Anda di halaman 1dari 5

Tugas kader poskestren pada kegiatan musyawarah

a. Memberikan informasi tentang prlunya perhatian terhadap


masalah kesehatan di pesantren(data tentang hasil survei
dan status kesehatan santri).
b. Menyampaikan kegiatan poskestren tentang uapaya
pencegahan (jenis pencegahan, frekwensi kegiatan, dan
jumlah kegiatan penyuluhan kesehatan di pesantren).
c. Mwnyampaikan rencana kegiatan yang akan datang untuk
mendapatakan kesepakatan dalam forum musyawarah
kegiatan warga pesantren.
Dalam kegiatan survei mawas diri, tugas kaderposkestren
adalah sebagai anggotan tim, mulai dari mengumpulkan data
sampai membuat laporan hasil survei,. Sedangkan dalam
pelaksanaan kegiatan poskestren secara rutin tugas kader
adalah melakukan atau mengkoordinasi kegiatan pencegahan
penyakit, melakukan penyuluhan keesehatan di pesantren,
memberikan pelayaanan kkesehatan sederhana, dan melakukan
pencatatan kegiatn poskestren.
Kader poskestren dipilih oleh pengurus dan santri pesantren
yang bersedia sukarela, mampu, dan memiliki waktu untuk
menyelenggarakan kegiatan poskestren. Kriteria kader
poskestren antara lain sebagai berikut.
a. Berasal dari santri pesantren
b. Mempunyai jiwa pelopor, pembaru dan pergerak masyarakat
c. Bersedia bekerja secara sukarela
Sebelum melaksanakan tugasnya, kader poskestren terpilih
perlu diberikan orientasi atau pelatian. Orientasi atau
pelatian tersebut dilaksanakan oleh puskesmas sesuai
dengan pedoman orientasi yang berlaku. Materi orientasi
atau pelatian antara lain mencakup kegiatan yang akan
dikembangkan diposkestren antara lain kesehatan
masyarakat, gizi, kesehatan lingkungan, PHBS, pencegahan
penyakit menular, usaha kesehatan gigi masyarakat desa
(UKGMD), penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan
pemukiman (PAB-PLP), program intensifikasi pertanian
tanaman pngan dan pemanfaatan pekarangan melalui taman

obat keluarga (TOGA), kegiatan ekonomi produktif seperti


usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K), dan usaha
simpan pinjam.
Langkah pembentukan poskestren (Dinkesprop Jatim,
2007)
1. Tahap persiapan. Pada tahap persiapan ini dilakukan
beberapa langkah berikut.
a. Mempersiapkan petugas puskesmas agar mampu
mengelola dan membina poskestren
b. Pendekatan kepada pimpinan pesantren untuk
mendapatkan dukungan.
c. Sosialisasi poskestren pada masyarakat
pesantren.
d. Pertemuan membahan persamaan presepsi
tentang poskestren.
e. Memilih santri husada (kader poskestren) dari
masyarakat pesantren.
f. Membekali santri husada agar mampu melakukan
survei mawas diri (SMD)
2. Melakukan SMD untuk mendapatkan data yang akurat
tentang kesehatan di pesantren
3. Mengadakan musyawarah antara warga pesantren dan
masyarakat sekitar untuk mendapatkan kesepakatan
pembentukan poskestren.
Pengorganisasian poskestren
1. Kedudukan dan hubungan kerja
a. Secara teknis medis, poskestren dibina oleh
puskesmas
b. Secara kelembagaan, poskestren dibina oleh
pemerintah kecamatan atau desa.
c. Terhadap UKBM lain, poskestren dibina oleh
mitra.
2. Pengelola poskestren
Struktur organisasi pengelola poskestren terdiri atas
ketua, sekretaris, bendahara, dan kader poskestren
merangkap anggota.
3. Santri husada ( kader poskestren ) berasal dari
santri yang berjiwa pembaru (penggerak) dan
bersedia bekerja keras.

Hgpemerintah

puskesmas

Kec/Desa

pondok pesantren

poskestren

UKBM lain

ketua

bendahara

Santri husada (kader


poskestren)

Keterangan :

Keterangan :
Garis koordinasi :

sekertaris

Garis pembinaan

Garis kemitraan :

PERILAKU HIDUP BERSI DAN SEHAT DI TAATNANA


PESANTREN
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tatanan pesantren
merupakan perpaduan dari tatanan institusi pendidikan dan
tatanan rumah tangga yang bertujuan untuk membudayakan
PHBS bagi santri, bagi pendidikan, dan pengelola pesantren agar
mampu mengenali dan mengatasi masalah-masalah kesehatan
di lingkungan pesantren dan sekitarnya (Dinkes provinsi
Jatim,2007). Indikator PHBS di tatanan [esantren adalah sebagai
berikut.

Kebersihan perorangan (badan, pakaian, dan kuku)


Penggunaan air bersih.
Kebersihan tempat wudhu
Penggunaan jamban
Kebersihan asrama, halaman, dan ruang baca.
Ada santri husada dan kegiatan poskestren.
Bak penampungan air bebas dari jentik nyamuk
Penggunaan garam beryodium
Makanan bergizi seimbang
Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan.
Gaya hidup tidak merokok dan bebas NAPZA.
Gaya hidup sadar AIDS
Peserta jaminan pemeliharaan kesehatan (JPKM, dana sehat,
atau asuransi kesehatan lainnya.

Indikator keberhasilan poskestren


Pada prinsipnya, keberhasilan oskesstren dapat di ukur melalui
indikator input, proses, dan output sebagai berikut.

Indikator input, yaitu adanya santri husada (kader


poskestren), sarana poskestren, dan dukungan

pendanaan.
Indikator proses, yaitu frekwensi penuluhan yang
dilaksanakan, frekwensi pertemuan, melakukan survei
PHB, frekwensi pembnaan dari perugas, dan dilakukannya

survei masyarakat desa.


Indikator Output, yaitu dilaksanakannya gerakan jumat
bersih, adanya kawasan bebas merokok, adanya tanaman
obat keluarga (TOGA), adanya dana sehat, sampah tidak
berserakan, kuku santri bersih dan pendek, menurunnya
angka kesakitan masyrakat pesantren, dan meningkatnya
kesadaran masyarakat pesantren untuk melaksanakan
program PHBS.