Anda di halaman 1dari 2

Penatalaksanaan Gastroenteritis Akut

1. Rehidrasi
Bila keadaan umum baik (tidak dehidrasi), asupan cairan yang adekuat dapat dicapai
dengan konsumsi minuman ringan, sari buah, sup, dan keripik asin. Bila pasien
kehilangan cairan yang banyak dan dehidrasi, penatalaksanaan yang agresif, seperti
cairan intravena atau rehidrasi oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan
gula atau starch harus diberikan. Terapi rehidrasi oral lebih murah, efektif, dan praktis
daripada cairan intravena. Cairan oral: pedialit, oralit, dll. Cairan infus: ringer laktat,
NaCl 0,9%, dll. Cairan diberikan 50-200 cc/kgBB/24 jam, tergantung kebutuhan dan
status dehidrasi.
Sebelum rehidrasi, tentukan derajat dehidrasi terlebih dahulu. Derajat dehidrasi terdiri
dari:
a. Dehidrasi ringan (defisit 2-5% BB)
Keadaan umum sadar baik, rasa haus +, Keadaan umum sadar baik, rasa haus +,
sirkulasi darah nadi normal, pernapasan biasa, mata agakk cekung, turgor biasa,
kencing biasa.
b. Dehidrasi sedang (defisit 5-8% BB)
Keadaan umum gelisah, rasa haus ++, sirkulasi darah nadi cepat (120-140 x/i),
pernapasan agak cepat, mata cekung, turgor agak berkurang, kencing sedikit,
c. Dehidrasi berat (defisit 8-10% BB)
Keadaan umum apatis/koma, rasa haus +++, sirkulasi darah nadi cepat (>140 x/i),
pernapasan Kussmaul, mata cekung sekali, turgor lambat, kencing tidak ada.
Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah
cairan yang dikeluarkan oleh tubuh. Macam-macam pemberian cairan, antara lain:
1. Berat jenis plasma, dengan rumus:
BJ plasma1,025
Kebutuhan cairan=
BB 4 ml
0,001
2. Metode Pierce berdasarkan kriteria klinis:
- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x kgBB
- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x kgBB
- Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x kgBB
3. Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis, antara lain:
Tabel Skor penilaian klinis dehidrasi
Klinis
Rasa haus/muntah
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg
Tekanan darah diastolic < 60 mmHg
Frekuensi nadi > 120 x/i
Kesadaran apatis
Kesadaran somnolen, spoor atau koma

Skor
1
1
2
1
1
2

Frekuensi napas > 30 x/i


Facies cholerica
Vas cholerica
Turgor kulit menurun
Washer womans hand
Ekstremitas dingin
Sianosis
Umur 50-60 tahun
Umur > 60 tahum
kebutuhan cairan=

1
2
2
1
1
1
2
-1
-2

Skor
10 kgBB1 liter
15

Bila skor < 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak
mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor 3 disertai syok diberikan cairan
perintravena.
Cairan rehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral melalui selang nasogastric
atau intravena.
Bila pasien dehidrasi sedang/berat, sebaiknya cairan diberikan melalui intravena.
Sedangkan dehidrasi ringan/sedang pada pasien dapat diberikan cairan per oral
atau selang nasogastric, kecuali bila ada kontraindikasi. Pemberian per oral
diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 g glukosa, 3,5 g
NaCl, 2,5 natrium bikarbonat, dan 1,5 KCl setiap liter.
Pemberian cairan rehidrasi terbagi atas:
1. Tahap rehidrasi inisial (2 jam pertama): jumlah total kebutuhan cairan menurut
rumus BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam 2 jam ini agar
tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin.
2. Tahap kedua (1 jam brikunya/jam ketiga: pemberikan diberikan berdasarkan
kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya.
Bila tidak ada syok atau skor Daldiyono < 3 dapat digantikan cairan per oral.
3. Jam berikutnya pemberian diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui

tinja dan insensible water loss (IWL).