Anda di halaman 1dari 20

Sensasi anxietas / cemas sering dialami oleh hampir semua manusia.

Perasaan tersebut
ditandai oleh rasa ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala
otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan
gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak
sama.
Dalam praktek sehari-hani anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan
bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada
kondisi normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik.
Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang moderat
misalnya pertandingan sepak bola, ujian, wawancara untuk masuk kerja mempunyai tingkat
anxietas yang berbeda.
Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat
sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang
keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat
bersifat konstruktif, misalnya seorang pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas,
maka ia akan belajar secara giat supaya kecemasannya dapat berkurang.
Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan
cepat menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak
seintensif anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya
dirasakan cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya.
Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak
daripada
anxietas
akut.
DIFINISI ANXIETAS
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu
dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau
beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu.
Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat
berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai
dengan
rasa
ingin
bergerak
dan
gelisah.

(
Harold
I.
LIEF)
Anenvous

condition

of

unrest

Leland

E.

HINSIE

dan

Robert

CAMBELL)

Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya
atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau
kehidupan
seseorang
individu
atau
kelompok
biososialnya.
(
J.J
GROEN)
GEJALA UMUM ANXIETAS
Gejala

psikologik:

Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut gila, takut
kehilangan
kontrol
dan
sebagainya.
Gejala fisik: Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing,
ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung
dan
lain-lain.
Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit
dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada;
jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan
tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga
berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak
spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada
pasien dengan gangguan anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya
beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien
yang
bersangkutan
biasanya
dirasakan
cukup
gawat.
GANGGUAN ANXIETAS
Beberapa teori tentang gangguan anxietas:

1.

TEORI PSIKOLOGIS
Teori Psikoanalitik
Teori perilaku
Teori Eksistensial

2.

TEORI BIOLOGIS
Susunan Saraf Otonom
Neurotransmiten
Penelitian genetika
Penelitian Pencitraan Otak
Teori
psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk
mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan
mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa
adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai
mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.
Teori
perilaku:
teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap
stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan
internal
dengan
meniru
respon
kecemasan
orang
tuanya.
Teori
eksistensial:
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang
menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang
kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah
respon
seseorang
terhadap
kehampaan
eksistensi
tersebut.

Sistem
saraf
otonom:
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi,
muskular
nyeri
kepala,
gastrointestinal
diare
dan
sebagainya.
Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada
binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gammaaminobutyric
acid.
Penelitian
genetika:
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik
memiliki
sekurangnya
satu
sanak
saudara
yang
juga
menderita
gangguan.
Penelitian
pencitraan
otak:
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis.
Pada
gangguan
panik
didapati
kelainan
pada
girus
para
hipokampus.
BENTUK GANGGUAN ANXIETAS
Gangguan
Gangguan
Gangguan
Gangguan
Gangguan
Gangguan

Panik
Fobik
Obsesif-kompulsif
Stres Pasca Trauma
stres Akut
Anxietas Menyeluruh.

GANGGUAN PANIK
Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan
panik dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
GAMBARAN KLINIS
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun
serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas
seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau
situasi yang sering mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode
gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan
yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu
menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami
kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas
dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya
berlangsung
20
sampai
30
menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit
mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali
mereka
keluar
rumah.
GEJALA PENYERTA

Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa
pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian
telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik
adalah
lebih
tinggi
dibandingkan
pada
orang
tanpa
gangguan
mental.
DIAGNOSA BANDING
Penyakit
kardiovaskuler
:
anemia,
hipertensi,
infark
iniokardium,
dsb.
Penyakit
pulmonum
:
asma,
hiperventilasi,
emboli
paru-paru.
Penyakit
neurologis : penyakit serebrovaskular, epilepsi, inigrain, tumor, dsb.
Penyakit endokrin : diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi, sindroma pramestruasi, gangguan
menopause,
dsb.
lntoksikasi
obat,
putus
obat.
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan elektrolit, keracunan logam berat, uremia dsb
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA
Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit
meloloskan diri
Situasi dihindari, misal jarang bepergian
Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia
sosial
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK
Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan
mengalami serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku
bermakna berhubungan dengan serangan
Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan
obsesif - kompulsif.
Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia
TERAPI
Konseling
dan
medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan
diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan.
Identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak
mengalami serangan jantung, hanya panik, akan berlalu. Medikasi : banyak pasien tertolong
melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau
secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari,
dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas
beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd
1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
GANGGUAN FOBIK
Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita
gangguan ini. FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan

penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti
berbicara
di
depan
umum,
dsb
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
Situasi fobik dihindari
TERAPI
Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar
situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut.
Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi
antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu
singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik.
Konsultasi
spesialistik
bila
rasa
takut
menetap
GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah
2-3
persen.
OBSESIF adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.
PEDOMAN DIAGNOSIS
=
=
=
=
=

Pikiran,
impuls,
yang
Perilaku
yang
Menyadari
bahwa
obsesif-kompulsif
adalah
berlebihan
atau
Obsesif-kompulsif
menyebabkan
Tidak
disebabkan
oleh
suatu
zat
atau
kondisi

berulang
berulang
tidak
beralasan
penderitaan
medis
umum.

DIAGNISIS BANDING
Kondisi fisik - Gangguan neurologis (epilepsi lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik - Skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, gangguan
depresif.
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat
mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan
pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari
perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150

mg,
atau
golongan
Konsultasi
spesialistik
bila

Selected
kondisi

Serotonin
Reuptake
tidak
berkurang
atau

Inhibitors.
menetap.

GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA


Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami
suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa
trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.
Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari: - pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan
pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan
responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta
yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan
kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk)
Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen
populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun
gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol
pada
usia
dewasa
muda.
PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA
1.

Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:


mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman
kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman
integritas fisik diri sendiri atau orang lain
respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya

2.

Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau
eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang

menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik


Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih berikut:
kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut
yang berlebihan.
5.
Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
6.
Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
3.
4.

REAKSI STRES AKUT


Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya
gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar
biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa
pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan
diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut.

PEDOMAN DIAGNOSTIK
Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar
biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera
setelah kejadian. Selain itu ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya
berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan terpaku , semua gejala berikut
mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri,
akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya
untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya
dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat
dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 - 48 jam dan biasanya
menghilang
setelah
3
hari.
GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap
(bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang
berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi,
pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhankeluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan
bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami
kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama
beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya
mencakup hal-hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik,
overaktivitas
otonomik
TERAPI
Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai
efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan
pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang
berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau
pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi
sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas :
misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu
mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat
dan
berlangsung
lebih
dan
3
bulan.
GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI
Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresi, di
mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk
menegakkan diaognosis tersendiri.

Etiologi
Kecemasan adalah respon psikologik terhadap stress yang mengandung komponen fisiologik
dan psikologik. Perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali.Kecemasan
terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara phisikis atau psykhologik (seperti harga
diri, gambaran diri, atau identitas diri). Selain itu, penyebab dari Ansietas yaitu dari faktor
Neurobiologik dan fisikologik.
1.

Faktor Neurobiologik

Kimia otak dan faktor perkembangan penelitian menunjukkan bahwa sistem saraf otonom
atau nonadregenic yang menyebabkan seseorang mengalami kecemasan lebih
besar tingkatannya dari orang lain. Abnormalitas regulasi substansi kimia otak
seperti Serotonin dan GABA (gama-aminobutyric acid) berperan dalam perkembangan
cemas. Amygdala sebagai pusat komunikasi antara bagian otak yang memproses input sensori
dan bagian otak yang yang menginterpretasikan input (amygdala mengidentifikasikan
informasi sensori yang masuk sebagai ancaman dan kemudian menimbulkan perasaan cemas
atau takut)Amygdala berperan dalam phobia, mengkoordinasikan rasa takut, memori,
dan emosi, dan semua respon fisik terhadap situasi yang penuh dengan stresor
Locus Ceruleus, adalah satu area otak yang mengawali respon terhadap suatu bahayadan
mungkin respon tersebut berlebihan pada beberapa individu sehingga menyebabkan
seseoranng mudah mengalami cemas (khususnya PTSD {Post traumatic sindrom
disorder}). Hippocampus bertanggung jawab terhadap stimuli yang mengancam dan berperan
dalam pengkodean informasi ke dalam memori Striatum, berperan dalam kontrol motorik
yang terlibat dalam OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Penyakit fisik Exposure Of
Substance paparan bahaya atau trauma fisik dan psikologis.
2.

Faktor Psikologik

Marah

Harga diri rendah

Pemalu pada masa kanak-kanak

Orang tua yang pemarah

Terlalu banyak kritik

Ketidak nyamanan dengan Agresi

Seksual Abuse

Mengalami peristiwa yang menakutkan

3.

Faktor Kognitif

Cemas sebagai manisfestasi dari penyimpangan berpikir dan


membuat persepsi/kebiasaan/prilaku individu memandang secara berlebihan terhadap
suatu bahaya.
2.6.4

Proses Terjadinya

Kimia otak dan faktor perkembangan penelitian menunjukkan bahwa sistem saraf
otonom atau nonadregenic yang menyebabkan seseorang mengalami kecemasan lebih besar
tingkatannya dari orang lain. Abnormalitas regulasi substansi kimia otak
seperti Serotonin dan GABA (gamaaminobutyric acid) berperan dalam perkembangan cemas.
Amygdala sebagai pusat komunikasi antara bagian otak yang memproses input sensori dan
bagian otak yangmenginterpretasikan input (amygdala mengidentifikasikan informasi sensori
yang masuk sebagai ancaman dan kemudian menimbulkan perasaan cemas atau
takut).Amygdala berperan dalam phobia, mengkoordinasikan rasa takut, memori, dan emosi,
dan semua respon fisik terhadap situasi yang penuh dengan stresor Locus Ceruleus, adalah
satu area otak yang mengawali respon terhadap suatu bahaya dan mungkin respon tersebut
berlebihan pada beberapa individu sehingga menyebabkan seseoranng mudah mengalami
cemas (khususnya PTSD {Post traumatic sindrom disorder}). Hippocampus bertanggung
jawabterhadap stimuli yang mengancam dan berperan dalam pengkodean informasi ke dalam
memori Striatum, berperan dalam kontrol motorik yang terlibat dalam OCD (Obsessive
Compulsive).
2.6.5

Gejala Kecemasan

Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi
dalam beberapa fase, yaitu :

Fase 1

Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk
fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak
sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin.
Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan
kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk
berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri
dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan
antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jarijari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari

sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah
informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988).

Fase 2

Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan
tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada
motifasi diri (Wilkie, 1985). Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa
sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang berkaitan
dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak keras
dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988). Kehilangan
motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah,
kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa
berbuat sesuatu (Asdie, 1988).

Fase 3

Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja
berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala
yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala
kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya
tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti.
intoleransi dengan rangsang sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang
sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat
sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988).
2.6.6

Tingkat Ansietas

Ada empat tingkat ansietas (peplau, 1952): ringan, sedang, berat, dan panic. Pada masingmasing tahap, individu memperlihatkan perubahan perilaku, kemampuan kognitif, dan respon
emosional ketika berupaya menghadapi ansietas.
Tingkat Respon Ansietas
Tingkat Ansietas
Respon fisik
Ringan (1+)
Ketegangan otot ringan,
sadar akan lingkungan,
Rileks atau sedikit
gelisah,
Penuh perhatian,
Rajin.

Respon Kognitif
Lapang persepsi luas,
Terlihat tenang,
percaya diri,
Perasaan gagal sedikit,
Waspada dan
memerhatikan banyak
hal,
Mempertimbangkan
informasi,

Respon Emosional
Perilaku otomatis
Sedikit tidak sabar
Aktivitas menyendiri
Terstimulasi
Tenang

Sedang (2+)

Berat (3+)

Panik (4+)

Ketegangan otot sedang


Tanda-tanda vital
meningkat
Pupil dilatasi mulai
berkeringat
Sering mondar mandir,
memukulkan tangan
Suara berubah bergetar,
nada suara tinggi
Kewaspadaan dan
ketegangan meningkat
Sering berkemih, sakit
kepala, pola tidur
berubah, nyeri punggung.
Ketegangan otot berat
Hiperventilasi
Kontak mata buruk
Pengeluaran keringat
meningkat
Bicara cepat, nada suara
tinggi
Tindakan tanpa tujuan
dan serampangan
Rahang menegang,
menggertakan gigi
Kebutuhan ruang gerak
meningkat
Mondar-mandir,
berteriak
Meremas tangan,
gemetar.
Flight, fight atau freeze
ketegangan otot sangat
berat.
Agitasi motorik kasar
Pupil dilatasi
Tanda-tanda vital
meningkat kemudian
menurun.
Tidak dapat tidur
Hormone stress dan
neurotransmitter

Tingkat pembelajaran
optimal.
Lapang persepsi
menurun.
Tidak perhatian secara
selektif
Focus terhadap
stimulus meningkat
Rentang perhatian
menurun
Penyelesaian masalah
menurun
Pembelajaran terjadi
dengan memfokuskan.

Tidak nyaman
Mudah tersinggung
Kepercayaan diri
goyah
Tidak sabar
Gembira

Lapang persepsi
terbatas
Proses berfikir
terpecah pecah
Sulit berpikir
Penyelesaian masalah
buruk
Tidak mampu
mempertimbangkan
informasi
Hanya memperhatikan
ancaman
Preokupasi dengan
pikiran sendiri
Egosentri

Sangat cemas
Agitasi
Takut
Bingung
Merasa tidak adekuat
Menarik diri
Menyangkal
Ingin bebas

Persepsi sangat sempit


Pikiran tidak logis,
terganggu
Kepribadian kacau
Tidak dapat
menyelesaikan
masalah.
Focus pada pikiran
sendiri.
Tidak rasional.
Sulit memahami

Merasa terbebas
Merasa tidak mampu,
tidak percaya
Lepas kendali
Mengamuk, putus
asa
Marah, sangat takut
Mengaharapkan hasil
yang buruk
Kaget, takut
lelah

berkurang.
Wajah menyeringai,
mulut menganga.

2.6.7

stimulus eksternal.
Halusinasi, waham,
ilusi mungkin terjadi.

Gangguan-gangguan Kecemasan

Fobia, panik, gangguan kecemasan menyeluruh, Stress pasca trauma dan gangguan obsesifkompulsif merupakan gangguan yang berpusat pada kecemasan. Pada kali ini akan dibahas
mengenai gangguan kecemasan. Gangguan-gangguan kecemasan itu meliputi:
1. Gangguan Fobia.
Kata fobia berasal dari kata Yunani phobos, berarti takut. Takut adalah perasaan cemas dan
agitasi sebagai respon terhadap suatu ancaman.
Gangguan Fobia adalah ketakutan terhadap suatu benda atau kejadian atau situasi tertentu
yang sedemikian besarnya sehingga orang akan selalu berusaha menghindarkan diri. Fobia
spesifik ialah rasa takut yang tidak rasional terhadap suatu objek (objek fobia) atau situasi
misalnya serangga atau hewan, ruang kecil, air, elevator, atau terbang. Objek atau situasi
tersebut menyebabkan individu mengalami ansietas yang ekstrem atau menimbulkan respon
panik.
v Ada beberapa kategori fobia spesifik :

Fobia lingkungan alam : rasa takut terhadap badai, air, ketinggian, atau fenomena alam

lain.

Fobia injeksi-darah

Fobia situsional : rasa takut berada dalam situasi tertentu.

Fobia hewan : rasa takut terhadap hewan atau serangga. Rasa takut ini sering muncul

pada masa kanak-kanak dan dapat terus berlanjut sampai dewasa.

Tipe lain fobia spesifik, misalnya rasa takut tersesat ketika mengemudi jika tidak dapat

berbelok kekanan ( bukan ke kiri) untuk mencapai tujuan.


v Gejala fobia spesifik :

Rasa takut yang tidak rasional terhadap suatu objek, misalnya hewan, lingkugan( air,

badai, ketinggian), prosedur medis invasive, atau situasi (jembatan, terowongan, ruang kecil,
elevator, terbang).

Respon ansietas yang cepat 3+ sampai respon panic 4+ terhadap objek yang ditakuti.

Klien mengetahui respon ekstrem dan beerlebihan terhadap suatu situasi.

Melakukan upaya menghindari objek fobia

Perilaku mengganggu hubungan interpersonal, performa kerja, atau aktivitas hidup

lainnya.
Fobia social, suatu kategori fobia yang berbeda, individu menjadi sangat cemas sampai panic
atau tidak mampu ketika menghadapi situasi yang melibatkan banyak orang, misalnya
menghadiri acara social ssendirian, berinteraksi dengan lawan jenis atau orang yang belum
dikenal dan menyampaikan keluhan (DSM-IV-TR, 2000).
v Gejala fobia social :

Rasa takut yang terus menerus dan tidak rasional dalam berbicara di depan public atau

acara-acara social lain.

Rasa takut merendahkan diri sendiri di depan teman sebaya atau dalam situasi ketika

klien merasa orang lain akan menilai perilaku atau martabatnya.

Respon ansietas berat sampai panic (3+ sampai 4+) ketika menghadapi situasi social

yang ditakuti

Klien memahami bahwa rasa takutnya ekstrem dan berlebihan.

Perilaku mengganggu hubungan interpersonal, performa kerja, atau aktivitas hidup

lainnya.
2.

Gangguan Agorafobia

Agorafobia berasal dari bahasa Yunani yang berarti takut kepada pasar yang sugestif untuk
ketakutan berada di tempat-tempat terbuka dan ramai. Orang-orang dengan agoraphobia takut
untuk pergi berbelanja di took-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan ramai; menyebrangi
jembatan; naik bus, kereta api, atau mobil; makan dirumah makan; atau keluar dari rumah.
v Gejala gangguan panic dengan Agorafobia
Klien mengalami tingkat ansietas atau takut tertinggi yang berlangsung 15 samapi 30 menit
disertai empat atau lebih gejala gangguan panic, selain itu ada gejala-gejala berikut :

Takut terhadap tempat atau situasi yang individu yakin bahwa serangan panic atau

perilaku yang memalukan akan terjadi atau terhadap tempat atau situasi yang diyakini tidak
mungkin melarikan diri darinya.

Menghindari tempat atau situasi tersebut, distress yang ekstrem

Individu menyadari bahwa responnya ekstrem.

v Gejala Agorafobia tanpa Gangguan panic

Sangat khawatir akan memperlihatkan perilaku seperti panic ketika berada diluar

rumah atau ketika berada di blok atau kota tempat tinggal, berada bersama orang lain
dilingkungan luar rumah.

Menghindari situasi tersebut atau menoleransi hanya ketika merasa stress dan takut.

Individu menyadari bahwa responnya ekstrem.

3.

Ganguan Panik.

Serangan panik adalah suatu episode ansietas yang cepat, intens dan meningkat yang
berlangsung 15 sampai 30 menit, ketika individu mengalami ketakutan emosional yang besar
juga ketidak nyamanan fisiologis.
Gangguan panik mencakup munculnya serangan panic yang berulang dan tidak terduga.
Serangan-serangan panic melibatkan reaksi kecemasan yang intens disertai dengan simtomsimtom fisik seperti jantung berdebar-debar; nafas cepat, nafas tersengal, atau kesulitan
bernafas, berkeringat banyak dan rasa lemas serta pusing tujuh keliling (glas, 2000).
v Gejala gangguan panik
Serangan panic berulang adalah episode intermiten tingkat ansietas atau rasa takut paling
tinggi yang berlangsung 15 sampai 30 menit, disertai empat atau lebih gejala berikut :

Frekuensi jantung cepat, jantung berdegup keras, atau frekuensi jantung sangat

meningkat.

Berkeringat

Gemetar, menggigil

Merasa tidak mampu bernafas

Merasa tersedak

Nyeri dada

Mual atau distress gastrointestinal

Pening pusing atau merasa ingin pingsan

Merasa segala sesuatu tidak nyata atau merasa terpisah dari diri sendiri

(depersonalisasi)

Khawatir menjadi gila atau kehilanagn kendali

Takut akan segera menignggal

Kesemutan

Hot flash, kedinginan sampai menggigil

Khawatir akan berulangnya serangan panic dengan menghindari tempat atau orang

yang membuat serangan panic muncul.


Kriteria dari penderita panik adalah apabila dalam tiga minggu terdapat sekurang-kurangnya
tiga kali serangan panik dan individu tersebut tidak dalam keadaan kerja fisik yang berat, atau
dalam situasi yang mengancam kehidupan. Para pengidap gangguan ini biasanya akan
mengkonsumsi minuman yang beralkohol, menelan obat-obatan, dan secara sadar selalu

menghindari situasai yang kiranya akan menimbulkan penyakitnya ini sebagai usaha untuk
menenangkan diri.
4.

Gangguan Kecemasan Menyeluruh.

Gangguan ini memiliki kriteria diagnosis, diantaranya yaitu:

Kecemasan yang menyeluruh dan menetap, yang ditandai oleh:

ketegangan motorik
hiperaktif syaraf otonomik
rasa khawatir berlebihan tentang hal yang akan datang
kewaspadaan yang berlebihan

Suasana perasaan cemas berlangsung selama paling sedikit satu bulan.

Tidak disebabkan oleh gangguan-gangguan jiwa lainnya.

Menurut aliran Psikoanalitik penyebab dari gangguan kecemasan menyeluruh ini adalah
konflik antara id dan ego yang tidak disadari, semantara menurut teori belajar disebabkan
karena kondisioning klasik dari rangsangan luar, dan menurut kognitif-behavioral lebih
memfokuskan pada kontrol dan ketidakberdayaan.
5.

Stress Pasca Trauma.

Gangguan mental ini ditandai dengan kecemasan yang kaut dan berulang setelah pengalaman
yang traumatic, yaitu kejadian yang mengancam keselamatan jiwa. Misalnya pemerkosaan,
bencana alam, kecelakaan dan lain-lain.
Reaksi penderita traumatik adalah berupa ketakutan yang hebat,mudah terkejut, tidak
berdaya, cemas, depresi, mati rasa, dan lain-lain. Kejadian-kejadian yang menyebabkan
individu mengingat pada hal yang traumatic adalah:

Ingat kembali dalam bentuk bayangan.

Sering bermimpi buruk tentang hal yang traumatik.

Merasakan seolah-olah kejadian berlangsung kembali.

Timbul reaksi fisiologis ketika dihadapkan pada hal yan

mengingatkan kejadian traumatik.

Distress ketika dihadapkan pada hal yang mengingatkan

traumatic.
Akibatnya individu akan berusaha untuk menghindari hal yang berhubungan dengan trauma
serta menunjukkan gejala yang tak mampu berespons atau menghadapi masalahnya. Gejala
yang dilakukan individu biasanya:

Berusaha menghindari pikiran, percakapan, dan perasaan yang mengingatkan.

Menghindari aktivitas, tempat, dan orang yang mengingatkan.

Tidak mampu mengingat hal penting dari kejadian.

Menurunnya aktivitas secra mencolok.

Merasa tersisish dari orang lain.

Emosinya terbatas.

Memandang masa depan suram.

Selama mengalami stress pascatrauma individu akan mengalami gejala-gejala seperti sulit
tidur, sulit konsentrasi, sering terkejut dan lain-lain. Namun tidak semua korban kejadian
traumatuk mengalami stress pasca trauma. Treatment yang diberikan pada penderita stress
pasca trauma adalah melalui terapi kelompok, maka dengan cara ini diharapkan penderita
mendapatkan support dari teman-temannya.
6.

Gangguan stress akut

Gangguan stress akut sama dengan gangguan stress pasca trauma, yakni individu mengalami
suatu situasi traumatic, tetapi respon yang muncul bersifat lebih disosiatif. Individu merasa
bahwa peristiwa tersebut tidak nyata, berpikir bahwa ia tidak nyata, dan melupakan bebrapa
aspek peristiwa tersebut melalui amnesia, keterpishan emosional dan ketidak sadarn yang
membingungkan terhadap lingkungan (DSM-IV-TR, 2000).
7.

Gangguan Obsesif-kompulsif.

Istilah obsesi menunjuk pada suatu idea yang mendesak kedalam pikiran.
Obsesif merupakan pikiran, ide, atau dorongan yang intrusive dan berulang yang sepertinya
berada diluar kemampuan seseorang untuk mengendalikannya.
Sementara istilah kompulsif menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan
untuk melakukan sesuatu. Dan pikiran obsesif sering membawa dampak munculnya tindakan
kompulsi. Kompulsi ialah tingkah laku yang repetitive atau tindakan mental repetitive yang
dirasakan oleh seseorang sebagai suatu keharusan atau dorongan yang harus dilakukan.
Persamaan antara obsesi dan kompulsi adalah sebagai berikut:

Suatu pikiran atau dorongan kuat mendesak kedalam alam bawah sadar secara terus

menerus.

Timbul perasaan takut yang hebat dan penderita berusaha untuk menghilangkan pikiran

atau dorongan itu.


Dirasakan sebagai hal yang asing, tidak disukai, tidak dapat diterima, dan tidak dapat
ditekan.
Penderita tetap sadar, tetap mengenal wajar dan tidak wajar rasional dan tidak rasional
walaupun obsesi atau kompulsi sangat hebat.
Penderita merasakan suatu kebutuhan yang besar atau melawan obsesi atau kompulsi.

Pada gangguan jenis obsesif-kompulsif ini individu yang mengalaminya akan berusaha
menghilangkan kecemasannya dengan merangkai pemikiran dan perbuatan yang dilakukan
berulang-ulang. Penderita menyadari bahwa pikiran dan perbuatannya tersebut tidak dapat
diterima nalar dan logika yang sehat, tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan keadaan,
tetapi ia tidak dapat menghilangkannya dan tidak mengerti mengapa mempunyai dorongan
yang begitu kuat untuk berfikir dan berbuat demikian, apabila tidak melakukannya maka
akan mengalami atau timbul kecemasan yang hebat.
v Kategori Gangguan Ansietas
Gangguan Kecemasan DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder)
Gangguan Kecemasan
Definisi
Serangan Panik
Suatu periode yang mempunyai cirri tersendiri, rasa
kekuatiran, ketakutan atau terror yang besar, muncul tibatiba, sering berhubungan dengan perasaan akan datangnya
malapetaka.
Agorafobia

Kecemasan mengenai, atau penghindaran dari tempat atau


situasi yang dirasa sulit dighindari (atau memalukan), atau
saat tidak terdapatnya bantuan pada saat mengalami
serangan panic atau gejala yang menyerupai panic.

Gangguan panic tanpa

Dikarakteristik oleh serangan panic yang tidak diduga yang

agoraphobia

terjadi berulang dan agorafobia.

Agoraphobia tanpa riwayat

Dicirikan oleh adanya agoraphobia dan gejala yang

gangguan panic

menyerupai panic, tanpa serangan panic yang tidak diduga.

Fobia spesifik

Dicirikan oleh kecemassan yang signifikan secra klinis, yang


dipicu oleh pengenalan terhadap objek atau situasi spesifik
yang menyebabkan takut, sering menimbulkan perilaku
menghindar.

Fobia social

Dicirikan oleh kecemasan yang signifikan secara klinis, yang


dipicu oleh pengenalan terhadap jenis situasi social atau
penampilan social; sering menimbulkan perilaku
menghindar.

Gangguan obsesif-kompulsif

Dicirikan oleh obsesi yang menyebabkan kecemasan atau


distress yang khas dan /atau kompulsi (yang dilakukan untuk
menetralkan kecemasan)

Gangguan stress

Dicirikan oleh pengalaman yang berulang tentang suatu

pascatraumatik.

kejadian yang sangat traumatic, diiringi oleh gejala


peningkatan rangasangan dan dengan penghindaran stimulus
yang dikaitkan dengan trauma.

Gangguan stress akut

Dicirikan oleh gejala yang sama dengan gangguan stress


pascatraumatic yang terjadi segraa, menyusul kejadian yang
sangat traumatic.

Gangguan kecemasan umum

Dicirikan oleh mengalami kecemasan dan kekhawatiran


yang berlebihan dan terus menerus selama minimal 6 bulan.

Gangguan kecemasan karena

Dicirikan oleh gejala kecemasan yang menonjol, yang

kondisi medikasi umum.

diduga meerupakan konsekuensi fisiologik langsung dari


kondisi medis umum.

Gangguan kecemasan karena

Dicirikan oleh gejala kecemasan yang menonjol, yang

penggunaan zat.

diduga merupakan konsekuensi fisiologis langsung dari


penyalahgunaan obat-obatan, medikassi, atau pajanan
terhadap toksin.

Gangguan kecemasan tidak

Meliputi memberikan kode pada gangguan yang disertai

spesifik.

kecemasan yang menonjol atau fobia penghindaraan yang


tidak memenuhi criteria untuk setiap gangguan kecemasan
spesifik (atau gejala kecemasan mengenai terdapatnya
informasi yang tidak adekuat atau kontradiksi)

2.6.8

Sumber dan Mekanisme Koping

Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor utama


yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang mengalami
kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan
mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya
digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga,
mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada orang lain (Suliswati,
2005).
Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan panik membutuhkan
banyak energi. Menurut Suliswati (2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua
jenis, yaitu :
1.

Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang ingin

dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba menghadapi kenyataan

tuntutan stress dengan menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah,
memulihkan konflik dan memenuhi kebutuhan.
a.

Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan

kebutuhan.
b.

Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk

memindahkan seseorang dari sumber stress.


c.

Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan,

mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.


2.

Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu sukses

dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk melindungi diri,
sehingga disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya mekanisme ini tidak membantu
untuk mengatasi masalah secara realita. Untuk menilai penggunaan makanisme pertahanan
individu apakah adaptif atau tidak adaptif, perlu di evaluasi hal-hal berikut :
a.

Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme pertahanan klien.

b.

Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa pengaruhnya terhadap

disorganisasi kepribadian.
c.

Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan kesehatan klien.

d.

Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan

2.6.8

Penatalaksanaan Ansietas

Menurut Hawari, (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan terapi
memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik
(somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti
pada uraian berikut :
a.

Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :

1)

Makan makan yang bergizi dan seimbang

2)

Tidur yang cukup.

3)

Cukup olahraga.

4)

Tidak merokok.

5)

Tidak meminum minuman keras.

b.

Terapi psikofarmaka.

Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan yang
berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di
susunan saraf pusat otak (limbic system).Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah

obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam,lorazepam,


buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
c.

Terapi somatic

Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari
kecemasan yang bekerpanjangan.Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu
dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.
d.
1)

Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain : Psikoterapi

suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan
tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri.
2)

Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa

ketidakmampuan mengatsi kecemasan.


3)

Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-konstruksi)

kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.


4)

Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk

berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.


5)

Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika

kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stressor
psikososial sehingga mengalami kecemasan.
6)

Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga

tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor
pendukung.
e.

Terapi psikoreligius

Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya
tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.