Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
Infeksi jamur pada kulit dpat disebabkan oleh berbagai jenis jamur, yaitu
jamur superfisial, deep mycosis / subkutan seperti misetoma, kromomikosis,
sporotrikosis, dan jamur sistemik yang menginvasi kulit seperti kriptokokosis,
histoplasmosis, dan lain-lain.
Infeksi jamur superfisial disebabkan oleh berbagai jenis jamur yang dapat
menginvasi kulit, kuku, rambut, dan mukosa. Jamur-jamur tersebut dapat
digolongkan dalam kelompok dermatofit, kandida, dan malassezia. Penyakit
jamur superfisial terdapat di seluruh dunia, dan di Indonesia masih termasuk 10
besar penyakit kulit. Hal ini dapat diakibatkan oleh kebersihan kulit kurang
terjaga, tinggal di tempat yang padat penduduk, serta sebab-sebab lain seperti
penyakit diabetes dan penggunaan obat-obatan tertentu yang berlebihan.
Pada makalah ini akan dibahas penyakit jamur superfisial karena penyakit
ini merupakan masalah yang umum terjadi di penyakit kulit.

BAB II
MIKOSIS SUPERFISIALIS

A. MIKOSIS
Definisi
Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur

Klasifikasi
1. Mikosis superfisialis
A. Dermatofitosis, terdiri atas :
1. Tinea Kapitis
2. Tinea Fasialis
3. Tinea Barbae
4. Tinea Korporis/Glabrosa
5. Tinea Kruris
6. Tinea Manus
7. Tinea Pedis
8. Tinea Unguium
B. Non Dermatofitosis
1. Tinea versikolor
2. Piedra hitam dan putih
3. Tinea nigra palmaris
4. Otomikosis
5. Keratomikosis
6. Pitirosporum Folikulitis
2. Mikosis subkutan/profunda
a.
b.
c.
d.

Kromomikosis
Misetoma
Sporotrikosis
Zigomikosis, fikomikosis, mukormikosis

Klasifikasi penyakit jamur kulit

Jenis Jamur
1. Mikosis Superfisialis
a. Dermatofitosis

Contoh penyakit

Penyebab

Tinea korporis
Tinea kapitis
Tinea kruris
Tinea favosa

T.rubrum, dan lain-lain


M.canis, dan lain-lain
T.rubrum, dan lain-lain
T.concentricum, dan
lain-lain

Tinea versikolor
Piedra
Kandidiasis Kutis
Misetoma

M.furfur
T.Beigelii
C.albican
Aktinomisetoma
Eumisetoma
C.neoforman
H.capsulatum
Koksidiodes

b. Nondermatofitosis

2. Mikosis Intermediate
3. Deep mycosis
4. Mikosis Sistemik

Kriptokokosis
Histoplasmosis
Koksidiodomikosis

B. MIKOSIS SUPERFISIAL

DERMATOFITOSIS
Definisi
Penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut dan kuku, yang disebabkan jamur golongan
dermatofita. Penyakitnya disebut sebagai tinea.

Etiologi
Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebakan dermatofitosis.
Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin. Dermatofita termasuk
kelas fungi imperfecti, yang terbagi dalam tiga genus, yaitu Microsporum,
Trichophyton dan Epidermophyton.

Patogenesis
Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya di dalam
jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi
ke dalam jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan.

Manifestasi Klinis
Secara klinis dermatofitosis dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terkena.
Gambaran klinis bervariasi bergantung pada lokasi kelainan, respon imun seluler,
jenis spesies dan galur penyebab. Morfologi khas adalah kelainan yang berbatas
tegas, terdiri atas bermacam-macam efloresensi (polimorfi), bagian tepinya lebih
aktif. Kelainan terasa gatal. Dermatofitosis yang memiliki gambaran klinis tidak
khas disebut tinea incognito.

Klasifikasi
Pembagian Berdasarkan Lokasi
1.

Tinea kapitis, yaitu dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala

2.

Tinea barbe, yaitu dermatofitosis pada dagu dan jenggot

3.

Tinea kruris, yaitu dermatofitosis pada daerah genitokrukal, sekitar anus,


bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah

4.

Tinea pedis et manum, yaitu dermatofitosis pada kaki dan tangan

5.

Tinea unguium, yaitu dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki

6.

Tinea korporis, yaitu dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk
bentuk 5 tinea di atas. Dapat mengenai wajah (dulu disebut tinea fasialis),
leher, badan depan / belakang, lengan sampai pergelangan tangan, tungkai
sampai pergelangan kaki.

Selain 6 bentuk tinea, ada istilah lain:


a.

Tinea imbrikata, yaitu dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris


dan disebabkan Trichophyton concentricum

b.

Tinea favosa atau favus, yaitu dermatofitosis yang terutama disebabkan


Tricophyton schoenleini yang secara klinis diantaranya terbentuk skutula dan
berbau seperti tikus (mousy odor)

c.

Tinea sirsinata, arkuata penamaan deskriptif morfologis

d.

Tinea inkognito, yaitu dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh
karena telah diobati dengan steroid topikal kuat

TINEA KAPITIS
Definisi
Infeksi jamur pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan jamur
golongan dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-

merahan, alopesia, dan kadang-kadang terdapat gambaran klinis yang berat yang
disebut kerion.

Etiologi
Genus Microsporum dan Trichophyton : M.canis, T.tonsurans. Dilihat dari
habitatnya, penyebabnya dikelompokan menjadi :
a) Jamur antropofilik : tempat hidup sebenarnya pada manusia. Jadi jamur ini
dapat menyebar dari manusia ke manusia baik secara langsung maupun tidak
langsung.
b) Jamur zoofilik : tempat hidup sebenarnya adalah pada binatang seperti kucing,
anjing, kuda. Jamur ini menyebar dari binatang ke manusia.
c) Jamur geofilik : tempat hidup sebenarnya adalah di tanah, menyebar ke
manusia.

Habitat Dermatofit
Jamur antropofilik
Tricophyton concentricum
T.tonsurans
T.schoenleinii
T.rubrum
T.megninii
T.mentagrophytes
T.youndei
T.soundanense
M.audouinii
m.ferrugineum
Epidermophyton floccosum

Jamur zoofilik
Microsporum canis
M.equinum
M. gallinae
M.persicolor
T.mentagrophytes
T.verrucosum
T.sarkisovii
T.simii

Jamur geofilik
Microsporum gypseum
M.fulvum
M.nanum
M.praecox
M.racemosum
M.vanbreuseghemii
M.cookei
T.longifusum

Epidemiologi
Lebih banyak terjadi pada kelompok anak prepubertas berusia 2-14 tahun,
paling sering usia antara 3-7 tahun. Frekuensi terjadinya tinea kaptis lebih banyak
mengenai anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dan dapat mengenai
seluruh kelompok ras. Tinea kapitis pada orang dewasa dapat ditemui pada pasien
AIDS.

Faktor Risiko
Lebih sering terjadi di daerah dengan iklim panas. Penularan penyakit
dapat terjadi langsung maupun tidak langsung misalnya melalui sisir, topi, bantal,
tempat duduk di bioskop. Rambut yang sudah terlepas / rontok tetap infeksius
selama bertahun-tahun. Kebersihan yang buruk dan kontak dengan binatang
peliharaan seperti kucing atau anjing kemudian keadaan lingkungan yang kotor
dan panas serta udara yang lembab berperan dalam penularan untuk terjadinya
infeksi jamur. Penyakit ini juga umum pada daerah padat penduduk, dan kondisi
sosial ekonomi rendah.

Patogenesis
Dermatofit ektotrik tipikal menyerang perifolikuler stratum korneum,
meluas ke sekitarnya mengenai batang rambut mid to late anagen sebelum turun
ke folikel untuk memasuki korteks rambut. Arthroconidia kemudian mencapai
korteks rambut dan ditransport ke atas pada permukaan rambut.

Mekanisme dermatofit endotrik sama dengan ektotrik tetapi arthroconidia


tetap di dalam batang rambut menggantikan keratin intrapapilar dan korteks tetap
utuh. Akibatnya rambut menjad sangat rapuh / dan mudah patah pada permukaan
kulit skalp, sehingga tampak bintik-bintik kecil hitam yang dikenal sebagai black
dot.

Manifestasi Klinis
Jamur dapat masuk kedalam kulit kepala atau rambut, dan selanjutnya
berkembang membentuk kelainan di kepala tergantung dari bentuknya. Biasanya
memberi keluhan gatal atau nyeri.

Lokalisasi : daerah kulit kepala dan rambut

Efloresensi :
Bergantung dari jenisnya

1. Gray patch ringworm


Lesi dimulai dari papul eritematosa yang kecil di sekitar rambut. Papul ini
melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik.
Keluhan gatal. Warna rambut abu-abu dan tidak mengkilat. Rambut mudah
patah (beberapa mm di atas kulit kepala) dan terlepas dari akarnya,
sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Dapat alopesia
setempat, batas lesi tidak tegas. Diameter lesi antara 2-6 cm yang dapat
meluas ke seluruh kepala. Pemeriksaan dengan lampu Wood fluoresensi
hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas-batas
grey patch.

2. Black dot ringworm


Rambut terkena peradangan muara folikel dan patah meninggalkan bintikbintik hitam pada alopesia yang penuh spora. Awal hanya 2-3 helai
rambut. Lesi dapat multipel dan tersebar di seluruh kulit kepala. Diameter
lesi ini mencapai 0,5-1cm. Umumnya tidak berbatas tegas.
3. Kerion (celci)
Reaksi peradangan akut yang berat berupa pembengkakkan menyerupai
sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya dan
disertai pembesaran kelenjar getah bening regional. Pada pemeriksaan
teraba pembengkakkan, nyeri, dan pus keluar dari folikel. Kerion dapat
menimbulkan alopesia permanen dan jaringan parut.

Pemeriksaan Penunjang
Bahan untuk pemeriksaan laboratorik tinea kapitis dapat diambil dari
rambut maupun skuama.
Bahan dari rambut :
Rambut yang terinfeksi jamur dicabut dengan pinset, diletakkan di atas
gelas alas, lalu ditetesi dengan larutan KOH 10-20%, ditutup dengan gelas
penutup, dilewatkan di atas api Bunsen 2-3 kali untuk melarutkan keratin dan
dilihat di bawah mikroskop engan pembesaran rendah. Hasil positif terdapat 2
kemungkinan :
1)

Ektotrik : tampak arthroconidia kecil atau besar

membentuk lapisan mengelilingi bagian luar batang rambut.


2)
Endotrik : tampak arthroconidia di dalam batang rambut.

Bahan dari skuama :


Daerah lesi dibersihkan dengan kapas alkohol, setelah kering skuama
dikerok dengan skalpel terutama pada tepi lesi, diletakkan di atas gelas alas lalu
ditetesi KOH 10-20%, ditutup dengan alas gelas, dilewatkan di atas api Bunsen
beberapa kali untuk melarutkan skuama/keratin, kemudian periksa di bawah
mikroskop. Hasil positif akan tampak hifa bersepta dan bercabang.

Diagnosis Banding
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Dermatitis seboroik
Psoriasis
Alopesia areata
Trikotilomania
Impetigo, folikulitis bakterial
Sifilis

Penatalaksanaan
Umum:
1. Menjaga kebersihan diri
2. Menghindari faktor predisposisi
3. Pencegahan pemakaian bersama topi,pakaian dan alat-alat rambut
Khusus:
Topikal
1. Acidium salicylicum 3-6%
2. Acidium benzoikum 6-12%
Golongan azol:
1. Imidazol 1-2%

2. Ketokonazole 2%
Sistemik
1. Griseofulvin

Indikasi
-

Tinea kapitis, Tinea korporis atau Tinea cruris yang luas

Tinea kruris dengan penyebab Trychophyton rubrum

Tinea pedis, tinea manus,onikomikosis

Efek : Fungistatik dan antibiotik


Curling efek : inti sel jamur mengkerut
Menghancurkan dinding sel pada saat metafase

Dosis : 25 mg/kg/hari. Obat diberikan setelah makan selama 6-8


minggu dan diteruskan 2 minggu setelah klinis membaik.

2. Ketokonazole : 1mg/kgBB/hari; selama 7-14 hari


3. Itrakonazole

Dosis
-

5 mg/hari selama 2-4 minggu

Prognosis
Jika penyembuhan telah dicapai dan faktor-faktor infeksi dapat dihindari,
prognosis umumnya baik.

TINEA FAVOSA
Definisi

Tinea favosa atau favus (Latin : sarang lebah) adalah infeksi kronik
dermatofita pada kepala, kulit tidak berambut, dan atau kuku, ditandai oleh krusta
kering dan tebal (skutula)dalam folikel rambut yang dapat menyebabkan
terjadinya alopesia berjaringan parut (scarring allopecia).

Epidemiologi
Favus biasanya diderita sebelum dewasa dan berlanjut sampai dewasa.
Biasanya berhubungan dengan malnutrisi dan higiene buruk. Banyak terdapat di
Afrika, Timur Tengah, sebagian Amerika Selatan, sekarang insidennya menurun.
Kasus ini di Indonesia jarang sekali.

Etiologi
Etiologi yang paling sering adalah T.schonleinii, kadang oleh T.violaceum,
dan M.gypseum.
Gejala
Favus yang masih baru (biasanya 3 pekan pertama) ditandai oleh bercakbercak-bercak eritema folikuler disertaiskuama ringan peri-folikuker dan invasi
hifa yang progresif menggelembungkan folikel sehingga terjadi papul
kekuningan. Kemudian terjadi krusta kekuningan (skutulum) sering mengelilingi
rambut yang kering dan kusam.
Skutulum ini diameternya dapat mencapai 1 cm, mengenai rambut
sekitarnya dan bergabung dengan skutula lain membentuk gabungan yang besar,
melekat, berbau seperti keju yang tidak enak / bau tikus. Setelah bertahun-tahun

lesi meluas ke jaringan sekitarnya (perifer)

meninggalkan jaringan parut

(scarring allopecia) di bagian tengahnya.

Patologi
Hifa ditemukan dalam stratum korneum, di dalam skutulum sekitarnya,
serta di dalam rambut. Skutula mengandung sebum, debris, dan epidermis atrofi.
Akantosis ditrmukan di sekitar tepi lesi. Pada dermis terutama di bawah skutula
ditemukan sel plasma dan infiltrat perifolikular.

Diagnosis
Umumnya dapat didiagnosis dengan melihat gambaran klinis, serta
dibantu dengan pemeriksaanlaboratorik dan tes woods lamp.

TINEA BARBAE (Tinea Sycosis, Barbers Itch)


Definisi
Tinea barbae adalah infeksi jamur pada daerah janggut dan kumis serta
kulit sekitarnya pada laki-laki dewasa muda dan dewasa. Dahulu infeksi ini terjadi
akibat penularan melalui tukang cukur, namun sekarang kebanyakan akibat kontak
lansung dengan sapi, kuda, atau anjing.

Etiologi
Tinea barbae paling sering disebabkan jamur zoofilik : T.mentagrophytes,
T.verrucosum, kadang-kadang M.canis. Diantara jamur antropofilik yang

ditemukan adalah T.megninii, T.schoenleinii, dan T.violaceum, sedangkan


T.rubrum jarang.

Gambaran Klinis
Tinea barbae tipikal unilateral, lebih sering mengenai janggot dibanding
mengenai kumis. Tinea barbae ada 3 bentuk, yaitu :
a) Tipe

meradang

(inflammatory

type)

biasanya

disebabkan

oleh

T.mentagrophytes, dan T.violaceum. Tipe ini analog dengan kerion pada tinea
capitis. Ditandai dengan adanya papul purulenyang sangat meradang, pustul,
eksudat, krusta, dan boggy nodul. Dapat terjadi alopesia yang disertai jaringan
parut.
b) Tipe superfisial / sycosiform : disebabkan oleh jamur antropofilik yang kurang
meradag, berupa eritema ringan difus dan paoulperifolikuler dan pustul
menyerupai folikulitisakibat bakteri. Rambut yang kusam dan rapuh
mengindikasikan infeksi akibat jamur endotrik T.violaceum.
c) Tipe sirsinata / spreading type : menyerupai tipe sirsinata pada kulit glabrosa,
bagian tepi lebih ktif terdiri dari vesikopustul, bagian tengah lesi menyembuh.

Diagnosis
Dagnosis klinis dikonfirmasi dengan penemuan mikroskop pada fungus
dan kultur standar untuk infeksi dermatofita.

Diagnosis Banding

Tinea barbae dibandingkan dengan sycosis vulgaris yang biasanya hanya


terletak pada bibir atas, dan lebih sering unilateral. Pada sycosis vulgaris lesi
berbentuk pustul dan papul, di tengahnya terdapat sehelai rambut, yang nudah
lepas dan mudah di ambil setelah supurasi terjadi.
Dermatitis kontak dan infeksi herpes dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk diagnose banding. Informasi tentang riwayat, tes patch, dan
kultur yang tepat akan menggugurkan kemungkinan-kemungkinan diatas.

Pengobatan
Oral antifungal dibutuhkan untuk pengobatan dan obat topikal digunakan
sebagai tambahan terapi. Micronized atau ultramicronized griseofulvin secara oral
dengan dosis 500-1000 mg atau 350-700 mg, tiap hari selama 4-6 minggu. Oral
ketonazol, fluconazol, intraconazol, dan terbinafin juga efektif. Topikal seperti
mikonazol, klotrimazol, oxikonazol, sulkonazol, ekonazol, ketokonazol, naftifin,
terbinafin, atau siklopirox olamin, harus digunakan pada awal pengobatan. Lesi
harus dibersihkan oleh sabun dan air.

TINEA KORPORIS (Tinea circinata=Tinea glabrosa)


Definisi
Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, kurap, ringworm of the
body) merupakan dermatofitosis pada kulit berambut halus (glabrous skin) yaitu
pada wajah yang tidak berambut, lejer, badan, ekstremitas sampai pergelangan
tangan / kaki.

Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang kurang mengerti


kebersihan dan banyak bekerja ditempat panas, yang banyak berkeringat serta
kelembaban kulit yang lebih tinggi. Predileksi biasanya terdapat di anggota gerak
atas, dada, punggung dan anggota gerak bawah.

Etiologi
Penyebab utamanya adalah : T.violaseum, T.rubrum, T.metagrofites.
Mikrosporon gipseum, M.kanis, M.audolini.

Epidemiologi
Tinea korporis sering terjadi pada anak-anak, terutama yang berinteraksi
dengan binatang (M. canis), terutama kucing, anjing, dan lebih sedikit pada kuda
dan lembu. Pada dewasa, keringat yang banyak merupakan predisposisi utama.
Insidensi terjadi pada cuaca panas dan lembab di dunia.

Manifestasi Klinis
Predileksi tinea ini adalah di daerah leher, ekstremitas dan badan. Lesi dapat
berupa:
1) Lesi anular, bulat atau lonjong, berbatas tegas karena terjadi konfluensi
beberapa lesi, pinggir lesi polisiklik dan agak menonjol. Lesi nampak eritema
dengan skuama, kadang-kadang dengan papul dan vesikel di tepi. Daerah
tengah biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat

garukan.

Bila

menahun,

tanda-tanda

aktif

menghilang,

tampak

hiperpigmentasi, skuama dan likenifikasi.


2) Tinea imbrikata (Tokelau) mulai dengan papul berwarna coklat, perlahanlahan membesar. Stratum korneum bagian tengah terbebas dari dasar dan
melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari tengah sehingga
terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. Bila dengan jari
tangan kita meraba dari bagian tengah ke luar, akan teraba jelas skuama yang
menghadap ke dalam. Lingkaran-lingkaran skuama yang melebar akan
bertemu dengan lingkaran skuama yang lain sehingga membentuk pinggir
yang polisiklik. Pada permulaan infeksi pasien akan merasa gatal, tapi bila
menahun tidak ada keluhan. Kulit kepala dapat terserang tapi rambut biasanya
tidak.

Diagnosis
Diagnosis penyakit ini relatif mudah, yaitu dengan melihat gambaran
klinis yang khas yaitu memberi gambaran polisiklik dan bagian tepi yang lebih
aktif, dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorik dengan bahan dari kerokan
skuama terutama dari tepi lesi yang lebih aktif dengan pulasan menggunakan
larutan KOH 10-20%.

Diagnosis Banding
1. Pitiriasis rosea
2. Psoriasis vulgaris
3. Morbus hansen tipe tuberkuloid

4. Lues stadium II bentuk makulo-papular.

Penatalaksanaan
Pada tinea korporis dengan lesi terbatas, cukup diberikan obat topikal.
Lama pengobatan bervariasi antara 1-4 minggu bergantung jenis obat. Obat oral
atau kombinasi dengan obat topikal diperlukan pada tinea glabrosa yang luas atau
kronik rekurens.
Pada keadaan inflamasi menonjol dan rasa gatal yang berat, kombinasi
antimikotik dengan kortikosteroid jangka pendek akan mempercepat perbaikan
klinis dan mengurangi keluhan pasien.
a. Topikal
Merupakan pilihan utama. Yang biasa digunakan adalah derivate imidazol
dan alilamin. Efektivitas obat yang termasuk golongan imidazol kurang
lebih sama. Pemberian obat dianjurkan selama 3-4 minggu atau sampai
hasil kultur negatif. Selanjutnya sidarankan untuk meneruskan pengobatan
selama 7-10 hari setelah penyembuhan klinis dan mikologis dengan
maksud mengurangi kekambuhan.
b. Sistemik
- Griseofulvin pilihan pertama
- Ketokonazol jika resisten terhadap griseofulvin
- Itrakonazol, terbinafin

Prognosis
Prognosis bergantung pada etiologi, faktor predisposisi dan status imun pasien.
Tinea korporis dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan.

TINEA CRURIS
Definisi
Tinea cruris merupakan suatu infeksi jamur golongan Dermatophyta yang
mengenai daerah inguinal, genitalia, pubis, perineum dan kulit perianal. Jamur
Dermatophyta yang sering ditemukan pada kasus tinea cruris adalah E. floccosum,
T. rubrum dan T. mentagrophytes.

Epidemiologi
Pria lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat
paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan
memudahkan infeksi. Tinea cruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari
bagian tubuh lain. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan
individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung
skuama terinfeksi, misalnya handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur, dan lainlain.

Gejala Klinis
Tinea cruris biasanya terdapat pada daerah genitokrural atau sisi medial
paha atas, dapat asimetris atau bilateral. Keluhan utama adalah rasa gatal yang
terasa hebat, semakin hebat jika bekeringat. Lesi mula-mula sebagai plak
eritematosa, berbatas tegas meluas dari bokong ke paha bagian atas, dengan tepi
meninggi. Bagian tengah lesi tampak seperti menyembuh.

Pemeriksaan Kulit
Lokalisasi
Regio inguinalis bilateral,simetris. Meluas ke perineum,sekitar anus, intergluteal
sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke suprapubis dan abdomen bagian bawah
Efloresensi
Lesi berbatas tegas, tepi meninggi yang dapat berupa papulovesikel eritematosa
atau kadang terlihat pustula. Bagian tengah menyembuh berupa derah coklat
kehitaman berskuama. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.
Skrotum sangat jarang menunjukkan gambaran klinis, meskipun pemeriksaan
mikologis dapat positif; hal yang berbeda dengan kandidiasis yang sering
menunjukkan keterlibatan klinis pada skrotum dan penis.

Pemeriksaan Penunjang
1. Lampu Woods
M.canis, M.audouinii, M.ferrugineum, T.capitis : Fluorosensi hijau terang,
Fluorosensi hijau kekuningan
2. Pemeriksaan mikroskopis

Bahan pemeriksaan : rambut,kuku,kulit

Kulit
-

Hapus dengan alkohol 70%


Pilih lesi yang aktif
Kerok lesi dari tengah ke tepi

Kuku: potongan kuku, debris, rendam selama 24 jam dalm KOH


20-40%

Mikroskopik:

Tampak

hifa

(sama

dengan

elemen

jamur

menyerupai benang, bercabang, bersepta, berinti, double-countour)


Panjang : Dermatofita
Pendek : Tinea versicolor
Pseudohifa : Candida

Rambut
-

Cabut dengan pinset


Sertakan kerokan kulit lesi
Mikroskopik :
o Endotrik
o Ektotrik

3. Pemeriksaan biakan
Isolasi agen penyebab pada media biakan akan dapat menentukan spesies
jamur yang terlibat. Hal ini akan memberikan informasi tentang sumber
infeksi dan pemilihan terapi yang tepat. Media umum (untuk isolasi
primer):SGA ( Saboraud glucose agar ).

Penatalaksanaan
Umum:
1. Menerangkan bahwa penyakitnya kronis residif
2. Menerangkan supaya daerah lesi selalu kering dengan memakai celana
yang menyerap keringat
3. Cara pengobatan
Khusus:
1) Obat anti jamur topikal

Obat anti jamur topikal ideal bersifat fungisidal, spektrum luas, keratinofilik,
non-iritan, hipoalergenik, tidak diabsorbsi secara sistemik, aktif pada
konsentrasi sangat rendah, mempunyai formula beragam dan spesifik, efek
samping minimal/tidak ada, dengan manfaat tambahan untuk kelainan yang
biasa menyertai infeksi jamur dan harganya murah.
Cara penggunaan obat anti jamur topikal :
-

Daerah terinfeksi dibersihkan dengan air dan sabun, kemudian keringkan

Obat dioleskan tipis-tipis di atas lesi dan meluas hingga 3cm di luar lesi

Obat digunakan 2 kali sehari, pagi dan sore hari.

Hasil maksimal diperoleh bila lesi dijaga agar tetap bersih dan kering

Contoh obat anti jamur topikal yang biasa digunakan adalah :


1. Derivat imidazole : klotrimazole 1%, mikonazole 1%, ketokonazole 2%,
ekonazole 1%, tiokonazole 1%, bufonazole 1%, isokonazole 1% serta
konazole 2%. Derivat ini bekerja dengan menghambat enzim 14-demetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
2. Golongan allilamin : naftifin 1%, butenafin 1% dan terbinafin 1%; yang
mampu bertahan hingga 7 hari setelah pemakaian selama 7 hari berturutturut. Golongan ini bekerja menghambat enzim epoksidase skualen pada
proses pembentukan ergosterol membran sel jamur.
2) Obat anti jamur sistemik
Indikasi terapi ini adalah jika lesi luas atau gagal dengan pengobatan topikal.
Obat oral yang dapat digunakan adalah :
1. Ketokonazole 200 mg/hari selama kurang lebih 4 minggu

2. Itrakonazole 100 mg/hari selama 2 minggu atau 200 mg/hari selama 1


minggu
3. Terbinafin 250 mg/hari selama 1-2 minggu
4. Griseofulvin 500-1000 mg/hari selama 2-6 minggu

Prognosis
Baik, asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.

TINEA PEDIS ET MANUUM


Definisi
Tinea pedis (Athletes foot)adalah infeksi dermatofit pada kaki, terutama di
sela jari dan telapak kaki terutama yang memakai kaus dan sepatu tertutup.
Keadaan lembab dan panas merangsang pertumbuhan jamur. Tinea manuum
adalah dermatofitosis kronis pada tangan, biasanya unilateral, terutama terjadi
pada tangan dominan, dan biasanya terjadi bersamaan dengan tinea pedis.

Etiologi
Penyebab tersering adalah T. rubrum, T. mentagrophyte, E. floccosum.

Manifestasi Klinis

Tinea manum: telapak tangan yang hiperkeratotik, kulit kering,


berskuama, biasanya unilateral. Inflamasi berupa vesikel, atau bula jarang

ditemukan.
Tinea pedis:

o Tipe interdigitalis antara jari IV dan V terlihat fisura yang dilingkari


sisik halus dan tipis, dapat meluas ke bawah jari (subdigitalis) dan
telapak kaki. Kelainan berupa sekelompok vesikel. Sering terjadi
maserasi pada sela jari terutama sisi lateral berupa kulit putih dan
rapuh, berfisura dan sering disertai bau.
o Moccasin foot (hiperkeratotik) tipe papuloskuamosa hiperkeratotik
menahun. Pada seluruh kaki terlihat kulit yang menebal dan bersisik,
eritema biasanya ringan dan terutama terlihat di tepi lesi. Di bagian
tepi lesi juga terdapat papul dan kadang vesikel. Sering terdapat di
daerah tumit, telapak kaki, dan kaki bagian lateral, biasanya bilateral.
o Tipe subakut vesikel, papulo-vesikel atau kadang bula. Kelainan
dimulai dari sela jari lalu meluas ke punggung dan telapak kaki namun
jarang ke bagian tumit. Jika vesikel pecah, maka akan meninggalkan
sisik berbentuk lingkaran yang disebut koralet.
o Tipe akut ulseratif pada telapak dengan maserasi, madidans dan bau.

Penatalaksanaan
Faktor predisposisi perlu dihindari. Kaus kaki yang dipakai dipilih kaus
kaki yang memungkinkan ventilasi dan diganti setiap hari. Kaki harus bersih dan
kering. Hindari memakai sepatu tertutup, sempit, sepatu olahraga dan sepatu
plastic sepanjang hari. Kaki dan sela-sela jri dijaga agar selalu kering. Sesudah
mandi dapat diberikan bedak dengan atau tanpa anti jamur.
1. Topikal
o Bila lesi basah direndam dalam larutan KMNO 4 (kalium
permanganate) 1/5000 atau larutan asam asetat 0,25% selama 15-

30 menit, 2-4x/hari. Atap vesikel atau bula dipecahkan untuk


mengurangi keluhan.
o Obat antijamur berspektrum luas haloprogin, klotrimazol,
mikonazol, bifonazol, atau ketokonazol.
2. Sistemik
o Biasanya tidak digunakan.
o Contoh: griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol, dan terbinafin.
-

Terbinafine 250 mg qd for 14 days

Itraconzole 200 mg qd for 7 days

Fluconazole 150-200 mg qd for 2 to 4 weeks.

TINEA UNGUIUM
Definisi
Tinea unguium (ringworm of the nail) adalah kelainan lempeng kuku yang
disebabkan oleh onvasi/infeksi jamur dermatofit. Sedangkan onikomikosis adalah
invasi/infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur yang termasuk dermatofit,
kandida, dan kapang yang lain.

Etiologi
Penyebab tersering adalah Trichophyton rubrum, diikuti oleh T.
mentagrophytes varian interdigitale, dan Epidermophyton floccosum. T.rubrum
tersering ditemukan pada kuku tangan, sedangkan T. Mentagrophytes terutama
pada kuku kaki.
Faktor predisposisi

Beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi terjadinya tinea unguium


adalah trauma, hiperhidrosis palmar dan plantar, keadaan imunosupresi, gangguan
sirkulasi perifer, distrofi lempeng kuku oleh berbagai sebab, dan salah posisi
perlekatan perifer kuku ke lipat kuku dan hiponikium. Biasanya pasien tinea
unguium mempunyai dermatofitosis di tempat lain yang sudah sembuh atau yang
belum. Kuku kaki lebih sering terserang daripada kuku tangan.

Manifestasi klinis
1. Bentuk subungual distalis. Bentuk ini paling sering ditemukan dan mulai
berkembang pada stratum korneum hiponikium pada batas distal lempeng
kuku. Selanjutnya berjalan ke arah yang paling dekat dengan alas kuku
dan menyerang permukaan ventral lempeng kuku dengan perjalanan
kronik. Pada kuku bagian distal tampak bercak kuning atau putih, diikuti
hiperkeratosis

subungual

dengan

massa

kuning

keabuan

yang

menyebabkan permukaan bebas kuku terangkat. Lesi meluas ke matriks


kuku sehingga terjadi penebalan regio subungual. Lebih lanjut dapat
terjadi onikolisis.
2. Bentuk lateralis. Penyakit ini mulai dengan perubahan bagian alur lateral
kuku yang menjadi kuning. Lesi meluas ke bagian distal atau proksimal
kuku. Kemudian terjadi paronikia (peradangan jaringan sekitar kuku).
3. Leukonikia trikofita atau leukonikia mikotika. Kelainan kuku pada bentuk
ini merupakan leukonikia atau keputihan di permukaan kuku yang dapat

dikerok untuk dibuktikan adanya elemen jamur. Biasanya didapatkan pada


kuku kaki, berupa bercak putih superfisialis dan berbatas tegas.
4. Bentuk subungual proksimalis. Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian
proksimal terutaa menyerang kuku dan membentuk gambaran klinis yang
khas, yaitu terlihat kuku di bagian distal masih utuh, sedangkan bagian
proksimal rusak.
5. Bentuk distrofi kuku total. Bentuk ini merupakan keadaan lanjut dari
bentuk klinis di atas. Pada bentuk ini kerusakan terjadi pada seluruh
lempeng kuku.

Penatalaksanaan
Pengobatan dapat secara topikal maupun sistemik, tetapi umumnya
pengobatan topikal tidak efektif. Pengobatan topikal dapat diberikan bila hanya 12 kuku yang terkena dan tidak sampai menyerang matriks kuku.
Beberapa cara pengobatan topikal dapat digunakan:
1. Cara klasik menggunakan obat antidermatofit topikal dan sedapat mungkin
menghilangkan bagian yang rusak misalnya dengan pengikiran atau
kuretase kuku. Obat antidermatofit yang dapat digunakan antara lain
golongan azol, haloprogin, siklopiroksilamin, dan allilamin. Solusio
glutaraldehid 10% dan krim tiabendazol 10% dengan obat oklusif juga
dapat digunakan.
2. Avulsi (pengangkatan) kuku yang diikuti pemberian obat antidermatofit
topikal. Avulsi kuku dapat dilakukan dengan bedah skalpel atau bedah

kimia, misalnya dengan menggunakan urea. Sediaan kombinasi urea 40%


dan bifonazol yang terdapat di beberapa negara juga dapat dipakai untuk
cara ini.
3. Obat topikal lain antara lain cat kuku berisi siklopiroksolamin 5% dan cat
kuku berisi amorofilin 5%.
Untuk pengobatan sistemik dapat dipakai:
1. Griseofulvin 0,5-1 gram/hari. Untuk infeksi kuku tangan dibutuhkan
pengobatan rata-rata 4-6 bulan, sedangkan untuk kuku kaki 8-18 bulan.
Tetapi keberhasilan penngobatan ini rendah dan rekurensi tinggi.
2. Itrakonazol. Semula dianjurkan penggunaan dosis 200mg/hari selama 3
bulan pada infeksi kuku kaki. Akhir-akhir ini pengguanaan terapi pulse
400 mg/hari selama seminggu tiap bulan memberi hasil baik dalam 3
bulan.
3. Terbinafin. Dosis 250 mg/hari selama 1,5 bulan pada infeksi kuku tangan
dan selama 3 bulan pada kuku kaki.
Kombinasi pengobatan sistemik dan topikal dapat meningkatkan angka
kesembuhan selain mengurangi masa penggunaan obat sistemik, misalnya pada
kombinasi griseofulvin dengan amoroflin cat kuku serta kombinasi dengan solusio
tiokonazol.

Prognosis

Tinea unguium adalah dermatofitosis yang paling sukar dan lama


disembuhkan, kelainan pada kuku kaki lebih sukar disembuhkan daripada kuku
tangan.

Tabel Gambaran Klinik Infeksi Dermatofita


Penyakit Kulit

Lokasi lesi

Tinea korporis
(kurap)

Kulit licin,
berambut

Tinea pedis
(kaki atlet)

Daerah antara jarijari kaki dan orang


yang memakai sepatu

Tinea kruris
(jock itch)

Lipat paha (groin)

Tinea Kapitis

Rambut
kepala,
endotrix:
jamur
dalam
rambut,
ektotrix: jamur pada
permukaan rambut
Rambut janggut

Tinea Barbae

Gambaran Klinik
tidak

Tinea Unguium
(enikomikois)

Kuku

Dermatofit
(reaksi id)

Biasanya di pinggir
dan daerah fleksor
jari-jari,
telapak
tangan, setiap bagian
tubuh

NONDERMATOFITOSIS
PITIRIASIS VERSIKOLOR
Definisi

Daerah bulat dengan pinggir merah,


bervesikel, dan bagian tengah
bersisik, gatal
Akut: gatal, merah, vesikuler
Menahun: gatal, bersisik, kulit
pecah-pecah
Small erythematous dan scaling
vesicular patches dengan batas tegas
yang menyebar pada permukaan
dalam dan atas paha (intertriginosa),
gatal
Daerah botak bulat dengan rambut
pendek-pendek atau potongan rambut
dalam folikel rambut, kerion jarang,
rambut yang terinfeksi
Microsporum akan berfluoresensi
Lesi eritematosa, Edema
Kuku menebal atau rapuh di daerah
distal, kehilangan warna, tidak
mengkilat, biasanya disebabkan oleh
tinea pedis
Lesi berupa vesikel sampai bula yang
gatal, paling sering dihubungkan
dengan tinea pedis

Jamur yang
Paling
Bertanggung jawab
Microsporum
canis,
Trichophyton
mentagrophytes
Trichophyton rubrum, T
mentagrophytes,
Epidermophyton
floccosum
Trichophyton rubrum,
T
mentagrophytes,
Epidermophyton
floccosum
M canis, Trichophyton
tonsurans

Trichophyton rubrum,
T mentagrophytes
Trichophyton rubrum,
T mentagrophytes,
Epidermophyton
floccosum
Tidak ada jamur dalam
lesi, dapat terjadi
infeksi sekunder oleh
bakteri

Pitiriasis versikolor (tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis, tinea


flava) adalah penyakit jamur superfisialis kronik, berupa bercak berskuama halus
berwarna putih dapat kemerahan maupun coklat sampai dengan coklat hitam,
terutama meliputi badan, dan kadang-kadang menyerang ketiak, lipat pah, lengan,
tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut
Epidemiologi
Merupakan penyakit universal dan terutama ditemukan di daerah tropis.

Etiologi
Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia furfur Robin atau disebut
juga Pityrosporum orbiculare.

Gejala Klinis
Kelainan kulit berupa bercak kecoklatan atau kekuningan pada kulit pucat
dan hipopigmentasi pada kulit berwarna, bentuk tidak teratur sampai dengan
teratur, batas jelas sampai difus.
Bercak tersebut berfluoresensi warna kuning keemasan bila dilihat dengan
lampu Wood. Kadang pasien dapat merasakan gatal ringan atau asimptomatik.

Diagnosis
Diagnosis ditegakan atas dasar gambaran klinik, pemeriksaan fluoresensi,
lesi kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung. Pada sedian langsung

kerokan kulit dengan larutan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek dan
berspora bulat yang dapat berkelompok.

Diagnosis Banding
Dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis S II, achromia parasitic dari PardoCastello dan Dominiquez, MH, pitiriasis alba, serta vitiligo.

Pengobatan
I.

Obat topical
a. Suspensi selenium sulfide 2,5% dalam bentuk losio atau sampo dipakai
2-3 kali seminggu. Obat digosokan pada lesi dan didiamkan 15-30
menit sebelum mandi.
b. Obat lain : salisil spiritus 10%, derivate azol ; mikonazol, krotrimazol,
isokonazol, ekonazol. Larutan tiosulfas natrikus 25% dioleskan sehari
2 kali setelah mandi selama 2 minggu

II.

Obat sistemik
Obat ini digunakan jika lesi sulit disembuhkan atau luas. Ketokonazole
dapat dipertimbangkan dengan dosis 1x200 mg selama 10 hari

Pencegahan
Upaya pencegahan dengan suspense selenium sulfide 2,5% dalam bentuk
losio atau ketokonazol dosis tunggal 400 mg/bulan.

Prognosis
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, konsisten, dan
tekun. Pengobatan harus dilakukan 2 minggu setelah fluorosensi negatif dengan
Lampu Wood dan sediaan langsung negatif.

PITIROSPORUM FOLIKULITIS
Definisi
Pitirosporum folikulitis (malasezia folikulitis) adalah penyakit kronis pada
folikel pilosebasea yang disebaabkan oleh spesies Pitirosporum, berupa papul dan
pustul folikular, yang biasanya gatal dan terutama berlokasi di batang tubuh, leher
dan lengan bagian atas.

Etiologi
Spesies Pityrosporum atau Malassezia.

Patogenesis
Spesies Malassezia merupakan penyebab pitirosporum folikulitis dengan
sifat dimorfik, lipofilik dan komensal. Bila terdapat faktor predisposisi, maka
spesies Malassezia akan tumbuh berlebih pada folikel, sehingga folikel dapat
pecah. Dalam hal ini rekasi peradangan terhadap produk, tercampur dengan lemak
bebas yang dihasilkan melalui aktivitas lipase.

Faktor predisposisi antara lain adalah suhu dan kelembaban udara yang
tinggi, penggunaan bahan-bahan berlemak untuk pelembab badan, antibiotik
kortikosteroid lokal/sistemik, sitostatik dan penyakit tertentu misalnya DM, AIDS.

Gejala Klinis
Pasien mengeluh gatal pada tempat predileksi. Klinis morfologi berupa
papul dan pustul perifolikular, berukuran 2-3 mm diameter, dengan peradangan
minimal. Tempat predileksi adalah dada, punggung dan lengan atas. Kadang juga
di leher dan jarang di muka.

Diagnosis Banding
-

Akne vulgaris
Folikulitis bakterial
Erupsi akneformis

Pengobatan

Antimikotik oral:
- Ketokonazol 200 mg, 2-4 minggu
- Itrakonazol 200 mg, sehari selama 2 minggu
- Flukonazol 150 mg seminggu selama 2-4 minggu
Antimikotik topikal biasanya kurang efektif.
Prognosis: baik.

PIEDRA
Definisi

Piedra (black piedra, white piedra, tinea nodosa, piedra nostros,


trikomikosis nodosa) adalah infeksi jamur pada rambut ditandai dengan benjolan
(nodus) sepanjang rambut dan disebabkan oleh Piedraia hortai (black piedra)
atau Trichosporon beigelii (white piedra). Di Indonesia hingga sekarang hanya
dilihat piedra hitam.

Gejala klinis
Piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut, kumis tanpa memberikan
keluhan. Krusta melekat sekali pada rambut yang terserang dan dapat sangat kecil
sehingga hanya dapat dilihat di mikroskop. Benjolan yang besar dapat teraba dan
dilihat. Bila rambut disir terdengar suara metal (klik).
Piedra hitam, ditemukan di negara tropis tertentu terutama dengan curah
hujan tinggi. Piedra ini hanya menyerang rambut kepala. Jamur ini menyerang
rambut di bawah kutikel, kemudian membengkak dan pecah untuk menyebar di
batang rambut dan membentuk benjolan tengguli dan hitam.
Piedra putih, terdapat di daerah beriklim sedang. Infeksi ini menyerang
janggut dan kumis. Benjolan berwarna coklat muda dan tidak begitu melekat pada
rambut.
Diagnosis
Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% memperlihatkan hifa
berwarna coklat-hitam dan struktur akrospora dan askus jamur.

Pengobatan

Memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci rambut dengan


larutan sublimat 1/2000 setiap hari. Obat anti jamur konvensional dan yang baru
pun berguna seperti sampo ketokonazol. Prognosis: baik.

TINEA NIGRA PALMARIS


Definisi
Tinea

nigra

(pitiriasis

nigra,

keratomikosis

nigrikans

Palmaris,

mikrosporosis nigra) adalah infeksi jamur superficial yang asimtomatik pada


stratum korneum. Kelainan kulit berupa macula tengguli sampai hitam. Telapak
tangan yang biasanya diserang, walaupun telapak kaki dan permukaan kulit lain
dapat terkena.

Epidemiologi
Penyakit terutama ditemukan di Amerika Selatan dan tengah, kadangkadang ditemukan di AS dan Eropa. Di Asia juga ditemukan, di Indonesia sangat
jarang dilihat.

Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Cladosporium wemeckii (Amerika Utara dan
Selatan) atau Cladosporium mansonii (Asia dan Afrika).

Gejala Klinis

Kelainan kulit telapak tangan berupa bercak-bercak tengguli hitam dan


sekali-sekali bersisik. Penderita umunya < 19 tahun dan penyakitnya berlangsung
kronis sehingga dapat dilihat di orang dewasa (>19 tahun). Perbandingan
penderita wanita 8x lebih banyak daripada pria. Faktor predisposisi belum
diketahui kecuali hiperhidrosis.

Diagnosis
Pada pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% jamur terlihat sebagai
hifa bercabang, bersekat ukuran 1,5-3, berwarna coklat muda sampai hijau tua.
Biakan pada agar Sabouraud (suhu kamar) menghasilkan koloni menyerupai ragi
dan koloni yang tampak sebagai koloni menyerupai ragi dan koloni filament
berwarna hijau tua atau hitam.

Diagnosis Banding
-

Dermatitis kontak
Tinea versikolor
Hiperkromia
Nevus pigmentus

Pengobatan
Dapat diobati dengan salap salisil sulfur, Whitfield dan tincture jodii. Obat
anti jamur baru juga berkhasiat.

Prognosis
Tinea nigra karena asimtomatik tidak member keluhan pada penderita
kecuali estetik, namun jika tidak diobati akan kronik.

OTOMIKOSIS
Definisi
Otomikosis adalah infeksi jamur kronik atau subakut pada liang telinga
luar dan lubang telinga luar, ditandai dengan inflamasi eksudatif dan gatal.

Etiologi
Penyebab penyakit terutama adalah jamur-jamur kontaminan, misalnya
Aspergilus, Penisilium dan Mukor. Dermatofita kadang-kadang merupakan hasil
biakan bahan pemeriksaan dari tempat tersebut. Biasanya terdapat juga bakteri
misalnay

Pseudomonas

aeruginosa, Proteus

spp.,

Micrococcus

aureus,

Streptococcus hemolyticus, difteroid dan basil-basil koliformis.

Epidemiologi
Otomikosis merupakan penyakit kosmopolit yang terutama terdapat
didaerah panas dan lembab, misalnya Indonesia. Infeksi terjadi secara kontak
lamgsung.

Gejala Klinis

Panas dan lembab berlebihan merupakan faktor predisposisi. Penderita


mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga merah
sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau
pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa
kotoran kulit dan jamur. Infeksi bakteri dan invasi pada jaringan di bawah kulit
menyebabkan nyeri dan supurasi. Bila infeksi berlanjut eksema dan likenifikasi
dapat jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga bagian luar hingga
bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga terserang. Hal yang
menguntungkan ialah membrane timpani jarang terserang.

Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan memeriksa kerokan kulit dan kotoran telinga.
Pada sediaan langsung dengan larutan KOH 20% akan terlihat hifa tanpa spora.
Biakan pada agar Sabouraud pada suhu kamar akan menghasilkan koloni jamur
penyebab.

Pengobatan

Infeksi akut dengan edema memasukkan kapas yang telah dibasahi

dengan larutan permanganas kalikus 1/10.000.


Liang telinga yang menderita infeksi kronis harus dibersihkan untuk
menghilangkan kotoran dan sisik yang mengandung jamur. Irigasi dengan
larutan garam faal dilanjutkan dengan pemberian salisil spiritus 2% selama
beberapa menit, cukup untuk membersihkan daerah tersebut.

Sambil menjaga daerha tersebut tetap kering dapat diberikan obat-obat


antiseptika, antibiotik atau antifungal.

Prognosis
Infeksi kronis sangat resisten terhadap pengobatan, akan tetapi prognosis
cukup baik bila diagnosis dibuat tepat dan pengobatan dilakukan secara bijaksana.

KERATOMIKOSIS
Definisi
Keratomikosis (keratitis mikotik) adalah infeksi jamur pada kornea mata
yang menyebabkan ulserasi dan inflamasi setelah trauma pada bagian tersebut
diobati dengan obat-obat antibiotik dan kortikosteroid.

Etiologi
Penyebabnya adalah Aspergillus, Fusarium, Cephalosporum, Curvularia,
dan Penicillium.
Gejala Klinis
Setelah mengalami trauma atau abrasi pada mata dapat terbentuk ulkus
pada kornea. Melaui perkembangan yang lambat kelainan dapat membentuk
hipopion. Lesi dimulai dengan benjolan yang menonjol sedikit di atas permukaan,
berwarna putih kelabu dan berambut halus. Pencairan lapisan teratas kornea di
sekitarnya membentuk ulkus dangkal. Terbentuk halo lebar berbatas tegas
berwarna putih kelabu mengelilingi titik pusatnya. Dalam halo tersebut dapat

terlihat garis-garis radial. Terlihat pula inflamasi pada kornea. Vaskularisasi sering
tidak tampak.
Pada stadium ini sering digunakan antibiotika dan steroid yang bersifat
anti-inflamasi sehingga dapat mencegah parut. Dengan pengobatan demikian,
ulkus dapat menjalar dan meluas sampai ruang depan mata.
Biakan dari bahan hapus dasar ulkus tidak menghasilkan bakteri, maupun
jamur, akan tetapi bahan yang diambil dari kerokan dalam dasar atau pinggir
ulkus menghasilkan jamur pada pemeriksaan.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan mikologik sediaan langsung
dan biakan.

Diagnosis Banding
Keratomikosis harus dibedakan dengan ulkus kornea karena paralisis
fasial, keratitis dendrite, dll.

Pengobatan
Larutan nistatin dan amfoterisin B yang diberikan tiap jam. Pemberian
dapat dijarangkan bila telah terjadi perbaikan. Larutan amfoterisin B megandung
1 mg per ml larutan garam faal atau akua destilata. Pada saat ini larutan azol juga
digunakan dengan hasil yang cukup baik.

Prognosis

Baik, bila diagnosis silakukan dini dan pengobatan cepat dan tepat.

KANDIDIASIS
Definisi
Kandidiasis atau kandidosis ialah sekelompok penyakit infeksi jamur yang
disebabkan terutama oleh C.Albicans, dan sebagian kecil oleh anggota lain dari
genus kandida. Organisme ini dapat menginfeksi kulit, kuku, mukosa, traktus
gastrointestinal, organ dalam lain, dan dapat menyebabkan penyakit sistemik.
Etiologi
Genus kandida mempunyai spesies yang banyak sekali. Banya yang
bersifat oportunistik terhadap manusia, walaupun sebagian besar tidak
menyebabkan infeksi pada manusia. Candida albicans merupakan penyebab
infeksi kandidiasis terbanyak pada manusia (70-80%) baik infeksi superfisial
maupun sistemik.
Faktor predisposisi
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Faktor mekanis : trauma, oklusi, pakaian ketat, obesitas


Faktor nutrisi : malnutrisi umum
Faktor fisiologis : usia lanjut, hamil
Penyakit sistemik : diabetes mellitus, hipotiroid, hipertiroid, keganasan
Imunodefisiensi : HIV-AIDS
Iatrogenik : antibiotik, kortikosteroid, obat KB (pil, suntik)

Gambaran Klinis
a) Kandidiasis kulit :
Predileksi : tempat yang lembab, maserasi, seperti lipatan kulit (genitokrural,
ketiak, sela jari, infra-mamae pada wanita). Keluhan : gatal. Efloresensi :
ditemukan eritem membasah / maserasi dan adanya lesi satelit vesikopustul.
Pustul yang pecah meninggalkan daerah membasah dengan skuama collarete.
b) Candidal diaper dermatitis :

Candidal diaper dermatitis disebabkan oleh kolonisasi kandida pada traktus


gastrointestinal. Oklusi oleh popok yang basah menyebabkan timbulnya lesi,
mula-mula peri anal, lalu meluas ke permukaan perineum dan inguinal dengan
eritem yang hebat.
c) Erosio interdigitalis blastomycetica :
Infeksi kandida di interdigital tangan / kaki karena tempat yang rapat (terutama
sela jari 4-5).
d) Candidal paronychia :
Candidal paronychia terjadi pada orang yang sering basah seperti pada pencuci,
pegawai restoran. Khas kulit tampak eritem, bengkak, sedikit nyeri pada
paronikia, kadang-kadang ada pus.

Pemeriksaan Laboratorium
Kerokan kulit yang dilakukan yaitu pulasan dengan larutan KOH 10%,
tampak serosa, blastospora (budding cell), dan pseudohifa. Dengan pulasan gram,
tampak gram (+) ovoid bodies dengan diameter 2-5 m. Biakan pada media
saboraud + antibiotika, tumbuh koloni krim abu-abu, lembab dalam 2-5 hari.

Pengobatan
Pengobatan kandidiasis yang paling penting adalah menghilangkan /
meminimalkan faktor predisposisi, sebab kandida adalah jamur oportunistik yang
dalam keadaan normal ditemukan tetapi bersifat tidak patogen. Ia akan menjadi
patogen oleh adany faktor predisposisi. Jadi faktor predisposisi yang harus
dihilangkan dulu, baru obatnya berhasil.

Obat topikal : untuk kandidiasis yang masih ringan dapat diberikan obat
golongan azol seperti krim mikonazol, klotrimazol, seknidazol, tiokonazol
bufonazol, dan lain-lain. Krim ketokonazol juga memberikan hasil baik. Untuk
kandidiasis berat, diberikan obat sistemik oral seperti ketokonazol, itrakonazol,
flukonazol. Griseofulvin tidak efektif untuk kandidiasis.
e)

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. 2010.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W, Wicaksono A, et al.
Kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga jilid 2. 2009. Media Aesculapius.
Jakarta.
3. Kartowigno, Soenarto. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit. 2012.

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Palembang.