dari suatu
masalah kesehatan adalah apakah pemerintah memiliki concern terhadap masalah
tersebut. Parameter yang digunakan untuk menilai seberapa concern pemerintah
adalah kebijakan pemerintah yang concern terhadap permasalahan tersebut, serta
apakah masalah tersebut terpublikasi di berbagai media.
Parameter tersebut diberikan nilai berdasarkan parameter yang paling
mungkin sampai ke masyarakat. Publikasi suatu isu kesehatan di media cetak
memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan penyuluhan. Maka skor
untuk penyuluhan diberikan 5, sedangkan untuk iklan di media cetak diberikan nilai
10. Begitupun dengan media elektronik yang memiliki jangkauan yang lebih luas
dibandingkan dengan media cetak. Maka untuk adanya publikasi masalah kesehatan
tersebut di media elektronik diberikan nilai 15.

Tabel 2.13
Scoring Kebijakan Pemerintah Terhadap Program P2ML di Wilayah
Puskesmas se-Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari Desember 2014
Parameter

Score

Tidak ada kebijakan

Ada kebijakan

Tabel 2.14
Penentuan Nilai Policy Terhadap Kegiatan Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading Periode Januari Desember 2014
Parameter

Score

Penyuluhan

Media Cetak (Poster, Majalah, Koran)

10

53

Media Elektronik (TV, radio, internet)

15

Tabel 2.15
Penentuan Score Policy Program P2ML pada Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading Periode Januari Desember 2014
No
1.

2.
3.
4.
5.
6.

7.

8.

9.

10.

11.

12

13.

Masalah
Angka penemuan kasus baru (CDR) TB
Paru di Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading periode Januari Desember 2014
sebesar 14,58%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kecamatan Kelapa Gading periode Januari
- Desember 2014 sebesar 52,63%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Timur periode Januari Desember 2014 sebesar 77,7%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Gading Barat periode Januari Desember 2014 sebesar 28,57%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2A periode Januari Desember 2014 sebesar 50%.
Angka konversi TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Pegangsaan 2B periode Januari
Desember 2014 sebesar 76,92%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
periode Januari - Desember 2014 sebesar
33,33%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Gading Timur
periode Januari - Desember 2014 sebesar
55,5%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode
Januari - Desember 2014 sebesar 9,52%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A
periode Januari - Desember 2014 sebesar
35,71%.
Angka kesembuhan (CR) TB Paru di
Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2B
periode Januari - Desember 2014 sebesar
53,84%.
Angka Incidence Rate Kasus Diare di
Wilayah Puskesmas se-Kecamatan Kelapa
Gading Periode Januari - Desember 2014
sebesar 80,1 %
Jumlah Penderita Kusta di wilayah
Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari- Desember 2014 sebesar
0,002%.

Kebijakan
Pemerintah

Penyuluhan

Media
Cetak

Media
Elektronik

Jumlah

10

20

10

20

10

20

10

20

10

20

10

20

10

20

10

20

10

15

35

10

20

10

20

10

20

10

20

54

Skor policy terbesar adalah untuk masalah angka kesembuhan (CR) TB paru
di Puskesmas Kelurahan Gading Barat periode Januari Desember 2014 dengan
hasil sebesar 35.

Setelah diklasifikasikan berdasarkan lima kriteria di atas, keseluruhan hasil


penghitungan dari kriteria-kriteria tersebut dimasukan kedalam tabel penentuan
masalah program P2ML menurut metode MCUA untuk dikalikan dengan bobot
masing-masing kriteria. Kemudian hasil perkaliannya dijumlahkan.

Tabel 2.16
Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA
MS 1-MS 3 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari - Desember 2014
MS1
No

Kriteria

MS2

MS3

Bobot
N

BN

BN

BN

Emergency

15

35

14

70

Greetest member

20

80

16

64

20

Expanding Scope

90

270

65

195

65

195

Feasibility

16

10

10

20

Policy

20

20

20

20

20

20

Jumlah

401

324

325

MS 1 Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di Puskesmas se-Kecamatan


Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 14,58% kurang
dari target yaitu < 70%

55

MS 2 Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading periode


Januari - Desember 2014 sebesar 52,63%. Kurang dari target yaitu >80%
MS 3 Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Gading Timur periode
Januari - Desember 2014 sebesar 77,7%. kurang dari target yaitu > 80 %.

Tabel 2.17
Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA
MS 4-MS 6 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari-Desember 2014
MS4
No

Kriteria

Emergency

Greetest member

Expanding Scope

Feasibility

Policy
Jumlah

MS5

MS6

Bobot
N

BN

BN

BN

14

60

16

80

45

20

14

56

35

105

30

90

55

165

18

14

20

20

20

20

20

20

223

206

300

MS 4 Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading periode


Januari - Desember 2014 sebesar 52,63%. Kurang dari target yaitu >80%

MS 5 Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A periode


Januari - Desember 2014 sebesar 50%.kurang dari target yaitu > 80 %.

56

MS 6 Angka konversi TB Paru di Puskesmas Kelurahan Pegangsaan 2A periode


Januari - Desember 2014 sebesar 50%.kurang dari target yaitu > 80 %
Tabel 2.18
Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA
MS 7-MS 9 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari-Desember 2014
MS7
No

Kriteria

Emergency

Greetest member

Expanding Scope

Feasibility

Policy
Jumlah

MS8

MS9

Bobot
N

BN

BN

BN

11

55

16

80

16

80

12

48

16

16

65

195

150

65

195

10

12

10

20

20

20

20

20

35

35

328

50

278

346

MS 7 Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading


periode Januari - Desember 2014 sebesar 50% kurang dari target > 85 %.
MS 8 Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kecamatan Kelapa
Gading periode Januari - Desember 2014 sebesar 75% kurang dari target >
85 %.
MS 9 Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Kelapa Gading
Timur periode Januari - Desember 2012 sebesar 75% kurang dari target >
85 %.

57

Tabel 2.19
Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA
MS 10-MS 12 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari-Desember 2014
MS10
No

Kriteria

Emergency

Greetest member

Expanding Scope

Feasibility

Policy

MS12

BN

BN

14

70

11

55

28

12

48

16

64

35

105

90

55

165

2
1

Jumlah

MS11

Bobot

9
20
241

30

BN
35

18

14

20

20

20

20

20

221

298

MS 10 Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan PKelapa


Gading periode Januari - Desember 2014 sebesar 66 % kurang dari target
> 85%.
MS 11 Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Kelapa Gading
Barat periode Januari - Desember 2014 sebesar 50 % kurang dari target >
85 %.

58

MS 12

Angka kesembuhan (CR) TB Paru di Puskesmas Kelurahan Kelapa


Gading Timur periode Januari Desember 2014 sebesar 40% kurang dari
target > 85 %.

Tabel 2.20
Penentuan Masalah Program P2ML Menurut Metode MCUA
MS 13-MS 15 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kelapa Gading
Periode Januari-Desember 2014
MS13
No

Kriteria

Emergency

Greetest member

Expanding Scope

Feasibility

Policy

MS14

MS15

Bobot
N

BN

BN

BN

15

15

75

12

10

12

90

270

30

90

50

150

16

12

20

20

20

20

20

20

Jumlah

333

205

191

MS 13 Angka Incidence Rate Kasus Diare pada BALITA di Wilayah Puskesmas


se-Kecamatan Kelapa Gading Periode Januari - Desember 2014 sebesar
11,5 % kurang dari target < 5 %.
MS 14 Angka Penggunaan oralit di Puskesmas Kelurahan Gading Timur periode
Januari Desember 2014 sebesar 85,2% kurang dari target yaitu 100%.

59

MS 15 Jumlah Penderita Kusta di wilayah Puskesmas Kelurahan Kelapa Gading


Barat Periode Januari- Desember 2012 sebesar 0,002% lebih dari target
0%.
2.2 MENENTUKAN KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH

Setelah dilakukan penetapan prioritas terhadap masalah yang ada, selanjutnya


ditentukan kemungkinan penyebab masalah untuk mendapatkan penyelesaian yang
ada terlebih dahulu. Pada tahap sebelumnya telah dicoba mencari apa yang menjadi
akar permasalahan dari setiap masalah yang merupakan prioritas. Pada tahap ini
digunakan diagram sebab-akibat yang disebut juga dengan diagram tulang ikan
(fishbone) atau diagram ishikawa. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan dibantu
dengan data yang tersedia, dapat disusun berbagai penyebab masalah secara teoritis.
Penyebab masalah dapat timbul dari bagian input maupun proses. Input, yaitu
sumber daya atau masukan oleh suatu sistem. Sumber daya antara lain man (sumber
daya manusia), money (dana), material (sarana), method (cara). Sedangkan proses
merupakan kegiatan sistem. Melalui proses, input akan diubah menjadi output, yang
terdiri dari:

a.

Planning (perencanaan)
Sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai
dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk mencapainya.

b.

Organizing (pengorganisasian)
Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya
(potensi) yang dimiliki organisasi dan memanfaatkannya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi.

c.

Actuating (pelaksanaan)
Proses bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal
menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan keterampilan yang telah
dimiliki dan dukungan sumber daya yang tersedia.

d.

Controlling (monitoring)

60

Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai


dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi (evaluating)
jika terjadi penyimpangan.

Berikut ini adalah prioritas masalah yang akan ditetapkan penyebab masalahnya
dengan menggunakan diagram fishbone:
1. Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di Puskesmas se-Kecamatan
Penjaringan periode Januari Desember 2012 sebesar 13% kurang dari
target > 70 %.
2. Angka kesembuhan TB Paru di Puskesmas Kelurahan Penjaringan I periode
Januari - Desember 2012 sebesar 75% kurang dari target > 85%.
2.3

MENCARI PENYEBAB MASALAH YANG PALING DOMINAN


Pada tahap ini adalah menentukan penyebab masalah yang paling dominan.

Dari dua prioritas masalah yang mungkin dengan menggunakan metode Ishikawa
atau lebih dikenal dengan fishbone (diagram tulang ikan), yang telah dikonfirmasi
dengan data menjadi akar penyebab masalah (yang terdapat pada lingkaran). Dari
akar penyebab masalah tersebut, dapat dicari akar penyebab masalah yang paling
dominan. Penyebab masalah yang paling dominan adalah penyebab masalah yang
apabila diselesaikan dapat menyelesaikan sebagian besar permasalahan yang ada.
Penentuan akar penyebab masalah yang paling dominan adalah dengan cara diskusi,
argumentasi, justifikasi dan pemahaman program yang cukup. Di bawah ini adalah
penyebab masalah yang dominan dalam program di wilayah kerja Puskesmas
Penjaringan:

61

2.3.1 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone (Diagram


Tulang Ikan) pada Angka penemuan kasus baru (CDR) TB Paru di Puskesmas seKecamatan Kelapa Gading periode Januari Desember 2014 sebesar 13% kurang
dari target > 70 %.
a.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada input adalah :


1.

Man
Kepala program hanya berfokus pada pengobatan TB paru bukan
pendeteksian kasus baru TB paru.

2.

Money
Pembagian dana tidak sesuai dan tidak transparan.

3.

Material
Tidak adanya dana untuk pemeliharaan alat dan bahan laboratorium.

4. Method
Kurangnya petugas kesehatan untuk membina kader mengenai materi
penyuluhan untuk mendeteksi program TB paru

b.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada proses adalah :


1.

Planning
Perencanaan program pengobatan lebih diutamakan dari pada
program deteksi.

2.

Organizing
Adanya ketetapan yang menentukan bahwa tiap puskesmas hanya
memiliki satu petugas untuk program TB paru

3.

Actuating
Tidak adanya pelatihan khusus bagi petugas dalam penyampaian
materi edukasi bagi warga.

4.

Controlling
Tidak adanya format yang tepat untuk menjadi acuan bagi
penyusunan laporan evaluasi program TB paru.

c.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada lingkungan adalah:


1. Environment :
Koordinasi lintas program dan sektoral yang kurang

62

Dari sembilan akar penyebab masalah di atas maka ditetapkan tiga akar
penyebab masalah yang paling dominan, berdasarkan data, informasi, observasi
langsung juga pemahaman yang cukup. Ketiga akar penyebab masalah yang paling
dominan tersebut adalah :
1.

Terbatasnya jumlah petugas kesehatan yang tersedia

2.

Kurangnya pelatihan khusus bagi petugas kesehatan terkait untuk


program deteksi TB paru

3.

Tidak adanya format untuk menjadi acuan dalam penyusunan laporan


program deteksi TB paru

2.3.2 Kemungkinan Penyebab Masalah dengan Menggunakan Fishbone (Diagram


Tulang Ikan) pada Angka kesembuhan pasien (CR) TB Paru di Puskesmas
Kelurahan Kelapa Gading periode Januari - Desember 2014 sebesar 75 % kurang
dari target yaitu > 85 %.
a.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada input adalah :


1.

Man
Jumlah petugas kesehatan yang kurang

2.

Money
Pendistribusian dana yang tidak tepat waktu

3.

Material
Kurangnya edukasi mengenai prinsip dan tatacara pengobatan TB
paru

4.

Method
Jadwal program penyuluhan kurang terkoordinasi dengan baik

b.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada proses adalah :


1.

Planning
Kurangnya komunikasi antara petugas kesehatan yang terkait

2.

Organizing
Pimpinan program TB paru sibuk dengan tugas lain

3.

Actuating

63

Jumlah petugas program TB paru dengan penderita TB tidak


proporsional
4.

Controlling
Petugas

kesehatan kurang aktif dalam memantau jalannya

pengobatan pasien TB paru

c.

Akar penyebab masalah yang ditemukan pada lingkungan adalah:


1. Environment :
Kurangnya edukasi mengenai prinsip dan tatacara pengobatan TB
paru

Dari sembilan akar penyebab masalah di atas maka ditetapkan tiga akar
penyebab masalah yang paling dominan, berdasarkan data, informasi, observasi
langsung juga pemahaman yang cukup. Tiga akar penyebab masalah yang paling
dominan tersebut adalah :
1. Jumlah petugas kesehatan yang kurang
2. Pendistribusian dana yang tidak tepat waktu
3. Kurangnya edukasi mengenai prinsip dan tatacara pengobatan TB paru

64